Hallo minna… Autor pingin curcol ini, ternyata re-write itu susah banget ya?
Buat cari Feelnya tu susahnyaaaa heeem, minta ampuuuun.
sampe butuh 1 mgg lebih buat nulis 1 Chapter doang
padahal di fict sebelumnya Autor bisa update 1 mgg sekali.
di chapter terakhir malah bisa update 2 Chapter sekaligus. heeem (-_-)''
waktunya bales review :)
Lisa: Pairing tidak berubah kok :3
dandelionivy : Iya ini di lanjut :3, saya nungguin wisteria love-nya lo... dari awal suka sekali ceritanya
sangat menginspirasi buat ikutan nulis FF :3
makasih buat follow dan reviewnya...
membaca review kalian seperti menghirup oksigen, autor jadi semangat nulis :D
buat para follower, Maafkanlah autor yang nista ini T-T
Udah segitu aja curcolnya, berharap Autor masih tahan nulis ni fict, selamat membaca :3
LOVE DESTINY
Discliamer: Detective Conan - c Aoyama Gosho
Warning: OOC, GJ, typo(s), yang lain tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata
R&R Please ! :3
Di Chapter sebelumnya:
Setelah datang ke bumi dan bekerja di caffe milik Kaito, Shiho akhirnya juga memutuskan untuk menginap di apartemen Kaito. Saat mereka makan malam, Shiho menanyakan alasan mengapa Kaito belum memiliki kekasih. Namun entah kenapa Kaito tampak ragu untuk menceritakan masalah asmaranya pada Shiho.
Chapter 2 : Kegagalan pertama
"Sebenarnya aku..." Kaito masih tampak ragu dengan apa yang akan ia katakan sehingga membuat Shiho mulai tidak sabaran.
"Ayolah Kaito-san, percayalah... Saya tidak akan mengatakannya pada siapapun" bujuk Shiho.
"Oke baiklah, sebenarnya… aku… penyuka sesama" Jawab Kaito singkat, namun cukup membuat Shiho terbelalak sambil berteriak dalam hati 'APPAAAA? YANG BENAR SAJA?'
Melihat ekspresi terkejut Shiho dengan mata terbuka lebar dan mulut menganga membuat Kaito tidak dapat menahan diri untuk tidak tertawa "Puff… hahahaha… kamu lucu sekali Shiho, tentu saja aku bercanda" kata Kaito sambil tertawa terbahak-bahak.
Seketika itu juga Shiho duduk kembali ke kursi dengan lemas, rasanya tadi seluruh tulang-belulangnya terlepas dari persendian, Shiho benar-benar berfikir bahwa Kaito tadi serius.
'Aku kira kemungkinan yang aku fikirkan menjadi kenyataan, sungguh menyeramkan' batin Shiho.
"Sudahlah Shiho, ayo makan… lihat nasi dan laukmu masih belum kamu sentuh sama sekali, padahal rasanya sangat enak" Kata Kaito sambil melanjutkan 'kegiatan'nya yang tertunda.
Shiho sebenarnya masih sangat penasaran dengan kriteria 'wanita idaman' Kaito, namun Shiho sadar 'Mungkin saat ini belum waktunya aku menanyakan hal itu pada Kaito-san' fikir Shiho.
Keesokan harinya, Shiho dan Kaito memulai hari mereka. Pagi sekali mereka sudah berangkat ke Caffe untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan sebelum Caffe dibuka. Kaito menyiapkan keperluan bahan makanan dan Shiho mendapatkan tugas menyapu dan mengepel. Saat Shiho mengepel dapur, Kaito meminta bantuan Shiho.
"Shiho, bisakah kau bantu mencuci perabotan yang di sana? Aku masih harus menunggu masakan ini" Kata Kaito sambil mengaduk-aduk masakan di depannya.
"Baik Kaito-san" Jawab Shiho yang kemudian meletakkan alat pelnya begitu saja.
Saat Shiho akan mengembalikan perabotan yang telah ia cuci ke tempatnya, tiba-tiba kakinya tersandung alat pel yang tadi ia pakai.
"KYAAA" Teriak Shiho reflek.
Kemudian dengan sigap Kaito segera menangkap tubuh Shiho. Namun karena lantai masih agak basah dan licin, tubuh Kaito tidak mampu menahan tubuh Shiho dan kini mereka berdua malah sama-sama jatuh ke lantai.
"Aduuuh, pantatku... Eh... Shiho, kamu tidak apa-apa?" tanya Kaito sambil menahan sakit pada pantatnya yang terbentur lantai.
Saat ini posisi Shiho sangat tidak menyenangkan. Tubuh Shiho seperti sedang menempel pada tubuh Kaito, kepala Shiho mendarat tepat di dada Kaito, kedua tangannya berada di belakang punggung Kaito, sedangkan salah satu lengan Kaito melingkar pada pinggang Shiho. Hal ini membuat Shiho tidak dapat bergerak, Shiho benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan, Jantungnya berdegub tak karuan.
Kaito menunggu jawaban Shiho beberapa saat, sampai Kaito menyadari bahwa Shiho tidak dapat berkutik akibat ulahnya. Seketika itu juga Kaito melepaskan tangannya dari pinggang Shiho.
"Ups... maaf Shiho, aku sama sekali tidak menyadarinya"
Shiho segera beranjak dari tubuh Kaito kemudian duduk di lantai "Tidak apa-apa Kaito-san, saya yang harusnya minta maaf, dan terimakasih telah menolongku, saya baik-baik saja". Kini wajah Shiho semerah tomat sehingga Ia hanya menundukkan kepala, tidak berani memandang langsung ke arah Kaito.
"Ah tidak masalah, untunglah kalau kamu tidak terluka" Melihat tingkah Shiho yang tampak malu-malu membuat Kaito ikut salah tingkah. Dalam sekejap keduanya menjadi canggung.
"Eh, sudah hampir jam setengah 8, ayo kita segera selesaikan pekerjaan masing-masing" Kaito mencoba mengalihkan suasana. Merekapun kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.
Segera setelah papan bertuliskan close pada pintu masuk itu dibalik, para pelanggan segera berdatangan masuk ke dalam Caffe. Namun kali ini bukan hanya pelanggan dari kaum hawa saja, namun juga dari kaum adam. Cerita tentang angel-like maid segera tersebar ke penjuru kota sehingga pelanggan hari ini jauh lebih banyak dari biasanya. Mereka penasaran bagaimana wujud maid yang menurut cerita seperti bidadari itu.
Saat melayani pelanggan, tiba-tiba Shiho mendengar suara hati seorang wanita yang merupakan salah satu pelanggannya.
'Hibi-kun... seperti biasa, kamu tampak bersinar hari ini'
Shiho mencari asal suara itu, lalu ia melihat salah seorang pelanggan wanita yang sedang memandang pria yang duduk 2 meja darinya. Wanita itu memandang dengan tatapan berseri-seri pada pria yang sedang asik bercakap-cakap dengan temannya. Lalu hanya dengan melihat kedalam fikiran wanita itu, Shiho bisa tahu bahwa wanita itu bernama Miyu.
'Hibi-kun... sudah lama aku ingin berkenalan denganmu' Shiho mendengar lagi ungkapan hati Miyu.
Mendengar ungkapan hati wanita itu, Shiho berfikir untuk menjadikan mereka target pertamanya.
'Yap, target pertamaku sudah muncul. Sekarang aku tinggal mendekatkan mereka' Pikir Shiho. Namun belum sempat Shiho memikirkan rencana untuk mendekatkan mereka, Hibi dan temannya sudah beranjak dari tempat duduknya.
'Eh... eh... dia sudah mau pergi? Aduh bagaimana ini?' Shiho panik. Ia belum sempat memikirkan rencana apapun. Sampai akhirnya ia melihat sapu tangan yang sedikit keluar dari saku celana Hibi.
'Baiklah, pakai cara itu saja'.
Dengan kekuatan sihirnya, Shiho menarik keluar sapu tangan itu. Shiho berharap agar Miyu mengambil sapu tangan itu, kemudian mengembalikannya pada Hibi, dan akhirnya hubungan mereka menjadi dekat.
'Yap... semoga berjalan sesuai harapan' batin Shiho.
Sesuai rencana Shiho, Miyu memungut sapu tangan itu lalu keluar Caffe mengejar Hibi.
Tanpa fikir panjang, Shiho membuntuti mereka 'aku harus membuntuti mereka. Saat mereka sudah dekat, aku akan menembakkan panah cinta pada mereka' pikir Shiho.
Saat Miyu mengembalikan sapu tangan Hibi, Shiho berhasil menembakkan panah cinta dan Shiho yakin panah itu tepat mengenai mereka, namun setelah Hibi menerima saputangannya tidak terjadi apapun pada mereka.
"Eh? Bagaimana bisa panahku tidak berhasil? Padahal aku yakin seratus persen panahku tepat mengenai mereka" kata Shiho yang saat ini sedang bersembunyi dibalik semak-semak.
Saat Shiho masih terkejut dengan apa yang dia alami, tiba-tiba Shiho dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang paling tidak ingin Ia temui saat ini.
"Hai Shiho, bagaimana harimu?" Shinichi dengan wajah tak berdosa muncul tepat di depan wajah Shiho.
Seketika itu juga kemarahan Shiho memuncak, urat-urat kemarahannya mulai bermunculan, tangan Shiho mengepal seperti ingin meninju seseorang. Melihat ekspresi wajah Shiho, Shinichi sadar bahwa ia muncul di saat yang tidak tepat.
"O..ow Shiho, sepertinya aku ada urusan mendadak, aku pergi dulu ya? Jaa..." belum sempat Shinichi menyelesaikan kata-katanya, Shiho sudah berlari mengejarnya sambil mengibas-ibaskan panahnya pada Shinichi.
"SHINICHI... BERHENTI KAU" Shiho berteriak sambil terus berlari mengejar Shinichi.
"Tenang Shiho, tenang..." Shinichi mencoba membujuk Shiho agar berhenti mengejarnya.
"BAGAIMANA BISA TENANG? KAU BARU SAJA MENGGAGALKAN MISIKU..."
Mendengar hal itu Shinichi terkejut lalu berkata "Aku tidak melakukan apapun, aku bersumpah" Shinichi mencoba membela diri.
"BAGAIMANA MUNGKIN PANAHKU BISA GAGAL, KALAU BUKAN KAU YANG MENGGAGALKANNYA?" Shiho tidak mempedulikan pembelaan shinichi, Ia masih terus mengejar Shinichi.
"Apa sebelumnya kamu sudah pernah melakukannya pada manusia?" tanya Shinichi kemudian.
Shiho terperanjat mendengar pertanyaan Shinichi dan akhirnya Ia berhenti mengejar Shinichi. Shiho hanya bisa menggelengkan kepala sambil menendukkan kepala. Dia sadar bahwa ini adalah pengalaman pertamanya menembakkan panah cinta pada manusia. Kini Shiho sedang duduk di bangku taman sambil mengatur nafasnya.
"Sejak kecil aku sudah sering melihat calon bidadari menembakkan panah cinta pada manusia, dan itu memang tidak mudah. Cinta tidak bisa begitu saja muncul pada hati manusia" kata Shinichi yang saat ini juga duduk di sebelah Shiho.
"Bagaimana kamu bisa tahu? Kamu suka menguntit ya?" Shiho melirik shinichi sambil memasang wajah waspada.
Shinichi memasang wajah 'oi... oi...' mendengar tanggapan Shiho.
"Bukan... aku hanya sedang mencari seseorang" Shiho melihat Shinichi tersenyum sambil mengatakan hal itu.
"Seharusnya kau tidak perlu terburu-buru dalam menjodohkan manusia, lagi pula waktumu masih banyak. Aku yakin kamu bisa melakukannya dengan mudah kalau persiapanmu matang" Shinichi mulai beranjak dari tempatnya.
"Jaa- Shiho, semoga lain kali kamu lebih beruntung" Shinichi berjalan menjauh dari Shiho.
"Matte-Shinichi, kenapa kamu mengatakan hal itu padaku? Bukankah kita rival?" Shiho tampak bingung dengan kelakukan Shinichi.
Shinichi hanya tersentum kemudian berkata "karena aku tahu kalau kemampuanku jauh lebih hebat darimu, jadi aku membiarkanmu maju duluan" jawab Shinichi dengan wajah evilnya.
"APA KAU BILANG, AWAS KAU YA..." Teriak Shiho pada Shinichi yang sudah berjalan jauh.
"Huuh dasar, hampir saja aku mengira kalau ShinIblis itu baik hati" Shiho menggerutu di sepanjang jalan menuju Caffe. Sesampainya di Caffe, Shiho langsung mendapat omelan dari Kaito karena pergi tanpa bilang hingga membuat Kaito kewalahan.
Sampai beberapa hari setelah kegagalannya itu, Shiho tampak kurang bersemangat saat bekerja, senyumnya-pun terlihat dipaksakan. Selain itu tiap malam Shiho juga hanya diam menyendiri di balkon apartemen sambil memandangi cahaya bulan. Selama ini Ia tidak pernah gagal dan bisa dibilang ini adalah kegagalan pertamanya, sehingga Shiho benar-benar terpukul dan selalu memikirkannya. Kaito memperhatikan tingkah Shiho yang tampak murung, hingga Kaito memutuskan untuk menghibur Shiho.
"Shiho, bolehkah aku menemanimu?" Kaito berjalan mendekati Shiho.
Mendengar suara Kaito, Shiho yang sebelumnya sedang memandang bulan menoleh kebelakang. Kemudian Shiho tersenyum kecil tanpa mengatakan apapun. Lalu Kaito berdiri di sebelah Shiho sambil ikut memandang bulan.
"Bulan malam ini indah ya? Aku baru sadar kalau ternyata bersantai di sini bukan pilihan yang buruk" Kaito membuka pembicaraan, mencoba memancing Shiho agar berbicara, namun Shiho hanya menganggukan kepala. Kaito ikut terdiam sambil memandang ke arah Shiho, wajahnya tampak khawatir.
"Shiho, sebenarnya apa yang membuatmu murung?" Akhirnya Kaito berterus terang tentang kehawatirannya.
"Apakah karena aku memarahimu kemarin? Kalau karena hal itu aku benar-benar minta maaf" Kaito melanjutkan.
Namun Shiho kembali hanya menggelengkan kepalanya.
"Shiho, katakanlah sesuatu jika kau benar-benar tidak marah padaku!" pinta Kaito.
Shihopun terkejut mendengar permintaan Kaito, ia sama sekali tidak menyangka bahwa tindakannya telah membuat Kaito salah faham. Shiho merasa bersalah.
"Bukan begitu Kaito-san, anda sama sekali tidak ada hubungannya. Ini benar-benar murni masalah pribadi saya" Shiho tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Kaito, Ia juga tidak mungkin menceritakan masalahnya pada Kaito.
"Ow… sepertinya aku tahu penyebabnya, apakah ini masalah cinta? kamu sedang menyukai seseorang Shiho?" Tanya Kaito sambil tersenyum jahil.
Seketika itu wajah Shiho memerah, Ia tidak menyangka bahwa Kaito akan menanyakan hal itu padanya.
"B-bukan Kaito-san, saya benar-benar tidak sedang memikirkan hal itu" Shiho tampak gugub, Ia ingat insiden kecelakaan di Caffe beberapa hari yang lalu. Kini wajahnya mulai bersemu kemerahan.
"Tapi kalau dilihat dari ekspresimu, sepertinya kamu sedang memikirkan seseorang, ayo mengaku saja" Goda Kaito sambil menyenggolkan bahunya pada bahu Shiho.
"Bukan Kaito-san, saya benar-benar ..." Jawaban Shiho tertahan karena Ia tak mampu menyembunyikan senyum serta rona merah di wajahnya.
Melihat senyuman di wajah Shiho membuat Kaito tersenyum lega.
"Haah… Syukurlah Shiho. Walaupun kamu tidak mau membicarakan masalahmu padaku, tapi setidaknya sekarang kamu bisa tersenyum. Kalau begitu aku ke kamar duluan" Kaito beranjak menuju kamarnya. Sebelum Kaito masuk ke kamarnya, Shiho memanggil Kaito.
"Kaito-san, Arigatou Gozaimasu" Kata Shiho setengah berteriak pada Kaito, Shiho melihat Kaito mengangkat tangan tanpa menoleh kemudian menutup pintu kamarnya.
'Entah kenapa setelah berbincang dengan Kaito-san, hatiku jadi hangat, rasanya semangatku kembali lagi' Batin Shiho.
"Baiklah… Aku tidak boleh berlama-lama terpuruk seperti ini, aku harus segera bangkit" Sambil memandang bulan, Shiho mengucapkan tekat pada dirinya sendiri.
Keesokan harinya Shiho sudah kembali seperti semula, Shiho dapat melayani pelanggan dengan senyum tulus tersungging di kedua sudut bibirnya, para pelanggan dan Kaito juga merasakan perubahan yang terjadi pada Shiho.
Karena terlalu banyaknya pelanggan hingga tidak terasa hari sudah sore dan waktunya Caffe tutup. Saat Shiho sedang membereskan Caffe tiba-tiba Kaito sudah rapi dan hendak keluar Caffe.
"Shiho, aku ada urusan. Sepertinya aku akan pulang malam. Hari ini kamu pulang sendiri tidak masalah kan?" tanya Kaito yang kini sedang menggunakan jaketnya.
Shiho yang sedang mencuci piring di dapur menengok ke arah Kaito "Baik Kaito-san".
"Sebelum pulang jangan lupa matikan semua lampu dan kunci pintu Caffe, kunci aku taruh di atas meja" Kaito meletakkan kunci di meja dapur.
"Kalau begitu aku pergi dulu Shiho, Jaa-ne" Kaito pamit kemudian membuka pintu Caffe.
"Hati-hati Kaito-san" Shiho menjawab setengah berteriak pada kaito yang sudah menutup pintu Caffe.
"Baiklah, setelah semuanya beres aku akan segera kembali ke apartemen" Shiho segera mempercepat pekerjaannya.
Setelah dirasa semua sudah beres, Shiho keluar Caffe dan mengunci pintu. Semula semua berjalan seperti biasa, Namun saat Shiho melewati taman tiba-tiba Ia merasa sedang diawasi, Shiho menengok ke kanan dan ke kiri tapi tidak ada siapapun di sekitarnya. Kemudian secara tiba-tiba angin berhembus sehingga mengoyangkan dedaunan yang berada di sekitar Shiho, Shiho mulai merasa seluruh bulu kudunya berdiri.
'Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini? Kenapa aku merasa suasana berubah' Shiho mulai berfikir macam-macam. Karena merasa tidak aman akhirnya Shiho mempercepat langkahnya. Lalu ia mendengar seseorang memanggilnya.
"Shiiihooo..."
Suara itu terdengar begitu lirih, seperti suara angin namun Shiho dapat mendengarnya dengan jelas.
"SIAPA?" Shiho berteriak sambil melihat ke sekeliling, namun nihil. Tidak sedikitpun tanda adanya seseorang di sekitarnya.
"Shiiihooo..."
Shiho mendengar suara itu memanggilnya berkali, Shiho mulai panik. Akhirnya dia berlari ketakutan. Tak lama kemudian, Shiho melihat ada seseorang di depannya, Shiho merasa sangat lega karena artinya dia tidak sendirian.
Namun ketika Shiho mengangkat kepalanya untuk melihat wajah orang tersebut, ternyata sosok yang sedang berdiri depannya adalah sosok mengerikan dengan kepala yang memutar ke belakang. Hal itu membuat Shiho terkejut dan secara reflek Shiho mundur, namun kaki Shiho malah tersandung batu sehingga Shiho terjatuh ke belakang dan tidak sadarkan diri.
TBC
Sampai di sini udah ada yang punya Clue ini dari manga dengan judul apa?
Masih ditunggu jawaban dari para reader ya :)
kalau udah tau ceritanya kan jadi bisa lebih cepet tamat
#eh
hehehe :3
