CHAPTER 1


Kyuhyun mengemasi barang-barangnya. Hanya sebuah ransel dan sebuah kotak coklat muda untuk peralatan kantornya. "Aku hanya pergi untuk dua bulan saja." katanya bergumam sambil melihat kamarnya. Sungguh, ia merasa tak tega meninggalkan kamarnya itu.

Kyuhyun mengambil sebuah bingkai foto dimana terdapat potret dirinya ketika 15 tahun, Ayah serta Ibu kandungnya. Ia mengusap kaca bingkai itu dengan ibu jarinya lalu tersenyum tipis. Kyuhyun sangat merindukan masa-masa itu. Terakhir ia bertemu dengan Ibu –nya setahun yang lalu, ketika acara wisuda di kampusnya.

"Eomeoni." gumam Kyuhyun, "Aku rasa pria yang ku panggil Abeoji itu semakin lama aku semakin tidak mengenalnya. Bahkan tadi ia memaksaku untuk memanggil wanita tua itu dengan sebutan Eomeoni dan gadis menyebalkan itu dengan sebutan Noona. Pantaskah aku memanggil mereka dengan sebutan itu?"

Kyuhyun menghela napasnya. Sekencang apapun ia berteriak, Ibu –nya Kyuhyun tidak akan pernah bisa mendengar apapun yang Kyuhyun katakan—yang sekarang entah ada dimana. Kyuhyun kembali meletakkan bingkai foto itu di tempatnya. Ibu –nya pernah berpesan, kemanapun Kyuhyun pergi dan bagaimanapun itu, Kyuhyun tak boleh memindahkan bingkai foto itu kemanapun.

Kyuhyun mengulurkan tangan dan meraih ranselnya. Ia meletakkannya di punggungnya, kemudian mengangkat kardus tempat peralatan kantornya di depan perutnya. Kyuhyun menuju ke ruang tamu yang berada di lantai pertama rumahnya. Kyuhyun meletakkan kardus itu di sofa kemudian menuju ke ruang makan, dimana Ayah –nya sedang berada.

"Abeoji." ujar Kyuhyun pelan. Ia duduk di salah kursi—di antara empat kursi—yang ada.

"Hm." Ayah –nya hanya menjawab dengan deheman pelan. Matanya masih terfokus pada koran yang belum selesai di bacanya tadi pagi.

"Aku akan pergi sekarang." kata Kyuhyun—menjadi agak canggung, "Emh—Abeoji tak ingin mengatakan apapun?" tanya Kyuhyun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Tidak. Pergilah! Apapun yang aku katakan, kau tidak akan pernah mendengarkanku. Kau hanya mendengarkan wanita itu." sahut Ayah –nya dengan enteng kemudian menyesap kopinya.

Kyuhyun menarik napasnya dalam. Rasa kesal mulai bergejolak di dalam dirinya. Wanita? Kenapa Ayah –nya menyebut Ibu –nya dengan sebutan seperti itu? Maksudnya dengan nada yang tidak biasa.

"Bila perlu kau tak usah kembali ke rumah ini. Aku akan mewariskan seluruh hartaku kepada istri dan anak perempuanku, bukan kepadamu." sambungnya.

Kyuhyun mengangkat wajahnya. Pria ini—pria yang dihadapannya ini benar-benar sudah tidak menganggapnya sebagai seorang anak. Kyuhyun bangkit tanpa berkata sepatah katapun. Ia menuju ke ruang tamu mengambil kotak peralatan kantornya kemudian keluar dari rumah itu. Air matanya menetes. Bahkan Ayah –nya—yang satu-satunya masih berada di sisinya—pun seakan tak peduli pada Kyuhyun.

(Well, This is Love)

Bug!

Siwon meletakkan kotak kardus tempat peralatan kantornya. Sebagai seorang manager ia tak hanya membawa alat-alat semacam yang Kyuhyun bawa. Siwon baru saja selesai memindahkan beberapa buku panduan perusahaan yang lumayan tebal. Bagaimanapun ini adalah proyek yang di bebankan kepada Siwon. Walaupun di bantu oleh Kyuhyun, namun Siwon yang memegang kendali penuh. Siwon menilai, Kyuhyun tak bisa terlalu banyak diharapkan. Mengingat bagaimana kesalahan yang di buat oleh pemuda berkedudukan pegawai magang itu.

Siwon meregangkan otot-ototnya. Memindahkan barang-barang ini membuatnya cukup lelah.

Siwon melihat jam tangannya. Seharusnya Kyuhyun sudah datang sejak 30 menit yang lalu. "Kenapa dia belum datang?" gumam Siwon pelan.

Sembari menunggu, Siwon memasukkan buku-bukunya ke dalam rak yang sudah disediakan. Sekarang ia harus terbiasa untuk berbagi rumah dengan orang lain. Jangan heran, di Korea Siwon hanya tinggal sendirian akhir-akhir ini. Orang tuanya berada di Kanada dalam waktu yang cukup lama.

Bagaimana dengan kekasih? Ah—Siwon terlalu sibuk untuk memikirkan seorang kekasih. Bergelut dengan pekerjaan kantor saja sudah membuatnya cukup lelah. Lembur, sepertinya itu adalah kencan menurut Siwon. Tak ada waktu untuk memikirkan hal semacam kencan atau berpacaran, apalagi untuk menikah.

Ting Tong!

Seseorang sepertinya menekan bel pintu beberapa kali. Mungkin itu Kyuhyun, pikir Siwon.

Siwon membuka pintu, benar saja itu adalah Kyuhyun. Ia tampak kelelahan dengan barang bawaannya. Tak mengherankan. Siwon tahu kalau Kyuhyun masih menggunakan bus sebagai alat transportasi –nya. Dan jarak halte bus dengan rumah ini memang lumayan jauh. Belum lagi dengan cuaca panas dan membuat siapapun akan malas untuk berjalan kaki.

Siwon meraih kotak yang di bawa Kyuhyun. Ia membantu Kyuhyun untuk mengangkatnya dan membawanya masuk ke dalam rumah. "Seharusnya kau menelponku agar aku bisa menjemputmu." kata Siwon sambil meletakkan kotak milik Kyuhyun.

"Aku hanya tak ingin merepotkan Manager." jawab Kyuhyun dengan napas terengah-engah.

Keringat menetes di leher putih mulusnya. Dan Siwon? Ia tak sengaja menatap leher itu. Bagian tubuh itu mengkilat, belum lagi dengan warna putih porselen yang sangat menggoda. Siwon menelan ludahnya kasar. Kenapa ia baru menyadari hal ini? Padahal beberapa minggu terakhir ia bekerja bersama Kyuhyun. Emm—mungkin karena kerah kemeja Kyuhyun yang terlalu menutupi leher putih porselen yang mulus itu.

"Kenapa kau menatapku seperti itu, Manager?" tanya Kyuhyun yang menyadari tatapan Siwon yang tak dapat dikatakan biasa.

"Eh itu—apa kau sudah makan?" tanya Siwon kikuk—mengalihkan pembicaraan.

"Belum." jawab Kyuhyun singkat, "Kau ingin aku memasak sesuatu untukmu?" tanya Kyuhyun.

"Boleh. Masaklah sesuatu di dapur sana!" kata Siwon sambil menunjuk dapur dengan jari telunjuknya.

Kyuhyun mengangguk dan segera menuju dapur lalu memasak.

"Ahhh apa yang aku pikirkan?" gumam Siwon frustasi—pada dirinya sendiri—ketika sudah memastikan Kyuhyun benar-benar memasuki dapur.

(Well, This is Love)

Kyuhyun duduk di ranjangnya. Ia menghela napas panjang. Perutnya terisi penuh setelah makan malam bersama dengan Siwon. Manager—sekaligus ketua tim –nya itu menilai kalau makanan buatan Kyuhyun tak terlalu buruk. Em—atau mungkin memang enak, mengingat bagaimana lahapnya Siwon saat menyantap makanan buatan Kyuhyun.

Kyuhyun menuju ke kemar mandi di kamarnya. Ia berniat untuk menyikat giginya, kemudian akan merendam tubuhnya dengan air hangat untuk beberapa jam ke depan. Akhir-akhir ini tubuhnya memang terasa sangat pegal.

Creshh

Kyuhyun menyalakan keran di wastafel, kemudian menyikat giginya. Tiba-tiba Kyuhyun tersenyum. Entahlah. Mungkin karena beberapa menit yang lalu ia terlalu lama melihat bagaimana lekuk wajah Siwon. Dan itu untuk pertama kalinya. Walaupun Kyuhyun melihat Siwon setiap hari di kantor, tetapi karena kesibukkan masing-masing tidak memungkinkan untuk Kyuhyun memperhatikan Siwon sampai detail.

Kyuhyun kembali menyalakan keran itu—setelah sebelumnya sempat mematikannya—berniat untuk berkumur. Kyuhyun mengernyit pelan karena air tak kunjung keluar dari keran itu. Kyuhyun juga mencoba keran lain di kamar mandi, namun sama saja.

Akhirnya Kyuhyun menuju dapur untuk berkumur. Mungkin malam ini ia harus mengurungkan niatnya untuk berendam. Padahal tubuhnya sudah terasa sangat lengket. Ah—benar-benar sial!

Kyuhyun kembali ke kamarnya. Ia akan segera tidur. Sepertinya malam semakin larut. Mungkin ia bisa mandi di keesokan harinya. Kyuhyun menarik selimutnya sebatas leher dan ia mencoba untuk memejamkan matanya.

Setelah beberapa menit memaksakan untuk tidur, akhirnya Kyuhyun terbangun kembali. Ia tidak bisa tidur dengan keadaan tubuh lengket dan bau keringat. Sebuah ide melintas di benaknya.

"Ah—mana mungkin aku bisa meminjam kamar mandi di kamar Manager Choi, pasti dia sudah tertidur." dengus Kyuhyun kecewa ketika idenya tidak akan selancar yang di bayangkan.

Kyuhyun turun dari ranjangnya, "Lebih baik aku mencoba ke kamarnya." kata Kyuhyun sembari mengambil handuk mandi miliknya.

(Well, This is Love)

Siwon memejamkan matanya. Tubuhnya terasa rileks ketika ia berendam di bath tub yang ia isi dengan air hangat. Sudah lama Siwon tidak melakukan hal ini karena seringkali ia tidur di kantor dan lembur. Tidak ada waktu untuk bersantai baginya. Semuanya penuh dengan pekerjaan.

"Manager manager!" tedengar suara Kyuhyun—sayup-sayup—memanggil Siwon. Siwon membuka matanya. Ia mendengus pelan. Apalagi sekarang?

Siwon menegakkan badannya, "Aku disini!" sahut Siwon agak berteriak.

Dari langkahnya dapat di dengar kalau Kyuhyun sedang menuju ke kamar mandi Siwon. Ya, mungkin Kyuhyun pikir Siwon sedang menyikat giginya untuk pergi tidur.

Kenop pintu diputar, "Manager bolehkah aku meminjam—upss." Dengan terburu-buru, Kyuhyun kembali menutup pintu kamar mandi itu ketika matanya secara tak sengaja menangkap sosok Siwon yang sedang berendam di bath tub –nya. Sudah dapat dipastikan tubuhnya dalam keadaan polos. Beruntungnya, Kyuhyun hanya melihat bagian dadanya saja.

"Maaf, Manager. Aku tak sengaja." sesal Kyuhyun. Ia memejamkan matanya dan mendengus merutuki dirinya. Seharusnya sebelum membuka pintu tadi, ia permisi terlebih dahulu.

Tak ada jawaban dari Siwon setelah beberapa saat Kyuhyun menunggunya. Kyuhyun memutuskan untuk kembali ke kamarnya, namun langkah ketiganya terhenti ketika suara Siwon terdengar dari dalam kamar mandi.

"Kau masih di luar sana?" tanya Siwon.

"Y—ya." jawab Kyuhyun—agak gugup.

"Masuklah!" perintah Siwon.

"Y—ya?" Kyuhyun memperjelas.

"Aku bilang, masuklah!" kata Siwon sekali lagi, "Kalau tidak, bisa kupastikan besok kau tidak akan bekerja bersamaku lagi." sambung Siwon dengan nada mengancam.

Dengan agak ragu, Kyuhyun memutar kenop pintu. Ia menelan ludahnya kasar. Apa yang akan dilakukan Siwon sekarang? Kyuhyun hanya berharap dia akan selamat. Em—mungkin ia sedang berpikir kalau Siwon akan memecatnya saat itu juga karena dengan lancangnya ia membuka pintu kamar mandi saat Siwon merendam tubuhnya.

Kyuhyun berdiri di dekat pintu dan diam terpaku. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Kyuhyun tampak seperti orang bodoh yang kebingungan. Sekarang matanya hanya memandangi Siwon yang masih berada di dalam bath tub.

"Lepas pakaianmu!" perintah Siwon dengan nada yang datar.

"Y—ya?" Kyuhyun memperjelas lagi. Matanya membulat sempurna. Hell! Apa-apaan ini? Melepas pakaian? Jangan katakan…

"Cepat!" Siwon mendelik tajam.

Oh my! Kyuhyun meletakkan handuknya di besi tempat menggantungkan handuk. Ia melakukannya dengan ragu-ragu. Terpaksa—dengan terpaksa Kyuhyun melepas pakaiannya. Membiarkan tubuh polosnya terekspos di depan Siwon. Kyuhyun hanya menyisakan dalamannya saja.

"Lepas yang satu itu juga. Aku tidak akan melihatnya." kata Siwon. Ia membuang mukanya, menoleh ke sembarang arah—yang jelas tidak mengarah ke Kyuhyun. Ludah Siwon tertelan dengan kasar. Ah—tubuhnya—tubuh Kyuhyun sangat putih dan itu membuat Siwon sedikit tergoda.

Eh? Tergoda? Well, Siwon masih menganggap dirinya seorang yang normal. Ingat! Normal!

"Kau masih diam disana?" tanya Siwon tanpa melihat Kyuhyun, "Sekarang masuklah ke dalam sini!" perintah Siwon lagi. Siwon menekuk kakinya, menyisakan sedikit area untuk Kyuhyun.

Plup!

Kyuhyun masuk ke dalam bath tub. Mereka duduk saling berhadapan dan mata yang saling bertemu. Mereka terdiam dan suasana menjadi hening.

Tiba-tiba Siwon mengulurkan tangannya. Ia meraih spons dan sebotol sabun cair yang terletak tak jauh. Siwon menuangkan sabun itu di spons. "Gunakan ini untuk menggosok punggungku." katanya sambil memberikan spons itu kepada Kyuhyun.

Apa Siwon sudah gila? Ah—apa dia ingin mempermainkan Kyuhyun? Sungguh, sebenarnya ini sangatlah tidak lucu.

Dengan ragu Kyuhyun meraih spons itu dari tangan Siwon. Kyuhyun bangkit dari posisi duduknya, menggunakan lututnya sebagai tumpuan. Dengan posisi seperti memeluk Siwon, Kyuhyun menggosok punggung Siwon sesuai dengan yang diperintahkan. Kyuhyun menggosoknya perlahan, mulai dari atas kemudian semakin kebawah.

Sret!

Sesuatu yang agak panjang dan bulat menyentuh perut Siwon. Sejenak ia merasa terkejut, namun selanjutnya Siwon kembali dengan ekspresi datarnya.

Sedangkan Kyuhyun? Karena ia tak dapat menjangkau bagian bawah punggung Siwon, jadi ia makin mendekatkan tubuhnya. Kyuhyun merasakannya. Sesuatu yang berada di bawahnya seperti bergesekkan dengan perut Siwon. Kyuhyun dapat merasakan itunya semakin membesar. Sial!

Kyuhyun bergerak, berniat akan menjauhnya tubuhnya dari Siwon dan kembali ke tempat semula. Namun ia dapat merasakan tangan Siwon yang menahan punggungnya. "Diamlah!" kata Siwon menekankan.

Kyuhyun hanya menurut apa yang dikatakan oleh Siwon. Dalam hatinya ia merutuk kesal. Kenapa hal ini harus terjadi padanya? Ah sungguh! Kyuhyun masih merasakan kalau dirinya seorang yang normal. Sekali lagi ingat, normal!

Siwon menarik kaki Kyuhyun hingga melingkar di pinggangnya. Tak ada penolakkan dari Kyuhyun. Hanya saja ia terlihat terganggu dengan perlakuan Siwon.

"Man—manager apa yang kau—."

"Sudah ku katakan diam." Siwon menyahut dingin. "Gosoklah punggungku. Kau belum menyelesaikannya." sambung Siwon.

"Em—ba—baiklah." Akhirnya Kyuhyun kembali menggosok tubuh Siwon walaupun sekarang ia sangat risih dengan perlakuan Siwon.

Chu~

Siwon mengecup pelan tengkuk Kyuhyun. Seperti ribuan semut yang merayap di tubuh Kyuhyun, ia merasakan bulu kuduknya berdesir aneh. Tak hanya itu, darahnya pun terasa mengalir lebih cepat. Jantungnya berdegup kencang. Apa yang Siwon lakukan? Apa dia gila karena terlalu banyak memikirkan pekerjaan kantor?

Chu~

Untuk kedua kalinya Siwon mengecup tengkuk Kyuhyun. Tak hanya sampai disitu, Siwon melanjutnya kecupannya ke bahu Kyuhyun. Ia juga menggesekkan ujung hidungnya menuruni lengan mulus Kyuhyun.

Tangan yang satunya masuk ke dalam air, meraih sesuatu bulat panjang yang sempat bergesekan dengan perutnya tadi.

"Eungghh—manager apa yang kau—engghh." Kyuhyun mendesah. Penisnya di remas oleh Siwon. Sedangkan tangan Kyuhyun meremas spons yang masih di dalam genggamannya.

Gelembung-gelembung kecil muncul ke permukaan dimana itu adalah jarak di antara Siwon dan Kyuhyun. Kyuhyun tampak membenamkan wajahnya di ceruk leher Siwon bagian samping. Ia menggigit bibir bawahnya. Siwon, dia mempermainkan penis Kyuhyun sejak tadi.

"Kenapa kau tak mendesah huh?" protes Siwon saat ia tahu Kyuhyun seperti menahan desahannya. Kyuhyun mengacuhkan itu. Jari-jarinya mencengkram lengan Siwon dan menimbulkan luka kecil di sana.

"Mendesahlah baby! Aku ingin mendengar itu untuk kedua kalinya." kata Siwon lagi. Ia menyebut Kyuhyun dengan sebutan 'baby' barusan. Tangan Siwon masih gencar mempermainkan penis Kyuhyun dan tampaknya penis kecil itu makin membesar.

Siwon menaikkan salah satu sudut bibirnya. Tangannya yang lain masuk ke dalam air. Ia mengesekkan miliknya dengan milik Kyuhyun. Siwon yakin, desahan yang ingin di dengarnya pasti akan keluar dengan cara itu.

"Ouhh… Ini—benar-benar mengubah apa yang aku pikirkan selama ini—eunghh." kata Siwon dengan desahan.

Kyuhyun makin mencengkram pundak Siwon. Hal ini membuatnya benar-benar gila dan tersiksa. Bukan tersiksa karena ia merasa sakit. Tetapi Kyuhyun sangat ingin mendesah dan ia harus menahannya. Tidak! Ia masih kekeh kalau dirinya normal!

"Cho—Kyu—ah aku ingin—ouhh." rancau Siwon saat ia merasakan penisnya berkedut. Oh bukan hanya miliknya saja, tetapi milik Kyuhyun juga.

Siwon berteriak dalam pelepasannya sedangkan Kyuhyun masih menahan agar tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Cairan putih itu masuk bercampur ke dalam air yang merendam tubuh mereka berdua. Kyuhyun terengah. Pertahanan itu sangat membuatnya lelah. Sial! Managernya ini membuat Kyuhyun terlena untuk beberapa saat. Tetapi ia akan mengingat kembali kalau dirinya normal.

Siwon makin mengeratkan pelukannya. Tangannya tergerak untuk membasuh punggung Kyuhyun menggunakan air yang bercampur cairan mereka berdua. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka masing-masing. Mungkin keheningan beberapa saat setelah kegilaan itu jauh lebih baik.

"Apa yang aku lakukan barusan? Apa kau gila Choi Siwon?" batin Siwon merutuki dirinya.

(Well, This is Love)

Mereka saling bertatapan satu sama lain. Matanya berkedip mengikuti detik waktu. Tak sepatah katapun yang keluar. Tak tampak seperti makan malam kemarin. Kali ini tampak sangat canggung. Kejadian di bath tub adalah penyebab utama.

Kyuhyun menunduk, kemudian tangannya meraih sumpit yang ada di sebelah kanannya. Ia menyumpit sepotong kecil daging lalu memasukkan ke dalam mulutnya. Bahkan saat mengunyah pun ia sangat canggung. Kyuhyun meletakkan sumpitnya dan berganti mengambil sendok. Ia menyuap nasinya dan menelannya dengan cepat.

"Uhuk." Kyuhyun tersedak. Ia kelimpungan mengambil segelas air dan meminumnya rakus.

Siwon hanya menatap tingkah laku Kyuhyun yang canggung itu sejak tadi tanpa berniat untuk menyumpit lauk ataupun menyuap sesendok nasi. Dalam hatinya ia mengumpat, "Dasar bodoh. Kenapa kau menjadi lebih bodoh gara-gara kemarin?"

"Makanlah dengan hati-hati." kata Siwon datar. Tangannya mengambil sumpit lalu dia mengambil selembar daun selada dan sepotong daging. Siwon membungkus daging itu di dalam daun. Siwon memasukkan bungkusan itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya pelan.

Glek!

Siwon menelannya habis, "Kalau kau canggung, sebaiknya kau melupakan apa yang aku lakukan padamu kemarin malam." Siwon mengambil sendoknya. Kyuhyun tampak terkejut dengan ucapan Siwon barusan. Tak ada rasa canggung yang tersirat dari kata-kata yang dilontarkannya itu.

"Kau tidak akan bisa bekerja dengan baik jika kau masih memikirkan itu." sambung Siwon kemudian menyuap nasinya. "Kau harus berkonsentrasi. Ingat itu!"

"Y—ya, Manager." sahut Kyuhyun pada akhirnya. Dan ini pertama kalinya Kyuhyun berbicara—sejak kemarin malam—setelah ia mendesah saat Siwon memperlakukannya seperti itu. "Aku akan bekerja keras untuk itu." kata Kyuhyun penuh arti. Tentu saja ia akan bekerja keras untuk melupakan hal itu. Tinggal 1 bulan 29 hari waktunya bersama Siwon di rumah itu. Tak lama. Ya, tak lama. Hari demi hari akan bergulir seperti biasanya. Kyuhyun akan—selalu—mengingat itu agar ia cepat lupa pada kejadian kemarin malam.

"Baguslah." Siwon mengangguk tipis. Ia menyumpit sepotong kecil kimchi, "Bukankah ini liburan yang agak mengesankan untukmu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Siwon.

Ya, hari ini mereka libur. Sehari penuh. Tanpa ada kerjaan kantor yang mengganggu mereka. Eksekutif Kim memberikan libur ini sebelum mereka memulai proyek besar itu. Kau tahu? Eksekutif Kim menaruh harapan penuh untuk spa –nya pada mereka berdua. Dan beliau sangat yakin, mereka akan memenangkan hal itu.

Kyuhyun terdiam. Hanya satu yang menghantui pikirannya. Ibu –nya. Kyuhyun sangat ingin menemui Ibu –nya kemudian menceritakan keluh kesah setelah Ayah –nya menikah dengan wanita lain dan seakan menelantarkan Kyuhyun karena ia memiliki seorang saudara perempuan.

"Aku ingin bertemu Eomeoni –ku." gumam Kyuhyun setelah cukup lama terdiam. Matanya tampak berkaca-kaca. Hatinya terasa tertoreh jika ia mengingat saat Ayah –nya mengucap sebuah janji pernikahan bersama wanita—yang sekarang berstatus sebagai Ibu—tiri–nya.

Mata Siwon tampak melebar. Bagaimanapun ia merasa bersalah karena bertanya seperti itu. Tetapi Siwon mempertahankan ekspresi datarnya, seolah ia tak memiliki simpati sedikit pun terhadap Kyuhyun.

"Bodoh." umpat Siwon pelan, namun Kyuhyun dapat mendengarnya. "Kau itu sudah berumur 24 tahun dan kau adalah laki-laki. Apa Eomeoni –mu mengajarkan kau menjadi anak yang cengeng huh?"

Rasanya Kyuhyun tertohok karena kalimat yang dilontarkan oleh Siwon barusan. Ternyata atasannya ini bukan hanya dingin dan datar, tetapi juga ucapannya yang menusuk.

Kyuhyun mengusap matanya kasar, bermaksud mengusap air matanya yang hampir turun membasahi pipinya. Walaupun ucapan itu menusuk, tetapi apa yang dikatakan Siwon ada benarnya juga. Kyuhyun sudah berusia 24 tahun. Dia juga seorang laki-laki. Untuk apa menangis? Menangis hanya karena ia ingin bertemu Ibu –nya. Menangis hanya karena cemburu pada kakak perempuan tirinya yang akhir-akhir ini sepertinya memang mendapat perlakuan lebih dari Ayah –nya. Bukankah Kyuhyun memutuskan untuk mandiri? Setelah proyek besar ini selesai, ia benar-benar akan berubah menjadi monster yang tidak memerlukan siapapun. Ia hanya akan hidup sendiri, tanpa Ibu dan Ayah, bahkan tanpa sanak saudara.

Ting tong ting tong!

Suara bel pintu membuyarkan pemikiran Kyuhyun. Kyuhyun memutar tubuhnya dan menoleh ke arah pintu. Kyuhyun bangkit, namun tangan Siwon menahannya. Menyentuhnya tepat di dada Kyuhyun. "Biar aku saja. Mungkin Eksekutif Kim." kata Siwon yang kemudian menuju ke pintu.

Deg!

Rasanya jantung Kyuhyun berdetak lebih cepat. Apa ini? Kenapa sentuhan Siwon rasanya agak berbeda? Apa mungkin ini efek kemarin malam? Ah—tidak! Kyuhyun harus segera melupakan kejadian yang masuk kategori memalukan itu. Anggap saja itu tak pernah terjadi. Mereka tetaplah sebatas Manager dan pegawai magang yang ingin mendapatkan nilai lebih untuk lulus menjadi pegawai tetap.

Kyuhyun bangkit dari posisi duduknya setelah cukup lama termenung. Kalau benar itu adalah Eksekutif Kim, ia harus menemuinya juga.

Kyuhyun menyipitkan matanya, melihat Siwon yang sepertinya sedang berbicara dengan seseorang. Bukan seorang laki-laki. Dari suaranya, sepertinya seorang perempuan. Kyuhyun mendekatinya.

"Kim—Kim Heechul—ssi?" gumam Kyuhyun pelan ketika ia mendapati sosok kakak tirinya di depan pintu.

"Apa dia mengenal Manager Choi? Lalu apa hubungan mereka?" batin Kyuhyun.


To Be Continue…


a/n: Annyeong ^.^ Hehehe akhirnya hari ini bisa post chapter 1 –nya. Maaf telat kurang lebih 2 hari. Ya, itu, di tengah hiatus ujian masih menyempatkan post ff. Disaat siswa lain fokus sama ujiannya, aku malah buat ff. :v Jadi, adegan (?) ini jangan ditiru (untuk yang masih pelajar). Selain itu, ada masalah juga sama temen sekelas, jadi otomatis mood turun ^.^ /curcol/ tapi gpp sih /plakk/

Maaf deh buat yang nunggu. Aku harap dengan ini penantiannya /?/ agak terobati :v Maaf kalau ffnya agak mengecewakan, tak seperti yang diharapkan. Soalnya ini cerita orang-orang kantoran, mungkin agak ngebosenin :v Maaf ya…

Aku harap ff ini bisa lebih banyak dapet review xD hahahah /abaikan/

Please, leave your comment ^.^ /ngarep/ thank's eonnie, dongsaeng ^.^ :v /yakin ga ada reader yang cowok/

Ah ya untuk chapter 2, mungkin setelah UN :v Doain biar lulus ya ^.^ Lulus US, UN, terus SNMPTN sama lulus interview buat kerja juga /banyak maunya/ditabok

bye bye :* /kecup basah/digampar