Super Senpai
.
.
.
.
.
.
.
Disclaimer: Naruto ©Masashi Kishimoto
Story by Vonda17
SASUSAKU
T
Romance
Warning: Dilarang Keras mengcopas, meniru dsb yang disebut Plagiat, tanpa izin dari Author Vonda17. Ooc, Alur gaje, Ide pasaran, feel ga dapet, dan perlu di tegaskan kembali Dont like dont read. NO FLAMER!.
.
Hargailah karya orang lain dengan kritik yang membangun bukan kritik yang menjatuhkan karena pasalnya Manusia bukanlah mahluk yang sempurna. Karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan yang Maha Esa.
.
.
.
.
.
.
.
.
Summary: Hey, aku adalah gadis yang manja dan berlaku sesuka hatiku. Tapi semua berubah ketika Monster Ice datang, hanya kak Sasori yang dapat menghentikannya, namun saat aku membutuhkannya ... Dia malah asyik apel dengan pacar barunya. Astaga kenapa aku berdialog seperti prolog di Avatar?! oh lupakan, yang penting... seseorang tolong diriku!.
.
.
.
Balasan reviewers:
Kuroneko10: Ini udah lanjut :D
Nikechaan: Ini udah lanjut kok :D Ganbatte Yo! XD
Gynna Yuki: Iya, hahaha awas jantungan lho *just kidding* :D
Caesarpuspita: kebanyakan ya... ntar aku kurangin deh... oke ini udah lanjut :D
Mantika Mochi: Hahaha, jelas pasti jungkir balik pokoknya saku-chan bakalan ga betah hidup dirumah .. ups XD
Sasara Keik: iya gpp, oke... Oya kalo bolehsebutin dong bgian typonya dmn biar bisaku perbaiki lagi ^_^
Orenjiro: Oke Yo! :D
.
.
.
.
.
.
.
.
Super Senpai
Vonda17 Present.
.
CHAPTER 2
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari mulai sore dan langit pun sudah mulai berubah warna menjadi oranye. Hembusan angin yang sejuk selalu membuat gadis pink ini sedikit rileks saat ia menunggu lama kereta yang akan membawanya pulang ke rumah. Perasaan berdebar ini, di stasiun yang membawa perasaannya untuk pertama kali kepada seorang pemuda berambut klimis. Pemuda yang selalu dianggapnya sebagai pahlawan sejatinya. Hahh, Sakura sudah tak sabar lagi untuk menunggu kereta datang sekaligus orang itu. Banyak kenangan yang tercipta di stasiun kereta ini, termasuk kenangan saat dulu ia masih bisa menggenggam tangan lembut ibunda. Perlahan tatapan emerald itu menyendu dikala mengingat kenangan itu.
.
Wush...
.
Sekali lagi angin itu menerbangkan helaian-helian merah muda itu, hingga tak sadar kalau tali rambutnya renggang dan terjatuh mengikuti arah angin berhembus.
.
Hap!
.
Tap... Tap... Tap...
.
"Sakura-san?"
Sakura yang merasa namanya dipanggil itu akhirnya tersadar dari lamunannya dan menoleh kearah suara itu berasal.
"S-Sai kun!" seru Sakura dengan semburat merah keluar di wajahnya. Tak disangka hari ini ia dapat berjumpa dengan pahlawannya. Iya pahlawannya!. Pahlawannya yang tampan dan selalu tersenyum ramah , beda sekali dengan pendidiknya yang kaku dan sok tukang suruh itu walaupun Sakura akui kalau pendidik sombong itu mempunyai wajah yang tampan juga. Tunggu dulu kenapa Sakura memikirkan pendidik itu saat ini, lupakan lupakan. Batin Sakura.
"ini punyamu?" tanya pemuda yang bernama Sai itu. Sakura pun tersipu malu seraya menganggukkan kepalanya.
"kau sangat kreatif! apa kau yang membuat ini? ini bagus!" Sahut Sai menunjuk pada 2 bunga mawar kecil berwarna biru muda yang terbuat dari kain jeans yang menjadi hiasan di tali rambutnya.
"Arigatou, ya aku yang membuatnya. Err... Sai-kun menunggu kereta lagi?" tanya Sakura seraya menyelipkan anak rambut kekupingnya dan menatap jelaga hitam milik pemuda yang tersenyum pada Sakura.
"ya... uhuk uhuk gomen!" Sahut Sai menutup sebagian wajahnya dengan masker. Sakura pun mengernyitkan alisnya.
"kau sedang sakit ya?" tanya Sakura khawatir dan refleks menyentuh kening Sai.
"ah, aku tidak apa-apa aku hanya sedikit kedinginan dan aku lupa untuk membeli syal baru!" Sahut Sai . Sakura pun mengangguk.
"hmm... Kalau Sakura-san yang terampil.. bisa membuatkan ku syal, mungkin flu ku segera sembuh... " sahut Sai seraya terkekeh. Sakura yang mendengat itu langsung terlihat sumeringah dan tersenyum lebar, oh jangan lupa dengan wajahnya yang sangat merah sekarang.
"Akan ku buatkan untukmu, Sai-kun!" Seru Sakura seraya mengenggam lengan Sai. Sai pun terkejut dan mengusap pucuk kepala Sakura.
"Ah, aku hanya bercanda kok! aku bisa beli nanti. tak usah repot-repot!" Sahut Sai.
"Tetap akan kubuat!'' seru Sakura bersemangat.
"Haahh... Terserah deh!"
Mereka berdua pun akhirnya naik kedalam kereta setelah sekian lama menunggu. Kereta itu pun membawa Sakura, gadis pink yang sedang bahagia karena ada Sai yang duduk di sampingnya. Kapan lagi ia dapat bertemu dengan pemuda ini?! Karena sekolah yang berbeda membuat Sakura jarang bertemu dengan Sai dan kurasa Sakura takan menyiakan waktu yang tersisa sekarang.
Sakura menatap keluar jendela seraya mengingat pertama kali ia berjumpa dengan pahlawannya ini, dimana saat itu Sakura sedang demam dan cuacanya sedang tak bersahabat. Sakura yang sedang demam itu tengah berdiri di stasiun menunggu kereta seperti biasanya. Tiba-tiba saja turun hujan deras, dan Sakura pun lupa membawa payung. Tubuh dan kepalanya basah terkena cucuran hujan dan terpaan angin hingga membuat kepalanya yang memang sudah pusing menjadi lebih pusing lagi. Lama-kelamaan pandangan Sakura mengabur, kakinya lemas dan ia pun terjatuh. Tapi sebelum benar-benar ia akan menghantam tanah, sebuah dekapan menahan tubuh mungilnya yang basah. Sakura pun berusaha menatap siapa yang sudah menangkapnya, Sakura melihat seorang pemuda dengan kedua mata yang tajam dan kelam, rambutnya yang klimis berteteskan air, dan wajahnya yang tampan.
"A-arigatou..." lirih Sakura lemas.
"Sama-sama!" senyum pemuda itu.
Sakura pun ikut tersenyum hingga akhirnya ia benar-benar tak sadarkan diri dan saat ia terbangun dirinya sudah ada dirumah. Sejak kejadian itu Sakura selalu datang ke stasiun untuk mencari pemuda itu dan akhirnya ia pun melihat Sai yang mirip dengan penyelamatnya. Dan dimulailah dari saat itu Sakura menyukai Sai hingga sekarang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Super Senpai.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Tadaimaaa!" seru Sakura yang tergesa-gesa membuka sepatu pentopelnya dan meletakannya sembarangan.
"Hn, okaeri!" Sakura langsung merengut saat mendapati Sasuke yang kini bersandar didinding dengan bersidekap tangan. Sakura pun tak menghiraukan pemuda itu dan terus berjalan masuk dengan wajah yang angkuh layaknya seorang putri kerajaan.
.
SET!
GREB!
.
"Gyaaaaaa!" Sakura membulatkan matanya dikala tubuhnya tertarik ke atas dari arah belakang. Sakura pun mencoba menggapai seragam yang di tarik dari belakang oleh pendidiknya itu.
"Pendidik sialaaaannn... Turunkan aku! Turunkan aku bodooooohhh!" Ronta Sakura. Sasuke hanya menghela nafas dan segera menjinjing gadis mungil itu layaknya anak kucing kearah sepatunya berada.
"mau dibawa kemana aku?! lepas! lepas! Kyaaaaa..."
BRUUGH!
Sakura pun terjatuh dengan tidak elitnya dan menatap Sasuke tajam. Sakura pun lekas berdiri membenahkan seragamnya yang sedikit tersingkap.
"Sasuke! Kau! apa maksudmu memperlakukan aku seperti itu? kau kira aku plastik sampah, hah?!" Seru Sakura seraya menunjuk-nunjuk wajah tampan Sasuke.
"Hn, ambil sepatumu dan letakan dengan benar!" sahut Sasuke tanpa menjawab lagi pertanyaan Sakura. Sakura pun megap-megap emosi ingin menjambak,meninju, dan segala hal jelek yang akan dilakukanya pada Sasuke. Sungguh ia sangat kesal sekarang.
"Kau kira aku..."
"Lakukan!"
"Tidak mau!"
"Lakukan sekarang!"
"Tidak mauuuu!"
"Sa-ku-raa" ancam Sasuke dengan tatapan mautnya.
"Sa-su-kee! aku tidak mau!" perempatan pun muncul didahi Sasuke, ia geram. Apa susahnya sih menata kembali sepatu yang berantakan?! tinggal ambil dan letakan dengan rapih dirak. Batin Sasuke greget.
"kau akan mendapat hukuman kalau tidak mematuhiku!" sahut Sasuke.
"Aku tidak takut!" seru Sakura menantang dengan kedu tangannya berada dipinggang.
"Kau akan menyesal!" seringai Sasuke seraya membungkukkan tubuhnya kearah Sakura. Sakura pun menggerakan tubuhnya kebelakang dan menatap ngeri pemuda yang ada dihadapannya. Mau apa dia?!. Batin Sakura.
.
GREB.
.
Sasuke menahan pergerakan tubuh Sakura dengan kedua tangannya yang memegang kedua bahu gadis pink itu erat. Mata onyx kelam itu menatap lekat emerald indah sang gadis Haruno tanpa mau melepaskannya. Sakura pun memejamkan matanya rapat-rapat seraya menolehkan wajahnya kesamping kiri. Apa Sasuke akan menciumnya?!. Semburat merah tiba-tiba muncul diwajah Sakura.
.
DEG... DEG...DEG...DEG...
.
"Kenapa jantungku berdebar sangat kencang... Kamii-sama tolong aku! aku takut!" seru batin Sakura.
"Hukumanmu malam ini kau harus mencuci baju kotormu yang ada ditumpukan pojok kamarmu itu!"
.
TUING!
.
"a-apa... ka-kau ta-ta-tadi.. ti-tidak..me..me..." Sahut Sakuta terbata-bata saat mendengar bisikan dari Sasuke. Sasuke pun kembali ke posisi normal tanpa melepaskan seringainya.
"apa?! kau ingin aku menciummu sebagai hukuman? Cih, dasar gadis mesum!" Sahut Sasuke seraya menyentil jidat Sakura. Sakura pun terlanjur malu dengan wajah yang sangat merah , gadis Haruno itu pun dengan lekas meletakan sepatunya di rak dengan sedikit dibanting dan segera pergi dari hadapan Sasuke yang sudah menjatuhkan harga dirinya.
"Hn, jangan lupa hukumanmu, gadis mesum!" sahut Sasuke yang tertawa kemenangan didalam batinnya.
"Arrrggghh... Urusaii Uchiha sialan!" seru Sakura berlari menuju kamarnya.
"Sayang, kau sudah pulang!" seru Tsunade berpapasan dengan cucunya.
"Minggiiirrrr!''
"Eh, dia itu kenapa?!" Heran Tsunade menggeleng-gelengkan kepalanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Super Senpai.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jam menunjukan pukul 8 malam, setelah menuntaskan hukumannya yang dilakukan dengan terpaksa, akhirnya Sakura dapat sedikit merilekskan tubuhnya di sofa seraya membaca buku panduan merajut dan mencoba membuat syal untuk Sai, sang pujaan hati. Namun sepertinya gadis ini sedang ada kendala.
.
.
"HUWAAAAA...! Susah sekaliiiiii!"
Seru gadis pink itu seraya melempar jarum dan benang wolnya ke meja. Sakura pun membaca kembali dengan fokus buku panduan merajut. Sasuke yang sedang meminum kopi itu pun melirik kearah Sakura yang duduk di sofa membelakanginya.
" aku tak menyangka merajut itu susah, apa aku minta tolong nenek saja ya?! Tapiii kan... ini buat Sai-kun masa dibuatin nenek..." gumam Sakura seraya cemberut dan mengambil kembali jarum dan benang wol nya, Sakura pun kembali memasangkan benang itu ke jarum. Sasuke yang mendengar itu pun meletakan gelas kopinya di dapur ia pun melangkah kearah gadis itu.
"Hn, merajut itu seperti ini!''
DEG
"KYAAAA... Pergi! aku tidak butuh bantuanmu pendidik hentaiii!"
Seru Sakura yang terkejut karena Sasuke memeluknya dari belakang seraya menuntun kedua tangannya untuk membentuk pola. Sasuke pun mundur seraya mengendikan bahunya. Sakura pun menatap garang kepergian pemuda itu yang menuju kamarnya.
"cih, dia itu seenaknya saja memelukku!" gerutu Sakura. Ia pun kembali berkutat dengan prakaryanya yang belum tentu jadi.
"Bagaimana ini... Padahal aku sudah janji untuk membuatkan Sai-kun syal... arrrgghhh..." seru Sakura menggaruk belakang kepalanya kasar. Apa mungkin ia harus minta bantuan pada Sasuke untuk mengajarinya membuat syal?!, padahal saat ini ia sedang sangat kesal dan marah pada Sasuke.
.
.
.
.
.
.
.
"Baa-chan! tolong ajari aku merajut! kumohoon!" rayu Sakura pada Tsunade yang sedang menyetrika baju. Tsunade pun tersenyum kearah Sakura.
" maaf tapi nenek sedang sibuk kau minta ajari saja sama Sasuke!"
Bibir Sakura pun mengerucut saat mendengar nama pemuda itu keluar dan menjadi tambatan. Sakura pun keluar dari kamar neneknya menuju kamar ayahnya.
"Tou-san... ajari aku membuat syal!" sahut Sakura seraya mengasongkan jarum dan benang wol kehadapan Kizashi. Kizashi pun hanya menggaruk pipinya yang tak gatal seraya tertawa kearah Sakura.
" Sakura, anak Tousan yang paling cantik mana mungkin Tousan bisa buat hal yang feminim seperti itu... apa kata leluhur Tousan, bisa-bisa Tousan mati dengan tidak tenang hahaha!"
Sakura pun menyesal datang kekamar ayahnya, ternyata ayahnya sama menyebalkan seperti pemuda sombong itu. Ia pun keluar dari kamar itu menuju kamarnya.
.
.
"Ponkan... ajari aku membuat syal, kumohon.."
"Meoooong~…"
"Hahh... ini semua membuatku gilaaaa!" seru Sakura yang melihat kucing kesayangannya pergi keluar kamar. Sakura merasa dirinya tak berguna dan diacuhkan, sampai-sampai Ponkan kucing putih kesayangannya saja pergi. Sepertinya tak ada pilihan lain lagi selain minta bantuan pendidiknya.
.
.
.
.
.
Tok..Tok...
Suara pintu kamarnya pun berbunyi, Sasuke yang sedang fokus membaca buku sejarah itu pun akhirnya bangkit dan membuka pintu kamarnya.
.
Cklek...
.
"Hn... ada perlu apa?'' Sasuke mendapati sosok Sakura yang sedikit terunduk dengan wajah merahnya.
"A-ano..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Super Senpai.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"He-hebat!..."
Mata emerald itu terpaku pada sosok yang dihadapannya. Sosok tanpa ekspresi, datar dan tenang . Sosok itu tak lain adalah Sasuke, pemuda tampan yang datang kerumahnya dan menobatkan dirinya sebagai pendidik. Sakura tak habis berdecak kagum dengan keterampilan tangan Sasuke yang menyatukan benang-benang wol itu menjadi Syal yang setengah jadi. Merasa diperhatikan, Sasuke pun memberhentikan rajutannya dan menatap gadis yang duduk di sebelah kirinya.
"Hn, kau sudah lihat bagaimana aku merajutnya kan?" Sahut Sasuke. Sakura pun mengangguk.
"Hn, kemarilah!" perintah Sasuke seraya melambaikan tanganya untuk segera mendekat kearahnya. Sakura pun kali ini menurut.
"angin apa yang membuat kau seperti ini?" Sahut Sasuke. Sakura pun menatap Sasuke seraya mengambil benang dan wol yang ada ditangan Sasuke.
" kalau aku bilang... Janji tidak akan bilang siapa-siapa?" Sahut Sakura seraya mengacungkan jari kelingkingnya.
"Hn..." Pemuda Uchiha itu pun menyambut kelingking itu dengan kelingkingnya.
" a-aku ingin memberikan syal itu pada orang yang ku su-suka!" ucap Sakura dengan semburat merah dipipinya. Sasuke pun merasa sedikit kesal entahlah kenapa ia sedikit kesal saat mendengar pengakuan Sakura.
"Hn... Merepotkan!" ujar Sasuke. Sakura pun cemberut.
"Biarin... bukan urusanmu wleee... Yang penting hanya Sai-kun yang membuat aku merasakan perasaan ini pertama kali." Sahut Sakura . Sasuke pun menghela napas, sepertinya gadis ini baru merasakan yang namanya cinta monyet.
"Terserahmu lah!".
.
.
.
30 menit sudah Sakura berkutat dengan benang dan jarum namun masih saja ia belum bisa membuatnya.
"Sasuke! sepertinya aku memang tidak bisa membuatnya!" keluh Sakura tertunduk. Sasuke pun berdiri, berpindah tempat, dan duduk di belakang Sakura. Ia pun memeluk bukan lebih tepatnya membimbing tangan Sakura untuk membuat Syal, sedangkan Sakura...
Gadis Haruno ini merasakan jantungnya berdebar kembali dikala tangannya bersentuhan dengan kulit Sasuke. Sakura hampir lupa dengan cara ia bernapas saat pipi Sasuke bersentehun dengan pipinya. Kini wajah Sakura sudah sangat merah dan berharap Sasuke tidak bisa melihatnya.
.
DEG... DEG... DEG...
Apa jantungnya punya penyakit atau udara dikamarnya terasa semakin menipis karena kini Sasuke pun merasakan hal yang sama dengan Sakura.
.
"Sakura, apa kau sudah mengerti?!" Sahut Sasuke yang sudah tidak betah dengan kondisi jantungnya.
"Y-ya... Ah, sudah jam 9.30 aku harus tidur!" tanpa menatap Sasuke, Sakura pun perlahan melepaskan diri dari Sasuke dan beranjak pergi dari kamar itu.
"Oyasumi!..." Seru Sakura sebelum benar-benar menghilang di balik pintu itu.
"Hn, Oyasumi..."
.
CKLEK.. BLAM!
.
.
.
"Perasaan apa ini? kenapa jantungku berdebar lagi?! apa mungkin aku... ah tidak tidak, aku hanya menyukai Sai-kun... ya Sai-kun!" Batin Sakura bergemuruh. Sakura pun mengusap-ngusap dadanya supaya detak jantungnya kembali normal.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Super Senpai.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hahh~ ngantuukk..." seru Sakura yang kini berada diruang tamu dan duduk disofa seraya menyelesaikan rajutannya yang hampir selesai. Sakura pun mengambil napas panjang untuk merenggangkan otot-otot punggungnya yang terasa kaku. Sakura un melirik kearah jam dinding dan emerald itu melebar dikala melihat arah jarum jam itu.
" Jam 2 pagi! Ya ampun, aku tidak menyadarinya." sahut Sakura pelan dan segera kembali menyelesaikan rajutannya hingga tanpa sadar ia terlelap karena kelelahan.
.
.
.
.
.
.
Tap... Tap... Tap...
.
.
.
Langkah kaki itu menuruni tangga menuju ruang tamu yang terang. Alisnya mengernyit, bukankah saat terakhir ia kemari lampunya sudah di matikan lalu siapa yang menyalakan kembali lampunya.
Sasuke terus melangkahkan kakinya menuju dapur untuk menuntaskan rasa dahaganya. Sekembalinya ia dari dapur ia terkejut melihat Sakura yang tertidur dalam posisi duduk dengan syal yang sudah jadi di pangkuanya. Sasuke merutuk diri, bisa-bisanya gadis ini tak mematuhi perturannya lagi. Oh, Sasuke sangat yakin pasti Sakura mengerjakan ini sampai larut malam.
.
"Hahh~kau ini..." desah Sasuke seraya menghampiri tubuh Sakura.
"kau akan pegal-pegal kalau tidur seperti itu!" Sasuke pun meraih pundak dan lutut gadis itu, kemudian ia bawa dalam gendonganya menuju kamar sang gadis. Sebelum ia benar-benar meninggalkan ruang tamu, ia matikan lampunya kembali.
.
.
.
.
.
.
"ungghh~~…"
lenguh gadis itu saat tubuhnya sudah berada di kasurnya. Sasuke pun menyelimuti tubuh mungil itu dengan pelan agar sang empunya tak terbangun dari mimpi indahnya.
Diam-diam Sasuke menatap wajah Sakura yang terlihat damai dalam tidurnya. Seandainya saja sang ibunda tidak meninggalkan gadis ini untuk selamanya, ia yakin... Sakura pasti akan lebih tersenyum dan lebih cerah daripada sekarang. Walaupun hanya 1 hari, Sasuke sudah bisa menebak seperti apa Sakura itu. Ia tahu gadis itu polos dan baik buktinya ia mau saja membuat hal yang tidak bisa ia lakukan hanya demi pria yang baru pertama kali membuatnya seperti ini. Sasuke mendengus geli, rasanya kalau saja pria itu adalah dirinya pasti ia sangatlah tidak beruntung disukai oleh kera betina. Sakura selalu berusaha mencari perhatian dengan cara yang salah. Ayahnya sibuk dikantor, sedangkan neneknya sibuk dengan mengurus segala kebutuhan rumah tangga dan Sakura... Gadis ini terpaksa harus menjadi posesif, karena tak ada lagi tempatnya untuk berbagi cerita dan perhatian yang dulu suka diberi oleh ibunya tak dapat lagi ia rasakan. Itulah yang menjadi gadis cantik ini menjadi bebal dan liar.
Sasukepun melirik kearah syal berwarna biru muda itu. 1 lagi fakta yang ia dapat, bahwa Sakura ternyata menyukai warna itu. Sasuke pun secara tak sadar tersenyum tipis seraya mengusap kepala Sakura.
"Sampai bertemu di sekolah besok, Sakura!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
.
.
Pojok Author: Holllaaaa Miss Vonda kembali lagi setelah lama bertapa... Maaf yang udah nunggu lama lanjutanya... semuga para readers sekalian suka dan jangan lupa memberikan reviewnya biar bisa mengoreksi kembali tulisan ku... ne, Arigato para reviewers, Readers, Silent Readers yang udah sempetin baca ff abal ini... lanjut or delete?
.
Sign
Vonda17
