Reply Time :)

Kalyaz : Iyakah? Waah, aku ngerasa emang selama ini Shinichi yg asli juga ngegemesin sih, jadi pingin buat chara yg 'setidaknya' mirip. hehehe :D

OC lah... selamat membaca :3


LOVE DESTINY

Discliamer: Detective Conan - c Aoyama Gosho

Warning: OOC, GJ, typo(s)

R&R Please ! :3


Di Chapter sebelumnya:

Aoko, Bidadari pembimbing Shiho, akhirnya berkunjung ke Bumi, namun kedatangannya ke Bumi bukan hanya untuk memantau perkembangan Shiho, namun juga untuk menyerahkan pedang Zidan, yaitu pedang yang mampu membunuh peri. Pedang ini sebagai alat perlawanan jika tiba-tiba Shinichi menyerang Shino.


Chapter 5 : Pita Benang Merah

Keesokan harinya, Shiho berangkat kerja dengan perasaan yang tidak tenang. Bukan karena masalahnya dengan Kaito, Shiho sudah benar-benar melupakannya. Kini yang menjadi beban fikirannya adalah amanah yang disampaikan oleh Aoko padanya. Hal itu sukses membuat Shiho tidak dapat memejamkan mata tadi malam. Kini Ia benar-benar sulit untuk berkonsentrasi, fikirannya kacau.

Kaito yang melihat kondisi Shiho yang begitu menyedihkan kini merasa khawatir "Shiho, apakah hari ini kamu tidak apa-apa? Kelihatannya kamu kurang bertenaga, apakah kamu sakit?"

Shiho dengan matanya yang sayu memandang ke arah Kaito "Maaf Kaito-san, hari ini saya memang merasa kurang enak badan"

"Iya, kamu terlihat pucat sekali Shiho, lebih baik sekarang kamu rebahan saja dulu di ruang ganti"

Shiho menjawab Kaito dengan sekali anggukan ringan "Maaf Kaito-san, hari ini saya hanya bisa merepotkan"

"Tidak masalah Shiho, aku sudah biasa menghandel semuanya sendiri. Jadi kamu istirahat saja"

Shiho tersenyum sekilas pada Kaito kemudian berjalan menuju ruang ganti dengan lesu. Shiho akhirnya berbaring di ruang ganti. Namun beru beberapa menit Shiho memejamkan matanya, Shiho sayup-sayup mendengar suara hati seorang wanita.

"And-i ka- ta-u isi hati-u..." Shiho mencoba lebih mempertajam pendengarannya " – aku sudah lama menyukaimu, Conan-Kun" kini suara itu terdengar jelas oleh Shiho.

'Suara itu?... TARGET BARU' Shiho membuka kedua matanya ' – aku harus segera menemukan mereka' fikir Shiho sambil bergegas keluar lewat pintu belakang.

Shiho berlari menyusuri taman untuk mencari sumber suara itu. Hingga akhirnya Shiho menemukan sekelompok anak SMP yang sedang melakukan pengamatan terhadap tanaman yang ada di taman. Lalu di sana Shiho menemukan targetnya, yaitu seorang gadis yang bernama Haibara Ai yang kini sedang memandang teman sekelasnya yang bernama Edogawa Conan. Namun saat Conan melihat ke arah Ai, Ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Wah... ternyata aku menemukan cinta monyet ya. Sudah terlanjur sampai di sini, biarlah ku amati dulu" gumam Shiho yang sedang bersembunyi di balik semak-semak.

Sekelompok anak SMP itu saat ini sedang melakukan praktikum tentang perkembang biakan buatan pada tanaman, jadi anak-anak itu kelihatan sedang sibuk dengan tanaman dan peralatan mereka masing-masing.

Dari pengamatan Shiho secara sekilas, Shiho tahu bahwa Ai dan Conan berada dalam kelompok belajar yang sama. Kelompok itu terdiri dari tiga cowok dan tiga cewek, para cowok bertugas mencari tanaman yang akan dikembang biakkan dan para cewek bertugas menyiapkan media tanamnya. Karena itulah saat ini Ai memiliki alasan untuk selalu mengekor pada Conan kemanapun ia pergi.

'Mungkin memang hari ini adalah hari keberuntungannya' batin Shiho' – begitu ada kesempatan, aku akan langsung menembakkan panahku' lanjutnya.

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya penantian Shiho membuahkan hasil. Saat itu Conan sudah mendapatkan tanaman yang dia inginkan dan meminta bantuan Shiho untuk mengambilkan media tanam miliknya.

"Haibara-san, bisakah kau ambilkan media tanam milikku!" Pinta Conan yang sedang memanjat sambil berusaha memotong dahan pohon sakura yang cukup besar. Ai tampak berlalu tanpa mengatakan sepatah katapun. Tak lama kemudian Ia sudah kembali sambil membawakan benda yang Edogawa minta.

'Baiklah... saat media itu diterima oleh Conan, aku akan menembakkan panahku' Batin Shiho.

Seperti yang telah direncanakan Shiho. Saat Conan akan mengambil media tanam yang sedang dipegang oleh Ai, Shiho melepaskan panahnya dan tepat mengenai mereka berdua.

"yesss... kali ini aku yakin tidak akan gagal" teriak Shiho setengah berbisik sambil berjingkat kegirangan.

Namun yang terjadi malah sebaliknya. Saat Conan mengembil media tanam dari tangan Ai, Conan malah menyentuh sesuatu yang lain. 'Ini apa ya? Lembut sekali' Conan berfikir sambil sedikit mengeluskan tangannya pada sesuatu yang Ia bilang 'lembut' itu, menebak-nebak benda apa yang saat ini Ia sentuh. Setelah beberapa saat baru Ia sadari bahwa yang sedang Ia sentuh adalah tangan Ai.

Seketika itu juga Conan melihat ke arah Ai. Saat ini Conan melihat wajah Ai telah bersemu kemerahan. Hal itu membuat Conan salah tingkah. " – AAAH" teriak Conan yang kini pipinya ikut bersemu kemerahan.

Karena terlalu terkejut, tanpa sengaja Conan mendorong mundur Ai hingga ia terjatuh. Media tanam yang Ai pegang pun akhirnya jatuh berhamburan di atas baju Ai.

Conan sangat panik, Ia bingung apa yang harus Ia lakukan, hal ini karena Ia dan Ai lebih sering berdebat dan bertengkar dari pada bermanis kata. Conan sangat ingin menolong Ai tapi Ia tidak ingin terlihat aneh.

Conan mencoba memeriksa keadaan Ai yang sedari tadi tidak beranjak dari posisi jatuhnya sambil terus menundukkan kepalanya, "Ha-Haibara..." namun belum sempat Conan menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba salah seorang teman menyela sambil setengah berteriak "Hei lihat, Haibara-san kasihan sekali. Apa di rumah dia masih tidak puas bermain tanah? Hahahaha" lalu Ia tertawa diikuti teman-temannya yang lain.

Conan semakin bingung apa yang harus Ia lakukan hingga Ia hanya berdiri mematung melihat Ai ditertawakan oleh teman-temannya. Tak lama kemudian Ia melihat butiran air dari dagu Ai dan mulai menetes membasahi seragam yang kini Ia kenakan.

Conan memberanikan dirinya untuk memeriksa keadaan Ai, Ia mulai menundukkan badan dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh bahu Ai "Haibara...". Namun Ia merasa badannya dingin seketika saat tiba-tiba Ai menampik tangan Conan.

Ai mendongakkan kepalanya, tatapan mata mereka bertemu. Jiwanya terasa hancur saat Conan melihat mata Ai yang kini telah penuh dengan genangan air dan sorot mata yang penuh dengan kekecewaan. Conan sangat menyesali perbuatannya.

Conan mencoba meminta maaf pada Ai. "Haibara..." namun belum sempat Ia mengucapkan permohonan maafnya, Ai lebih dulu melampiaskan kekecewaan dengan sekali teriakan "AKU MEMBENCIMU EDOGAWA-KUUUN". Lalu Ai beranjak dari tempatnya jatuh dan berlari menjauh.

Shiho hanya bisa terbengong-bengong, tidak percaya dengan apa yang saat ini Ia saksikan 'Bagaimana bisa ini terjadi? Apa yang salah dengan tehnik yang aku lakukan?' pertanyaan itu saat ini sedang berputar-putar dalam kepala Shiho hingga membuat kepalanya pening. Seluruh badannya mulai gemetar. Hal yang paling Ia takuti terulang kembali. Kegagalan, itulah ketakutan tersesar Shiho.

Lalu tiba-tiba Shiho mendengar celotehan seseorang yang saat ini paling tidak ingin Ia temui. "Haaah, sayang sekali. Tadi itu hampir saja" tanpa Shiho sadari Shinichi telah berdiri di sebelahnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menggeleng-gelengkan kepala.

"Apa yang kau lakukan di sini Shinichi?" Suara Shiho terdengar sangat geram dan berat, tatapan mata Shiho tajam melihat ke arah Shinichi. Namun Shinichi sama sekali tidak menyadari gelagat aneh Shiho. "Yah... mau apa lagi, melaksanakan tugas tentunya" Shinichi menjawab pertanyaan Shiho dengan entengnya.

"Jadi kau benar-benar terlibat dalam kegagalanku kali ini? Jangan-jangan memang kau yang menggagalkan misiku yang pertama" Shiho mulai berbicara tak karuan. Saat ini Ia benar-benar merasa kebingungan dan kekecewaan yang teramat sangat. Shinichi tampak bingung dengan kelakuan Shiho, namun Ia hanya diam memperhatikan.

Ia tidak tahu lagi siapa teman dan siapa lawan, pikirannnya mulai dirasuki oleh ucapan Aoko 'Shinichi itu Iblis berhati dingin... Ia telah membuat banyak calon bidadari gagal dalam ujian' kata-kata itu mulai mengiang-ngiang di kepala Shiho, Ia benar-benar tidak tahan lagi. Tiba-tiba Shiho terperanjat saat teringat tentang pedang Zidan 'jika Shinichi menyerangmu, pakailah pedang Zidan ini...'.

Tanpa sadar, Shiho memegang kalungnya dan dalam sekejap kalung itu berubah menjadi pedang Zidan. dengan tangan gemetar, Shiho memegang gagang pedang itu. Lalu tiba-tiba Shiho mengibaskan pedang itu pada Shinichi.

"HYAAA" Teriak Shiho seraya mengibaskan pedang.

Secara refleks Shinichi menghindari serangan Shiho, "HEI SHIHO, APA YANG KAU LAKUKAN? Tindakanmu sangat berbahaya tah..." Namun betapa terkejutnya Shinichi ketika mengetahui bahwa Shiho menggunakan pedang legendaris yang telah merenggut ratusan jiwa peri, pedang Zidan, untuk menyerangnya. "S-Shiho... pedang itu? Bagaimana bisa kau memilikinya?"

"Itu bukan urusanmu, kenapa selama ini kau membohongiku?" Tanpa menunggu jawaban dari Shinichi, Shiho memulai serangannya pada Shinichi, namun Shinichi tidak membalas sekalipun serangan Shiho, ia hanya mengelak.

"Berbohong apa? Aku tidak pernah membohongimu Shiho" Shinichi mencoba membela diri, namun sama sekali tidak membuat Shiho melemahkan serangannya.

"BOHONG... Kenapa Shinichi? Kenapa? Kenapa selama ini kau baik padaku? Kenapa?" tanpa bisa dibendung lagi, air mata Shiho mengalir. Jiwanya hancur, Ia tidak tau lagi kemana Ia harus mengadu. Seseorang yang selama ini Ia percayai ternyata menghianatinya. Saat ini Ia benar-benar tampak kacau.

"Aku..." Shinichi benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus Ia katakan, air mata Shiho telah cukup menjelaskan padanya bahwa saat ini Ia sangat terluka.

"Aku menyesal telah percaya padamu Shinichi, lebih baik sejak awal... aku tidak pernah bertemu denganmu"

Shinichi tidak mampu lagi berkata apa-apa, perasaannya kacau.

Akhirnya Ia memutuskan untuk menanyakan pertanyaan final sebelum memutuskan tidakan yang akan Ia ambil selanjutnya, dengan geram Shinichi bertanya "Apakah kau akan bahagia jika aku tidak ada?"

Shiho tercekat, Ia merasa susah bernafas. Pertanyaan itu terasa menusuk hatinya begitu dalam, terasa perih dan sesak. Namun kemudian Shiho memantapkan hatinya, Ia mulai menyeka air matanya. Dengan sorot mata tajam, Shiho berkata dengan mantap "Aku menyesal telah mengenalmu dan aku berharap kita tidak pernah bertemu"

Shinichi tampak terkejut dengan kemantapan hati Shiho, Sekilas sorot mata Shinichi tampak sedih, namun kemudian Ia tersenyum dan memasang wajah garang. Dengan mantap Shinichi berkata "Baiklah kalau itu keinginanmu, mau tidak mau aku juga harus menyerangmu, sekarang terimalah seranganku, Shihooo".

Dengan tiada ampun Shinichi menyerang Shiho secara bertubi-tubi, Shiho sampai kualahan menerima serangan dari Shinichi. "Hahaha... Kenapa Shiho? Kau lemah sekali, bukankah kau ingin sekali melenyapkanku?" tantang Shinichi pada Shiho yang sedari tadi tampak setengah hati melawan Shinichi.

Tantangan Shinichi membuat Shiho naik darah, kini kemarahan Shiho sudah benar-benar memuncak "SHINICHIIII, AKU TIDAK AKAN KALAH DENGANMU, TERIMALAH SERANGANKU INI" Shiho segera mengacungkan pedangnya pada Shinichi seraya berlari ke arahnya.

Sekilas Shinichi tampak tersenyum, lalu Ia ikut berlari menuju arah Shiho. Saat Shiho sudah sangat dekat dengannya, senjata yang sedari tadi Shinichi acungkan pada Shiho tiba-tiba Ia lepaskan. Shinichi merentangkan kedua tangannya, membiarkan badannya bebas tanpa perlindungan, menerima serangan dari Shiho dengan pasrah. Shiho yang sudah terlalu dekat dengan Shinichi tidak mampu lagi menarik pedangnya. Hingga pedang itu, pedang Zidan yang besar dan gagah, kini berlumuran darah dan berhasil menembus tubuh Shinichi tepat di dadanya.

Shiho sangat terkejut dengan tindakan yang dilakukan Shinichi, Ia segera menangkap tubuh Shinichi yang rubuh ke arahnya "S-Shinichi... A-apa yang kau lakukan?" tanya Shiho terbata, Tangan Shiho yang gemetar dan berlumur darah memegang pipi Shinichi yang tampak begitu pucat.

"Jangan takut Shiho, aku hanya ingin membuatmu... bahagia" dengan sisa tenaga yang Ia miliki, Shinichi meraih tangan Shiho yang gemetar, kemudian menggenggamnya. Tangan Shinichi, tangan yang begitu besar dan hangat, kini terasa dingin.

"Sekarang tidak ada lagi yang harus kau cemaskan" Shinichi mencoba tersenyum, walau Ia mulai tidak bisa merasakan anggota badannya lagi.

"Kenapa kau lakukan ini Shinichi? Kenapa?" Suara Shiho bergetar.

"Kau lihat... jari kelingkingku? Bagaimana denganmu?"

Shiho mulai melihat jari kelingking Shinichi. Walaupun samar tapi Shiho masih dapat melihatnya. Pita benang merah, itu adalah pita yang muncul saat hati sepasang insan telah bertaut, bukan hanya manusia yang dapat memiliki pita itu, namun juga para peri dengan kehendak Kami-sama. Dan betapa terkejutnya Shiho karena ternyata pita pada jari kelingking Shinichi terhubung dengan pita benang merah yang ada di jari kelingking Shiho

"I-ini?"

"Iya Shiho, Ini adalah... pita benang merah yang telah dipasang oleh... Kami-sama sendiri... pada kita" Kini nafas Shinichi mulai tersengal-sengal. "Mungkin... Ini adalah hukuman dari Kami-sama... padaku... karena aku telah melanggar... aturan-Nya"

Keringat dingin mulai mengucur dari wajah Shinichi, sama derasnya dengan darah yang tidak hentinya mengalir dari luka di dadanya.

"Tapi... kau tau Shiho?... aku sangat senang... karena akhirnya aku bisa... bertemu denganmu" Shinichi memaksakan senyumnya.

Shiho tidak mampu lagi menahan air matanya, Ia benar-benar menyesal dengan tindakan yang telah Ia lakukan "Shinichi... A-aku..."

Namun tiba-tiba Shiho melihat raut wajah Shinichi yang mulai tampak cemas "SHINICHI, BERTAHANLAH... KU MOHON" Namun kondisi Shinichi sudah sudah tidak mungkin bertahan.

Dengan nafas terakhirnya, Shinichi berkata

"Shiho..."

"Aku mencintaimu"

Seketika itu juga genggaman tangan Shinichi terlepas, kini Ia benar-benar tidak akan kembali.

"Shinichi... SHINICHIII" Shiho berteriak memanggil nama Shinichi dengan suara yang begitu memilukan.

Shiho telah menusuk dada Shinichi, namun yang kini Ia rasakan adalah rasa sakit yang luar biasa di dadanya sendiri hingga Ia merasa jantungnya telah berhenti berdetak. Air matanya terus mengalir, bersamaan dengan berubahnya jasat Shinichi menjadi butiran-butiran salju yang terbang ke langit. Salju yang begitu dingin, putih dan bersih, sama seperti Shinichi.


Setelah kejadian itu, Shiho mengurung diri di kamarnya. Setiap menit air mata Shiho tidak hentinya mengalir. Aoko yang langsung turun ke bumi begitu tahu kabar kematian Shinichi ikut terkejut dengan keadaan Shiho, Ia tidak mengangka bahwa kematian Shinichi begitu membuat Shiho terluka. Akhirnya Ia mengurungkan niatnya untuk mengucapkan selamat pada Shiho yang berhasil lulus ujian.

Saat Aoko berdiri di depan pintu kamar Shiho untuk melihat keadaannya, tiba-tiba Ia merasa ada seseorang yang berjalan ke arahnya. Lalu orang itu berkata "Jadi kau benar-benar belum jera dengan perbuatan yang telah kau lakukan dimasa lalu, Aoko?"

Aoko sangat terkejut karena orang itu bisa melihat keberadaannya. Bukan hanya itu, dia juga tahu siapa dirinya. Saat Aoko menoleh ke belakang, Ia melihat seorang pria yang sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya memandang Aoko, Aoko merasa tidak mengenalnya.

"Siapa kau? Bagaimana kau bisa tahu siapa aku?" Tanya Aoko dengan menjaga suaranya agar terdengar tenang.

Orang itu tersenyum tidak percaya "Apa kau benar-benar melupakanku? Setelah hampir 30 tahun kita tidak bertemu lantas membuatmu melupakanku, Aoko?"

Aoko terlihat tidak bereaksi dengan ucapan orang itu, lalu Ia melanjutkan "Apa kau telah melupakan kejadian 30 tahun yang lalu, saat kau menusukku dengan pedang Zidan, Aoko?"

Seketika itu juga Aoko teringat dengan ingatannya dari 30 tahun yang lalu.

TBC


Hallo minna… Setelah hampir 2 bulan vakum, akhirnya lanjut juga
host... host... capek juga jadi fansnya Shin-Shiho
Setelah Aoyama Sensei memperkuat pertahanannya dengan adanya Chapter Ai mengejar-ngejar Higo dan Shinichi inget waktu pertama ketemu Ran, Author jadi krisis batin - Hiks - nangis bombai

Author sih berharap bisa ngembaliin spirit setelah nonton movie 19, tapi ampe sekarang belum kesampean juga buat nonton.