Sebelumnya Author mengucapkan terimakasiih yang sebanyak-banyaknya untuk mereka yang mau mebaca sepatah atau dua patah atau kata yang terpatah-patah yang author tulis ini ~ Author ada berkat ada reader huhuhu
nahauthor harap kalian menyukai ceritanya yaaa (meskipun OC nya agak aneh dan enggak banget)
Tidak seperti biasanya, hari ini Murasakibara tidak membawa camilan yang banyak, bahkan camilan itu sudah habis sebelum kelas dimulai, jadi mau tidak mau dia harus berangkat ke kantin untuk membeli beberapa makanan, meskipun ia sendiri tidak terlalu suka makanan yang berada di kantin, tapi ia tidak punya pilihan lain lagi, perutnya sudah berbunyi sejak pelajaran pertama dimulai. Ia berjalan di lorong sendirian, Kise memiliki urusan lain ( kemungkinan besar seorang gadis memanggilnya ke halaman belakang untuk - You Know What I Mean lah -) sedangkan Midorima memiliki beberapa urusan di perpustakaan, dilorong , ia melihat seorang gadis berambut putih melompat-lompat di depan papan pengumuman. Tangannya mencoba meraih sebuah kertas yang berada cukup tinggi (untuknya), kertas tersebut sedikit terobek, sebenarnya sedikit lagi ia akan berhasil menggapainya.
'kalau tidak salah ia kan...' Murasakibara mencoba mengingat ingat gadis itu.
Murasakibara mengepalkan tangan kanannya dan menepukannya ke tangan kirinya secara vertikal, ia sudah ingat gadis itu, ia duduk di belakang Murasakibara sepanjang waktu dan pernah menegurnya beberapa kali, sebelum akhirnya ia kesal sendiri dan berhenti melakukannya lagi. Sejak itu, Muraskibara selalu melakukan hal untuk membantu Shirozaki ,yang dengan jelas langsung ditolak mentah-mentah.
Sebuah tangan yang besar muncul dari belakang Shirozaki dan meraih kertas tadi dengan mudahnya.
"ini" Murasakibara tersenyum innocent ,lalu menyerahkan kertas yang ia bawa, beberapa wanita yang berada di dekat mereka terlihat blushing - kecuali gadis itu -
"murasakibara kun manis juga ya" begitulah kata mereka
Gadis itu terdiam, lalu berbalik, ia mulai berjalan pergi. Murasakibara hanya menatap gadis itu dengan heran.
'apa aku berbuat salah ?'
Dengan beberapa langkah Murasakibara berhasil menyusul langkah Shirozaki, ia menghadangnya dengan pose pertahanannya.
"Apa maumu?" Meskipun matanya tidak terlihat, tapi dari auranya saja sudah terlihat jelas kalau ia sangat terganggu.
Murasakibara memberikan kertas yang ia ambil di papan pengumuman.
Gadis itu terdiam, lalu berjalan melewati Murasakibara begitu saja.
"h-hey"
Shirozaki berhenti lalu menoleh.
"Aku benar-benar menghargainya,terima kasih Murasakibara-san, tapi aku tidak membutuhkannya sama sekali" ia mengatakannya dengan senyuman tipis, tapi dengan nada yang sedikit kesal.
"e-eh ? apa maksudmu ?"
"Aku ingin mendapatkannya dengan kekuatanku sendiri , lagipula lompatanku sedikit lebih tinggi dari kemarin" Gadis itu mengela napasnya dan berbicara serendah mungkin. Murasakibara tidak dapat melihat wajah atau ekspresinya, ia juga tidak terlalu mendengar apa yang Shirozaki katakan, yang ia dengar hanyalah bisikan-bisikan orang yang berada di sekitar mereka.
"eh ? apa mak-"
KRUYUUUUUUKKKK
.
.
Hening
.
.
Shirozaki menegakkan wajahnya, tangannya mencari-cari sesuatu dalam saku jaket merah yang dipakainya , tak lama kemudian sebuah lollipop kecil berwarna merah berada di tangannya, ia melemparkan lollipop itu ke Murasakibara yang dengan refleks menangkapnya, lalu berbalik dan berjalan pergi.
"tch .. jangan lakukan hal seperti itu lagi"
Beberapa jam sebelumnya Shirozaki dipanggil ke kantor, seseorang telah mengadukannya, mengatakan bahwa semua hasil tesnya hasil dari kecurangan. Sebagian Sensei meragukannya, tapi beberapa Sensei yang mengenalnya tidak meragukannya sama sekali.
"Apa yang kau lakukan ? benarkah kau menyontek ?" Tanya Ichikawa Sensei, sejak awal ia tidak menyukai Shirozaki. Tubuhnya yang besar dan gempal memenuhi kursi kecil yang berada tidak jauh dari mejanya.
"jika aku berkata tidak , apakah sensei akan percaya padaku ?" Shirozaki tersenyum lembut.
"dari dulu perilakumu tidak berubah ya," Karasuma sensei menepuk nepuk buku ke punggunggnya yang lebar, badannya tinggi dan berotot, ia menghela napas panjang, seperti biasa ia menggulungkan lengan kemejanya. Satu kesimpulan : Ia benar-benar guru terkeren seantero sekolah.
"memangnya apa yang akan kau lakukan dengan hidupmu ? Shirozaki ?" Ichikawa sensei menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
"..."
"kurasa tidak benar mempercayai rumor begitu saja, lagipula dia kan memang jen-" Moriyama sensei mencoba menenangkan Ichikawa sensei, wajah cantiknya dihiasi senyum innocent.
"kalau begitu sensei, aku akan kembali ke kelasku" Shirozaki membungkukkan badannya sedalam mungkin lalu pergi.
Karasuma sensei memperhatikan gadis itu pergi, lalu menghela napasnya.
"anak itu .. sampai kapan ia akan seperti itu ?"
"Karasuma sensei,kalau diperhatikan kau selalu membelanya" Ichikawa Sensei menyilangkan kedua tangannyda di dadanya lalu mengangkat sebelah alisnya.
"ah.. aku sudah mengenalnya sejak kecil"
Shirozaki berjalan menuju ke salah satu dari beberapa tempat favoritnya ; Taman belakang. Ia duduk di bawah pohon lalu menyandarkan punggungnya, matanya menerawang -melalui poninya tentusaja- jauh ke langit, ia mengangkat tangan kirinya,ia menutup kedua matanya cahaya matahari menerpa wajahnya, melewati celah-celah diantara jari-jarinya yang kurus,semilir angin 'memainkan' rambut putih nya, ia tersenyum masam. Perkataan Ichikawa sensei terngiang di benaknya
'Hidup... ya ?'
Ia menurunkan tangan kirinya lalu menggunakannya untuk menyibakkan poninya ke atas ,ia menjepitnya menggunakan klip kertas yang terselip di buku yang ia bawa.
Sekarang , wajahnya terlihat jelas. Seperti biasa ia memegang Roti di tangan kanannya dan buku di tangan kirinya, lalu mulai membaca halaman demi halaman dengan serius.
Saat itu seorang gadis berambut hitam dengan potongan bob datang diikuti lelaki tinggi berambut blonde yang sudah tidak asing lagi; Kise. Gadis itu tidak sadar kalau Shirozaki berada di bawah pohon. ( posisi mereka berlawanan, Shirozaki berada di sisi lain dari pohon , tubuhnya terhalangi )
"A-anu .. Kise-kun , sssss-sebenarnya aku .." Gadis itu meremas rok nya dengan sangat keras, ia menundukkan wajahnya yang sangat merah.
"A...aku"
Kise sudah biasa menghadapi situasi seperti ini, sudah tak terhitung lagi seberapa banyak wanita yang menyatakan cinta padanya. Jadi ia hanya tersenyum manis seperti biasa lalu menunggu dengan tenang.
"Ssssebenarnya A..aku... a..ak"
"Aku menyukaimu, berkencanlah denganku"
"e..eh ?"
Kise membeku, ia mengenali suara itu, gadis itu diam, wajahnya sangat merah kali ini bercampur dengan marah, Suara Manis yang gemetar itu digantikan dengan suara yang dingin dengan nada yang datar, Shirozaki menutup bukunya, lalu menunjukkan dirinya, dengan ekspresi datar. Kali ini Kise menatap Shirozaki dengan tatapan bingung. Ia tidak yakin apakah yang ia lihat adalah sang 'kitsune' yang pernah mengajarinya matematika, ia tidak tahu apakah ia harus memanggilnya manis atau cantik karena apa yang ia lihat benar-benar diluar ekspektasinya, gadis itu cantik dan juga manis, matanya benar-benar indah, tapi disisi lain ia benar-benar mengenal suara dan nada yang datar itu.
"e-eh .. kau sia-"
"Aku tidak akan mengatakan itu jika aku jadi dirimu" Ia menunjuk ke arah jendela di lantai 2, beberapa orang melihat mereka dari jendela, bahkan beberapa gadis tertawa mengolok-oloknya, beberapa dari mereka mengeluarkan handphone nya.
"e..eh!" kaki gadis itu mulai gemetar, lalu beberapa detik kemudian badannya lemas dan terjatuh, tapi Kise dengan cepat menangkapnya, dengan gaya seperti pangeran.
"Ki..kise-Kuhnnn" Tiba-tiba saja gadis itu pingsan di pelukan Kise dengan wajah yang bahagia.
"Hey bukankah sebagai sesama wanita kau bisa mengerti situasinya-ssu!" wajahnya terlihat serius, ia benar-benar marah.
Shirozaki tidak menghiraukan Kise, ia menggigit rotinya dan menatap ke atas dengan tatapan datar yang dingin, orang-orang yang berada di lantai 2 itu berhenti tertawa ataupun berbicara, mereka merasakan hawa yang benar-benar dingin dan suram, mereka pun segera masuk ke kelasnya dan duduk dengan tenang.
'umarete kita ... gomenasai*' pikir mereka, wajah mereka berubah suram. Shirozaki mengigit potongan roti terakhirnya, lalu mengacak-acak poninya, beberapa klip kertas berjatuhan ke tanah
"eh ? jadi itu yang kaugunakan untuk menjepit ponimu-ssu ?" Kise terkejut sekaligus sweatdrop.
"lalu ? kau keberatan ?" Shirozaki mulai berjalan kearahnya.
"a-apa yang kau lakukan b-barusan-ssu ?" Kise mulai canggung, ia mengeluarkan keringat dingin.
"eh ? aku ?" Ia menunjuk dirinya sendiri, lalu sedikit terkekeh.
"Aku kan hanya melihat mereka saja" Ia membungkukkan badannya.
"hee .. tak kusangka mereka benar-benar melakukannya, Yukari-san Kawaisou" Shirozaki membungkukkan badannya lalu mengusap-usap kepala Yukari dengan lembut.
"eeh ? apa maksudmu-ssu ?"
"Kise-san aku tidak tahu apakah kau naif atau benar-benar baka" Shirozaki mengatakannya dengan nada yang riang, hampir terdengar seperi pujian, ia juga tersenyum.
Kise membeku di tempat, wajahnya benar-benar pucat, baru kali ini seorang gadis memanggilnya seperti itu,ia tidak pernah membayangkan sebelumnya akan bertemu dengan gadis seperti itu, baru kali ini ia bertemu seorang gadis dengan sikap yang aneh, terkadang ia terlihat lembut, terkadang ia terlihat psycho, terkadang ia terlihat monoton, terkadang ia terlihat menyeramkan,terkadang ia sangat dingin, gadis itu benar-benar sulit didekati, tapi untuk itu ia menjadi terlihat misterius, mungkin sekarang ia tahu julukan 'Kitsune' artinya apa, tapi ia tidak berpikir kalau Shirozaki benar-benar licik.
"Bukankah lebih baik kalian pergi ke UKS saja ?" nadanya kembali datar, ia berbalik lalu pergi.
Kagami berjalan dengan malasnya , ia tahu kalau ini bukan pertanda baik, ia bersiap-siap dengan apa yang mungkin dikatakan para sensei, ia menghela napasnya dan memasuki ruang guru. Pupil mata Kagami melebar saat melihat gadis berambut -sedikit- berantakan itu juga berada disana. Hanya saja alasan mereka dipanggil berbeda. Mereka duduk berdampingan, posisi gadis itu sangat sopan.
"Oi Shirozaki ! hari ini sensei mendapat laporan lagi tentangmu... sampai kapan kau akan seperti ini ?" Ichikawa sensei menepuk-nepuk buku ke mejanya
"dan kau kagami .. nilaimu benar benar jelek" Ichikawa sensei membuka salah satu dokumen yang ada dimejanya. Ichikawa sensei menggeleng-gelengkan kepalanya. Kagami bersiap bangkit dari kursinya dan berbicara, tapi Shirozaki dengan tenang menyentuh tangannya dan memberikan isyarat untuk tetap diam.
"Anak-anak seperti kalian selalu membuatku pusing"
"Ah Ichikawa sensei, aku tahu hukuman yang cocok untuk mereka berdua" Wajah cantik Moriyama sensei dihiasi sebuah senyuman iblis.
"..."
OMAKE ~
"ada apa Kise-chin ? wajahmu benar-benar pucat, apa kau melihat hantu ?"
"hal seperti hantu itu tidak ada, nanodayo" Midorima membenarkan kacamatanya.
"a-aku a-aku bertemu Kitsune-ssu"
* Umarete kita gomenasai = i'm sorry for being born.
Thanks for reading minna ~
