No!
.
By donini
.
Chanyeol, Park
Kyungsoo, Do (GS)
Minseok, Kim (GS)
Baekhyun, Byun
.
.
.
Anggap saja Kyungsoo lebay, berlebihan, atau apalah terserah. Ini tepat sebulan sejak ia mengetahui jika Chanyeol dan Baekhyun sedang sungguhan dalam sebuah hubungan, dan gadis itu masih saja menangis ketika melihat si idol di televisi ataupun di poster yang ia pajang di kamar. Meskipun kecewa dengan sang idol, Kyungsoo tetap saja tak bisa mengurangi kadar kekagumannya pada Chanyeol. Salahkan pesona pria bermarga Park itu yang begitu memabukkan.
Sesekali Kyungsoo mengecek account twitternya, mencari teman senasib sepertinya. Dan kebanyakan dari mereka mengaku sudah merelakan dan berusaha tetap mendukung Chanyeol maupun Baekhyun. Meskipun tak jarang juga beberapa dari teman senasibnya itu berubah menjadi hater. Dan Kyungsoo bingung, harus masuk kebagian mana dari mereka?
Tetap mendukung? Kyungsoo tak yakin. Perasaannya kelewat kecewa dan Kyungsoo bukan tipe orang dengan waktu melupakan sesuatu dengan cepat. Kyungsoo bahkan tak yakin jika selanjutnya ia sanggup melihat Chanyeol dan Baekhyun secara langsung—Minseok selalu mengajaknya datang langsung ke tempat EXO perform. Melihatnya melalui televisi maupun poster saja ia sudah mengeluarkan airmata. Bagaimana jika melihat langsung? Bertindak anarkis seperti seorang hater? Kyungsoo lebih tak yakin otaknya mampu memerintah tangan dan kakinya untuk berbuat itu.
Berubah menjadi seorang hater dari Park Chanyeol? Pikirannya bahkan tak pernah mempersilahkan itu lewat. Jika Kyungsoo hanya mebutuhkan waktu tiga menit beberapa detik untuk bisa menyukai pesona seorang Park Chanyeol, mungkin ia butuh waktu tiga abad beberapa puluh tahun untuk membenci pria tinggi itu. Berlebihan? Sudah ku bilang kau bebas menyebut Kyungsoo semaumu.
Lalu Kyungsoo harus bagaimana? Meminta saran pada Minseok? Atau Zitao? Pada Minseok jelas saja hanya membuatnya kembali emosi. Minseok itu mendukung seribu persen hubungan Chanyeol dan Baekhyun. Minseok bahkan terkesan mendoakan kedua pria itu untuk sungguhan memiliki hubungan sebelum semuanya ketahuan. Jika Minseok bukan sahabatnya dari kecil, mungkin Kyungsoo sudah dengan senang hati mematahkan tulang leher Minseok.
Zitao? Sebenarnya Zitao dan Minseok itu tak ada bedanya, hanya saja menurut Kyungsoo, Zitao itu sedikit lebih normal ketimbang Minseok. Zitao tak mendukung Chanyeol Baekhyun seperti Minseok yang menjurus kemendoakan itu, Zitao mendukung mereka dalam hubungan persaudaraan. Sebenarnya Zitao tetap mendukung Chanyeol Baekhyun apapun yang terjadi pada kedua pria itu, sih. Bisa dibilang Zitao itu setengah dari Kyungsoo dan Minseok. Mungkin Zitao orang yang tepat. Tapi setelah dipikir kembali, Zitao itu fansite super sibuk. Mereka tak pernah bertemu kecuali setiap bulan kegiatan mereka terlaksana. Itu pun sangat jarang. Zitao sungguhan sangat sibuk.
Kyungsoo menjatuhkan kepalanya di tumpukan tangan yang ia buat. Ia sungguhan bingung harus berbuat apa.
"Yak! Jika kau tak berniat untuk membantu, pergilah. Kau membiarkan orang-orang itu menunggu untuk memesan." Kyungsoo kembali mengangkat wajahnya saat mendengar suara Luhan yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya.
Pandangannya beralih ke depan, dimana banyak pasang mata yang memperhatikannya dengan wajah kesal. Beberapa diantaranya juga ada yang mengomel tanpa suara. Dua orang remaja berseragam sekolah pun berbisik sambil menatapnya. Kyungsoo merasa seperti seorang pendosa yang baru saja tertangkap basah.
"Ah, Jeosonghamnida." Kyungsoo membungkukkan tubuhnya, menggaruk tengkuknya yang dirasa tak gatal sama sekali. Ia merasa salah tingkah diperhatikan.
"Lebih baik kau membantu di dapur saja. Biar aku yang menjaga kasir." Kaki jenjangnya langsung melangkah meninggalkan meja kasir.
"Kau tidak menjaga dapur?" Tanya Luna begitu melihat Kyungsoo masuk ke dapur dengan langkah yang terkesan dipaksakan.
"Luhan eonnie menyuruhku ke dapur. Aku membiarkan pelanggan menunggu karena melamun." Bukannya membantu Luna yang sedang mencuci piring, Kyungsoo malah menjatuhkan bokongnya di kursi dekat pintu masuk dapur.
Luna menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manis. Ia tahu alasan mengapa Kyungsoo melamun. Memangnya apalagi jika bukan berita kencannya Chanyeol dan Baekhyun? Tak ada yang bisa membuatnya seperti itu jika bukan si idola. Bahkan saat Kyungsoo sedang bertengkar hebat dengan Hyunsik dulu saja, gadis itu tak pernah melamun separah ini. Menangis, sih, tapi tak sampai seperti sekarang ini. Kyungsoo itu lebih mendalami kehidupan fangirlnya ketimbang kehidupan nyatanya.
.
"Kyungsoo!" Sepasang kaki berbalutkan flat shoes hitam itu berhenti melangkah saat dirasa seseorang menyebut namanya. Minseok sedang baru saja keluar dari sebuah mobil sport. Mobil Sohee, kembarannya yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengannya. Jika Minseok seorang gadis yang sangat feminim, maka Sohee adalah sosok gadis dengan sisi tomboy yang dominan.
"Wae?" Kyungsoo menjawab dengan lesu.
Minseok sudah berdiri di sampingnya, tapi bibir mungil itu tak juga menjawab pertanyaannya. Gadis dengan singel eyelid itu justru menggandeng tangannya sambil tersenyum seperti seseorang yang baru saja memenangkan lotre. Atau Minseok memang baru memenangkan lotre?
Meskipun sedikit bingung dengan sikap Minseok yang menurutnya aneh ini, tapi Kyungsoo tetap diam saat Minseok menyeretnya masuk ke kampus. Bibir heartshapenya bahkan yang mengeluakan sepatah kata protes pun. Hanya mata bulatnya yang tetap menatap Minseok dengan tatapan bingung.
Kini Minseok dan Kyungsoo sudah ada di aula kampus. Banyak orang yang berkumpul disini. Kyungsoo baru sadar. Ada apa ya?
"Jangan bilang kau lupa, Kyung." Sepertinya Minseok menyadari tatapan bingung Kyungsoo.
"Ada apa?" Minseok memutar bula matanya malas. Selain saat sedang emosi, Kyungsoo yang sedang galau juga jadi pelupa.
"Hari ini kan ada pengarahan tentang broadcast. Dan kau dan aku dipilih sebagai mahasiswi beruntung yang bisa jadi pesertanya. Jangan bilang kau lupa, Kyung."
Kyungsoo memukul dahinya. Hal yang sudah terjadwal sejak tiga bulan lalu bahkan sampai terlupakan. Sebegitu berpengaruhnya kah berita tentang Chanyeol Baekhyun akan kehidupannya?
"Maafkan aku." Kyungsoo tersenyum malu. Dia sungguhan merasa seperti orang bodoh sebulan belakangan ini.
Minseok menghela napasnya pasrah. Sepertinya Kyungsoo begitu larut pada dunia fangirlnya sehingga lupa dengan dunia nyatanya. Apalagi saat mengingat Kyungsoo yang selalu bersikap seperti tokoh gadis fiksi yang ada di fanfiction EXO. Kyungsoo bilang, siapa tahu nanti ia bisa menjadi seperti tokoh fiksi itu. Dunia fangirl sudah banyak merenggut dunia nyatanya. Dan Minseok juga masih ingat alasan Kyungsoo yang ingin masuk ke jurusan broadcast di kampus ini.
Aku ingin bekerja di stasiun televisi apapun supaya bisa sering melihat EXO. Mungkin aku bisa sungguhan seperti tokoh fiksi di fanfiction.
Dan yang membuat Minseok jengah, Kyungsoo selalu mengucapkan itu dengan mimik wajah yang dibuat-buat menggemaskan. Memang menggemaskan sih, hanya saja Minseok tak suka melihatnya. Menandingi tingkat menggemaskannya. Huh!
"Dan kau tidak lupa kan, jika yang menjadi pembicaranya itu Park Yoora?" Mata bulat Kyungsoo membulat seperti bola pimpong, jika Minseok boleh berlebihan. Sabahatnya ini sungguhan lupa dengan kegiatan perkuliahannya karena berita Chanyeol Baekhyun. Untung saja saat berita itu tersebar mereka sedang libur, jika tidak, mungkin Kyungsoo takkan bisa berdiri disini sekarang. Kyungsoo bisa-bisa didroup out karena terlalu memikirkan Chanyeol Baekhyun.
"Park Yoora? Kakak Chanyeol?" Minseok mengangguk.
.
Acara itu berlangsung lancar, meskipun tidak dengan dengan pikiran Kyungsoo yang entah melayang kemana. Setiap kali matanya memandang wajah Yoora yang begitu mirip dengan Chanyeol, rasanya ia mau menangis. Entah kenapa. Kakinya juga ingin mendatangi Yoora, bertanya pada kakak idola-nya itu apakah ia setuju dengan hubungan Chanyeol dan Baekhyun. Tapi Kyungsoo bisa apa? Ia hanya peserta dan bukan panitia yang bisa bertemu langsung dengan orang yang bersangkutan dalam acara.
"Bagaimana ini?" Kyungsoo menggigit bibirnya, memikirkan cara untuk bisa bicara langsung dengan Yoora.
Ryeowook. Tiba-tiba nama itu terlintas di pikirannya. Senior yang sempat menyatakan perasaannya pada Kyungsoo itu salah satu panitia dari acara ini. Apa Ryeowook bisa membantunya untuk bertemu Yoora?
Saat sedang memikirkan itu, tiba-tiba orang yang sedang dipikirkan melintas di hadapannya. Mungkin memang ini caranya.
"Oppa." Ryeowook berhenti. Sebenarnya pria berparas imut itu sengaja melintas di hadapan Kyungsoo. Ia masih mengharapkan Kyungsoo sebenarnya.
"Ada apa?" Sekuat tenaga Ryeowook menahan senyumannya. Ia harus menjaga image-nya di hadapan gadis yangia sukai sekarang. Ia tak mau menjadi pria yang terang-terangan menyukai Kyungsoo yang langsung mendapat penolakan seperti dulu.
"Bisa bantu aku?"
.
Setelah beberapa aegyo ia keluarkan, akhirnya Kyungsoo bisa menemui Yoora di ruangan khusus yang sudah di sediakan panitia. Untung saja Yoora belum pulang. Terima kasih pada Ryeowook yang ikut mencegah Yoora untuk pulang dengan alasan akan mewawancarainya untuk majalah dinding kampus. Kyungsoo harus mempertimbangkan kembali perasaannya pada Ryeowook kalau begini. Seniornya itu sudah banyak membantu.
Yoora sedang duduk di sebuah kursi panjang di pojok ruangan, tangannya sibuk mengotak-atik ponsel. Bibirnya sesekali mengulas senyum saat beberapa staff atau panitia menyapanya. Kaki jenjangnya ia tumpuk, terbalut rok satin selutut berwarna hitam. Berpadu dengan kemeja warna kuning dengan blazer warna hitam. Terlihat cantik.
Kyungsoo menguatkan hatinya untuk menghampiri Yoora. Ia sebenarnya tak yakin untuk melakukan ini, hanya saja ia penasaran. Menghela napas entah untuk yang keberapa kali, kaki mungilnya mulai melangkah mendekati Yoora.
"P-permisi." Kyungsoo berdeham sebentar, entah mengapa tenggorokannya mendadak kering ketika Yoora mendongak memandang wajahnya.
"Iya?" Yoora tersenyum, dan Kyungsoo juga ikut tersenyum dibuatnya.
"Boleh aku menanyakan sesuatu pada anda?"
Yoora mengkerutkan alisnya, hanya sebentar, mungkin mengingat jadwal berikutnya. Yoora takut saat Kyungsoo sedang bertanya, ia malah harus pergi. Itu tak sopan.
"Kurasa bisa. Ada apa?" Yoora sedikit menggeser duduknya, menepuk bagian kosong di sebelahnya, menyuruh Kyungsoo duduk di sebelahnya.
Dengan sedikit ragu, Kyungsoo akhirnya menempatkan bokongnya di samping Yoora. Kembali berdeham untuk menetralkan perasaan gugup yang sekarang lebih mendominasi.
"A-anda kakak dari Chanyeol, 'kan?" Yoora mengangguk.
"Anda sudah tahu kabar Chanyeol dan Baekhyun?" Yoora diam. Tidak mengangguk dan juga tidak mengucapkan kata ya atau tidak. Sepertinya Kyungsoo baru saja memberikan pertanyaan yang sensitif.
"S-saya tak bermaksud apa-apa, hanya ingin menanyakan saja. Jika anda tak berkenan menjawab juga tak-"
"Ya, aku sudah dengar. Dan aku sangat kecewa dengannya." Yoora menyela. Wajahnya tak lagi seramah tadi. Ada kesan dingin yang tak mau diusik. Matanya juga menatap sinis Kyungsoo, membuatnya menjadi serba salah.
"Ibu sampai sakit karena Chanyeol. Dan anak itu tak peduli. Aku sudah menghubunginya. Semua yang kenal dengannya. Tapi Chanyeol tak pernah mau menghubungiku kembali." Kyungsoo menatap Yoora yang kini sedang menunduk dalam. Tangan mungilnya reflek mengelus punggung Yoora yang mulai bergetar. Yoora menangis.
Kyungsoo jadi merasa bersalah. Yoora menangis karena ia bertanya tentang Chanyeol. Kyungsoo bodoh!
"M-maafkan saya, saya tak bermaksud untuk membuat anda sedih. Maaf, Yoora-ssi."
Hening setelahnya. Hanya terdengar suara beberapa orang yang mondar-mandir masuk ke dalam ruangan itu. Sesekali juga Kyungsoo masih bisa mendengar suara tangis Yoora. Sudah tidak sesedih tadi, tapi Yoora masih mencoba untuk menenangkan diri. Ia masih tidak bisa untuk tidak menangis saat seseorang mempertanyakan adiknya. Chanyeol.
Yoora dan keluarga Chanyeol lainnya begitu syok saat mendengar berita itu. Mereka kecewa dengan keputusan Chanyeol. Bahkan ibu Chanyeol sampai sakit karena memikirkan Chanyeol. Ayahnya marah besar ketika berita itu sampai ke telinganya. Dan Yoora mengurung dirinya selama seminggu, tida mau ditanya apapun tentang Chanyeol. Dan kini, Kyungsoo, justru menanyakan hal itu. Hancur sudah hati Yoora yang sudah ia tata sebulan ini.
Tapi mau bagaimana pun, ia tetap tidak bisa terus menghindar. Cepat atau lambat, seseorang pasti akan bertanya tentang ini padanya. Ia kakak Chanyeol. Orang yang sudah bersama Chanyeol sejak pria itu lahir. Orang pertama yang menjadi teman Chanyeol. Jika pun Kyungsoo tak bertanya, mungkin seseorang yang lain akan menanyakan ini juga.
Beberapa saat ia coba menenangkan diri, Yoora menghapus jejak air mata yang mengaliri wajah cantiknya. Mencoba menstabilkan napasnya, dan menatap Kyungsoo yang masih memandangnya dengan tatapan minta maaf.
"Maaf, aku rasa aku harus pergi. Permisi." Yoora langsung mengambil tasnya dan pergi. Meninggalkan Kyungsoo yang masih terdiam.
"Ah, apa aku salah?"
.
Kyungsoo melangkahkan kakinya menuju halte bus terdekat. Minseok pulang lebih dulu karena ada hal yang harus ia kerjakan. Sepanjang jalan menuju halte, pikiran Kyungsoo terus memikirkan Yoora. Ia sungguh merasa bersalah dengan kakak Chanyeol itu.
Setelah Yoora pergi, Kyungsoo kembali menghampiri Ryeowook. Memaksa pria itu untuk memberikan kontak Yoora atau siapapun yang bisa menghubungkannya dengan Yoora. Tapi kali ini Ryeowook tak bisa membantu. Untuk masalah itu, bukan Ryeowook yang memegang kendali, tapi Tiffany. Senior yang terkenal sinis dan juga galak. Kyungsoo langsung menggelengkan kepalanya. Tak mau berurusan dengan Tiffany.
Dulu Minseok pernah berurusan dengan Tiffany. Saat itu Tiffany tengah menjalin hubungan dengan teman satu kelasnya, Kyuhyun, tapi tiba-tiba pria itu meninggalkannya dan mendekati Minseok. Tiffany menuduh Minseok menggoda Kyuhyun. Wanita itu habis-habisan mencaci maki Minseok hingga Minseok mengurung diri seminggu penuh di kamarnya. Dan Kyungsoo tak mau itu terjadi padanya.
Lalu bagaimana cara ia minta maaf dengan Yoora? Menyambangi rumahnya? Bisa-bisa ia dikira anti fan. Menemuinya lagi? Kyungsoo tak yakin Yoora mau menemuinya lagi. Wanita itu pasti langsung membenci Kyungsoo, buktinya ia langsung pergi begitu saja.
Bus yang membawanya pulang telah datang. Dengan cepat Kyungsoo berdiri dan menanti pintu masuk bus yang belum terbuka. Hari ini yang menunggu bus di halte yang sama dengannya cukup ramai, dan tadi Kyungsoo lihat hanya ada satu bangku kosong. Kyungsoo tak mau berdiri sampai rumah.
.
Minseok itu memang sahabatnya yang paling menyebalkan. Ini masih pagi, dan ia baru ada kelas siang nanti. Tapi sahabatnya itu sudah datang ke cafe-nya dan Luhan. Minseok bahkan datang sambil berteriak seperti seorang anak kecil yang baru saja dbelikan mainan baru. Usia Minseok bahkan delapan bulan lebih tua dari Kyungsoo.
Senyum masih menghiasi wajah bulat Minseok, padahal Kyungsoo sudah menatapnya sengit. Seperti ada laser dari mata bulatnya itu.
"Kau menakutkan, Minseok." Minseok malah tertawa. Kepala Minseok terbentur sesuatu, ya?
"Ada apa? Aku baru ada kelas nanti siang."
"Aku juga." Kyungsoo memutar matanya kesal. "Aku punya dua tiket fanmeet EXO bulan depan. Kau mau?" Minseok mencondongkan tubuhnya. Menatap Kyungsoo seperti seorang pedofil.
"Aku ti-"
"Kau harus mau! Aku sudah menghabiskan uang tabunganku untuk membeli dua tiket ini!" Minseok itu tidak mengidap bipolar, 'kan? Tadi ia begitu senang, kini ia cemberut.
"Terserah kau saja!"
.
.
.
To be continue
.
Untuk review dengan nama nadya. Aku sengaja masukan ChanBaek disini memang, disini juga ada moment mereka nantinya, disini aku buat mereka yang menjadi awal konflik. Tapi kalau memang ada chanbaek shipper yang keberatan aku minta maaf. Ga maksud apa-apa. Lagi pula ini Cuma cerita aja. Bukan kenyataan. Don't take it seriously.
.
Terima kasih yang sudah memberi review dan juga memfav dan memfollow cerita nini, hehe!
.
.
Review juseyo?
.
Donini.
