Faktanya, Mingyu memang member yang sangat jorok. Tukang bersin dan sering meperin tangannya yang bekas nutupin bersin ke baju member lain. Hahaha …
.
.
.
Cast: Kim Mingyu
Sinopsis: Mingyu, enam belas tahun, dipastikan terkena trauma terhadap rok mini.
.
.
.
Mingyu menguap lebar di atas kursinya. Lima jam lebih melihat kawan-kawan berbatang, terkadang membuatnya bosan. Tugas yang diberikan guru ganas pun terabaikan.
Anak jangkung itu sengaja melemparkan pandangannya ke luar. Tampak sebuah pesawat yang bergerak menembus permukaan awan. Melihat itu dia jadi teringat Joshua—teman dadakan yang ia temui minggu lalu.
Wonwoo bilang Joshua itu seperti malaikat (karena kebaikan hatinya), tapi Mingyu malah melihatnya seperti anjing yang tersesat. Akibat itu mereka berdua sempat beradu argumen selama setengah jam dan diakhiri dengan adu gulat.
Ah, pasti Joshua sudah berada di Amerika sekarang. Mingyu jadi ingin tahu Amerika itu seperti apa. Pasti di sana banyak wanita seksi berambut pirang.
"Mingyu, mau ikut main?" tiba-tiba sebuah suara memanggil dari belakang.
Mingyu menoleh sambil mengupil. "Main apa?"
"Ikut aja. nanti pasti tahu," kata si anak berkacamata yang diikuti dengan anggukan temannya dengan style rambut belah tengah.
"Ya sudah." Mingyu angkat bahu. Akhirnya ia mengikuti ajakan dua temannya itu. Entah mau ke mana mereka, yang jelas dia sudah jenuh berlama-lama melihat makhluk berjenis kelamin sama dengan dirinya.
.
.
.
Setelah berjalan memutari gedung utama sekolah, dua teman Mingyu pun berhenti di sebuah kelas kosong yang sudah lama tidak terpakai.
"Jadi, kita mau ngapain di sini?" tanya Mingyu sambil mendudukan pantatnya di sebuah kursi putar.
Mereka tidak menjawab; salah satu dari mereka bahkan menutup pintu dengan pelan. Mingyu jadi agak-agak merinding setelah melihat muka mereka berdua berubah serius.
"O-oi, sebenernya kita mau main apa?"
Si belah tengah mengambil sebuah tas besar yang berada di pojok ruangan, sementara si kacamata lebih memilih untuk duduk dengan tenang di samping Mingyu.
Mingyu yang melihat itu pun mengerutkan dahi. "Itu apaan?" tanyanya bingung.
"Barang berharga," jawab si kacamata dengan muka serius. Sampai di sini Mingyu yakin kalau dua temannya ini sedang menyembunyikan sesuatu yang sifatnya sangat rahasia.
Si belah tengah lalu meletakkan tas itu ke tengah-tengah mereka bertiga. "Menurutmu, isi dari tas ini apaan, Mingyu?"
"Mana kutahu! Tadi saja aku tanya tidak dijawab!"
Si kacamata berdeham kecil untuk sekadar menghentikan perselisihan tidak penting itu. "Menurut kalian rok itu, bagaimana?"
"Eh?" Mingyu tahu-tahu duduk dengan tegak. "Bagaimana apanya?"
"Rok, yang sering dipakai anak perempuan," ujar si belah tengah. "Aku jadi penasaran."
"Masalahnya kita ini belajar di sekolah khusus laki-laki. Jadi, melihat rok perempuan adalah hal mustahil, kecuali rok guru wanita." Si kacamata menjelaskan dengan kalem tapi Mingyu malah mendadak tegang.
"Tunggu, tunggu, sebenernya kalian itu ngomongin apaan?"
Dua temannya menatap bersamaan. "Kita sedang membahas rok."
"Bukan itu masalahnya! Jadi, tujuan kita diam-diam ke mari cuma mau bahas rok? Rok gitu?! Percuma aja. Lebih baik ke kantin." Mingyu yang ingin pergi kemudian ditarik paksa sehingga ia duduk kembali.
"Tunggu sebentar. Salah satu temanku membawakan ini tadi pagi." Si belah tengah perlahan membuka ritsleting tasnya.
"Siapa?" Mingyu mendadak penasaran.
"Seseorang dengan inisial S."
Bibir kiri atas Mingyu berkedut jengkel.
"Ini dia yang bakal kita lakukan hari ini!" kata si kacamata sembari mengeluarkan benda-benda yang nyaris membuat dua bola mata Mingyu copot dari soket kepalanya.
"ITU APAAN?" Mingyu menunjuk horor tiga pasang seragam khusus perempuan.
"Tenang, masih ada yang lebih spesial." Si belah tengah juga ikut-ikutan mengeluarkan barang-barang yang nyaris membuat Mingyu pingsan di tempat.
"ITU APAAN LAGI?!"
"Stocking, celana dalam, dan bra."
"KALIAN SINTING!" Mingyu hendak meninggalkan ruangan itu, namun langkahnya terhenti tiba-tiba saat si kacamata mengajukan sebuah pertanyaan untuknya.
"Mingyu, apa kamu pernah lihat dalaman perempuan?"
Mingyu berbalik. Mukanya tampak serius memikirkan jawaban. "Secara teknis sih sudah. Punya ibu dan adikku."
"Kamu tidak penasaran, bagaimana rasanya perempuan pakai rok?"
"Itu cuma menutupi bagian pinggul aja kan?"
Mendengar dua hasutan setan itu, Mingyu tahu-tahu sudah duduk di tempatnya semula. "Penasaran sih, sebenarnya."
"Ketika anak perempuan pakai rok, mereka cuma memagari bagian pinggang sampai paha atas." Si belah tengah memasang muka layaknya profesor.
Mingyu makin tegang.
"Ya sudah kita pakai," si anak berkacamata melemparkan satu rok seragam pendek kepada si belah tengah.
"Jadi ini mau kita pakai?" Mingyu melotot horor.
"Karena kita adalah remaja dengan hormon yang tinggi, Mingyu."
"APA HUBUNGANNYA?" Mingyu merasa kepalanya mau pecah.
Si anak kacamata dan si belah tengah kemudian berdiri dari duduknya. Mereka berdua bahkan sudah bersiap dengan rok kotak-kotak hitam-merah di tangan masing-masing.
"Tu-tunggu sebentar. Kalian betulan mau pakai itu?"
Dua temannya mengangguk sementara Mingyu meratap. Kenapa dia bisa punya teman macam ini, Ya Tuhan!
.
.
.
Mingyu akhirnya melihat aksi kedua temannya ini dalam diam. Ia sedikit mengerutkan dahi ketika mereka mulai memasukkan rok dari atas kepala.
"Sebentar," si belah tengah berhenti.
"Kenapa?" tanya Mingyu bingung.
"Bukannya harus dipakai di bawah ya?" si kacamata menimpali.
Keduanya pun akhirnya melepas lagi rok itu dan langsung memosisikanya tepat di bawah kaki mereka.
"Mingyu, kamu juga harus pakai." Si kacamata memerintah saat salah satu kakinya berhasil masuk ke dalam lubang rok.
"Loh, kenapa?"
"Kamu juga penasaran kan?" si belah tengah menimpali sambil melemparkan rok yang tadi dipegangnya kepada Mingyu. Setelahnya, ia mengambil rok lain dari dalam tas.
Di satu sisi Mingyu penasaran. Dia jadi ingin tahu bagaimana perasaan anak perempuan saat memakai rok yang tingginya setengah dari paha mereka. Namun di sisi lain, dia takut kalau ada orang yang tiba-tiba masuk ke sini dan mendapati mereka tengah melakukan hal-hal melenceng seperti ini.
"Mingyu, ayo pakai!" seru si belah tengah tidak sabar.
Pakai? Tidak? Pakai? Tidak?
Mingyu dilanda perang batin dahsyat.
Sebenarnya dia bisa saja bertanya kepada adiknya, tapi dia segan. Bisa-bisa sudah dihajar duluan sebelum ia berhenti berucap.
"Mingyu," panggil si kacamata.
"Ya sudah aku pakai!"
Rasionalitas ternyata memang bisa dikalahkan dengan rasa penasaran. Salahkan saja gejolak masa remaja.
Mingyu akhirnya berdiri, menemani kedua temannya yang sudah pasang muka mesum.
"Oke kita pakai—" ucapan si kacamata tiba-tiba berhenti saat Mingyu menyelanya.
"Sebentar. Kalian bisa menghadap ke belakang? Aku malu kalau menurunkan celana di depan kalian," kata Mingyu sambil menurunkan ritsleting celana.
"Kamu kan laki-laki, masa malu sama kita?"
"Sudah, menghadap belakang saja sana!" tanpa sadar muka Mingyu memerah.
"Oke." Kedua temannya menyerah. Pada akhirnya mereka bertiga memilih tempat berjauhan sambil memunggungi satu sama lain.
.
.
.
Tidak membutuhkan waktu lama, Mingyu yang sudah memakai rok mini itu kemudian berbalik. "Aku sudah—"
Namun sesaat kemudian Mukanya medadak berubah garang.
"BRENGSEK! KENAPA KALIAN TIDAK PAKAI JUGA?!"
Sebuah kursi putar tiba-tiba melayang.
Dengan terengah-engah, Mingyu langsung jatuh terduduk. Tega sekali dua temannya itu. Mereka semua ternyata masih memakai celana, sedangkan dia sudah menanggalkan celana seragamnya dan digantikan dengan rok mini kotak-kotak hitam-merah.
Mau menangis tapi dia itu laki-laki. Namun masalahnya ini harga diri. Bisa-bisanya dia dengan mudah ditipu untuk memakai rok begini!
"Lumayan cocok kok, Mingyu."
"Cocok kepalamu!" Mingyu akhirnya berdiri. Ia dengan cepat menurunkan ritsleting rok yang dipakainya. Kedua temannya pun akhirnya ikut membantu karena mereka tidak tega.
Ketika ia ingin menurunkan rok itu, tiba-tiba pintu kelas terbuka dan menampakkan seorang guru wanita.
"Kalian … sedang apa?"
.
.
.
Mingyu, enam belas tahun, dipastikan terkena trauma terhadap rok mini.
.
.
.
Author note: Hahaha! Ini bikin apaan? Ide ini datang tiba-tiba sehabis nonton ulang anime Danshi Koukousei no Nichijou. Asli! Ancur banget itu anime. Saya nonton berulang-ulang tetep ngakak sampai terjengkang—literally. Maaf kalau chapter ini nggak lucu dan terkesan jayus. Bikinnya juga ngebut.
Hahaha Oh ya, ada yang penasaran di chapter depan siapakah member 17 yang bakal nongol?
P.S: Dua teman Mingyu di atas sengaja disamarkan, takut mereka terkenal dan akhirnya dikejar-kejar stalker (abaikan ini)
