Reply Time :)

Shina: Iya makasih, tadi abis lihat reviewnya Shina jadi pingin rewrite. eh abis itu jadi semangat lanjut nulis. hehehe

ini udah di lanjut :3

OC lah... selamat membaca :3


LOVE DESTINY

Discliamer: Detective Conan - c Aoyama Gosho

Warning: OOC, GJ, typo(s)

R&R Please ! :3
Review kalian adalah oksigen bagi Author :3
Maklum Author sering sesak nafas :D


Di Chapter sebelumnya:

Setelah sebelumnya Shiho belum berhasil dalam menjodohkan, akhirnya berkat bantuan Shinichi Shiho berhasil menjodohkan sepasang manusia. Namun sampai saat ini, Shiho masih penasaran dengan motif dibalik tindakan Shinichi padanya.


Chapter 4 : Kenyataan pahit

Hari ini Shiho tampak berbeda dari biasanya, sejak pagi Shiho sudah tampak sibuk melakukan sesuatu namun sebenarnya dia tidak melakukan apapun, atau bisa di bilang saat ini Shiho seperti orang linglung. Setidaknya itu yang sedang Kaito fikirkan tentang Shiho.

Bagaimana tidak... pagi-pagi sekali Shiho sudah bangun dan membuat kegaduhan di dapur. Entah apa yang dilakukannya tapi hal itu sukses membuat Kaito terbangun. Saat Kaito melihatnya, ternyata Shiho hanya sedang mondar-mandir tidak jelas di dapur sehingga menabrak sesuatu dan akhirnya barang itu jatuh. Shiho terlihat cemas. Namun saat Kaito menanyakan masalahnya, Shiho hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.

Hal itu tidak berakhir sampai di sini saja. Saat bekerja-pun Shiho tampak sulit berkonsentrasi. Entah sudah berapa kali Kaito mendengar Shiho minta maaf pada pelanggan karena melakukan kesalahan. Kaito jadi semakin penasaran pada tingkah Shiho. Karena tidak tahan dengan kelakuan Shiho akhirnya Kaito memutuskan untuk menanyakan kembali hal itu pada Shiho ' – dan kali ini harus berhasil' batin Kaito.

"Shiho, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Kaito yang terdengar sedikit frustasi " – Aku rasa hari ini kamu berbeda dari biasanya" Lanjut Kaito disela waktu makan siang mereka.

Namun sama seperti sebelumnya, Shiho hanya menggelengkan kepala "Tidak apa Kaito-san, saya hanya ada sedikit urusan yang harus saya selesaikan hari ini".

"Urusan? Urusan apa?" Kaito tampak bingung dengan jawaban Shiho.

Shiho tampak berfikir "Emm… Bagaimana cara menjelaskannya ya? Saya sendiri juga bingung"

"Sesusah itukah menjelaskannya? Apakah masalah dengan teman priamu? Atau dengan keluargamu?" Tanya Kaito menyelidik.

"Eh... " Mata Shiho membulat mendengar pertanyaan Kaito, Shiho sendiri juga tidak mengerti kenapa tapi tiap Kaito menanyakan tentang 'teman pria' membuat pipi Shiho bersemu kemerahan dan tiba-tiba saja Shiho jadi merasa gugup. "B-Bukan Kaito-san, bisa dibilang urusan akademis, Ups..." Shiho langsung menutup mulitnya. Karena terlalu gugup, Shiho tidak dapat berfikir jernih 'Kenapa aku katakan yang sebenarnya? duuuuh' Shiho mengomel dalam hati.

"Ternyata kamu masih menempuh pendidikan? Mengambil jurusan apa?" Kaito tampak antusias.

"Anooo... jurusan tata boga" Jawab Shiho sekenanya.

"Wah... itu bagus sekali, tapi kenapa kamu tidak menceritakannya padaku Shiho?" Tanya Kaito, kini tampak semburat kekecewaan di wajah Kaito.

Shiho panik melihat ekspresi Kaito. Tanpa pikir panjang, Shiho cepat-cepat membungkuk dan meminta maaf pada Kaito "K-Kaito-san, hontoni gommenasai?" raut penyesalan terlihat jelas di wajah Shiho "B-bukan maksud saya menyembunyikan hal ini dari Kaito-san, tapi... saya takut Kaito-san tidak akan menerima saya bekerja di tempat Kaito-san" Shiho mulai mengarang cerita.

Sesaat kemudian, Shiho mendengar suara tawa Kaito "Hahaha... Shiho-Shiho, mana mungkin aku marah. Aku malah menghargai mereka yang mau belajar. Kalau kamu bilang dari awal pasti aku akan mendukungmu" Kaito kemudian menepuk pundak Shiho "Memangnya kapan mereka akan menemuimu?" Lanjut Kaito.

"Emm... Entahlah, saya belum mendapatkan kabar pastinya. Namun mereka akan menghubungi saya lagi nanti"

"Yah, bertemu dengan pihak akademis memang sering membuat kita gugub, namun jangan terlalu difikirkan. Anggap saja semua berjalan seperti biasanya. Kalau kamu butuh bantuan atau pembelaan, kamu bisa mengandalkanku, jangan khawatir" Kaito mengacungkan jempolnya pada Shiho. Shiho membalasnya dengan senyum lebar dan sekali anggukan keras. Setelah selesai makan siang, Mereka segera melanjutkan pekerjaan mereka.


Tak terasa, matahari mulai bersembunyi di balik gedung-gedung pencakar langit kota Tokyo. Orang-orang pun berhambur keluar dari kantor untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Begitu juga dengan Kaito dan Shiho, kini mereka tengah dalam perjalanan pulang. Hari ini caffe tutup lebih awal karena tutup bulan.

"Haaah... Syukurlah Shiho, tampaknya kau sudah tidak gugup lagi" Kaito tiba-tiba membuka suara setelah beberapa saat mereka berjalan dalam diam. Kaito tengah memandangi matahari yang mulai tenggelam.

"Eh?... Emmm kurang lebih begitu"

Shiho memandang wajah Kaito yang tampak bercahaya berkat refleksi cahaya matahari yang menerpa wajahnya, cahaya senja yang merah, namun begitu lembut dan hangat. Shiho memandangnya takjub, tak terasa kini pipi Shiho terasa hangat dan bersemu kemerahan.

Karena merasa diperhatikan, Kaito akhirnya melirik ke arah Shiho. Namun hal itu membuat Shiho salah tingkah dan segera mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.

Kening Kaito sedikit berkerut "Ada apa Shiho? Sepertinya tadi kau melihat ke arahku. Apakah ada yang ingin kau sampaikan?"

"Eh... I-Ie, tidak ada Kaito-san" Shiho terlihat gugup.

"Kalau kamu butuh bantuanku bilang saja, sebisa mungkin akan aku bantu" Kaito tampak tersenyum lembut pada Shiho yang membuat Shiho makin terpana.

'Kaito-san, Kau terlihat sangat bersinar hari ini' Shiho melamun sambil memandang wajah Kaito.

"Shiho, Kau melamun lagi? Ada masalah apa sebenarnya?" Kaito tampak Khawatir melihat tingkah Shiho.

Dengan gugup, Shiho akhirnya bertanya pada Kaito "Kaito-san, aku ingin menanyakan kembali pertanyaan yang dulu"

Kaito tampak berfikir sejenak "Pertanyaan yang mana?"

"Kenapa sampai sekarang Kaito-san belum punya kekasih?" Shiho menatap Kaito penuh arti.

Kaito tampak terkejut dengan pertanyaan Shiho, lalu seketika itu juga ekspresi wajah Kaito berubah murung. Shiho menyadari perubahan ekspresi Kaito.

"Sebenarnya ini cerita yang tidak terlalu menyenangkan..."

Belum sempat Kaito melanjutkan ceritanya, Shiho sudah memotong "AAAH, Jika Kaito-san tidak mau menceritakannya tidak papa, saya hanya sekedar ingin tahu saja"

Kaito memandang Shiho sambil tersenyum kemudian melanjutkan ceritanya "Dulu waktu aku masih kecil, aku memiliki tetangga yang seumuran denganku. Aku dan dia sangat dekat, setiap hari kami bermain bersama, kami pun bersekolah di tempat yang sama, pada awalnya aku menganggapnya sebagai sahabatku. Hingga akhirnya kami harus berpisah, aku ingat umurku 17 tahun, saat itulah aku baru menyadari bahwa aku menyukainya, sedangkan aku tidak tahu dimana dan bagaimana dia sekarang. ironi bukan?" Kaito terus memandangi ke arah matahari yang cahayanya semakin lama semakin redup.

Shiho berjalan di belakang Kaito dengan kepala tertunduk, Shiho merasa saat ini dia ingin segera berlari, ada sesuatu yang sangat mengganjal di dadanya yang ingin ia luapkan. dadanya terasa sesak, hampir-hampir tidak bisa bernafas. Shiho ingin menangis tetapi tidak di hadapan Kaito.

"Tapi untunglah, beberapa hari lalu aku mendapatkan kabar tentangnya dari teman lamaku. Mungkin karena aku masih belum bisa mengatakan isi hatiku padanya hingga membuatku tidak bisa berpaling darinya" kini Kaito memandang ke arah Shiho.

Dengan seluruh usaha yang ia miliki, Shiho menguatkan diri untuk mengangkat kepalanya, memandang kearah Kaito sambil tersenyum "He'em" Shiho mengangguk keras " – Mungkin jika Kaito-san bisa mengungkapkan isi hati Anda, Anda akan berbahagia".

Sekuat tenaga Shiho berusaha agar tetap berjalan di dekat Kaito. Namun Shiho merasa inilah batasnya, Shiho sudah tidak kuat jika berlama-lama lagi berada di dekat Kaito "Kaito-san, saya ada perlu sebentar, kita berpisah di sini saja. Sampai jumpa di rumah" tanpa persetujuan Kaito, Shiho sudah berjalan membelakangi Kaito.

"Apakah urusan akademikmu Shiho? Baiklah semoga sukses" tanya Kaito setengah berteriak, namun Shiho tetap berjalan tanpa menolek kebelakang ataupun menjawab. Kaito hanya memandang kepergian Shiho.

Kini Shiho sedang berlari menyusuri taman, menyusuri jalan setapak yang di sisi kanan-kirinya bermekaran bunga-bunga kecil berwarna-warni yang indah, namun keindahan bungan itu tidak mampu menghibur hati Shiho saat ini. Hingga akhirnya Shiho duduk di kursi yang tempatnya sedikit tersembunyi, di sana Shiho menangis tersedu.

'Kenapa... kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku menanyakan pertanyaan itu? Sungguh lebih baik aku tidak tahu, saat ini hatiku benar-benar sakit... sakiit sekali' Shiho terus merutuki dirinya sendiri sambil memukul-mukul pelan dadanya yang terasa begitu sesak. Air mata Shiho mengalir tak terbendung lagi.

Tiba-tiba Shiho dikejutkan oleh suara seseorang yang ia kenal. "Bolehkah aku duduk di sebelahmu Nona?" tanya orang itu.

Tanpa menoleh ke arah suara itu, Shiho sudah tahu siapa yang saat ini sedang berdiri disebelahnya. "Apa kau? Mau apa kau menemuiku?"

"Aku hanya ingin menemanimu" jawab orang itu.

"Apa kau ingin mengolok-olokku? Haah? Ya aku tahu, aku memang bodoh. Tidak seharusnya aku menyukainya" Shiho masih tetap tertunduk sambil menangis. Sampai akhirnya orang itu saat dia duduk di samping Shiho.

"Siapa yang menyuruhmu duduk?" bentak Shiho sambil menoleh ke arah orang itu, dan betapa terkejutnya Shiho saat melihat ekspresi wajah orang itu. Memang dia adalah Shinichi, namun dengan ekspresi wajah yang sulit digambarkan. Dari raut wajahnya tampak keseriusan yang teramat.

"Tidak apa Shiho, menangislah... jika menangis akan membuat hatimu membaik maka menangislah, aku disini menemanimu" Shinichi memandang ke arah Shiho dengan tatapan yang tajam, namun entah kenapa tatapan itu terasa begitu lembut.

Shiho merasa seperti tidak mengenal orang yang saat ini sedang duduk di sebelahnya, saat ini Shinichi terlihat begitu berbeda. Di mata Shiho, Shinichi terlihat begitu cool. Tanpa terasa pipi Shiho mulai memerah, namun Shiho segera menggeleng-gelengkan wajahnya 'Tidak, itu tidak mungkin... tidak mungkin aku berfikir seperti itu'. Kini Shiho membuang muka "Aku tidak butuh kamu untuk menghiburku".

Lalu tanpa disangka, Shinichi malah menarik pergelangan tangan Shiho agar ia menghadap ke arah nya kemudian Shinichi memeluk tubuh Shiho.

"S-Shinichi... apa yang kau lakukan? Cepat lepaskan aku" Shiho meronta dalam pelukan Shinichi, ia berusaha melepaskan dirinya. Namun kekuatan Shinichi jauh lebih besar darinya sehingga Shiho tidak mampu melepaskan diri.

"Sudahlah Shiho, jangan sok kuat. Aku tahu kamu sedih, menangislah sepuasmu!"

Seketika itu juga Shiho tidak mampu membendung air matanya, ia menangis tersedu dalam pelukan Shinichi. Shiho menumpahkan seluruh kekecewaannya. Dalam pelukan Shinichi, Shiho merasakan sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat ia merasa aman hingga ia mampu meluapkan semua kepedihan yang ia rasakan saat ini.


Di apartemen

Malam harinya Shiho duduk termenung sambil memandangi bulan di balkon apartemen, malam ini bulan tampak tertutup awan mendung. Ia mengingat lagi betapa canggungnya suasana di meja makan bersama Kaito tadi. Ia tahu ia tidak boleh membenci Kaito hanya karena perasaan cintanya tidak berbalas, namun ia tidak mampu membohongi diri sendiri bahwa saat ini ia sedang tidak ingin melihat Kaito. Hati Shiho terasa begitu sakit saat ia memandang Kaito.

Tiba-tiba muncul sesosok bidadari yang berdiri di sebelah Shiho.

"Shiho" Sapa bidadari itu pada Shiho.

Seketika itu juga Shiho tersadar dari lamunannya, ia langsung menolah ke arah suara itu kemudian membenarkan posisi duduknya "Aoko-sama, maafkan saya karena tidak menyadari kehadiran Anda, terimalah hormat serta permohonan maaf saya" kemudian Shiho bersujud di hadapan bidadari yang bernama Aoko itu.

"Tidak apa-apa Shiho, bangunlah" pinta Aoko, kemudian Shiho bangun dari sujudnya " – kedatanganku kemari memenuhi tugas dari akademi untuk melakukan evaluasi pada ujianmu. Bagaimana Shiho? Apa yang ingin kamu sampaikan".

"Untuk saat ini saya telah berhasil menyatukan sepasang manusia Aoko-sama, dan saya masih memiliki satu lagi kesempatan"

"Benarkah?" Aoko tampak terkejut dengan jawaban Shiho "Untuk siswi berbakat sepertimu ternyata susah juga ya melawan Shinichi? aku tidak heran. Tapi kamu cukup beruntung masih bisa menyatukan sepasang manusia, untuk kedepannya kamu harus lebih berhati-hati Shiho"

"Memangnya kenapa Aoko-sama? Saya mengenal Shinichi, namun tidak semengerikan yang Aoko-sama bayangkan"

"Kamu belum mengenalnya Shiho, dia itu iblis yang sangat licik. Sejak ia masih anak-anak, kegemarannya adalah memburu para calon bidadari dan membuat mereka gagal dalam ujian. Baginda Dewi dan para bidadari sampai sangat geram padanya, hingga beberapa tahun yang lalu akibat ulahnya, hampir tidak ada calon bidadari yang berhasil" Aoko bercerita sambil terlihat geram.

Shiho mendengarkan cerita Aoko dengan mulut menganga, Shiho sangat sulit untuk percaya dengan apa yang ia dengar saat ini. 'Tapi Aoko-sama tidak mungkin berbohong' fikir Shiho, sehingga Shiho hanya mampu berkomentar "Benarkah itu Aoko-sama?"

"Tentu saja aku tidak berbohong Shiho-chan, untuk apa aku membohongimu?"

"Lalu kenapa dia tidak dihukum? Menurut peraturan semesta bukankah hal seperti itu dilarang?" Shiho masih menyangsikan apa yang telah diceritakan oleh Aoko.

"Kami benar-benar tidak berkutik" Kini Aoko tampak lesu " – Bagaimana tidak, Shinichi adalah anak kesayangan Baginda Dewa, dengan ulah Shinichi yang berhasil menggagalkan para calon bidadari malah membuat Baginda Dewa makin sayang dan selalu membanggakannya di antara para Iblis"

Mendengar penjelasan Aoko, Shiho tidak mampu lagi berkata-kata. Dia benar-benar sulit mempercayai bahwa Shinichi yang selama ini ia kenal adalah mahluk yang begitu kejam. 'Lalu apa motif dari tindakannya selama ini padaku? Aku semakin tidak mengerti' batin Shiho.

"Sudahlah Shiho, jangan terlalu difikirkan. Aku telah mendapatkan izin dari Baginda Dewi untuk menyerahkan ini padamu" Lalu Aoko memunculkan sebuah pedang yang kini berada dalam genggamannya, kemudian menyerahkannya pada Shiho " – Ini Shiho, Ambillah!"

Shiho terkejut dengan apa yang diberikan Aoko padanya "Pedang Zidan, B-bagaimana bisa?"

Pedang Zidan merupakan salah satu pusaka yang dimiliki Dewi. Pedang ini mampu melukai, atau bahkan membunuh seorang peri.

"Baginda Dewi telah mengizinkanmu untuk menggunakan pedang ini jika Shinichi menyerangmu. Kami para bidadari juga setuju. Jika nantinya terjadi sesuatu maka Baginda dan kami akan melindungimu dengan seluruh kekuatan kami"

"S-saya tidak mungkin menggunakannya Aoko-sama, menurut saya hal ini sudah keterlaluan" Shiho mencoba menolak tawaran Aoko, tapi Aoko tetap memaksa.

"Sudahlah Shiho-chan, ambillah! Ini adalah amanah yang diberikan Baginda Dewi dan para peri padaku agar menyerahkan pedang ini padamu. Walaupun akhirnya tidak kamu gunakan, tapi kamu tetap harus menerimanya"

Shiho tampak ragu untuk mengambil pedang itu dari tangan Aoko, namun akhirnya dengan terpaksa Shiho menerimanya.

"Baiklah Shiho, amanah yang aku terima dari para penghuni surga telah aku sampaikan. Aku berdoa untuk keberhasilanmu Shiho"

"Baik Aoko-sama, terimakasih telah mengunjungi saya, saya juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh bidadari yang telah menghawatirkan saya. Semoga saya tidak mengecewakan kakanda sekalian"

Sesaat kemudian, Aoko sudah menghilang dari hadapan Shiho. Tanpa Shiho dan Aoko sadari, bahwa sedari tadi ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka dari balik pintu kamarnya.

TBC


Author : Kyaaaa XD
Reader : Apaan sih tor? malem-malem bikin heboh aja.
Author : Gak nyangka ya? XD
Reader : Emang gak nyangka apaan tor?
Author : Gak nyangka, tiba-tiba udah nyampre chapter 4 aja
Reader : -tapok jidat- Ealah tor. dikirain ade ape. biasa aja keles.
Author : Kagak ngarti juga. rasanya Author seneeeng biit udah bisa ngelarin chapter 4, soalnya chapter depan itu chapter puncak lho :3
Reader : Beneran tor, wah kalau itu ane juga ikutan seneng tor :D

Hallo minna… Setelah rewrite dari chapter 1 akhirnya author sadar bahwa
1. Masih banyak typo sana-sini. Kalau sempet author benerin dah
2. Ternyata FF ini lumayan seru juga. hohoho #ditabokreader
Gak ada salahnya kan menyemangati diri. biar semangat nulis lg setelah vakum 2 mgg lebih :3 hohoho

Bagaimana minna? makin penasaran? nantikan chapter 5, puncak dari FF ini.
moga aja cepet rilis, coming soon lah pokoknya :3