Reply Time :)

hiru nesaan : Seluruh pertanyaan akan terjawab di sini. selamat membaca :3

dandelionivy : Terimakasih udah mau membaca hingga akhir, saya sangat senang XD

Guest : Ini dilanjut :)

Terimakasih buat reviewnya :3
Author juga gak nyangka chapter ini akan menjadi yang terakhir.
Terimakasih buat readers yang udah setia mengikuti FF ini hingga akhir.
semuga Chapter akhir ini tidak mengecewakan :3


LOVE DESTINY

Discliamer: Detective Conan - c Aoyama Gosho

Warning: OOC, GJ, typo(s)

R&R Please ! :3


Di Chapter sebelumnya:

Akhirnya Aoko mengatakan cara agar Shiho dapat bertemu lagi dengan Shinichi, yaitu menggunakan portal ruang dan waktu. Namun dalam waktu 5 menit Shiho harus sudah keluar dari portal atau jiwanya akan lenyap. Kini Shiho telah memasuki portal tersebut menuju Neraka di masa lalu.


Chapter 7 : Akhir Kisah Kita

Sesampainya di Neraka, Shiho gagal mendarat dengan baik. Ia malah terjatuh terpeleset dan kakinya terkilir.

"Aaaw... Sakit sekali" Shiho memegangi kakinya yang terasa nyeri.

Shiho berusaha berdiri, namun rasa sakit pada kakinya membuat Shiho tidak mampu berdiri.

Kedatangan Shiho ke neraka sangat menarik perhatian para penghuni neraka, sehingga belum lama berselang, Shiho telah dikerumuni oleh para penghuni neraka.

"Hei, Bidadari cantik... Apakah kau tersesat hingga bisa sampai ke sini?" Goda salah seorang mahluk buruk rupa yang merupakan penghuni neraka.

"Bolehkah aku membantumu untuk pulang ke rumah?" Penghuni neraka yang lain ikut menimpali.

Shiho bergidik melihat wujud dan ekspresi wajah mereka, mereka terlihat kelaparan dan ingin segera menerkam Shiho. Lalu secara tiba-tiba pergelangan tangan Shiho ditarik paksa oleh salah seorang dari mereka.

"Kelihatannya dia lezat, aku tidak sabar untuk menyantapnya" Kata mahluk itu.

Shiho mencoba melepaskan diri sekuat tenaganya.

"TIDAAAK, LEPASKAN!"

Shiho meronta, mengguncang-guncangkan tangannya agar genggaman tangan mahluk itu terlepas dari pergelangan tangannya. Namun mahluk itu begitu kuat sehingga usaha Shiho sia-sia.

Penghuni neraka yang lain tidak mau kalah, mereka berusaha merebut Shiho.

"Hei, apa yang kau lakukan? Aku yang lebih dahulu melihat Bidadari itu". Akhirnya mereka malah saling berkelahi.

Saat para mahluk itu sibuk berkelahi satu sama lain, Shiho menyelinap keluar dari kerumunan, mencoba menyelamatkan diri. Dengan langkah tertatih, Shiho berjalan menjauhi kerumunan itu.

Namun upaya Shiho untuk kabur tidak berjalan mulus. Salah seorang mahluk itu menyadari gerak-gerik Shiho dan berhasil menangkap Shiho kembali.

"TIDAAAK, LEPASKAN AKU! LEPASKAAAAN" Shiho berontak saat Ia tertangkap lagi.

"Bidadari ini hampir lolos. Bagaimana kalau kita makan saja dia bersama-sama" celetuk salah seorang dari mereka.

Usulannya langsung disetujui oleh rekannya yang lain. Mereka secara serempak mulai mengoyak gaun yang dikenakan Shiho.

"TIDAAAK, LEPASKAN! SHINICHIIII" Kini Shiho telah berurai air mata dan sangat ketakutan.

Sesaat kemudian muncul sesosok remaja yang turun dari langit bagaikan kilat dan menghajar para mahluk yang berkerumun mengelilingi Shiho.

"Kalian para penghuni neraka, menjauhlah darinya! Dia itu mangsaku, aku yang melihatnya lebih dulu"

Remaja itu tampak geram, Ia mengacungkan senjata yang dipegangnya ke arah para penghuni neraka tersebut.

Shiho terbelalak melihat sosok remaja yang berada di hadapannya saat ini. Ia tampak masih kanak-kanak namun Shiho masih dapat mengenalinya. Dengan mulut gemetar, Shiho memanggil nama anak itu.

"S-Shinichi, Shinichi" Shiho memanggilnya, dan sesuai dugaan, anak itu menengok ke arah Shiho. Seketika itu Shiho memeluk remaja itu.

Shiho menangis tersedu, meluapkan seluruh perasaan dan penyesalannya pada Shinichi yang tidak mampu Ia ungkapkan dengan kata-kata. Shiho hanya bisa memanggil nama Shinichi berulang kali.

"Shinichiiii... Shinichiiii"

"Hei apa yang kau lakukan?" dengan muka memerah, Shinichi mencoba melepaskan diri dari pelukan Shiho. Namun mendengar tangisan Shiho membuatnya mengurungkan niatnya.

Shinichi hanya bisa diam mematung, Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Perasaannya bercampur aduk antara bingung, marah, dan iba.

Namun entah kenapa Ia merasakan ada sesuatu yang mulai muncul dan bersemi dalam dirinya, yaitu suatu perasaan yang begitu nyaman dan hangat.

Shinichi mulai meresapi apa yang saat ini ia rasakan. Inilah pertama kalinya Shinichi merasakan suatu perasaan yang begitu luar biasa. Perasaan yang sangat berbeda dengan rasa angkuh dan congkak yang selama ini Ia banggakan. Ia merasakan kedamaian menyeruak ke dalam hatinya.

Tanpa sadar, Shinichi mulai membalas pelukan Shiho, Ia melingkarkan kedua lengannya pada punggung Shiho dengan lembut dan membenamkan wajahnya pada bahu Shiho, menikmati ketenangan yang menyelimuti hatinya.

"Shiho, cepat kembali! Waktunya habis" Tiba-tiba terdengar suara Aoko memanggil.

Tanpa Shiho sadari, waktu 5 menit yang dijanjikan telah berakhir. Padahal Shiho belum mengatakan sepatah katapun pada Shinichi.

Shiho panik, terlalu banyak hal yang ingin Shiho sampaikan, namun Shiho hanya mampu memandang kedua mata Shinichi lekat.

"Maafkan aku... Shinichi" Ucap Shiho pada akhirnya.


Di saat yang sama, Aoko sedang kebingungan karena dalam beberapa detik lagi portal akan tertutup. Akhirnya Aoko meminta bantuan para Bidadari untuk menarik Shiho

"Teman-teman, aku mohon! pinjamkanlah kekuatan kalian untuk menarik Shiho kembali, waktunya sudah tidak memungkinkan lagi" Pinta Aoko pada mereka.

Kemudian tiga Bidadari bersiap untuk menarik kembali Shiho dari dalam portal. Secara bersamaan mereka mengucapkan mantra dan dari tongkat mereka sesuatu yang mirip selendang yang terbang secepat kilat dan masuk ke dalam portal. Tak butuh waktu lama kini 'selendang' itu telah melingkar pada badan Shiho.

Shiho masih tidak ingin melepaskan Shinichi darinya sehingga Shiho melawan tarikan selendang itu.

"Aoko-sama, kumohon berikan lagi saya waktu, Aoko-sama"

Namun Shiho tahu usahanya sia-sia. Shiho hanya bisa berpegang pada tangan Shinichi walau akhirnya terlepas juga.

Saat tangan Shiho terlepas dari tangan Shinichi, saat itulah Shinichi menyadari bahwa ada yang berubah. Pita benang merah, tanda dua hati telah bersatu, melingkar pada jari kelingkingnya. Kini Shinichi sadar apa yang sedang terjadi padanya.

"Kau yang ada di sana, saat ini aku memang tidak tahu apa yang terjadi. Namun aku yakin, suatu saat aku akan menemukanmu, apapun yang terjadi" Shinichi tersenyum sambil melihat ke arah perginya Shiho.


Keberhasilan mengangkat Shiho kembali ke Surga tidak lantas membuat para Bidadari tenang. Karena saat Shiho keluar dari portal, Shiho meronta-ronta seperti kesetanan.

"TIDAAAK... SHINICHI... SHINICHIII" Shiho terus berteriak-teriak sambil berusaha berlari mendekati portal yang hampir tertutup.

"CEPAT TENANGKAN DIA" Aoko berteriak agar para Bidadari yang ada disekelilingnya memagangi Shiho agar tidak mendekati portal. Namun Shiho terus melawan, menggoncang-goncangkan tubuhnya agar pegangan para Bidadari padanya terlepas.

"LEPASKAN SAYA, BIARKAN SAYA BERSAMA SHINICHI KANDAAA?" Shiho menangis tersedu sambil terus menggoncangkan tubuhnya.

"Shiho-chan, kumohon tenanglah" Pinta salah satu Bidadari yang memeganginya.

"Tapi Kanda... Shinichi belum menjawab permintaan maaf saya" Air mata Shiho masih mengalir dari kedua pelupuk mata Shiho, namun kini Shiho tampak tidak lagi memberontak.

Melihat reaksi Shiho membuat para Bidadari lengah dan mengendorkan pegangannya, saat itulah Shiho meloloskan diri dan berlari sekencang mungkin.

Saat Ia berlari menjauhi para Bidadari, tanpa sadar Shiho sedang berlari menuju danau tanpa dasar. Seluruh Bidadari yang meliatnya berteriak memperingatkan.

"SHIHOOO, AWAAS" Teriak mereka serempak.

Namun saat Shiho menyadari bahaya yang ada di hadapannya, semua telah terlambat. Ia tidak mampu menghentikan langkah kakinya tepat waktu sehingga membuat Ia terpeleset dan tercebur ke dalam danau

"KYAAA"

Aoko segera berlari untuk menyelamatkan Shiho dan hendak menceburkan diri kedalam danau "SHIHOOO, SHIHOO".

Namun aksinya langsung di tahan oleh para Bidadari lain "Aoko, Hentikan! Jika kau tercebur ke dalamnya, kau tidak akan pernah bisa kembali" kata salah seorang Bidadari.

"Tapi Emi... Kalau tidak ditolong, Shiho..." Aoko mencoba memaksa untuk menolong Shiho.

Namun Bidadari yang Ia panggil Emi itu hanya menggelengkan kepala.

"Tidak ada harapan lagi Aoko, ikhlaskanlah Shiho pergi. Mungkin ini memang yang terbaik baginya" Kata Emi mencoba menenangkan Aoko.

Akhirnya dengan berat hati Aoko hanya bisa memandangi permukaan danau yang masih bergelombang setelah Shiho terjatuh kedalamnya.

.

.


.

.

Di Ruang Rawat Rumah Sakit

#Ai's POV

Aku mencoba membuka kedua mata secara perlahan, namun aku kesulitan melakukannya. Entah kenapa aku merasa cahaya yang menerpa kedua mataku begitu menyilaukan hingga Aku tidak mampu melihat dengan baik.

Sayup-sayup aku mendengar suara seseorang yang sepertinya sedang memanggil.

" – chan, Ai-chan, bangun sayang".

Aku yakin suara itu adalah suara seorang lelaki paruh baya, suaranya begitu lembut dan terdengar penuh kasih.

Saat akhirnya aku dapat membuka mataku sepenuhnya dan melihat wajah laki-laki paruh baya itu, ingatanku tentangnya secara cepat masuk ke dalam fikiranku. Walaupun ragu, namun akhirnya kuputuskan untuk memanggilnya.

"O-Otou-san"

Laki-laki yang sedari tadi cemas menunggu reaksiku itu kini terlihat begitu berseri-seri. Ia segera memanggil staff dokter yang mengawasi perkembangan kesehatanku.

Aku merasa aneh dengan kondisiku saat ini, entah kenapa aku merasa ini bukanlah diriku. Aku merasa asing dengan diriku sendiri, inilah yang membuatku merasa canggung dengan orang-orang disekitarku.

Aku mencoba mengingat apa yang salah dalam diriku, namun aku tidak dapat mengingat apa yang ingin aku ingat. Terakhir, ada satu yang mengganjal dalam fikiranku, Ai? Itukah namaku?.

# End of Ai's POV

Tak berapa lama tim medis datang, mereka langsung melakukan pengeceken kesehatan secara menyeluruh pada tubuh Ai. Dokter begitu tercengang dengan hasil yang didapat bahwa kondisi kesehatan pasiennya telah pulih sepenuhnya. Dokter segera mengabarkan kabar gembira itu pada Agasa, ayah Ai.

Setelah mendengar kabar gerbira itu, Agasa segera memeluk Ai yang kini telah bersih dari alat bantu yang sebelumnya menempel pada badan Ai.

"Ai-chaan, ayah sangat senang karena setelah sekian lama 'tertidur' akhirnya kamu bangun juga, sayang"

Dengan berlinang air mata, Agasa memeluk erat tubuh Ai. Ai hanya bisa tersenyum sambil membalas pelukan hangat ayahnya itu.


Keesokan Harinya

# Ai's POV

"Selamat pagi Ai-chan, bagaimana kondisimu pagi ini?"

Pagi-pagi sekali, aku sudah mendapatkan sambutan dari Otou-san. Aku melihat Ia tersenyum padaku, senyum yang begitu cerah, secerah cahaya matahari yang masuk ke kamarku melewati celah jendela. Aku membalas senyumannya

"Pagi Otou-san, hari ini aku merasa sangat baik" Aku memposisikan diri duduk di tempat tidurku, aku merasa badanku masih agak lemas.

"Ai-chan, aku sudah menghubungi teman-temanmu. Hari ini mereka berjanji akan datang menjenguk" Otou-san mengisi pot bunga yang ada di samping tempat tidurku dengan bunga yang baru saja Ia bawa.

'Mawar merah, bunga yang indah' aku memandangi bunga yang kini menghiasi ruanganku itu.

Otou-san menggeser tempat duduk yang ada di pojok ruangan ke samping tempat tidurku, kemudian Ia duduk di sana.

"Ai, tadi ayah sudah bertemu dengan dokter dan dokter bilang besok kamu sudah boleh pulang. Ayah sangat senang akhirnya kamu bisa pulang" Otou-san menggenggam telapak tanganku.

"Iya Otou-san, wakatta" Aku mengangguk setuju. Akupun bersyukur dapat segera kembali ke rumah.

Tak lama kemudian aku mendengar suara pintu di ketuk, dari balik pintu yang dibukakan oleh Otou-san berdiri dua orang pria dan seorang gadis. Mata mereka serempak membulat ketika melihatku.

"Ai-chaan... Kau benar-benar sudah membaik? wakattaaaa" Teriak gadis itu sambil berlari mendekat kemudian memelukku.

Aku mencoba mengingat-ingat siapa gadis yang sedang memelukku ini.

"Ayumi-chan?" tanyaku akhirnya. Lalu gadis itu melepaskan pelukannya dan melihat ke arahku.

"Iya Ai-chan... ini aku. Aku sangat bersyukur setelah empat tahun menunggu akhirnya kita bisa bersama lagi seperti dulu"

Kini aku melihat genangan air pada kedua pelupuk mata gadis yang kini tampak lebih cantik dan dewasa dari yang ku ingat.

"Aku juga Ayumi-chan" balasku padanya.

Kedua pria yang sedari tadi berdiri di belakang Ayumi akhirnya ikut ambil suara.

"Haibara-san, Kami juga sangat senang kamu bisa kembali lagi ketengah-tengah kami" Kata pria yang berperawakan kurus tinggi itu.

"Iya, setelah ini kita bisa makan nasi belut bersama seperti dulu lagi" Tambah pria yang berperawakan tinggi gemuk.

Aku mencoba mengingat-ingat sejenak

"Mitsuhiko? Genta?" kedua nama itu yang terlintas dalam ingatanku.

Kedua pria itu memberikan senyum mereka padaku. Sama seperti Ayumi, kini mereka tampak jauh lebih gagah dari sebelumnya.

"Ai-chan, tadi aku dapat pesan dari Conan-kun. Katanya hari ini dia agak terlambat karena Ia ingin mampir ke suatu tempat" Kata Ayumi sambil menata buah yang tadi Ia bawa di atas piring.

'Conan-kun? Ai-chan? Kedua nama itu? Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal, tapi apa ya?' Aku masih mencoba mengingat-ingat, tapi tiba-tiba saja kepalaku terasa berat. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang membuatku tidak mampu - atau bisa dibilang tidak ingin - mengingatnya.

"Ai-chan, apa kamu tidak apa-apa?" Tanya Otou-san cemas setelah melihat gelagatku yang tampak kesakitan.

"Daijobu Otou-san, hanya sedikit pusing" Aku berusaha membuat Otou-san tidak terlalu mencemaskanku. Namun aku tetap merasa penasaran, siapa sebenarnya Conan-kun? Kenapa aku ada disini? Apa yang sebenarnya terjadi padaku empat tahun yang lalu?

"Otou-san, sebenarnya hari itu apa yang terjadi padaku? Aku sama sekali tidak mengingatnya" Walau ragu, aku memberanikan diri bertanya.

Otou-san tampak memandangku selama beberapa detik, lalu melempar pandangannya ke arah Ayumi dan kawan-kawan, seperti mengisyaratkan kepada mereka agar menceritakan kembali tragedi empat tahun yang lalu padaku.

Tak lama kemudian Ayumi mendekatiku dan duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur. Ia mulai bercerita.

" Aku masih ingat dengan jelas kecelakaan pada hari itu, saat itu kelas kita sedang melakukan pengamatan terhadap tanaman di taman kota...".

.

.

.

Di saat Ayumi bercerita, tanpa kusadari ingatan itu masuk ke dalam kepalaku dengan sendirinya. Bukan hanya detik-detik dimana sebuah mobil yang melaju kencang tiba-tiba menghantam tubuhku serta Conan yang berusaha menolongku, namun juga ingatanku sebagai Shiho, seorang Bidadari yang pada akhirnya terjatuh dari danau tanpa dasar dan pasti karena itu sekarang aku menjadi manusia.

Tiba-tiba aku teringat kembali saat aku harus kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupku, tentang betapa menyesalnya aku karena hingga akhir aku masih belum bisa mendapatkan maaf darinya, dari Shinichi.

Kemudian secara refleks aku melihat jari tangan kiriku, aku berharap kenangan terakhirku bersamanya masih berbekas di sana.

Namun hal yang tidak ku sangka terjadi. Aku hampir terpekik saat kulihat jari kelingkingku, kalau saja aku tidak menutup mulutku dengan tangan kananku. Air mataku keluar bagai air bah yang mengalir deras. Aku tidak menduga bahwa saat ini aku masih dapat melihatnya dengan jelas.

Pita benang merah itu - ikatan yang menyatukan hatiku dengannya - masih terikat kuat pada jari kelingkingku. Inilah harapan terakhirku untuk bisa bertemu dengan Shinichi.

Aku lihat benang itu menjulur keluar ruangan. Tanpa menghiraukan reaksi Otou-san dan yang lain, aku berlari keluar ruangan, mengikuti kemana benang merah itu akan berakhir.

# End of Ai's POV

.

.

.

Sambil tertatih, Ai berlari mengikuti kemana benang itu membawanya. Agasa dan teman-teman Ai mengikuti dari belakang sambil terkadang membantu Ai berjalan. Mereka sendiri bingung dengan apa yang membuat Ai jadi begini dan apa yang sedang Ai cari. Namun mereka yakin bahwa yang sedang Ai cari adalah sesuatu yang sangat berarti baginya. Hingga akhirnya Ai menghentikan langkahnya.

Saai ini Ia berada di taman. Dilihatnya sesosok pria yang saat ini sedang membantu seorang anak kecil mengambil balon yang tersangkut di ranting pohon. Di kelingking tangan kanannya tersimpul pita benang merah yang merupakan ujung dari pita miliknya. Setelah menyerahkan balon yang berhasil Ia ambil pada anak kecil itu, pria itu mengarahkan pandangannya pada Ai kemudian tersenyum ramah.

Mulut Ai bergetar, Ia tidak tahu apa yang harus Ia katakan. Namun dalam benaknya hanya ada satu nama dan hanya itu yang dapat terucap dari mulutnya

"S-Shinichi?".

Pria itu tampak bingung, lalu Ia memposisikan diri menghadap Ai.

"Shinichi?" Pria itu seperti tidak mengenal orang yang namanya Ai sebutkan tadi.

Mendengar jawaban Pria itu, pertahanan Ai-pun rubuh. Rasa nyeri yang sedari tadi Ia tahan kini terasa begitu menyiksa, kini Ai terduduk lemas di tanah sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ai menangis, putus asa. Kini harapan terakhirnya untuk bertemu Shinichi telah sirna.

"Shinichi... Shinichi... benarkah semua harus berakhir seperti ini?" Ai menangis tersedu, Ia hanya mampu meratapi nasibnya.

.

tok...

.

tok...

.

tok...

.

Ai mendengar suara langkah sepatu menuju ke arahnya. Sesaat kemudian Ai merasakan pergelangan tangannya ditarik oleh seseorang. Tanpa Ai sadari, kini tubuhnya telah berada dalam pelukan orang itu.

"Aku disini... Shiho" Ai mendengar suara seorang pria berbisik di telinganya. Mendengar ucapan pria itu, Ai terbelalak tak percaya.

Ai mencoba merenggangkan pelukan pria itu, Ia memandang wajah serta bibir pria yang saat ini memeluknya- yang ternyata adalah pria yang tadi Ia panggil Shinichi - lekat-lekat, Ia berusaha menajamkan indra penglihatan dan pendengarannya, takut apa yang Ia dengar hanya halusinasinya belaka.

Pria itu hanya tersenyum melihat tingkah Ai yang baginya begitu manis. Ai tampak ragu dengan apa yang baru saja Ia alami. Lalu Pria itu menempelkan keningnya pada kening Ai, matanya memandang mata Ai lekat.

"Tapi namaku bukan lagi Shinichi... Mulai sekarang, panggil aku Conan Edogawa" Kata pria itu.

Kini Ai dapat mengenali nama itu, nama yang sejak bertahun-tahun lalu mengisi relung hatinya.

"Edogawa-kun? Kau-kah itu?" Tanya Ai tidak percaya.

"Iya Shiho..." Conan mengangguk pelan, senyumnya semakin mengembang

" – Aku sangat bahagia kita bisa bertemu lagi. Setelah bertahun-tahun, akhirnya penantianku terbayar juga" lanjutnya.

Ai tampak takjub dengan apa yang saat ini Ia alami. Edogawa Conan, pria yang selalu Ia dambakan, kini berada di hadapannya - bahkan saat ini sedang memeluknya.

Conan mulai merenggangkan pelukannya. Perlahan, salah satu tangannya mengeluarkan sesuatu - sebuah kotak kecil berwarna merah hati - dari saku celananya. Conan berlutut, membuka kotak itu di hadapan Ai dan berkata

"Maukah engkau menjadi pendamping hidupku Shiho... Eh? Bukan... maksudku Ai Haibara?" Conan memandang ke arah Ai penuh harap.

Air mata Ai mengalir kembali. Kali ini bukan air mata kesedihan yang mengalir dari kedua pelupuk mata Ai, namun air mata kebahagiaan. Dipandangnya sepasang cincin yang tersemat di dalam kotak itu. Dengan penuh keyakinan Ai mengangguk-anggukkan kepalanya, menjawab lamaran Conan.

"Aku sangan mencintaimu, Conan" kemudian Ai memeluk Conan yang masih berlutut di hadapannya. Conan-pun membalas pelukan Ai.

"Aku juga sangat mencintaimu, Ai" Merekapun hanyut dalam perasaan mereka.

Segala perasaan yang mereka pendam selama bertahun-tahun akhirnya tumpah. Seluruh penyesalan dan keputus-asaan yang selama ini mengiringi langkah mereka seperti lenyap tak berbekas. Perjuangan dan pengorbanan mereka menjadikan ikatan cinta mereka terjalin begitu kuat dan semakin kuat seiring berjalannya waktu. Kini mereka menyongsong kehidupan baru mereka di dunia, kehidupan yang bahagia dan damai. Kehidupan baru mereka sebagai manusia.

~ FIN ~


Okey... akhirnya kelar juga.
Sebenarnya masih ada side story tentang akhir cerita Kaito dan Aoko
Tapi mungkin segini aja udah cukup
Sampai jumpa di lain kesempatan
jaa-ne :3