Super Senpai

.

.

.

.

.

.

.

Disclaimer: Naruto ©Masashi Kishimoto

Story by Vonda17

SASUSAKU

T

Romance

Warning: Dilarang Keras mengcopas, meniru dsb yang disebut Plagiat, tanpa izin dari Author Vonda17. Ooc, Alur gaje, Ide pasaran, feel ga dapet, dan perlu di tegaskan kembali Dont like dont read. NO FLAMER!.

.

Hargailah karya orang lain dengan kritik yang membangun bukan kritik yang menjatuhkan karena pasalnya Manusia bukanlah mahluk yang sempurna. Karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan yang Maha Esa.

.

.

.

.

.

.

.

.

Summary: Hey, aku adalah gadis yang manja dan berlaku sesuka hatiku. Tapi semua berubah ketika Monster Ice datang, hanya kak Sasori yang dapat menghentikannya, namun saat aku membutuhkannya ... Dia malah asyik apel dengan pacar barunya. Astaga kenapa aku berdialog seperti prolog di Avatar?! oh lupakan, yang penting... seseorang tolong diriku!.

.

.

.

.

.

.

.

Sudah 2 hari ini gadis yang memiliki rambut pink ini mengurung diri didalam kamarnya dan hanya turun apabila ingin ke kamar kecil dan sekolah. Tsunade yang menyadari perubahan sikap cucu bungsu kesayangannya pun merasa khawatir , selain sikap Sakura yang terlihat murung dan dingin, gadis itu juga kerap melewati jam makan seperti biasa. Ia takut penyakit demamnya kumat. Tsunade yang kini tengah menikmati sarapan pagi rutin pun menatap ke arah Sasuke.

"Nak Sasuke, apa kau tahu kenapa Sakura tak mau keluar dari kamarnya?!" tanya Tsunade. Sasuke pun menelan makanan serta mengelap mulutnya dengan serbet.

"Hn, aku rasa aku cukup tahu baa-san." sahut Sasuke menatap Tsunade. Kizashi yang sedang meminum kopi itu pun menghelakan nafasnya.

"jadi... masalah apa lagi?!" tanya Kizashi meletakan cangkir kopinya. Sasuke pun berbalik menatap Kizashi yang menuntut penjelasan dari Sasuke. Pendidik Sakura.

"Hn, hanya masalah kecil di sekolah dan sudah teratasi!" sahut Sasuke membuat pria berumur 40 tahun ke atas itu mengernyitkan alisnya.

"tapi tak biasanya Sakura bersikap seperti itu... apa yang kau sembunyikan dariku Sasuke? kau tidak memakai kekerasan saat mendidik anakku kan?" tanya Kizashi menatap tajam onyx hitam itu. Sasuke pun menundukan kepalanya sebagai tanda ojigi(hormat) pada Kizashi.

"Sumimasen (Sasuke kembali menatap Kizashi) pantang bagi saya melakukan kekerasan terhadap wanita. Saya mendidiknya sesuai dengan aturan yang berlaku dan Saya tidak menyembunyikan apa-apa dari anda." Sahut Sasuke dengan sopan dan setiap kata yang keluar dari mulut Uchiha itu penuh penekanan dan keyakinan . Kizashi pun mengangguk melihat kesungguhan yang terpancar dari mata Sasuke.

"Tapi... ini mungkin sedikit menyangkut tentang perasaannya !'' sahut Sasuke yang membuat 2 orang di meja makan itu bertanya-tanya.

" dia akan malu kalau saya menceritakannya." sahut Sasuke. Kizashi pun semakin memajukan dirinya ke arah meja dan menatap Sasuke penasaran.

"Katakanlah, disini kau juga sudah menjadi bagian dari keluarga kami jadi tak usah sungkan... ne, apa yang terjadi padanya?" tanya Kizashi.

"Hn, dia baru saja ditolak cintanya oleh seorang pemuda."

"APA!"

.

.

.

.

.

.

.

Super Senpai

Vonda17 present.

.

.

.

.

.

.

.

"Forehead! kau kenapa sih setiap aku ajak bicara kau hanya diam saja?! " ucap gadis berambut kuning sambil berjalan disamping Sakura. Mereka berdua sedang berjalan dilorong sekolah yang agak begitu sepi karena Sakura tiba lebih pagi dari sebelumnya.

"Ohayou, gadis-gadis cantik!.''

"Dasar merah! mengagetkanku saja!" seru Ino yang mengelus dadanya karena tiba-tiba melihat Gaara yang muncul di hadapannya.

"Hn, kenapa tuh Pendek?! wajahnya masih di tekuk-tekuk begitu!" tanya Gaara yang berjalan disamping kiri Sakura.

"entahlah Gaara, dia sudah begini sejak kemarin! apa mungkin ini gara-gara Sasuke-senpai!?" Sakura yang mendengar nama pendidiknya itu pun mengernyitkan alisnya seraya melirik Ino sekejap.

"Sasuke-senpai? Kakak kelas baru itu? memang apa hubungannya dengan dia?!" kata Gaara sambil berpikir.

"Kau ini sudah lupa ya?! Sasuke-senpai kan pendidiknya Sakura! dia juga tinggal dirumah forehead! Eh, ups!." Ino segera menutup mulutnya dikala Sakura menoleh dan menatapnya nyalang. Seketika ada aura kehitaman menyeruak dari tubuh mungil itu.

"Menyesal aku curhat padamu, Ino!"

Sakura pun melangkah jauh meninggalkan mereka berdua yang berwajah menyesal. Gaara pun menatap Ino.

"dia marah, aku harus minta maaf padanya!" sahut Ino menatap punggung Sakura yang menjauh.

"jadi senpai itu tinggal bersamanya?" tanya Gaara pelan. Ino pun mengangguk.

"mungkin mereka bertengkar hebat. Hmmm, entahlah... mereka memang tidak terlihat akur!" Sahut Ino tanpa mengetahui raut wajah Gaara yang mengeras seperti menahan sesuatu.

.

.

.

.

.

Mata emerald itu menatap tiap kata per kata yang ditulis oleh sensei berambut hitam itu, Orochimaru. Pelajaran kali ini adalah pelajaran favoritnya yaitu Biologi, mapel ini yang selalu membuatnya bersemangat walaupun dalam waktu hanya 2 jam tapi sekarang entah kenapa ia merasa bosan dan tak bisa memfokuskan konsentrasinya. Sakura pun akhirnya memilih menatap kearah luar jendela, menatap lapangan sekolah yang kini ramai dengan para senpainya yang sedang berolahraga basket.

Setitik senyuman terukir diwajah Haruno ini ketika melihat seorang berambut raven, dan berbadan tinggi dengan otot-otot yang sempurna terbentuk sedang melakukan shoot ke arah ring dan bola oranye itu pun masuk lancar tanpa batas. Senyuman bangga pemuda itu ia tujukan pada teman-temannya yang datang untuk memberikan tepukan ditelapak tangannya dan para senpai siswi yang bersorak memanggil sebuah nama.

" Sasuke!..."

" Prince Sasukeee... kyaaa!"

Sakura pun mendengus kecil dikala mendengar teriakan histeris tersebut.

"Prince? dalam sekejap sudah menjadi pangeran, huh?!" batin Sakura mendecih.

Hingga tanpa sadar pemuda yang tengah Sakura perhatikan itu pun mendongak membalas tatapanya. dengan wajah yang datar dan onyx yang menusuk. Sakura pun segera menolehkan wajahnya dan kali ini ia menatap ke arah buku tulis kosong dihadapannya.

.

Mata jade hijau itu menatap lekat gadis berambut pink tanpa mau melepaskannya sedetik saja. Pemuda yang memiliki tatto 'Ai' dijidatnya merasa geram saat melihat gerak-gerik gadis itu yang sedang memperhatikan seseorang. Darimana ia tahu kalau gadis itu sedang memperhatikan seseorang?!. Oh, pemuda Sabaku itu tidak bodoh. Memangnya apa lagi yang di perhatikan seorang gadis selain lawan jenisnya, Fashion?! ya, Gaara tahu memang fashion juga dapat mengalihkan dunia seorang perempuan tapi, ayolah ini di sekolah bukan di pusat perbelanjaan. Sekolah tempatnya para siswa dan siswi menimba ilmu, perlu di tekankan kembali SISWA dan siswi. 2 gender yang berbeda ini berkumpul dalam 1 atap yang sama untuk mengumpulkan ilmu dan berharap agar cita-cita mereka tercapai. Dan pria berambut merah itu pun yakin kalau sekarang Sakura sedang memperhatikan Sasuke, senpai baru di sekolahannya.

"Cih!... Sial" desisnya seraya mengepalkan seluruh jarinya dengan erat.

.

.

.

.

.

.

Waktu istirahat pun tiba. Sakura, Ino, dan Gaara pun berjalan kearah kantin bersama.

Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Haruno ini kecuali ocehan-ocehan dari kedua sahabatnya. Ditangannya terdapat sebuah bingkisan yang tertutup rapih nan indah.

"Pendek! itu buat siapa?!" sahut Gaara yang hanya dibalas wajah datar Sakura.

"ini?"

Gaara pun sedikit lega dengan Sakura yang sedikit menyahuti nya.

"Bukan urusanmu!"

JLEB

Ino dan Gaara pun menatap bergantian. Sakura benar-benar dalam mood terburuk, hingga kini kedua orang yang ada di belakangnya itu merasa gadis yang punya rambut pink ini bukanlah Sakura yang mereka kenal.

"Sakura! kau keterlaluan... apa salah kami hingga kau ketus terhadap kami! ingat aku dan Gaara adalah sahabat mu!" Seru Ino yang kini mencengkram bahu Sakura hingga membuat gadis itu menghadap ke arah mereka.

"..." tak ada jawaban, Sakura hanya bisa menatap mereka datar namun ada sorot tajam yang memancar dari kedua emeraldnya, seakan berbicara 'jangan ganggu aku!'.

Sakura pun melanjutkan jalannya tanpa memperdulikan mereka yang terdiam terpaku melihat perubahan sikap Sakura. Akhirnya Ino dan Gaara pun memilih diam dan mengikuti jejak gadis itu melangkah.

Sesampainya di kantin, Sakura langsung saja duduk di bangku kantin tanpa ada makanan yang ia bawa membuat Ino khawatir.

"Forehead, kau tidak makan?" tanya Ino seraya meletakan makanannya pada meja kantin. Sakura pun menggeleng.

"makanlah!" sahut Gaara yang tiba-tiba datang dan menyerahkan sebuah Onigiri dihadapan Sakura. Lagi-lagi Sakura hanya terdiam tanpa berniat menyentuh makanan itu.

"Sakura... apa aku punya salah? kenapa kau terus diam?!" Sahut Gaara dan sebuah tepukan dibahunya membuat pemuda Sabaku itu menoleh.

"Naruto-senpai?!" seru Gaara mendapati senpai dengan senyuman yang khas itu kini berdiri di sampingnya.

"Hey... ada apa ini?! sepertinya preman kita sedang tidak mood" sahut Naruto, Gaara pun hanya menatap sendu Sakura.

"Menyebalkan!" Sakura pun beranjak dan pergi karena kesal dengan suasana yang tiba-tiba saja menjadi runyam dan sedikit berisik.

"dia sedang datang bulan ya?!" tanya Naruto yang di balas dengan angkatan bahu oleh Gaara.

.

.

.

.

.

.

Kesal, Sakura kesal. Kenapa bukan dia yang datang. Kemana dia yang selalu membawakannnya bento, kemana dia yang selalu mengomel kalau ia betindak salah. Kenapa 2 hari ini ia merasa seperti kehilangan, Sakura pun melangkahkan kakinya menuju atap tempat favoritnya untuk menenangkan pikiran.

Sesampainya di atap, emeraldnya melebar menangkap seseorang yang selama ini ia cari, bukan! bukan yang ia cari tapi yang ia pikirkan tengah berdiri tegap disana.

"aku tahu kau akan kesini"

Suara baritone itu, kini menjadi suara yang paling ia nantikan. Entahlah, 2 hari tidak bertatap muka dengannya membuatnya sedikit merindukan suara itu. Sakura pun terus melangkahkan kakinya seraya menatap kedua onyx hitam itu.

"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu." sahut Sakura datar. Sasuke pun menatap lekat emerald itu.

"aku juga!" balas pemuda itu dengan datarnya.

"Ini!"

Kedua tangan Sakura pun mengasongkan sebuah bingkisan ke hadapan Sasuke. Pemuda Uchiha itu pun mengernyitkan alisnya. "Bukannya ini..." seru batin Sasuke.

Sasuke pun mengambil bingkisan itu.

"Dibuang pun tidak masalah. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih, kalau tidak ada kau waktu itu entah aku harus bagaimana..."

Sasuke terkejut saat mendapatkan Syal berwarna biru muda didalamnya. Sakura pun perlahan tertunduk dan terisak.

"Kebangaanku... dibuang pun tidak apa-apa.. hiks... hiks... ".

"Eh! kenapa kau menangis?! cepat hapus air matamu!" Seru Sasuke yang kalut melihat Sakura yang tiba-tiba menangis dihadapannya.

"Hiks.. hikss... kalau kau memelukku mungkin hiks air mata ini akan berhenti.. hiks.. hiks..." isak Sakura menjadi-jadi, Sasuke pun berusaha menghapus air mata yang mengalir di pipi chuby Haruno itu.

"omong kosong! mana ada seperti itu!..." seru Sasuke yang membuat Sakura tertawa dalam tangisannya. Sesekali menjahili pendidiknya yang kaku ini tidak ada salahnya kan?. Sasukepun mengernyitkan alisnya, ada apa dengannya? apa dia sedang mabuk?!. Batin Sasuke heran melihat perubahan sikap Sakura.

"sekarang giliranku untuk mengatakan sesuatu." sahut Sasuke. Sakura pun sudah berhenti menangis dan wajahnya sedikit cerah setelah menumpahkan sedikit kegundahan hatinya lewat air mata yang keluar dan ia pun sudah merasa lebih baik karena Sasuke ternyata memiliki perhatian juga padanya.

" sudah 2 hari kau malas-malasan, mengurung diri hingga membuat Ayah dan Nenekmu resah, kau juga tidak makan. Hukuman apa ya yang pantas untukmu, hm..." sahut Sasuke dengan wajah yang seram, membuat Sakura merinding. Tapi didalam hatinya ia senang, setidaknya hubungannya dengan Sasuke sudah membaik seperti biasa.

" dan ada 1 hal lagi..."

Sakura pun menatap lekat Sasuke.

"Jangan pernah menangis untuk orang yang sudah menyakitimu didepanku, karena aku tidak akan sungkan membuat orang itu mati sebelum ia meminta maaf padamu..."

DEG

Sakura melebarkan matanya. Benarkah dengan apa yang dikatakan oleh Sasuke?! benarkah ia akan melakukan itu hanya untuknya, tapi itu bukankah itu sudah melenceng dari tugasnya sebagai pendidik?!. Tapi kenapa Sasuke mau berkata seperti itu, dan Sakura merasa perkataan itu tidak main-main. Apakah Sasuke... tidak-tidak, pemuda itu tidak mungkin menyukai gadis sepertinya. Tapi kenapa jantungnya kini berdegub dengan kencang saat Sasuke mengatakan hal itu semua?!. Kenapa?!.

"Dan jangan pernah mengurung diri lagi, karena itu akan membuat orang yang menyayangimu sedih." sambung pemuda itu. Sakura pun kini merasa canggung, ini seperti bukan dirinya. Ada apa dengan dirinya?!. Sasuke pun meraih pergelangan tangan Sakura dan menariknya ke arah salah satu bangku yang ada disana.

"Duduk dan makanlah!" Sakura pun menatap bento yang kini ada di pangkuannya.

"Kenapa diam saja?!" seru Sasuke yang melihat Sakura terdiam.

"Kenapa kau perhatian padaku?!" Sakura merutuki mulutnya yang baru saja meluncurkan pertanyaan yang sama sekali tidak bermutu, tapi Sakura juga mengharapkan jawaban yang memuaskan dari pendidiknya itu.

"hn, sudah kukatakan sejak dari awal.. segala tingkah laku dan tindakan mu adalah tanggung jawabku... bila kau melakukan hal yang berbahaya bagi dirimu sendiri bukan hal mustahil lagi aku akan bermasalah dengan ayahmu!" sahut Sasuke bersidekap dada. Sakura pun mengerucutkan bibirnya, benar juga apa yang dikatakan pemuda ini. Sakura melupakan 1 hal tentang pemuda itu dan jawaban tadi membuat harapan Sakura hancur. Tunggu dulu, memang kau berharap jawaban seperti apa Sakura? apa kau berharap Sasuke menjawab 'aku takut kau terjadi apa-apa', huh?. Mustahil, dia itu pendidik menyebalkan tidak! tapi Super menyebalkan dan Sakura membencinya. Gadis itu pun segera mengenyahkan pemikiran yang tidak penting yang baru saja berseliweran di otaknya.

Sakura pun membuka bento itu dan melihat apa isi dari bento tersebut. Beef Yakiniku, nasi putih, salad buah dan sayur tanpa mayonaise cukup membuat Sakura meneteskan air liurnya. Sasuke pun mendengus kecil saat menatap expresi wajah Sakura sekarang yang seperti singa buas kelaparan.

"Hn, makanlah..." seru Sasuke.

"Waaahh... enaknya!" Sakura pun dengan cepat membuka sumpit yang menyatu itu lalu menyumpit nasi dan lauknya. Ia pun dengan segera menghantarkan tangannya menuju gua mungil yang ada di wajahnya, namun sebelum sempat makanan itu sampai sebuah tangan menahan pergerakannya.

"ah?" lirik Sakura ke Sasuke dengan mulut yang masih ternganga.

"Hmm.. kau lupa sesuatu!" sahut Sasuke tajam, Sakura pun dengan pasrah meletakan kembali sumpitnya.

Gadis Haruno itu pun mengapit kedua telapak tangannya di depan dada sambil memejamkan matanya. Gadis itu pun berdehem sejenak.

"Ittada Kimasu!"

Sasuke pun tersenyum kecil. Sakura pun membuka matanya seraya menatap ke arah Sasuke.

"Makanlah sepuasmu!" Sahut Sasuke dan Sakura pun tersenyum lebar menampakan deretan gigi yang bersih dan rapih. Dengan nafsu lapar yang tinggi Sakura pun menghabiskan bento tersebut tanpa bersisa.

.

.

.

.

.

.

Super Senpai

Vonda17 Present.

.

.

.

.

.

.

.

Malam pun tiba kini keluarga kecil itu pun kembali lengkap dengan kehadiran Sakura di meja makan itu.

"Saki, Tousan senang kau bisa berkumpul lagi disini! dan ku harap kau bisa membagi masalah mu kepada kami, kau membuatku khawatir!" Sahut Kizashi. Sakura pun menatap Ayahnya dengan wajah yang menyesal.

"Gomenne Tousan, kemarin aku hanya sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun." sahut Sakura sendu. Tsunade pun mengelus rambut pink cucunya itu.

"Ne, Baa-chan tahu bagaimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan... Sakit memang, tapi dibalik kesakitan itu Kami-sama telah menyiapkan seseorang yang baik untukmu, sayang!" sahut Tsunade yang ditatap lekat oleh Sakura. Sakura pun menoleh kearah Sasuke yang dengan santainya sedang menyeruput teh hangatnya.

"heh pantat ayam!, kau menceritakan ini pada Tou-chan dan baa-chan ya?! dasar mulut plastik. Melar!" ketus Sakura seraya mendelikan matannya. Sasuke pun hanya mengendikkan bahu membuat Sakura mengerucutkan bibirnya.

"Hn, jaga ucapanmu nona Haruno!" sahut Sasuke.

"Kau yang harusnya jaga ucapan! dasar tukang ngadu!"

"Sudahlah kalian berdua! Sasuke sudah menjadi bagian dari keluarga kita, Saki... Jadi tak ada salahnya dia menceritakan masalah yang membuatmu mengurung diri seperti itu!" Sasuke pun menyeringai kemenangan, sedangkan Sakura menggerutu tak jelas. Kizashi dan Tsunade pun tersenyum lebar, kini suasana keluarga mereka pun sudah kembali normal.

"Aku selesai!" ucap Sakura yang langsung meninggalkan meja itu. Kizashi dan Tsunade pun menggeleng. Dasar sifat manja nya itu sulit di hilangkan. Setidak nya itu lah yang dikatakan oleh batin mereka.

.

.

.

.

.

Waktu pun telah menunjukan pukul 20.30, gadis berambut pink itu masih berkutat dengan pelajaran yang cukup sulit dicerna oleh otaknya. Sakura mengernyitkan alisnya dikala membaca untaian angka-angka yang tertera di buku tebal itu.

.

TOK TOK...

.

Konsentrasinya pun menjadi buyar ketika sebuah ketukan pintu terdengar ke telinganya.

"Siapa?" seru Sakura tanpa menoleh ke arah pintu.

CKLEK BLAM..

Sakura yang mendengar pintu kamarnya terbuka pun akhirnya terpaksa menoleh untuk melihat siapa yang masuk ke dalam kamarnya.

"hn..."

''oh.. kau.. ada apa?" tanya Sakura yang melihat kedatangan Sasuke.

"..."

Pemuda itu pun meletakan segelas susu di meja rias gadis Haruno itu. Sakura pun hanya terdiam tanpa memutuskan pandangannya pada Sasuke.

"Minum ini kalau mau tidur!" perintah Sasuke. Sakura pun mengangguk.

"apa ada kesulitan? sepertinya kau belum mengerjakan satupun soal yang ada dibukumu!" tanya Sasuke yang kini ada dibelakang Sakura. Gadis itu pun kembali menghadap bukunya seraya merengutkan wajahnya.

"y-ya, aku tidak mengerti dengan ini! aku benci Matematika!" sahut Sakura seraya memangku dagu dengan kedua tangannya.

Sasuke pun mendengus kecil, ia pun mengambil buku tersebut untuk melihat materi apa yang belum dimengerti oleh Sakura.

"Peluang? ini materi yang mudah!" Sasuke pun dengan telaten memberikan pengarahan pada Sakura. Sakura yang mendengar dan memperhatikan apa yang Sasuke berikan pun kini mulai tersenyum. Sepertinya yang di jelaskan oleh Sasuke lebih mudah masuk ke otaknya daripada penjelasan gurunya di sekolah.

"Nah, sekarang coba kau kerjakan ini." Sakura pun menerima secarik kertas dengan soal yang sudah di buatkan oleh Sasuke.

"Kalau aku salah apa kau akan memberiku hukuman?!" tanya Sakura sebelum mengerjakan soal tersebut.

"Hn, kerjakan saja dulu!" sahut Sasuke yang kemudian membiarkan Sakura yang berkutat dengan soalnya. Sedangkan Sasuke ia tengah menunggu gadis itu sambil membaca salah satu koleksi komik milik Sakura. Tiba-tiba saja secarik kertas terjatuh dari sela-sela komik itu, tangan Sasuke pun meraih kertas itu dan membukanya.

JRENG...

"Astaga, apa Sakura sebodoh ini!?" sahut batin Sasuke terkejut. Kedua alisnya mengernyit, mata onyxnya menyipit dan rahangnya mengeras saat melihat nilai merah yang tertera di kertas itu yang ternyata sebuah kertas hasil ulangan harian milik Sakura.

Sasuke pun merencanakan sesuatu agar Sakura dapat memperbaiki nilainya. Sebuah seringaian pun tercipta di wajahnya yang tampan tanpa di ketahui oleh siapapun. Dan Sakura, oh aku yakin dia akan tersiksa 2 minggu ke depan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

Pojok Author:

Hallooo ketemu lagi sama miss Vonda, well bagaimana chapter ini? baguskah? jelekkah? nah maka dari itu Miss sangat membutuhkan review kalian agar Miss bisa tahu letak typo dan sebangsa nya di dlam fict ini. Well, nantikan chapter selanjutnya ya... ciyu baibai :D

Sign Vonda17