Normal POV

Sewaktu kecil, Karma menganggap Nagisa adalah orang aneh.

Saat itu, mereka bertemu. Di suatu sekolah dasar yang lumayan terkemuka di tengah kota. Di suatu siang yang terik di pertengahan musim semi, kedua iris emas yang bercahaya itu mulai bertatapan dengan sepasang manik secerah langit. Akabane Karma, bocah berumur sebelas tahun mengadah, memandangi calon teman kelasnya yang memiliki rambut serta mata yang kurang masuk di akal.

"Nee, minna-san." Yukimura Aguri, wali kelas mereka, bertepuk tangan seolah baru mendapatkan hadiah yang luar biasa. Manik hitamnya berbinar saat ia melihat anak didiknya duduk manis dihadapannya. "Hari ini kalian bertemu murid baru, lho." Ia tahu, mereka terlihat bingung. "Nah. Shiota-kun, coba perkenalkan dirimu."

Si kecil Karma yang duduk malas di tengah meja pun terlihat tidak tertarik. Ia tengah sibuk memikirkan rencana-rencana jahil yang akan ia gunakan untuk mengerjai teman-temannya yang lain. Terlihat di loker anak itu, terdapat beberapa cacing serta siput yang bergerak-gerak mungil.

"A-Ano," Cicitan menggema. Anak berbadan kecil, berambut biru langit, serta matanya yang sibuk memelototi teman-temannya yang menanti. Bahkan dalam suaranya sekalipun, Karma mengetahui bahwa anak tersebut terdengar gugup. "S-Shiota Nagisa desu. Yoroshiku o-onegaishimasu!"

Perkenalan singkat namun langsung pada intinya. Karma dapat mendengar kekehan lembut yang berasal dari wali kelasnya. Ah, jangan berpikir Karma langsung tertarik begitu saja, bocah berambut merah itu bahkan terlalu sibuk bermain dengan teman-teman kecilnya; lipan yang bergerak-gerak imut sulit untuk diabaikan.

"Akabane-kun," Suara wanita memanggilnya. Malas-malasan, Karma menatap. "Mulai hari ini, Shiota Nagisa-kun duduk disampingmu. Perlakukan dia dengan baik, ya?"

Dan seketika, aura mencekam langsung menguasai seluruh kelas.

"Hoo..." Pikiran Karma langsung pecah. Iblis langsung merasuki hati serta otaknya. Seluruh teman-teman di kelas meneguk ludah, mereka mengerti apa yang dipikirkan oleh si bocah Akabane sekarang. "Tentu, sensei. Aku akan menjadi teman yang sangat baik~"

Entah ini Aguri yang terlalu polos atau apa, ia sama sekali tidak merasakan aura menusuk yang ditujukan untuk dirinya. "Aaah, baiklah. Ne, ne Nagisa-kun! Silahkan duduk di kursi barumu."

"Ha'i," Si kecil Nagisa diam-diam berdoa, semoga tahun ajarannya di kota ini bisa ia lalui dengan baik. "Arigatou, sensei..."

Perlahan, si surai biru muda mulai melangkahkan kakinya; mendekati meja di sebelah Karma. Nagisa duduk dan ia tahu Karma memperhatikannya. Saat Aguri mulai mengajar, barulah si biru muda membalas tatapannya. Bocah sebelas tahun itu saling melempar pandangan; yang satu dengan seringai andalan, yang satu lagi dengan wajah tak minat.

"Yoroshiku ne, Shiota-kun." Karma tersenyum, matanya menyipit.

Nagisa menatap tangannya sejenak, dan ia pun tersenyum. "Yoroshi—"

Sret.

Karma mengubah senyumnya. Nagisa terdiam.

Tetesan darah perlahan mulai turun dari jemarinya, dan hal itu membuat si biru muda langsung mengecilkan pupilnya. Ringisan terdengar, teriakan meredam, dan rasa sakit langsung melanda.

Perlahan, manik Nagisa bergulir kearah tangan Karma yang baru disentuhnya. Ternyata, di salah satu jemari bocah itu terdapat sebuah paku yang masih baru, terselip baik sehingga Nagisa tak menangkap jejaknya. Sang korban pun hanya terdiam, menatap nanar berbagai tetesan darah yang jatuh di celananya.

Padahal ibunya baru membelinya kemarin.

"..."

Kalau ibunya tahu, apa yang akan terjadi?

"A-Akabane-kun—" Padahal, Nagisa sudah membulatkan tekad untuk mewarnai kehidupan sekolahnya dengan senyuman. Berteman baik dengan orang-orang sebayanya. Hanya saja, belum saja ia berinteraksi sosial, Nagisa sudah mendapatkan masalah besar dengan teman sebangkunya. "—kau j-jahat..."

Itu hanyalah sekelebat memori yang berisikan pertemuan Karma dengan Nagisa.

Delusi itu mulai menghilang, menghilang, dan langsung pecah; digantikan dengan pemandangan tragis yang ada di hadapannya. Bibir Karma mengatup, bergetar, dan terus berteriak-teriak. Ia memberontak. Karma terus menggerak-gerakkan tangan agar tali yang melilitnya bisa terlepas. Tapi untuk sementara, ia rasa usahanya gagal.

CTAR!

"UAH!"

Untuk pertama kalinya, Karma merasa dirinya adalah orang paling tolol di dunia.

Kini, Karma terduduk, melotot melihat peristiwa yang dialami oleh sang sahabat. Disana, tak jauh darinya, terlihat Shiota Nagisa yang meringkuk kesakitan. Kedua tangan dan kaki dikunci oleh belitan besi, dan hal itu membuat si biru muda tak berkutik. Nagisa terus merasakan pukulan cambuk di seluruh tubuhnya; sedangkan Karma menatapnya dengan lirihan. Mereka berdua lemah; Karma lemah.

Ia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa sampai sekarang.

"Selamat menikmati pertunjukan kami, Akabane-kun."

Bibir itu bergerak, mengucapkan kalimat yang mampu membuat jantung Karma seolah berhenti berdetak. Seiring tangan itu mulai membuka pakaian sahabatnya, perut si surai merah terasa ada yang bergejolak. Tubuhnya tak nyaman, emosi memuncak, urat-urat tak tentu langsung muncul di dahi Karma. Pemuda itu tidak menerima perlakuan Asano Gakushuu pada sahabatnya.

Nagisa yang telanjang dada, napas tersengal, serta mata yang menyipit lelah; pemandangan yang sungguh menggoda iman. Bila saja situasinya berbeda, mungkin Karma akan mencecokinya dengan berbagai hinaan mengapa Nagisa diciptakan seperti perempuan. Namun ketika melihat tangan kotor itu mulai menjelajahinya, si surai merah terlihat tidak terima.

"PERSETAN KAU, ASANO!" Tangan masih mencoba untuk membuka ikatan. "K-Kau... JANGAN PERNAH COBA UNTUK MENYENTUHNYA!"

Asano menahan senyum. Di pelukannya sudah ada Nagisa yang setengah sadar. Ia mendekatkan kepala pada leher Nagisa seiring dengan matanya menatap Karma. "Apa yang kau lakukan? Membunuhku?" Asano mendengus. "Bermimpilah terus, Akabane-kun."

"ASA—"

"Nee," Nagisa memekik. Ia merasakan sesuatu yang asing mulai menjelajahi lehernya. Asano menghirup aroma segar milik si biru muda. Dan disana, Karma sudah melotot marah. "Kenapa kau bisa semarah ini? Kau tidak suka dengan tindakanku?"

Asano terkekeh, satu kecupan berhasil membuat erangan Nagisa keluar.

"Kau menyukainya?"

Dan di saat itu juga, umpatan Karma berhenti.

"Ah, sudah kuduga." Pelukan dieratkan, Asano memandangi wajah Nagisa yang pucat namun masih ada rona malu disana. "Kenapa kau tidak mengatakannya pada Nagisa-kun? Padahal bila kau melakukan itu, peristiwa ini tidak akan terjadi."

Hah?

"Kau pengecut, Akabane-kun. Ingat itu di otakmu."

Karma terdiam, ia berhenti memberontak.

Entah mengapa ucapan itu membuatnya tersadar.

.

.

.

Nagisa's POV

Gelap, sakit, dan pusing.

Suara-suara aneh menusuk pendengaranku. Aku bingung dan tidak menangkap arti dari semua itu. Segalanya buram, aku tidak bisa melihat apa-apa. Tapi di antara semua warna hitam, ada sekelebat merah yang sangat kukenal. Ah, aku tahu; itu Karma-kun. Perlahan namun pasti, bayang-bayang itu terlihat jelas dan tubuhku terangkat.

Dan tiba-tiba, aku merasakan sebuah sentuhan.

Sentuhan itu terasa asing dan menggelikan; susah untuk mendeskripsikannya, hanya saja aku yakin itu sebuah organ. Ya, seperti decapan. Benda itu menggigit leherku, kemudian meninggalkan jejak cairan di sekitar rahang bawahku. T-Tunggu, ini tidak mungkin 'kan—

Butuh beberapa menit aku menyadari situasi. Dengan seluruh kemampuan aku mencoba membuka mata; dan tepat di depan sana, aku melihat Karma-kun... marah. Dia marah. Kenapa? Tunggu sebentar, ini sebenarnya ada apa!?

"Nagisa-kun."

Ah.

Aku mendongak ke bawah, dimana sudah ada Asano-kun memangku tubuhku. Aku memaku, menatap iris ungu yang terlihat mengerikan itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, seolah mata itu menghisap seluruh kekuatanku, membuat diriku terdiam dan tak berkutik dibawah kekuasaannya. Asano-kun tersenyum, dan hal itu membuat jantungku berdegup tak karuan.

"Apa yang kau lakukan, bodoh!?" Teriakan Karma-kun menggema, dan hal itu membuatku sadar. "CEPAT LARI!"

Aku meliriknya dalam diam. Karma-kun masih terikat, a-aku tidak bisa membiarkannya begitu saja! Kami harus pergi, pergi bersama-sama dan menjauhi tempat ini. Tapi aku yakin Asano-kun tidak akan membiarkannya, hal itu dibuktikan dengan kedua tangannya mencengkram milikku erat. Ah, aku baru sadar diriku telah berpindah tempat, otomatis rantai yang mengunci pergerakanku tadi terlepas. Ini merupakan kesempatan emas untukku agar pergi dari sini.

Hanya saja, ada satu masalah.

Meski aku sudah terlepas dari jeratan itu—

"Nah, apa yang akan kau lakukan selanjutnya... Nagisa-kun?"

—aku yakin orang ini tidak akan melepaskan genggamannya padaku.

.

.

.

TORTURE

Ansatsu Kyoushitsu by Matsui Yuusei

Torture by stillewolfie

[Gakushuu & Nagisa & Karma]

OOC, AU, yaoi, typo, etc.

—challenge: kucing, penguntit, vodoo, dan cinta pertama—

.

.

SECTION THREE

(Mortem)

.

.

Normal POV

Masih di situasi yang sama, keadaan semakin menegang ketika Karma melihat tangan nakal Gakushuu berada di tubuh Nagisa. Mata emasnya melotot tak percaya dan emosinya sudah berada di puncak tertinggi. Sedangkan Nagisa sendiri mengabaikan teriakan-teriakan Karma untuk lari. Pemuda itu terlalu berfokus pada mata Gakushuu yang seolah meneggelamkan dirinya ke sebuah lubang; dan hal itu membuat si surai langit merasakan tubuhnya sulit bergerak.

Sedangkan Asano sendiri, ia dapat merasakan gejolak bahagia ketika melihat mata biru itu hanya menatap dirinya seorang. Nagisa yang kini ada di pelukannya terlalu terpaku dengan ucapan-ucapan lembut yang dilantunkan kepadanya, seolah-olah itu adalah nyanyian tidur yang sangat memuaskan tubuh Nagisa. Karma yang disana bahkan mereka abaikan. Gakushuu terlalu terhanyut pada kecantikan yang diberikan oleh pemuda yang ia peluk, begitu pula sebaliknya; Nagisa terlalu terpaku pada iris violet Gakushuu yang memabukkan meski palsu.

Dan tiba-tiba saja, pikiran kotor itu semakin dikotori dengan rencana Gakushuu yang busuk.

"Nagisa-kun..." Kecupan di pipi tersampaikan, membuat Nagisa langsung tersentak. "Aku mencintaimu."

Dua kalimat yang langsung membuat tubuh Nagisa tersengat listrik. Gakushuu telah mengucapkan kata tabu yang mampu membuat Nagisa berandai-andai. Segala sesuatu yang ia lakukan sebelumnya mulai berputar di otak lelaki itu. Nagisa terdiam, irisnya mengecil kaku. Dan dengan segenap kekuatannya, ia mendorong dada bidang Gakushuu agar pelukan mereka terlepas.

Meski begitu, rencana Gakushuu berhasil; Nagisa terjebak.

Hubungan mereka terpisah, napas tersengal; Nagisa merasakan lantai ruangan yang dingin dan ingin beranjak berdiri. Hanya saja, rasa sakit yang luar biasa langsung menggerayangi tubuhnya, membuat pemuda itu terjatuh dan mengaduh. Punggungnya telah hancur karena cambukan Gakushuu yang keras sehingga membuatnya pingsan sementara tadi. Namun ketika di tengah bayang-bayang keabuan ia menangkap warna merah, seketika Nagisa langsung terdiam.

Mereka bertatapan.

Dan perasaan cinta itu kembali ada.

Seiring dengan napasnya yang memburu, Nagisa mencoba untuk bangkit dari posisinya sehingga ia dapat melihat Gakushuu yang menyeringai di pijakan lantai yang dingin. Ia tahu, ketua dewan itu tengah memikirkan sesuatu. Iris violet bersibobrok dengan iris biru langit, dan hal itu seketika membuat tubuh Nagisa kembali kaku dan terdiam di tempat, tapi tidak memungkiri bahwa ia sedang gemetar.

Karma dapat melihatnya—semuanya.

Bagaimana Nagisa mencoba untuk melawannya, mencoba melukai dirinya dengan menahan rasa mengerikan itu.

"NAGI!" Karma masih terus berteriak, ia ingin Nagisa segera sadar dan berniat pergi dari sana. Tapi sekarang, situasinya berbeda. Nagisa sudah terlanjur jatuh, pemuda itu tak bisa melawan; ia kalah. Ia sudah sampai pada batasnya.

Nagisa kalah.

"K-Karma-kun—" Langkahnya terseok, ucapannya lirih. Nagisa mencoba berdiri, tatapannya terkunci pada Karma yang terdiam dari jarak mereka yang seolah membentang jauh. "—aku t-takut..."

.

.

~ challenge: torture ~

.

.

Suara Nagisa membuat mata Karma terbuka lebar-lebar. Rasanya ingin meledak ketika mendengar suara sang surai biru muda—yang selalu bernadakan ceria tiap kali bersamanya—dapat digantikan dengan lirihan yang begitu menjebak hingga menjatuhkannya ke dalam kesedihan dan ketakutan mendalam.

Sebenarnya itu benar.

Nagisa ketakutan, ia butuh bantuannya.

Dan dirinya sendiri... tidak bisa berbuat apa-apa.

Di detik itu juga, Gakushuu mulai bergerak. Pelan-pelan ia melangkahkan kakinya, mendekati Nagisa yang merangkak menjauhinya. Pemuda itu tengah menangis, ia mencoba untuk menggapai Karma, namun gagal hingga digantikan dengan jeritan histeris yang memekikkan telinga saat tangan Gakushuu langsung menjambak rambutnya yang panjang, hingga tubuh kurus pemuda itu terangkat dan menghentikan langkahnya yang sedikit lagi mendekati Karma.

"Nagisa-kun hebat," Senyum itu berkembang. "Perlukah aku memberikanmu hadiah?"

Karma merasa sesuatu telah direncanakan. Itu bisa dilihat dari benda yang disembunyikan oleh Gakushuu dibalik kantongnya.

"NAGI! CEPAT LARI!" Karma kembali berteriak kencang. Ia tidak yakin teriakannya ini berguna atau tidak, namun ia berharap dengan begini Karma dapat menyelamatkan Nagisa. "NAGI!"

Benda itu semakin terlihat, sebuah belati telah muncul di tangan Gakushuu yang lain.

Karma langsung bergerak cepat, ia terus bergerak, memberontak, berharap tali yang membelit tangannya dapat terputus dengan mu—

Zrath!

Karma membelalakkan mata. Segera ia menolehkan kepala, mendapati salah satu tali yang membelenggu tangannya terputus. Dan di detik itu juga, Karma lupa bahwa ia memiliki otak. Matanya tertutup; ia berpikir, matanya menjelajahi setiap sudut ruangan penuh debu itu. Ia berhenti menatap sekeliling ketika pandangannya jatuh pada tiang besi yang teronggok lemas tak jauh darinya.

Ide muncul di tengah ketegangan.

.

.

~ challenge: torture ~

.

.

Jambakannya mengeras, Gakushuu tertawa. Nagisa yang melihatnya pun tak sanggup untuk menatap. Di dalam otaknya yang panas, Nagisa kembali membayangkan sosok Asano Gakushuu yang baik di mata semua orang. Ia perhatian dan bertanggung jawab; berbeda 360 derajat dengan apa yang ia lihat sekarang. Asano Gakushuu yang ia temui benar-benar bejat dan keterlaluan; hal itu dibuktikan dengan perlakuan keji yang orang itu lakukan pada Nagisa.

"Aaaah!" Ribuan helai biru itu ditarik, membuat kepala Nagisa pusing bukan main. Melawan tak bisa, membuat tubuh kurusnya terangkat tinggi. "L-LEPAS! SAKIT—"

"Nagisa-kun benar-benar cantik," Gakushuu terkekeh. "Aku tak tahan ingin menyakitimu, kau tahu?"

Sreth!

"AHH!

Jeritan panjang dan lolongan mengerikan itu menggema. Tengkuk Nagisa terkena goresan yang cukup dalam. Pemuda itu membulatkan mata dan tak kuasa menahan rasa sakit yang melanda. Nagisa berteriak. Ia tak tahan, ia ingin pergi, ia mau kabur dari sini!

Nagisa menangis meminta pertolongan.

Gakushuu tertawa penuh kemenangan.

Ini hanya awal—

BUAGH!

Lemparan keras yang terjadi membuat pegangan Gakushuu terlepas. Nagisa terjatuh dan pemuda berambut pirang terang itu mengerang kesakitan. Dahi Gakushuu berdarah akibat lemparan besi yang dilakukan oleh... Karma.

Nagisa langsung bernapas lega. Ia menatap Karma yang sudah setengah bebas dan Nagisa pun melangkah menuju pemuda itu dengan langkah tertatih.

"Karma-kun—"

"Apa yang kau lakukan!? PERGI!" Bukannya menyambut, Karma malah meneriaki Nagisa. Namun mengabaikannya, ia terus berjalan dan mendekati pemuda berambut merah itu. Wajahnya yang pucat serta dinodai darah seketika membuat Karma terdiam. Sebuah perjuangan keras Nagisa dari awal berhak diberi penghargaan.

Nagisa sendiri hanya bisa memandangi wajah sahabatnya dengan pandangan nanar. Ia tahu, firasat yang sedari awal hinggap patut tidak diabaikan. Ada sebuah pertanda di dalam dirinya bahwa perjuangannya disini butuh waktu lama. Demi Karma, demi dirinya, dan demi mereka, ia akan berjuang.

Dan Karma dapat melihat semuanya.

"Nagi, kau harus menuruti perintahku; pergi dan jang—"

Nagisa menggeleng lemah. "Tidak," Ia sampai tepat di hadapan Karma. "Aku akan melawannya."

Karma melotot. "HA!? Jangan bertindak bodoh, idiot! Kau—"

"Nee, Karma-kun." Nagisa tiba-tiba memotong. "Aku mencintaimu."

Karma bungkam. Matanya melebar tak percaya.

"Karena itu, aku akan mencoba; meski gagal sih, hahaha..." Nagisa terkekeh canggung. Meski linglung, ia berdiri dan mengambil pisau yang terjatuh ketika Gakushuu terlempar tadi. "Kalau aku berhasil, Karma-kun harus pergi."

"APA—"

"Wah wah..." Gakushuu bangkit. Ia menyeka darah yang sudah mengotori wajahnya. Seringai mengerikan itu kembali dikeluarkan, namun tak membuat Nagisa gentar. "Nagisa-kun ingin berlagak seperti pahlawan? Aku hargai itu." Gakushuu berdiri sempurna. "Kita lihat seberapa banyak kekuatanmu yang tersisa."

Dengan sebilah pisau, Nagisa menatap Gakushuu yang tersenyum memelototinya. Ia tahu bahwa pemuda itu sudah gila. Meski begitu, dalam hati Nagisa tak yakin ia bisa mengalahkan Gakushuu atau tidak. Melihat tenaganya telah terkuras habis akibat siksaan luar biasa yang diberikan Gakushuu padanya, itu merupakan salah satu hambatan yang membuat rencana Nagisa hampir gagal total.

Tapi tidak. Nagisa akan mencobanya; untuk menyelamatkan Karma.

Pisau yang ada di tangan dipegangnya erat, Nagisa berjalan pelan menuju Gakushuu yang seolah menyambutnya dengan tangan terbuka. Melangkah dan melangkah, jarak semakin menipis dan Gakushuu tersenyum puas. Seketika, Nagisa menggunakan insting dan langsung melancarkan serangan. Ia berfokus pada mata Gakushuu dan melayangkan pisaunya dengan kuat.

"—!"

"..."

Grep!

"AH!"

BRUKH!

Sebelum Nagisa bisa menusuk pisau itu ke lehernya, Gakushuu sudah bisa membaca pergerakannya. Dengan telak ia berhasil memelintir tangan kecil itu dan memutarbalikkan keadaan. Nagisa tercekat dan ia langsung merasakan nyeri luar biasa dari punggungnya. Ia berteriak kencang. Pemuda itu dapat merasakan sobekan keras menderu kulit tubuhnya hingga daging serta ototnya terlihat jelas.

Gagal.

"Gerakanmu terlalu lambat, Nagisa-kun." Mengunci pergerakan Nagisa seluruhnya, Gakushuu berbisik di telinganya. "Kau lemah. Bahkan kau tidak bisa menyelamatkan orang yang kau cintai. Benar-benar menyedihkan."

Merasa tubuh yang ada dibawahnya benar-benar lemas, barulah Gakushuu melepaskan pegangannya dan menendang kepala Nagisa hingga pemuda itu tengkurap di lantai. Situasinya benar-benar berada di penguasaan Gakushuu sekarang. Ia sudah berada di batas kemenangan dan usahanya akan mencapai final. Ia akan memberikan satu pelajaran yang tidak akan pernah Nagisa lupakan.

Belati kembali dikeluarkan.

Ini akan memancingnya, benar begitu?

"Selamat tinggal—" Gakushuu langsung menghindari serangan dari belakangnya. Ia terpana ketika melihat kepalan keras yang ditujukan untuk dirinya. Ia melangkah mundur dan menatap seorang pemuda berambut merah telah berdiri tegap, memelototinya dengan tatapan membunuh andalan. Asano Gakushuu tahu ia telah membangunkan iblis neraka ala Akabane Karma. Mereka melemparkan lirikan menyeramkan. Meski begitu, Gakushuu terlihat tenang dan malah membalas pandangan Karma dengan wajah tertantang. "Ini akan menjadi pengalaman yang luar biasa 'kan, Akabane-kun?"

"Diam atau kurobek mulutmu, bajingan." Aura negatif terkumpulkan, bahkan Nagisa yang terbaring bisa merasakannnya. "Aku... AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUHMU!"

.

.

.

Nagisa's POV

Untuk pertama kalinya, aku melihat Karma-kun semarah itu.

Mencoba untuk mendudukkan tubuhku, mengabaikan rasa sakit, aku kembali menatap punggungnya. Ia melindungiku lagi, huh? Ah, padahal aku yang dari awal ingin coba melindunginya meski sekali... tapi aku ini memang lemah, ya?

Sakit. Sakit sekali.

"Nagi," Karma-kun memanggil. Aku menundukkan kepalaku. "Pergi."

Aku menggeleng.

Kudengar ia berdecak. "Kenapa kau keras kepala sekali!?"

"T-Tidak..." Biarkan kali ini saja, aku berlaku sebagai perempuan. Kali ini saja, biarkan aku tetap disampingmu, Karma-kun. Aku tidak mau meninggalkanmu bersama Asano-kun. Aku takut, a-aku takut ada sesuatu yang terjadi padamu. Kembali, kunaikkan kepalaku dan menatap tubuhnya yang membelakangiku. "Ayo pergi bersama, K-Karma-kun..."

"Hhh..." Ia menarik napasnya pelan. Aku menutup mataku, takut. "Terserahlah."

Ya, terimakasih.

Aku dapat merasakan punggung Karma-kun menjauhiku. Perlahan namun pasti, ia meniru trikku saat melawan Asano-kun. Dalam diam, aku menatap tubuhnya itu menerjang Asano-kun. Begitu lincah dan di saat bersamaan... begitu kuat. Bila Asano-kun menyerang, Karma-kun akan menghindar dan memukul balasan telak. Pisau ia layangkan membabi-buta, bahkan kadang aku mendengar mereka berdua tertawa.

Aku bingung, dan juga aku... takut.

Aura membunuh terasa sekali dari mereka. Aku tahu mereka serius untuk membunuh satu sama lain. Merinding dan gemetar, aku hanya terdiam dan menonton mereka dengan kondisiku yang lemah. Apapun yang terjadi, aku tidak akan pergi. Aku akan menunggunya sampai semua mimpi buruk ini selesai.

Lagi-lagi aku menangis.

Aku berharap setelah ini, aku mendapat jawaban yang pantas dan semuanya akan berakhir.

.

.

~ challenge: torture ~

.

.

Normal POV

Mereka terus berkelit, menangkis, dan menghindari satu sama lain. Tangan melayang maka tangannya yang lain akan menahan. Pisau dilayangkan, dan dengan akurasi yang tepat akan dihindari dengan mudah. Bila dilihat dari sudut manapun, Karma-lah yang unggul. Selain didukung dengan senjata tajam, gerakan Karma yang sangat cepat mampu membuat Gakushuu kewalahan.

BUAKH!

Pukulan telak berhasil dilayangkan pada wajah Gakushuu yang tampan. Ia terjatuh dan tersingkir. Sedangkan Karma berdiri di hadapannya dengan manik emas yang membunuh. Semuanya mencekam ketika melihat si merah itu marah. Pisau dilayangkan ke wajah, didasarkan sebagai ancaman mematikan.

"Hidupmu berhenti disini, Asano."

Gakushuu terdiam. Tubuhnya tak bisa bergerak.

Set.

Seketika, mata Karma membulat sempurna.

"Ya, hidupnya yang akan berhenti—" Moncong revolver telak diincar di bagian kepala. "—benar 'kan, Nagisa-kun?"

Kaget namanya disebut, Nagisa tersentak ketika ia melihat revolver ditujukan kepadanya dalam jarak lima meter.

Tubuh Karma kaku.

Nagisa membeku.

Pelatuk ditarik.

Pisau pun terjatuh.

"Selamat tinggal, Nagisa-kun."

"...Eh?"

"NAGI!"

DOR!

Salah satu sepasang manik itu melebar.

.

.

~ challenge: torture ~

.

.

Nagisa's POV

Aku hanya terdiam saat melihat pistol itu diarahkan padaku. Padahal semuanya tadi berjalan sesuai harapan, Karma-kun mendesak Asano-kun hingga ia terjatuh. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa saat Asano-kun mengincarku. Badanku tak bisa bergerak karena terlalu syok dengan perlakuannya yang tiba-tiba. Senyumnya melebar; tersenyum dengan penuh kekejian.

"Selamat tinggal, Nagisa-kun."

Begitu lambat, namun terasa cepat.

"NAGI!"

DOR!

Tanpa aba-aba, suara itu terdengar. Aku hanya terdiam kaku saat helaian merah itu mengambang, iris emasnya yang tadi hidup dan menyinarkan siratan membara, telah menatapku kosong seiring tubuhnya yang kehilangan keseimbangan. Aku menahan napas. Jantungku seolah berhenti saat melihat orang yang paling kucintai ambruk di hadapanku. Napasku sesak; aku terus menarik napas dan terus menarik napas. Jatuh... Karma-kun jatuh dengan darah menggerayangi kepalanya.

Sekarang, firasat itu menjadi nyata.

"KARMA-KUN!" Pekikku lepas begitu saja. Mengabaikan rasa sakit dan darahku yang lagi-lagi keluar, aku menangis histeris. Mataku benar-benar tidak bisa menampung air mata yang terus meluncur di kedua pipiku. Emosi ini tak terbendung lagi.

Aku berdiri, melangkah kearahnya dengan mata mengabur akibat menangis. Aku sudah tak ingat lagi berapa juta tetesan air mata yang kukeluarkan malam ini. Aku sudah tidak peduli lagi, yang saat ini menjadi pusatku adalah Karma-kun yang tergeletak jatuh tak jauh dariku. Ia melindungiku... lagi. Ia melindungiku dari tembakan pistol itu.

Aku tidak bisa.

Cinta pertamaku tertidur disana... selamanya.

Tangan kurusku mulai menggapainya. Berhasil. Tubuh Karma-kun begitu dingin, tak ada tanda-tanda kehidupan dalam dirinya. Matanya tertutup selamanya. Aku tak kuat. Kumohon bangun, Karma-kun... j-jangan tinggalkan aku.

Aku minta tolong padamu.

"Karma-kun..." Aku terisak. "Bangun..."

Kini segala hal yang berkaitan tentang Karma-kun kembali terbayang. Bagaimana kami bertemu di sekolah dasar, bagaimana ia menjahiliku, dan bagaimana cara kami berpisah. Setelah itu bertemu kembali di sekolah menengah dan berlanjut hingga sekarang. Segala peristiwa yang kami lalui terngiang-ngiang seperti kaset rusak... aku mengingat bagaimana perasaanku berkembang dari waktu ke waktu bersamanya.

Bahkan aku belum mendengar jawabannya. Jawaban Karma-kun atas perasaanku.

Rasanya hancur.

Sekarang, sosok itu sudah tidak ada.

Tak bergerak.

Tak bersuara.

Kali ini saja; aku mohon. Aku tidak butuh segalanya. Aku hanya ingin melihat matanya terbuka, memamerkan senyum jahilnya, dan napasnya kembali terdengar.

"T-Tidak... tidak mungkin..."

Untuk saat ini.

Kumohon, Karma-kun.

.

.

~ challenge: torture ~

.

.

Gakushuu's POV

Hah.

Semuanya sudah berakhir.

Aku menatap mayat yang tengah dipeluk Nagisa-kun.

Kau benar-benar mati, huh?

Kau tahu, padahal kau bisa saja membunuhku, menusuk pisau yang kau pegang ke tubuhku, Akabane-kun. Kau memiliki banyak celah dan aku bisa melihat segalanya. Kau tidak bodoh, kepintaranmu bahkan setara denganku. Tapi apa kau tahu? Perasaan itu membuatmu buta; membuatmu tak bisa berpikir. Tanpa tahu apa resikonya, kau berlari dan melindungi tubuh ringkih itu dengan tubuhmu.

Benar-benar perbuatan yang tolol, idiot, dan sangat bodoh.

Pada akhirnya, kau meninggalkan kami, Akabane-kun. Kau meninggalkan sahabat tersayangmu dan secara tak langsung, menyerahkan Nagisa-kun padaku. Ini merupakan suatu keuntungan besar yang takkan kulupakan seumur hidupku, Akabane-kun.

Terima kasih atas kematianmu.

"Nee, Nagisa-kun..."

Kulihat, satu-satunya makhluk hidup di ruangan ini selain diriku itu menegang.

Ah. Kau bisa merasakannya, ya?

Perlahan, aku berjalan kearahnya—

—dan memperjelas segalanya; bahwa semuanya memang berada dibawah kekuasaanku.

Termasuk dirimu, Nagisa-kun.

.

.

"Sampai jumpa di neraka, keparat."

.

.

continued

.

.

a bit ooc long notes:

ah, ini adalah chapter tersulit dari semua chapter ff yang pernah kubuat. jujur aja, aku ga pernah ngetik tentang kelahi sesama cowok (kalo ada senjata-senjatanya sih bisa) tapi lah ini cuma piso and pistol doang ahaha. disini karma mati pula uh ._. /dihajar

kalau ada kesalahan, ga ada feelnya, aku minta maaf teman-teman. aku udah berusaha sebisaku dan sampe-sampe aku ga tidur malam ini gegara ngedit chapter ini wakakak tpi gapapalah, sekalian jaga rumah(?) /ngek

oh dan juga, aku tahu disini nagisa ceweekk sekali. tapi demi tuntutan cerita dan perannya sebagai uke, tak apalah okayyy?

chapter selanjutnya merupakan akhir dari kisah ini. terimakasih atas segala dukungan yang teman-teman berikan ya! :D

.

.

super thanks:

lovegakukun, RallFreecss, Yu-YuDei, 4Mekaliya-Chan.

.

.

glosarium

torture: siksaan — section: bagian — mortem: kematian

.

.

Terima kasih sudah membaca!

Mind to Review? :)