Disclaimer : Tite Kubo

Rate : T

Genre : Romance

.

WARNING : Typo bertebaran dimana-mana, EYD yang amburaul, Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, OOC, OC, Gaje dan masih banyak kekurangannya.

PLEASE IF YOU DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X0X

BUUUMMM...

Grimmjow melajukan motornya dengan kencang memasuki kediaman mewahnya dan memarkirkannya digarasi.

"Selamat datang Tuan muda." Sapa para pelayan sopan saat Grimmjow masuk kedalam rumah.

Grimmjow tidak mengidahkan sapaan para pelayan dan terus melangkah masuk menuju kamarnya dan saat hendak menaiki tangga seorang wanita paruh baya bersurai orange memanggilnya.

"Grimmjow." Panggil wanita itu dengan suara yang agak tinggi.

Grimmjow menatap dingin wanita paruh baya itu.

"Jam berapa ini!? Mengapa kau baru pulang?" wanita itu berjalan menghampiri Grimmjow.

"Ini sudah jam satu malam dan kenapa aku baru pulang, itu bukan urusanmu," ucapnya ketus.

"Grimmjow, jaga ucapanmu. Ak..."

"Wanita yang melahirkanku," sela Grimmjow.

Wanita paruh baya itu terdiam.

"Tapi kau tidak pernah menganggap aku sebagai anak." Ucapnya seraya berlalu pergi menaiki tangga.

Grimmjow tidak perduli dengan sang ibu yang terlihat sedih dengan ucapannya. Jika bertanya mengapa Grimmjow bersikap begitu dingin juga acuh pada sang ibu, itu semua karena sikap sang ibu yang sejak dulu tidak pernah menganggapnya sebagai anak karena ia adalah anak dari pria yang dibenci oleh sang ibu.

BLAM...

Grimmjow membanting keras pintu kamarnya, ia langsung merebahkan dirinya diatas kasur besarnya.

"Ibu..." gumamnya sendu.

Betapa ia ingin memanggil wanita itu dengan sebutan ibu dari lubuk hatinya yang terdalam, bukan sebutan wajib darinya untuk orang yang sudah melahirkannya kedunia ini. Sejak kecil Grimmjow tumbuh tanpa adanya kasih sayang dari kedua orang tuanya, karena memang keduanya sama-sama tidak menginginkan kehadiran dirinya didunia ini.

Kedua orang tuanya menikah karena sebuah kecelakaan dan paksaan. Tak ada cinta atau-pun kasih sayang dirumah ini karena setiap harinya kedua orang tuanya sibuk dengan urusannya masing-masing juga dengan selingkuhan mereka. Jika bertanya mengapa keduanya tidak bercerai itu karena mereka berdua sudah terikat janji juga sumpah untuk selalu menjadi sepasang suami istri hingga ajal yang menjemput.

Tok...Tok...Tok...

Terdengar suara ketukan pelan dipintu kamarnya.

"Siapa?" tanyanya dari atas kasur.

"Maaf jika malam-malam saya menggangu anda Tuan muda. Ini saya Menoly," jawab sang pelan dari depan pintu kamar.

Grimmjow langsung bangun dari posisi tidurnya dan berjalan kearah pintu lalu membukanya.

"Ada apa Menoly?" tanya Grimmjow pada pelayannya itu.

"Saya datang membawakan teh hijau untuk anda juga sedikit kue untuk anda makan," ucapnya seraya tersenyum lembut.

"Bawalah kembali itu kedapur karena saat ini aku ingin tidur." Ucapnya dingin.

"Baiklah, Tuan muda." Menoly pergi kembali kedapur dengan perasaan sedikit kecewa karena teh dan kue buatannya ditolak oleh Grimmjow.

Grimmjow menutup kembali pintu kamarnya namun kali ini ia tidak langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Ia berjalan kearah laci dan mengambil sebuah botol kecil yang berisikan obat tidur lalu meminumnya sebanyak satu butir. Tak lama setelah meminumnya ia merasa mengantuk dan langsung menjatuhkan dirinya ke atas kasur dan memejamkan kedua matanya menuju alam mimpi.

.

.

.

"Haah~~" Orihime menghela nafasnya dengan berat.

"Melelahkan sekali," keluhnya seraya meletakkan kepalanya diatas meja.

Setelah mengantarkan koran dan susu ke berbagai rumah akhirnya pekerjaannya selesai juga, mengapa ini terasa melelahkan karena banyaknya rumah yang harus ia datangi dengan mengayuh sepedanya.

Baru juga ia merasakan ketenangan dan kenyaman beristirahat didepan mini market dekat gang rumahnya, seseorang datang lalu duduk didepannya. Orihime mengangkat kepalanya dan menatap sebal bercampur bingung pada pemuda bersurai biru didepannya yang saat ini tengah menatapnya penuh arti.

"Kau?!" desis Orihime.

Grimmjow hanya tersenyum kecil menanggapinya.

Merasa ada hal berbahaya Orihime berniat untuk pergi namun tangan Grimmjow keburu mencengkeram erat pergelangan tangannya dan memaksanya untuk tetap duduk. Orihime mendengus sebal karena perbuatan pemuda tampan ini yang selalu saja menggangunya bahkan selalu saja ada disekitarnya.

"Duduk disini dan temani aku makan." Grimmjow memberikan roti dan susu kotak untuk Orihime.

"Ak..."

KRUCUKK...

Perut Orihime berbunyi dengan kerasnya, rona merah menghiasi wajahnya dan Grimmjow tertawa kecil mendengarnya.

"Sudah makan saja, aku yang traktir dan ini tidak beracun sama sekali." Ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya.

"Baiklah dan terima kasih atas makanannya." Ucap Orihime sebal.

"Sama-sama, Hime." Balasnya.

Mau tidak mau Orihime menerima dan memakannya dengan perasaan sedikit malu. Keduanya makan dalam keadaan diam namun Grimmjow sangat menikmati sarapan paginya bersama Orihime walaupun hanya dengan mie instan dan sebotol air mineral.

X0X0X0X0X0X0X0X

Siang ini sebagian murid Alice Gakuen memadati stadion olahraga untuk melihat partandingan basket persahabatan dengan SMA Karakura, yang merupakan lawan mereka dipertandingan basket tingkat Nasional.

"AAAAAA!" teriak para fans girl dari klub basket yang semuanya memenuhi tempat duduk paling depan di stadion olahraga Alice Gakuen.

"Berjuanglah SMA Karakura." Para pemandu sorak tim SMA Karakura juga tidak mau kalah memberi dukungan pada tim basketnya.

Pertandingan akan berakhir sepuluh menit lagi dan saat ini tim dan SMA Karakura yang masih memimpin dengan nilai 70-68.

DUK...DUK...DUK...

Ishida terlihat mendribel bola, dan berusaha memasukkannya kedalam ring, akan tetapi tubuhnya dihalangi oleh Ggio Vega. Dan saat menoleh kekanan, ia melihat Ashido yang bebas tanpa pengawasan.

BUK...

"Terima ini." Ishida melemparkan bola pada Ashido.

Pemuda tampan bersurai merah itu menerimanya, dan dengan cepat ia langsung menembakkan bola tiga angka ke dalam ring.

SRUK...

"Yes!" teriak Ashido dengan senang karena tembakannya masuk dan menambah nilai untuk timnya.

"Bagus, kapten." Puji Ichigo.

Ashido tersenyum menanggapi pujian dari teman setimnya itu. Namun para anggota klub basket SMA Karakura idak mau diam saja dan membalas serangan.

PRIITTT...

Peliut tanda pertandingan berakhir terdengar, Ichigo terlihat berteriak senang karena tim sekolahnya menang dengan skor tipis 70-71. Semua pendukung klub basket Alice Gakuen berteriak senang dengan kemenangan ini, tak terkecuali dengan Orihime yang diam-diam melihat dari balik pintu stadion olahraga.

"Selamat atas kemenanganmu, Ichigo-kun." Batin Orihime senang.

Disaat Orihime hendak pergi meninggalkan stadion olahraga, seorang pemuda tampan bersurai orange memegang tangannya.

Gadis cantik bersurai orange kecokelatan ini menolehkan wajahnya kebelakang dan menatap pemuda tampan itu yang tak lain adalah Ichigo, sahabat kecilnya juga pemuda yang disukainya sejak dulu.

"Kurosaki-kun!" seru Orihime.

"Terima kasih Inoue, kau sudah mau datang melihat pertandinganku." Ucapnya seraya mengacak-acak puncak kepala Orihime.

Wajah gadis itu merona merah karena malu, dan tanpa disadari oleh keduanya kalau seorang pemuda bersurai biru menatap tajam adegan mesra itu seraya mengeluarkan aura membunuh dari tubuhnya.

"Ichigo!" desisnya.

.

.

.

Hari ini cafe di tempat Orihime bekerja sangat ramai sekali, dengan di dominasi oleh para gadis muda yang datang ke cafe. Hal ini dikarenakan adanya seorang pemuda bersurai biru yang datang ke cafe untuk bersantai dan menikmati makanan di cafe ini.

"Tampannya!" jerit para gadis yang meperhatikan Grimmjow.

"Wajah aslinya lebih tampan dari pada di majalah!" sambung para gadis yang tak kalah histerisnya.

"Aku ingin berfoto dan meminta tanda tangan darinya." Beberapa gadis berusaha mendekatinya, namun dengan dingin juga ketus pemuda tampan bersurai biru itu menolaknya. Karena saat ini ada ada hal yang lebih penting dan menarik perhatiannya dari pada teriakkan para fans girl-nya yang ingin berfoto atau-pun meminta tanda tangan darinya. Yaitu memandangi seorang gadis bersurai orange kecokelatan yang saat ini tengah menatapnya dengan sebal.

"Anda ingin memesan apa Tuan muda?" tanya Orihime malas.

"Begitukan sikapmu pada tamu, Nona?" sindir Grimmjow.

"Haah~~" gadis ini menghela nafasnya dengan pelan.

Grimmjow menopang dagu dan menarik sedikit ujung bibirnya melihat sikap dari gadis maid didepannya saat ini.

"Jika anda tidak ingin memesan sesuatu, aku akan pergi," Orihime terlihat ingin beranjak pergi dari meja Grimmjow.

"Secangkir Coffe Latte." Grimmjow memperlihatkan senyuman lima jarinya.

"Baiklah, secangkir Coffe Latte. Tunggulah beberapa menit, pesanan anda akan datang." Gadis ini mengulang pesanan dari pemuda ini lalu beranjak pergi meninggalkannya.

Sementara Orihime pergi dengan perasaan kesal, lain hal dengan para gadis yang berteriak dengan histeris karena melihat senyuman lima jari milik Grimmjow yang sangat mahal juga langka.

"AAAAA!" jerit para gadis dengan serempak.

"Manis dan mempesonanya senyuman itu."

Orihime merasa sangat risih dengan kedatangan para gadis yang menurutnya sangat berisik, karena selalu berteriak histeris tak kala Grimmjow melakukan sesuatu, padahal yang dilakukan oleh Grimmjow hanyalah hal kecil.

"Secangkir Coffe Latte di meja tujuh," Orihime memberikan kertas pesanan pada Midoriko.

"Oke." Sahut Midoriko seraya mengambil kertas pesanan itu dan langsung membuatkannya.

Sementara itu Orihime terlihat duduk dan menaruh kepalanya diatas meja di dekat pantry, hari ini semangat bekerja hilang begitu saja saat kedatangan Grimmjow ke cafe.

"Hei, Orihime," panggil Ryou.

"Hm..." sahutnya datar.

"Mengapa kau malah duduk santai disini, ayo bekerja lagi. Hari ini kita banyak pelanggan." omel Ryou karena dirinya merasa sedikit kewalahan melayani tamu yang mayoritasnya adalah para gadis.

"Baiklah." Orihime bangkit dari duduknya dan berjalan keluar untuk melayani tamu.

Hari ini dirinya dan teman-teman kerjanya di cafe merasa sedikit kewalahan karena banyak sekali tamu yang datang ke cafe, rata-rata mereka memesan apa yang dipesan oleh Grimmjow. Memang ada untungnya pemuda bersurai biru itu datang ke cafe tempat Orihime bekerja, karena membuat tempat ini ramai di datangi oleh para pelanggan yang kebanyakan adalah fans girl dari Grimmjow. Tapi tidak bagi Orihime, karena merasa pekerjaannya terganggu oleh teriakkan para gadis yang memekakan telinga, juga malas melihat wajah Grimmjow yang sangat menyebalkan.

Dan setelah bekerja dari sore hingga malam, akhirnya pekerjaan Orihime selesai. Grimmjow si biang masalah-pun sudah dua jam yang lalu pergi dari cafe.

"Aku pulang duluan, Ryou." Pamit Orihime.

"Terima kasih untuk hari dan hati-hati dijalan, Orihime." Sahut Ryou.

Gadis cantik bermata abu-abu ini-pun keluar dari cafe baru juga ia keluar beberapa langkah dari cafe Grimmjow datang dan menghadang jalannya dengan motor besarnya. Orihime menatap malas pemuda yang mengendarai motor besar itu yang tak lain adalah Grimmjow.

"Apa kau mau pulang, Hime?" tanya Grimmjow seraya membuka kaca helmnya.

Gadis cantik ini tidak menggubrisnya dan melanjutkan jalannya, namun pergelangan tangannya dicengkeram erat oleh Grimmjow.

Merasa ada bahaya yang mengancam Orihime-pun terlihat memutar otaknya agar bisa lepas dari jeratan iblis tampan ini.

"Kurosaki-kun, Nelliel!" seru Orihime kaget.

Dengan reflek Grimmjow menoleh kebelakang dan melepaskan cengkeraman tangannya dari Orihime, merasa ada kesempatan gadis cantik bermata abu-abu ini-pun segera melarikan diri dari Grimmjow dan langsung menyetop taksi.

"Sial! Aku ditipunya." Dengus Grimmjow.

"Kau gadis yang benar-benar menarik, Orihime." Gumamnya.

BUUUMMM...

Pemuda bersurai biru ini-pun menyalakan kembali motornya dan melajukannya dengan cepat. Padahal ia sengaja datang menjemput Orihime, karena jengah berada dirumahnya dan ingin jalan-jalan bersama Orihime. Karena tanpa sadar Grimmjow merasa nyaman juga tenang jika dekat dengan Orihime dan sesaat ia jadi bisa melupakan segala beban masalah yang tengah dialaminya.

Entah perasaan apa ini yang ada dihatinya, namun ada sebuah detakkan aneh dihatinya saat dirinya berada didekat Orihime bahkan jantungnya berdebar-debar dengan kencang saat melihat senyuman juga tawa dari gadis bersurai orange kecokelatan itu.

Baru pertama kali Grimmjow merasakan hal ini pada seorang gadis dan gadis itu adalah Orihime Inoue yang sudah mengacaukan hati dan pikirannya. Namun sayangnya, sejak awal ia mendekati Orihime hanya untuk membalas dendam pada Ichigo, namun hati kecilnya berkata kalau ada tempat istimewa dihati gadis pemilik senyum seindah mentari itu dan hal ini benar-benar membuatnya dilema juga bingung.

X0X0X0X0X0X0X0X

Pagi ini Orihime menemukan loker sepatunya penuh dengan sampah dan sepatunya juga dirusak juga dicorat-coret dengan tulisan hinaan untuknya. Gadis cantik bermata abu-abu ini meremas erat pintu lokernya dan sesaat ingatan masa lalunya saat SMP terlintas diotaknya, dimana dulu teman-temannya pernah melakukan hal seperti ini padanya, akan tetapi saat itu ada Tatsuki yang melindunginya.

"Haah~~" Orihime menghela nafasnya dengan berat.

"Lagi-lagi aku mengalami hal ini."Batinya.

BRAK...

Orihime menutup kasar pintu lokernya dan berjalan masuk kedalam sekolah tanpa mengenakan sepatu, dari kejauhan Senna dan beberapa teman perempuannya terlihat tertawa senang melihat Orihime yang berjalan tanpa mengenakan sepatu.

Dan tanpa disadari kalau seorang pemuda tersenyum atau-pun lebih tepatnya menyeringai kejam menatap Orihime. Karena dirinyalah yang meminta Senna dan teman-temannya merusak sepatu Orihime.

"Akan kubuat kau menderita berada disini Orihime." Gumam seorang pemuda bersurai merah yang diam-diam melihatny dari kejahuan dengan sorot mata penuh kebencian.

Disaat Orihime tengah berjalan dikoridor menuju kelasnya para murid menatapnya dengan pandangan yang berbagai macam karena dirinya yang tidak mengenakan sepatu. Namun Orihime tidak mau ambil pusing dan tetap berjalan menuju kelasnya, dan saat hendak menaiki tangga tanpa sengaja ia berpapasan dengan Grimmjow, pemuda yang sangat dibencinya.

Orihime berjalan melewatinya tanpa memberikan salam sapa pada pemuda bersurai biru itu. Baru juga Orihime menaiki beberapa anak tangga, pemuda itu tiba-tiba memanggil namanya.

"Hei, gadis pelayan." Ejeknya.

Orihime menatap Grimmjow malas, "Apa?"

"Kemana sepatumu?" tanya Grimmjow dengan tersenyum sinis.

"Rusak dan itu bukan urusanmu." Jawab Orihime ketus dan pergi meninggalkan pemuda bersurai biru itu.

SREK...

Orihime membuka kasar pintu kelasnya, pandangan mata teman-temannya sama seperti para murid yang melihatnya disepanjang koridor tadi.

"Hei, ada apa dengannya?" bisik salah satu teman sekelas Orihime.

"Entahlah, mungkin ia terlibat sesuatu dengan seseorang."

"Baru juga bersekolah dua bulan disini tapi sudah membuat onar."

Orihime membaca buku pelajarannya seraya mendengarkan musik di telinganya, ia tidak ingin dengar atau-pun tahu pendapat teman-temannya mengenai dirinya yang hari ini tidak mengenakan sepatu khusus kedalam kelas.

Saat pelajaran pertama baru dimulai beberapa menit Grimmjow datang masuk kedalam kelas.

"Maafkan atas keterlambatanku, Sensei." Ujar Grimmjow santai.

"Duduklah dibangkumu, Grimmjow."

Pemuda tampan ini-pun berjalan kebangkunya, namun sebelum duduk dibangkunya ia terlihat berjongkok didekat Orihime dan tanpa diduga sama sekali oleh Orihime dan semua orang yang ada di kelas ini kalau Grimmjow akan memakaikan iwabaki pada gadis bersurai orange kecokelatan itu.

"Apa yang kau lakukan rambut biru?!" wajah Orihime memerah karena perlakuan Grimmjow.

Namun sepertinya pemuda bersurai biru itu tidak mengidahkannya dan masih asik memakaikan iwabaki pada Orihime.

"Mana terima kasihmu padaku?" Grimmjow menatap sebal Orihime.

"Te-terima kasih, Grimmjow." Ucapnya malu.

Grimmjow hanya tersenyum penuh arti membalasnya dan ia duduk dibangkunya namun baru juga duduk beberapa detik Grimmjow mendekatkan bibirnya kekuping Orihime.

"Ini tidak gratis, Hime dan kau harus membayarnya dengan mahal." Grimmjow menggigit pelan kuping Orihime.

Wajah gadis cantik bermata abu-abu ini langsung memerah bak kepiting rebus, sudah rugi ia berfikir kalau pemuda bersurai biru itu adalah pemuda yang baik ternyata ada bayarannya atas perbuatan baiknya itu.

"Huh! Menyebalkan." Batinnya.

TING...TONG...

Bel istirahat berbunyi dan Orihime mengeluarkan bekal makan siangnya lalu pergi kekantin sekolah. Baru juga gadis cantik ini ingin bangun dari duduknya, Ashido sudah ada didepannya dengan memperihatkan senyuman lima jarinya.

"Hai, Orihime." Sapanya ramah.

"Kau, lagi?!" seru Orihime.

"Ada apa kau menemuiku?" tanya Orihime bingung.

"Bisakah kau ikut denganku sebentar saja karena ada hal yang ingin aku katakan padamu." Ajak Ashido.

Para gadis memandangi dengan tatapan mata yang menusuk dan tajam membuat perasaan Orihime tidak enak melihatnya. Terlebih ada aura cemburu juga iri yang terpancar dari kedua mata para gadis saat melihat Ashido didekatnya.

"Maaf aku tidak bisa, lagi pula aku tidak punya urusan denganmu." tolak Orihime ketus.

Orihime-pun beranjak pergi meninggalkan Ashido karena tidak mau terlibat masalah dengan para fansgirl dari sang kapte klub basket itu.

GREP...

Tiba-tiba Ashido mencengkram tangan Orihime, "Aku mo..."

SREK..

Grimmjow melepas paksa tangan Ashido dari Orihime dan menatap tajam pemuda bersurai merah itu. Tanpa banyak bicara Grimmjow langsung membawa Orihime pergi keluar dari dalam kelas.

Ashido meremas erat kedua tangannya menahan gejolak amarah dihatinya. "Grimmjow Jaegarjaques." Desinya penuh amarah.

*#*

Grimmjow menatap penuh arti pada seorang gadis cantik bersurai orange kecokelatan yang saat ini tengah duduk didepannya menikmati makan siangnya dengan wajah yang kesal. Entah mengapa melihat wajah sebal dari gadis itu malah membuat hatinya senang dan selalu ingin menjahilinya terus menerus hingga gadis itu menggembungkan kedua pipinya bak ikan fugu, namun dimatanya gadis itu malah terlihat manis.

Gadis pemilik iris abu-abu itu memiliki sikap yang berbanding terbalik dengan para gadis yang selama ini berada disekitarnya. Disaat para gadis berebut ingin dekat dengannya dan selalu berharap mendapatkan hatinya juga kekayaannya, lain hal dengan gadis cantik bersurai orange kecokelatan itu yang selalu bersikap ketus, dingin bahkan secara terang-terangan mengatakan kalau ia tidak tertarik atau-pun menyukai dirinya yang merupakan murid paling populer disekolah ini.

Hal ini-lah yang membuat Grimmjow tertarik pada gadis bermata abu-abu itu, yang merupakan teman kecil dari Ichigo Kurosaki. Pemuda yang sangat dibencinya karena suatu alasan dan hal itu akan terus Grimmjow ingat sampai kapan-pun karena meninggalkan bekas luka yang mendalam untuknya.

Dan sudah lebih dari sepuluh menit Grimmjow menatap wajah Orihime yang terlihat mengunyah bekal makan sianganya dengan penuh kesal dan menampilkan wajah super bete padanya.

"Wajahmu sangat jelek sekali, Hime," ledek Grimmjow santai seraya menyeruput minumannya.

"Kau yang membuatnya jadi seperti ini," balas Orihime kesal.

"Benarkah?! Padahal banyak gadis yang berlomba-lomba ingin makan bersamaku," ucapnya penuh bangga.

"Tapi aku tidak berminat untuk makan bersamamu," Orihime tak memperdulikannya dan memakan lagi onigirinya.

"Inilah yang aku suka darimu, Orihime. Kau berbeda dengan gadis yang selama ini ku kenal," Grimmjow mendekatkan wajahnya pada Orihime dan menopang dagunya menatap gadis cantik bermata abu-abu itu dengan intens.

"Apakah kau tidak jatuh cinta padaku?" celetuk Grimmjow.

Orihime menghentikan aktifitas makannya dan menatap malas Grimmjow, "Kau bukan tipeku dan aku tidak tertarik padamu," ucapnya dingin.

Grimmjow tersenyum lebar mendengarnya, baru kali ini ada seorang gadis yang bisa membuatnya tertarik seperti ini dan merasa sekolah menjadi tempat yang menyenangkan karena adanya Orihime disekolah ini.

"Kalau begitu aku akan membuatmu jatuh cinta padaku." Ucap Grimmjow pelan.

"Uhuk..Uhuk..." buru-buru Orihime meminum airnya.

Gadis cantik bersurai orange kecokelatan ini tersedak makanannya mendengar kata-kata Grimmjow dan berfikir kalau pemuda tampan itu aneh.

"Terserah padamu saja, rambut biru." Gumamnya.

Grimmjow tersenyum senang mendengarnya dan bisa ia pastikan kalau Orihime akan jatuh cinta padanya dengan begitu ia membalas Ichigo dan membuat pemuda bersurai orange itu sakit juga menderita lewat Orihime.

X0X0X0X0X0X0X0X

Pagi ini tanpa diduga sama sekali oleh Orihime, kalau tiba-tiba saja Grimmjow sudah ada didepan rumahnya dan mengajaknya untuk pergi sekolah bersama. Awalnya Orihime menolaknya dengan keras namun setelah Grimmjow mengancamnya mau tidak mau ia ikut kesekolah bersama dengan pemuda bersurai biru itu dengan menaiki motor besarnya.

"Pegangan yang erat, Orihime jika kau tidak ingin terjatuh." Ucap Grimmjow seraya memakai helm.

"Jangan bermimpi." Dengus Orihime.

Grimmjow tersenyum simpul mendengarnya dan tanpa memberitahukan Orihime lebih dulu ia langsung melajukan motornya dengan cepat.

"Aaa..." Orihime reflek memeluk pinggang Grimmjow untuk berpegangan.

"Pelan-pelan, rambut biru. Aku belum mau mati." Racau Orihime.

Namun sepertinya pemuda tampan itu tidak mendengarnya dan semakin melajukan motornya dengan kencang membuat Orihime semakin mengeratkan pelukkannya karena takut terjatuh dari motor. Tak sampai tiga puluh menit Orihime sampai disekolah, padahal biasanya ia butuh satu jam lebih ke sekolah dengan menggunakan bus.

BUUUMMM...

Grimmjow melaju dengan kencang memasuki halaman sekolah dan seperti biasanya para gadis akan memandanginya namun kali ini bukan hanya para gadis yang memperhatikannya namun para murid laki-laki memperhatikannya, karena pagi ini ia datang kesekolah bersama seorang gadis.

"Siapa gadis yang bersama Grimmjow?" ujar beberapa murid cowo di sekitar halaman sekolah.

"Entahlah, namun kurasa gadis itu beruntung."

"Sebuah keberuntungn atau bencana mungkin." Tambah seorang pemuda bersurai hitam pendek seraya memasuki gedung sekolah.

Pagi ini para murid laki-laki membicarkan tentang Grimmjow yang datang bersama seorang gadis dan mereka penasaran gadis seperti apa yang bersama Grimmjow. Para murid laki-laki saling menebak satu sama lain dan berfikir kalau gadis itu pastilah sangat cantik juga menawan karena bersanding dengan Grimmjow.

Lain hal dengan para gadis yang merasa sedih dan berteriak histeris tak kala sang pangeran pujaannya terlihat bersama seorang gadis. Ingin rasanya mereka mendatangi gadi itu lalu melabraknya namun jika hal itu mereka lakukan sama saja dengan menggali kuburan sendiri.

"Grimmjow-kun!" jerit para gadis dalam hati.

Kedua lutut Orihime gemetaran hebat saat turun dari motor Grimmjow.

"Te-terima ka-kasih atas tumpangannya," Orihime memberikan helm pada Grimmjow.

"Sama-sama, Hime."

"Dan kuharap ini pertama juga terkahir kalinya aku menaiki motormu." ucap Orihime seraya berlalu pergi meninggalkan parkiran juga Grimmjow.

Grimmjow hanya tersenyum kecil mendengarnya padahal banyak gadis yang sangat ingin bahkan bermimpi bisa dibonceng dan inilah yang disukai oleh Grimmjow dari Orihime. Karena gadis cantik bersurai orange kecokelatan itu tidak seperti para gadis disekolah ini dan yang ia kenal selama ini. Pemuda tampan ini mengambil tas sekolahnya dan berlari mengerjar Orihime yang sudah melangkah masuk memasuki gedung sekolah.

Baik Orihime ataupun Grimmjow tidak menyadari kalau seorang gadis bersurai hijau terlihat menangis melihat sang pujaan hatinya bersama seorang gadis. Namun tak lama pandangan matanya berubah menjadi tajam bahkan memancarkan aura membunuh saat menatap Orihime. Dan disamping gadis cantik itu berdiri seorang pemuda tampan bersurai merah.

"Hido-kun, aku ingin gadis itu lenyap...Hiks...aku benci padanya..." isaknya dalam pelukkan pemuda tampan itu.

Pemuda tampan bersurai merah ini hanya diam dan memper-erat pelukkannya mencoba membuat tenang dan nyaman gadis yang berada dalam kurungannya.

"Pasti, Hime-sama. Akan kubuat dia menghilang selamanya." Ucapnya dengan nada penuh kebencian.

TBC

Fic ini terinspirasi dari drama Korea The Heirs namun jalan ceritanya akan jauh berbeda.

Terima kasih sudah mau membaca Fic ini.

Jika berkenan Read and Riviewnya.

Inoue Kazeka