Normal POV
Falconer Cafe, Tokyo.
Hari ini, Akabane Karma merasa ada yang aneh.
Ketika dirinya sedang bersantai di atap sepulang sekolah, ia sama sekali tidak menyangka kalau seseorang yang ada di depannya sekarang mengajaknya untuk bertemu secara tiba-tiba. Sebuah fakta yang sangat tidak ia duga. Sebenarnya ini bukan masalah besar kalau saja bukan Shiota Nagisa yang menariknya menuju kafe seberang sekolah.
Tidak tidak, bukannya Karma merasa keberatan dengan pertemuan ini. Hanya saja, Nagisa terlihat aneh. Ia menyimpulkannya berdasarkan gerakan-gerakan Nagisa yang mencurigakan. Sikap dan tingkahnya hari ini perlu dipertanyakan. Karma tahu ada yang disembunyikan oleh pemuda berparas manis tersebut. Karena itulah, ia tidak menolak saat Nagisa memaksa untuk menemaninya meski hanya melepas penat.
Detik jarum jam terus terdengar, Karma menunggu Nagisa untuk berbicara. Tapi pemuda yang dimaksud sama sekali belum bersuara semenjak mereka sampai ke tempat itu lima belas menit yang lalu. Milkshake vanilla yang disediakan oleh pelayan saja diabaikannya, Karma bingung dengan tingkah Nagisa yang mengganggu atensinya.
"Nagisa-kun," Karma mengetuk jarinya ke meja sekali, dan itu berhasil. "Dalam rangka apa kau mengajakku kesini, hm?"
Shiota Nagisa melirik Karma yang merasa bosan. Ah, ia tahu bahwa perlakuannya ini mampu menggelitiki praduga Karma. Ia tahu, ia mengerti bahwa Karma mengkhawatirkannya. Ia merasa cemas, Nagisa tahu itu. Namun untuk pertama kali, si kuncir biru tak ingin menjawab jujur apa yang ditanya oleh sang surai merah.
Ini semua berawal dari peristiwa malam itu. Ketika Nagisa bertemu dengan Asano Gakushuu, sang ketua dewan nomor satu di OSIS. Segala perkataan yang dikatakan oleh orang itu mampu membuat Nagisa berpikir. Setiap hari, tiap malam ketika ia ingin tidur, pasti pernyataan Gakushuu yang begitu mutlak itu menggelitiki otaknya, menghantuinya dengan seringai mengerikan. Iris ungunya yang tidak berbohong, senyum palsunya yang pupus, serta sindiran khusus yang ditujukan untuk Nagisa dari Gakushuu. Semuanya nyata. Nagisa tidak yakin sudah berapa lama orang itu mengawasinya, bahkan demi apapun ia tidak pernah merasakan kehadiraan Gakushuu yang mengerikan.
Nagisa menghela napas.
"Ne, Karma-kun..."
"Hm?"
"Apa kau dekat dengan Asano-kun?"
Asano Gakushuu.
Sebuah nama yang sudah tidak asing di telinga Karma. Oh, bahkan ia sering melihat nama itu di daftar kejuaraan. Selama dua tahun terakhir, Akabane Karma dan Asano Gakushuu selalu bersaing untuk mendapatkan peringkat tertinggi di setiap ujian yang diselenggarakan oleh sekolah. Bahkan mereka tidak jarang melemparkan hinaan setiap bertemu di berbagai tempat. Nagisa mengetahui hal tersebut. Maka dari itu, ia bertanya pada Karma apakah memang ia dekat dengan Gakushuu atau tidak. Perlahan, Karma mendengus pelan. Ia menunjuk-nunjuk wajah Nagisa dengan sendok gelas milik kafe disana. "Kenapa tiba-tiba bertanya, Nagisa-kun?"
"Aku... hanya ingin tahu."
"Kalau kau ingin mengetahuinya, kami sangaatt dekat." Karma terkekeh janggal. "Saking dekatnya, aku ingin menyumpahinya seumur hidup, Nagisa-kun."
Karma tertawa iblis. Nagisa tersenyum miris.
"Sebenarnya bukan begitu..."
"Oh, lalu? Kau ada masalah dengannya?" Karma bertanya, wajahnya dimiringkan. "Kalau kau mau, aku bisa menghajarnya untukmu."
"I-Itu tidak perlu, Karma-kun." Menghela napas sebagai permulaan, Nagisa mengambil minuman yang tertera di meja dan menyedot isinya. "Aku 'kan hanya bertanya. Kalau kau sampai menghajarnya, kau akan di-skors lagi..."
Karma terkekeh. Ia mengambil kopinya. "Kau pikir aku peduli?"
Nagisa terdiam sesaat. Diam-diam ia menatap Karma yang sibuk menambahkan gula ke dalam kopinya. Iris tembaga itu membuatnya sedikit tenang. Segala sesuatu yang ada di dalam diri Karma membuat Nagisa terasa nyaman. Ia sadar, bila ada si surai merah disampingnya, maka semuanya akan baik-baik saja. Karma tidak akan meninggalkannya, Nagisa tahu itu. Karena itulah, ia bisa tenang untuk sekarang.
Ya, semuanya pasti akan baik-baik saja.
.
.
.
TORTURE
Ansatsu Kyoushitsu by Matsui Yuusei
Torture by stillewolfie
[Gakushuu & Nagisa & Karma]
OOC, AU, yaoi, typo, etc.
rating mature teens untuk adegan kekerasan yang implisit
—challenge: kucing, penguntit, vodoo, dan cinta pertama—
.
.
SECTION TWO
(Catastrophe)
.
.
Lagi-lagi, Karma mendengus kesal. Wajahnya terlihat tidak senang, dan bibirnya terus berkomat-kamit tidak jelas. Pemuda yang termasuk jajaran orang populer itu sedang kesal dengan orang tua yang duduk di meja kehormatan. Berkali-kali ia menarik napas dan menghembuskannya kasar, menandakan bahwa ia benci melihat salah satu guru di sekolahnya mulai bertindak.
"Kau ketahuan membolos kemarin. Benar begitu, Akabane-san?" Karma bersumpah ia tidak akan sudi namanya disebut oleh mulut kotornya. Melihat wajahnya saja sudah membuat pemuda itu teringat oleh seseorang. Ia memutar bola mata, dan menatap nyalang kedua manik gelap milik sang kepala sekolah. "Aku tahu kau pintar, tapi hal itu tidak cukup untuk membuatmu bertindak seenaknya."
"Lalu kenapa? Kau ingin menghukumku lagi?" Karma menjawab dengan nada datar, meski ada nada tidak suka yang ia keluarkan. "Lakukan sesukamu, pak tua. Aku tidak peduli lagi dengan semua ini."
Asano Gakuho menghela napas. Ia sudah lelah dihina seperti itu oleh anak didiknya. Sikap lawanan yang diberikan Karma padanya mengingatkan dirinya akan seseorang. Namun sayangnya, status Karma lebih rendah dibandingkan anaknya. Membuat Gakuho harus menahan sikap dinginnya terhadap anak itu.
"Aku hanya memberikan peringatan padamu kali ini, Akabane-san." Gakuho telah membuat keputusan. Ia akan mengampuninya. "Tapi kalau kau sampai melakukannya lagi, aku tidak segan-segan akan memanggil orang tuamu untuk mendiskusikan sikapmu di sekolah ini."
Akabane Karma lagi-lagi terlihat meremehkan. Ia menaikkan bahunya asal. "Ya, terserah apa katamu." Karma berbalik, melangkah dengan gaya khasnya dan berniat pergi dari ruangan itu. "Sudah kubilang, mereka tidak akan peduli." Dan ia pun pergi.
Pria paruh baya yang merupakan jelmaan tua dari Asano Gakushuu itu menghela napas lelah. Ia bingung apa tindakan yang harus dilakukan untuk ke depannya. Akabane Karma merupakan salah satu siswa bermasalah yang ada di Kunugigaoka. Tapi prestasi anak itu tidaklah sembarangan. Meski nakal, Karma merupakan siswa terpintar setelah anaknya. Itu merupakan suatu penghalang besar bagi Gakuho untuk mengeluarkannya dari sekolah.
Akabane Karma tidak bisa diremehkan.
Ia pun menghela napasnya pelan.
.
.
~ challenge: torture ~
.
.
Satu minggu sudah terlewat semenjak hari itu. Jam istirahat baru dimulai, dengan perasaan tenang Shiota Nagisa membereskan buku-bukunya yang sempat berantakan di atas meja. Ia pun berdiri dan menyapa pelan teman-temannya yang masih berniat tinggal di kelas. Pemuda itu keluar sembari membawa dua bento; untuknya dan untuk Karma.
Dalam hati, Nagisa bersyukur. Ia senang ternyata kami-sama masih menyayanginya, sehingga membuat pemuda itu tak lagi terkena masalah. Meski berada di dalam sekolah, Nagisa jarang bertemu dengan Gakushuu. Walaupun ia adalah salah satu dewan OSIS yang sangat sibuk, bukan berarti Nagisa tidak akan pernah bertemu dengan pemuda berkedok sial itu.
Langkahnya begitu ringan, senandung ia lantunkan. Hari ini ia memasak bekal lebih, membuat Nagisa berpikir ia akan membagi hasil kerja kerasnya itu dengan Karma. Mereka sudah berjanji akan bertemu di atap sekolah, tempat kesukaan Karma bila ingin membolos pelajaran. Hanya saja, sepertinya si surai merah sedikit terlambat mengingat panggilan kepala sekolah yang diumumkan tak lama sebelum jam pelajaran pertama dimulai. Nagisa sudah bisa menebak mereka tengah membicarakan tingkah Karma yang lagi-lagi kurang sesuai.
Namun, ketika ingin menaiki tangga atap, matanya tak bisa mencegah satu sosok yang begitu mencolok di tengah kerumunan. Nagisa tersentak, tubuhnya kaku seketika, segala ingatan masa lalu berputar di otaknya. Seringai mengerikan, mata yang tajam, serta perkataan itu tiba-tiba merasukinya ketika iris biru itu memantulkan sesosok manusia yang tidak ingin ditemuinya.
Asano Gakushuu beserta kroni-kroninya sedang berjalan kearahnya. Otomatis, tatapan mereka pun bertemu. Iris ungu yang datar menatap manik biru yang membulat takut. Setelah satu minggu, mereka kembali bertatapan, di lorong sekolah yang menghubungkan atap dengan lantai kelas. Nagisa menahan napasnya saat ia melihat ukiran senyum Gakushuu yang terlihat mencurigakan. Pemuda mungil itu lantas mengambil tindakan, ia mencoba untuk berjalan di sisi lain dan melewati gerombolan yang terlihat sibuk satu sama lain itu.
Namun, saat ingin melewati Gakushuu, tiba-tiba bahu Nagisa terasa berat. Kepalanya pusing mendadak. Ia bisa saja terjatuh bila tidak mengingat segala sesuatu yang ada. Menghela napas dan membulatkan tekad, Nagisa kembali berjalan dan menjauhkan diri dari Asano Gakushuu yang terlihat biasa saja.
Di saat itulah, firasat janggal mulai datang.
Bahwa semuanya tidak berjalan sesuai dengan keinginannya.
.
.
~ challenge: torture ~
.
.
Budi Pekerti adalah salah satu kelas paling akhir pada hari Senin sore itu. Kelas tersebut bukanlah kelas populer karena memang bukan mata pelajaran wajib dan tidak begitu berpengaruh pada nilai rapot. Murid-murid yang biasanya mengikuti pelajaran itu biasanya merupakan golongan siswa yang kelewat rajin dan terlalu religius. Namun, masalahnya adalah salah satu murid tersebut adalah Shiota Nagisa, siswa berpenampilan rapi dan terlalu cantik untuk ukuran laki-laki itu mengikuti pelajaran ini; membuat Karma mau tak mau harus meninggalkannya ketika jam pelajaran wajib resmi selesai. Oh ayolah, meski si surai merah berniat menunggunya di atap sekolah—untuk tidur tentunya—Nagisa tak mau merepotkannya. Karena itulah, setelah semuanya bubar dan berniat pulang, Nagisa melangkah sendirian ke ruang loker kepunyaan. Ia ingin mengambil buku-bukunya yang akan dipelajari nanti malam.
Saat itu sudah pukul enam tepat. Semua murid sudah pulang dan tinggal Nagisa-lah yang tinggal di tempat itu. Langkahnya menggema seiring dengan lampu koridor yang menyala di atap-atap ruangan. Nagisa yakin tinggal dirinya dan petugas bersih-bersih yang setiap hari membereskan sekolah waktu itu. Semburat kejinggaan dapat ia lihat dari jendela bening yang tertera di lantai pertama. Akhirnya, Nagisa sampai di tempat jejeran loker berada. Ia menghela napasnya sejenak dan tersenyum.
Setelah jam istirahat dan waktunya berduaan dengan Karma berakhir, Nagisa masih memikirkan segala peristiwa yang terjadi antara dirinya dengan ketua dewan. Sepertinya Gakushuu tidak berniat mengumbar rahasia terbesarnya itu, mengingat satu minggu terakhir tenang-tenang saja, tidak ada sindiran ataupun olokan menjijikkan yang ditujukan untuk dirinya. Bahkan Karma baik-baik saja, ia jahil seperti biasa—menandakan kalau semuanya masih terjadi pada umumnya.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, benar—
Nagisa membuka pintu lokernya.
—'kan...?
Darah pun seolah langsung hilang di wajahnya.
Nagisa mundur; selangkah, dua langkah. Matanya terpaku pada isi yang ada di dalam loker kepunyaan. Pupilnya yang besar itu perlahan mengecil, wajahnya pucat, dan bibirnya gemetar. Ia tidak berkata apa-apa, Nagisa terlalu syok dengan isi yang ada di dalam loker tersebut. Tas sekolah yang awalnya ia pegang langsung terjatuh, disusul dengan tangannya yang gemetar hebat. Ia tidak mengerti. Sungguh, apa yang terjadi—
"A-a-a—" Seluruh tubuhnya berkeringat, bergetar, dan ia pun terjatuh. Tanpa aba-aba, air matanya mengalir. "AAAAAAAAAAAAAAA!"
Nagisa menjerit kencang, seolah ia baru saja mendapatkan suatu kabar yang mengerikan. Imej laki-lakinya langsung pupus ketika merasakan tangisan deras yang mengalir di kedua pipinya. Ia menggeleng-geleng keras, berharap pemandangan yang barusan ia lihat hanyalah suatu ilusi belaka. Hanya saja, itu nyata. Nagisa yakin ia bukan berdelusi semata. Semuanya terlihat jelas tadi. Karena itulah, suatu fakta menandakan bahwa darisitu kehidupan Nagisa mulai berubah menjadi malapetaka.
Disana, di lokernya, terdapat bangkai ayam berbulu cokelat kemerahan, lehernya patah dan darahnya mengalir di sepanjang ruang loker Nagisa. Darahnya mengotori semua buku pelajaran yang ada serta kotak bento yang ia makan bersama Karma tadi siang. Ditambah lagi, di dekat bangkai ayam tersebut terdapat suatu boneka vodoo yang cukup kotor. Bentuknya berupa sosok yang sangat Nagisa kenal. Boneka tersebut dibentuk berdasarkan rupa seseorang yang tak pernah disangkanya. Boneka vodoo itu berbentuk seperti pria, dengan rambut sebahu yang terbuat dari kain wol berwarna merah. Matanya terbuat dari manik-manik berwarna kuning emas.
Nagisa yakin, itu Karma.
Bukannya mereda, tangisan Nagisa malah mengencang. Untuk pertama kalinya semenjak ia memasuki masa SMA, ia bisa menangis sekencang itu. Terakhir ia menangis dan menjerit seperti itu sewaktu mendengar perceraian ibu dan ayahnya saat dirinya masih kecil. Hal tersebut membuat emosinya semakin meluap dan air matanya pun semakin deras.
Ia berharap ada seseorang. Karma—Nagisa membutuhkan Karma.
Hanya saja, tubuhnya terlalu kaku untuk bergerak. Mengambil ponselnya saja ia tidak bisa.
Dalam kesunyian, Nagisa terdiam—tangisannya sama sekali belum mereda.
Salahnya apa? Siapa yang berbuat sekejam ini padanya? Apa dosa yang ia perbuat di masa lalu hingga mendapatkan balasan yang menyakitkan?
Nagisa terus menangis di tempatnya sampai bau amis dari bangkai ayam menusuk hidungnya dan membuatnya muntah.
.
.
~ challenge: torture ~
.
.
Entah kenapa, Karma mendadak sial.
Malam itu ia berencana untuk mengajak Nagisa makan malam diluar. Ia bosan di rumah, orang tuanya pergi entah kemana, namun ia tidak memedulikan itu semua. Saat ia sudah menamatkan game poker yang ia beli tadi siang, tiba-tiba Karma merasa kesal. Ia sebal karena sampai sekarang Nagisa belum menghubunginya. Biasanya kalau sepulang sekolah, sahabatnya itu akan memberikan pesan mengenai kepulangannya dan bertanya sedang apa Karma di rumah.
Tapi khusus untuk malam ini, tidak ada pesan; tidak ada tanda perhatian yang dibuat Nagisa untuk Karma.
Dan tiba-tiba si surai merah marah karena tindakan bodoh yang dibuat oleh si biru muda.
Karena itulah, sejak pukul sembilan tadi Karma terus saja menghubungi Nagisa melalui video call ataupun email. Semua tidak dibalas, maka kesalnya Karma bertambah. Ia terganggu dan itu membuatnya marah. Nagisa belum pernah seceroboh itu. Oh, bukannya ia ingin diminta perhatian, hanya saja malam ini dirinya sangatlah bosan.
Sekarang pemuda itu uring-uringan, memeluk gulingnya dan menenggelamkan kepalanya pada bantal itu. Bibirnya bergumam-gumam tak jelas, namun itu menandakan betapa rindunya Karma pada Nagisa sekarang. Ingin menelepon ke rumahnya, tapi dulu Nagisa pernah mengatakan tidak perlu menghubungi telepon rumah keluarganya. Ingin menolak, tapi sahabatnya itu berani mengancam Karma sekali-kali bila ia melakukannya, maka Nagisa tidak akan memasak bento lagi untuknya.
Apakah ini 'karma' dari segala tingkah menyebalkan Karma? Oh, itu sungguh mengejutkan.
Terkadang ia tidak menyukai namanya yang memiliki arti ganda itu.
Trrrt...
Getaran ponsel terasa. Karma membulatkan mata. Lantas tubuhnya langsung terlonjak, terduduk dan memegang ponselnya erat-erat. Ia segera membuka pesan multimedia yang dikirim dari nomor sang sahabat, Nagisa. Bernapas lega dan ia pun membukanya. Namun, bibirnya langsung mengatup dan perlahan, pupil emasnya yang besar mengecil.
Pesan yang dikirim beberapa detik yang lalu itu menampakkan sebuah gambar. Gambar yang berisikan tentang seseorang yang sangat Karma kenal. Sesosok yang teronggok lemas di lantai, dengan wajah pucat serta air mata masih mengalir di kedua pipinya. Karma bersumpah, ia mengenalnya. Surai birunya terlihat jelas, kelopaknya menutup, dan tubuhnya yang kecil itu diikat menggunakan tali tambang.
Itu Shiota Nagisa, sahabatnya.
"Apa—" Gemetar, Karma membanting ponselnya ke kasur. Ia berdiri dan beranjak pergi dari kamar. "BRENGSEK!"
Tanpa aba-aba, Karma segala keluar rumah. Berlari tanpa arah untuk menemukan objek yang baru dilihatnya.
.
.
~ challenge: torture ~
.
.
Nagisa's POV
Perlahan, aku membuka mataku. Yang kudapati hanyalah sebuah ruangan kotor dengan berbagai barang teronggok lemas di setiap sudut. Kepalaku pusing, seolah ada benda keras yang menumpuk di atas kepalaku. Apa yang terjadi? Bagaimana aku bisa disini—
Trank.
Suara besi itu lantas membuatku terdiam. Aku menolehkan kepala, dan hanya bisa membeku ketika mendapati sebuah rantai berkarat telah mengunci pergerakanku. Aku tidak mengerti. Kaki dan tanganku dikunci, aku tidak bisa bergerak bebas. Hal itu membuatku terdiam dan berpikir sejenak. Aku mencoba untuk menggali segala hal yang telah kuperbuat hari itu.
Budi Pekerti, loker, bang—
Ah.
Aku mengerti sekarang.
Aku baru ingat, aku telah menemukan mimpi burukku yang pertama. Mendapatkan bangkai ayam serta boneka mengandung sial tentu sangat tidak menyenangkan. Akhirnya, aku mengerti bagaimana rupa perasaan itu. Bahkan aku menangis dan mempermalukan diriku sendiri, itu sudah cukup memberikan arti bahwa semuanya bukanlah mimpi.
"Oh, sudah bangun?"
Aku mendengar suara.
Suaranya terkesan lembut namun dibuat-buat. Ruangan itu gelap, namun masih ada penerangan dari bulan yang menyempil masuk melalui jendela. Aku terdiam, menebak, dan berpikir. Langkah kaki semakin mendekat dan aku yakin dialah yang membuatku seperti ini. Menarik napas sebagai permulaan, aku pun menatap ke depan, menanti seseorang yang akan datang.
Tiba-tiba, seekor kucing memunculkan eksistensinya. Iris merahnya mengingatkanku akan suatu hal. Dan disanalah, aku terdiam. Aku langsung menebak siapa gerangan manusia yang berjalan dibelakangnya. Kucing sialan itu menggerakkan ekor, menatapku dengan tatapan polosnya. Oh, ia seperti mengejekku. Mata merahnya itu mengatakan semuanya padaku. Dan di detik setelahnya, barulah aku mendongak, menatap seseorang yang berdiri di depanku dengan wajah hangat, seolah dirinya tidak mengerti apa-apa.
"Selamat malam, Nagisa-kun."
Aku diam saja. Tapi bibir ini tak tahan untuk bicara.
Aku harus melawannya.
Aku tidak mau terlihat lemah.
Aku tidak mau kalah di depan orang seperti dia!
"Selamat malam—" Kukeluarkan segala keberanianku. "—Asano-kun."
.
.
.
Normal POV
Karma terus berlari tanpa arah.
Seiring dengan gerakan atletiknya, ia menyumpah-nyumpah. Mulutnya berkata kotor dan berkomat-kamit siapa orang tolol yang mengirimkan gambar itu kepadanya. Karma bersumpah, ia akan membunuhnya dengan segera. Menyiksa orang itu dengan tangannya dan menendang kepalanya menggunakan kakinya sampai mati. Ya, sampai mati.
Untuk pertama kalinya, Karma merasa marah.
Marah dalam artian berbeda.
Situasinya kali ini mendesak. Karma bahkan tak tahu dimana letak Nagisa sekarang. Ia bahkan bingung sedang berlari kemana. Hanya saja, kali ini pemuda bersurai merah itu mengandalkan instingnya. Karena itulah, ia berlari, mengandalkan kakinya dimana ujung akhirnya nanti. Nagisa telah disekap diluar sana dan Karma membiarkan pertahanannya lemah. Seharusnya ia membantah perintah Nagisa untuk pulang duluan sore tadi. Mungkin bila Karma tetap bertahan, maka semuanya tidak akan terjadi seperti ini.
"Hhh..."
Karma menarik napas. Ia pun menatap bangunan yang ada di depannya. SMA Kunugigaoka terlihat megah meski dalam kegelapan. Akhirnya, pria itu berdiri tegap. Melangkahkan kakinya memasuki area sekolah yang sudah sepi.
Terakhir bertemu Nagisa adalah disini. Di depan ruang kelas, tepatnya. Karma terdiam dan matanya menyalang tajam, emosinya meluap dan dirinya pun merasa marah. Siapa yang berniat mengganggunya? Siapa orang kelewat bodoh yang sudah mengganggu kehidupan pribadinya?
Siapa orang yang tega menculik Nagisa-nya!?
BRAKH!
"KELUARLAH, BRENGSEK!" Iris tembaga itu menyala, mengundang energi negatif di sekitar Karma. Pemuda itu telah menendang paksa pintu utama gedung sekolah, namun ia sama sekali tidak memperdulikannya.
Melangkah mendekat, ia berhenti di tengah-tengah. Mata Karma menjelajah, meneliti setiap sudut yang ada disana.
"Hoo... sudah datang rupanya."
Karma melotot. Ia menoleh ke belakang.
"..."
Tidak ada siapa-siapa.
'Tenang. Yang kau butuhkan adalah tenang, Karma. Jangan buat si tolol itu senang karena kebodohanmu. Berpikir dan berpikir, apa yang harus kau lakukan. Temukan Nagi, selamatkan dia, dan bunuh orang yang sudah membuat permasalahan ini. Kau—'
"Kau terlalu banyak berpikir, Akabane-kun."
BUAGH!
Terlambat.
Sebelum Karma menyadarinya, orang itu langsung melangkah di saat dirinya lengah.
Brukh!
Yang terakhir dilihat Karma adalah gelap; yang menunjukkan secara langsung bahwa ia kalah di detik itu juga.
.
.
~ challenge: torture ~
.
.
Di tengah gelapnya malam, Nagisa hanya menatap mata violet Gakushuu dengan pandangan datar. Tapi ia tahu, laki-laki mungil yang sedang ia kunci itu takut. Ya, Nagisa ketakutan. Gakushuu menyadarinya. Karena itulah, ia akan membuat permainan ini akan semakin menarik perhatian.
"Bagaimana perasaanmu? Apa sudah membaik?"
"Tidak kalau kau melakukan semua ini padaku, Asano-kun." Ingatan Nagisa terlempar pada semua peristiwa beberapa jam yang lalu. "Kenapa kau melakukan semua itu?"
"Tidak ada yang khusus," Gakushuu mengendikkan bahu. "Aku hanya bermain, itu saja."
"Denganku?"
Asano Gakushuu tak menjawab. Pakaian seragamnya sudah berantakan, tidak mencerminkan siswa nomor satu di sekolah. Nagisa hanya bisa terdiam, menatap semuanya dengan pandangan hampa. Ia bisa apa? Dengan tangan terkunci oleh besi seperti ini, pemuda itu tak bisa melawan. Kalaupun bebas, Nagisa yakin ia tidak akan bisa mengalahkan Gakushuu.
Pria keturunan tunggal Asano itu melangkah dan memperpendek jarak. Ia berjongkok tepat di hadapan Nagisa, kemudian menjentikkan jarinya. Di saat itulah, suara debukan pelan dibelakang mampu membuat atensi Nagisa teralih.
Lagi-lagi, matanya membulat.
Tangannya yang dirantai pun lantas bergetar.
"Tidak hanya denganmu, Nagisa-kun." Gakushuu tersenyum manis. "Tapi dengan kalian berdua."
Sudah pasti dengan dirinya dan Karma.
.
.
~ challenge: torture ~
.
.
Ia dapat merasakan lehernya yang pegal karena telah lama berada di posisi yang tidak nyaman. Ia mencoba untuk membuka matanya yang berat. Tapi, saat ia ingin menyingkirkan helaian poni yang menghalangi pandangannya, tiba-tiba dirinya langsung tersentak.
Di detik ini, Akabane Karma baru sadar bahwa tangannya tidak bisa digerakkan karena diikat bersama senderan kayu tempatnya terduduk.
"K-Karma-kun..."
Umpatan ia tahan, lantas Karma menghadap depan.
Di depan matanya, terdapat seonggok manusia yang hampir bernasib sama dengannya—terduduk lemas dibaluti oleh rantai yang mengunci pergerakan. Iris tembaga Karma membulat, ia pun coba bergerak meski hal tersebut gagal. "N-Nagi! Apa yang kau lakukan—"
"Hee... Nagi, huh?" Karma menghentikan ucapannya. Suara asing yang sangat familiar. "Panggilan yang bagus, Akabane-kun."
Melihat Nagisa yang terikat, merasakan situasinya, akhirnya Karma benar-benar sadar.
"Ternyata kau—" Karma menolehkan kepala. Memberikan tatapan paling tajam untuk sosok yang melangkah dibelakangnya. "—Asano!"
"Oh, selamat malam untuk kalian berdua." Asano Gakushuu mengabaikan umpatan Karma. Ia sibuk memainkan pisau lipat di tangan. "Apa aku mengganggu tidurmu, Akabane-kun? Tapi aku harus melakukan itu, kalau tidak Nagisa-kun akan menangis lho."
"Aku tidak butuh pendapatmu, brengsek."
"Maafkan aku kalau begitu."
Gakushuu terkekeh, Karma menatapnya seolah ia adalah orang terbrengsek, sedangkan Nagisa hanya terdiam. Si surai langit tiba-tiba membayangkan boneka vodoo yang ia temukan di lokernya. Boneka vodoo yang mengerikan, boneka hasil jiplakan dari Karma.
Ia meneguk ludah.
Firasat itu semakin membesar.
"Nah," Asano Gakushuu mulai menunjukkan taringnya. Ia melangkah kearah Nagisa dan hal itu mampu membuat bola mata Karma membulat. "Apa yang harus kulakukan dengan sahabat tercintamu ini, ne, Akabane-kun?"
Karma menggeram.
'Ikatannya kuat sekali...'
"Kalau kau berani menyentuhnya, aku akan membunuhmu!"
Gakushuu tertawa, tentu saja ia mengabaikan gertakan Karma. Memang dalam keadaan terikat keras seperti itu, bahkan iblis seperti Karma akan kewalahan. Gakushuu yakin dengan instingnya. Perhitungannya tak pernah salah; karena setiap orang pasti ada kelemahan, 'kan?
Karma termasuk salah satunya.
Bongkahan tali yang sedari tadi dipegang oleh Gakushuu tiba-tiba menunjukkan eksistensinya. Gakushuu menatap Nagisa yang sudah gemetar ketakutan. Di tengah sinar rembulan, mata itu sangat mengerikan.
"Kau ingin bagian mana, Nagisa-kun?"
"...Eh?"
Ia tidak mengerti.
CTAR!
Kedua manik Karma membulat.
CTAR!
"G-GYAAA!"
"NAGI!" Karma tidak tahan. Ini sudah kelewatan. Beraninya orang itu mencambuk Nagisa! "LEPASKAN DIA, BRENGSEK!"
Dan sayangnya, Gakushuu seolah tuli dengan teriakan Karma.
CTAR!
"A-AH!"
CTAR! CTAR!
"SAKIT! K-KARMA-KUN!"
CTAR!
"ASANO, STOP! HENTIKAAAAN!"
Semuanya terjadi. Antara Gakushuu yang tertawa, Karma yang berteriak, dan Nagisa yang mengerang kesakitan. Berbagai emosi sangat terlihat disana. Tali cambuk itu bergerak, menghantam dan membuat bekas luka parah di tubuh Nagisa yang sudah hampir sekarat. Tapi disana, Karma hanya terdiam dan tidak melakukan apa-apa.
Keterlaluan. Ini sungguh diluar perkiraan.
"ASANO, DENGARKAN AKU! LEPASKAN NAGISA, BRENGSEK!"
Mungkin sudah belasan kali teriakan Karma yang tidak dipedulikan oleh Gakushuu. Namun khusus untuk teriakan itu, ia menelengkan kepala pada sang surai merah; memamerkan senyum palsunya yang mengerikan.
"Meski aku mendengarmu, aku tidak akan melakukannya." Tanpa memedulikan Nagisa yang sudah seperempat sadar, Gakushuu menarik kunciran pemuda itu dan membuat wajah cantiknya mengadah; Gakushuu menatap wajah Nagisa yang sudah dipenuhi oleh keringat serta air mata. "Kau tahu, Akabane-kun? Ini baru permulaan, lho."
Apa?
Karma tak tahu harus berbuat apa ketika tangan Gakushuu mulai bergerak. Ia menjambak rambut Nagisa kasar hingga kuncirannya terlepas. Tangannya yang lain membuka pakaian pemuda sang surai biru muda. Karma pun hanya terdiam, sampai-sampai ia sadar apa yang akan dilakukan Gakushuu selanjutnya.
"Kau—"
Asano Gakushuu tersenyum puas.
Nagisa yang pasrah pun hanya bisa menutup kedua mata.
Karma terdiam disana, teronggok lemas tak berdaya; namun matanya tersirat penuh kemarahan.
"ASANO!"
"Kenapa kau harus marah-marah, Akabane-kun?" Kancing terakhir terlepas, memperlihatkan kulit putih Nagisa yang tak bercela. "Apa yang kulakukan pada Nagisa-kun sama sekali bukan urusanmu."
Perkataan itu mampu membuat dada Karma terasa sesak—
—melihat kemenangan jelas di depan mata, Gakushuu tersenyum lebar.
.
.
"Selamat menikmati pertunjukan kami, Akabane-kun."
.
.
continued
.
.
little notes:
tolong jangan salah sangka, tunggu aja kelanjutannya besok ya. :'3
.
.
super thanks:
SheraYuki, Neko-chan, mochiizuki, RallFrececss, Akaba Shinra.
.
.
glosarium
torture: siksaan — section: bagian — catastrophe: malapetaka
.
.
Terima kasih sudah membaca!
Mind to Review? :)
