Reply Time :)

hiru nesaan : Sesuai permintaan, Update kilat :3... Semoga suka :D

OC lah... selamat membaca :3


LOVE DESTINY

Discliamer: Detective Conan - c Aoyama Gosho

Warning: OOC, GJ, typo(s)

R&R Please ! :3


Di Chapter sebelumnya:

Saat Aoko ingin menemui Shiho untuk mengucapkan selamat atas kelulusannya, Aoko dikejutkan oleh seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul dan mengaku telah Aoko tusuk dengan pedang Zidan 30 tahun yang lalu. Hal itu membuat ingatan Aoko terlempar pada kenangan pahit masa lalunya.


Chapter 6 : Ingatan 30 Tahun Lalu

Aoko teringat kejadian 30 tahun yang lalu. Saat itu usianya masih 12 tahun. Aoko memiliki seorang penjaga bernama Kid yang usianya 4 tahun lebih tua dari dirinya. Meski begitu, Kid selalu mengalah pada Aoko, Ia akan selalu menuruti apapun keinginan Aoko dan mengikuti kemanapun Aoko pergi.

#Flash back on

Hari itu di dunia peri sedang dilaksanakan festival perayaan, di sana berkumpul para Dewa, Dewi dan para peri untuk merayakannya bersama. Saat itulah dipertontonkan pusaka para Dewa dan Dewi. Salah satunya adalah pedang Zidan, pedang yang merupakan salah satu pusaka terkuat yang ada di dunia peri.

Setelah diarak dalam festival, seluruh pusaka yang dipertontonkan akan disimpan dalam satu ruang pameran agar seluruh peri dapat melihatnya dari dekat.

Hari itu sudah larut hingga para peri telah beristirahat, saat itulah Aoko yang masih kekanak-kanakan dan selalu ingin tahu, mencoba menyelinap ke dalam ruang pameran.

"Hei Aoko, apa tidak apa-apa kita menyelinap ke ruang pameran? bukankah kita tidak boleh kesana?" Tanya Kid cemas pada Aoko yang sedang berjalan di depannya.

"Ahhh, Tenang saja Kid, pokoknya aman. Lihat, aku sudah bawa kuncinya" Aoko memperlihatkan untaian kunci yang ada di tangan kanannya.

"Semua Kunci itu? B-bagaimana bisa?"

"Hohohoho... itu urusan mudah. Dewi penjaga kunci ini adalah penjaga asramaku, jadi bisa dengan mudah aku ambil" Aoko menyombongkan kecerdikannya " – Sudahlah Kid, berhenti merengek. Cepat kita segera ke ruang pameran"

Sesampainya di depan ruang pameran, Aoko langsung menggunakan kunci yang Ia bawa untuk membuka pintu. Sesuai perkiraan mereka, di ruangan itu penuh dengan benda pusaka yang telah tertata rapi dalam lemari kaca.

"Waaah, hebat sekali. Aku belum pernah melihat pusaka sebanyak ini sebelumnya" Kaito terbelalak melihat pusaka yang tampak begitu indah dan berkilauan itu. Ia langsung mendekati pusaka itu untuk melihatnya dari dekat.

"Bagaimana? Keren kan? Makanya aku mengajakmu kemari" Aoko berkacak pinggang sambil terus membanggakan diri. Namun sebenarnya Ia-lah yang paling ingin masuk ke dalam ruang pameran itu.

Saat melihat-lihat sekeliling, tiba-tiba mata Aoko tertuju pada satu pusaka. Pusaka yang menurutnya paling besar dan gagah dari pusaka-pusaka yang ada di sekitarnya, itulah pedang Zidan, pusaka yang paling dikagumi Aoko.

Tanpa fikir panjang, Aoko langsung mendekatinya dan ingin memperlihatkannya pada Kid " Kid lihat! Pedang Zidan. Akhirnya aku bisa melihatnya dari dekat".

Mendengar itu, Kid langsung tertarik dan berlari mendekat. Namun rasa penasaran Kid berubah menjadi rasa khawatir saat Ia mengetahui bahwa Aoko sedang mengangkat pusaka yang berbahaya itu "Aoko, apa yang kau lakukan? Cepat letakkan pusaka itu ke tempatnya"

Aoko merasa tersinggung dengan kata-kata Kid, dia merasa Kid sedang meremehkannya. "Kau ini kenapa Kid? Memangnya ada yang salah? Aku hanya memegangnya, tidak lebih. Lihat! keren bukan?" Aoko makin asik dengan pedang yang digenggamnya.

Kid terus membujuk Aoko agar meletakkan pusaka itu "Kumohon Aoko, pusaka itu berbahaya. Kau tahu kan pusaka itu telah memusnahkan ratusan jiwa para peri?"

"Apa kau meremehkanku? Kau fikir aku tidak sanggup membawa pusaka ini? Sudahlah... percuma bermain denganmu Kid, kau terlalu penakut" kemudian Aoko memutar badannya untuk menjauh dari Kid.

Namun karena pusaka itu terlalu besar dan berat, maka saat Aoko memutar badan, Ia malah kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh "Kyaaa"

Kid yang sedari tadi tidak melepaskan pandangannya dari Aoko segera menyadari bahwa Aoko sedang dalam masalah dan berniat untuk menolongnya "AOKO".

Namun kejadian yang tidak terduga malah terjadi. Saat Aoko hampir jatuh, Ia memutar tubuhnya kembali ke posisi semula agar keseimbangannya pulih, pada saat itulah pedang itu menghadap Kid yang sedang berlari menghampiri Aoko dan secara tidak sengaja malah menusuk Kid.

"KID? KID... TIDAAAK"

Sejak hari itu Kid menghilang, tidak ada yang tahu keberadaannya dan tidak ada yang berusaha mencarinya. Kejadian malam itu terkubur dalam hati dan ingatan Aoko.

#Flash back Off

Saat mengingat kejadian itu, Aoko merasa seluruh tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin mulai mengucur dari seluruh permukaan tubuhnya. Wajahnya pucat. Rasanya seluruh persendian kakinya lepas sehingga kakinya tidak sanggup lagi menapak. Saat itu juga tubuh Aoko ambruk terduduk di lantai.

"T-Tidak mungkin, ini tidak mungkin... kaukah itu? Kid?" Aoko memandang laki-laki yang berdiri dihadapannya itu dengan tatapan tidak percaya.

"Akhirnya kau ingat juga Aoko" Laki-laki itu menyunggingkan senyum mengejek " – Tapi sekarang namaku bukan lagi Kid, namaku adalah Kaito Kuroba"

Aoko masih tidak dapat mempercayai apa yang Ia lihat dan dengar saat ini, berbagai perasaan berbaur dalam hati Aoko. Ia hanya bisa duduk mematung, memandang sosok yang ada didepannya itu lekat-lekat.

"Aku benar-benar tidak menyangka kau begitu tega memberikan tanggung jawab yang sangat berat pada Shiho. Apa kau lupa dengan perasaanmu saat kau menggunakan pusaka itu untuk menusukku?" Kaito meluapkan seluruh emosi dan kekecewaannya pada Aoko. " – Atau memang Kau tidak punya perasaan, Aoko?"

Aoko hanya bisa membuka bibirnya yang bergetar tanpa terucap sepatah katapun. Saat ini Aoko merasa lehernya seperti tercekik, dadanya sesak. Air matanya mengalir deras. Ribuan ton beban dan penyesalan yang selama ini ia sembunyikan terasa rubuh dan menindih tubuhnya.

"Aku kira setelah 30 tahun berlalu, kau akan menyesal dan berubah. Tapi dugaanku salah, kau sama sekali tidak berubah" Kemudian Kaito membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu keluar. Sebelum menutup pintu, Kaito berkata " – Mungkin aku yang terlalu berharap padamu, Aoko" Kemidian Kaito menutup pintu itu dengan keras.

Suara pintu yang begitu keras terasa seperti suara tembakan yang pelurunya bersarang tepat di jantung Aoko. Aoko sudah tidak dapat berfikir lagi. Lautan emosi telah menenggelamkan jiwa Aoko dalam beribu penyesalan tiada akhir. Kini Ia menangis dalam kesendirian dan keputus asa-an. Malam itu begitu kelabu, tiada bulan ataupun bintang. Hanya awan mendung dan rintik hujan yang menguasai langit.


Hari ini Shiho sudah bersiap meninggalkan apartemen Kaito. Walaupun belum genap 15 hari di bumi dan Ia belum boleh kembali ke langit sebelum habis masa ujian, Shiho memutuskan untuk keluar dari apartemen Kaito. Ia merasa dengan kondisinya yang sekarang, keberadaannya di dekat Kaito hanya akan menjadi beban.

Pagi-pagi sekali sebelum Kaito berangkat ke Caffe, Shiho mengungkapkan keinginannya pada Kaito "Kaito-san, ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda"

"Hei Shiho, bagaimana kondisimu hari ini? Apakah sudah membaik?" Kaito mencoba berbasa-basi dengan Shiho. Namun tidak ada jawaban dari Shiho " – Kalau memang belum memungkinkan, lebih baik kamu istirahat saja Shiho. Tidak masalah jika kamu tidak membantuku di kantin hari ini, jangan terlalu difikirkan" lanjut Kaito.

Namun Shiho hanya menggelengkan kepala, kali ini tekatnya telah bulat. Dengan menundukkan kepala, Shiho berkata "Kaito-san, saya ingin berpamitan dengan Anda"

Kaito tampak terkejut "Kamu mau kemana Shiho?"

"Saya... ingin kembali ke akademi" Jawab Shiho singkat.

"Shiho, ada apa? Bukankah kamu pernah bilang akan kembali ke akademi setelah 15 hari? Apakah aku telah membuatmu marah hingga kau ingin kembali lebih awal?"

Pertanyaan Kaito kembali dijawab Shiho dengan gelengan kepala. "Tidak Kaito-san, Anda sangat baik pada saya" Shiho terdiam sejenak " – Saya hanya ingin kembali ke akademi lebih awal karena tugas saya di sini telah selesai"

Kaito tampak ragu dengan apa yang akan Ia ucapkan "Benarkah itu Shiho? Haruskah kita berpisah secepat ini?"

Kaito tahu keadaan Shiho saat ini sehingga Ia sangat menghawatirkannya, namun kali ini perasaan Kaito pada Shiho melebihi apa yang Ia duga. Kaito merasa bahwa ia tidak mampu melepas sosok Shiho dari pandangan matanya

Setelah beberapa saat Shiho tidak juga merespon, membuat Kaito tidak tahan lagi. Akhirnya Kaito meraih pergelangan tangan Shiho, menariknya dan memeluk tubuh Shiho. Tanpa Kaito sadari, secara perlahan Shiho telah berhasil masuk ke dalam hatinya.

"Shiho, tidakbisakah kau tetap tinggal di sini? Tetaplah bersamaku! Shiho" Kaito mengungkapkan keinginannya yang terdalam. Dia tidak begitu mengerti dengan perasaannya sendiri. Namun yang Ia tahu, Ia sangat ingin melindungi orang yang saat ini berada dalam pelukannya.

Shiho sedikit tersentak dengan permintaan Kaito, namun perasaannya pada Kaito telah hilang tak berbekas. Shinichi telah berhasil membawa seluruh hati Shiho pergi bersamanya. Yang tersisa dalam diri Shiho hanyalah kehampaan.

Perlahan Shiho berusaha melepaskan pelukan Kaito dari tubuhnya. Dengan senyuman yang terukir di kedua sudut bibirnya, Shiho berkata "Maafkan saya Kaito-san, saya sangat menghargai tawaran Anda, namun keputusan saya sudah bulat"

Kaito tidak mampu berkata apa-apa lagi, Ia tahu keteguhan hati Shiho saat ini tidak akan dapat dikalahkan oleh apapun. Pada akhirnya Ia harus rela melepas kepergian Shiho, bukan hanya dari hidupnya, tetapi juga dari hatinya.


Setelah memutuskan pergi dari apartemen Kaito, Shiho tidak tahu lagi kemana tempat yang Ia tuju. Shiho hanya berjalan tanpa tahu tujuan dan arah. Dalam wujud perinya, tidak akan ada orang yang tahu dan sadar akan keberadaannya.

Saat berjalan melewati taman, Shiho berpapasan dengan sepasang kekasih, mereka tampak berbahagia. Bercanda gurau sambil berpegangan tangan. Sebelumnya Shiho masih belum menyadari siapa mereka, namun betapa terkejutnya Shiho saat Ia menyadari bahwa pasangan itu adalah Hibi dan Miyu, target pertama Shiho yang Ia kira telah gagal. Shiho dapat melihat pada jari kelingking mereka telah tampak pita benang merah yang menyatukan hati mereka. Kini mereka telah mendapat kebahagiaan mereka.

Menyadari kenyataan ini membuat air mata Shiho mengalir kembali. Kedua kakinya lemas, Shiho tidak mampu berdiri tegak sehingga kini Ia terduduk di tanah. Shiho terus-menerus memukuli dadanya yang terasa semakin sakit sambil merutuki dirinya sendiri. Tiba-tiba Ia teringat akan kata-kata Shinichi "Cinta itu butuh proses... Ia tidak bisa datang begitu saja... Untuk mendapatkan Cinta, kau butuh kesabaran dan pengorbanan". Kini setelah Shiho mengenal Cinta, Ia baru menyadari maksud dari kata-kata Shinichi saat itu.

"Shinichi, maafkan aku... maafkan aku" Shiho semakin merasa bersalah pada Shinichi karena selalu melampiaskan kekecewaan padanya. Kesombongannya telah membuat Shiho buta dan hanya melimpahkan kesalahan pada orang lain. Shiho bersumpah Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri sebelum Shinichi memaafkan seluruh kesalahannya.


Kabar kemalangan Shiho telah sampai ke dunia peri. Para Bidadari dan Dewi merasa bersalah dan simpatik pada pengorbanan Shinichi serta keteguhan hati Shiho. Akhirnya mereka memperbolehkan Shiho kembali ke dunia peri walau masa ujian belum selesai.

Suasana hati Shiho saat berada dunia peri tidak jauh berbeda dengan keadaannya saat masih berada di Bumi. Kini Shiho telah resmi menjadi seorang Bidadari sehingga saat ini Ia bertempat tinggal di Surga. Inilah Impian Shiho dari dulu, menjadi seorang Bidadari dan hidup bahagia di Surga. Namun kenyataannya, hal itu sama sekali tidak membuat Shiho bahagia.

Setiap hari Shiho hanya menyendiri dipinggiran danau sambil melihat ikan yang sekali-kali menyembul ke atas. Shiho merasa hanya disinilah Ia merasakan ketenangan.

Surga, yang setiap hari tidak pernah sepi dari suara musik dan nyanyian, kini tampak lengang. Para Bidadari dan Dewi ikut bersedih melihat keadaan Shiho yang selalu murung, terutama Aoko. Saat ini Ia lah yang merasa paling bersalah. Aoko memutuskan bahwa Ia akan mengembalikan senyum Shiho, bagaimanapun caranya.

"Shiho, bagaimana perasaanmu sekarang?" Aoko berusaha membuka percakapan, namun Shiho hanya memandang ke arah Aoko sekilas sambil tersenyum lalu kembali lagi memandang ke arah danau. Aokopun duduk di samping Shiho.

"Shiho, aku benar-bentar menyesal tentang apa yang telah terjadi, kumohon maafkan aku"

Shiho tampak terkejut dengan ucapan Aoko "Aoko-sama, ini bukan salah siapapun. Saya tidak mungkin menyalahkan Aoko-sama yang selalu memperhatikan saya". Jawaban Shiho kali ini adalah suatu perkembangan baik, karena sebelumnya Shiho sama sekali tidak menanggapi ajakan mengobrol dari siapapun. Mungkin kesungguhan hati Aoko telah berhasil meraih hati Shiho.

"Shiho, andaikan ada yang bisa aku lakukan untuk menghapus semua kesalahanku padamu"

Lalu mata Shiho mulai terlihat sayu kembali, butiran air mata kembali mengalir dari kedua pelupik matanya. Shiho menggunakan kedua telapak tangannya untuk menutup wajahnya yang telah basah oleh air mata "Aoko-sama tidak perlu minta maaf, yang seharusnya minta maaf pada kakanda sekalian adalah saya. Tapi hanya satu yang aku sesali, apa yang bisa saya lakukan agar saya dapat meminta maaf pada Shinichi?" Isak tangis Shiho-pun pecah.

Pada awalnya Aoko ragu untuk mengatakannya, tapi akhirnya Ia memutuskan untuk mengatakannya. "Ada satu cara agar kamu bisa bertemu dengan Shinichi, Shiho".

Tangis Shiho seketika itu berhenti, Shiho benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja Ia dengar "A-apa Aoko-sama, benarkah itu?". Dengan lengkungan senyum di bibirnya, Aoko menganggukkan kepala. "Itu benar Shiho-chan... Jika kau bersunggung-sungguh ingin bertemu dengan Shinichi, aku akan membantumu mewujudkannya"

Ucapan Aoko terasa seperti embun pagi yang mebasahi hati Shiho yang gersang, Shiho merasa kebahagiaan yang tiada tara hingga ingin sekali Ia berteriak meluapkan isi hatinya. Namun perasaan itu hanya bertahan sepersekian detik saja setelah Aoko mengatakan kata "tapi" pada Shiho.

"Tapi metode ini cukup berbahaya Shiho, kau bisa saja kehilangan jiwamu" ancaman dari Aoko sama sekali tidak membuat Shiho jera. Perasaannya pada Shinichi mengalahkan logikanya "Saya rela mengorbankan jiwa saya, Aoko-sama".

Kemantapan hati Shiho membuat Aoko juga mantap untuk mempertemukan Shiho dengan Shinichi "Baiklah Shiho, aku mengerti... Tapi kau harus mematuhi perintahku. Apapun yang terjadi, jangan gegabah karena ini menyangkut jiwamu"

Shiho tampak serius mendengarkan penjelasan dari Aoko, dari penjelasan Aoko akhirnya Ia tahu bahwa Aoko akan membuka portal ruang dan waktu, sehingga Ia akan bertemu dengan Shinichi di masa lalu. Portal itu hanya bertahan selama 5 menit, sehingga jika Shiho tidak kembali dalam 5 menit atau ia tewas sebelum waktu habis, maka jiwanya akan terjebak dalam portal dan musnah.

Hal yang paling berbahaya adalah lokasi Shinichi berada, yaitu di Neraka. Jika seorang Bidadari masuk ke dalam neraka maka Ia merupakan santapan lezat bagi seluruh penghuni neraka.

Setelah segala persiapan yang dibutuhkan, dengan bantuan beberapa bidadari lain, akhirnya upacara untuk membuka portal-pun dilakukan. "Shiho, aku akan segera membuka portalnya, waktu kita terbatas. Aku berharap kau bisa bertemu dengan Shinichi". Shiho mengembangkan senyum lebarnya dan mengangguk keras. Melihat senyum Shiho membuat para bidadari yang melihatnya merasa sangat senang sekaligus terharu, hingga ada yang meneteskan air mata.

Tak lama kemudian portal ruang dan waktu-pun di buka, Shiho segera melompat masuk ke dalamnya.

TBC


Bagaimana minna? masih penasaran sama kelanjutan ceritanya?
Author udah nonton movie 19
Dan yang benar saja "Itu adalah movie yang dibuat oleh Aoyama-sensei buat para penggemar Con-Ai"

kyaaa kyaaa XD
Benar-benar teriak kegirangan saat nonton tu movie
Saking senengnya sampai-sampai Author pingin nangis ( idih lebay ~ Biarin :P)

Berita baik lainnya, berkat movie itu akhirnya Author udah ada gambaran cerita baru. tp nungguin yg ini kelar dulu

oc lah, semoga cerita ini dapat berjalan dengan lancar dan cerita yg baru dapat segera terwujud. hehehe

perkiraan 2 chapter lagi kelar :D