De Bloemetje
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.
Pairing: Kise Ryouta/Momoi Satsuki. Genre: Romance. Rating: K+.
(Kise sedang dalam perjalanan untuk berlibur, dan dia duduk di samping seorang perempuan cuek. Tetapi liburan itu ternyata tidak seperti yang diharapkan.)
Momoi menarik napas dalam-dalam, sebanyak yang paru-parunya mampu menampung, kemudian melepaskannya perlahan. Dia pernah membaca pada suatu buku tentang cara membuang stress dan rasa was-was: mengatur napas sebaik mungkin. Jantung pun akan normal lagi setelahnya. Ya, mungkin itu ampuh. Dia mulai membaik sekarang.
Memang dirinya sembuh dari rasa was-was, takut dan gelisah, tetapi hanya dengan mengembuskan napas dengan teratur saja takkan membuat penyebab kegelisahannya pergi kecuali jika dia adalah seorang penyihir abad 14 dari daratan Eropa.
Manusia-manusia yang menatapnya dengan sorot mata yang susah dia artikan itu terus mengikuti gerakannya keluar dari gedung syuting. Momoi mulai mengutuk mengapa area parkir ini tiba-tiba jadi kosong—padahal tadi penuh mobil—dan mobil Kise berada jauh di depan sana.
Apa dia dibenci? Oh, seorang manajer perempuan di samping seorang laki-laki yang digemari nyaris separuh remaja wanita di seantero Jepang pasti menimbulkan penilaian yang buruk. Momoi menyadarinya. Tidak peduli wanita itu jelek atau cantik—tidak ada pengaruhnya—posisinya pasti akan dicibir.
Walau ia tahu persis para pencibir pastilah hanya kaum yang iri, dia tetap tidak bisa melawan rasa gelisahnya.
"Ki-chan," dia berbisik, tidak terlalu pelan, sebab dia tidak bisa mendekat pada Kise untuk mengujarkan suaranya sepelan mungkin. Satu gerakan bisa memperparah keadaan.
"Ya, Manajer?"
Kerutan pada kening Momoi membuat Kise tertawa.
"Tidak suka dipanggil begitu ya?"
"Fansmu itu, Ki-chan," dia menahan diri untuk tidak melirik kemanapun, "Aku agak takut. Tatapan mereka seakan ingin membunuhku."
"Ah, biasa saja. Mereka cuma menatapmu, Momocchi. Santai saja. Ada aku di sini."
"Kau bukan polisi."
"Tapi selama kau berada di sampingku, kau aman. Tahu alasannya kenapa? Katanya kau analis yang baik di klub sepak bola, tidak mengerti, ya?" Kise menggoda dengan seringai jahilnya. Momoi tak tahan untuk tidak menatap sinis padanya.
"Karena mereka jadi tidak berani menerjangku sebab kalau mereka melakukan itu, mereka akan melukaimu, begitu?" Momoi memastikan, sambil melirik melalui ekor matanya, bergantian antara Kise, fans, Kise, fans, Kise, dan fans lagi. Setelahnya, dia berpikir lagi. Agak kurang percaya diri dengan jawabannya. Sedikit.
"Ya, pintar sekali. Sekarang, ayo pulang. Kita masih punya waktu supaya bisa sampai ke sana dengan tepat waktu, 'kan?"
Momoi mengangkat pergelangan tangannya dan memicingkan mata, meneliti jam yang dikalungkan pada bagian sana. "Kita akan punya waktu istirahat sepuluh menit di tempat tujuan, bersantai sebentar, kalau kau melewati jalan yang sepi dengan kecepatan rata-rata empat puluh lima sampai lima puluh kilometer per jam. Mengerti?"
"Perhitunganmu mengerikan," Kise terkekeh sambil menekan pengunci pada alarm mobilnya, "Tidak salah aku memilihmu menjadi manajerku. Tapi—tanggung konsekuensinya, ya."
Momoi menggaruk sisi kepalanya sambil menggeleng dan membuang napas dengan berat, "Ya, aku tahu," jawabnya enggan, sambil mencuri pandang pada kerumunan fans di sekeliling gedung yang mengintai bak kawanan serigala itu. Yah, setelah diteliti lebih jauh, ternyata tatapan mereka tidak juga semengerikan persepsinya. Mungkin mereka hanya syok tentang siapa manajer baru idola mereka.
Momoi merasa agak lega. Dia melangkah memasuki mobil dengan tenang.
Momoi sudah menunggu Kise selesai wawancara di ujung ruangan dengan dua kotak bento. Kise tampak tidak sabar ketika berjalan turun dari panggung kecil sebagai pusat dari beberapa kamera itu. Momoi mengetukkan tangannya di atas kotak bento.
"Mau diambilkan meja kecil, Kise-kun?" tawar seorang kru yang mengikuti Kise turun.
"Kalian punya berapa?"
"Hanya sisa satu. Cukup untukmu sendiri, kok."
Sambil berjalan dengan lebih cepat, Kise memandang sebentar pada manajernya yang kelihatan bosan menunggu. Kelopak matanya merendah dan salah satu earphone-nya dibiarkan menggantung tanpa dibereskan.
"Tidak usah," Kise menambahkan gestur tangan untuk lebih meyakinkan. "Terima kasih. Aku ke sana dulu, ya."
Tidak dia biarkan kru itu mendekat padanya dengan cara setengah berlari pada Momoi.
"Yah, hanya bento ini yang bisa kudapat di luar. Aku bingung kenapa kru sendiri tidak menyediakan makan besar untuk kita," Momoi meletakkan kotak itu di pangkuan Kise. Dia melepas sisa earphone di telinganya dan menyingkirkan semuanya ke atas tasnya yang dia letakkan begitu saja di lantai.
"Ini jam tanggung, belum jam makan siang, sih," Kise mengangkat pergelangan tangannya. Angka sepuluh lewat dua puluh ditunjukkan jam tangan sport hitamnya. "Dan kau tidak membangunkanku jadi aku telat dan tidak sarapan."
"Oh, mau menyalahkanku?" Momoi menatap tajam, "Sini, bento itu untukku saja."
Kise tergelak sambil menjauhkan kotak makannya dari Momoi, "Tidak bisa. Tidak boleh."
Momoi mendengus dan Kise menjawil hidungnya.
"Iya, iya, Momocchi, aku yang ceroboh karena tidak memasang alarm."
"Meski kaupunya manajer," Momoi memisahkan sumpitnya, "Kau jangan manja. Tidak boleh selalu bergantung padaku."
"Hngh—menyerti, Momocchi—"
"Peraturan lain: jangan memaksakan bicara saat mulutmu penuh."
Kise tersenyum saat mengacaukan rambut Momoi. Telah menjadi sebuah kebiasaan—entah sejak kapan—dan Momoi mulai merasa bahwa ini bukanlah hal yang harus membuat pipinya merah. Sepertinya Kise tidak menganggapnya hal besar, hanya sebuah hal yang akan otomatis dia lakukan jika dia ingin menunjukkan kejahilannya pada seseorang. Walau, dia tidak pernah menyaksikan Kise melakukan hal itu pada orang lain yang ditemuinya di lokasi syuting, seakrab apapun mereka? Mungkin karena Kise jaga imej dan hanya memperlihatkan keisengan yang seperti ini pada orang dekatnya? Momoi tidak mampu memastikan apapun.
"Momocchi," Kise memanggil, dan begitu berkontak mata dengan Momoi, dia mengetuk sudut bibir kirinya.
Momoi mengikuti dengan turut menyentuh bagian sana. Mungkin ada sisa nori di sana? Tetapi, berkali-kali dia mengusapnya dan bahkan sampai melakukannya dengan keras-keras, tidak ada serpihan yang dia temukan. Kise masih saja menatapnya sambil menaruh jari di ujung bibir.
"Mana?"
Akhirnya jari Kise-lah yang maju. Ibu jarinya kontak langsung dengan sudut bibir Momoi dan Momoi hanya mampu membiarkannya.
"Mana?" Momoi menangkap pergelangan tangan Kise yang baru saja ditarik dari bibirnya. Dia mengernyitkan kening sebab tidak ada apapun di jari itu. "Kau bohong!"
Kise terkekeh. "Cuma mau tahu apa rasanya bibirmu."
Momoi menyentakkan tangan Kise. "Hen-tai!"
"Hehehehe, bercanda, sungguh! Aduh ampun!" Kise melindungi diri dari pukulan Momoi pada lengannya. Kotak makannya nyaris jatuh. "Memang benar-benar ada. Sudah jatuh ke lantai, sebenarnya."
Momoi mencibir dan tidak mengatakan apapun lagi setelah berpaling. Dia lanjut makan, kali ini dengan tenang dan tak peduli sekeliling.
"Momocchi?"
Tidak ada jawaban. Mata Momoi terpekur pada kumpulan sayur.
"Momocchi?" Kise memainkan tangannya di depan wajah Momoi.
"Kise-kun!"
"Kise-kun!"
Mereka menoleh bersamaan. Kise mengerutkan kening. Tanpa dia duga, Momoi berdiri.
"Maaf, ada apa, ya?"
Seorang kru yang menemani dua orang gadis yang kelihatan kegirangan itu melangkah maju mendekat pada Momoi. Dia berkacamata dan penampilannya agak cuek. Momoi sudah pernah mengobrol dengannya dua kali sejauh ini. "Mereka keponakanku. Mereka penggemar Kise dan mau berfoto dan minta tanda tangan—juga mengobrol sedikit. Bisakah sekarang?"
"Maaf, Ki-chan—maksudku Kise sedang makan. Dia belum sarapan tadi. Tolong hormati privasi dia," Momoi dapat melihat sinar mata kedua penggemar yang meredup. Tapi dia tetap bertahan dengan pandangan yakin dan kepala terangkat. "Mereka bisa meminta itu dari Kise setelah syutingnya selesai dan Kise keluar gedung. Kise selalu melakukannya tiap selesai schedule, bukan? Manfaatkanlah kesempatan itu."
"Tapi nanti pasti ramai—" salah satu dari mereka membela diri.
"Iya. Tapi itu adil," Momoi menegaskan. "Kalian dan yang lain sama-sama penggemar, jadi hak kalian sama rata. Tolong dipahami."
"Tapi Momoi-san, tolonglah. Kali ini saja tidak apa-apa," si kru turut memohon.
"Maaf, tidak bisa. Kise sedang makan, tidakkah kalian lihat? Dia juga butuh privasi dan waktu untuk dirinya sendiri. Dia juga punya kehidupan yang harus dia tangani. Untuk fans, dia sudah meluangkan waktunya secara khusus setelah syuting selama lima belas menit. Silahkan tunggu di luar. Syuting hanya tinggal satu sesi lagi. Harap dimengerti. Jika kalian punya alasan mendesak untuk bertemu Kise, aku akan mendengarkannya."
Dua penggemar itu cuma bisa diam. Si kru mengembuskan napas, cara dia menatap Momoi agak tak menyenangkan, memang, namun dia berbalik dan menggiring dua orang yang ia bawa sambil berbisik-bisik. Momoi tak ambil pusing akan apa yang dia katakan.
Momoi kembali sebentar ke bangkunya, dan menutup kotak makan. Tanpa melirik dia berujar pada Kise, "Toilet."
"Ha, Momocchi tidak benar-benar marah padaku!"
Momoi membalasnya dengan menjulurkan lidah. Kise terbahak. Momoi pergi setengah berlari, ekor kudanya terombang-ambing di udara.
"Aku tidak menyangka dia punya sisi itu," seorang kru lain, yang ternyata sudah dari beberapa saat lalu duduk di dekat Kise, berujar.
Kise menatap ke arah Momoi terakhir kali terlihat, "Yaa, awalnya aku juga tidak menyangka. Tapi pilihanku kelihatannya tepat."
"Apa yang kaupikirkan tentang dia, Kise-san?"
"Mm," Kise bersandar dan melemparkan pandangan menuju langit-langit, "Dia perempuan yang bisa jadi tegas sekaligus manis di waktu bersamaan. Dia perempuan yang punya pendirian dan harga diri."
Pembicaraan itu berakhir. Kise kembali makan, dan Momoi pun kembali.
"Kalau orang-orang tadi kuizinkan, pasti nanti akan ada lebih banyak penggemar yang mengusik waktu pribadimu," Momoi memulai pembicaraan ketika duduk dan makan kembali. "Kau harus mengelompokkan waktu untuk diri sendiri dan fans."
"Mm, terima kasih sudah mengerti."
"Itu kewajiban manajer."
"Kau memang yang terbaik."
Ketika Momoi mendongak, yang dia temukan adalah Kise yang berbeda. Yang senyumnya simpul namun dewasa. Yang matanya teduh. Yang sedikit wajahnya tertimpa bayangan poninya namun masih tetap bercahaya sepenuhnya. Mature. Well, apa Kise juga punya sisi itu? Dia hanya bisa mempertanyakan dalam hati.
"Sepertinya ini Ki-chan yang berbeda."
"Begitu?" Kise tetap seperti tadi, "Bukan cuma kau yang punya sisi berbeda."
"Mm, boleh aku melihatnya?"
"Apapun untuk manajerku," Kise mengedipkan salah satu matanya, dan meletakkan telunjuknya di bibir. Momoi mendengus jijik. Baginya, itu pose yang terlalu pasaran. Menggelikan.
"... Tersayang."
Momoi tidak yakin bahwa telinganya mendengar dengan benar, karena pada saat bersamaan ponselnya berdering. Seorang klien Kise.
.
"Sudah lima belas menit, Kise-san. Apa perlu kuteleponkan taksi untukmu?" seorang asisten sutradara mendekatinya. Jadwal syuting iklan yang dia hadiri baru selesai tengah malam, dan Kise tidak terlalu menyadarinya.
"Kau harus segera pulang. Kau perlu istirahat karena kita harus syuting lagi besok pagi-pagi demi menyesuaikan dengan jadwalmu."
"Terima kasih perhatiannya," Kise memastikan lewat jam tangannya bahwa ini belum terlalu malam untuk tidur. Dia bisa mengendalikan jam tidurnya selama dia mendesak Momoi untuk membangunkan. Tapi kemudian dia baru ingat: memang belum terlalu malam untuk tidur, tapi sudah terlalu malam untuk para sopir taksi beroperasi.
"Mungkin manajermu sudah benar-benar pulang."
"Dia pamitnya cuma mau beli barang-barang untukku," seolah terdorong oleh gangguan tak kasatmata, Kise memandang jamnya lagi. "Tapi entahlah."
"Perempuan seperti dia mungkin belum boleh keluar terlalu malam. Siapa tahu dia benar-benar pulang duluan karena orang tuanya. Telepon dia."
Kise mencangklong ranselnya. Mungkin saran itu benar. Sambil menjauh, dia menelepon Momoi. Dia tidak kepikiran sama sekali untuk marah. Malah lebih baik kalau Momoi pulang duluan.
"Hal—"
"Aku akan ke sana. Jangan bergerak dari tempatmu berdiri. Sebentar lagi. Sedikit lagi."
"Tidak pulang—"
"Aku di depan. Keluarlah dari gedung."
Kise sudah terbawa suatu paham tentang 'aku akan selalu menuruti manajerku' karena bagaimanapun, tempat bergantung seorang artis adalah tangan manajernya.
"Mana—"
Kise tidak mengenali mobil siapa itu namun ketika salah satu kacanya terbuka—dia bersikeras bahwa matanya tidak salah. "Momocchi!"
Momoi hanya tersenyum kecil. "Naik. Kita pulang. Kuantarkan ke rumah."
"Whoah!" Kise membuka pintu sambil terkagum-kagum. "Mobil siapa ini? Jadi tadi kau pulang ke rumah dulu?"
Momoi langsung menginjak pedal gas padahal Kise baru saja menutup pintunya. Dia mengangguk. "Punya Ibu. Tapi jarang dipakai. Ibu lebih suka naik bus karena kantornya sekarang pindah lebih dekat dari rumah."
"Kau sudah berani? Wow! Tidak kusangka kau bisa menyetir lagi secepat ini!"
"'Kan dulu aku sudah bisa. Cuma butuh keberanian sedikit. Ini pun karena sudah tengah malam dan jalanan agak sepi, aku baru berani."
Kise sadar Momoi menyetir dengan kecepatan di bawah rata-rata, tapi itu bukan alasan untuk protes. Dia malah masih terpana. Dagu gadis itu terangkat seolah mengatakan seberapa tinggi level kemandirian dan integritas serta kesungguhannya. Matanya yang lurus dan fokus menegaskan pada orang-orang bahwa dia bisa diandalkan. Dia bukan perempuan cengeng yang manja, kata sorot matanya.
Mereka keluar dari jalur besar, dan memasuki jalan yang lebih sepi dan agak berbukit-bukit. Rumah Kise masih jauh.
"Momocchi, biar aku yang menyetir."
"Tidak. Kau harus istirahat."
"Momocchi yang capek. Itu lihat matamu. Momocchi banyak urusan hari ini. Sampai tiga kali ke kantor agensi, menemui klien, mengurusku."
"Kau harus pemotretan sepuluh sesi dengan empat macam outfit musim dan tiga kali take iklan berdurasi tiga puluh detik—siapa yang capek di sini?"
"Tapi aku 'kan laki-laki—"
"Patuhi perintah manajer. Titik."
Kise ingin tertawa—ya, selera humornya kadang tak wajar, memang—tapi karena wajah Momoi menampakkan keseriusan, dia menahannya.
Tak ingin kedapatan melirik secara kentara, Kise menatap lewat kaca kecil di bagian depan. Kesungguhan bisa dengan mudah dia baca dari wajah Momoi. Entahlah, dia bisa melakukannya begitu saja.
"Rasanya kau benar-benar hebat, Momocchi. Kau luar biasa. Kau kelihatan mandiri. Pasti orang yang jadi suamimu nanti bangga."
"Ki-chan, aku pernah merasa—mungkin akan lebih susah bagiku dalam urusan mencari pasangan hidup. Bagi laki-laki mungkin aku terlihat susah dikendalikan. Aku ragu ada yang suka dengan gayaku. Tapi ya—inilah aku. Aku tak akan mengubah diriku sesuai apa yang orang lain mau. Aku akan menemukan orang yang mau bersamaku meski aku begini."
"Pasti ada yang mau," Kise melipat tangannya di depan dada sambil menyeringai. "Contohnya aku."
Tidak ada yang berubah di wajah Momoi. Dia berkonsentrasi. Bola matanya berputar, "Oh Ki-chan, jangan terapkan gombalanmu itu padaku. Cukup di iklan saja kau melakukannya."
Kise cuma tertawa. Penegasan mungkin perlu, tapi dia tidak yakin Momoi akan percaya. Dia biarkan saja.
"Momocchi, aku mau—"
"Makan? Ada roti di kursi belakang. Makan saja."
"Bukan! Berhenti!"
Pengereman mendadak membuat mereka berdua terhempas ke depan. Sabuk pengaman adalah pahlawan kali ini.
"Ah, maaf, aku masih belum belajar mengerem dengan benar. Kaumau apa tadi?"
"Mau buang air kecil."
"Apa ada tempatnya di sini?" Momoi memandang sekeliling.
"Tadi ada pom bensin. Tidak jauh, kok."
"Turunlah kalau begitu. Cepat."
Kise diam saja di tempat. Momoi menghidupkan musik. Gadis itu mulai asyik sendiri dengan lagu yang berbahasa Inggris dan bertempo halus itu. Kise berpaling ke posisi Momoi berada, hanya sekali mata mengedip—wajah dia hanya tinggal satu inci di depan wajah Momoi. Mulutnya sedikit terbuka.
Napas Momoi tersangkut di tenggorokan. Wajahnya mendidih dengan kecepatan magis. Kise mahir memainkan hipnotis hingga tahu-tahu separuh jarak telah terpotong. Napas mereka bergumul di jarak yang teramat tipis itu. Namun di saat itulah Kise menarik dirinya kembali ke posisi semula.
"Maaf. Kita terus pulang saja."
Tidak ada yang mengatakan apapun sampai mereka tiba di rumah Kise.
Momoi tahu dia harus profesional. Iya, dia mengerti hukum itu. Tapi, tetap saja ... di sepanjang jalan ia terusik oleh kejadian tadi malam. Itu menciptakan gempa dan badai di dalam kepalanya sendiri. Rasanya dia ingin melompat dari jendela bus dan tidak ingin menemui Kise yang sedang punya urusan di kantor agensi sana. Dan tidak ingin bertemu pemuda itu sampai beberapa hari ke depan. Beberapa hari yang tak ditentukan.
Sayangnya, ketentuan 'profesionalitas' lebih mutlak daripada rasa canggung. Momoi menepuk pipinya berkali-kali agar lepas dari kekangan rasa yang campur aduk. Sebentar lagi tempat itu akan terlihat dari jendela dan Momoi tahu bahwa itu adalah penanda bahwa dia harus kembali menjadi seorang manajer Kise Ryouta, bukan seorang gadis lugu yang hanya akan lari menghindar karena salah paham dengan seorang lelaki sebaya.
Gedung itu seakan menelannya. Gedung itu terlihat seperti mulut naga raksasa ketika dia memasukinya. Tuhan—segala hal menjadi berasas hiperbola saat seseorang gugup.
Apa yang harus dia katakan saat bertemu Kise nanti? Rasanya rasa gugup ini lebih parah daripada yang ia rasakan ketika pertama kali datang.
"Oh, itu dia—hai Momocchi!"
Momoi Satsuki, jangan bermimpi dulu.
"Momocchi, sebelah sini!"
Momoi berhenti sebentar. Kise benar-benar ada di sana, di sofa dekat lobi, dan melambaikan tangan ke arahnya.
Dunia ini sudah gila.
"Katanya syuting pagi ini ditunda setengah jam. Urusan yang kaubilang kemarin sudah kubereskan. Kita punya waktu kosong, nih."
"Momoi-san, kau kelihatan pucat."
"Iya. Kau kurang tidur? Kata Kise-kun masih ada waktu istirahat setengah jam, 'kan? Kau bisa istirahat. Di belakang sana ada beberapa kamar khusus yang kosong, memang disediakan untuk istirahat. Psst, isinya seperti hotel, lho."
Momoi kenal dua orang ini. Mereka staf teramah yang dia tahu. Dia menggeleng sambil terkekeh lemah. "Aku tidak apa-apa. Aku cuma tidur terlalu malam gara-gara membaca."
"Mmm, Momocchi suka memaksakan diri. Duduk, yuk," ajak Kise pada mereka bertiga. Sofa di lobi kosong.
Kise dan dua staf membicarakan beberapa hal tentang perusahaan. Momoi hanya menyahut sesekali. Dan tersenyum beberapa kali.
Ketika ada jeda, dia yang duduk di samping Kise mendekat sebentar. Berbisik. "Ki-chan, kita perlu bicara sebentar setelah ini."
Kise memandangnya sebentar dengan tatapannya yang biasa. "Oh, boleh," dia tersenyum kecil.
Ya, dia bukan anak kecil lagi yang hanya akan membiarkan masalahnya mengambang. Dia lebih suka menyelesaikannya dengan bicara. Sudah tak terhitung kasus yang dia baca, dengar, dan saksikan yang tak terselesaikan hanya karena komunikasi yang macet. Relasi kerja yang awalnya baik tapi memburuk dengan parah hanya karena gengsi bicara satu sama lain. Dia punya prinsip sekarang—ya, dia harus—bahwa seburuk apapun hasilnya, yang penting tidak ada yang mengganjal dan tidak ada masalah penyesalan belakangan nanti.
Efek tidak enak karena kejujuran lebih baik daripada penyesalan. Dia berani bertaruh atas itu.
"Sekarang saja bagaimana?"
Momoi mendelik sesaat pada dua orang di hadapannya, tanpa mereka ketahui. "Kurasa tidak—ah, aku ke toilet dulu. Tadi aku buru-buru dari rumah."
Kise hanya mengangguk. Momoi pergi dengan langkah cepat. Toilet, untungnya, tak terlalu jauh dari sana. Sepi, pula. Dia bisa dengan mudah masuk tanpa antre. Dia juga tidak menghabiskan waktu lama di wastafel, ada satu orang perempuan di sana yang sudah ada sejak dia datang namun tidak berganti posisi sampai dia keluar. Dia sibuk dengan riasannya. Momoi cuma melirik pada bayangannya di cermin. Kepang ekor kuda dan sapuan bedak belaka, dia rasa ini sudah cukup.
Momoi tertahan di pintu terluar, di persimpangan antara toilet wanita dan pria.
"Ki-chan?"
"Kita bicara di sini saja."
Momoi kurang bisa mengatakan apakah Kise sedang menyeringai atau tersenyum biasa.
"Ada orang di dalam," Momoi menggambarkan dengan gerak bibir saja.
"Apa yang akan kauceritakan sangat rahasia dan tidak ingin diketahui satu orang pun selain kita?"
Momoi mengalah. Lagipula dia tidak kenal orang barusan. Dia juga tidak merasa bahwa ini akan membahayakan karir Kise. Dia tidak akan menggunakan kata-kata yang eksplisit.
"Soal tadi malam. Gunakan kata-kata dengan hati-hati," dia berbisik pada kalimat terakhir.
"Oh," Kise menyisipkan tangan di kedua saku jinsnya. Dia terkekeh. "Itu. Kau benar-benar minta?"
Momoi sontak memukul lengan Kise. Orang terakhir selain mereka di toilet keluar dengan make up yang telah dipoles tebal. Kegeraman Momoi berkurang sedikit karena dia merasa lebih bebas.
"Jangan melakukan sesuatu yang menimbulkan salah paham, ba-ka."
"Hm, bagaimana mengatakannya ya," bola mata Kise bergulir menyapukan pandangan ke atas.
"Jangan perlakukan aku sama dengan penggemarmu. Aku tidak mempan dengan pesona dan rayuan apalagi kata-kata murahanmu itu, Ki-chan," Momoi menyilangkan tangan dan berujar sambil merendahkan area pandangan.
"Aku tidak pernah sekalipun mencoba mencium penggemarku, Nona Manajer," dia menyeringai lagi. "Jadi jangan bilang kalau aku memperlakukanmu sama."
"Hn, begitukah?"
Anggukan Kise merangkum semua jawaban. Namun ia merasa tak cukup hanya dengan gestur. "Momocchi, biar aku cerita sedikit. Aku sering mengatakan bahwa aku sayang dengan penggemarku. Aku cinta mereka. Ya, itu jujur. Karena terlalu sering, aku merasa kata-kata itu sudah terlalu murahan. Beberapa orang mungkin berpikir hal yang sama—termasuk Momocchi."
"Ya."
"Jadi, ketika aku menganggap seseorang itu spesial, aku sebisa mungkin menghindari untuk menggunakan kata-kata yang tidak lagi istimewa itu. Aku akan mencari cara lain—dengan membuktikannya, bukan mengatakannya saja."
Kernyit di kening Momoi adalah bukti ketidakpahamannya.
"Maksud Ki-chan?"
Kise mulai beranjak pergi, namun masih menoleh. "Lupakan saja yang tadi malam. Sibukkan saja diri dengan pekerjaanmu."
"Aku sama sekali tidak mengerti," tangan Momoi turun dan mulai berayun di samping tubuhnya seiring langkah kecil namun cepatnya mengejar Kise. "Aku adalah orang yang tidak akan berhenti kalau aku belum mendapat jawaban yang memuaskan."
"Ah, kalau begitu anggap saja yang tadi malam itu hanya permulaan. Momocchi akan menemukan hal yang lebih banyak nanti."
"Apa yang nanti akan kudapat?"
"Kau terlalu cerdas untuk tidak mengerti, Momocchi."
Sebuah kebohongan jika Momoi tidak menduga akan satu hal berdasarkan keterangan Kise barusan, dan apa yang dia lakukan tadi malam.
Sepertinya langkah karirnya tidak akan berhenti di tahap manajer seorang Kise Ryouta belaka.
"Ah, sayang sekali, padahal aku lebih suka Momoi yang jadi manajer."
"Sayang sekali, Miyaji-kun, aku harus membayar utang."
"Siapa penggantimu di sini?"
"Aku belum tahu, Kensuke-kun," Momoi mengumpulkan barang terakhirnya dari loker, berpaling kemudian menghadap si pirang seniornya itu. "Tapi kemungkinan pelatih akan mengangkat mantan calon manajer yang waktu itu tersisih karena aku," Momoi mengenakan jaketnya. "Wakamatsu-kun—kalau mereka bandel sementara belum ada manajer baru, marahi saja mereka, hihihi."
"Hah," Wakamatsu menenggak minuman isotoniknya. "Sampai akhir pun kesanku di matamu hanyalah menjadi orang yang pemarah."
"Tapi itu tidak buruk di mataku," Momoi mengangkat telunjuk dan jari tengahnya bersamaan sambil tersenyum geli. "Dan Hayama-kun—pertahankan skill dribbling barumu ya! Itu keren sekali."
"Hng, ya ya yaaa," Hayama—yang masih duduk—memain-mainkan bola di kakinya.
"Momoi."
Satu orang terakhir di ruangan itu yang belum bicara dengan Momoi sama sekali akhirnya buka suara sembari menutup botolnya.
"Ada apa, Kasamatsu-kun?"
"Kau pernah bilang bahwa menjadi manajer klub olahraga adalah hidupmu. Bagaimana dengan menjadi manajer seorang artis? Apa kau bahagia?"
"Kurasa ..." Momoi bersandar pada loker.
"Kau yakin kau tidak akan diperalat?" Kasamatsu menaruh botol tadi di tasnya. "Sekarang ... ada banyak kriminalitas di dunia hiburan. Apalagi kau perempuan."
"Ah, kurasa ..." Momoi mulai ragu. Tak bohong bahwa dia mulai takut. "Oh—Ki-chan tidak mungkin seperti itu. Aku sudah melihat banyak hal tentangnya dan mendengar tentang dia dari banyak orang. Aku baik-baik saja. Aku bisa menjaga diri."
"Janji, ya," Hayama menoleh sebentar. "Kami sudah memperingatkanmu."
Senyuman Kise di pikirannya sendiri membuat Momoi lebih tenang lagi. Ah, meski ada banyak pertanyaan tentang laki-laki itu yang dengan waktulah semua bisa terungkap, dia yakin bahwa Kise tak akan berbuat buruk. Mengapa dia bisa lupa tentang kebaikan Kise yang menjadi awal dari semua ini?
"Dia malaikatku. Dia orang yang sudah menyelamatkanku."
"Bisa saja dia memanfaatkan hutangmu padanya untuk berbuat macam-macam padamu," Wakamatsu mengangkat salah satu alisnya.
Sesaat, Momoi ragu. Tapi dia hanya tersenyum. "Maka aku akan menendangnya, aku harus bisa melindungi diriku sendiri. Itu pesan kalian dari awal untukku, 'kan—ketika aku baru bergabung di tengah kumpulan para laki-laki?"
Kasamatsu tersenyum tipis. "Kami tidak bisa melarangmu. Tapi, hati-hati."
"Tentu," Momoi membungkuk, "Terima kasih atas bantuan kalian selama ini. Aku belajar banyak. Aku akan tetap mengunjungi kalian—dan semoga kalian selalu bersemangat."
Mengucapkan perpisahan memang menyakitkan, tetapi Momoi yakin pilihannya tidak salah. Dia harus maju untuk ini. Banyak hal yang ingin dicoba dan diketahuinya, dan jika dia mundur hanya karena kekhawatiran—ya, dia merasakan itu—dia tidak akan tahu tentang hal yang diisyaratkan Kise di mobil malam itu.
Ya, dia harus melangkah. Bukan untuk Kise, bukan untuk apapun, selain untuk mencari pengalaman bagi dirinya sendiri. Dia ingin melihat, dunia barunya bisa menantang dirinya sampai mana.
Momoi menikmati semuanya—yah, walaupun ini artinya dia menelan kata-katanya sendiri, dia sadar akan kebodohannya. Dia sudah mendapat satu pelajaran: karma.
Sambil berjalan keluar dari gedung olahraga kampus, dia tersenyum tipis. Jika dia tidak mendapat kecelakaan waktu itu dan tidak mengenal Kise, dia tidak akan tahu, dunia yang dijauhinya ternyata cukup menyenangkan.
Berlari dari satu tempat syuting ke tempat lain, menemui banyak orang baru, sedikit-sedikit belajar tentang ilmu penyiaran, manajemen secara praktek dan resmi, belajar soal periklanan, dan rahasia-rahasia lain yang tersembunyi di balik layar dan tidak diketahui khalayak, semuanya membuatnya bersemangat.
Dia berlari bersama bayangannya keluar dari kampus, petang itu, siap menjemput Kise di salah satu kantor majalah terkemuka Jepang.
Ketika mereka keluar untuk pulang dari kantor majalah itu, pemandangan di luar membuat Momoi agak bingung. Terlebih, ketika mereka berjalan lebih jauh menuju mobil.
"Aneh, Ki-chan," dia melirik ke beberapa orang di sekitarnya. Dia ada di belakang Kise, agak jauh, dan dia benar-benar mengamati bahwa beberapa kamera amatir itu bergerak mengikuti dirinya ketika dia menyusul Kise.
"Ada apa?" Kise menjawab, namun wajahnya tidak untuk Momoi. Dia tersenyum bergantian pada beberapa orang yang memanggil namanya.
"Penggemar itu biasa, Ki-chan, tapi kenapa beberapa kamera mengarah padaku—"
"Momoi-neesan!"
"Momoi-neesan, aku senang padamu!"
Momoi menatap bingung pada Kise yang memandangnya sembari terkekeh.
"Bagaimana bisa?"
"Kau lupa? Mereka menyertakan profilmu di majalah minggu lalu. Ada beberapa perempuan yang punya idola perempuan karena mereka menganggap si idola sebagai role model untuk masa depan mereka."
"... Semudah itu?"
"Ada banyak hal yang tak terduga setelah kau masuk majalah, apalagi majalah besar, Momocchi. Selamat," dia melakukan kebiasaannya lagi: mengacak rambut Momoi.
Momoi terkekeh pelan. Ternyata kejutan-kejutannya menyenangkan, ya.
Sampai sekarang, setidaknya.
"Momocchi," Kise yang menyetir sekarang. Dia sedang ingin melakukannya, katanya.
"Ya?"
Kise menoleh dan tersenyum sampai gigi-geliginya tampak. "Aku tidak menyesal memilihmu."
"Aku juga."
tbc.
