De Bloemetje

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.
Pairing: Kise Ryouta/Momoi Satsuki. Genre: Romance. Rating: K+.

(Kise sedang dalam perjalanan untuk berlibur, dan dia duduk di samping seorang perempuan cuek. Tetapi liburan itu ternyata tidak seperti yang diharapkan.)


Kise terbangun dalam posisi masih duduk di dalam mobil. Dia mengusap matanya namun untuk beberapa saat pandangannya masih nanar. Satu-satunya fakta yang dia kenali hanyalah tidak adanya Momoi di kursi pengemudi. Tetapi mesin mobil masih menyala. Kise pun duduk tegak. Dia menoleh sambil memicingkan mata, gerakannya ke belakang sedikit terhalang oleh sabuk pengaman. Momoi masih tidak terlihat di manapun.

Pemuda itu akhirnya memutuskan untuk menyandarkan dirinya lagi sambil memejamkan mata. Syuting iklan kali ini benar-benar merepotkan dan makan banyak waktu. Dia hanya sempat tidur dua jam tadi malam.

Momoi pasti tidak akan lama, pikirnya. Dia menunggu tanpa menyetujui keinginan impulsifnya untuk menelepon Momoi sekarang juga.

Dia tidak bisa tertidur lagi. Dia membuka mata lantas menatap kosong pada jalanan yang mulai sepi. Jam berapa sekarang—oh, dua belas. Merenung. Mungkin sekarang sudah dua minggu lebih sejak terjadinya perubahan besar di antara mereka, dan kata membaik sepertinya masih sulit diraih. Momoi masih menjaga jarak, membangun tembok sendirian. Tembok tebal dan kokoh, dan tak punya pintu untuk Kise.

Kise berdecak. Kepergian Momoi sudah terhitung lama untuknya, walau dia mengetahuinya hanya sekitar tiga menit lalu. Kekhawatirannya meningkat setelah tahu pukul berapa sekarang. Gadis itu, berjalan sendirian di waktu-waktu rawan begini?

Kise sudah melepaskan sabuk pengamannya ketika pintu pengemudi terbuka.

"Ah, maaf membuatmu menunggu. Aku lapar," Momoi menaruh kantong karton itu. Sebuah roti menyembul dari mulut kartonnya. "Mau?" tanya Momoi tanpa memandang sang lawan bicara.

Kise diam saja. Cuma memandang. Lama. Akhirnya Momoi menoleh, lantas tersenyum. Kise mengerjapkan matanya cepat. Tidak mungkin kalau dia masih bermimpi—oh, ini benar-benar nyata. Kalau boleh dihitung, ini mungkin kali pertama Momoi tersenyum seperti itu sejak dua minggu yang lalu.

Setengah sadar dan setengah tidak, Kise mengangguk. Mata mengangguknya memancarkan sorot seperti sedang dihipnotis.

"Nih," Momoi menaruh kantong karton ke pangkuan Kise, lalu menjepit salah satu roti kecil dengan mulutnya sambil menjalankan mobil kembali.

"Maaf ..." ucap Kise. Dia bersandar lagi dengan mata terpejam. "Kau kelaparan karena menemaniku sampai tengah malam."

"Sudahlah, aku bukan anak kecil yang hanya bisa merengek ketika kelaparan. Aku bisa menanganinya, dan aku bisa menahannya," Momoi berkata sambil menatap lurus ke depan. Mobil melaju sedang.

Mata Kise perlahan terbuka. "Kalau kau bukan anak kecil, maka berhentilah berpura-pura. Berhenti bertingkah konyol."

Mobil mendadak berhenti. Momoi melihat ke arah Kise, tatapannya tajam.

"Marah?" Kise mendesak. "Marahlah padaku. Marahilah aku karena aku yang banyak mengubah hidupmu, tapi sebagai balasannya, tertawakanlah dirimu sendiri yang berakting seolah kau biasa saja dengan semua ini. Seolah kaubisa menahan diri. Aku mengatakan ini hanya karena aku tidak ingin kau menahan dirimu, padahal kau juga merindukan saat-saat kita bisa mencium satu sama lain dengan biasa—aku tidak ingin kau menyakiti dirimu sendiri!"

Kise terengah-engah.

Namun dia tidak berhenti, "Aku tahu kau pasti ingin memelukku, seperti yang dulu sering kaulakukan. Aku tahu seperti apa matamu ketika menjauhimu. Aku tahu kamu menangis ketika tidak bersamaku atau ketika memalingkan wajahmu karena sebenarnya kau juga tersiksa!"

Momoi memacu mobil kembali, kali ini jauh lebih cepat. Bibirnya terkatup rapat, matanya memicing. Urat tangannya tampak seiring cengkeramannya pada stir yang menguat, seakan dia siap menghancurkannya.

"Kalau kau tidak menjawabku, maka kau benar-benar anak kecil, Momocchi."

"Kalau aku anak kecil, aku akan berteriak pada wartawan dan mengaku bahwa aku adalah pacarmu. Aku akan bertindak seperti wanita penggoda di depan kamera setiap kali kita diwawancarai soal hubungan kita. Aku melakukan ini untuk melindungimu! Ada saatnya ketika kita bisa kembali seperti dulu—tapi itu nanti. Utamakan karirmu dulu—"

"Tidak mengapa kalau karirku tidak segemerlap dulu lagi asalkan aku dan orang yang kusayangi bisa merasa nyaman!"

Bibir Momoi tidak terbuka lagi. Tetap berbentuk seperti garis lurus bahkan sampai mereka tiba di rumah Kise.

Kise menendang pintu rumahnya ketika Momoi sudah pulang dengan membawa mobilnya. Dia berandai-andai, jika dia disodorkan surat pernyataan pemutusan semua kontrak sekarang juga, dia akan dengan senang hati menandatanganinya. Dia akan mulai merintis usaha baru dengan uang tabungannya di tempat lain, nun jauh di sana, dengan membawa serta Momoi dan menyiapkan pernikahan mereka.

Persetan dengan karir kalau dia tidak bisa berdamai dengan kehidupan cintanya sendiri.


Esoknya, ketika membuka pintu untuk menyambut kedatangan Momoi, Kise meyakinkan dirinya bahwa dia tidak meminum terlalu banyak alkohol tadi malam—karena dia ragu yang di depan pintunya ini ilusi karena mabuk atau bukan.

Tetapi, dia tidak meminum alkohol.

Jadi ... ini nyata.

Maksudnya, senyum itu. Senyum yang meninggalkan jejak berupa mata yang melengkung manis seakan Momoi baru saja memotong bulan sabit dan menaruhnya di wajahnya.

"Selamat pagi, Ki-chan. Baru bangun? Kutunggu, ya. Janji kita dengan klien lima belas menit lagi. Bisa cepat, 'kan? Aku sudah menyiapkan sarapan di mobil, jadi kaubisa makan di perjalanan."

Saking bingungnya, Kise tidak bisa mengatakan apapun—bahkan bergerak pun tidak—hingga Momoi harus mendorongnya sambil berseru, "Ayo mandiiii, mandi!"

Terasa dejavu. Sebabnyalah, Kise menurut.

Keheranan Kise tidak berakhir sampai di pintu. Ketika dia makan di dalam mobil pun—untuk pertama kalinya sejak berhari-hari lalu—Momoi memutar lagu kesukaan mereka dan ikut bersenandung bersama lagu itu, mengiringinya dengan riang.

Kise menggeleng. Dia tidak boleh larut. "Jangan bertingkah aneh begini, Momocchi."

"Mm ..." Momoi mengecilkan volume lagu itu. "Maaf atas yang tadi malam, ya," dia memandang Kise sebentar. "Aku benar-benar minta maaf. Aku akan berjanji bahwa semua akan kucoba perbaiki mulai dai sekarang."

Kise kehilangan kata-kata. Lucu bahwa pada biasanya dialah yang menghidupkan suasana dengan kata-kata dan tawanya, sekarang terdiam hanya karena sepak-terjang seorang wanita yang diakuinya tangguh.

Ya, sekarang Kise pun menganggap wanita itu benar-benar tangguh. Hingga bisa mengubah sifatnya, mendiamkannya, membuat dirinya yang jarang marah dan meledak-ledak menjadi bisa melakukannya begitu saja, hingga stres sampai menenggak alkohol yang sebenarnya sangat dihindarinya.

Kise berujar lambat, "Ya ... maafkan aku juga ..."

"Baik, sudah tidak ada dendam lagi di antara kita, bukan?" Momoi menaikkan volume lagu itu seperti semula. "Dengan ini, kita bisa sama-sama tenang."

Kise membiarkan kekhawatirannya menguap sebentar. Entah, mungkin dalam waktu dekat akan mengembun lagi dan turun menyerbu dirinya. Sudahlah, yang terpenting, saat ini dia bisa tenang. Bisa bekerja seperti biasa tanpa punya beban. Lebih baik tidak menduga-duga, lebih baik tidak tahu, lebih baik tidak memikirkannya.


"Baik. Kami akan datang besok. Terima kasih atas kerja samanya hari ini," Kise membungkuk pada fotografernya, lalu pada yang lain, berpamitan secara bergantian. Selesai melakukannya pada semua orang di ruangan, dia mulai mencari manajernya. Dia mendongak dan berpaling—rupanya Momoi sedang tidak berada di ruangan.

Kise pun mengemasi barang-barangnya. Lantas dia mendengar suara Momoi, sedang membicarakan soal rencana esok dengan kru pemotretan. Mata mereka berdua bertemu, dan Momoi balas tersenyum sambil mengakhiri pembicaraannya. Dia berlari ke arah Kise.

"Maaf aku pergi ke luar," dia pun menarik tangan Kise.

Kise mengerutkan kening, Momoi memasangkan sebuah gelang dari jalinan benang-benang tebal aneka warna di tangan Kise. "Aku jalan-jalan di luar tadi. Dan, aku menemukan ini," dia selesai mengencangkan gelang itu di tangan Kise. Lalu dia mengangkat tangannya. Ada gelang yang sama di sana.

"Gelang pasangan?" Kise tak bisa menahan senyumnya.

"Ya," angguk Momoi. "Ayo pulang."

Kise mengekor. "Kau ini memang tak bisa kutebak, Momocchi. Terima kasih gelangnya. Aku suka."

"Simpan, ya. Jaga baik-baik. Nanti kaubisa memandanginya lama-lama kalau merindukanku."

Langkah Kise berhenti. Senyumnya memudar, dan keningnya mengerut. "Kau berkata seolah-olah kau akan pergi."

"Mm? Pergi? Aku tidak akan pergi darimu," jawab Momoi tanpa menoleh, gerak kakinya begitu cepat sampai-sampai Kise harus berlari kecil untuk mengejar ketertinggalan.

Kise meraih bahu Momoi dan memutar badan gadis itu, "Kalau begitu, jawablah sambil menatapku," pemuda itu pun melirik ke kiri dan kanan—lalu menarik tangan Momoi untuk bersembunyi di bagian samping gedung, agak ke pojok hampir-hampir mencapai bagian belakangnya. "Jawab," perintahnya datar sambil memegang kedua bahu Momoi.

"Tentu, aku tidak akan pernah pergi. Aku selalu di sini, bukan?" tunjuknya ke dada Kise sambil tersenyum. Dia lalu mengalungkan tangannya di leher Kise.

"Kau ... aneh," Kise menggeleng. "Aneh, Momocchi. Aku tidak mengerti."

"Kau tidak perlu mengerti ini, Ki-chan," sanggah Momoi setengah berbisik, "Yang kau perlukan hanya menjalaninya. Dalam kehidupan kadang kau tidak perlu memahami sesuatu atau alasannya, yang jelas, kau menikmatinya."

"Perubahan sikapmu aneh," Kise terang-terangan. "Kau marah besar tadi malam dan paginya kau muncul seolah tak terjadi apapun sebelumnya. Bukannya aku tidak memaafkanmu—tidak, karena bahkan kurasa kau tidak bersalah sama sekali—tetapi ... ini aneh. Perubahan ini terlalu aneh. Padahal ini bukan masalah yang biasa untukmu—" kata-kata Kise terputus. Momoi menciumnya, bahkan menarik kepalanya dan menjalinkan jemarinya di antara helai-helai rambutnya yang lemas di punggung kepala.

Kise pun melupakan sekitar. Masa bodoh dengan kamera. Masa bodoh dengan pengintai. Masa bodoh dengan karir. Dia mendapatkan apa yang dia rindukan, maka dia tak akan lebih peduli lagi pada skandal. Skandal apapun itu, berita seheboh apapun itu, bukan hal yang perlu dia khawatirkan selama Momoi menjamin bahwa perasaannya terbalaskan. Dia memang merasakan kejanggalan, tetapi kejanggalan terlalu berharga untuk dipikirkannya sekarang, di waktu indah yang telah ditunggunya.

Momoi menarik diri sesaat, "Aku melakukan semua ini untukmu, Ki-chan. Aku terlalu mencintaimu hingga aku rela melakukan ini."

Kise tidak sempat mempertanyakan apa makna kata ini yang disebutkan Momoi, karena dia terlalu hanyut atas kerinduan, kerinduan ciuman yang telah dia harapkan sekian lama.

Mereka baru berhenti ketika Momoi sudah hampir jatuh terduduk, dan sadar bahwa ini sudah terlalu larut untuk berduaan di pojok halaman kecil di tempat yang asing. Mereka pulang, lalu melupakan masalah sesaat.


Perasaan dan prasangka bahwa semuanya baik-baik saja hanya bertahan satu hari. Saat dia sedang sendirian di rumah, salah satu staf agensi meneleponnya dan memintanya untuk segera datang ke kantor. Mendiskusikan sesuatu yang penting, katanya.

Yang ternyata merupakan perwujudan dari firasat buruknya yang sempat dibungkam Momoi dengan ciuman.

Semua berawal dari, "Kau harus memilih manajer baru segera, atau kami akan mencarikannya dengan cara kami sendiri."

"Apa?! Momocchi—"

"Dia sudah mengajukan permohonan pengunduran dirinya dua hari lalu."

Dua hari; Kise ingat persis, itu adalah hari setelah perdebatan menyebalkan di dalam mobil yang berakhir dengan bungkamnya Momoi, serta merupakan hari permulaan sikap aneh Momoi.

"Tidak, dia tidak boleh berhenti—"

"Dia sudah menandatangani surat pernyataan pengunduran dirinya. Dan atasan juga menyetujuinya."

"Dia tidak boleh pergi tanpa izinku!"

"Kise, ingat, dalam peraturan perusahaan kita, seorang artis tidak punya wewenang atas kontrak manajernya dan begitu pula sebaliknya. Kerja sama kalian hanya berlaku dalam hal pekerjaan di luar dan bukan untuk hal-hal seperti ini. Jangan campur adukkan urusan pribadimu dengan kontrak satu sama lain. Jangan libatkan perasaan dalam hal pekerjaan. Kurasa kau sudah mengerti benar dengan hal ini."

Kise menggeleng lantas berdiri. "Beri aku waktu untuk menyelesaikan ini. Aku akan bicara dengannya dan jangan pilih manajer untukku sampai aku datang lagi pada kalian. Aku akan membatalkan semua kontrakku kalau hal itu terjadi."

"Jangan menjadi bocah."

Kise berdecak. "Ini bukan urusan bocah atau tidak. Ini profesionalisme. Aku dan dia masih punya masalah pribadi dan seharusnya dia tidak membawa ini ke dalam dunia pekerjaan sampai mengundurkan diri segala. Bukankah kita menjunjung tinggi profesionalitas? Aku harus membereskan ini. Mohon beri aku waktu. Terima kasih," Kise membungkuk beberapa kali, kemudian segera pergi bahkan tanpa mengucapkan salam sama sekali.

Dia menelepon sebelum dia datang ke rumah Momoi.

"Kau di mana?"

"Di kampus. Perpustakaan. Ada apa, hm, Ki-chan?"

Kise diam sebentar. Momoi memang cerdas menyembunyikan segalanya. Dia masih memakai topeng dan memaniskan suaranya. Oh, betapa cerdasnya gadis ini. Kise jadi semakin ingin memujinya. Tetapi sayangnya, kali ini dia rasa Momoi salah menyempatkan kecerdikannya.

"Ki-chan, masih di sana?"

"Masih. Ah, sibuk? Masih ada kelas? Aku ingin makan bersama. Boleh?" Kise memutuskan untuk memakai topengnya juga. Momoi bermain, dan dia akan menyambutnya dengan senang hati.

"Tidak ada. Aku hanya malas pulang. Boleh, aku akan datang ke sana—"

"Tidak usah, biar aku yang menjemputmu. Kita makan di tempat yang kutentukan, oke?"

"Baiklah."


Dan ternyata, 'tempat yang ditentukan' itu adalah rumah Kise sendiri. Di halaman belakang, di sebuah tempat seperti pondok kecil dengan sepasang kursi dan sebuah meja kecil. Dengan makanan berupa kue seadanya yang sempat dia beli tadi pagi. Momoi ingin protes, tetapi diurungkannya karena kelihatannya Kise senang sekali dengan rencana ini.

Keduanya bisa mengenakan topeng mereka dengan sukses.

"Yah, aku belum pernah mengundangmu secara khusus untuk makan di sini, bukan?" Kise menggiring Momoi ke tempat tersebut, menyeberangi padang rumput kecil dengan batuan datar buatan sebagai tempat berpijak. "Duduklah duluan. Aku akan mengambil kuenya di dapur."

Tiga muffin dan satu donat untuk Momoi, dan dua donat serta satu muffin untuk Kise. Kise hanya membawakan jus jeruk sebagai minuman.

Dibiarkan Kise Momoi makan satu buah, sebelum akhirnya mengejutkannya.

"Momocchi."

"Mmmn? Muffinnya enak, Ki-chan."

Kise tersenyum kecil. "Aku menolak pengunduran dirimu."

Sesuai yang Kise duga, Momoi berhenti makan dan meletakkan muffin itu begitu saja ke atas piring. Dia memandang Kise dengan tatapan mengiba.

"Berhenti menatapku begitu, Momocchi. Ayolah—"

"Ini semua demi kau, Ki-chan. Tolong berhenti membantahku dan biarkan aku memilih jalanku sendiri."

"Membantah?" Kise mengerutkan kening. "Bahkan kau tidak mendiskusikan ini denganku duluan."

Kata-kata Kise ternyata merupakan sebuah kata kunci untuk membuat Momoi kalah adu debat. Dia menarik napas lalu segera berdiri, meraih tasnya, hanya untuk dihentikan Kise kembali dengan genggaman pada pergelangan tangan kanannya.

"Kau tidak akan bisa pergi. Pintu dan pagar depan dikunci dan akulah yang memegangnya. Kau tidak boleh mendapatkannya sebelum selesai bicara denganku," Kise menatap Momoi dengan pandangan tegas. "Mungkin kau akan mengataiku anak kecil, tetapi, menurutku, kita sama-sama anak kecil di sini jadi mari kita coba menyelesaikannya dengan cara dewasa agar kita sama-sama berhenti jadi anak kecil."

Momoi menyentakkan tangan Kise—Kise mengalah—dan Momoi juga mengalah. Gadis itu terduduk di tepi pondok. Kise pun turun ke halaman, berlutut di depan Momoi dan memandangnya. Gadis itu menangis, Kise menghela napas, kemudian menyekakan pipi itu dengan hati-hati.

"Setidaknya kau bisa membicarakan ini padaku sebelum kau memutuskannya."

"Aku melakukannya untukmu, Ki-chan," Momoi menarik napas. "Oke, sebentar," dia menguatkan dirinya dengan berdiri tegak. "Aku bersedia bicara tapi tolong mengertilah, dan kalau kau ingin membantah, simpan dulu itu, karena setelah mengatakan ini, aku akan pulang dan berpikir ulang. Jangan paksa aku untuk berdebat denganku di sini, karena aku ... aku ..." Momoi berusaha keras bertahan, namun dia menemui kegagalan. Dia memalingkan muka untuk menyembunyikan airmata, tapi Kise dapat dengan mudah mengetahuinya.

Kise pun berdiri dan memeluk lawan bicaranya. Didekapnya erat-erat tubuh Momoi, dan dibelainya ujung-ujung rambut yang menjuntai dalma bentuk ekor kuda di punggung Momoi.

"Ya, tidak apa-apa. Bicaralah."

"Aku melakukan ini karena akut ahu, akulah yang membawa pengaruh buruk pada hidupmu, Ki-chan. Sebelumnya kau adalah artis dengan imej bersih dan tidak pernah punya skandal dan tidak pernah tertangkap basah menyentuh perempuan lain di luar batas. Kau yang sebelumnya sangat menghindari alkohol, jadi meminumnya sampai mabuk hingga esok paginya hanya karena masalah kita. Aku ..." Momoi tertahan karena isakannya, "Aku tidak ingin mengakibatkan hal yang lebih buruk untukmu. Karena itu ..."

Momoi tidak melanjutkan lagi. Alih-alih, dia berusaha melonggarkan diri dari tubuh Kise. Kise bergeming.

"Ki-chan ... tolong lepaskan aku. Aku ingin pulang, dan berpikir sendiri. Tolong ..."

"Tidak. Tidak sekarang," rangkulan itu malah makin erat.

"Aku sudah mengatakannya—dan tolong penuhi janjimu. Aku tidak ingin berdebat lama-lama karena pasti tidak akan ada ujungnya. Biar kita berpikir terpisah dulu dan ... menyelesaikan semuanya saat kita bertemu nanti."

"Dengan satu syarat," akhirnya Kise melepaskan pelukannya. "Kalau besok kau masih belum menarik surat pengunduran diri itu, maka aku juga akan memutuskan semua kontrakku dengan klien-klien yang ingin menjadikanku modelnya."

Mata Momoi melebar, "Jangan gila—"

"Orang jatuh cinta memang gila, Momocchi. Dan kau sudah melakukannya."

Momoi mendesis. Dia menggeleng kemudian bangkit berdiri. "Terima kasih banyak atas waktumu hari ini, Ki-chan. Tolong bukakan pintu dan pagar depan sekarang juga."

"Tunggu. Belum selesai."

"Apalagi? Sudah kubilang bahwa kita hanya perlu waktu untuk berpikir sendiri-sendiri—"

"Bukan," geleng Kise. "Ini bukan soal itu. Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Walaupun kita sedang bermasalah begini, apa kita masih sama-sama saling menyayangi seperti dulu? Apa perasaan itu masih ada?"

Momoi menghadap Kise, sorot matanya melembut. Dia mengangguk—sesuatu yang benar-benar melegakan Kise—lalu dia menggenggam salah satu tangan Kise. "Kalau aku tidak mencintaimu, aku tidak akan melakukan ini," dia berjinjit, lalu mencium pipi Kise. "Aku barusan membayarmu. Sekarang, bukakan pintunya. Agar masalah kita lebih cepat selesai. Tolong, ya, Tuan Tampan."

Kise pun tertawa, sambil mengacak rambut Momoi. "Tentu saja, Manis."

Masih ada hal yang bisa membuat tenang walau mereka sedang ada di tengah-tengah badai. Kise masih bisa tersenyum dan melepaskan Momoi tanpa ragu-ragu, karena dia yakin yang berubah di antara mereka bukanlah perasaan mereka terhadap satu sama lain.


Dan Kise memutuskan untuk mengambil langkah untuk memberitahukan keseriusannya soal rencana pencabutan kontrak-kontraknya pada perusahaan, agar jika nanti Momoi tetap bersikeras, pihak perusahaan bisa memaksa Momoi untuk tetap bertahan agar mereka tidak kehilangan Kise.

Kise memberitahukannya lewat telepon.

"Aku benar-benar serius."

"Jangan main-main Kise, ini bukan hal gampang. Mana Kise yang kutahu ambisius dan mengambil semua tawaran yang diberikan padanya?!"

"Orang-orang berubah, dan kurasa aku juga mulai—"

"Jangan seperti anak kecil yang baru tahu soal cinta dan bertindak nekat karena itu! Kami tahu ceritamu dengan manajermu itu, tetapi kau terlalu melebih-lebihkannya! Publik sudah mulai tenang dan tidak mempertanyakan banyak hal setelah Momoi memberi konfirmasi satu bulan lalu. Kalian berada di masalah yang sebenarnya sudah selesai."

"Tapi bagi kami ini semua belum selesai. Dan ... kurasa perempuan itu akan tetap pada pendiriannya. Aku tahu sifatnya. Karena itulah," Kise mengubah nada bicaranya menjadi lebih serius. Memberi sedikit ancaman untuk membuktikan kekuatan niatnya. "Mungkin mulai besok aku akan mengurus pemutusan kontrakku. Atau aku akan mengabarkan bahwa aku akan hiatus agar mereka bisa menarik sendiri kontrak itu dan—"

"Cukup, bodoh. Jangan bertingkah! Salah satu dari kami akan datang ke rumahmu dan memberimu pelajaran. Jangan kabur atau kami akan melakukan sesuatu pada Momoi."

"Hei, ini termasuk ancaman—"

"Tutup mulutmu dan tunggulah."

Kise membanting ponselnya ke tempat tidur. Dia mengacak rambutnya yang memang telah kacau karena tidak disisirnya seusai mandi setengah jam yang lalu. Dia kemudian meninju pintu lemari pakaiannya. Dia sering mendapati masalah dalam pekerjaan, orang-orang yang menyebalkan, klien yang seenaknya, mantan manajer yang semaunya, dan tindakan-tindakan orang perusahaan yang kadang dirasanya kelewat batas, tetapi tidak pernah ada yang membuatnya sejengkel, sekecewa, dan sesedih ini.

Mungkin benar-benar pensiun dari dunia hiburan dan meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi adalah lebih baik. Dia bisa lari dari masalah. Dia bisa melupakan semuanya.

Sebab, apalagi yang akan dia harapkan di dunia hiburan setelah Momoi melepaskan diri darinya; berhenti bekerja untuknya?

Betapa ajaib, hanya dengan sekian bulan Momoi bisa mengubah orientasinya dalam bekerja. Keakraban mereka, kerja sama yang baik, kekompakan, keberadaan Momoi, tawa dan bantuan Momoi di saat dia lelah, dan kegiatan yang mereka lakukan bersama, sudah cukup membuat Kise mengganti motivasinya.

Uang sebenarnya sudah banyak terkumpul, dan Kise sempat menemui titik bosan yang teramat sangat pada musim panas yang lalu. Tetapi setelah bertemu serta bekerja dengan Momoi, barulah Kise menyadari alasan dia untuk bertahan: untuk selalu bersama orang yang membahagiakannya, dan dia bahagiakan.

Kalau Momoi pergi, apalagi yang akan dia temui? Kehidupan hiburan dengan manajer yang belum tentu benar, yang bisa saja memaksakan kehendak, lalu mengubah hidupnya menjadi lebih buruk—dan seribu satu kemungkinan negatif lainnya.


Kise membuka pintu dengan tak sabar sebagai jawaban atas tekanan bel yang juga tergesa-gesa itu.

Namun ketidaksabarannya menguap seketika ketika melihat siapa yang ada di depan pintu.

Momoi dan pipinya yang basah.

Kise pun menarik tangan Momoi untuk masuk. Dia lalu menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat.

"Kenapa kau yang datang—"

"Karena aku ada di sana saat kau menelepon!" Momoi menyeka kasar pipinya. "Aku ada di sana untuk membicarakan kembali keinginanku, tapi kemudian kau bertindak sendiri!"

Kise terdiam dan seperti kehilangan arah untuk beberapa saat. "Aku hanya menakuti mereka agar jika kau benar-benar mengundurkan diri, mereka bisa mencegahmu. Dan—bicarakan? Apalagi yang kaubicarakan dengan mereka sementara kau bisa hanya tinggal menarik surat itu dan menyatakan pembatalan permohonan?"

"Aku berbicara dengan mereka agar aku tetap bisa mundur namun tetap membuatmu bertahan untuk tidak mundur."

Kise ingin menertawakan ini semua. Mereka sudah bertindak sendiri-sendiri sesuka hati, secara terpisah, dan jujur saja—dia mengakuinya—mereka sama-sama keras kepala.

"Kau serius ingin mundur?!"

"Harus berapa kali kutegaskan bahwa ini untukmu? Aku ingin membuatmu lebih senang, lebih tenang. Aku tidak ingin membawamu ke dalam lebih banyak masalah—"

"Momocchi," Kise berusaha tenang, karena dia tahu, balas membentak tak ada gunanya. "Apakah sebegitu malunya kau bekerja denganku setelah skandal itu terjadi lalu kau benar-benar ingin mundur?"

Momoi menggeleng cepat, "Tidak, Ki-chan, seharusnya kaulah yang malu terhadapku," dia mengepalkan tangannya erat-erat, "Aku adalah perempuan biasa yang mengubahmu ke arah yang kurang baik! Apa kata orang-orang terhadap kita? Aku sudah melakukan hal yang salah, aku tahu itu, dan aku sadar diri, aku seharusnya tidak menerima tawaranmu untuk jadi manajer sejak awal. Karena yang kulakukan pada akhirnya bukanlah hal yang bagus—"

Kise berjalan. Momoi mulai mundur. Tembok pertahanannya menyusut.

"Bagaimana kalau ternyata hal yang membuatku senang adalah bekerja denganmu? Bersamamu? Pergi ke sana-sini untuk pemotretan denganmu? Jangan seenaknya memutuskan apa yang membuat seseorang bahagia atau tidak."

"... Ki-chan," suara Momoi gemetaran, "Jangan memanis-maniskan kata-katamu," dia terus mundur. "Kau berkata seperti itu hanya karena kau sedang tergila-gila padaku. Nanti, di masa depan, kalau kau mengikuti ide gilamu untuk mundur bersamaku, lalu kau bosan bersamaku, kau akan menyesali segalanya. Kau kehilangan karirmu—"

"Bagaimana kalau ternyata aku tidak akan bosan denganmu? Bagaimana kalau kau berhenti mengkhawatirkan dan membuka matamu lebar-lebar? Publik sudah mulai tenang dan mereka tidak menghantuimu seperti yang pernah kau takutkan, bukan?" Kise akhirnya bisa memojokkan Momoi di dekat bingkai pintu menuju ruang makan, "Mari kita sama-sama kembali ke akar permasalahan, dan selesaikan baik-baik."

Momoi menghindari tatapan Kise.

"Kau khawatir bahwa aku tidak akan bisa bahagia lagi hanya karena terus-terusan bersama orang yang mengakibatkan skandal padaku, padahal kau tidak bisa menduga aku akan lebih tidak bahagia lagi jika kehilangan motivasiku dalam bekerja. Kau."

Momoi masih belum mau mempertemukan tatapan mereka. Dia malah menunduk sekarang.

"Setelah mundur, kau mungkin bisa melanjutkan hidupmu dengan tenang. Kau akan kembali kuliah, tertawa bersama teman-temanmu. Hidupmu akan kembali seperti biasa. Kau akan kembali menemukan kesenangan lamamu di klub sepakbola itu. Atau, mungkin kau akan jatuh cinta pada orang lain. Mungkin pada para seniormu di klub itu?"

Kise membiarkan kata-katanya menggantung sekian detik.

"Sementara aku? Aku akan kembali ke rutinitasku yang padat dan mengerikan dengan manajer lain yang tidak kukenal. Yang entah akan melakukan apa pada hidupku. Kautahu? Aku tidak mudah membiarkan seseorang masuk ke dalam zona nyamanku kecuali aku merasa orang itu khusus untukku. Kau sudah menyaksikan dan merasakannya."

Kise tertawa kecil setelah mengatakan itu, namun ternyata dia belum selesai. "Orang yang kupercaya di muka bumi ini amat sedikit. Dan kurasa aku tidak punya kandidat lain yang bisa cukup kupercayai untuk menjadi manajer. Orang perusahaan pasti akan memilihkan seseorang untukku. Kau pasti mengerti apa motif perusahaan untuk artis-artisnya. Ya—benar, uang. Dan manajer baru pasti akan menjadi alat mereka untuk mendapat lebih banyak uang dariku."

Momoi jatuh merosot ke lantai. Dan Kise pun berlutut di hadapannya.

"Aku akan terjebak dalam kehidupan yang lebih kelam. Mungkin aku akan benar-benar kecanduan alkohol karena aku dituntut untuk gila kerja. Apa yang bisa kaubayangkan setelah itu?"

Momoi menggeleng cepat, entah apa yang dia tolak.

"Apanya yang membahagiakanku kalau begitu? Jika kaupergi dariku, itu hanya akan membuka babak lama di hidupku—sementara aku sudah menemukan babak baru yang lebih baik dengan bersamamu."

Dan akhirnya apa yang Kise tunggu tiba. Wanita itu menangis di hadapannya, dan dia dengan senang hati memeluknya.

"Kau tidak perlu mitna maaf," ucap Kise tenang, "Karena kau belum berbuat kesalahan. Aku hanya mengatakan apa yang tiba-tiba terlintas di dalam kepalaku. Kalau ternyata kau ingin mundur juga ... biarkan aku mendengar alasanmu. Katakan saja."

Momoi menggeleng, gerakannya dapat dirasakan Kise, dan sebagai balasan, dia mengusap punggung Momoi.

"Maaf, Ki-chan ... aku terlalu memaksakan kehendakku ..."

"Tidak apa-apa. Karena di awal pertemuan kita pun ... aku sudah memaksamu."

Momoi mendongak, "Tapi pemaksaan itu membawa hal yang baik, bukan? Sedangkan pemaksaan yang akan kulakukan ..."

"Sssh," Kise mengecup kening Momoi kemudian, "Kau baru 'akan' melakukannya."

"Dan aku tidak akan melakukannya."

"Baguslah," Kise menepuk kepala Momoi dengan lembut. "Aku takut kehilanganmu."

"Aku lebih takut lagi."

Mereka sama-sama ketakutan, namun hanya butuh waktu untuk memastikan bahwa mereka akan tetap saling bergandengan tangan.

tbc.


a/n: guys betapa aku berterima kasih sama dukungannya buat fic ini ;;_;; maaf review ngga bisa kebalas tiap chapter, satu-satu, tapi kalian tahu, aku sangat senang membaca dukungan-dukungan itu dan kalau bukan karena kalian, aku nggak bakal merasa bahwa apa yang kuberikan lewat fic ini berguna. so here's virtual cookies for y'all! xoxo

ps.: hanya tinggal satu epilog! o/