"Sehun bisa tinggalkan aku sendiri" kata Jongin sambil menatap Sehun dan dengan perlahan menarik tangannya yang digenggam oleh Sehun.
Sehun mengangguk lalu meninggalkan Jongin sendiri diruangan tersebut. Merasa Sehun sudah keluar Jongin kembali melihat kearah jendela, menekuk kakinya lalu menenggelamkan kepalanya diantara lututnya. Jongin menangis keras diantara lututnya tersebut hingga langit cerah tersebut berganti dengan awan hitam pekat dan turu hujan sangat lebat.
Sedangakn Sehun setelah keluar dari ruang inap Jongin dia langsung berlari, tidak menghiraukan orang yang berada dilorong rumah sakit ketukan kakinya saat berlari begitu memekakkan telinga hingga ketukan kaki tersebut berganti dengan suara hujan yang begitu nyaring diluar. Sehun sudah berada diluar rumah sakit berlari meuju taman rumah sakit walaupun hujan dia masih terus berlari hingga tak terasa airmatanya juga jatuh membasahi pipinya yang bercampur dengan air hujan.
Sehun berjalan dengan gontai, dibawah guyuran hujan yang semakin deras. Kepalanya dia dongakan keatas, menatap rintikan air hujan yang membasahi seluruh wajah dan tubuhnya. Semua sendi badannya kini terasa lemah, hingga Sehun terjatuh menundukkan kepala masih sambil menangis. Salah satu tangannya kini memegang dadanya, sesak dadanya sangat sesak. Mendengar penolakan dari Jongin membuat dadanya sesak.
Inilah yang selama ini aku takutkan, jawaban yang membuat semua anganku berubah
Satu kata darimu yang membuat impianku hancur
Sungguh aku ingin bersamamu, bisakah kau berikan kesempatan lagi untuk sipendosa ini
Aku akan selalu menunggumu hingga ajalku menjemputku
Menunggu lagi jawaban yang selama ini aku impikan
Aku akan selalu mencoba membuat hatimu luluh pada pendosa ini
.
.
.
TO BE A GOOD MOM
SUMMARY : kehadiranmu bukanlah sebuah malapetaka bagiku, kehadiranmu yang telah membuatku kuat untuk bertahan didunia ini.
HUNKAI AND OTHER
Typo dimana-mana, saya juga seorang manusia jadi mohon dimaklumi dan disini saya juga mengambil sudut pandang dari Jongin dan Sehun.
.
.
Sehun membuka pintu rumah Kris dengan brutal, seluruh badannya basah kuyup sorot mata tajamnya terlihat kosong. Bibir kecilnya pucat bahkan badannya bergetar. Berjalan perlahan menuju tangga untuk kelantai 2 kamarnya. Dirumah hanya ada 2 orang maid 1 wanita dan 1 lagi laki-laki, mereka tak berani menegur Sehun karena takut akan wajah Sehun. Sehun berjalan dengan langkah gontai, hingga akhirnya dia sampai didepan kamarnya membuka pintu dan menutupnya dengan keras. Badannya merosot didepan pintu, kembali mengacak rambut hitam kelamnya tersebut yang basah. Sehun berteriak mengeluarkan semua rasa sakit dihatinya. Dia tidak sanggup seperti ini, dia ingin Jongin tapi Jongin malah menolaknya, dia memang pendosa sudah sepatutnya Tuhan membalasnya seperti itu. menenggelamkan kepalanya diantara lututnya. Sehun kembali menangis lagi, dia merasa hidup ini tidak adil.
Berjalan dengan gontai menuju kamar mandi, membuka seluruh pakaian yang dipakainya, menatap siluet dirinya dicermin kamar mandi. Mengusap rahang tegasnya, hingga tanpa komando lagi kepalan tangannya tersebut menghantap cermin yang berada didepannya. Cermin tersebut tidak berbentuk lagi, semua retak bahkan ada pecahan kaca kecil yang terjatuh diwastafel berbarengan dengan darah yang mengalir dari tangannya. Kembali lagi kepalan tangan itu memukul cermin yang sudah retak dan bertambah retak bahkan hampir semua terlepas. Tangannya kembali mengeluarkan darah bertambah banyak, bahkan ada pecahan kaca kecil yang menusuk tangannya tersebut.
Sehun tidak menghiraukan tangannya, menurut dia saat ini hatinyalah yang sangat sakit daripada tangannya tersebut. Kembali dia menangis, entah sudah keberapa kali untuk hari ini Sehun menangis. Membuka lemari yang berada diatas cermin tersebut, mengambil sebuah cutter yang entah sejak kapan cutter tersebut berada didalam lemari tersebut. Menatap cutter tersebut, dia tersenyum lalu menyentuhkan cutter tersebut dipergelangan tangannya. Dia berjalan menuju bathup dan masuk kedalam bathup, menyalakan kerannya. Itu bukanlah senyum kebahagiaan, melainkan senyuman pilu yang Sehun rasakan saat ini. Dia mulai menggoreskan cutter tersebut dipergelangan tangannya yang putih tersebut. Hingga darah mulai keluar dipergelangan tangannya, perih tapi Sehun bisa apa. Dia lebih memilih mati daripada hidup tanpa Jongin. Cutter tersebut jatuh diluar bathup, tangan Sehun kini mulai melemah. Tangannya terkulai lemas didalam bathup yang sudah teriris tersebut, air bersih yang Sehun nyalakan yang masuk kedalam bathup yang berwarna putih bersih tanpa cela tersebut kini ternodai dengan warna merah yang berasal dari darah Sehun.
Sehun menutup matanya, tersenyum pasrah. Kalau memang ini harinya untuk dirinya pergi dia bersedia, walaupun dia tak bisa melihat Jongin dan ketiga bayi kembarnya Sehun bahagia asal Jongin bahagia tanpa dirinya.
Ini memang jalanku, mencoba memulai tapi kau tak bisa
Cintaku tak akan pernah pudar walau aku tak bersamamu lagi
Aku mencintaimu selamanya
.
.
Pintu ruang inapnya terbuka secara perlahan membuat Jongin tersentak dari lamunannya. Airmata yang tadi menghiasi pipinya dengan cepat mengusap dengan telapak tangannya dia tidak mau disebut lemah. Memalingkan kepalanya lalu memberikan sebuah senyum kepada seseorang yang baru saja masuk. Laki-laki itu tersenyum kepada Jongin, lalu menjabat tangannya.
"Selamat atas kelahiran anakmu, Jongin ?" Kata laki-laki tersebut sambil tersenyum.
Jongin tersenyum "Terima kasih, kalau boleh tau anda siapa ?" Tanya Jongin sambil menatap laki-laki tersebut.
Laki-laki dengan wajah tampan, rahang yang kuat, tatapan matanya yang tajam mirip dengan Sehun kini duduk disamping ranjangnya tersenyum "Aku Kris Wu, kakak kandung Wu Sehun." Jawab Kris sambil menjulurkan tangannya bermaksud untuk berjabat tangan.
Jongin terdiam menatap Kris "Aku Kim Jongin, terima kasih sudah datang" Jawab Jongin sambil mengulurkan tangannya, menjabat tangan Kris.
"Maaf aku baru bisa datang, dan mengenai kesalahan yang dibuat oleh Sehun dan membuatmu begini. Aku minta maaf" Kata Kris lagi sambil menatap Jongin.
"Aku sudah memaafkan Sehun dari dulu, dan kesalahan yang sudah dibuat oleh ku dan Sehun itu adalah sebuah anugerah bagiku" Jawab Jongin sambil tersenyum lagi.
"Dimana ketiga bayimu, Jongin ?" Tanya Kris sambil melihat mengelilingi ruang inap Jongin.
"Mereka masih diletakkan diruang Khusus bayi, 3 bayi ku ada didalam inkubator. Kesehatan mereka belum stabil apa lagi anak yang terakhir Jantungnya masih lemah. Jadi, dokter masih menaruhnya disana" Jawab Jongin sambil membenarkan selimut yang menutupi perutnya.
Kris mengangguk, lalu menyerahkan bingkisan berupa peralatan bayi. "Maaf aku hanya bisa membawakan ini" Kata Kris.
Jongin tersenyum "Tidak apa-apa, suatu kehormatan anda datang kesini Kris-ssi" jawab Jongin.
"Jangan gunakan embel-embel ssi, kau bisa memanggilku Kris Hyung"
Jongin mengangguk lalu tersenyum pada Kris, beberapa saat mereka semua terdiam hingga pintu kembali terbuka menampakkan sosok mungil dan cantik yang kini tersenyum kearah Kris dan Jongin.
Dia mendekati Jongin, lalu mengelus kepala Jongin sayang.
"Kris Hyung ada apa kau kesini ?" Tanya Kyungsoo –namja manis tersebut-
"Yang pasti untuk menjenguk calon adik iparku" Jawab Kris sambil tersenyum kearah Jongin. Sedangkan Jongin hanya diam terpaku dengan kalimat yang dilontarkan oleh Kris, bahkan saat ini hubungannya dengan Sehun saja tidak terlalu baik.
"Jonginna kau tidak apa-apa ?" Tanya Kyungsoo khawatir saat melihat ekspresi Jongin.
Jongin mengangguk sambil tersenyum, tak mengatakan apapun. Sedangkan Kris hanya menatap Jongin.
Kris melihat jam dipergelangan tangannya "Oh aku harus kembali kekantor, kalau begitu aku pergi dulu" Kata Kris sambil tersenyum kepada Jongin dan Kyungsoo lalu dia pergi meninggalkan Kyungsoo dan Jongin disana.
Kyungsoo memegang alat infus Jongin, mengecek jika sesuatu yang tidak diinginkan tidak terjadi.
"Hyung..." Panggil Jongin sambil menatap Kyungsoo.
"Ya ada apa Jonginna" Jawab Kyungsoo menatap Jongin sebentar lalu kembali menatap catatannya.
"Maafkan aku, karena sudah mengacaukan resepsi pernikahan hyung dan Chan Hyung" Kata Jongin dengan wajah sendu.
Kyungsoo tersenyum "Tidak apa-apa Jonginna, aku akan lebih menyesal jika sesuatu terjadi pada ketiga bayimu dan dirimu" Jawab Kyungsoo sambil menunjuk Jongin tepat didada Jongin.
"Terima kasih hyung" Jawab Jongin sambil tersenyum. "Bagaimana dengan keadaan 3 bayiku hyung ?" Tanya Jongin sambil merubah posisinya agar lebih sedikit terlihat duduk.
Kyungsoo berjalan kesamping ranjang rawat Jongin lalu duduk dibangku disebelah ranjang rawat "Mereka bertiga mulai membaik, apalagi Taeoh kesehatannya mulai stabil. Tapi aku masih menaruhnya didalam inkubator karena bayi yang lahir prematur akan beresiko tinggi terkena penyakit bila ditaruh diluar daripada inkubator" Jawab Kyungsoo panjang lebar kepada Jongin, sedangkan Jongin hanya mengangguk dan kembali memberikan Kyungsoo sebuah senyuman.
"Kenapa kau tidak pernah cerita padaku kalau ayah dari 3 bayimu itu Sehun" Kata Kyungsoo bertanya kepada Jongin dengan wajah serius.
"Aku hanya tidak ingin mengingat dia Hyung, sebenarnya setelah kejadian ini aku ingin melupakan Sehun dan kejadian yang telah membuahkan sebuah anugerah ini tapi aku tidak tau kalau dia kembali lagi" Jawab Jongin dengan wajah sendunya menatap Kyungsoo.
Kyungsoo mengelus tangan Jongin yang mengurus tersebut "Maafkan aku bila kembali membuka luka dihatimu, tapi kalau memang itu yang terbaik untukmu aku akan mendukungmu Jonginna. Tapi apa kau membolehkan Sehun untuk bertemu anak-anak ?" tanya Kyungsoo lagi.
"Aku membolehkannya untuk menengok anak-anak karena aku tahu, mereka bertiga juga memerlukan sosok ayah dihidup mereka dan lagi anak-anak akan tetap menggunakan marga Wu depan nama anak-anakku nanti" Jawab Jongin tersenyum menatap Kyungsoo.
"Kau memang ibu yang baik Jonginna, ngomong-ngomong nama tiga bayimu siapa saja. Aku hanya tahu Taeoh saja" Kata Kyungsoo mencairkan suasana.
"Yang pertama Wu Hunjong, yang kedua Wu Sena dan yang terakhir Wu Taeoh. Apakah namanya bagus hyung ?" Tanya Jongin lagi.
"Nama yang bagus Jonginna, oh iya sudah saatnya kau istirahat. Aku akan keruang khusus bayi dan melihat keadaan Hunjong, Sena dan Taeoh" Jawab Kyungsoo membenarkan selimut yang menutupi perut Jongin lalu meninggalkan Jongin disana sendiri.
Setelah melihat Kyungsoo sudah keluar ruang inapnya, Jongin kembali menatap kaluar jendela lagi. menataap tetesan demi tetesan air hujan yang kini mulai mereda. Langit diluar masih sama hitamnya, Jongin terdiam saat mengingat Sehun yang tadi berlari diantara guyuran hujan lebat. Didalam benaknya dia juga merasa khawatir tapi egonya mengatakan lain, dia ingin mencoba melupakan Sehun yang pernah mengisi hatinya. Egois memang tapi ini yang bisa Jongin lakukan.
Rasa ini memang belum hilang didalam hatiku
Alu mencintaimu seperti dulu
Tapi, satu kali saja dalam hidupku aku ingin menjadi orang yang egois
Egois untuk berhenti mencintaimu
.
.
.
Kris berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruang meeting, ketika dia masuk disana sudah ada beberapa staf dan karyawan yang bekerja di SM. Kris langsung duduk ditempat yang kosong.
"Maafkan aku terlambat" Kata Kris sambil membungkukkan badannya didepan para staff.
"Bisa kita langsung mulai meetingnya Sajangnim ?" Kata Chanyeol To the point.
"Silahkan, Komposer Park" Jawab Kris sambil memeprsilahkan Park Chanyeol untuk memulainya.
Meeting tersebut dimulai dari sambutan dari Chanyeol dan Kris selaku pemimpin utama dari perusahaan SM Ent tersebut.
.
.
Satu jam sudah mereka mengadakan meeting mengenai Grup baru asuhan mereka yang beberapa minggu lalu debut tersebut.
"Meeting selesai untuk hari ini, terima kasih atas kerjasama kalian semua." Kata Kris menutup meeting hari itu.
Semua staff yang berada disana membungkukkan badannya, membalas ucapan terima kasih dari Kris. Setelah itu satu persatu para staff keluar dari ruang meeting tersebut, meninggalkan Kris dan dua komposer hebatnya Zhang Yixing dan Park Chanyeol.
"Terima kasih komposer park dan komposer Zhang, karena sudah membantu atas debutnya grup baru kita. Karena dari ciptaan anda berdua yang hebat menghasilkan music yang indah" Kata Kris kepada Chanyeol dan Yixing.
Chanyeol tersenyum "Sama-sama sajangnim, senang membantu perusahaan dengan karya kami berdua" Jawab Chanyeol.
Kris mengangguk, saat dirinya ingin berbicara ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk. Kris mencek siapa gerangan yang menelponnya, saat dilihat itu telepon rumahnya. Kris mengangkat telponnya sambil berjalan keluar ruangan.
"Hallo" Jawab Kris.
"Hallo Tuan" Jawab seseorang diseberang telepon tersebut.
"Ada apa Bibi Jung ?"
"Tuan, maaf kami mengganggu anda. Tuan Sehun, melakukan percobaan bunuh diri tuan"
"Apa, kalian sudah membawanya kerumah sakit ?"
"Belum tuan, para penjaga rumah saat ini sedang mencoba mengikat tangan tuan Sehun agar darah tak terus mengalir dari pergelangan tangannya"
"Cepat bawa dia kerumah sakit, aku akan segera kerumah sakit"
Sambungan telepon tersebut pun terputus secara sepihak oleh Kris, setelah itu Kris kembali masuk kedalam ruang meeting tadi dan mengambil jas dan tas kantornya. Chanyeol dan Yixing yang melihat sang presedir seperti kesetanan berinisiatif membuka percakapan.
"Ada apa sangjaninm, kau terlihat terburu-buru ?" Tanya Yixing sambil memandang Kris yang saat ini sibuk membenarkan jasnya.
"Sehun... Sehun melakukan percobaan bunuh diri" jawab Kris sambil menatap Yixing.
Chanyeol dan Yixing hanya membelalakkan matanya saat mendengar jawaban Kris.
"Anda tidak bercanda kan sangjanim ?" Tanya Chanyeol lagi.
"Buat apa akau bercanda, kalau adikku saat ini tengah meregang nyawa. Kalau begitu aku tinggal dulu" Jawab Kris lalu Kris keluar ruangan tersebut dengan terburu-buru. Bahkan saat ini yang dipirannya hanya ada sang adik, dimana sang adik kini tengah meregang nyawa tersebut.
.
.
Di lorong rumah sakit terkenal di Seoul tersebut kni kembali dengan keramaian, bagaimana tidak kini seorang pemuda kini tengah dibawa dengan tergesa-gesa oleh para perawat. Darah dari pergelangan tangan pemuda tersebut terus menetes bahkan kini baju berwarna putih yang dipakaikan oleh para maidnya tersebut kini berwarna merah.
Bibi Jung, ketua maid keluarga Wu tersebut kini terlihat sangat khawatir, bagaimana tidak tuannya kini tengah meregang nyawa. Wajah Sehun –pemuda tersebut- yang memang sudah terlihat pucat kini lebih bertambah pucat dengan matanya yang kini sedang tertutup.
Hingga akhirnya mereka masuk keruang UGD, bibi Jung menunggu diluar, tak berapa lama Kris datang dengan wajah yang sulit diartikan. Dia cemas dan takut, saat ini dia tidak ingin ditinggalkan oleh adiknya tersebut, sudah cuku dia ditinggal oleh sang ayah dan ibu.
Kris langsung duduk disamping bibi Jung, bibi Jung terkejut ketika salah satu tuannya duduk disampingnya. Dia membungkuk hormat lalu kembali duduk disamping Kris.
Mereka berdua menunggu hingga berjam-jam demi mengetahui keadaan Sehun sekarang, hingga akhirnya pintu ruang UGD terbuka, menampakkan seorang berbaju warna Hijau tersebut. Membuka masker hijaunya.
"Bisa saya bicara dengan sanak saudara Tuan Wu Sehun ?" Tanya sang Doketr, mendengar itu Kris langsung berdiri dan berjalan mendekati Dokter tersebut.
"Saya kakaknya dokter, apa yang terjadi dengan adik saya ?" Tanya Kris to the point karena dia ingn jawaban yang cepat.
"Adik anda... "
.
.
.
TBC
Maaf saya update terlalu lama, saya selama 2 minggu ini fokus untuk dance cover saya untuk perpisahan sekolah dan mempersiapkan diri untuk mendengar pengumuman kelulusan tanggal 15 mei 2015.
Maafkan saya jika chapter ini semakin absurd.
P.S : kalau boleh jujur saya mengetik bagian Sehun yang bunuh diri itu dari pengalaman saya sendiri, bagaimana saya melakukan percobaan bunuh diri. Saya melakukan itu karena saya sudah emosi dan sudah tidak bisa saya cegah lagi. apakah kalian ingat dengan pemberitaan hubungan Baekhyun dan Taeyeon ?
Saya melakukan percobaan bunuh diri saat pemberitaan tersebut beredar, pertama saya hanya biasa saja mendengarnya. Tapi, lama-kelamaan saya merasa jengah dengan pemberitaan ini. saya menangis (Karena waktu itu saya membiaskan Baekhyun) bahkan pekerjaan kantorpun saya tinggalkan. Saya tergunjang lagi saat pemberitaan Baekhyun sudah melakukan hubungan sex denganTaeyeon. Dari semua pemberitaan itu, saya menjadi terguncang, makan tidak teratur, menjadi orang pendiam (sebenarnya saya seorang yang humoris) dan akhirnya saat kedua orang tua saya tidak ada dirumah saya melakukannya. Saya mengambil cutter yang memang ada didalam kamar dan menggoreskannya ketangan saya. Saat saya bangun saya sudah ada didalam ruang inap. Kata ibu saya, saya ditemukan dikamar dengan keadaan sekarat. Tapi, Tuhan memberikan saya kesempatan untuk hidup.
Karena gara-gara itu saya kalau sedang stress maka saya akan menyayat tangan saya sendiri dan itu menjadi kebiasaan. Buat kalian, jangan menjadi orang bodoh seperti saya. Cukup saya saja yang pernah menjadi bodoh karena Baekhyun.
Maaf terlalu panjang curhatnya.
Mind To Review...
