LOVE DESTINY
Discliamer: Detective Conan - c Aoyama Gosho
Warning: OOC, GJ, typo(s)
R&R Please ! :3
Di Chapter sebelumnya:
Saat Shiho pulang dari Caffe sendirian, Shiho bertemu dengan mahluk yang sangat menyeramkan. Mahluk itu tiba-tiba muncul di hadapan Shiho. Akibat ulah mahluk itu, Shiho malah terjatuh dan akhirnya pingsan.
Chapter 3 : Rencana
Begitu Shiho membuka mata, Shiho sadar bahwa saat ini ia masih berada di taman. Namun setelah kesadarannya mulai pulih, Shiho baru menyadari bahwa saat ini dia sedang tidur di pangkuan seseorang. Shiho mencoba mempertajam penglihatannya, dan betapa terkejutnya Shiho ketika menyadari bahwa orang itu adalah Shinichi.
"KYAAA... Shinichi, Kenapa aku bisa di sini, apa yang kau lakukan padaku?" Shiho memposisikan duduk menjauh sampil menyilangkan tangannya di depan dada.
"Oi... oi... kamu fikir aku ini siapa? Aku tidak akan melakukan hal yang kurang ajar padamu" Shinichi menyipitkan matanya.
"L-lalu, kenapa tiba-tiba aku bisa tidur di pangkuanmu?" Tanya Shiho, masih tidak percaya pada Shinichi.
"Apa kamu lupa kalau tadi kamu jatuh lalu pingsan?" Kata Shinichi mencoba mengingatkan, namun Shiho tampak tidak mengingat apapun.
"Oi... oi... Apakah hanya gara-gara kepalamu terbentur lalu kamu hilang ingatan?" Lanjut Shinichi.
Shiho tampak berfikir lagi, lalu wajahnya tiba-tiba berubah panik. Shiho segera mendekat pada Shinichi dan memegang lengan baju Shinichi.
"Shinichi, kau lihat mahluk itu? Mahluk yang sangat menyeramkan" Shiho tampak waspada sambil melihat-lihat sekitar.
"Puft... hahaha... Shiho-Shiho... Kamu itu aneh sekali, bukankah kita ini sama seperti mereka, kenapa kamu takut?" Kata Shinichi sambil tertawa terbahak-bahak.
"Hiiiis, aku sungguh-sungguh melihatnya. Penampilannya sungguh menyeramkan" Shiho masih tampak waspada.
Shinichi hanya tersenyum kecil sambil berkata "Apakah yang kamu lihat tadi seperti ini?"
Shiho merasa aneh dengan pertanyaan Shinichi kemudian dia melihat ke arah Shinichi. Dan ternyata benar, yang saat ini berada di samping Shiho adalah mahluk menyeramkan yang tadi Ia lihat.
"KYAAA" secara reflek Shiho berteriak sambil mundur, menjauh dari mahluk itu.
"K-Kau? Kau?" Shiho bicara terbata karena syok. Lalu Shiho mendengar suara tawa Shinichi lagi.
"Hahahaha... ini aku Shiho, aku Shinichi" Kata Shinichi sambil mengembalikan wujudnya seperti semula.
"Kau Shinichi... beraninya kau menakutiku, kau ingin mati?" Shiho memasang dead-glarenya pada Shinichi kemudian mulai memukuli Shinichi.
"Aduh Shiho... sakit... hahaha. oke maaf-maaf, aku minta maaf, Oke?"
Tapi Shiho hanya diam saja, kini wajahnya berubah cemberut.
"Ayolah Shiho, apa kau marah karena aku menjahilimu? Lagi pula aku menakutimu karena kau tampak ketakutan berjalan sendiri" Bela Shinichi.
"Jadi kau masih menyalahkanku?" Shiho melirik dengan tatapan murka.
"Iya iya faham, aku minta maaf Shiho karena telah membuatmu ketakutan" kini Shinichi memasang wajah seperti anak kecil yang minta maaf.
Melihat tingkah konyol Shinichi membuat Shiho tidak dapat menahan senyumnya.
"Nah gitu dong, hehehe" Shinichi terkekeh melihat reaksi Shiho.
"Shiho, aku tidak melihatmu beberapa hari ini? Apa kamu masih terpukul karena kejadian kemarin?"
"Apa urusanmu? Seharusnya kamu senang kan jika aku tidak mencapai target dalam waktu 15 hari?" Shiho melirik Shinichi sinis.
"Tidak, aku hanya merasa sepi" Shinichi mengatakan hal itu tanpa melihat ke arah Shiho.
"Eh?" Shiho terkejut dengan pernyataan Shinichi.
"Ya, karena tidak ada yang bisa aku jahili. hohoho" Shinichi melirik Shiho sambil tertawa jahil.
"Appa? Heeeeem?" Shiho menatap Shinichi geram sambil mengepalkan tangannya, bersiap memukul Shinichi lagi.
"Shiho lihar! bintang jatuh" Shinichi mendongakkan kepalanya sambil menunjuk ke langit.
"Eh?" Shiho ikut mendongakkan kepalanya.
Dari tempat mereka berada, tampak bintang bertaburan di langit dengan begitu jelasnya. Shiho takjub dengan pemandangan yang saat ini dia lihat.
"Waaah, Indah sekali! Dari sini ternyata bintang terlihat begitu jelas. Dari balkon apartemen saja tidak sejelas ini" gumam Shiho takjub.
"Hei Shiho, bagaimana kalau aku tunjukkan padamu cara cepat menjodohkan manusia?"
Shiho memiringkan kepalanya bingung. "Kenapa?" Tanya Shiho.
"Haah sudahlah, jangan terlalu difikirkan. Kau punya waktu besok? Aku akan tunjukkan padamu"
Shiho tampak berfikir sejenak 'tidak ada salahnya sih mencoba, toh dia memang lebih berpengalaman dariku'
"Emmm… boleh kalau begitu, kebetulan besok aku libur" akhirnya Shiho setuju dengan tawaran Shinichi.
"Yatta… besok aku tunggu di sini jam 8 tepat, setuju?" Shinichi mengulurkan tangannya pada Shiho.
"Setuju" Shiho menyembut uluran tangan Shinichi, kini mereka saling berjabat tangan.
Keesokan harinya, Pagi-pagi Shiho sudah bersiap pergi. Kaito melihat tingkah Shiho dengan penasaran.
"Shiho, hari ini kan libur? Mau ke mana?"
"Kaito-san, anoo… saya ada janji dengan teman"
"Laki-laki?"
Shiho menjawab hanya dengan anggukan ringan.
"Teman kencan?"
'Teman kencan? Shinichi? Hahaha... tidak mungkin' Pikir Shiho.
"Hahaha… bukan Kaito-san"
Kaito hanya manggut-manggut sambil ber"Ooo" ria.
"Kalau begitu saya pamit dulu Kaito-san" Shiho pamit sambil menutup pintu Apartemen.
Kaito hanya memandang kepergian Shiho penuh arti.
Saat Shiho sampai di tempat janjian mereka, Shiho melihat seorang pria yang saat ini menjadi pusat perhatian para wanita. Pria itu terlihat sangat tampan dengan penampilannya yang stylist seperti seorang model. Saat ini dia sedang bersandar pada tiang lampu taman sambil memandangi jam tangannya.
"Shinichi?" batin Shiho setengah tidak percaya.
Lalu Pria itu memandang ke arah Shiho lalu tersenyum.
"Hei Shiho" Dia memanggil sambil melambaikan tangan.
Dalam sekejam suasana serasa berubah, kini berganti Shiho yang menjadi pusat perhatian para wanita. Mereka yang tadinya memandang Pria itu kini beralih memandang Shiho dengan sinis. Shiho hanya bisa tersenyum garing.
"Hei Shinichi, sepertinya kau harus mengganti kostummu hari ini"
"Memangnya ada yang salah dengan baju yang aku pakai?" Tanya Shinichi tanpa merasa bersalah.
"Bukan apa-apa sih, Cuma… aku takut rencana perjodohan hari ini gagal lagi gara-gara targetku salah fokus" Jawab Shiho ketus. Shinichi hanya bisa memasang wajah 'Oi... oi...'nya.
Dengan kekuatan sihirnya, Shiho mengeluarkan mantel serta topi dari dalam tasnya.
"Ini pakailah!" Shiho menyerahkan mantel dan topi itu pada Shinichi.
"Hanya aku yang pakai? Sepertinya kamu juga harus memakainya"
Shinichi melirik ke arah gerombolan pria yang sedari tadi mengekor agak jauh di belakang Shiho. Saat Shiho melihat ke belakang, para Pria itu tampak sedang memandangi Shiho dengan wajah terkagum-kagum.
"Baiklah… aku juga akan memakainya" Jawab Shiho akhirnya.
Kini mereka berdua seperti detektif yang sedang melakukan penyamaran, walaupun lebih mirip pasangan artis yang ingin pergi berkencan sehingga mereka harus menyamar agar terlihat tidak terlalu mencolok.
"Lalu apakah kamu sudah tahu targetmu selanjutnya?" Tanya Shinichi setelah ia selesai mengenakan kostumnya.
"Belum, targetku yang pertama juga secara kebetulan aku menemukannya" Jawab Shiho sambil menggelengkan kepala.
"Baiklah kalau begitu, sepertinya kita butuh sedikit jalan-jalan. Mungkin saja nanti secara tidak sengaja kita akan menemukannya" Tawar Shinichi.
Shiho tampak berfikir sejenak "Jalan-jalan? Ke mana?" Tanya Shiho penasaran.
"Sudahlah… ayo ikut aku" Shinichi berjalan mendahului Shiho..
"Hei Shinichi, tunggu aku…" Shiho berjalan mengikuti Shinichi.
Setelah beberapa saat berjalan, kini mereka sudah berada di tengah keramaian. Di sana terlihat banyak orang yang berlalu lalang, ada juga yang sedang asik berbincang atau hanya sekedar berjalan santai.
"Waah… di sini ramai sekali, aku kira hanya di Caffe Kaito-san saja yang ramai dikunjungi, ternyata ada tempat lain yang lebih ramai" Kata Shiho kagum.
"Makanya aku mengajakmu kemari. Semakin banyak orang, kesempatan kita menemukan pasangan juga akan semakin banyak kan?"
"Kau benar… Eh, sepertinya aku mendengar sesuatu"
"Miwako, Kau adalah wanita terhebat yang pernah aku temui" Shiho mendengar suara seorang pria yang berada di tengah keributan. Saat Shiho mencari sumber suara itu, Shiho menemukan seorang pria yang saat ini sedang memandangi seorang wanita cantik di depannya. Wanita itu baru saja berhasil meringkus seorang penjahat. Pria itu adalah seorang polisi yang bernama Takagi.
"Hei… Hei Shinichi, kau lihat pasangan polisi yang sedang meringkus penjahat di sana?" Shiho menarik-narik mantel Shinichi sambil menunjuk ke arah kerumunan orang.
"Ow… mereka itu targetmu Shiho?" Tanya Shinichi kemudian.
Shiho hanya menjawab dengan anggukan sambil tidak melepaskan pandangannya dari pasangan polisi itu.
"Shiho… liat saja, akan aku tunjukkan padamu bagaimana seharusnya kerja seorang peri. Kalau ada kesempatan, langsung tembakkan panahmu pada mereka" Kata Shinichi sambil melirik Shiho sekilas lalu berlari mendekati kerumunan itu.
Saat ini keadaan sudah terkendali, penjahat yang jadi buronan telah berhasil diringkus dan sedang di giring oleh polwan yang bernama Miwako tadi menuju mobil patroli. Lalu di depannya terdapat Takagi yang mencoba mencarikan jalan untuk keluar dari kerumunan orang-orang yang sedari tadi menyaksikan aksi mereka.
Setelah melihat-lihat keadaan sekitar, Shinichi mulai beraksi.
"Baiklah... this is the show time" Kata Shinichi sambil menyunggingkan sebelah bibirnya.
Dengan kekuatan sihirnya, Shinichi meniupkan angin yang cukup kencang serta debu pada para polisi sehingga mereka menjadi lengah, akhirnya penjahat itu dapat melepaskan diri dari kawalan Miwako. Kemudian dengan kesempatan yang ada penjahat itu berhasil mengambil pistol milik Takagi yang sedari tadi memang ia incar.
"KALIAN SEMUA PERGI! CEPAAAAT" Penjahat itu mengacungkan pistol pada semua orang yang berada di sekitarnya.
Tindakan penjahat itu sontak membuat orang-orang berlari ketakutan. Hanya Takagi dan Miwako yang tetap bertahan di tempatnya.
"Tenang Hirota, tenang" Kata Takagi mencoba mengendalikan suasana.
"KALIAN JANGAN BERANI MACAM-MACAM YA! ATAU AKU AKAN MENEMBAK KALIAN" Walau dengan nada bicara dan tangan yang gemetar, penjahat yang bernama Hirota itu tetap mengacungkan pistolnya.
Tak lama kemudian, mobil patroli yang akan menjemput tahanan pun datang. Namun ketika sadar keadaan sedang berbalik, polisi yang mengemudikan mobil diam-diam memanggil bala bantuan.
Tak butuh waktu lama, bala bantuanpun datang. Dua unit mobil polisi sampai di tempat kejadian dan para polisi bersenjata api segera keluar dari dalam mobil. Mereka mengepung penjahat yang bernama Hirota tersebut.
"HIROTA, JATUHKAN SENJATAMU DAN MENYERAHLAH!" Perintah salah satu polisi yang sedang menodongkan pistol pada Hirota.
Dengan adanya polisi yang mengepungnya malah membuat Hirota semakin panik.
"TIDAAAK, AKU TIDAK MAU DIPENJARA, AKU TIDAK MAU MATI, TIDAAAK" Hirota mulai berteriak-teriak tak karuan, suasana menjadi semakin tegang.
"Tenang Hirota, tenang! Jika kau menyerahkan diri maka hukumanmu akan diringankan" Takagi mencoba membujuk Hirota.
"AKU TIDAK PERCAYA... KALAUPUN AKU HARUS MATI, KAU HARUS MENEMANIKU, DASAR SIALAN" Kini Hirota mengacungkan pistol ke arah Miwako dan siap menekan pelatuk.
Miwako sangat terkejut dengan tindakan yang dipilih Hirota. Miwako terlalu dekat dengan Hirota hingga ia tidak mampu menghindar dari target bidikan pistol Hirota.
"MIWAKO... AWAAAS" Namun saat suara tembakan itu terdengar, tiba-tiba Takagi berdiri di depan Miwako. Sedetik kemudian tubuh Takagi tumbang ke belakang yang dengan segera ditangkap oleh Miwako. Saat itulah Shinichi memerintahkan Shiho menembakkan panahnya.
Lalu terdengar dua suara tembakan yang lain yang berasal dari tembakan anggota polisi dan berhasil melumpuhkan Hirota. Pada saat itu juga Miwako membesarkan hati Takagi.
"Takagi... Takagi bertahanlah!" Miwako yang biasanya tenang kini tampak begitu gelisah melihat tubuh Takagi yang tumbang.
"Miwako-san, apakah kamu tidak terluka?" Takagi mencoba terlihat tegar walau saat ini ia terluka. Peluru dari tembakan tadi berhasil mengenai perut bagian kirinya dan darah segar terlihat membasahi baju Takagi.
Melihat ekspresi Takagi, tanpa sadar Miwako meneteskan air mata "Dasar bodoh, kenapa kau mengorbankan dirimu untukku?"
Mendengar pertanyaan itu, Takagi hanya tersenyum kecil dan berkata "Karena aku ingin melindungi orang yang aku sayangi"
Miwako tampak terkejut dengan pernyataan Takagi, namun sesaat kemudian ia tampak tersenyum dengan air mata yang masih tetap mengalir.
Perjalanan Pulang
"Hei Shinichi, bukankah caramu tadi sudah keterlaluan?" Shiho berkomentar tentang aksi mereka menjodohkan manusia hari ini.
"Keterlaluan dibagian yang mana?" Jawab Shinichi tanpa dosa.
"Tindakanmu tadi hampir membuat nyawa pria itu melayang tahu!" Kata Shiho dengan nada marah.
"Hei, sepertinya ada salah faham di sini. Aku hanya membantu penjahat itu kabur, itu saja" Shinichi membela diri.
"Jadi... kau tidak mengendalikan fikiran mereka" Pernyataan Shiho membuat Shinichi memadangnya heran.
"Memangnya kita punya kekuatan untuk melakukan itu? Aku hanya membaca jalan fikir mereka dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi jika aku melakukan rencanaku itu. Dan lihatlah, rencanaku berhasilkan?" Shinichi mulai menyombongkan dirinya.
'lagi... dasar sombong' pikir Shiho.
"Ya... ya... aku tahu, hanya Kami-Sama yang bisa melakukannya. Jadi tindakan pria tadi juga ada dalam prediksimu?" Shiho tampak kebingungan namun Shinichi hanya mengangguk pelan.
"Sudahlah Shiho, memang kamu harus banyak belajar untuk memahami karakteristik manusia" Shinichi tampak menerawang memandang langit yang bersih.
"Memangnya sudah berapa lama kamu mempelajari karakteristik manusia"
"Em... berapa ya? Yang aku ingat aku mulai tertarik melihat interaksi manusia sejak umurku 15 tahun"
"15 tahun? Waah... Lalu umurmu sekarang?"
"20" Jawab Shinichi singkat
"Eh... Kita seumuran?"
"Kenapa? Apakah wajahku belum menunjukkan kalau aku sudah kepala dua?" Kata Shinichi sambil menggerak-gerakkan alisnya.
"Tidak... aku kira kau adalah pak tua yang tidak lulus-lulus saat ujian akademik" Jawab Shiho setengah berbisik.
"APA" tampak urat kemarahan pada pelipis Shinichi.
"Ya... aku hanya berfikir pengalamanmu banyak, jadi aku kira kau sudah tua" Jawab Shiho tanpa dosa.
"Oi... oi... aku kan sudah bilang kalau aku ini bukan murid sembarangan" Kata Shinichi sambil melirik ke arah Shiho.
"Ya... ya... tidak perlu kau ulang lagi deklarasimu itu, aku sudah hafal" Jawab Shiho sewot.
"Berarti kurang satu pasangan lagi kan yang harus kau satukan?"
Shiho mengangguk "Ya, dan kali ini aku pasti berhasil" Jawab Shiho optimis.
"Ya semoga saja, tapi aku tidak yakin karena berikutnya aku tidak menolongmu" Kata Shinichi sambil menyunggingkan senyum jahilnya.
"Hei, memangnya kamu fikir aku ini siapa? Aku sangat yakin aku bisa, walau tanpa bantuanmu" Kata Shiho tak mau kalah.
"Baiklah, aku tunggu hasilnya, Jaa-Shiho" Shinichi pun pergi meninggalkan Shiho. Tanpa Shiho sadari ternyata mereka sudah sampai di depan apartemen Kaito.
"Hei Shinichi, aku masih tidak mengerti kenapa kau menolongku" Kata Shiho setengah berteriak. Namun Shinichi menjawab hanya dengan lambaian tangan.
Shiho hanya tersenyum melihat kepergian Shinichi, walau bingung namun hari ini Shiho merasa sangat senang.
'Hari ini adalah yang terbaik' fikir Shiho sambil berjalan memasuki Apartemen.
TBC
Hallo minna… Gak nyangka masih bertahan sampai Chapter 3
rasanya nulis FF yg ini kaya kejar tayang, sehari nulis langsung update
-Maklum hari2 kemaren gak dapet pencerahan-
OC lah... dikit aja dari Author, semoga reader suka :3
ditunggu reviewnya :3
