No!

.

By donini

.

Chanyeol, Park

Kyungsoo, Do (GS)

Minseok, Kim (GS)

Baekhyun, Byun

.

.

.

Acara fanmeet EXO telah selesai, semua fan sudah pulang begitu pula dengan para member EXO—minus Jongin—yang masih dalam perjalanan mereka. Meskipun ada sedikit masalah karena seorang fan menyerang fan lain, tapi semua masih bisa terkendali. Semua, tapi tidak dengan pikiran Chanyeol. Pria bertelinga peri itu begitu terpukul dengan semua yang diucapkan Kyungsoo.

Setelah mengumumkan hubungannya dengan Baekhyun, Chanyeol memang belum menghubungi keluarganya. Ia bahkan mengabaikan ratusan panggilan dari sang kakak, ibu, dan juga ayahnya. Kyungsoo benar, ia terlalu takut untuk bertemu dengan orang tuanya. Terlalu malu untuk bertemu mereka. Dan terlalu sibuk—seperti yang ia katakan—ada di daftar paling akhir kenapa ia tak menghubungi keluarganya.

Tangannya tak pernah henti memutar ponsel pintarnya. Ia masih ragu untuk menghububungi keluarganya. Telinga, hati, dan pikirannya masih belum sanggup untuk bisa menerima cacian yang akan didengarnya nanti. Ia masih belum mampu untuk bisa menerima jika nanti nyatanya keluarga yang menjadi tempat pertamanya mengenal dunia membencinya, terlalu kecewa padanya. Ia tak yakin akan siap menerima itu semua, ia begitu mencintai keluarganya dan juga pria mungilnya, Baekhyun.

Pria mungil itu sedari tadi hanya diam, tak mau bicara, bahkan untuk sekedar menoleh padanya pun tidak. Chanyeol tahu kekasih mungilnya itu juga sedang bimbang sepertinya. Baekhyun terlalu sensitif jika sudah menyangkut masalah keluarga. Apalagi keluarga Chanyeol.

Berbeda dengan Chanyeol, sebelum mengumumkan hubungan mereka, Baekhyun sudah lebih dulu memberi tahu keluarganya. Mereka juga kecewa, sedih, dan menolak, hanya saja mereka mengikhlaskan. Berbeda dengan keluarga Chanyeol yang sepertinya tidak mudah untuk mengikhlaskan hubungan mereka. Keluarga Chanyeol terlalu kecewa, apalagi kakaknya, Yoora.

Yoora bekerja sebagai seorang presenter yang sudah pasti sering tampil di televisi, bertemu banyak wartawan dan juga beberapa artis. Kakaknya itu pasti mengalami banyak tekanan di tempatnya bekerja. Kyungsoo juga bilang jika Yoora mengurung dirinya selama seminggu setelah ia mendengar hubungan sang adik dengan rekan satu grupnya.

Chanyeol mengusap wajahnya gusar. Ia sudah tak tahu harus bagaimana lagi. Menemui orang tuanya? Chanyeol sungguhan belum siap! Terus menghindar? Ayolah, menghindar bukan cara yang tepat. Lagi pula, jikapun Chanyeol bisa menghindar tetap pada akhirnya ia juga harus bertemu dengan keluarganya dan menerima semua kekecewaan mereka.

"Oh, Jongin. Kau dimana?" Suara Jongdae mengintrupsi pemikiran Chanyeol.

"..."

"Besok saja bagaimana? Manager hyung bilang besok kita free."

"..."

"Okay."

Chanyeol menatap Jongdae yang duduk di belakangnya begitu penasaran.

"Jongin bilang dia tidak bisa kembali ke dorm. Mungkin dia akan menginap di hotel atau di rumah sakit." Jongdae menatap balik Chanyeol. "Dan, Kyungsoo baik-baik saja. Hanya luka ringan, tak ada luka dalam."

Entah kenapa Chanyeol menghembuskan napasnya lega mendengat Kyungsoo baik-baik saja. Bagaimana pun Kyungsoo seperti itu karena seorang fan membelanya. Membela keburukannya, membuat Chanyeol semakin merasa bersalah.

Chanyeol menyandarkan punggung lebarnya ke sandaran mobil, menengadahkan kepalanya dan memejamkan mata. Ia harus istirahat, setidaknya pikirannya harus tenang.

"Yeol." Tangan berhiaskan jemari lentik itu menyentuh bahu Chanyeol.

Mata bulat Chanyeol terbuka, menatap pria mungilnya yang menatapnya khawatir.

"Kau tak apa?" Tangan itu berpindah dari bahu ke pipi.

"Aku tak apa, Baek." Memberikan senyuman manis yang bisa ia buat dalam keadaannya yang sedang kacau.

"Haruskah... haruskah kita menemui keluargamu? Gadis itu benar, Yeol, kita-"

"Tidak sekarang, Baek. Aku belum siap."

.

Keadaan kamar rawat itu begitu hening. Jelas saja, sekarang sudah hampir pukul dua dini hari. Setelah sadar, Kyungsoo kembali tidur dua jam setelahnya. Minseok sudah pulang, digantikan Luhan yang langsung datang ke rumah sakit begitu Jongin menghubunginya. Minseok terlalu khawatir pada Kyungsoo hingga tak sanggup untuk bicara pada Luhan.

Kyungsoo berbaring dengan tenang di ranjangnya, Luhan tidur di atas kasur lipat yang dipinjam dari rumah sakit, sedangkan Jongin duduk di sofa. Ia tak bisa tidur, bahkan untuk sekedar memejamkan matanya. Mata kucingnya itu terus fokus pada wajah Kyungsoo yang penuh dengan lebam. Bibir tebalnya juga sesekali mengulas senyum kecil begitu mengingat Kyungsoo yang melamun. Kyungsoo yang melamun begitu menggemaskan di mata Jongin.

Pandangannya teralihkan pada ponsel di sakunya. Ada sebuah pesan masuk. Siapa yang mengiriminya pesan malam-malam begini?

Mengeluarkan ponsel dari sakunya, Jongin melihat siapa si pengirim pesan.

Nama 'Chanyeol hyung' tertera di layar lebar ponselnya.

From; Chanyeol hyung

'Jong, bagaimana keadaan Kyungsoo? Dia baik-baik saja 'kan? Tolong sampaikan maafku padanya.'

Dengan cepat Jongin mengetik balasannya pesan Chanyeol.

To; Chanyeol hyung

'Kyungsoo okay. Hanya saja wajahnya penuh lebam. Kau esok tak datang? Tadi aku memberi tahu Jongdae hyung untuk menyuruh kalian semua kesini. Setidaknya ucapkanlah secara langsung.'

Tak sampai satu menit, pesan Chanyeol kembali masuk ke ponselnya.

From; Chanyeol hyung

'Aku takut, Jong. Aku takut Kyungsoo akan mengusirku.'

Jongin menghela napasnya.

To; Chanyeol hyung

'Tidak akan. Kyungsoo itu gadis baik. Percayalah. Aku tunggu besok bersama yang lain.'

.

Kyungsoo membuka matanya saat mendengar suara percikan air dari dalam toilet. Matanya melirik ke bawah, tempat Luhan dengan kasur lipat rumah sakit. Luhan masih disana, masih bergelung dengan selimut. Lalu siapa yang di toilet? Suster?

Pintu toilet terbuka, Jongin keluar dari sana. Jongin menuggunya?

"Kyungsoo-ssi, selamat pagi." Jongin tersenyum. Wajahnya terlihat segar sehabis cuci muka, terlihat lebih natural tanpa make up, tapi tak mengurangi ketampanannya.

"P-pagi. Kau tak pulang?"

"Tidak. Fan menunggu di depan rumah sakit. Aku jadi tak bisa pulang." Jongin terkekeh di akhir kalimatnya.

Kyungsoo hanya membulatnya bibirnya.

Keadaan hening setelahnya, hanya terdengar suara televisi yang Jongin nyalakan. Kyungsoo terlalu canggung untuk sekedar berbasa-basi. Jongin itu termaksud idolanya di EXO setelah Chanyeol. Dan kini Jongin tengah berada dalam satu ruangan dengannya, menungguinya semalaman. Kyungsoo memegangi dada kirinya yang terasa begitu bergemuruh, sejak Jongin keluar dar toilet, jantungnya itu tak mau tenang di tempatnya. Terus bergegup kencang seperti sebuah drum yang sering Sehun, kekasih Luhan, mainkan jika sedang ada di rumahnya. Di rumah Kyungsoo dan Luhan, mereka punya semua alat musik.

Sebenarnya untuk sekedar satu ruangan dengan idolanya saja Kyungsoo sudah sering, Kyungsoo selalu datang ke konser mereka dan ke studio tempat mereka perform. Hanya saja tak sedekat dan tak sehening ini, apalagi sampai berbincang. Jika saja ia tak sedang dalam keadaan penuh lebam, mungkin ia sudah histeris, seperti cacing yang diberi garam.

Kyungsoo mencoba untuk mengubah posisinya menjadi duduk, tapi infus di tangan kirinya memperhambat. Rasanya begitu nyeri ketika Kyungsoo menggerakkan tangan kirinya. Jarum memang tak pernah bisa berteman dengan tubuhnya. Ditambah dengan beberapa nyeri di bagian perut dan juga dadanya. Jinah memukulnya dengan sekuat tenaga.

"Kau mau duduk?" Jongin yang sedang duduk di sofa berjalan menghampiri ranjang Kyungsoo.

"A-ah, n-ne."

"Biar kubantu."

Jantung Kyungsoo rasanya mau berhenti berdetak ketika Jongin memegangi kedua bahunya. Tangannya besar dan hangat. Apalagi aroma tubuh Jongin yang masih melekat di tubuh pria itu meskipun ia belum mandi.

"Terima kasih."

Jongin hanya tersenyum.

Luhan menggeliat di atas kasur lipatnya, membiasakan matanya dengan cahaya lampu. Luhan selalu mematikan lapu jika ingin tidur, dan Jongin menyalakan kembali lampu itu sebelum pergi ke toilet.

"Kyung." Begitu terbiasa dengan cahaya lampu, Luhan langsung merapikan kasur lipat serta selimut yang ia kenakan, menaruhnya di atas sofa lalu menghampiri Kyungsoo.

"Masih sakit?"

Kyungsoo mengangguk. "Tapi hanya sedikit, eonnie."

Jongin melirik jam di pergelangan tangan kirinya, pukul tujuh lewat beberapa menit. Sepertinya sebentar lagi hyung-hyungnya akan tiba.

Jongin mengambil nampan berisi sarapan untuk Kyungsoo yang tadi diantar suster saat Kyungsoo dan Luhan masih tidur, memberikannya pada Kyungsoo. Jongin tersenyum begitu melihat Jongin menyerahkan nampan berisi makanan tersebut, Kyungsoo bingung. Luhan berdecak, bukannya mengambil nampan yang diberikan Jongin, Kyungsoo malah diam dengan alis mengkerut.

"Ini sarapanmu, Kyung." Luhan mengambil alih nampan di tangan Jongin, membuka plastik yang menutupi makanan tersebut. Jongin langsung keluar dari kamar rawat Kyungsoo setelah Luhan mengambil nampan tersebut, mungkin membeli sarapan atau pulang.

Kyungsoo terlihat linglung. Otaknya tak bisa diajak bekerja sama. Ia terlalu gugup saat Jongin ada di dekatnya. Ayolah, memangnya kau bisa bersikap normal saat idolamu ada di dekatmu?

Luhan menyuapi Kyungsoo dengan telaten, sabar. Adiknya itu tak biasanya sangat lamban dalam hal mengunyah. Biasanya Kyungsoo seperti orang kesetanan jika sedang makan. Makan itu salah satu hobi Kyungsoo. Tapi lihat sekarang, Kyungsoo begitu lamban mengunyah makanannya, mungkin lebih dari yang seharusnya hanya tiga puluh kali, mungkin Kyungsoo mengunyah makanannya dua kali lipat dari yang seharusnya.

"Kyung, cepatlah. Aku juga ingin sarapan." Luhan memutar bola matanya.

Bibir heartshape Kyungsoo baru saja ingin berucap saat pintu kamar rawatnya terbuka. Jongin ada disana dengan satu kantung plastik berisi makanan yang ia beli di cafetaria rumah sakit. Jongin membuka pintu itu lebih lebar, ternyata bukan hanya Jongin yang ada disana, tapi juga juga member EXO yang lain. Ya, Tuhan, tolong kuatkan jantung Kyungsoo.

Jongin, Yifan, Joonmyeon, Yixing, Jongdae, Baekhyun, dan Chanyeol masuk secara bergilir. Semoga jantungku baik-baik saja. Batin Kyungsoo.

"Halo, Kyungsoo-ssi." Sapa Jongdae sambil tersenyum.

"Untukmu." Joonmyeon memberikan sebuah paper bag warna biru polos pada Kyungsoo.

"Kalian, siapa? Teman Kyungsoo?" Luhan menatap satu persatu dari mereka.

Kyungsoo menyenggol pinggang Luhan. Kakaknya ini kuno sekali, sih. Terlalu serius mengurus cafe hingga tak sempat menonton televisi atau membaca surat kabar. EXO saja ia tak tahu? Boyband yang paling di elu-elu kan pada tiga tahun terakhir ini Luhan tak tahu?

Sebenarnya Luhan tahu EXO, hanya saja Luhan tak tahu EXO itu apa. Kyungsoo sering menyebut EXO, Luhan kira itu brand makanan terbaru. Kyungsoo kan suka makan.

"Mereka EXO, eonnie." Kyungsoo berucap pelan, giginya bahkan menyatu.

"EXO? Aku pikir EXO itu brand makanan." Luhan mengangkat bahunya acuh.

Kyungsoo menundukkan wajahnya, menahan malu. Luhan menyebutkan itu dengan volume yang cukup keras. Ujung mata bulatnya bahkan bisa melihat Jongdae, Jongin, Joonmyeon, dan Yixing menahan tawanya. Sisa dari mereka hanya tersenyum. Kalau Kyungsoo tidak sedang dalam keadaan yang seperti ini, mungkin ia sudah mengacak-acak wajah cantik kakaknya itu, apalagi melihat muka—sok—polos Luhan itu.

"Kenapa kalian kesini? Dan kau-" Luhan menunjuk Jongin. "Kau juga EXO?"

Jongin mengangguk.

"Kalian artis?" Kyungsoo menepuk dahinya. Ya ampun, Luhan ini sudah bosan cantik, ya? Mau merasakan jari lentik Kyungsoo menyapu lebut wajahnya?

"Berhenti bicara, kau membuatku malu." Kyungsoo masih dengan nada bicaranya yang tertahan.

"Yak! Kenapa kau malu, eoh? Aku hanya bertanya kenapa kau harus malu, adik kurang ajar." Luhan memberikan pukulan kasih sayangnya di belakang kepala Kyungsoo.

"Kau kakak yang kejam. Adikmu sedang sakit dan kau malah memukulku. Aigoo, kejam sekali." Balas Kyungsoo mendramatisir.

"Drama queen." Luhan mencibir. Mereka malah melupakan tamu mereka yang menahan tawa melihat pertengkaran kakak beradik itu.

Chanyeol berdehem.

Kyungsoo sedikit menegang begitu mendengar suara bass khas seorang Park Chanyeol yang begitu ia puja. Jika saja ini semua terjadi sebelum ia tahu hubungan Chanyeol dan Baekhyun, mungkin ia sudah menjerit histeris hingga tenggorokannya kering dan mendapatkan sebuah benjolan besar di dahinya karena Luhan pasti menjitaknya dengan ganas.

Tak ada yang bicara setelahnya, bahkan Luhan tengan mengaduk-aduk sisa makanan Kyungsoo. Jongin melangkah mendekati ranjang Kyungsoo. Ya, Tuhan! Tolong selamatkan jantung Kyungsoo! Kyungso merasakan udara di sekitarnya menipis. Sial! Kyungsoo butuh oksigen. Ditambah sekarang bukan hanya Jongin yang mendekat, tapi juga Joonmyeon, Jongdae, Yixing, Yifan, Chanyeol dan Baekhyun juga ikut melangkah mendekati ranjang Kyungsoo. Semoga Tuhan masih memberinya hidup dengan tidak membiarkan jantungnya berhenti berdetak karena ketujuh manusia tampan itu mendekat ke arahnya.

"K-kyungsoo-ssi." Baekhyun buka suara. Benjolan kecil di tenggorokannya bergerak naik turun seelahnya; menelan ludah. "Bagaimana keadaanmu?"

"Aku baik. Hanya saja perasaanku tak baik." Kyungsoo mendesis di akhir kalimatnya. Entah kenapa keberaniannya selalu muncul saat melihat Chanyeol ataupun Baekhyun. Apa sebegitu kecewanya ia dengan dua pria tampan itu?

"Maafkan kami." Kini giliran Chanyeol yang berucap. Tubuh tinggi menjulangnya sedikit merunduk saat mengucapkan itu.

"Kami?" Nada menyindir begitu terasa di pertanyaannnya. "Maksudmu, kalian semua? Kalian bertujuh?"

"Ne, Kyungsoo-ssi. Karena ulah fan kami kau jadi seperti ini." Jongdae terkekeh dengan kalimat yang ia ucapkan sendiri.

Kyungsoo tertawa renyah, mata bulatnya membentuk bulan sabit yang cantik, bibirnya juga membentuk hati yang indah. "Bukan fan kalian." Senyum itu masih bertahan, tapi tidak setelah ia melanjutkan kalimatnya. "Tapi fan Chanyeol-ssi."

"Maafkan aku." Suara bass Chanyeol terdengar begitu lemah dan sendu.

"Sulit. Aku terlalu kecewa. Bukan karena kejadian kemarin. Tapi, ya, kau tahu. Bibirku tak sudi untuk menyebutnya." Tangan kurusnya yang bebas dari jarum infus menepuk udara hampa di hadapannya, seolah-olah ia sedang bergurau.

"Apa ada cara lain agar kau bisa memaafkan Chanyeol?" Baekhyun melangkah sedikit lebih dekat dengan Kyungsoo. Pria dengan ciri khas eyeliner itu menatap Kyungsoo dengan sendu yang malah mendapat balasan sinis dari Kyungsoo.

"Ada." Kyungsoo membenarkan posisi duduknya yang sepertinya mulai terasa tak nyaman. Kyungsoo gugup sebenarnya. "Tapi aku tak yakin kekasihmu itu bisa mengabulkannya." Penakanan begitu kentara di kata 'kekasih' yang Kyungsoo ucapkan.

Chanyeol merasa keringat di telapak tangan dan dahinya semakin banyak dan begitu membuatnya merasa semakin tegang. Menjilat bibirnya yang terasa kering sebelum berkata, "Katakan. Apa saja akan aku lakukan."

"Well," Kyungsoo melakukan hal yang sama dengan Chanyeol; menjilat bibir heartshapenya yang mendadak kering. "Putuskan hubunganmu dengan Baekhyun dan jadilah kekasihku."

.

.

.

To Be Continue

.

Wwhhoooaaaaaa! Nini gatau ngetik apa ini huhu! Ini udah nini perpanjang dan semoga memuaskan untuk kalian yang masih setia nunggu ff abal ini, okay?

Dan ada yang nanya apa ini bakalan ganti jadi kaisoo atau tetep chansoo. Ini tetap akan jadi chansoo kok, tapi dikasih sedikit kaisoo gpp kali ya hehe!

.

Terima kasih yang udah review, fav, follow cerita ini semuanya. Jeongmal gomapseumnida!

.

Jangan lupa juga baca cerita nini yang lain; Lets Get Rich!, SOUL, dan Unconditionally. (promosi dikit gpp ya, hehe!)

.

.

.

Review juseyo?

.

Donini.