De Bloemetje

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.
Pairing: Kise Ryouta/Momoi Satsuki. Genre: Romance. Rating: K+.

(Kise sedang dalam perjalanan untuk berlibur, dan dia duduk di samping seorang perempuan cuek. Tetapi liburan itu ternyata tidak seperti yang diharapkan.)


Kise memandang isi gelasnya yang masih menyisakan setengah porsi air putih seolah sedang mencari mikrobakteria di dalamnya. Seolah sedang meneropong dunia lewat teropong prisma. Seolah bertanya pada air dengan permukaan miring itu. Lalu dia melemparkan isi gelasnya ke bak wastafel lalu mengabaikan gelasnya. Dia menggeleng. Tersenyum kecil.

Dia tidak ingin membagi paruh kesalahan ini pada Momoi. Ya, dia tahu ini sepenuhnya adalah tanggungannya. Momoi sudah mencoba menghindar waktu itu dan dialah yang bersikeras seolah tidak ada orang di sana.

Salah satu staf menjelaskan ini lima belas menit lalu, lengkap dengan penceritaan ulang tentang konfirmasi Momoi pada media, namun kata-kata itu terdengar seperti masih digaungkan di telinganya.

Sekarang masalahnya berlipat dua. Dia tidak tahu apakah Momoi malu, kesal, marah, atau malah campuran dari ketiganya sehingga gadis itu menghindar darinya tadi. Kise pun memastikan keberadaan kunci mobilnya di saku belakang celana untuk kemudian meninggalkan ruangan di bagian belakang kantor itu untuk mencari Momoi. Dia merasa cukup beruntung dengan pilihannya untuk menggunakan mobil tuanya hari ini, dan tidak menggunakan kendaraan umum.

Dia cuma bisa bertaruh soal tujuan, dan semoga saja dia tidak salah pada langkah pertama.

Kise menyetir dengan pelan dengan kepala yang menoleh ke kiri dan kanan dengan cepat di sepanjang jalan. Tidak susah mencari Momoi karena dia membawa serta mobil Kise. Mengenali mobilnya sendiri di tengah kota yang ramai bukanlah hal sulit untuk Kise, sama saja mudahnya dengan berpose di depan kamera dan tertawa di hadapan fotografer.

Tidak ada. Di sepanjang jalan tidak ada. Merasa bahwa harapannya menipis, dia pun mempercepat mobilnya dan tanpa ragu melaju di jalan raya. Dia jarang memakai mobil yang biasanya dititipkan pada orang tuanya ini, tidak ada yang bisa mengenalinya dengan mudah. Momoi sekalipun.

Pemuda itu cuma punya satu tujuan: rumah Momoi.

Setiba di sana, Kise harus menekan bel berkali-kali tanpa ada jawaban. Dia sempat berniat untuk memanjat pagar tapi dia tahu itu hanya akan menciptakan kasus lain yang lebih konyol dan bodoh. Kerusakan suasana yang lebih parah akan terjadi dan dia yakin hal itu tidak akan terlihat baik di mata Momoi. Kise pun beralih ke sisi samping rumah dan menuju jendela yang sangat dia kenal.

"Momocchi!"

Tidak ada jawaban, tapi Kise yakin ada orang di sana karena jendelanya terbuka dan tirainya tersingkap rapi.

"Momocchi!"

Masih belum ada jawaban.

Mengesampingkan rasa khawatirnya dan mencoba untuk bercanda agar suasana tak seburuk yang dia takutkan, Kise pun memungut kerikil kecil dari dekat kakinya dan mengarahkannya ke jendela itu. Lalu melemparnya sambil menahan kekuatan, agar dia tidak membuat kekacauan.

Bunyi benturannya terdengar agak samar.

Lalu yang Kise harapkan datang. Momoi muncul dari ujung jendela lalu mengintip dengan mata memicing dan ekspresi agak kurang sabar, tetapi dia tidak berkata-kata semarah yang Kise kira.

"Tolong jangan membuat lebih banyak kekacauan."

Mata Kise membelalak mendengarnya. Sesalah itu, ternyata, dia di mata Momoi. Dia meringis dengan suara rendah dan rasa ingin bercandanya luntur seluruhnya, "... Maaf."

Momoi menutup mata lalu mengelus keningnya.

"Apa aku boleh masuk?" Kise setengah berteriak dan menangkupkan kedua tangannya di sekitar bibir.

Momoi mengangguk lemah, lalu menghilang dari jendela. Kise beranjak dari tempatnya dengan berlari. Momoi lalu mempersilahkannya masuk dan dengan buru-buru dan pintu pun dia tutup dengan cara menghempaskannya. Kise melepas jaketnya dan menyampirkannya ke punggung sofa yang akhirnya didudukinya.

"Aku sudah tahu berita itu."

Momoi melepaskan ikatan rambutnya dan helai-helai tipis merah jambu itu dibiarkannya jatuh luruh ala kadarnya di salah satu sisi bahunya. Dia menumpukan dahinya di atas tangan yang bertopang pada kedua lututnya. "Lalu apakah kausudah memikirkan tentang cara menghadapinya?"

Kise mengangkat alisnya. "Datang ke wartawan. Akui. Selesai."

"Kaukira itu semua mudah, Ki-chan?" Momoi mengangkat kepalanya dan mulai beradu pandangan dengan Kise. Jari-jarinya kemudian terjalin satu sama lain dengan erat, dia menahan emosinya sendiri di sana. "Manajemenmu bagaimana? Fansmu? Aku—kita—sudah mengacaukan semuanya!"

"Mereka bisa menerima. Soal fans juga—mereka pasti bisa mengerti. Kalau dipikir-pikir lebih jauh, apa yang harus ditakutkan? Aku melakukan hal yang lumrah dilakukan remaja. Oh, bahkan ada banyak yang lebih muda dari kita melakukannya di tepi jalan, atau di tengah keramaian."

"Tapi mereka bukan artis," Momoi nyaris membentak, namun pertahanan dirinya masih bagus, dan itu terlihat dari jalinan jemarinya yang semakin kuat. "Mereka cuma bocah biasa!"

"Artis yang terjebak skandal bukan cuma aku, Momocchi," Kise berusaha tenang, dia berdecak kemudian. "Dunia hiburan sudah berjalan dalam waktu lama dan sudah banyak hal yang terjadi di dalamnya, salah satunya adalah ini. Aku berani bertaruh aku bukanlah yang pertama."

"Jangan menggampangkan ini, Ki-chan."

Kise mengacak poninya, "Setidaknya aku melakukan sesuatu yang masih bisa diterima segolongan orang. Aku tidak melakukan hal buruk. Ini bukan skandal foto atau video tanpa busana di kamar yang kita lakukan berdua—"

Sebuah bantal melayang ke wajah Kise dan yang berikutnya ditemukan Kise ketika membuka mata dan menyingkirkan bantal itu dari wajahnya adalah amarah Momoi yang tercetak jelas pada raut wajahnya. "Jangan kira aku mau menjual tubuhku untuk kameramu untuk hal itu," gadis itu kemudian berdiri dan berbalik, berjalan sebentar hanya untuk kembali berhenti dan tangannya bergerak-gerak gelisah.

"Ini hanya perumpamaan," Kise pun berdiri. "Jangan seperti anak kecil, Momocchi."

Momoi pun menghadap Kise lagi. Dia mengembuskan napas panjang, kedua tangannya terkepal erat di kedua sisi tubuh. "Kurasa kita sudah membicarakan hal di luar jalur. Mari kita luruskan."

"Karena itulah aku datang ke sini."

Gadis itu memilih sofa yang berseberangan dengan Kise. Dan tampaknya begitu sulit baginya untuk memandang mata Kise secara langsung. Dia mendadak merasakan bibirnya pahit, pahit karena ciuman-ciuman yang terjadi berturut-turut sejak malam itu dan dua minggu belakangan. Begitu mudah semuanya berubah rasa hanya karena beberapa alinea berita.

"Apa yang harus kita lakukan?" Momoi mengulanginya. Lebih kepada keinginan untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia tidak sendirian dalam menghadapi ini, dan Kise adalah orang tempat dia menggantungkan diri. Walau dia tak bisa berharap sepenuhnya—ada gejolak rasa tak kasatmata yang membuatnya ingin mendesis kesal setiap kali melihat wajah Kise yang memberi kesan bahwa ia menganggap semua ini bukan masalah besar.

"Akui saja. Biarkan," pemuda itu tak sabar.

"Karirmu? Kontrakmu? Aku yakin akan ada kontrak yang batal dan beberapa orang akan memikirkan tawaran mereka kepadamu setelah terungkap pada publik bahwa kau tidak sepolos yang mereka kira dan kau sudah membuat skandal dengan manajermu sendiri!"

Kise berdecak dan punggungnya mencelus di sandaran sofa, lalu dia bangkit duduk tegak lagi. Belum bisa menenangkan diri sepenuhnya. "Kau mengkhawatirkan karirku? Momocchi, itu bukanlah hal yang harus kau pikirkan! Akan ada orang yang tetap maklum dan menerima ini semua. Dan mungkin akan ada tawaran yang lebih hebat lagi setelah berita ini datang. Kautahu, di dunia hiburan, siapapun yang terkena skandal akan dicari media, dan media akan mengontrak mereka sebagai ambassador atau sejenisnya adalah sama saja dengan mengundang perhatian banyak orang. Positif atau negatif. Itu sudah biasa."

"Tapi kau tidak tahu tanggapan—"

"Berhentilah menduga-duga!" suara Kise meninggi, menyaingi kekesalan Momoi yang nyaris membuat suara gadis itu melengking.

"Aku hanya mengkhawatirkan karirmu!" napas Momoi tak beraturan setelah dia menumpahkan kekesalannya yang kesekian, "Dan aku memikirkan ini karena separuhnya adalah salahku. Salahku kenapa aku tidak mencegahmu."

"Jangan membesar-besarkan hal yang bisa kita tangani berdua. Dan, ya, ini separuhnya ini memang salahku, aku tahu, maka dari itu aku ingin agar kita menyelesaikannya bersama."

"Ya," Momoi mengelus keningnya sambil menunduk, "Memang. Ini salahmu yang tidak bisa mengendalikan diri. Kau membahayakan karirmu sendiri," ucapnya dengan agak gemetar.

"Ha?" kelopak mata Kise merendah. "Kedengarannya kau begitu menyalahkanku," Kise mengepalkan kedua tangannya erat-erat di pangkuan, "Apa yang salah dari keinginan bahwa aku ingin mengungkapkan perhatian dan rasa sayangku padamu?"

"Tidak ada," Momoi menggeleng cepat dan matanya yang seakan berapi memandang Kise dengan sedikit keinginan untuk merendahkan, "Memang tidak ada yang salah. Kecuali kau melakukannya di tempat umum dengan menuruti hawa nafsumu sendiri!" dia bahkan mengacungkan telunjuknya ke arah Kise.

Mata Kise membeliak sesaat, namun akhirnya melembut. Dan dia berdiri. Kise mengangkat kedua tangannya ke udara, "Oke. Bagus kalau terlihat seperti itu di matamu. Memangnya siapa yang sudah membalas ciuman itu?"

"Tidak ada kucing yang menolak ketika diberikan ikan kesukaannya, Kise Ryouta."

Panggilan yang empasis yang meremehkan itu membuat Kise memasukkan kedua tangannya ke saku dan kemudian berbalik menuju pintu, "Baiklah. Terserah kau. Aku pulang."

Rahang Momoi menggantung bahkan ketika bunyi pintu yang ditutup kembali dengan keras itu menghilang.

Dan, airmatanya meleleh. Dia sesungguhnya masih bisa lari dan kembali membuka pintu dan meluruskan semuanya tapi Momoi tahu bahwa keadaan belum mengizinkan mereka untuk bicara lebih lanjut, atau akan ada kegilaan lain dari adu mulut dua manusia keras kepala ini.

Mereka harus mendinginkan kepala, Momoi menyadarinya. Sayang sekali airmata pun belum bisa mendinginkan dirinya bahkan hingga detik ini, di tetesan kesekian.

Lalu Kise di luar meninjukan kepalan tangannya pada tiang, menghujamkannya beberapa kali seolah tiang itu adalah dirinya—dirinya yang pengecut karena hanya bisa lari sebelum masalah selesai. Akan tetapi, dia merasa belum bisa kembali sekarang. Belum. Belum saatnya.

Entah kapan. Mungkin nanti, ketika dia sudah memaafkan kebodohannya sendiri.


Momoi bercermin di kamar pada malam harinya dan dia melihat seorang bocah kecil di cerminnya, dengan rambut merah muda, tatapan khawatir, dan sorot mata yang menyorotkan pola pikir yang terlalu kuno dan memikirkan terlalu banyak hal.

Masih ada kunci mobil Kise di meja riasnya, maka seketika dia ingin meremukkan kunci itu kalau dia diperbolehkan untuk mengekspresikan kesal dan sesalnya.

Kesalnya untuk dirinya, sesalnya untuk Kise.

Dan di seberang sana, melewati puluhan jalur dan ratusan pasang kaki yang melintas membelah waktu, Kise sedang memandangi beberapa potret dirinya sebagia sampul majalah yang dibingkainya dan dipajangnya di dinding kamar, kemudian tertawa miris. Dunia hanya tahu dia yang sedang memasang topeng, sementara sisi lainnya tampil di sini, seseorang yang hanya bisa lari tanpa bisa menyelesaikan masalah dengan seorang wanita yang sedang panik.

Dan dia meninggalkan tugasnya sebagai orang yang seharusnya melindungi wanita itu. Guna dirinya tak terlihat, yang terlihat hanya ketidakmampuannya untuk mengontrol emosi—sesuatu yang membuatnya ingin melemparkan salah satu potret itu ke lantai.

Dan menunjukkan pecahannya untuk Momoi, bahwa satu-satunya hal yang dia mampu hanyalah menghancurkan dirinya sendiri.


Momoi sadar bahwa ini bukan lagi waktunya untuk mengurung diri di kamar, menunggu sampai seseorang memperhatikannya, menepuk punggungnya, menenangkannya, memberinya saran, lalu mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Tidak, dia sudah tidak pada usia untuk melakukan semua hal tak mandiri itu lagi. Dia bukan lagi berjalan pada jalur plot klise anak remaja yang lupa fakta bahwa kedewasaan itu butuh kemandirian dan kemampuan untuk berdiri sendiri setelah jatuh.

Maka dari itulah, pagi ini, belum genap dua puluh empat jam dari waktu krusial antara dia dan Kise, dia pun berangkat ke kantor agensi lagi. Mengecek jadwal yang tak sempat dia lakukan kemarin.

Di jalan pun, dia merasakan perubahan perhatian. Beberapa orang yang mengenali mobil Kise, memotretnya. Momoi menaikkan kecepatan. Dia merasa sedikit beruntung bahwa kaca penutupnya gelap.

Dia masuk ke kantor dengan terburu-buru. Dan ketika menuju meja resepsionis untuk menanyakan keberadaan atasan yang memegang jadwal resmi dan kontrak Kise pun, dia merasakan tatapan-tatapan aneh yang tertuju pada dirinya.

Momoi hanya menoleh sebentar pada mereka.

Oh, sekian dari mereka bahkan berbisik-bisik. Momoi hanya mengembuskan napas sambil mengetukkan tangannya tak sabar di meja, karena si resepsionis sedang menghubungi atasan yang bersangkutan.

Bohong jika dia tidak berharap bahwa ada orang yang akan datang dari belakang dan merangkul punggungnya, seolah melindunginya. Melindunginya secara fisik lewat rangkulan dan melindunginya secara psikis lewat senyuman yang menenangkan. Kise pasti bisa melakukannya. Pasti.

Tetapi dengan cepat Momoi menggelengkan kepalanya. Hidupnya bukanlah alur klise yang bisa diatur dengan imajinasi.

"Beliau ada di ruangan dan bisa ditemui sekarang, Momoi-san."

Momoi disadarkan oleh kalimat itu. Dia mencoba tersenyum lalu berterima kasih. Dan dengan cepat dia meninggalkan tempat itu.

Masih ada beberapa pasang mata yang memandangnya aneh dan meninggalkan kesan bahwa dia begitu kotor.

Ah—kotor. Momoi dengan berat hati mencoba mengakuinya. Ya, kotor. Mungkin di mata orang-orang, dia yang kotor adalah sebuah asas yang berterima. Dia manajer baru, yang mendekati artis kesayangan mereka—dan mereka kagumi diam-diam—lalu mengambilnya seenak hati. Merebut dan mengendalikan Kise Ryouta sesukanya. Lalu mulai mengontrol keuangan Kise suatu saat nanti untuk kemudian dimanfaatkan untuk kesenangan diri.

Kepala Momoi berdenyut ketika memikirkannya. Lift yang sepi makin membuatnya sesak. Dia menghentakkan kakinya tak sabar ke lantai, sepatu ketsnya berbunyi berisik di atas karpet biru lift. Perjalanan tujuh lantai terasa lama untuknya.

"Oh, hai. Selamat pagi," sapaan yang santai ketika dia mendorong pintu membuat Momoi berharap banyak. Berharap bahwa dia tidak akan disinggung. Dia pun masuk dengan mantap.

"Selamat pagi."

"Ini jadwal yang kauminta," lelaki itu tampak sibuk mencoretkan sesuatu di atas tablet-nya, tangannya yang lain menyodorkan sebuah map untuk Momoi.

"Mm, terima kasih," Momoi berbicara sebisa mungkin dengan profesional, lalu membuka mapnya. "Boleh saya bawa atau dikopi dulu."

"Bawa saja. Aku punya yang asli."

"Baik," Momoi mengerti suasana, bahwa atasannya sedang tidak ingin dibantu. "Terima kasih. Selamat pagi."

Dia mencermati jadwal yang telah diperbarui itu. Ada jadwal yang sudah harus dijalankan besok.

Pertemuan dengan pihak pengontrak untuk membahas hal-hal final tentang pemotretan Kise sebagai ikon baru untuk sebuah toko.

Bagus.

Ini artinya, dia harus datang bersama Kise. Memang, cepat atau lambat, mereka harus berurusan bersama lagi. Tidak ada gunanya berlari.

Momoi mencari tempat duduk yang tidak di tengah-tengah lobi. Ada sepasang kursi kayu yang diletakkan di dekat pintu samping, lengkap dengan mejanya dan Momoi tanpa ragu menjatuhkan pilihan pada tempat itu. Dia menghidupkan ponselnya—dan bersyukur tak ada antrean pesan dan pemberitahuan panggilan seperti waktu itu lagi—lalu segera menghubungi Kise.

Tidak perlu menunggu; jawaban yang ia dapatkan segera datang. Pernyataan operator bahwa ponsel Kise sedang nonaktif.

Momoi menekan tombol tutup, mempertimbangkan apakah sebaiknya dia segera datang ke rumah Kise saja.

Oh, tidak. Jangan dulu. Betapa inginnya dia untuk memperbaiki kehancuran yang terjadi semalam, masih tersisa sedikit rasa gengsi di dalam dirinya.

Dia menggigit bibirnya, dan hanya bisa menunggu.

Menunggu apa, dia kurang mampu menjelaskannya. Mungkin menunggu keberuntungan bahwa kelak sepuluh menit lagi ketika dia mencoba menghubungi Kise kembali, pemuda itu telah menyalakan ponselnya.

"Hei."

Momoi mendongak. "Oh, hai, Matsuri-san," dia menyapa salah satu staf yang cukup dikenalnya dengan baik itu.

Staf tersebut, yang berpakaian amat rapi dengan rok yang sedikit di atas lutut dan ID Card yang bertali hijau, lantas duduk di kursi di depan Momoi.

"Apa kabar?"

Momoi menggaruk pelipisnya. "Yah ... seperti yang kaulihat."

Matsuri tersenyum tipis, "Aku mengerti."

Momoi mulai merasakan perutnya sakit. Mulas sampai-sampai dia ingin melarikan diri dari siapapun penghuni kantor ini yang menghampirinya.

"Jadi ... memang benar?"

Momoi meringis, tetapi dia tidak punya tempat untuk mundur. "Yah ... tidak semua yang orang lihat itu benar, tapi memang ada hal-hal yang tidak bisa kami tutupi."

"Kalian pacaran ... sejak kapan?"

"Um ..." Momoi menghindari tatapan orang itu. Meski wajahnya ramah, Momoi tetap tidak bisa melakukannya. Dia masih terlalu takut untuk mengakui dengan baik bahwa memang terjadi sesuatu antara dia dan Kise. "Kami tidak sungguh-sungguh berhubungan dengan status begitu ... tetapi, yah. Kami punya rasa untuk satu sama lain."

Matsuri mengangguk, masih tetap tersenyum. "Itu wajar. Kise memang punya pesona yang tidak bisa ditolak oleh kebanyakan wanita. Ini bukan soal wajah—aku melihat sesuatu yang lebih jauh—dia punya sifat tertentu yang tampak jelas ketika dia menyayangi seseorang dan tertarik. Dia tidak akan segan menolong, dia tidak akan malu-malu menunjukkan perhatian dan membagi waktu padatnya untuk orang itu. Dan yang terpenting: dia rela memberikan tempat untuk orang itu dalam hidupnya. Kautahu? Kise adalah orang yang agak tertutup dan menjaga jarak terhadap orang-orang yang mendekat. Dia memberi batas tertentu. Kecuali orang itu dia rasa spesial."

Momoi tercengang sesaat. Di detik-detik awal, dia merasa cukup bangga karena dia merasa seperti menjadi objek dari apa yang Matsuri maksudkan. Akan tetapi, yang berikutnya, dia merasa lain sehingga meluncurlah pertanyaan,

"Kenapa kautahu semua itu?"

Matsuri menjawab dengan tenang, "Aku sepupunya. Aku juga teman kecilnya. Tetapi dia masih memberi batas di antara kami meski kami sudah saling mengenal sejak umur tiga tahun dan ibu kami bersaudara. Tapi aku melihat betapa mudahnya dia mengambil seseorang yang asing dan baru ditemuinya sekali untuk menjadi asisten pribadinya. Dia pasti sudah tertarik padamu sejak pandangan pertama."

Mulut Momoi terbuka sedikit dan dia mematung sambil menonton kembali rekaman dirinya di bus yang celaka waktu itu di depan matanya.

Matsuri lantas meletakkan tangannya di atas tangan Momo, dan sedikit mendekat agar suaranya tak terdengar orang banyak, "Aku mendukung kalian," dia tersenyum lagi—kali ini lebih manis dan lebar, "Apapun kata orang-orang, aku yakin Kise melakukan itu karena dia menyayangimu."

Matsuri pergi tak lama setelahnya, dan karena pembicaraan sederhana tadilah, Momoi memilih opsi untuk meninggalkan pesan pada mailbox Kise ketika dia menelepon ulang pemuda tersebut.

"Ki-chan, aku minta maaf atas yang terjadi kemarin. Kurasa kita bisa membicarakannya dengan lebih tenang lain kali. Aku mengalah, aku minta maaf. Kuharap kau segera meneleponku, besok kita punya jadwal yang harus dilakukan."

Momoi pun pergi ke restoran terdekat. Dia tidak akan ingat bahwa dia belum sarapan jika perutnya tidak bicara dengan berisiknya. Siang ini dia juga punya satu kelas untuk dihadiri, setidaknya dia bisa melupakan semua ini sejenak.


Momoi menghubungi Matsuri sesaat setelah kelasnya bubar, apakah Kise ada di kantor atau sempat datang.

"Tidak, Momoi-san. Dia tidak datang pagi ini. Perlu kubantu menghubunginya, kah?"

"Oh, tidak, tidak. Aku sudah menghubunginya tadi, dan HP-nya masih tidak aktif. Mungkin ... aku akan ke rumahnya saja. Terima kasih."

Momoi meletakkan tangan di wajahnya, dan sepertinya dia harus punya muka serta membangun keberanian sendiri untuk menghadapi Kise. Tidak akan selesai masalah sementara mereka masih punya banyak pekerjaan bersama jika mereka masih sama-sama egois.

Dia pun menuju halte bus, untuk kembali ke rumahnya untuk membawa mobil Kise. Menaiki mobil itu ke kampus sama saja dengan bunuh diri dan menarik perhatian satu kampus. Mobil Kise itu begitu khas dan pernah dipublikasikan dalam sebuah wawancara singkat di majalah sehingga semua fans hafal bahkan hingga ke tahun pembeliannya. Semua orang akan tahu, padahal pekerjaannya sebagai manajer Kise adalah hal yang selalu dia sembunyikan.

Belum lagi jika memperhitungkan skandal ini.

Namun, pada akhirnya, dia yakin pasti akan ada hal yang berbeda setelah ini, di antara mereka.

Dan dialah yang memulai perubahan itu.

Hanya karena Momoi tidak mau hal serupa terjadi lagi dan berdampak buruk pada Kise sendiri.


Bunyi bel akhirnya berubah menjadi deretan melodi tanpa jarak. Momoi menekan-nekannya dengan kesal, tak ada jawaban dari Kise meski sudah hampir lima menit dia berdiri di depan pintu.

Dan pada akhirnya, dia menggendor pintu itu sekaligus menendangnya, "Ki-chan!"

Dua kali. Tiga kali. Barulah kunci terdengar diputar.

Salah satu mata Kise masih setengah terbuka dan rambutnya berantakan. Dia masih memakai kaos yang terlihat lusuh—untuk kategori Kise sendiri—dan celana basket.

"Hng?"

Momoi terdiam sejenak.

"Ki-chan ... kau bau alkohol."

"Ah—" Kise menggaruk kepalanya sambil melebarkan daun pintu untuk mempersilahkan Momoi masuk. "Yah ... sedikit. Tadi malam."

Momoi mulai takut akan fakta bahwa dialah penyebab kegilaan berikutnya ini. Dia menerobos masuk dan menuju dapur.

Ada satu botol anggur putih di sana. Momoi meraihnya dengan cepat dan melemparkannya ke tempat sampah. Berbenturan dengan sesuatu di sana dan bunyinya keras. Kise memandangnya terperangah dan akhirnya matanya bisa terbuka lebar. Momoi berbalik dan lagi-lagi Kise menerima pandangan yang serupa dengan yang kemarin.

"Seharusnya kau bisa menemukan penyelesaian yang lebih baik daripada melakukan hal seperti remaja labil begini!"

Kise mengacak rambutnya. "Hei, Momoi Satsuki, kurasa kita sudah punya waktu semalaman untuk introspeksi diri."

"Semalaman?" Momoi tertawa sarkastis, lebih kepada menertawakan kenyataan bahwa Kise pun akhirnya bisa kasar padanya dengan penyebutan nama yang terkesan menyudutkan itu, "Dan kau menghabiskan semalaman ini dengan alkohol!"

"Tsk," Kise berbalik dan membenturkan tinjunya ke dinding, kemudian menghadap Momoi. Bohong jika dia tidak mengakhiri semua ini. "Oke, kuakui. Aku memang kekanakan. Aku minum untuk menghilangkan pikiran burukku. Tapi, kau harus percaya bahwa aku cuma pernah tiga kali minum alkohol sebelumnya, itu pun dengan dipaksa oleh atasanku."

Momoi mengepalkan kedua tangannya erat-erat, menarik napas, lalu menenangkan diri dengan memejamkan mata, "Aku juga salah. Salah sekali karena aku membentakmu kemarin," lalu dengan suara yang setara bisikan dia pun berujar, "Maaf."

Terjadi keheningan beberapa saat, kemudian Momoi mengeluarkan map dari dalam tasnya lalu mendekati Kise dan menepukkan map itu ke dada Kise, "Ini jadwal yang paling baru. Besok kita ada pertemuan dengan floris yang akan mengontrakmu sebagai ikon mereka. Kalau jadwalnya cocok, sesegera mungkin mereka akan mengadakan pemotretan."

Momoi tidak sempat melangkah terlalu jauh, Kise menangkap kedua lengannya dan membuat mereka menghadap satu sama lain, "Kau mau memaafkanku?" matanya memandang lurus pada Momoi.

Momoi menahan napas, ia benci bau alkohol, dia mengangguk pelan, "Selama kaumau memaafkanku."

Kise juga mengiyakan dengan anggukan, "Tentu," dan dia memejamkan mata sambil merapatkan wajah pada Momoi.

Namun Momoi mencegahnya dengan meletakkan telunjuk pada bibir Kise.

"Selamat siang, Ki-chan. Sampai jumpa besok," dia tersenyum kecil, kemudian pergi begitu saja. Dan sebelum meninggalkan pintu dia sempat berujar, "Kaubisa mengambil lagi mobilmu. Aku akan pulang naik bus. Besok aku akan datang menjemputmu ke sini."

Kise menatap kepergian Momoi tanpa berkedip. Mungkin dia masih bermimpi, dia mendapatkan kata maaf dari Momoi tanpa kesulitan yang berarti ketika dia mau mengalah. Tapi mungkin dia juga masih bermimpi, bahwa Momoi menolak ciumannya.


Perjalanan itu terasa benar-benar aneh untuk Kise. Dia dan Momoi ditempatkan di bangku tengah berdua, namun sepanjang perjalanan menuju lokasi pemotretan ini tidak terasa nyaman sama sekali. Momoi sepertinya sengaja hanya bersandar pada sisi samping mobil dan tidur dengan kaca samping sebagai bantalnya. Jarak mereka memang tidak lebih dari lima puluh sentimeter secara eksak, tetapi seolah ada ruang besar berisi tembok tebal yang menghalangi keduanya.

Kise menuju ke kebun bunga kuning itu duluan sementara Momoi berbicara dengan beberapa staf. Kise memilih untuk tidak ingin tahu.

Padang bunga itu memang tidak seluas yang Kise pikirkan, tetapi isinya lebih beragam dari yang dia kira. Sejauh mata memandang, memang masih terlihat bangunan-bangunan berupa rumah sederhana di sekitarnya, tetapi kebun itu berpetak-petak dengan ukuran yang nyaris sama dan masing-masing lajurnya berisi bunga dengan warna yang berbeda satu sama lain.

Pemilik toko bunga yang rupanya sudah sering dikontrak beberapa wedding organizer untuk melengkapi acara dengan bunga-bunga segar itu memutuskan untuk memakai Kise sebagai ikonnya untuk enam bulan ke depan. Pemotretan ini pun diadakan di kebun miliknya sendiri.

Kise dengan rambut pirang dan kemeja kelabunya terlihat pas berada di sana. Matanya dan mata Momoi bersirobok sesaat, tapi Momoi buru-buru memutusnya.

"Apa bisa kita lakukan sekarang, Kise-san?" seseorang yang memegang kamera mendekati Kise.

Kise mengangguk dan tersenyum, "Ya, tentu saja!" bersamaan dengan itu, seorang pegawai toko memberikannya setangkai bunga matahari. Cocok sekali dengan bunga krisan kuning yang bergoyang diajak angin menari di sekitar lututnya.

Sesi pertama itu hanya berlangsung sekitar lima belas menit, tetapi hawa panas membuat Kise menepi ke bawah pohon dan melepaskan topi fedoranya, mengipasi dirinya dengan itu.

Dan mulai melirik pada Momoi.

Tetapi gadis itu tak mau peduli. Dia lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan hal entah-apa-itu yang dijelajahnya melalui tablet di tangan kirinya.

"Momocchi."

"Hnn?" Momoi tidak menoleh barang sesaat pun. "Oh, iya, Ki-chan pasti perlu minum. Sebentar, kuambilkan."

Kise membiarkan Momoi pergi walau ada bagian dari dirinya yang melarang itu. Tetapi alih-alih Momoi yang kembali untuk memberikan minum, yang datang hanya seorang pegawai dan memberikan sebotol minuman dingin dengan botol penuh embun untuk Kise.

Sesi kedua dilewati Kise dengan topeng yang teramat sempurna, yang melindungi hitam di balik putih. Dia bersyukur si fotografer tidak membutuhkan banyak foto untuk padang bunga ungu dan Kise hanya diminta tiga kali berganti pose.

Dan Kise memutuskan untuk tidak menunggu serta menunda lebih lama lagi.

Momoi dapat dengan mudah ditemukan di antara para staf pemotretan, pemilik toko, dan pegawai-pegawainya yang ikut, yang sedang duduk-duduk di dekat sebuah rumah tak berpenghuni.

"Momocchi, bisa ikut aku sebentar?"

Momoi hanya mendongak sesaat, mulutnya terbuka sebentar seolah ingin menyanggah Kise, namun akhirnya dia kembali pada lawan bicaranya, "Maaf, kutinggal sebentar, ya."

Kise bisa merasakan tatapan-tatapan yang membuatnya risih dari orang-orang yang ada di sana. Walau itu bukan tatapan yang menjahati, tetapi dia tetap merasa bahwa dia bersalah. Dia memanggil Momoi di tengah-tengah keramaian begini dan ingatan bahwa mereka sedang berada di tengah-tengah skandal yang masih hangat pasti membuat semua orang makin yakin akan hubungan mereka.

Dan itu bisa jadi menimbulkan citra buruk lain padda Momoi.

Ketika Momoi mendekat padanya, Kise mendadak ragu. Dia menggaruk kepala bagian belakangnya lalu terkekeh kecil.

"Oh, maaf. Kurasa ... tidak perlu. Kaubisa kembali."

Momoi hanya mengangkat alis. Kemudian bahunya yang bergerak ke atas. Lantas, dia kembali seolah tak pernah ada apa-apa dan tidak ada secuil pun rasa penasaran tersangkut di dirinya. Kise sempat berharap Momoi yang biasanya berkemauan keras itu mencegahnya melakukan hal tersebut, tetapi nyatanya hal itu tidak terwujud. Sesuatu memang terjadi di antara mereka.

Kise lanjut memakai topengnya untuk beberapa sesi pemotretan selanjutnya.

Tetapi kemudian, Kise tidak tahan dengan topengnya sendiri lalu berlari menghampiri Momoi setelah sesi terakhir selesai.

Kise tidak bisa lama-lama meletakkan tangannya di pundak Momoi ketika meraih gadis yang sedang berjalan cepat itu. Momoi sendiri yang menepisnya.

"Ada apa Ki-chan?"

Seolah ada rasa aneh yang merasuk ke mulut Kise ketika nama panggilan itu meluncur dari bibir Momoi namun dengan cara yang tak seperti biasanya.

"Kita bicara," Kise mengendikkan dagu ke arah bagian belakang rumah kosong tadi.

Karena suasana sudah sepi dan orang-orang mulai berkemas untuk pulang, akhirnya Momoi setuju. Tanpa kata-kata.

Kise langsung memegang kedua bahu Momoi ketika mereka tersembunyi dari semua orang, "Kita tidak bisa lama-lama seperti ini."

"'Seperti ini' bagaimana? Kita tetap seperti yang biasa, Ki-chan."

"Bohong," kulit hidung Kise mengkerut, "Ada jarak di antara kita. Apa kau masih marah padaku?"

Momoi tersenyum simpul, lantas menggeleng. "Tidak."

"Aku tidak bisa mentolerir kebohongan dua kali berturut-turut, Momocchi," suara Kise menegas dan jari-jarinya bukan lagi sekadar menggenggam—lebih kepada mencengkeram. Namun Momoi bergeming.

"Lalu hukuman apa yang akan kauberikan padaku? Sebegitu gilanyakah kau sampai berani menghukumku?"

"Ya, aku akan menghukummu," mata Kise menggelap, "Dengan mencium—"

Momoi mendorong dada Kise, cukup kuat untuk menepiskan gerakan pemuda yang mulai mencondongkan punggung ke arahnya itu. Momoi berontak dengan lebih keras, dengan menyingkirkan tangan Kise dari dirinya dengan menepis kuat.

"Aku tidak berbohong sebanyak dua kali untuk mendapatkan hukuman darimu," ucapnya sebelum berbalik dan melangkah dengan cepat. Tapi lantas dia menoleh sebentar dan mengacungkan telunjuknya ke atas, "Dan, aku akan lebih keras tentang batasan-batasan yang harus kita lakukan selama kita masih di tempat umum. Kita adalah partner kerja, ingat? Dan ini masih termasuk jam kerja."

Lalu gadis itu menjauh. Dan masuk ke mobil yang berbeda dari sebelumnya. Mobil yang melaju duluan sebelum Kise sempat mengejar untuk ikut.

Walau, ketika di perjalanan pulang yang membuat Kise bosan dan muak setengah mati, Momoi mengiriminya SMS, "Besok dan lusa libur. Aku juga ada ujian besok sore. Kau boleh istirahat. Jadwal berikutnya adalah hari Sabtu, acara yang masih berhubungan dengan hari ini. Mereka mengundangmu. Aku akan menjemputmu."

Momoi memang tidak benar-benar marah padanya, atau membencinya, seharusnya itu membuat Kise sedikit lega.

Tapi tidak.

tbc.