De Bloemetje

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.
Pairing: Kise Ryouta/Momoi Satsuki. Genre: Romance. Rating: K+.

(Kise sedang dalam perjalanan untuk berlibur, dan dia duduk di samping seorang perempuan cuek. Tetapi liburan itu ternyata tidak seperti yang diharapkan.)


"Sudah, ya! Nanti lagi tanda tangannya, aku mau pulang, biar besok bisa pemotretan lagi lalu bertemu kalian, oke?" Kise menyerahkan kertas terakhir yang disodorkan padanya. "Manis, permisi, ya, permisi~"

Beberapa fans yang menemuinya di depan gedung pemotretan itu pun menyingkir, tetapi dari mereka masih berbicara dengan Kise, mendengungkan suara mereka yang berisi pujian untuk Kise. Ada beberapa yang menjanjikan, malah, "Besok kita bertemu lagi, 'kan, Kise-kun? Ya? Ya?"

"Hn, iya~" Kise tersenyum bergantian pada mereka, lalu menoleh, melemparkan pandangan jauh ke belakang. Dia tidak akan pulang tanpa Momoi, dan beruntunglah, gadis itu datang dari dalam gedung sambil berlari dan memeluk tas kecilnya.

Ada penggemar yang melonggarkan jalan untuk Momoi lewat sambil menyapa, "Momoi-chan!"

"Hai, Momoi-chan, selamat malam!"

"Hari ini kau cantik, Momoi-chan, pakai make up apa?"

"Terima kasih sudah menjaga Kise-kun hari ini!"

Momoi membalas dengan jawaban singkat atau cuma senyuman—dan mungkin menyebutkan jawaban dari apa yang mereka tanya soal piranti mempercantik wajah, atau merk jaket dan sneakers yang dia pakai. Dia berjalan tangkas dan melambaikan tangan sebagai perpisahan ketika dia mencapai mobil. Kalimat terakhir yang dia sampaikan sebelum masuk adalah, "Terima kasih untuk perhatiannya pada Kise hari ini! Selalu dukung dia, ya!"

Kise tersenyum kecil menyambut manajernya, "Tebak, siapa yang sekarang punya penggemar juga?"

Momoi menggelengkan kepala sambil menahan senyum. Ketika dia mengeluarkan kunci, Kise tiba-tiba merebutnya.

"Heei?"

"Aku yang menyetir. Ada tempat yang ingin kutuju hari ini bersamamu."

"Aku akan menyetirkan ke sana."

"Tidak," Kise mengangkat kunci itu tinggi-tinggi, meski berjinjit Momoi tetap tidak bisa meraihnya. Dia sampai mendengus sebal. Kise lantas mendorong Momoi agar berputar dan memasuki mobil melalui pintu kursi penumpang saja. "Kau tidak tahu tempatnya. Lagipula, kau sudah capek menyetir bolak-balik beberapa tempat sekaligus hari ini. Membeli makanan, kantor, tempat pemotretan, rumahmu, dan lainnya. Aku yang cuma diam berpose seharusnya menggantikanmu."

Momoi menyerah dan akhirnya mau membuka pintu untuknya sendiri. Kise tersenyum penuh kemenangan lalu masuk ke mobil pula.

Klik, sabuk pengaman terpasang. Momoi menyandarkan kepalanya.

"Masih kurang terbiasa dengan orang-orang yang menyapamu seolah kau juga artis? Masih takut kalau-kalau mereka memalsukannya?" Kise menguji sambil memanaskan mobil. Sebagai tindakan menyenangkan fans yang terakhir, dia membuka kaca mobil lalu melambaikan tangan pada mereka.

"Yah ... kaubisa menebaknya," Momoi tertawa kecil. "Kadang-kadang aku berpikir begitu."

"Tapi mereka tulus," Kise menghentikan mobil sebentar, "Tunggu, ponselku mana—"

"Di tasku. Kau meninggalkannya di meja dengan ceroboh."

Kise tertawa kecil, lalu memiringkan tubuhnya dengan tangan yang lain menutup kaca mobil, mencium Momoi sesaat di bibir, "Karena itulah, aku butuh orang seperti kau. Aku percaya padamu. Lalu, sebaliknya, seharusnya kau juga percaya padaku soal fans-fansku yang mulai menyukaiku."

"Hm ... aku sudah melakukannya."

"Teruslah mempercayai mereka, kalau begitu."

"Ya. Akan kucoba."

"Kita berubah, publik juga. Semua orang berubah. Tetapi kita beruntung kita mendapat perubahan yang baik dari orang di sekeliling kita."

Momoi diam saja, membiarkan kata-kata Kise menguap di udara.

"Mereka menerimamu. Dan mereka merasa kau pantas. Fans meniru idolanya, bukan? Aku menyayangimu, dan mereka juga pasti akan melakukannya."

Lalu senyum Momoi terbit, dan dia akhirnya memandang Kise. Ada corak kegembiraan, hasrat ingin memeluk, merangkul, dan kegembiraan yang terlibat dalam sinar matanya, yang ditanggapi Kise dengan tatapan serupa.

Perjalanan berlanjut, dan Momoi hanya sesekali berbicara tentang pekerjaan, dan dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk makan hamburger yang telah dingin dan seladanya tak segar lagi.

"Biar aku yang menyetir, Ki-chan. Kau mengantuk."

Sekali lagi, omongan Momoi terbukti. Kise menguap. Tetapi dia keras kepala. Lantas kekeraskepalaannya itu ditutup oleh tawa kecil, "Gantian. Ayolah, Momocchi sudah sering menyetirkan untukku. Kalau mau tidur juga boleh."

Momoi hanya menggeleng. Pertarungan kekeraskepalaan tidak akan ada akhirnya. Lantas dia memutar lagu untuk meramaikan, dan memperhatikan alur jalanan yang ditempuh Kise. Mereka banyak memasuki jalan kecil, di antara gedung-gedung yang tak lagi mencirikan metropolitan. Jauh, jauh, dan semakin jauh, hingga akhirnya dia sadar mereka tak lagi berada di dalam kota Tokyo.

Beberapa jalan yang lebih kecil lagi—hanya muat untuk dilewati satu mobil—Kise lewatkan dan akhirnya mereka tiba di tempat yang agak berbukit. Bintang terlihat lebih jelas di sekitar sini, dengan kebun bunga di salah satu sisi lapangan yang Kise ajak Momoi memasukinya. Lupalah Momoi pada kantuknya, karena bintang membuat matanya menyala.

"Hei, aku sudah lama tidak melihat bintang yang jelas begini."

"Aku juga," Kise mengunci mobil. Dia langsung berbaring di ujung lapangan. "Tepat di belakang kita, adalah rumah nenekku. Tapi beliau sudah meninggal lima tahun lalu dan ... rumah itu kosong. Sesekali pamanku datang menginap, sih, tapi rumah itu tetap terlupakan."

"Pasti ini tempat bermainmu waktu kecil," Momoi duduk di sisi kiri Kise. "Sepertinya enak sekali."

"Memang," Kise menutup mata. "Ayo, berbaringlah. Bintangnya akan terlihat lebih cantik dan lehermu tidak akan sakit memandanginya."

"Mmn," Momoi menghapus jarak yang terbentang, memotong spasi antara jari-jari mereka. "Ki-chan, terima kasih."

"Aku yang harus mengatakannya."

"Enam bulan ini ... ternyata tidak seberat yang kukira. Karena kau terus meyakinkanku bahwa semua ini akan baik-baik saja, dan bahwa penggemarmu pasti menerimaku."

"Itu juga karena kau terus bertahan."

"Timbal balik, huh?" Momoi mencermati kontelasi yang terhambur bebas di atas mereka, membentang seperti jalur aliran susu.

"Begitulah."

"Dan aku tidak menduga kalau hidupku akan jadi seperti ini. Menjadi manajer dan akhirnya bisa melewati ketakutan terbesarku—ketakutan akan ditolak oleh penggemarmu. Sebenarnya ... ini bukan jalan hidup yang kuinginkan dari awal," Momoi tertawa masam.

"Ya, kau memang tidak menginginkannya—tapi kau menerimanya, Momocchi. Karena hal yang membuatmu senang tidak selalu hal yang kau inginkan."

"Yeah ..." Momoi mengangkat tangan mereka yang tertaut dan mencium punggung tangan Kise. "Bagaimana ya ... seandainya kau tidak menyelamatkan nyawaku di kecelakaan waktu itu—"

"Bukan aku yang menyelamatkanmu. Tuhan yang membiarkanmu hidup agar bisa hidup bersamaku."

"Kau dan gombalanmu yang membuatku mengantuk itu."

"Hahaha," Kise menepuk kepala Momoi, "Kau sudah mengantuk dari awal. Jangan tuduh kata-kata manisku yang hanya untukmu itu."

"Gombalan kedua yang membuatku mengantuk."

"Menyerahlah. Tidur saja. Aku akan menjagamu kalau perlu sampai esok pagi."

"Gombalan ketiga yang membuatku ingin menyumpalkan rumput-rumput ini ke mulutmu."

"Boleh. Asal mulutmu dulu yang menciumku."

Akhirnya pukulan pada lengan Kise membuat pemuda itu berhenti dengan rayuan murahnya, lantas menutupnya dengan tawa lepas. Dia merangkul Momoi dan berkata, "Tidur saja, aku tahu kau lelah. Terima kasih kerja kerasnya hari ini.

"Ya ... dan aku akan bekerja keras lagi besok. Besok. Besok. Sampai nanti. 'Nanti' yang tidak kita ketahui. Masa depan kita."

"Ng ... lihat siapa yang barusan balas menggombal setelah mengataiku."

"Terserah kaulah, Ki-chan ..." Momoi memejamkan matanya, namun karena tangannya tidak melepaskan tangan Kise, Kise yakin Momoi tidak akan marah hanya karena ejekan balasannya yang baru saja diujarkan. Wanita itu terlalu hebat dan cerdas untuk tersinggung atas lontaran canda ringan antarpasangan.

Kise membiarkan Momoi tertidur di lengannya.

Konstelasi di langit menyaksikan konstelasi lain yang sedang tertidur di atas padang rumput di bumi. Momoi adalah rasi kecil yang hanya punya Kise sebagai bintang tunggal paling terangnya. Rasi sederhana yang menyangga bintang alpha secemerlang Kise tetap berada di tempat dan jalurnya. Mengatur alur hidupnya. Memastikan si bintang tetap cerlang di antara gemintang lain yang tak kurang gemilang.

end.


a/n: sekali lagi, terima kasih atas segala dukungannya, ya, semuanya nggak mungkin kesebut ;_; so ... yeah, semoga fanfic ini bisa memberi manfaat!