Hahaha... ternyata cerita ini berlanjut di luar ekspektasi. Untuk saat ini sepertinya fanfic ini bukan ber-genre Romance tapi masih ke Friendship. Belum ada adegan-adegan romance-romance kayaknya. Hahaha!
.
.
.
Main Cast: Hong Jisoo aka Joshua
Sinopsis: Hong Joshua, si anak Tuhan, yang tengah menikmati menjadi backpacker sejati, harus ketiban sial berkali-kali. Dia dirampok; uang, kamera dan ponselnya raib. Dia berdoa kepada Tuhan agar bisa pulang dengan selamat dan akhirnya doanya terjawab dengan cara yang begitu ... fantastis
.
.
.
Sudah jatuh, tertimpa tangga, tercebur ke dalam got pula; mungkin perasaan ini yang sekarang sedang dialami oleh Joshua Hong atau Hong Jisoo atau siapalah itu—dia sendiri bingung, siapakah nama aslinya, yang jelas dia lebih suka dipanggil si anak Tuhan.
Hari ini adalah hari kedua dia melancong di negeri orang. Pada awalnya ia berangkat pagi-pagi buta dari rumah pamannya untuk berkeliling Seoul dengan membawa sebuah tas ransel yang penuh terisi dengan kebutuhan hidup selama tiga hari.
Joshua yakin sekali kalau dirinya sudah mirip dengan para backpacker kelas dunia, atau mungkin seorang petualang seperti Steve Irwin dengan celana pendek warna khaki yang dikenakannya.
Berbekal dengan aplikasi ponsel, Joshua memantapkan hati untuk pergi. Dia bahkan menandai wilayah mana saja yang ingin ia singgahi; mulai dari wilayah ramai sampai tempat tersepi—seperti kuburan misalnya.
Destinasi pertamanya adalah pusat perbelanjaan yang tersohor di seantero Korea. Joshua dengan semangat membara memotret tiap sudut tempat itu. Dia jadi merasa norak sendiri saat sejauh mata memandang, yang terlihat olehnya selalu manusia dengan mata segaris dan kulit seputih susu—ya meskipun ada juga satu atau dua turis yang berlalu-lalang di sana.
Dia kira perjalanan kali ini akan berjalan mulus-mulus saja. Namun sayang, itu hanyalah sebuah harapan belaka.
Ketika ia tengah sibuk memotret tiap klinik bedah plastik yang ia jumpai, Joshua tidak sadar kalau dia sedari tadi dikuntit oleh seseorang tidak dikenal. Kemudian orang itu mendorong Joshua ke sebuah gang yang sepi lalu merampas semua benda berharga yang dimilikinya.
Setelah mendapatkan yang ia inginkan, orang itu lantas kabur meninggalkan Joshua yang terbengong-bengong. Saking cepatnya kejadian itu terjadi, Joshua sampai bingung sendiri apa yang telah terjadi padanya. Semenit kemudian barulah ia sadar kalau dia telah dirampok orang!
Satu ponsel pintar, dompet, serta kamera mahalnya raib sudah dan hanya menyisakan sebuah headset saja.
Karena panik, Joshua segera berlari mengejar. Namun sial, jalanan yang sangat padat membuatnya kesulitan. Apalagi dia agak-agak lupa si perampok memakai pakaian warna apa.
Joshua yang bingung akhirnya bertanya kepada seorang gadis remaja. "Excuse me, can you tell me where the police station is?"
Gadis itu diam sambil memandang wajah Joshua dengan serius. Sedetik kemudian si gadis menoleh ke kiri dan ke kanan, seperti mencari sesuatu.
"Hello, can you?" tanya Joshua lagi.
Bukannya menjawab si gadis malah nyelonong pergi.
Satu kalimat yang tertangkap oleh telinga Joshua dari gadis itu, adalah: "Itu orang ngomong apa?"
"What's wrong?" gumam Joshua bingung. Ia kemudian melanjutkan langkahnya.
.
.
.
Akhirnya, setelah sekian lama ia bertanya kepada puluhan orang, Joshua baru sadar kalau dia sedang ada di Korea dan menurut penuturan sepupunya kalau orang-orang di sini jarang yang menguasai bahasa Inggris. Harapannya pupus sudah. Dia mengutuk dirinya sendiri karena malas belajar bahasa ibunya sendiri.
Joshua sebenarnya mengerti apa yang dikatakan orang-orang itu, namun sayang, dia belum lancar untuk berbicara.
Ah, dia jadi merasa seperti Kevin McCallister. Sayangnya ini bukan malam natal. Apa dia harus menunggu sebuah toko kerampokan dulu, lalu menangkap penjahatnya agar ia bisa pulang? Dia bahkan tidak hapal nomor serta alamat rumah pamannya. Selama ini dia hanya mengandalkan ponselnya untuk mencatat hal-hal penting itu.
Ketika matahari mulai kembali ke peraduan, Joshua yang pasrah akhirnya memilih untuk menunggu di sebuah halte bus. Beruntung dia tadi bertemu seorang anak SMP yang mengerti bahasa Inggris.
Setelah bicara panjang lebar, dengan baik hati anak itu menuliskan alamat yang dimaksud Joshua dengan huruf hangul. Anak itu berkata kalau supir bus jarang yang bisa berbahasa Inggris.
Oke, masalah tujuannya untuk kembali sudah terpecahkan. Namun yang masih membuat Joshua kepikiran saat ini adalah, bagaimana caranya ia pulang jika dia tidak punya uang?!
Joshua merogoh kantung celananya dan ia hanya menemukan seribu won.
Di tengah kebingungannya itu, Joshua menutup mata untuk berdoa. Dia yakin Tuhan selalu bersama anak-anaknya.
"Tuhan, kalau ini adalah hari terakhirku hidup. Maka biarkan aku bertemu dengan ibu dan ayahku sekali saja. Tapi jika kau mengizinkanku pulang, maka kirimkanlah diriku mukjizat. Apa saja caranya terserah. Yang penting aku bisa pulang tanpa kurang satu apapun. Amen."
Baru saja Joshua selesai berdoa, sebuah bus berwarna biru datang. Bersama dengan dua orang bapak-bapak ia akhirnya naik.
.
.
.
Karena kursi kosong yang tersisa cuma satu—itu juga terdapat di deretan paling belakang, akhirnya Joshua memilih tempat itu.
Joshua sedikit melirik pada anak laki-laki yang menduduki bangku sebelahnya. Sepertinya anak itu baru pulang sekolah, terlihat dari seragam dan juga tasnya—yang besarnya hampir sama dengan ransel yang dibawanya.
Tadinya Joshua ingin menyapa, namun dia teringat kalau tidak semua orang Korea bisa bahasa Inggris dan dari pada dia malu karena sok bicara dalam bahasa Korean tapi salah, akhirnya dia memilih diam.
Pada menit-menit pertama Joshua duduk dengan tenang—meski dalam hati dia terus berdoa kepada Tuhan semoga dia tidak salah turun. Tapi pada menit selanjutnya Joshua merasa kalau dia sedang diperhatikan anak di sebelahnya.
Awalnya Joshua ragu, haruskan ia menoleh atau tidak. Namun perasaan ganjil yang mendera hatinya tidak bisa terelakan sebab dia masih trauma dengan kejadian tadi siang. Dia tidak mau dirampok untuk ke dua kalinya.
Joshua akhirnya menoleh dan mendapati anak emo tengah menatapnya. Well, dia jadi teringat Gerrard Way—salah satu musisi emo-punk dari Amerika sana.
Tadinya ia ingin sedikit menyapa namun tiba-tiba saja anak itu malah menjatuhkan tasnya hingga menimpa kakinya sendiri.
Nyaris saja Joshua kelepasan terbahak-bahak. Untung saja ia membuang mukanya ke arah lain. Sambil berpura-pura mengenakan headset (yang faktanya tidak tersambung dengan gadget apapun), Joshua berusaha untuk menahan tawa.
.
.
.
Beberapa waktu berselang, speaker bus mengumumkan kalau sebentar lagi bus yang mereka tumpangi akan berhenti. Tadi Joshua sempat melihat sekilas kalau muka anak di sebelahnya berkerut serius macam orang sembelit. Dia menduga kalau anak itu akan turun namun terlalu gengsi untuk meminta izin lewat padanya.
Karena pada dasarnya Joshua adalah anak yang baik hati, ia akhirnya berinisiatif untuk berdiri hingga anak emo itu bisa lewat.
Tanpa ia duga, anak itu malah tersentak. "Terima kasih," kata anak itu sambil keluar dari kursinya.
"Sama-sama." Joshua kemudian tersenyum.
Sedetik setelah anak itu turun, Joshua tidak sengaja melihat benda tergeletak di dekat kakinya. Begitu memungut benda itu, matanya terbelalak. Itu sebuah dompet!
Joshua menduga kalau dompet itu milik anak emo tadi.
Secepat kilat ia memencet bel yang terdapat di langit-langit bus dan turun dari sana—meski ia sempat mendapatkan dampratan dari sang supir bus.
Begitu ia keluar dari bus, Joshua menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari sosok si anak emo dan sialnya, yang dicari ternyata sudah tidak ada.
Ketika ia ingin melangkah lagi, ia baru teringat kalau satu-satunya lembaran won yang tersisa miliknya sudah ia pakai. Sial. Dia lupa kalau dia juga sedang kesusahan.
Joshua mendesah. Sekarang bagaimana caranya ia kembali kalau begini?
Untuk sesaat Joshua mengalami perang batin. Ia butuh uang dan sekarang di tangannya ada dompet orang—yang lumayan tebal. Semoga saja isinya bukan kartu nama semua.
Buka. Tidak. Buka. Tidak. Buka. Tidak.
Setan di kiri, malaikat di kanan; Joshua kebingungan. Haruskah ia menuruti nasihat si setan untuk menggunakan uang dalam dompet itu atau mendengarkan petuah malaikat.
Masalahnya di sini adalah, jika dia mendengarkan si malaikat. Lalu bagaimana dengan caranya pulang? Jalan kaki? Dia saja tidak tahu daerah mana ini.
"Open it, Joshie and you can go back to your aunty's house!"
"No, Joshie. It's not yours."
Joshua menyerah. Akhirnya ia membuka dompet itu dan seketika dirinya merasa kalau di belakangnya sesosok iblis dengan dua tanduk merah tengah berpesta.
Ingatkan ia untuk langsung ke gereja jika ia berhasil pulang dengan selamat.
.
.
.
Joshua akhirnya menunggu di halte bus.
Dengan segala iman yang ia punya, Joshua sudah melihat isi dari dompet si anak emo. Terdapat sepuluh lembar uang seribu won dan juga foto-foto. Iseng, ia mengeluarkan sebuah potret dari dalam sana.
"Permisi,"
Joshua menoleh ketika seseorang anak laki-laki jangkung datang dan memintanya untuk memberikannya ruang untuk duduk. "Ya," katanya sambil bergeser.
"Wonwoo! Itu Wonwoo!"
"Eh?" tanya Joshua bingung. "A-ada apa?" tanyanya dengan terbata.
"Itu Wonwoo kan?" tunjuk si anak jangkung itu pada sebuah potret di tangannya.
"I don't know."
Dahi anak jangkung itu berkerut serius. Ia kemudian melihat dompet cokelat yang berada dalam genggaman Joshua lalu berteriak, "Itu juga dompetnya Wonwoo! Kamu copet ya?"
"I—what? No, it's not like that." Joshua gelagapan.
.
.
.
"Oh, jadi kamu menemukan dompet itu di bus?" anak jangkung itu mengangguk-angguk tanda mengerti. "Lalu sekarang bagaimana? Kamu mau pulang?"
Joshua menggeleng. Setelah menjelaskan panjang lebar tentang temuannya kepada anak laki-laki itu dia jadi haus. "Tidak tahu."
"Ah, begini saja. Sebenarnya aku ingin meminjamimu uang tapi aku tidak bawa uang lebih saat ini. Jadi, bagaimana kalau kamu menginap di rumahku untuk malam ini. Dan untuk dompet ini, aku bisa mengembalikannya pada Wonwoo. Dia itu temanku. Hatsyiu!" anak itu bersin keras sekali. Joshua bersyukur karena anak itu menutupinya dengan tangan.
Mendengar penuturan anak laki-laki itu wajah Joshua berubah cerah. "Benarkah?"
Anak laki-laki itu mengangguk. "Oh ya, kita belum berkenalan kan? Perkenalkan, namaku Kim Mingyu. Kalau kamu?"
"Joshua." Joshua mengernyit jijik sambil memandangi tangan kanan anak jangkung itu yang terulur.
Sedetik menunggu, anak jangkung itu menggoyang-goyangkan tangannya sebagai isyarat ia ingin sekali berjabat tangan.
Karena tidak tega, akhirnya Joshua menyerah. Ia pun membalas jabat tangannya. Setelah itu diam-diam ia mengelap tangan kanannya di atas celananya.
