Disclaimer : Tite Kubo

Rate : T

Genre : Romance

WARNING : Typo bertebaran dimana-mana, EYD yang amburaul, Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, OOC, OC, Gaje dan masih banyak kekurangannya.

PLEASE IF YOU DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X0X

BYUR...

Tubuh Orihime basah kuyup tersiram saat berada dihalaman sekolah. Entah siapa yang melakukannya namun bisa gadis bersurai orange kecokelatan ini dengar tawa keras dari beberapa gadis dari lantai dua.

"Sial..." dengusnya.

"Aku harus mengganti pakaianku." Orihime berjalan cepat menuju lokernya.

Untung saja Orihime selalu memakai baju didalam seragam sekolahnya jadinya tidak perlu khawatir ataupun malu pada teman-temannnya jika pakaian dalamnya akan terlihat. Saat Orihime berjalan dikoridor menuju lokernya tanpa sengaja ia bertemu dengan orang yang sangat tidak ingin ditemuinya, siapa lagi kalau bukan si rambut biru, Grimmjow Jaegarjaques pemuda yang selalu menimbulkan masalah untuknya.

"Cuaca hari ini cerah?! Kau kehujanan dimana, gadis pelayan?" Grimmjow menoleh keluar dan dilihatnya langit begitu cerah.

Orihime menatap malas pemuda bersurai biru itu dan memilih mengabaikannya, ia-pun berjalan kembali menuju lokernya. Dirinya benar-benar sedang tidak mau berdebat apapun dengan Grimmjow, karena akan membuatnya semakin kesal saja.

Gadis bermata abu-abu ini menyadari kalau ini adalah ulah para fansgirl Grimmjow yang cemburu padanya gara-gara berboncengan dengan Grimmjow beberapa hari yang lalu. Padahal kalau boleh memilih Orihime sangat tidak mau menaiki motor miliknya, mengingat Grimmjow selalu membawa motornya dalam kecepatan tinggi yang membuatnya hampir mati ketakutan dan jantungan.

"Hei, gadis pelayan," panggil Grimmjow dengan suara yang agak tinggi.

TAP...

"Apa?!" Orihime menghentikan langkah kakinya namun tidak menolehkan wajahnya pada Grimmjow.

GREP...

"Ikut aku dan jangan protes." Grimmjow langsung menarik tangan Orihime dan membawanya menaiki tangga.

"Hei..." teriak Orihime kaget.

"Aku bilang jangan protes dan banyak berbicara!" Grimmjow semakin mempercepat langkah kakinya.

Orihime hanya diam mengikuti gerak langkah kaki pemuda bersurai biru itu yang entah ingin membawanya kemana, hingga Orihime melihat sebuah tulisan didepan ruangan 'Grimmjow Room' gadis bermata abu-abu ini sadar kalau saat ini mereka berdua tengah berada didepan ruangan pribadi Grimmjow.

"Lepaskan aku rambut biru! Kau mau apa membawaku kemari?" Orihime berusaha melepaskan cengkeraman tangan Grimmjow.

Pemuda tampan tidak menggubris perakataan dari Orihime dan langsung membawanya masuk kedalam ruangannya. Saat keduanya masuk kedalam, suasana diruangan ini terlihat sepi dan tidak Yumichika atau-pun Renji dan bisa dikatakan saat ini dirinya tengah berduaan saja diruangan ini bersama dengan Grimmjow.

"Apa mak..." perkataan Orihime terhenti saat Grimmjow melemparkan sebuah kaos dan celana pendek pada Orihime.

"Pakailah itu, aku yakin kalau seragam olahragamu juga sudah dirusak oleh para gadis yang sudah menyirammu," tebak Grimmjow, karena dirinya sudah hapal dengan kebiasan para fansgirl-nya jika sedang menggila.

Orihime masih diam menatap pemuda bersurai biru itu.

"Ada ruang ganti didekat kamar mandi, kau bisa mengganti pakaianmu disana." ujar Grimmjow seraya menunjukkan ruangan ganti pada Orihime.

"Terima kasih. Tapi jangan mengintipku berganti pakaian," Orihime memandang Grimmjow curiga.

Grimmjow hanya tersenyum kecil mendengarnya, "aku tak tertarik mengintipmu berganti pakaian. Lagi pula kau bukanlah tipeku." Balas Grimmjow.

"Kau juga bukan tipeku." Balasnya seraya masuk kedalam kamar mandi.

Grimmjow tertawa kecil mendengarnya, "benar-benar gadis yang sangat menarik." Gumannya.

BLAM...

Orihime menutup keras pintu kamar mandi dan mulai mengganti seragamnya yang basah dengan kaos pemberian dari Grimmjow. Setelah beberapa menit berganti pakaian, Orihime keluar dari ruang ganti dan menghampiri Grimmjow yang tengah duduk bersandar disofa.

"Sesuai dengan dugaanku, baju itu pas dipakai olehmu," Grimmjow memandangi penampilan Orihime dari atas sampai bawah.

"Terima kasih atas pakaiannya, nanti akan ku kembalikan padamu." Ucap Orihime.

"Tidak usah kau kembalikan, baju itu untukmu saja lagipula ukurannya kecil dan tak muat untukku," Grimmjow mendongakkan wajahnya menatap langit-langit ruangan yang berwarna putih.

Orihime memandangi dengan seksama wajah Grimmjow yang sedikit pucat, "apa kau sakit?" tanyanya.

"Tidak, hanya sedikit pusing saja. Hime duduklah disini," Grimmjow menepuk-nepuk pelan sofa disebelahnya.

Awalnya Orihime tidak mau tapi melihat tatapan Grimmjow yang tajam membuatnya mau duduk didekat pemuda bersurai biru itu dan saat sudah duduk tiba-tiba saja Grimmjow tidur diatas paha Orihime, membuat gadis bermata abu-abu itu kaget dan bingung.

"A-apa ya..."

"Kumohon padamu Hime, biarkan seperti ini beberapa menit saja. Kepalaku sangat pusing sekali." Kedua mata Grimmjow langsung terpejam dan tak lama dengkuran halus terdengar ditelinga Orihime.

"Haah~~ Dia tidur!" Batin Orihime.

Ternyata Grimmjow mengantuk berat pantas saja jika wajahnya terlihat pucat, Orihime tak bisa berbuat apa-apa dan pasrah meminjamkan kedua pahanya untuk dijadikan bantal oleh Grimmjow. Diam-diam Orihime memandangi wajah Grimmjow dari dekat, bisa dilihat dengan jelas sedikit lingkaran hitam dikedua mata pemuda tampan bersurai biru itu, mengingat pekerjaannya sebagai model atau terkadang menjadi bintang iklan membuat pemuda bersurai biru itu jarang untuk beristirahat bahkan selalu pulang larut malam.

Tanpa Orihime sadari kalau tangan mungilnya menyentuh dan membelai wajah damai Grimmjow karena ulahnya ini pemuda tampan yang berada dipangkuannya menggeliat lalu mengerang pelan.

"Ngh..."

PATS...

Orihime menarik cepat tangannya dari area wajah Grimmjow, ada seulas rona merah menghiasi wajah cantiknya.

"Astaga! Apa yang aku lakukan!" Orihime merutuki perbuatannya.

"Huammm..." tiba-tiba Orihime menguap dengan lebar.

Orihime mulai menyandarkan kepalanya disofa dan perlahan-lahan kedua matanya terpejam, gadis cantik ini-pun tertidur dengan pulasnya. Tak lama setelah Orihime tertidur kedua sahabat Grimmjow datang, saat meraka masuk mereka berdua mendapati Grimmjow tengah tertidur pulas dipangkuan Orhime dan gadis bersurai orange kecokelatan itu-pun ikut tertidur menemai Grimmjow.

"Astaga!" seru Renji dan Yumichika bersamaan.

"Kenapa bisa Grimmjow tertidur dipangkuan gadis itu?!" Yumichika terlihat syok dengan pemandangan yang dilihatnya saat ini.

"Wah,wah, wah...Hal ini sangat langka sekali dan harus diabadikan." Renji meraih kamera yang menggantung dilehernya dan diam-diam memotret keduanya yang tengah tertidur lelap bersama.

JPRET...

JPRET...

"Yes! Aku mendapatkan gambar yang sangat bagus." Renji tersenyum senang memandangi hasil jepretannya.

Sementara Renji tengah asik memotret, Yumichika sibuk mencari sesuatu.

"Kau sudah menemukannya?" Renji melirik Yumichika yang tengah sibuk mengubrak-abrik sebuah laci mencari flasdisk miliknya yang berisikan tugas untuk pelajaran sejarah.

"Ini sedang aku cari," teriak Yumichika.

Setelah mencari beberapa menit Yumichika menemukan benda yang dicarinya dan buru-buru ia mengahampiri Renji.

"Aku sudah menemukannya Renji," seru Yumichika seraya memperlihatkan benda kecil panjang berwarna biru.

"Kalau begitu kita kembali kekelas." Ajak Renji.

"Tapi Grimmjow..." Yumichika menatap sendu pemandangan didepannya.

"Sudah biarkan saja mereka berdua, kita harus segera kembali kekelas," Renji menarik tangan Yumchika.

"Baiklah." Sahut Yumcihika malas.

"Jangan kesal dan cemburu begitu melihat pangeran pujaanmu tertidur pulas diatas pangkuan seorang gadis." Ledek Renji seraya menutup pintu ruangan.

"Tutup mulutmu Renji! Aku ini pria normal yang masih menyukai seorang gadis." Balas Yumichika kesal.

Renji hanya tertawa renyah menanggapi amarah sahabatnya itu.

Renji dan Yumichika membiarkan mereka berdua tetap tertidur dan tak akan menggangunya karena jarang sekali melihat Grimmjow bisa tertidur sepulas itu tanpa harus meminum obat tidur.

Sementara itu Grimmjow dan Orihime tertidur hingga bel pelajaran terakhir berbunyi, saat terbangun gadis pemilik iris abu-abu itu marah pada Grimmjow karena tidak membangunkannya dan malah asik duduk disebelahnya seraya mengutak atik ponsel canggihnya.

.

.

.

BRUUUMMM...

Sebuah motor besar berwarna hitam melaju cepat memasuki kediaman mewah keluarga Jaegarjaques dan yang mengendarainya adalah Grimmjow, putra tunggal keluarga ini.

CKIIEETTT...

Grimmjow memarkirkan motonya disebelah mobil sport berwarna emas dengan sebuah lambang naga menghiasi pintu dan body mobil. Dengan lelah Grimmjow mulai turun dari motor dan berjalan memasuki kediaman, para pelayan sudah berdiri didepan pintu menyambut kedatangannya.

"Selamat malam Tuan muda." Sambut para pelayan ramah.

Grimmjow hanya diam dan terus masuk kedalam rumah, hingga saat hendak pergi kekamarnya seorang pelayan menghampirinya dan meminta pemuda bersurai biru itu untuk datang keruang makan karena kedua orang tuanya sedang menunggunya.

"Apa ayah ada dirumah?" tanya Grimmjow datar.

"Ya, Tuan muda. Tadi siang Tuan besar datang kerumah ini." Jawab sang pelayan sopan.

"Jadi pria tua itu sudah pulang." Batin Grimmjow.

Saat pemuda bersurai biru itu datang ke ruang makan dan melihat sang ayah juga ibunya tengah duduk menikmati makan malam dengan tenang. Keduanya menyadari kedatangan Grimmjow yang datang keruang makan.

"Kau sudah pulang Grimmjow?" tanya seorang pria paruh baya yang memiliki warna rambut senada dengan Grimmjow.

Tanpa sadar salah satu tangan Grimmjow mengepal kuat, ia masih diam menatap dingin sang ayah.

"Grimmjow, kenapa kau diam saja dan tak menjawab pertanyaan ayahmu," ucap sang ibu dengan nada sedikit tinggi.

Pria paruh baya yang berada disebelahnya mengelus pelan punggung tangannya.

"Apakah hari ini kau ada pemotretan jadinya kau pulang telat?" tanya sang ayah sekali lagi.

"Itu bukan urusanmu," jawab Grimmjow ketus.

BRAK...

Wanita paruh baya ini sedikit memukul meja makan, "Grimmjow jaga ucapanmu, bicara yang sopan pada ayahmu," bentaknya.

"Rangiku, biarkan dia. Kau jangan terlalu bersikap keras padanya," ucap pria itu datar.

Grimmjow menatap tajam sang ayah dan tanpa sadar ia mengepalkan salah satu tangannya dengan erat menahan segala gejolak emosi didalam hatinya saat ini.

"Duduklah Grimmjow, kau pasti belum makan malam'kan? Sudah lama kita tak makan malam bersama," ajak sang ayah.

Salah satu pelayan langsung menarik kursi disebelah pria paruh baya bersurai biru itu. Namun Grimmjow masih berdiri diam dan memandangi kedua orang tuanya dengan dingin.

"Grimmjow, duduklah tak sopan jika kau terus berdiri sambil berbicara pada ayahmu," ucap wanita bersurai orange itu.

Mau tak mau Grimmjow-pun duduk disebelah ayahnya dan tak lama para pelayan menghidangkan makanan untuknya.

"Grimmjow, ayah ingin menyampaikan sesuatu padamu," ucapnya disela-sela makannya.

"Apa?" sahut Grimmjow dingin.

"Minggu depan ayah ingin kau menghadiri pertemuan dengan gadis dari keluarga K..."

SRUK...

Grimmjow langsung bangun dari duduknya dan menatap sang ayah dingin, "aku tidak mau dijodohkan dengan siapapun. Hati dan hidupku milikku,"

Pria paruh baya itu tersenyum sinis mendengarnya dan menatap penuh arti pada Grimmjow, "tapi kau adalah pewaris tunggal keluarga ini, Grimmjow,"

"Aku tak peduli itu," sanggahnya.

"Tapi kau harus peduli dan mengerti posisimu Grimmjow," tatapnya tajam pada sang anak.

"Aku tetap tak peduli dan jangan pernah campuri hidupku pak tua." Grimmjow menatap penuh kebencian pada sang ayah.

"Cukup Grimmjow! Jaga ucapanmu. Dimana sopan santunmu," bentak Rangiku, kali ini emosinya sudah naik sampai kepala karena ulah sang anak,

Grimmjow tersenyum sinis mendengarnya, "apa?! Ayah? Jangan membuatku tertawa, apakah pria itu menganggapku sebagai anaknya?" tunjuk Grimmjow dingin.

Pria paruh baya itu hanya diam menatap sang anak dan tak berkata apapun.

"Jika dia memang menganggapku sebagai anak, mengapa dia tega mendorongku kedalam sungai saat masih berusia lima tahun." Grimmjow menatap penuh kebencian pada sang ayah.

Pemuda tampan ini masih ingat jelas diingatannya bagaimana perlakuan sang ayah padanya sejak kecil yang beberapa kali mencoba melenyapkannya dari dunia ini namun tidak pernah berhasil.

"Tapi kami adalah orang tuamu dan kau adalah anak kami," ucap Rangiku dengan nada yang sedikit melembut saat melihat kemarahan dari sang anak.

Grimmjow tersenyum sinis mendengarnya, "orang tua? Apa kalian pernah menganggap aku sebagai seorang anak?"

Rangiku dan sang suami terdiam mendengarkan perkataan Grimmjow.

"Aku benci kalian berdua dan kalian bukan orang tuaku." Teriak Grimmjow seraya pergi meninggalkan ruang makan.

"Grimmjow!" teriak sang ibu dengan keras.

Namun pemuda bersurai biru itu terus berjalan cepat keluar dari rumah dan langsung melajukan motornya dengan sangat kencang. Entah kemana ia akan pergi, namun saat ini dirinya butuh menenangkan hati juga pikirannya.

"Siaaallll..." racaunya.

BUUUMMM...

Grimmjow mempercepat laju motornya dan tidak perduli jika jatuh atau-pun mati tertabrak malah itu bagus menurutnya setidaknya ia tidak perlu merasakan penderitaan dan sakit dihatinya lagi yang diberikan oleh kedua orang tuanya.

"Aku benci kalian berdua!" Teriak Grimmjow dalam hatinya.

Setetes air mata menetes dari kedua matanya, betapa ia menyimpan kesedihan didalam lubuk hatinya pada kedua orang tuanya. Andaikan saja dirinya bisa memilih, ia tidak mau dilahirkan sebagai seorang Tuan muda dari keluarga kaya raya namun tidak pernah bisa merasakan kasih sayang dan cinta dari kedua orang tuanya juga keluarganya.

*#*

"Aku pulang dulu Mako-chan, sampai jumpa besok." Ucap Orihime seraya keluar dari dalam loker.

"Ya, hati-hati." Balasnya.

Setelah bekerja keras selama beberapa jam dicafe akhirnya pekerjaan Orihime selesai dan bisa pulang kerumah untuk beristirahat.

"Hari ini cukup melelahkan." Gumam Orihime.

Saat dirinya mendorong pintu keluar cafe tanpa diduga sama sekali kalau ada Grimmjow didepan cafe sedang menunggu dirinya dengan motor besar dibelakangnya.

"Rambut biru!" serunya tak percaya.

"Apa yang kau lakukan disini?" Orihime menghampiri pemuda bersurai biru itu.

"Lama sekali pekerjaanmu selesai, aku sampai bosan menunggunya," gerutunya.

Gadis bersurai orange kecokelatan itu terdiam lebih tepatnya bingung dengan sikap dari Grimmjow. Memangnya siapa yang menyuruh Grimmjow untuk menunggu dirinya, ternyata bukan hanya sikapnya saja yang menyebalkan tapi otaknya juga ikut terganggu.

"Cepat naik," Grimmjow sudah duduk diatas motornya dan memakai helmnya.

Orihime masih diam dipinggir motor dan enggan untuk menaiki motor Grimmjow.

"Kenapa kau tidak naik? Ayo cepat naik," omel Grimmjow.

"Aku bisa pulang sendiri rambut biru. Lagi pula aku tidak mau naik motormu," tolak Orihime.

Namun bukan Grimmjow Jaegarjaques namanya jika tidak memaksakan keinginannya pada orang lain.

"Naik kemotorku atau besok di papan mading sekolah akan tercetak artikel semua pekerjaanmu." Ancam Grimmjow tanpa main-main.

Wajah Orihime langsung berubah masam, "Huh, menyebalkan sekali." Dengus Orihime.

Grimmjow tersenyum tipis mendengarnya dan mulai menyalakan motor.

BRUUUMMM...

"Mana helemnya." Orihime mengulurkan salah satu tangannya.

Grimmjow memberikan helm berwarna hitam polos pada Orihime.

Dengan sangat terpaksa Orihime terpaksa naik motor Grimmjow dan diantar pulang oleh pemuda tampan bersurai biru itu.

"Pegangan yang erat jika kau tidak mau jatuh." Ucap Grimmjow dan tak lama langsung melajukan motornya cepat.

Tanpa sadar kedua tangan Orihime memeluk erat pinggang Grimmjow seraya berdoa pada Tuhan agar bisa selamat sampai rumah.

Namun bukannya membawa pulang kerumah, Grimmjow mengajak Orihime duduk dipinggir sungai menikmati keindahan malam ditemani sekaleng minuman dingin.

"Mengapa kau mengajakku kemari?" Orihime menolehkan wajahnya menatap pemuda tampan yang duduk disampingnya.

Bukannya menjawab pertanyaan Orihime, pemuda bersurai biru ini malah merebahkan tubuhnya diatas rerumputan yang terasa dingin dan sedikit basah, matanya memandang lurus keatas langit malam yang hanya dihiasi beberapa bintang kecil. Orihime merasa bingung dengan sikap dan pikiran dari Grimmjow yang tak terduga dan susah ditebak.

"Hei, gadis pelayan," panggilnya tanpa menolehkan wajahnya.

"Hn," sahut Orihime malas.

"Menurutmu keluarga itu apa?" tanya Grimmjow pelan.

"Orang-orang yang sangat penting dan berarti untuk hidup kita," jawabnya cepat.

"Lalu bagaimana kalau keluargamu adalah sumber penderitaan terbesarmu," Grimmjow bangkit dari posisi tidurnya dan duduk menatap hamparan sungai kecil yang ada didepannya.

Orihime terdiam lebih tepatnya sedikit kaget melihat sorot mata Grimmjow yang terlihat terluka dan menyimpan kesedihan mendalam.

Gadis cantik ini memeluk kedua kakinya dan menyadarkan dagunya diatas tangannya, "Kedua orang tuaku meninggal waktu aku masih bayi dan yang merawatku adalah kakak laki-lakiku yang usianya jauh terpaut dariku, enam belas tahun," Orihime mulai menceritakan tentang dirinya pada Grimmjow dan pemuda bersurai biru itu terlihat mendengarkan cerita Orihime.

"Hari-hariku terasa menyenangkan karena adanya kakak disampingku yang menggantikan peran kedua orang tua kami yang meninggal dunia, tapi beberapa tahun yang lalu kakak pergi meninggalkanku untuk selamanya." Ucap Orihime sendu.

Grimmjow terdiam dan cukup kaget dengan cerita dari Orihime tanpa disadarinya kalau kedua tagannya sudah terulur memeluk tubuh Orihime. Kedua mata Orihime membelalak sempurna namun entah mengapa dirinya tidak merasa risih atau-pun memberontak sama sekali dipeluk oleh Grimmjow dan malah membalas pelukkan pemuda bersurai biru itu.

Orihime malah merasa kalau saat ini pemuda yang tengah merengkuhnya dalam pelukkan tengah terluka dan terlihat rapuh, entah apa yang terjadi dengannya namun ia tidak ingin banyak bertanya juga mengetahui lebih dalam mengenai Grimmjow karena menurutnya semakin dalam ia mengenalnya, maka masalah yang lebih besar akan datang menghampirinya.

.

.

.

Pagi ini saat membuka loker sepatunya Orihime dikejutkan oleh sebuah undangan berwarna gold yang berada didalam lokernya, saat mengambil dan membacanya ternyata itu adalah sebuah undangan vip untuk menghadiri acara fashion show yang akan dilakukan di Tokyo, Orhime merasa sedikit bingung dan penasaran siapa yang memberikan udangan ini.

Orihime menaruh undangan itu kedalam tasnya dan saat hendak menutup pintu lokernya tiba-tiba ponselnya bergetar saat diangkat ternyata yang menghubunginya adalah Grimmjow. Dengan cepat Orihime langsung mematikan ponselnya dan saat berbalik ia dikejutkan dengan Grimmjow yang sudah berdiri dibelakangnya.

"Aa..." seru Orihime.

"Mau apa kau rambut biru?" tanyanya ketus.

Grimmjow mengurung tubuh Orihime, " Mengapa kau tidak mematikan ponselmu, Hime,"

"Tidak penting aku menjawabnya lagi pula dari mana kau mendapatkan nomor ponselku,"

Seulas senyum tipis menghiasi wajah tampannya, "Apa kau lupa Hime, kalau aku mendapatkannya dari..."

"Cukup! Jangan teruskan lagi perkataanmu," Orihime mengangkat salah satu tangannya.

"Aku sudah tahu kau mendapatkannya dari mana," ucap Orihime sebal.

"Apa kau sudah membaca dan menerima undangan dariku Hime,"

"Maksudmu yang ini," Orihime memperlihatkan undangan berwarna emas dari dalam tasnya.

"Ya dan aku ingin kau datang, jika kau menolaknya aku akan membuatmu menyesal," ancam Grimmjow.

Orihime merengut tak suka mendengarnya andai saja pemuda ini tidak mengetahui pekerjaan sambilannya pasti ia akan menolak ajakan undangan itu.

"Aku akan datang, kau puas rambut biru."

Grimmjow tersenyum lebar menatap Orihime, "Gadis pintar."

"Kalau begitu bisa kau minggir dari hadapanku, kau menghalangiku rambut biru."

Grimmjow-pun menyingkirkan kedua tangannya dan membiarkan Orihime pergi ke kekelas dan mengikutinya dengan berjalan dibelakangnya.

Diam-diam dari kejauhan seorang gadis bersurai hijau menatap pilu dan sedih melihat Grimmjow yang dekat juga akrab dengan Orihime.

"Grimmjow-kun." Batinnya pilu.

SRAK...

PUK...

Sebuah gayung berisi tepung terigu terjatuh mengenai kepala Orihime dan membuat wajah juga kepala gadis bersurai oranye kecokelatan itu menjadi putih. Para gadis dikelasnya tertawa geli melihatnya yang seperti ini dengan perasaan kesal Orihime pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri. Ingin rasanya Orihime memukuli satu persatu mereka semua karena berbuat seperti ini padanya, memangnya apa salahnya sampai harus dibully seperti ini.

"Wajahmu lucu sekali Hime." Grimmjow terlihat menahan tawanya.

Empat sudut siku muncul didahinya, dirinya benar-benarnya sangat kesal dan marah.

Orihime langsung pergi dari kelas dan kekamar mandi untuk membersihkan diri dari tepung terigu yang mengotori tubuh dan wajahnya. Kalau seperti ini terus, Orihime benar-benar tidak tahan lagi dan ingin keluar dari sekolah ini terlebih Grimmjow yang selalu menggangu hari-harinya tenangnya baik disekolah atau-pun ditempat kerjanya.

"Aku benci sekolah ini." Jerit Orihime dalam hati.

X0X0X0X0X0X0X0X

Seorang gadis bersurai hijau pendek terlihat meringkuk menangis diatas ranjang yang cukup besar dan disampingnya ada banyak majalah yang menampilkan wajah Grimmjow dengan berbagai pose yang dicorat ceret diberbagai tempat bahkan ada beberapa gambar yang dirobek dengan menggunakan pisau.

"A-aku be-benci padamu..." ucapnya dengan penuh kebencian memandangi gambar Grimmjow.

"Hiks...hiks..."

Gadis cantik ini menangis tak kala mengingat perlakukan dan sikap Grimmjow padanya.

DOR...DOR...DOR...

"Nozomi-chan ini ibu, buka pintunya." teriak seorang wanita paruh baya bersurai hijau.

"Aku tidak mau bertemu siapapun, pergi tinggalkan aku..." teriak Nozomi keras.

Wanita paruh baya ini ini berdiri cemas didepan kamar sang anak, disaat dirinya tengah bingung menghadapi sikap sang anak seorang pemuda tampan bersurai merah dengan seragam Alice Gakuen berlari menghampirinya.

"Ashido! Syukurlah kau datang," wanita cantik ini terlihat bernafas lega dengan kedatangan dari Ashido.

"Apa Nozomi ada didalam?"

"Ya dan sejak kemarin malam ia mengurung diri setelah tahu kalau keluarga Grimmjow membatalkan perjodohan dengan Nozomi-chan,"

Sesaat kedua mata Ashido melebar dan kedua tanganya mengepal erat menahan gejolak emosi didalam dirinya.

"Serahkan saja urusan Nozomi padaku, bibi beristirahat saja dikamar. Akan kupastikan kalau Nozomi tidak apa-apa."

"Terima kasih Ashido." Wanita paruh baya ini-pun pergi bersama dengan beberapa pelayan dan kembali kekamarnya.

Pemuda tampan ini masuk kedalam Nozomi tanpa meminta ijin terlebih dahulu pada sang pemilik kamar.

"Sudah kubilang kalau aku ingin sendirian saja. Keluar!" bentaknya dengan nada tinggi.

Namun Ashido tidak mengidahkannya dan tetap berjalan menghampiri gadis cantik bersurai hijau itu.

"Hime-sama..." panggilnya lembut.

Nozomi langsung menolehkan wajahnya, "Hido-kun!"

"Ya, Hime-sama,"

SRUK...

GREP...

Gadis cantik bersurai hijau itu langsung memeluk erat tubuh pemuda tampan itu dan menangis dalam pelukknya.

"Hido-kun..." isaknya.

"Tenanglah Hime-sama, aku ada disini..." ucapnya lembut seraya mengelus pelan rambut sang gadis.

"Gri-mmjow ja-jahat se-sekali pa-pa-daku Hido-kun...aku i-ingin ka-kau memba-ba-lasnya..." gadis cantik ini semakin mengeratkan pelukkannya pada pemuda tampan itu.

"Baik Hime-sama, aku akan membuatnya menderita. Jadi hentikanlah tangisanmu karena wajah anda terlihat jelek jika menangis," ucapnya seraya tersenyum lembut memadang sang gadis yang wajahnya terlihat sembab dan matanya merah kerena sudah lama menangis.

"Hm..." gadis cantik ini berusaha memperlihatkan senyumannya.

"Itu baru Hime-sama ku." Ucapnya dengan tersenyum lebar.

Keduanya berpelukkan kembali namun sang gadis tidak lagi menangis dan terlihat sudah mulai tenang bahkan dengan sedikit rayuan dari Ashido, Nozomi mau makan setelah seharian menolak untuk makan dan keluar dari kamarnya.

"Selamat tidur Hime-sama." Ashido mengecup pelan kening Nozomi yang tertidur pulas.

"Semoga kau bermimpi indah dan aku pastikan akan membalas perbuatan dari Grimmjow." Ucap Ashido sesaat sebelum pergi dari kamar Nozomi.

Setelah Nozomi tertidur, pemuda tampan ini-pun pamit pulang kerumah yang jaraknya tidak jauh dari kediaman gadis bersurai hijau itu. Namun Ashido bukannya langsung pulang kerumahnya namun pergi kesuatu tempat untuk menemui seseorang.

Orang yang ditemui oleh Ashido terlihat kaget kerena didatangi olehnya.

"Mau apa anda kemari Ashido Senpai?" tanya gadis bersurai putih panjang dikepang itu.

"Aku butuh bantuanmu Isane, jika kau mau membantu aku akan mengabulkan apapun permintanmu," ucap Ashido.

"Benarkah itu?" tanya gadis cantik bersurai putih itu.

"Ya, bukankah kau menyukaiku Isane? Apakah kau sudah tidak menginkan aku menjadi kekasihmu?" ucapnya seraya menatap penuh arti Isane.

Gadis cantik ini sedikit menundukkan wajahnya, "apa yang harus kulakukan."

Ashido tersenyum lebih tepat menyeringai kejam dan merasa kalau Isane adalah gadis bodoh yang sangat mudah dimanfatkan olehnya. Dengan bantuan dari gadis bersurai putih ini, Ashido akan membuat Grimmjow menderita dan menyesal karena sudah melukai hati Nozomi.

TBC

A/N : Terima kasih sudah mau membaca Fic ini.

Jika berkenan Read and Riviewnya.

Untuk kelanjutan Fic ini saya tidak bisa janji cepat, jika ada waktu akan saya update.

Semoga suka dengan kelanjutannya dan Ficnya tidak membosankan untuk dibaca.

Inoue Kazeka.