De Bloemetje

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.
Pairing: Kise Ryouta/Momoi Satsuki. Genre: Romance. Rating: K+.

(Kise sedang dalam perjalanan untuk berlibur, dan dia duduk di samping seorang perempuan cuek. Tetapi liburan itu ternyata tidak seperti yang diharapkan.)


Momoi mengetukkan pulpen ke atas meja, tidak mempedulikan Kise yang sudah selesai dengan pemotretan. Seorang wanita berkacamata dengan rambut disanggul tinggi dihadapinya, tatapan mereka masih beradu dan Kise terpaksa untuk bersandar saja di sofa karena dia tidak merasa bisa ikut masuk dalam pembicaraan.

"Sayangnya Kise tidak bisa mengikuti semua poin-poin kontrak ini. Bayarannya mungkin besar untuk iklan singkat ini, tetapi jadwalnya bertabrakan."

"Sepenting apa jadwal yang bersamaan dengan ini?"

Momoi meletakkan pulpennya di atas meja. "Itu jadwalnya istirahat."

"Istirahat?" wanita itu tergelak. "Kukira ada kontrak semahal apa. Ayolah, liburan bisa dilakukan lain hari. Di hari berikutnya juga bisa. Bohong kalau Kise-san tidak ingin uang sebanyak ini."

"Tidak," geleng Momoi, bersikukuh. "Hari berikutnya Kise harus berangkat ke Hongkong untuk pemotretan lain. Tiga hari. Dia harus istirahat satu hari agar kondisinya fit saat berangkat dan pulang. Setelahnya dia memang harus syuting lagi. Hari yang Anda tawarkan ini adalah hari kosongnya. Kalau Anda memang bersikeras ingin memakai Kise, saya bisa mengatur jadwalnya. Senin depan dia kosong. Dan saya rasa dia tidak akan keberatan."

"Masalahnya, kami sudah mengadakan kontrak jadwal penayangan dengan stasiun televisi. Kalau dihitung dengan proses penyuntingan iklan sebelum masuk televisi, uji penyensoran dan lain-lain, semuanya akan kacau jika syuting baru dilakukan Senin depan."

"Kalau begitu, carilah model lain. Terima kasih sudah menawarkan ini pada Kise. Sayangnya Kise adalah manusia, bukan mesin penghasil uang, jadi dia tidak bisa Anda pakai sesuka hati."

Wanita itu memijit keningnya. Dia berada dalam posisi membingungkan, tidak seperti Momoi yang sudah memasang harga mati untuk pendiriannya. Momoi terlihat tenang. Kakinya tersilang dan tangannya terlipat dan dia menunggu. Saat dia harus menunggu lebih lama lagi karena wanita itu semakin tersesat dalam pikirannya sendiri, akhirnya dia mengetukkan kakinya di atas lantai. Dia akhirnya melepaskan napas panjang.

"Kalau Anda memutuskan untuk menarik penawaran, silahkan. Saya juga bisa memberi sugesti model lain untuk dipakai. Saya tidak punya banyak waktu. Kise harus pulang, ini sudah lebih dari tengah malam," dia sempatkan melihat ke jam tangan untuk memastikan bahwa dia tidak mempermalukan dirinya sendiri karena salah.

"Beri aku waktu. Aku akan menelepon atasanku sekarang. Mohon tunggu. Hanya sebentar."

Momoi memberi toleransi. "Oke. Sepuluh menit."

Kise tertawa kecil. Entah bagian mana yang dia anggap menarik. Dia membungkuk sedikit, pamit pada Momoi, "Momocchi, aku keluar dulu. Beli sandwich. Lapar."

"Perlukah aku yang membelikan?" Momoi mendongak dan menemui mata Kise. Mata itu terlihat mengantuk dan Momoi jadi semakin yakin keputusannya untuk menawarkan diri benar.

"Tidak," Kise mengangkat bahu. "Tidak perlu. Tidak jauh. Di samping gedung ini. Kau temani orang ini saja."

"Baik. Jangan lama. Jangan ke mana-mana selain ke situ. Kalau antri, pulang saja. Kita cari di tempat lain."

Kalimat itu membuat Kise tertawa lebih nyaring lagi, tidak peduli pada wanita yang jauh-jauh datang dari Kyoto ini padanya untuk menawarkan kontrak yang sedang menelepon. Laki-laki itu tidak mengerti mengapa Momoi bisa secepat ini beradaptasi dan menjadi pengatur yang mengarah pada sistem otoriter di dunia ini. Dia begitu ketat, rupanya. Apa itu pembawaan? Tetapi Kise cukup merasa nyaman. Sebagai laki-laki yang kadang kurang ahli mengatur diri sendiri, keberadaan Momoi adalah anugerah. Kise pun melenggang pergi.

Momoi menanti sambil mencari hal yang bisa membunuh rasa bosannya di internet lewat ponselnya. Setelah menggulirkan layar beberapa kali ke atas dan bawah, akhirnya wanita itu selesai.

"Tetap tidak bisa. Kontrak dengan televisi sudah fix dan lebih sulit bagi kami untuk mengurusnya. Ada tujuh stasiun tempat kami mengikat kontrak. Jadi ... mohon maaf."

"Ah, begitu. Mohon maaf juga atas penolakannya," Momoi mengulurkan tangan. "Saya harap kita bisa bekerja sama suatu saat nanti. Semoga berhasil dengan iklannya. Hubungi saja saya kalau ingin mendapatkan sugesti model-model lain. Saya bisa menyarankannya sesuai dengan klasifikasi yang mirip dengan Kise agar Anda bisa mendapat tipikal model untuk produk Anda."

Wanita itu membalas jabatan tangan Momoi, berbasa-basi sedikit, dan berpamitan untuk pulang duluan. Momoi berjalan untuk menemui Kise yang baru saja pulang dengan sebungkus makanan.

"Maaf karena aku baru saja membuat uang yang seharusnya kauterima melayang," Momoi memakai cardigan hijau lime-nya kembali, bersiap untuk pulang. "Siapa yang menyetir malam ini? Aku?"

"Mm, yeah, tidak apa-apa," Kise mengiringi langkah Momoi. "Aku juga butuh istirahat. Aku tidak punya libur sejak selesai cuti tiga minggu yang lalu. Kurasa keputusanmu tepat. Soal uang—masih bisa dicari. Terima kasih sudah mengerti," Kise menggigit sandwich pertamanya, yang paling besar kali itu. Rasa lapar perutnya tidak bisa disogok hanya dengan satu kue ukuran sedang. Sejak sore organ itu tidak diberi suplai. "Tolong Momocchi saja, ya. Aku mau makan."

"Oke. Besok jangan lupa bangun jam lima karena pukul lima empat puluh lima aku akan menjemputmu biar pemotretan itu bisa selesai dan kaudapat jatah libur satu setengah hari. Mereka bersedia diajak kerja pagi-pagi."

Kise cuma mengangguk-angguk. Makanan begitu penuh di mulutnya, baru habis ketika mereka mencapai mobil. Kise yang duduk di kursi depan langsung merogoh kantong karton yang dia bawa. "Momocchi, nanti dulu pulangnya. Makan dulu."

"Mm?" Momoi batal menghidupkan mobil. Perutnya langsung berbunyi, dan karena keheningan yang ada, dia merasa dia tidak mampu memanipulasi Kise yang sudah siap tertawa mengejek. Dia mengambil sandwich itu. "Terima kasih."

Kise selesai lebih dulu, kemudian meminum cola yang sedari awal ada di tangan kirinya. Tangannya ikut basah karena embun di sana yang meleleh. Dia menyodorkan gelas itu untuk Momoi, "Maaf cuma satu. Tanganku tidak cukup. Tidak apa 'kan bekas mulutku?"

Momoi langsung menyesapnya tanpa ragu dari tangan Kise. Lalu, lanjut makan. Kise menunjukkan tawa yang jenaka.

"Momocchi baru saja berciuman denganku!"

Momoi berhenti mengunyah, kemudian langsung memukul Kise di tangan.

Kise cuma tersenyum setelah tawanya berhenti. "Momocchi."

"Hn?"

Kise bersyukur, Momoi bukan bocah yang akan langsung bungkam begitu pembicaraan yang sensitif dibawa ke permukaan. Bagaimana tidak sensitif? Kata cium barusan pasti mengingatkan dia pada apa yang terjadi malam itu, yang sempat membuat mereka sedikit kacau. Terlebih, Momoi. Kise memutuskan untuk melanjutkan.

"Yang malam itu—aku memang bermaksud menciummu."

Momoi mematung.

"Aku serius."

Alis Momoi terangkat.

"Ki-chan, mari kita luruskan ini," dia meletakkan rotinya ke pangkuan dan mulai menghadap Kise. "Kuharap ini tidak mengacaukan karir kita."

"Kaumau membicarakan hal ini?"

"Kurasa kau mengerti siapa aku. Lagipula ..." Momoi melirik ke arah lain. Sebagai gadis biasa, normal baginya untuk merasa gugup dan canggung. Seberani apapun tekadnya untuk membicarakan soal perasaan. "Kita adalah partner kerja. Jangan ada hal besar tentang perasaan yang disembunyikan satu sama lain sehingga membuat kinerja kita jadi tidak lancar."

"Oke, aku mengakuinya. Aku tidak mengatakan bahwa aku mencintaimu, Momocchi, karena ini lebih dari itu."

Bibir Momoi setengah terbuka, ingin mengujarkan kata-kata tapi dia kehabisan ide. Dan faktor penyebab itu semua, adalah rasa kaget. Ditambah malu dan bingung, tentu saja.

"Aku sudah sering mengatakan itu untuk penggemarku. Sudah pernah kubilang, 'kan, aku laki-laki yang berbeda dari yang kebanyakan. Aku menghindari mengatakan 'aku cinta kau' pada orang yang kusayangi karena aku punya alasan sendiri. Kata-kata itu sudah sering kuberikan pada orang-orang yang berjasa untuk karirku—penggemar. Mereka kebanyakan wanita, hm? Dan aku percaya, suatu waktu aku akan menemukan satu orang yang paling spesial. Lebih spesial dari penggemar. Karena itu, posisinya lebih tinggi, dan harus mendapatkan perlakuan yang lebih istimewa juga."

Momoi merapatkan pejaman matanya. Ia sudah memperhitungkan saat ini untuk datang.

"Kau, semakin ke sini, semakin berubah, Momocchi. Aku melihat perempuan yang agak canggung dan takut beberapa minggu lalu saat aku menemuinya di kampus, tetapi semakin lama dia bekerja, dia semakin dewasa dan profesional, serta sudah bisa mengaturku dan berani membelaku. Dan perubahan itu hanya membuatku makin tertarik padamu."

"Apa kau yakin ini bukan cuma perasaan sesaat?"

Kise menggeleng, "Setidaknya sampai saat ini. Dan aku sudah melihat kelemahanmu ... lalu kurasa aku tidak lagi punya alasan untuk berhenti menyukaimu."

"Ki-chan ..." Momoi meneliti wajah Kise lebih jauh, mata gadis itu agak sendu. "Aku harap kau tidak berakting sekarang."

"Hei, Momocchi, apalagi yang harus kulakukan untuk meyakinkanmu?" tangan Kise mencapai puncak kepala Momoi dan mengelusnya.

Momoi mengalihkan wajah. Matanya terarah pada jalanan yang telah kosong dan lampu-lampu jalan yang berpendar dalam sepi. "Aku manajermu," bibir bawahnya digigit, "Dan kau artis. Tidakkah ini ... salah?"

"Ini tidak salah. Apa yang salah dari orang yang jatuh cinta?"

Momoi ingin mengulangi pertanyaan soal keseriusan hanya karena dia berpikir bahwa pendengarannya membohonginya dan Kise sedang berakting di hadapannya, namun pasti dia akan kedengaran bodoh. Dari wajah pun dia pasti sudah terlihat seperti orang dungu. Dia tahu ada kemungkinan bahwa Kise memang tertarik padanya secara khusus (—maksudnya, hei, perempuan mana yang tidak pernah berspekulasi bahwa seorang lelaki yang tengah dekat dengannya sedang menaruh hati padanya?).

Tetapi Momoi tidak tahu bahwa dia akan benar-benar skakmat dan bahkan untuk memikirkan hal yang akan dia lakukan satu detik ke depan, dia tidak bisa.

"Momocchi, kau masih di sini?"

Momoi menggaruk kepalanya. "Yeah. Aku mendengarmu."

"Lalu, bagaimana perasaanmu padaku? Aku berjanji tidak akan ada yang berubah di antara kita walau perasaanku cuma bertepuk sebelah tangan."

"Kaurasa itu memang mudah untukmu, Ki-chan ... tapi untuk perempuan yang punya pikiran rumit ..."

"Jadi, kausuka padaku atau tidak?"

Momoi menutup separuh wajah atasnya dengan tangan kanan, agak menunduk. "Sebenarnya ... aku juga tertarik padamu. Aku senang berada di dekatmu dan bekerja denganmu ..."

Terdengar tawa kecil yang menghibur. Momoi menurunkan tangannya dan membuka mata, hanya untuk menemukan Kise yang sudah berada kurang dari sejengkal dari wajahnya. Dia ingin mundur tapi tidak ada lagi ruang untuknya. Kepalanya telah bersandar pada bangku mobil, dan Kise menang sekarang.

Wajah Kise datar, namun kelopak matanya sedikit merendah, "Jadi, mari kita berpacaran, hm?"

Momoi mendorong Kise perlahan. "Tunggu, Ki-chan. Ini yang harus dipertimbangkan."

Kise mundur dengan enggan.

"Mari kita pikirkan," Momoi mengetukkan jari di pangkuannya, "Karena kita punya perasaan yang sama satu sama lain ... dan kita tahu soal itu ... pasti ada hal yang berubah di antara kita. Interaksi, contohnya. Kita jadi akan lebih akrab. Dan cepat atau lambat pasti akan tercium oleh media. Mereka akan mencari tahu sampai menguntit. Aku yakin. Lalu mereka pasti akan minta konfirmasi. Jika kita jujur bahwa kita pacaran, bisa kaubayangkan apa yang terjadi pada karirmu? Penggemarmu?"

Kise diam mendengarkan sambil menatap tanpa henti.

"Kau memang bebas menentukan kisah cintamu sendiri, tapi penggemarmulah yang membuatmu punya banyak uang, punya banyak tabungan untuk kau menikahi seseorang yang kau cintai nanti. Kau tidak bisa menikahi salah satu dari mereka, setidaknya jagalah perasaan mereka. Kau baru saja kembali dari hiatus, lalu mengejutkan mereka dengan berita itu. Tunggulah dulu sekian tahun, sekalian memastikan perasaanmu yang sebenarnya. Aku yakin, semakin lama kau berkarir, semakin baik respons mereka pada kisah cintamu."

"Jadi, kesimpulanmu?" Kise menahan senyumnya. Entah senyum untuk apa, Momoi belum bisa memastikan. Adakah lelaki itu bangga atau tertegun?

"Kita boleh saling menyukai, kita boleh saling terbuka tentang perasaan ... tetapi jangan sebut hubungan ini pacaran. Jadi kita bisa menyembunyikannya. Jika dalam waktu dekat ini ketahuan, dan pers meminta kita mengkonfirmasi, maka kita tidak perlu membohongi penggemar—kita katakan kita tidak pacaran. Kita hanya partner kerja. Simpel, hm?"

"Kau tahu?" Kise mengalungkan tangannya di pundak Momoi. "Ini hal yang membuatku suka padamu."

Mata Momoi terbuka lebar tanpa berkedip. Bibirnya terkatup erat seakan jika dia membukanya, jantungnya yang sedang berpacu di atas normal akan melompat keluar dari sana.

"Kau perempuan mandiri. Kau bisa mengatur hal yang tidak bisa kulakukan. Kau punya harga diri dan pendirian ... tidak seperti beberapa penggemar yang rela melakukan apapun demi aku. Yeah, kadang aku kurang respek dengan tipe penggemar seperti itu, walau di sisi lain aku berterima kasih pada mereka. Kau kuat dari dalam ... sesuatu yang tidak dimiliki oleh kebanyakan perempuan. Orang sepertimulah yang kucari."

Momoi mencoba mengikuti alur. Kepalanya disandarkan pada tangan Kise. "Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Itu naluriku sebagai manajer."

"Aku pernah mendengar seseorang untuk mencari istri yang bisa memanajemen suaminya kelak. Lalu aku menemukan itu di dirimu. Entahlah, tapi aku memiliki firasat itu di saat aku datang padamu di rumah sakit tepat setelah manajerku mengundurkan diri."

"Jangan bilang bahwa kau mengajakku menikah sebentar lagi."

Kise terkekeh. "Tidaaak~ tidak juga. Aku akan melakukan apa yang barusan kau katakan. Memastikan perasaanku."

"Jadi, Ki-chan ... kesimpulanmu?"

Kise menarik dagu Momoi, "Aku ingin kau mengatur hidupku sampai aku mati."

Momoi tidak diberi kesempatan untuk menjawab karena Kise mengecupnya, membuatnya terpejam sambil memikirkan tentang perasaannya sendiri—lantas dia menyimpulkan bahwa dia memang menikmati waktu bersama Kise apalagi ketika mereka berdua berbicara secara serius tentang perasaan—dan Momoi menyerah.

Karma menertawakan Momoi.


Perjalanan ke Hongkong diakhiri dengan pendaratan pada tengah malam. Kru langsung menuju hotel dan memesankan dua kamar khusus untuk Kise dan manajernya di lantai yang berbeda dari mereka. Sebagai bagian dari hak pekerja, mereka bilang, sehingga Kise ditempatkan di kamar dengan kelas yang berlainan dari mereka.

Kise baru selesai mandi ketika dia mengetuk pintu penghubung kamarnya dengan kamar Momoi.

Momoi telah rapi dan bahkan rambutnya telah kering ketika pintu dibukakan.

"Perlu sesuatu? Ki-chan, kalau lapar kau bisa menggunakan telepon di sana."

"Tidak, aku tidak lapar. Makan malam di pesawat sudah membuatku kenyang. Aku mau tidur," cengiran Kise terbit, "Bisakah aku mendapat ciuman selamat tidur?"

Momoi menutup pintu dengan keras, hidung Kise nyaris menjadi korban jika dia tidak refleks mundur menghindar. Terdengar teriakan Momoi dari sisi kamarnya, "Jangan melakukan hal-hal yang memancing begitu!"

Kise cuma terkekeh puas. Momoi masih menjaga jarak, Momoi tahu diri bahwa mereka masih dalam suasana kerja, dan mereka sedang berada di kamar hotel pribadi yang bisa saja mengundang hal-hal di luar batas, dia tahu diri.

Dia berpendirian.

Dia wanita yang tidak murahan.

Dan Kise semakin kagum akan Momoi meski dia tidak mendapat ciuman selamat tidurnya.

Momoi terasa sangat jauh dari tangannya padahal jarak di antara mereka hanya sebatas garis tipis. Momoi terasa mahal. Terasa sulit digapai. Kise menyeringai ketika berbaring dan memikirkannya. Menjaga hati wanita itu dan terus memenangkannya memang butuh tantangan dan perjuangan, dan dia menikmatinya.

Kise memang serius. Perubahan mulai terjadi, dan Momoi menyadari itu. Tangan Kise jadi lebih sering hinggap di pundaknya dan bahkan pemuda itu tidak segan untuk bersandar di pundak Momoi ketika mereka sedang istirahat syuting. Tidak juga dianggapnya tabu untuk lebih sering mengacak rambut Momoi ketika tidak banyak orang di sekitar mereka.

Beberapa pasang mata memang tidak meluputkan perhatian mereka dari kejadian-kejadian itu, tetapi Kise tidak mau tahu dan mereka semua menjadi bosan sendiri untuk memperhatikan. Sebagian menganggap lumrah karena keduanya punya ikatan khusus sebagai artis dan manajer, sebagian menyimpan pertanyaan dan rasa penasaran di dalam hati.

Tetapi, di luar semua itu, segalanya berjalan lancar-lancar saja. Kise tetap menjalankan aktingnya di depan kamera dalam mengiklankan produk dengan baik dan seperti biasanya, dan Momoi juga masih bertahan dengan cara mengaturnya yang ketat (dan sesekali ... galak). Ketika mereka kembali lagi ke Jepang dan Kise lanjut kerja untuk menjadi tamu mingguan dalam sesi tanya jawab lima pertanyaan suatu majalah, rutinitas tetap berjalan seperti biasa.

Sampai pada suatu malam, ketika mereka baru pulang dari kantor majalah tersebut, Kise yang mengambil alih kemudi mobilnya dari Momoi.

"Mau ke mana, Ki-chan? Tidak pulang?" Momoi membaca bahwa ini bukan jalan yang biasa mereka tempuh untuk kembali ke rumah masing-masing. Malah, semakin menjauh dari pusat kota.

"Kau capek, ya? Kalau capek, rencanaku tidak jadi. Biar kuantar kau pulang."

"Tidak juga, sih," Momoi memainkan tombol kendali jendela, namun jendela tak menunjukkan reaksi. Kise menguncinya secara otomatis. "Tadi aku sempat tidur di ruang ganti waktu kau diwawancarai. Mau ke mana memangnya? Acara pentingkah?"

Kise memperhatikan jam di tangannya. Dia tersenyum. "Masih jam sebelas lewat sedikit. Jam yang cepat untuk kita pergi tidur, namun sudah jadi jam malam untuk orang-orang kebanyakan."

"Ayolaaah, jangan bertele-tele."

"Ada suatu tempat yang ingin kutunjukkan padamu."

Momoi cuma bisa menurut. Bukan dia yang memegang kendali mobil kali ini, lagipula dia memang penasaran. Dibiarkannya Kise memacu mobil lebih cepat dari biasanya. Gedung-gedung mulai menjauh dari mereka dan lampu-lampu jalan tidak lagi sesemarak di tengah kota. Mobil semakin jarang dan jalan menyempit. Rumah-rumah sederhana menggantikan deretan kondominium dan apartemen. Tanaman-tanaman mengubah suasana sekitar, tidak lagi semeriah pusat kota. Momoi mulai bertanya-tanya, daerah mana ini. Dia tidak terbiasa ke daerah sini, apalagi ketika melihat lengkungan sungai di sisi kiri jalan.

Kenyataannya, Kise membelokkan mobil mendekati sungai itu. Rumah-rumah semakin jarang dan sebuah tamanlah yang menggantikannya. Taman yang diatur sedemikian rupa hingga bertepi pada sungai. Bunga-bunga tidak banyak, namun cukup untuk mempercantik pagar pembatas.

"Hei, aku belum pernah ke sini."

"Baguslah," Kise berdiri di pagar. Dia menyuguhkan senyum pada Momoi yang baru keluar dari mobil. "Ada cerita masa lalu tentang tempat ini."

"Tempat kenanganmu dengan mantan pacarmu?"

"Hehehei, aku sudah melupakan mereka," Kise mengangkat bahu. "Asal kautahu, aku sudah tidak pernah pacaran setidaknya empat tahun belakangan. Aku belum pernah berhubungan spesial dengan seseorang selama aku berkarir."

"Jadi, apa ceritamu?" Momoi menutup pintu mobil, lantas bersandar padanya. Matanya menanti Kise menghentikan senyum jahil itu dan mulai berbicara.

"Waktu awal menjadi model, aku mengalami insomnia karena jam kerja yang parah. Aku tidak bisa menahan diri di rumah, jadi aku sering pergi ke sini untuk menghabiskan waktu. Kadang dengan bersepeda, kadang dengan mobil kalau aku cukup lelah. Aku selalu sendirian di sini ... lalu aku berpikir, tempat ini romantis juga—suatu saat aku akan membawa pacarku ke sini. Dan, sekarang keinginanku terwujud."

"Tapi aku bukan pacarmu."

"Jangan berpura-pura bodoh, Momocchi."

Momoi menahan tawa sambil menggeleng. "Lalu kita harus melakukan apa di sini?"

"Bersantai. Cukup bersantai dan menikmati waktu karena kita sama-sama belum mengantuk."

Momoi diam saja sampai Kise melambaikan tangan agar Momoi mendekat. "Sini. Ayo. Lihat sungainya bersamaku."

"Memangnya ada apa di sungainya?" Momoi kelihatan tidak terlalu senang, namun tetap berjalan maju.

"Aku pernah melihat ikan di dalamnya."

Momoi bertopang pada pagar pembatas dengan badan agak membungkuk. Salah satu tangannya menyangga dagu, dan matanya sedikit memicing. Kise melipat tangan dan bertopang dagu di atas sana.

"Lampunya ada yang mati. Dan ini bukan purnama ... ikannya tidak akan kelihatan."

"Yah, sayang sekali," Kise berdiri tegak, berjalan, berhenti di balik punggung Momoi. Kedua tangannya mengurung Momoi dari sisi kiri dan kanan, kepalanya berada tepat di atas kepala Momoi. "Nikmati angin malamnya saja kalau begitu. Enak juga."

"Ki-chan," tegur Momoi. "Kau terlalu dekat."

"Hei, kita biasa seperti ini di tempat pemotretan, 'kan?"

"Tapi tidak sedekat ini."

"Sesekali. Ini malam hari dan sepi, tenang saja."

"Tapi kau tidak tahu siapa saja yang ada di sekitar sini, atau bahkan yang mengikuti kita."

"Sepi, Momocchi. Ini sudah hampir tengah malam. Lihat, tidak ada satu orang pun yang lewat sekarang."

"... Hati-hati ..."

Kise merapatkan bibirnya pada pelipis Momoi, "Jangan terlalu banyak mengkhawatirkan hal-hal yang tidak penting. Lihat saja secara logika, tidak ada satu orang pun di sekitar kita sekarang."

Lelaki memang mengandalkan logika, Momoi telah memahami bahkan membuktikan itu, tetapi dia tidak bisa hanya mengandalkan logika saja, bukan? Selalu ada kemungkinan di balik kelengahan.

Dia masih waspada bahkan ketika Kise mengangkat dagunya dan membuatnya menoleh untuk—agak dipaksa—menerima ciuman Kise yang selanjutnya.

Namun, akhirnya dia menyerah juga. Dunia terlupakan di kepalanya dan bunyi aliran air sungai yang samar menghilang di telinganya. Telinganya hanya memperdengarkan dentum bertubi-tubi dari jantungnya sendiri. Kise masih berada pada jarak nol di hadapannya ketika dia berbalik dan membuat punggungnya sedikit sakit karena dipojokkan di pagar pembatas. Kise menarik diri saat Momoi baru mengalungkan tangannya di leher Kise.

Momoi sedikit bersyukur karena dia dipaksa berhenti, atau dia akan semakin susah membangun kontrol untuk dirinya sendiri.

"Ups, maaf. Aku membuatmu sakit ya?" Kise baru menyadari bahwa Momoi terdesak posisinya.

"Memang sakit," Momoi menurunkan tangannya dari tubuh Kise lalu mengusap punggungnya sendiri. "Cukup untuk malam ini, Ki-chan. Jangan lebih dari itu lagi," Momoi menaruh telunjuknya di bibir Kise.

Kise agak cemberut, namun dia bukan pemberontak. Dia mundur dan mengambil posisi di samping Momoi agar dia bisa mengendalikan dirinya sendiri. Dia tertawa kecil tanpa sebab yang pasti, tetapi dia berbicara dengan nada santai, "Baik. Itu sudah cukup."

"Ki-chan," Momoi belum sadar bahwa dia belum menurunkan jarinya yang menyentuh bibirnya. Ciuman Kise masih terasa. "Terima kasih."

"Hn, untuk apa?"

"Menyukaiku."

Kise tidak dapat menahan diri, dan satu ciuman diberikannya lagi untuk Momoi. Tetapi, hanya di pipi. "Semua terjadi tanpa kendaliku, jadi jangan berterima kasih."

"Tapi kau serius."

"Mmm," Kise menaruh dagu di atas tangannya, pemandangan kota di seberang sungai terlihat menarik untuk matanya. "Momocchi, apa yang akan kita lakukan satu, dua, tiga, dan empat tahun yang akan datang?" dia mengalihkan pembicaraan dengan mudahnya.

"Bekerja. Itu saja. Aku akan menyelesaikan kuliahku, baru setelah itu aku berpikir untuk pekerjaan yang akan kuambil."

"Hei, apa itu artinya kau akan berhenti menjadi manajerku ketika kau lulus kuliah?"

Momoi terkekeh, "Tidak juga. Tapi siapa yang tahu tentang apa saja yang terjadi nanti, ya 'kan? Namun harapanku ... kita tetap seperti apa adanya kita yang saat ini."

"Aku juga."

"Karena aku sudah merasa bahwa aku berada di zona nyamanku," Momoi mengetuk-ngetuk pagar, dia tidak bisa menahan tawa sarkastisnya. Tawa untuk dirinya sendiri. "Aku awalnya sangat anti terhadap dunia artis. Ternyata, bekerja di dalamnya menyenangkan. Aku bisa mengatur banyak hal—bagiku, mengatur itu adalah kebanggaan dan hobi yang menantang tetapi mengasyikkan. Apalagi ketika hasilnya sesuai dengan perhitungan-perhitungan yang kulakukan. Memang, sibuk, tetapi waktuku tidak terbuang sia-sia."

"Ow, kedengarannya kau adalah wanita gila kerja."

"Tipe A. A adalah pekerja ulung yang terlalu taat aturan dan begitu patuh pada daftar pekerjaan mereka. Itu aku."

"Aku juga A—tapi kurasa aku tidak sampai sepertimu."

"Karena kau laki-laki, Ki-chan," Momoi memiringkan kepalanya, dan lengan Kise adalah sandaran yang dia temukan yang menyamankannya. "Pola berpikir laki-laki dan perempuan berbeda. Pola pikir perempuan lebih rumit jadi mereka bisa melakukan hal-hal detil dalam satu waktu sekaligus, seperti jadi manajer."

"Ah, teori-teori itu membuatku pusing."

"Karena kau adalah laki-laki yang ditakdirkan untuk bekerja dan berkarya, Ki-chan, bukan untuk berpikir rumit."

"Hm, aku jadi menyimpulkan sesuatu kalau begitu."

"Apa?"

"Kita memang ditakdirkan bersama."

"Ah, jangan berkata hal-hal murahan," Momoi melambaikan tangannya di udara, menolak argumen Kise. "Ki-chan, pulang yuk. Apalagi yang kita tunggu, hm? Aku mau tidur cepat malam ini."

"Ya, ya, baiklah," Kise berdiri tegak lagi. Akhirnya dia berjalan maju lantas membukakan pintu untuk Momoi. "Ayo Nona, silahkan masuk. Siap diantar ke tempat tujuan."

Ketika Momoi sudah duduk dan siap memasang sabuk pengaman, Kise membungkuk sebelum menutup pintu. Menciumnya lagi, seolah hari esok akan musnah dari agenda mereka.


Dua minggu setelahnya, Momoi mulai mendapat firasat buruk ketika ponselnya yang semalam tadi mati karena kehabisan baterai menampilkan puluhan email dan pemberitahuan telepon yang masuk dari orang-orang yang mengatasnamakan pers ketika dinyalakan.

Firasatnya berubah menjadi kenyataan ketika dia membaca seluruhnya, mereka semua adalah wartawan yang berkata bahwa mereka minta waktu untuk wawancara pada Kise, dan bahkan menyarankan untuk mengadakan konferensi pers secara langsung. Hal itu semakin membuatnya gelisah saat di perjalanan karena ketika dia membuka situs berita dunia hiburan langganannya setiap pagi, ada nama Kise terpampang di bagian teratas sebagai breaking news.

Dia memutuskan untuk segera sampai ke kantor agensi dulu untuk melihat jadwal kontrak-kontrak iklan dan modelling yang diperbarui—agar dia bisa menyusun jadwal baru untuk Kise—sebelum melihat beritanya. Dia tidak berani melihat lanjutan judul setelah tahu nama Kise-lah yang menjadi objek sebenarnya pemberitaan tersebut.

Momoi menyetir mobil dengan cepat, tidak peduli teguran dari pengguna jalan lain. Asalkan mobil Kise ini tidak rusak, pikirnya. Mobil yang telah dipercayakan padanya oleh Kise semenjak satu bulan lalu ini memang sudah separuhnya menjadi tanggung jawabnya.

Setibanya di kantor, Kise sudah menunggunya di pintu masuk samping, di dekat mereka biasa memarkirkan mobil itu. Wajahnya terlihat biasa, namun tetap saja tidak bisa menenagkan Momoi.

"Hai."

"H-hai ..."

"Mm, aku pakai mobilnya dulu, ya. Aku mau cari makanan."

"O-oh, silahkan," Momoi menyerahkan kuncinya. Baru dia sadari tangannya gemetar.

"Momocchi kenapa? Sakit? Lapar? Nanti kubawakan makanan yang banyak."

"Kau tidak tahu?"

"Tahu apa?"

Momoi menahan napas. Haruskah dia lega atau bagaimana? Kise sepertinya tidak tahu.

"Ya sudah. Bukan apa-apa. Sana, cari saja makanannya. Hati-hati. Jangan ngebut di jalan. Jangan berbicara dengan siapapun kecuali kasir restoran yang kaudatangi, oke?"

"... Kenapa?"

"Nanti kita bicara. Aku ke dalam dulu. Biar urusan kita cepat selesai hari ini," Momoi langsung melewati Kise yang bingung. Dia segera berlari memasuki pintu tetapi ketika dia akan memasuki lift, seorang staf menahannya.

"Momoi-san, di lobi depan ada banyak orang yang mencarimu. Mereka baru saja datang."

"Ada apa?"

"Soal skandalmu dengan Kise-kun. Atasan juga ingin berbicara denganmu dan Kise-kun setelah ini. Mana yang mau kau temui duluan, pers atau pihak perusahaan?"

Mungkin Momoi bisa menyebut jantungnya berhenti sekarang. Matilah dia!

"Skandal ... apa?"

"Nanti kaulihat saja," wajah staf itu tampak prihatin dan sedikit bersimpati. "Tapi kusarankan kau berbicara dengan atasan dulu, supaya kita bisa mengendalikan berita yang timbul di pers nanti. Ikut aku sekarang kalau kau setuju denganku."

Momoi tidak dapat berpikir dengan jernih. Baginya, bantuan dari seseorang adalah yang paling bisa dia andalkan sekarang. Jadi dia langsung mengikuti staf itu untuk memasuki lift. Dia gelisah sekaligus takut—karena dia yakin bahwa ini semua berhubungan dengannya.

Untunglah, wajah salah satu anggota bidang manajerisasi artis yang sudah pernah Momoi temui dahulu ini tidak semakin mengacaukan perasaannya. Dia terlihat tenang, meski Momoi sadar ada beberapa sifat dari orang ini yang tidak dia sukai.

"Jadi ... Momoi, apa yang bisa kaujelaskan tentang ini semua?"

Sebuah tablet disodorkan ke hadapan Momoi, dan di sana ditampilkan berita skandal Kise yang tadi dia hindari.

[Breaking News] Kise Ryouta Kedapatan Berciuman dengan Seorang Wanita, Siapakah Dia?

...

... Beberapa orang berspekulasi bahwa perempuan itu adalah manajernya sendiri. Terlihat dari model rambut dan perawakannya.

Mata Momoi seakan ingin melompat keluar dan jantungnya jatuh ke perut. Foto yang ditampilkan di sana ada lima, namun kebanyakan di antaranya mirip. Semuanya diambil dari kejauhan. Satu yang pertama di tepi jembatan, tubuh Kise disandari punggung seorang wanita, dua berikutnya adalah foto Kise yang berciuman, dan dua terakhir ialah foto Kise sedang membungkuk di depan pintu mobil penumpang yang tengah terbuka, tubuh seseorang lainnya tertutupi daun pintu.

"Ini ..." Momoi menegakkan diri, mencoba untuk berani. Oke, dia tidak boleh goyah kali ini, dia harus membuktikan bahwa dia bukan seseorang yang lemah. "Apa Anda benar-benar percaya bahwa itu saya?"

Ini semua demi Kise. Dan karirnya.

"Aku tidak bisa memastikan, tapi kurasa aku sedikit percaya dengan spekulasi orang-orang."

Salahmu sendiri menyambut cinta Kise, Satsuki.

Momoi mencoba untuk tidak gugup, "Tapi apa ada bukti pasti?"

Tapi kalau aku mencueki Kise dan membiarkan cintanya bertepuk sebelah tangan—aku akan menyiksa perasaanku sendiri—dan juga membahayakan Kise. Dia bisa berontak karena marah dan kesal, lalu mungkin tidak akan bersemangat dalam bekerja. Ah, sial, serba salah.

"Foto ini diambil dua minggu lalu. Tanggal sembilan. Tengah malam, kurang lebih pukul setengah dua belas, menurut beritanya. Ingatkah kau jadwal tanggal sembilan? Mana buku jadwalmu dengan Kise?"

Momoi mengeluarkannya dari tas dan menyerahkan itu. Laki-laki itu membacanya dengan seksama, cukup lama juga dia berpikir.

"Kise selesai pukul sebelas malam lewat. Dan ini mobilnya. Kalian mengendarai mobil bersama. Menurut foto ini, dan memperkirakan jam tempuh antara lokasi pemotretan, rumahmu, dan jembatan ini yang jauh dari kota—dengan selesainya jam pemotretan Kise dan waktu diambilnya foto ... tidak mungkin dia mengantarmu pulang dulu, menjemput perempuan ini, lalu menuju sini. Apa kau melihat dia membawa perempuan lain di dalam mobil dari lokasi pemotretan ke tempat ini?"

Momoi menggeleng pelan.

"Oh, berarti dia juga tidak mungkin menjemput perempuan lain. Dengan kata lain, di mobil ini hanya ada kau dan dia."

Orang ini cerdas. Momoi sadar bahwa percuma mengelabuinya. Menyerah lebih baik.

Tapi, menyerah dengan pintar juga.

"Ya, itu memang saya. Tapi kami tidak pacaran. Saya bisa menjamin itu. Silahkan tanyakan pada Kise juga. Keakraban antar dua partner kerja wajar, 'kan? Dan Kise adalah tipe yang berbeda dari laki-laki lain. Saya rasa Anda mengerti maksud saya."

"Oh, begitu. Baiklah, aku mengerti. Harus aku atau kau yang menghadapi wartawan?"

Momoi agak kaget. Semudah inikah?

"Hanya itu yang Anda ingin tahu?"

"Iya," dia menjawab, tenang sekali. "Perusahaan hanya ingin status 'ya' atau 'tidak' untuk menjernihkan opini publik. Sisanya, itu spekulasi fans. Kami sudah berlepas tangan soal itu."

Selalu ada kemudahan di balik kesusahan, rupanya. Dan Momoi akhirnya bisa duduk tenang lagi, tidak tegang seperti sebelumnya.

"Saya akan menghadapi para wartawan."


Meski Momoi sudah merencanakan segala skenario sebagai jawaban, tetap saja dia gugup menghadapi para wartawan di lobi. Dia menjawab seperti apa yang dia lakukan di lantai atas tadi—dan benar saja, mereka semua percaya bahwa gadis itu adalah dirinya. Namun dia memberi sedikit perubahan agar opini publik terhadap imej Kise tidak berubah.

"... Kise-kun adalah seseorang yang senang mengekspresikan rasa terima kasihnya pada orang-orang terdekatnya, sesekali dengan kontak fisik. Karena sebelumnya orang-orang yang dekat dengannya adalah laki-laki, maka tidak pernah ada kasus ini sebelumnya. Tetapi, sekarang, karena manajernya adalah perempuan, barulah dia kedapatan melakukan ini."

Momoi menahan napas sambil berdoa supaya para kuli tinta ini puas. Momoi terpaksa mengakhiri wawancara dadakan sambil berdiri ini dengan alasan tertentu agar dia tidak semakin dipojokkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang makin tidak relevan.

Dia tidak bisa berpikir tentang hal apapun lagi yang bisa saja ditimbulkan oleh tindakan spontannya ini. Tidak, dia tidak bisa menduganya karena pikirannya begitu kacau. Ada kabut besar yang mengacaukan pola pikirnya—

—dan kabut itu turun ke matanya. Begitu dia memasuki lorong lain menuju tempat yang harus ditujunya, matanya semakin panas. Basah.

"Momocchi!"

Sial. Kenapa Kise bisa melihatnya di saat-saat seperti ini? Momoi mencoba untuk tidak menoleh—namun akhirnya dia melakukannya juga, walau akhirnya dia segera memalingkan muka lagi.

"Hei, Momocchi, tunggu—ada apa tadi ramai-ra—"

Momoi membelok dari tujuan yang seharusnya. Dia memasuki lift, hanya untuk kabur dari Kise. Dia ingin menenangkan diri sebentar di atas sana, di balkon teratas kalau perlu, sebelum menceritakan semuanya pada Kise.

tbc.