"Hei, Naruto."

Naruto tersentak. Kembang api masih setia meletus di atas kepala mereka. Namun entah sudah berapa lama fokusnya justru berada pada wajah samping perempuan yang barusan memanggilnya itu. Meski tampaknya Sakura tidak sadar diperhatikan karena kini ia menatap Naruto sambil tersenyum.

"Kau tidak akan melakukan hal seperti Gaara kan?"

"Eh?"

"Menyakitiku. Kau tidak akan melakukannya kan?"

Kembang api terakhir akhirnya meletus di langit. Suasana menjadi tenang kembali kecuali sorak-sorai di bawah sana. Namun satu-satunya suara yang dapat ditangkap oleh Naruto hanya langkah kaki Sakura yang berjalan mendekatinya.

Naruto masih terdiam di tempat. Saat Sakura kini berdiri hanya berjarak dua langkah di depannya, jari kelingking perempuan itu tiba-tiba terulur. Ia menatap Sakura yang tersenyum lembut dengan alis terangkat.

"Berjanjilah… untuk tetap di sampingku, menjadi sahabat yang selalu bisa kuandalkan."

Naruto terbelalak.

"Ya?"

.

.

.


Naruto © M. K.

Story © Aika Namikaze

Tidak ada keuntungan apapun yang dihasilkan dari fic ini. Everything is just for fun!

WARNING(S): AU, maybe OOC, DON'T LIKE DON'T READ! :)


.

.

.

Heart Question

Chapter 2 of 2

.

.

.

"Ah, selamat datang, Sakura!" sapa Shizune, salah satu sensei di sana, saat melihat Sakura datang. "Natsu sudah menunggumu sejak tadi. Ia bahkan sampai tertidur."

"Oh, benarkah?" Sakura tersenyum meminta maaf. "Aku bertemu temanku, jadi maaf kalo agak terlambat menjemput." Ia melirik Naruto di belakangnya yang masih terdiam.

Setelah menanyakan tujuan mereka ke tempat ini, Naruto sama sekali tidak bisa menutupi rasa terkejutnya meski tidak bertanya lebih jauh soal anak laki-laki yang mereka jemput kali ini. Sakura juga memilih untuk tidak menceritakannya lebih lanjut.

Saat Shizune kembali dari dalam, dalam gendongannya seorang anak laki-laki dengan rambut hitam tipis tampak tertidur nyenyak sambil mengemut ibu jarinya.

"Oh, tidurnya nyenyak sekali." Sakura meraih anak itu ke dalam gendongannya perlahan. Bibirnya lalu menyentuh pipi tembam itu pelan agar tidak membangunkannya. "Nah, ayo kita pulang, sayangku."

Naruto mau tak mau ikut tersenyum. Ia meraih tas bayi dari bahu Sakura, membebaskan perempuan itu untuk menggendong Natsu. Saat itulah Shizune baru menyadari keberadaannya di belakang Sakura.

Shizune mengangkat sebelah alisnya. Rambut pirang dan mata biru. Rasanya ia ingat seseorang pernah menceritakan banyak hal soal lelaki dengan ciri-ciri seperti orang di depannya ini. Tapi siapa? Ia menjentikkan jari saat akhirnya mengingat sesuatu.

"Hei, Sakura," bisik Shizune pelan sambil menggeser tubuhnya mendekati perempuan itu. "Apakah dia laki-laki yang selalu kau bicarakan itu—aduh!"

Sakura langsung mencubit lengan Shizune keras agar tidak melanjutkan kalimatnya. Naruto yang berdiri tepat di sebelahnya pasti bisa mendengar suara Shizune yang tidak bisa dibilang cukup pelan untuk bisa disebut berbisik.

Lelaki pirang itu menatap keduanya dengan alis terangkat saat Sakura melempar deathglare pada Shizune sementara wanita itu tersenyum nyengir meminta maaf sambil mengelus lengannya.

Apa yang mereka bicarakan sebenarnya?

"S-sudah sore nih! Ayo pulang, Naruto!" Dengan gestur tergesa-gesa, Sakura menarik Naruto keluar dengan tangannya yang tigak menggendong Natsu. Tidak lucu kalau Shizune sampai membeberkan semua ceritanya di depan laki-laki itu!

Naruto hanya menurut saat lengannya ditarik oleh Sakura sepanjang perjalanan menuju mobil. Sementara perempuan itu terus berusaha menyembunyikan wajahnya dari Naruto.

"Semoga berhasil ya, Sakura-chan!" teriak Shizune saat mereka hampir memasuki mobil. Sakura menoleh, masih melempar tatapan mautnya pada Shizune sementara anita itu tertawa-tawa sambil melambaikan tangannya ke arah mereka.

"Hei, apa maksudnya?" tanya Naruto penasaran.

"S-sudahlah! Cepat buka pintu mobilnya!"

Naruto mengerjapkan matanya bingung. Kenapa wajah Sakura terlihat memerah?

.

.

.

Matahari yang semakin condong ke barat membuat langit biru berubah menjadi kejinggaan. Saat warna hangat ini menghiasi langit Konoha, saat itu juga bertepatan dengan jam pulang kantor dan sekolah yang otomatis membuat jalanan menjadi sangat ramai. Naruto harus berkonsentrasi penuh karena padatnya kendaraan di lalu lintas. Meski sesekali fokusnya akan teralih pada Sakura dan anak laki-laki dalam gendongannya yang masih betah tertidur nyenyak sejak tadi. Pemandangan yang menenangkan sekaligus sedikit mengganggunya dalam satu waktu.

"Kelihatannya nyenyak sekali."

Sakura menoleh ke arah Naruto yang hanya melirik sekilas ke arahnya.

"Apa bola matanya mirip dengan milikmu?" tanya Naruto.

Sakura hanya tertawa pelan sebelum menjawab, "Tidak. Natsu benar-benar mirip dengan ayahnya." Tangannya terangkat, merapikan rambut Natsu sebelum mengecupnya lembut.

Tanpa sadar, Naruto ikut tersenyum melihatnya. Sakura terlihat sangat keibuan sekali. Mata dan senyumnya saat menatap Natsu benar-benar menunjukkan rasa cinta seorang ibu pada anaknya.

Ternyata ia sudah kalah.

Telak.

Skak mat.

Pertanyaan besar itu akhirnya terjawab. Sakura benar-benar sudah dimiliki orang lain. Perempuan itu bahkan telah memiliki anak laki-laki yang kini berusia kurang lebih dua tahun. Mungkin kabar yang didengar Neji itu salah. Bisa saja Neji salah mengenali Sasuke sebagai Itachi, kakak Sasuke, karena sepengetahuannya kakak Sasuke itu memang masih belum menikah.

Kalau begini situasinya, tidak ada lagi yang bisa dilakukan Naruto. Meski perasaannya pada Sakura masih tetap seperti dulu, ia tidak mungkin mengungkapkannya. Mengganggu rumah tangga orang lain dengan mengungkapkan perasaannya pada Sakura jelas bukan pilihan yang baik. Ia tidak mau Sakura merasa bersalah atas perasaan yang telah dipendamnya selama bertahun-tahun itu.

Rasa itu akan tetap dipendam untuk dirinya sendiri. Toh, dari awal Naruto tahu bahwa hubungannya dengan Sakura tidak bisa lebih dari sekedar sahabat. Sakura telah membuatnya berjanji untuk tetap menjadi seorang sahabat yang bisa diandalkan.

Bagi Naruto, itu sudah cukup. Lebih dari cukup. Lagipula ia masih bisa menjaga Sakura dari jauh.

"Sudah kubilang jangan melamun saat menyetir, Naruto." tegur Sakura sambil menepuk pipi kanan Naruto, membuat lelaki itu tersentak kaget.

"A-aku tidak melamun!" kilah Naruto sambil menjauhkan pipinya dari tangan Sakura. Ia tidak mau Sakura menyadari rona tipis yang sempat menyambangi wajahnya barusan.

Sakura memutar bola matanya tidak percaya. "Kebohonganmu tidak pernah mempan padaku, Baka. Matamu menerawang jauh, itu berarti kau sedang memikirkan sesuatu."

Naruto hanya menjawabnya dengan cengiran sekenanya. Sakura hapal semua sifatnya. Begitu juga sebaliknya. Mereka tidak pandai berbohong satu sama lain. Meski baru bersahabat sejak SMA, hal itu sudah cukup untuk membuat mereka saling mengenal luar dalam dengan baik.

"Kita harus mengantar Natsu ke rumah sekarang."

Naruto menatap Sakura sekilas dengan raut wajah bingung. "Rumah… maksudnya apartemenmu kan? Bukankah sekarang kita sedang menuju kesana?" ia semakin mengernyit heran saat Sakura menggelengkan kepalanya.

Perempuan itu mengucapkan sebaris alamat dan menyuruh Naruto untuk menyetir tanpa bertanya lebih jauh lagi.

.

.

.

Dalam satu hari, ini ketiga kalinya Naruto dibuat melongo oleh Sakura. Yang pertama adalah pertemuannya lagi dengan perempuan itu, kedua saat menjemput Natsu di hoikuen, dan sekarang yang ketiga.

Alih-alih ke apartemen Sakura, alamat tadi membawa mereka ke sebuah rumah bertingkat dua dan halaman yang dipenuhi berbagai macam pot bunga. Tanpa mengatakan apapun, Sakura hanya menyuruh Naruto untuk mengikutinya turun.

Naruto seketika mengangkat kedua alisnya heran saat melihat papan kayu bertuliskan 'Yamanaka' yang menggantung di pagar depan. Bukankah Yamanaka adalah marga keluarga Ino? Mau apa mereka datang kesini?

Sakura hanya menahan senyum kegeliannya melihat Naruto yang kebingungan.

Belum sempat membunyikan bel pintu, pintu itu telah lebih dulu terbuka lebar dan menampakkan sosok wanita berambut pirang dengan baju kantoran yang masih melekat di tubuhnya.

"Forehead! Kenapa lama sekali!" seru Ino. "Aw~ Na-chan! Mama kangen sekali!"

Mama?

Sakura mendengus. "Kau pikir kami datang kesini dengan terbang? Jalanan ramai, pig," tukas Sakura kesal sambil menyerahkan Natsu ke dalam gendongan Ino dengan hati-hati. Anak laki-laki itu sedikit menggeliat saat telah berpindah ke dalam gendongan Ino. "Natsu tidur sejak tadi. Jangan teriak-teriak kalau tidak ingin anakmu bangun karena suaramu."

Anak?

Naruto masih tetap dalam posisinya di belakang Sakura dengan mulut sedikit terbuka. Otaknya mendadak blank. Sebenarnya ada apa ini?

"Ah, Na-chan tidur ya," Ino mencium kening Natsu yang kini ada dalam gendongannya lembut sebelum menatap Sakura lagi. "Maaf mengganggu waktu liburmu hari ini, forehead. Ayah dan ibu sedang reuni di luar kota sampai besok dan aku mendadak harus pergi ke kantor."

Sakura mengedikkan bahunya sekilas sambil menyeringai jahil. "Tidak masalah. Tapi kautahu jasa menjemput Na-chan di tempat penitipan tidak gratis, kan?"

Ino mencibir kesal lalu tertawa. "Aku membawakan kue untukmu. Sana ambil di dapur." Mata aquamarine nya menangkap sosok yang masih terdiam di ambang pintu, ia baru sadar sahabatnya itu ternyata tidak datang sendirian. Bola matanya seketika membulat sempurna. "Loh, Naruto ya!?" serunya kaget.

"Nah, Ino, ini teman lama yang kubilang tadi di telepon." Sakura menarik Naruto maju ke sebelahnya. "Naruto, kuharap kau tidak lupa pada Ino."

"Wah! Apa kabar?" pekik Ino girang lalu memeluk Naruto singkat dengan sebelah tangannya yang tidak menggendong Natsu. "Kemana saja kau? Kenapa tidak ada kabar? Sekarang…"

Naruto tidak mendengar kalimat Ino setelahnya. Satu-satunya yang menjadi fokusnya sekarang adalah Sakura yang berdiri di sebelahnya. Perempuan itu menutupi mulutnya dengan sebelah tangan sambil menahan tawa.

Apa ia baru saja dikerjai oleh Sakura sepanjang hari ini?

Natsu mendadak terbangun dan menangis, kaget mendengar suara Ino.

"Ah, maafkan Mama, Natsu sayang." Ino menepuk-nepuk punggung Natsu agar tenang sebelum beralih ke Naruto lagi. "Nah, kalian berdua masuklah ke dalam. Aku harus menaruh Natsu di kamarnya dulu. Anggap saja rumah sendiri. Tunggu ya." ia meraih tas bayi yang diserahkan Naruto lalu bergegas masuk ke dalam.

Sakura mendahului Naruto menuju ruang tamu Ino. Setelah menaruh tasnya di atas sofa, Sakura hampir melenggang pergi ke dapur sebelum langkahnya terhenti karena lengannya ditahan oleh Naruto.

"Bisa jelaskan padaku sekarang?" desak Naruto. "Kenapa kau berbohong padaku?"

"Tidak menyangka aku pintar berakting ya?" Sakura mengedipkan sebelah matanya ke arah Naruto sambil tersenyum jahil. Diturunkannya tangan lelaki itu dari lengannya. "Kurasa ini kebohongan pertamaku yang berhasil padamu. Nah, anggap saja ini sambutan selamat datang dariku, Naruto." Ia menepuk pipi Naruto sekilas sebelum berlalu pergi.

Naruto mendengus. Sial. Perempuan itu benar-benar sukses mengerjainya.

Merasa ditinggal sendirian akhirnya Naruto memutuskan untuk berkeliling di dalam ruangan itu. Ruangan yang tidak terlalu besar. Dua sofa panjang berwarna cokelat kayu diletakkan berhadapan tepat di tengah ruangan dengan meja kaca di antaranya. Tak jauh dari situ, ada perapian dengan satu foto Ino dan keluarganya berukuran cukup besar di atasnya. Pada dinding sekitarnya, masih banyak pigura foto lain dengan berbagai macam ukuran dan bentuk.

Satu pigura foto berukuran agak besar dari yang lain tiba-tiba menarik perhatian Naruto. Di dalam foto itu, Ino tampak tersenyum lebar dalam balutan gaun pengantin dan buket bunga di tangannya. Di sebelahnya, seorang laki-laki dengan rambut hitam yang diikat ke atas dan tersenyum kecil memeluk pinggang Ino. Ini foto pernikahan Ino?

"Shikamaru sedang keluar kota untuk beberapa hari. Karena itu aku membawa Natsu kesini." Suara Ino membuat Naruto membalikkan badannya. Ino menaruh nampan berisi tiga cangkir teh di atas meja lalu duduk di sofa.

Ah, Naruto ingat Ino memang punya kekasih bernama Shikamaru sejak kuliah. Jadi mereka akhirnya menikah sekarang?

"Sakura membohongiku," cerita Naruto sambil mendengus lalu duduk di hadapan Ino. "Kami bertemu di taman. Lalu ia bilang harus menjemput anak laki-laki di hoikuen. Katanya Natsu adalah anaknya."

Ino tergelak sambil menggelengkan kepalanya. Tidak menyangka sahabatnya itu bisa mengerjai Naruto sampai segitunya.

Naruto merengut lalu mulai menyesap tehnya. Kenapa Sakura belum juga kembali? Sesekali matanya melirik ke arah pintu lalu menatap Ino. Begitu terus selama beberapa kali sampai akhirnya Ino sadar bahwa Naruto tengah menyimpan pertanyaan untuknya.

"Sakura sedang menerima telepon di dapur," jelas Ino. "kalau itu yang ingin kau tahu"

Naruto meletakkan cangkirnya lalu berdeham. Tebakan Ino tepat sasaran. "Sebenarnya, aku ingin tahu tentang Sakura," jeda sejenak, "apakah ia dan Sasuke benar—"

"Kalau soal itu aku tidak bisa menjelaskannya," sela Ino cepat sebelum Naruto menyelesaikan pertanyaannya. Lalu bibirnya tersenyum lebih lebar. "Tapi aku bisa memberitahumu satu rahasia kecil." Ia mengedipkan sebelah matanya.

Naruto mengangkat kedua alisnya.

"Setelah berpisah dengan Sasuke, Sakura tidak pernah berkencan dengan laki-laki lain. Sampai saat ini. Ia selalu bilang ingin fokus untuk mencapai impiannya menjadi dokter." Ino lalu terkikik kecil. "Meski aku tahu bahwa alasan sebenarnya adalah ia menunggu seseorang untuk kembali."

Naruto hanya mengerjapkan matanya bingung saat Ino mengerling padanya dengan tersenyum penuh arti. Maksudnya?

Senyum Ino perlahan memudar. "Kau tidak mengerti?" Ino sontak menepuk jidatnya sambil tertawa saat Naruto menggeleng dengan polosnya. "Payah. Kau dan Sakura ternyata sama saja!"

"Apanya yang sama?" tanya Sakura saat memasuki ruang tamu dengan kotak kue di tangannya. Ia duduk di sebelah Naruto dan menatap Ino yang masih tertawa. "Kalian membicarakanku ya?"

Naruto menggelengkan kepalanya cepat sambil tertawa nyengir.

.

.

.

"Kita tidak salah alamat kan?" tanya Naruto saat mobilnya melewati gerbang apartemen dan memasuki area parkir di bawah gedung. Setelah dari tempat Ino, Sakura hanya menunjukkan jalan menuju apartemennya tanpa mengucapkan alamat. Lelaki itu cukup kaget saat Sakura ternyata membawanya ke apartemen tempat tinggalnya dulu.

"Kau pindah ke apartemen lamaku?" tanya Naruto saat mereka memasuki lift.

"Yap, di kamar apartemen Ino dulu lebih tepatnya," koreksi Sakura ringan sambil memencet tombol angka lift. "Setelah orangtuaku pindah, aku mencari apartemen untuk tinggal tiga tahun yang lalu, Ino menawariku untuk memakai kamar apartemennya karena kebetulan ia akan menikah lalu pindah menempati rumah barunya."

Ting.

Sakura berjalan mendahului Naruto saat pintu lift terbuka. Naruto mengekor di belakangnya sambil mengedarkan pandangannya. Meski dulu kamarnya ada di lantai 20, namun setiap lantai memiliki tampilan lorong yang hampir sama. Yang membedakannya hanyalah tata letak dan jenis tanaman hias di setiap lantai. Sedikit banyak hal ini membuatnya bernostalgia.

Naruto memutuskan untuk pindah dari rumah kakeknya ke apartemen ini setelah kematian Jiraiya delapan tahun silam. Lagipula apartemen ini dekat dengan kampusnya dulu. Meski tidak lagi bertetangga, ia dan Sakura tetap menjadi dekat karena perempuan itu juga masuk ke universitas yang sama dengannya meski berbeda jurusan.

"Silahkan masuk," Sakura membuka pintunya lalu melangkah masuk diikuti Naruto. Perempuan itu langsung menuju ruang tengahnya yang terlihat berantakan dengan tumpukan kamus kedokteran dan serakan kertas dimana-mana. "Maaf kalo agak berantakan." Katanya sambil tertawa nyengir.

"Sibuk sekali ya?" Naruto terkekeh lalu membantu Sakura merapikan beberapa dokumennya yang tersebar tak karuan sampai ke lantai.

"Begitulah. Rasanya seperti rumahku pindah ke rumah sakit," Sakura tertawa hambar sambil menata bukunya ke dalam rak. Tak lama kemudian ia tersenyum lega saat mejanya sudah bersih seperti sedia kala. "Untung saja aku diberi jatah libur hari ini dan besok. Jadi bisa santai." Kedua tangannya terangkat, meregangkan ototnya.

Naruto tertawa renyah lalu menghempaskan tubuhnya di sofa. "Kalau kau segitu capeknya, kenapa tidak duduk saja disini dan bersantai denganku?" Tangannya menepuk sofa di sebelahnya.

Sakura menepuk tangannya. "Ide bagus. Tadi Ino membawakanku kue. Akan kuambilkan minuman juga." Katanya sambil berjalan menuju dapur. Ia membuka kulkasnya dan seketika mengerang. Sial, ia lupa kalau belum belanja. Kulkasnya nyaris kosong. Namun untungnya ada sebotol chardonnay yang belum dibuka. Setelah mengeluarkan botolnya dari kulkas, Sakura celingukan lagi.

"Tunggu, dimana aku menyimpan gelasnya ya?" gumam Sakura pada dirinya sendiri. Ia membuka-buka lemari dapurnya, dan menemukan beberapa gelas tinggi di bagian lemari atas. "Sial, kenapa ada di atas." Erangnya.

Sakura mencoba meraihnya dengan berjinjit. Namun meski sudah berjinjit sampai menggunakan ujung jari kakinya, ia masih belum berhasil meraih gelas itu. Ia mendecak kesal lalu mencoba melompat-lompat kecil. Saat itulah sebuah tangan meraih dua gelas di atas dengan mudah dan menurunkannya.

Sakura menoleh kaget saat Naruto telah berdiri sangat dekat di sampingnya.

"Kenapa tidak minta tolong aku saja sih, Saku—" saat Naruto menunduk, hidungnya dengan hidung Sakura nyaris bersentuhan. Ia tidak sadar kalau posisi mereka ternyata sedekat ini.

Selama beberapa detik keduanya saling berpandangan sebelum menjauhkan diri dan mengalihkan wajah masing-masing yang memerah dengan canggung.

"Umm, t-terima kasih." Sakura meraih gelas dari tangan Naruto lalu berjalan ujung konter dapur untuk membuka botol chardonnay dan menuangnya ke dalam gelas.

Diam-diam Sakura mencuri pandang ke arah Naruto yang kini duduk di bar sarapan sambil membuka kotak kue. Lima tahun tidak bertemu dengannya membawa banyak perubahan pada laki-laki itu. Potongan rambut pirangnya kini lebih cepak. Tubuhnya lebih tinggi dan lebih atletis dari terakhir yang ia ingat.

…tunggu sebentar, barusan dia memikirkan apa?

Sakura bisa merasakan pipinya memanas lagi. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu menepuk pipinya sendiri. Ada apa dengannya?

"Cantiknya."

"Eh?" Sakura menoleh kaget.

Ternyata Naruto sudah tidak lagi duduk di bar sarapan. Kali ini lelaki itu telah keluar ke berandanya sambil bersandar di pagar pembatas. Naruto menundukkan kepalanya, menikmati pemandangan kota di bawah sana. Kamar ini terletak di lantai 24, Konoha terlihat cantik dari atas sini apalagi di malam hari begini dengan gemerlap lampunya.

Diam-diam Sakura mendesah lega. Mengabaikan rasa kecewa dan debaran jantungnya yang masih tidak karuan, ia membawa dua gelas berisi white wine itu di masing-masing tangannya. Diserahkannya satu gelas ke arah Naruto lalu keduanya bersulang sebelum meminumnya.

"Kukira barusan kau memujiku," Sakura menyandarkan punggungnya di pagar sambil menoleh ke arah Naruto.

"Yang mana?"

"Saat kau bilang cantik."

Naruto hanya tertawa pelan sambil menggoyangkan gelasnya. "Aku sering bilang begitu tapi kau tidak pernah percaya."

Sakura tersenyum kecut dan menyesap minumannya lagi. Naruto selalu menggodanya sejak dulu. Lelaki itu sempat punya predikat playboy semasa sekolah, meski hal itu terhenti saat mereka kuliah karena Naruto tiba-tiba berhenti mengencani perempuan lain dan bertahan dengan kesendiriannya. Tapi tetap saja, segala bentuk pujian ataupun ajakan kencan yang dilemparkan Naruto padanya selalu dianggapnya sebagai candaan semata.

Hening sesaat.

"Kau akan menjelaskan kenapa kau berbohong padaku sepanjang hari ini?" suara Naruto tiba-tiba memecah keheningan mereka.

Kali ini Sakura tertawa tanpa suarasebelum menoleh ke arah Naruto. "Sudah kubilang, anggap saja itu sambutan selamat datang setelah kau menghilang lima tahun tanpa kabar." Sahutnya ringan. "lagipula aku tidak bohong sepenuhnya. Natsu memang mirip ayahnya, Shikamaru."

"…"

Cairan di gelas Sakura berputar saat Sakura menggoyangkan gelasnya. Matanya menerawang jauh menatap cairan berwarna kuning bening itu. "Bagaimana denganmu? Kenapa kau melakukan itu?" bisiknya pelan namun cukup jelas untuk didengar oleh Naruto. Ia yakin Naruto tahu maksudnya.

Naruto menghembuskan napasnya panjang. "Aku punya alasan."

Kali ini Sakura memutar tubuhnya ke arah Naruto. "Alasan?" ia tertawa setengah mendengus. "Sekarang berikan alasan yang cukup logis untuk menjelaskan kenapa kau tiba-tiba pergi bahkan tanpa mengucapkan selamat tinggal padaku?"

Naruto terdiam.

Sakura menggelengkan kepalanya heran. "Kau bahkan tidak bisa dihubungi sama sekali. Apa maumu?" desisnya.

"Kau tidak mengerti…"

"Kalau begitu buat aku mengerti!"

Kali ini Naruto tersentak mendengar nada Sakura yang tiba-tiba meninggi. Wajah Sakura sedikit memerah, entah efek anggur yang diminumnya atau emosi yang dikeluarkannya.

Sakura mendesah kesal.

Jeda lagi sesaat sebelum akhirnya Naruto membuka mulutnya lagi. "Kenapa kau putus dengan Sasuke?"

Sakura mengernyit heran."Apa hubungannya denganmu?"

"Setelah aku tahu alasannya, baru kuceritakan alasan kepergianku."

"…"

"Jadi?"

"Selingkuh," jawab Sakura akhirnya sambil mengalihkan pandangannya. "Aku melihat Sasuke selingkuh dengan perempuan lain seminggu sebelum pesta pertunangan berlangsung."

Tanpa disadari atau tidak Sakura menggenggam kaki gelasnya lebih erat saat memori itu berkelebat di otaknya lagi. Hari itu seharusnya ia bertemu dengan Sasuke untuk membicarakan pesta pertunangan mereka. Namun saat ia datang ke kantornya tanpa pemberitahuan dan masuk ke ruangan Sasuke, dengan amat jelas terlihat lelaki itu tengah mencium seorang perempuan di pangkuannya yang Sakura kenali sebagai sekretaris pribadi Sasuke. Tanpa mendengar alasan apapun lagi dari laki-laki itu, ia melempar cincin pemberian Sasuke dan berlari pulang.

Setelah kejadian itu tidak ada apapun lagi di antara mereka. Yang membuat Sakura lebih sakit hati lagi adalah Sasuke hanya mengiriminya pesan meminta maaf tanpa ada pembicaraan lebih lanjut. Hal itu cukup menjadi tanda bagi Sakura bahwa Sasuke tidak pernah berencana serius dengannya.

"Kau bisa memecahkan gelasnya." Naruto meraih gelas di tangan Sakura lalu menaruh gelas mereka di atas meja kecil di sudut beranda.

"Sudah kan?" Sakura melipat kedua tangannya di depan dada dengan mata memicing ke arah Naruto yang berjalan ke arahnya lagi. "Aku selesai dengan ceritaku. Bagaimana denganmu?"

Naruto menggigit bibir bawahnya, mendadak gugup. "Aku menerima beasiswa untuk melanjutkan studiku." Matanya menghindari tatapan menyelidik Sakura. Ia menyandarkan tubuhnya ke pagar pembatas di sebelah Sakura lalu memandang jauh ke arah kota.

"Hanya itu?" tanya Sakura saat Naruto tidak lagi melanjutkan kata-katanya. "Kau bisa memberitahuku kalau hanya pergi untuk itu."

"Aku… lupa." Jawab Naruto pelan.

Sakura mulai tidak sabar. Ditariknya lengan Naruto, membuat laki-laki itu menghadap ke arahnya. "Ada alasan lain, kan?" tanya Sakura tajam. "Jawab aku."

Naruto masih tidak mau menatap Sakura, membuat perempuan itu menghela napas panjang frustasi.

Ada apa dengan Naruto yang mendadak banyak diam? Seingatnya Naruto tidak pernah sependiam ini. Setiap masalah selalu mereka bicarakan baik-baik tanpa ada yang ditutupi. Kenapa ia merasa Naruto seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya?

Setelah terdiam untuk berpikir sejenak, akhirnya ia bertanya dengan suara yang lebih lembut, "Naruto, apa kau pergi karena pertunanganku dengan Sasuke?"

Sakura bisa merasakan tubuh Naruto yang mendadak menegang karena pertanyaannya. Lelaki itu langsung menarik lengan dari genggamannya lalu berjalan menjauh.

"Aku benar?" tanya Sakura memastikan.

Naruto tidak bisa melihat raut wajah Sakura karena posisinya yang memunggungi perempuan itu. Namun dari nada suaranya, Naruto tahu suara Sakura sedikit bergetar.

"Kenapa kau berpikir itu alasanku meninggalkan Konoha?" tanya Naruto tanpa menoleh.

"Karena tidak ada alasan lain yang mampu membuatmu meninggalkan kota ini selain untuk melanjutkan studimu seperti yang kau bilang tadi." Naruto mendengar langkah kaki Sakura yang perlahan mendekat. "Jawab aku, Naruto."

Naruto memejamkan matanya lalu mengambil napas dalam-dalam. Ia berbisik pelan, "Kalau kubilang, memang itu alasannya. Apa yang akan kau lakukan?" Saat ia membalikkan badannya, jaraknya dengan Sakura hanya satu langkah.

Sempat menunduk, Sakura lalu mendongak dan menatap Naruto lurus-lurus. "Kau tidak suka aku akan bertunangan dengan Sasuke?" bisiknya pelan. "Kenapa?"

Naruto tersenyum getir. "Haruskah kujawab?"

Sakura tercekat. Raut wajah Naruto tidak sehangat tadi. Tidak ada senyum konyolnya lagi. Semua terlihat jelas dari sorot matanya. Sorot mata itu tampak… terluka.

"Naruto…" Sakura mengangkat tangannya menyentuh pipi Naruto namun lelaki itu menghindarinya dengan mundur selangkah dan melangkah ke pagar pembatas balkon lagi.

"Maaf." Naruto mencengkram pagar dengan kepala tertunduk. "Lupakan saja, Sakura, aku hanya—"

"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" sela Sakura.

"Apa?" ia menoleh pelan.

"Perasaan itu… kenapa kau tidak mengatakannya?"

Naruto mendesah sambil mengedarkan pandangannya. "Saat kau hanya menganggapku sebagai sahabat? Mana mungkin kukatakan padamu."

Kali ini Sakura tertegun. "Sahabat? Sekarang siapa yang lebih dulu menganggapku hanya sebagai adik-kecil-manja-dan-galak?"

Naruto menoleh cepat. "Apa?"

Sakura mendesah kesal. "Aku mendengarmu, kautahu? Saat kau membicarakanku dengan anak lain di kelasmu."

Naruto memutar kembali memorinya. Matanya seketika membulat sempurna. Astaga, apakah itu sebabnya Sakura bersikap aneh saat bertemu dengannya?

Ia melirik Sakura yang membalikkan badan dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya. Kepalanya menunduk. "Baka…" gumaman pelan itu terdengar jelas oleh Naruto.

Mata birunya menatap sosok punggung itu. Jadi, saat itu Sakura mendengar percakapannya dengan Kiba dan Kankurou tanpa sengaja dari luar kelas?

Naruto melepas jaketnya dan menyampirkannya di bahu Sakura. Sempat ragu, ia memberanikan diri menarik Sakura ke dalam pelukannya.

Sakura tak menolak saat Naruto memeluk pinggangnya dari belakang. Kepala pirang itu menunduk di bahu kanannya.

"Mungkinkah… selama ini kita hanya saling salah paham?" bisik Naruto pelan.

Sakura meneguk ludahnya dan sedikit mendongak sambil mengerjapkan matanya, menahan air mata yang siap jatuh. "Mungkin." Balasnya juga dengan suara pelan. "Kau menghilang selama lima tahun. Apa kau tidak tahu bahwa itu… menyakitiku?"

Naruto mengeratkan pelukannya saat mendengar suara Sakura yang pecah. Ia tahu perempuan itu barusan mengusap air matanya dengan cepat agar ia tidak mengetahuinya.

Kepergiannya selama lima tahun adalah untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari patah hati. Tanpa Naruto tahu bahwa ternyata semua tidak berjalan sesuai rencana. Ada pihak yang tersakiti atas kepergiannya secara tiba-tiba. Dan orang itu adalah orang yang tidak pernah ingin disakitinya sepanjang hidupnya.

Seandainya keputusan bodoh untuk pergi itu tidak diambilnya, pasti ia bisa berada di samping Sakura saat perempuan itu terpuruk karena kisah cintanya yang berakhir dengan tragis. Padahal, lelaki itu sudah berjanji pada orangtua Sakura agar ia bisa menjaga puteri mereka. Namun ternyata, ia sama saja dengan Sasuke yang justru berbalik menyakitinya.

"Maaf…" bisik Naruto dengan bibir yang menempel di pelipis Sakura. "Maafkan aku, Sakura-chan."

Sakura mencelos. Setitik air mata jatuh di pipinya. Panggilan itu… betapa ia merindukan Naruto memanggilnya dengan panggilan itu. Satu-satunya laki-laki yang ia perbolehkan memanggilnya dengan suffix '-chan' selain ayahnya.

Sakura melepas tangan Naruto dari pinggangnya lalu membalikkan badannya menghadap lelaki itu. Kedua tangannya terangkat mengelus pipi Naruto. Mata biru itu tampak berkaca-kaca menatapnya.

"Hei, sudahlah. Sepertinya kita sama-sama salah disini." Sakura menyandarkan kepalanya ke dada Naruto.

Naruto mengecup puncak kepala Sakura. "Aku memang bodoh ya?"

Sakura mendengus geli lalu mendongak menatap Naruto lagi. "Kita seperti ini lagi," ucapnya dengan suara serak. "Harusnya aku saja yang menangis, kenapa matamu juga berkaca-kaca?"

Naruto tergelak kecil sambil menyentuhkan dahi mereka. "Karena aku menyakitimu." Dikecupnya ujung hidung Sakura sekilas. "Sayangnya kali ini tidak ada acara kembang api untuk melarikan diri dari masalah ya, Sakura-chan?"

Sakura tertawa, mengingat kejadian ia menangisi Gaara saat SMA dulu. "Kisah cintaku selalu berakhir menyedihkan. Kau pasti bosan mendengar akhir kisahku yang selalu sama."

Naruto mengeratkan pelukannya di pinggang Sakura, menarik perempuan itu lebih dekat ke arahnya. "Kurasa kau hanya belum menemukan orang yang tepat saja, Sakura-chan."

Sakura perlahan tersenyum. Tangannya berangsur memeluk leher Naruto. "Oh ya? Menurutmu siapa yang tepat untukku?"

Naruto menyeringai lalu berbisik pelan di telinga Sakura, "Oh, sepertinya aku tahu seseorang." Bibirnya lalu mengecup kelopak mata Sakura yang tertutup.

"Apa aku mengenalnya?" Sakura semakin tersenyum lebar saat bibir Naruto menelusuri tulang hidung dan pipinya.

"Uh-hum."

"Dia menyimpan perasaannya padaku selama bertahun-tahun?" kelopak matanya sedikit terbuka. Satu tangan Naruto kini berada di belakang kepalanya. Mata biru itu menatap lembut ke arahnya.

"Hampir." Bisiknya lagi.

Sakura mendekatkan bibirnya ke bibir Naruto dan berbisik sangat pelan.

"Apakah itu… kau?"

Satu jawaban tanpa kata diberikan Naruto untuk Sakura.

Dengan ciuman lembut di bibirnya.

.

.

.

Epilog

"Aku terlihat genduttt!"

Suara Sakura menggema di ruangan itu. Membuat Ino yang baru meminum teh kalengnya hampir menyemburkan minuman itu dari mulutnya.

Sakura berbalik dan menatap Ino dengan mata berkaca-kaca. "Ino-chan, bagaimana ini? Lenganku terlihat besaaar."

Ino mendesah kesal lalu menaruh kaleng tehnya di atas meja dengan keras. "Aku kan sudah bilang, jangan banyak ngemil sampai hari ini tiba!" omelnya sambil berjalan ke arah Sakura yang masih betah mematut diri di depan kaca besar di ruangan itu.

"Mau bagaimana lagi, aku kan stress!" kilah Sakura saat Ino memutar-mutar tubuhnya untuk melihat keseluruhan dress yang dipakainya. Dress yang dipakainya kali ini tidak memiliki bahan untuk menutupi lengannya alias strapless. Ia selalu memilih baju atau dress yang bukan tanpa lengan. Hal itu karena ia merasa tidak percaya diri karena lengannya mudah terlihat besar saat ia ngemil terlalu banyak.

Tapi dress ini dipilih oleh Naruto. Sakura tidak mau menolaknya.

"Kau tidak terlihat gendut, forehead, percayalah." Sakura menghembuskan napasnya keras tanda pasrah, membuat Ino hanya tersenyum lalu menariknya ke dalam pelukan erat. "Kau hanya gugup, oke? Tenangkan dirimu."

Usapan tangan Ino di punggungnya perlahan membuat Sakura rileks. Sakura membalas pelukan Ino lalu mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya panjang.

Saat dirasanya Sakura sudah lebih tenang, Ino melepas pelukannya lalu menangkup pipi putih perempuan yang menjadi sahabatnya selama bertahun-tahun itu. Bibirnya tersenyum lebar. "Berusahalah."

Sakura tersenyum pasti lalu mengangguk. "Thanks."

"Ino, sudah saatnya." Suara Shikamaru di ambang pintu membuat kedua perempuan itu seketika menoleh. "Berjuanglah, Sakura." ucap Shikamaru dengan tersenyum tipis. "Ia sudah menunggumu disana."

.

.

.

"Gugup?"

Naruto tersenyum nyengir. Bohong kalau ia bilang tidak gugup. Sejak bangun pagi tadi rasanya keringat dingin terus menetes dari pelipisnya. Tuhan, bantulah aku agar tidak membuat kesalahan bodoh hari ini!

Saat suara musik mulai terdengar dan semua tamu berdiri, Naruto seketika menoleh ke arah pintu. Dan saat itu juga rasanya napasnya terhenti begitu saja.

Di ujung pintu sana, sesosok perempuan dengan dress putih yang dipilihnya tengah berjalan pelan dengan ayahnya yang mengamit lengannya. Ia tidak bisa melihat jelas wajahnya karena ditutupi oleh tudung putihnya, namun ia tahu perempuan itu sama gugupnya dengannya. Setiap langkahnya diiringi taburan bunga yang dilemparkan dua keponakan kecilnya, Konohamaru dan Moegi, di belakangnya.

Sampai akhirnya sosok perempuan itu berdiri di dekatnya. Ayah perempuan itu, Kizashi Haruno, mengecup kening anak perempuannya sekilas sebelum menyerahkan tangan anaknya itu ke arah Naruto. Bibirnya tersenyum penuh kepercayaan agar Naruto mampu menggantikan posisinya untuk menjaga puteri kesayangannya itu. Dengan sigap Naruto mengangguk dan meraih tangan yang dibalut sarung tangan putih panjang itu.

Setelah Kizashi akhirnya duduk di sebelah isterinya yang telah menangis sejak tadi, keduanya lalu menatap pendeta yang mulai membuka kitabnya.

Naruto menarik tangan Sakura dan bergeser sedikit untuk berbisik, "Gugup, Sakura-chan?"

Meski tertutup oleh tudung pernikahannya, dengan jarak sedekat ini Naruto bisa melihat Sakura yang terlihat sangat cantik dengan make up yang simple namun elegan. Rambutnya yang sebahu digelung dengan hiasan bunga mawar putih di beberapa sisi.

Sakura menggeleng untuk menjawab pertanyaan Naruto. Bibirnya yang dipoles oleh lipstik merah itu tersenyum lebar sebelum berbisik balik ke arahnya sambil menggenggam tangan Naruto lebih erat sedetik.

"Jangan pernah melarikan diri dariku lagi, Naruto."

.

.

.

-END-


Terima kasih untuk yang sudah review di chapter lalu: HyperBlack Hole, Naruto-No-Ecchi, Rizuka Rei, Rye Matsumoto, miiko mimi, rohimbae88, yassir2374, anto borok SNi, indohackz, mikaze9930, asuna, Guest(s), Eleora Ns, Reina Murayama, Pixie YANK Velvet-neechan, kiutemy
fannyc, Blossom-Hime, rayhandi, aqnaalmahfud03

YUHUUU~ seperti yang kujanjikan di chapter lalu, chapter ini dipublish pas di hari jadi aku(?) haha~ XDD alhamdulillah masih bisa mengulang tahun lagi, semoga bisa tambah dewasa dan lebih baik lagi dari sebelumnya aamiin o:)

Semoga tetap suka dengan chapter terakhir ini ya~ berjuang habis-habisan dah buat selesaiin chapter satu ini hahaha. Karena sepertinya setelah ini bakal hiatus karena tugas kuliah uda mulai bejibun aja *pundung*

Oh ya, selamat Hari Raya Idul Adha bagi yang merayakan ya ^^)/

Terima kasih banyak atas semua review, alert, dan favorite nya! Jangan lupa tinggalkan juga jejakmu di kolom review untuk chapter terakhir ini :D Sampai jumpa di fic berikutnya~!

Much love,

Aika