Story By: Rue Arclight Sawatari
Disclaimer: Kazuki Takahash, Masahi Satou, & Masahiro Hikokubu.
Rate: K+
Genre: Drama, Romance.
Main Chara: Yuusei.
Warning: Gender Bender, typo, some mistakes EYD, AU, Fanon.
A/N: Hm ..., maaf lama. Tak ada signal.
xXx
Gaun Biru
xXx
.
.
.
xXx
Blue-Eyes Montain dan Mawar Merah
xXx
"Bunga tercantik untuk anak paling baik."
Gaun Mungil menelengkan kepalanya, ia menatap lekat setangkai bunga di tangan anak laki-laki yang lebih tua dua tahun darinya. Bunga tersebut berwarna putih polos, dengan tangkai berwarna hijau lembut. Nyaris terlihat seperti bunga rumput biasa.
"Ini bunga apa, Jack?" tanya Gaun Mungil, tangan kecilnya menunjuk ke arah bunga tersebut.
"Namanya Snowdrop. Bentuknya mungkin tidak bagus, tetapi memiliki arti 'Harapan'," jawab anak laki-laki bernama Jack itu.
Gaun Mungil menerima bunganya, senyuman cerah tersungging di wajahnya. "Terima kasih, Jack. Akan kujaga bunga ini baik-baik," tuturnya seraya menempelkan mahkota bunga tersebut pada pipi tembemnya.
Rona merah mulai muncul di wajah Jack, cepat-cepat ia membalas, "I ... itu hanya rumput yang kutemukan di dekat toko Nek Martha! Mau kau buang juga tak apa," kilah Jack sambil membuang muka, meski rona merah di wajahnya masih terlihat. Gaun Mungil tertawa geli melihatnya.
"Lalu? Jack tahu darimana arti bunga ini?" tanya Gaun Mungil, tanpa maksud menggoda Jack.
"Aa ..., Nek Martha yang memberitahunya, dia kebetulan lewat di saat aku mencabut bunga itu," jawab Jack agak tergagap, mungkin ia menjadi gugup karena melihat wajah manis Gaun Mungil.
"Oh~ pantas saja." Gaun Mungil mengangguk paham.
"Sudah! Aku pamit!" Seru Jack, anak laki-laki itu berlalu dari rumah kediaman Gaun Mungil. Gaun Mungil terkekeh geli melihatnya sambil melambaikan tangannya.
"Hati-hati di jalan, Jack. Terima kasih sudah mengantarku."
"... ack ..."
"..."
"... Jack ..."
"..."
"... Jack."
"..."
"Jack."
"..."
"Jack!"
"..."
"JACK! CEPAT BANGUN RAJA TIDUR!"
BRAK!
"Gah! Kiryuu!"
Jack mengaduh sakit saat wajahnya mencium lantai, ouch, sakit sekali. Sementara Kiryuu, justru menarik kursi yang diduduki Jack tadi. Tak ada rasa bersalah sedikitpun di wajah Kiryuu sehabis membangunkan dan menjatuhkan Jack, justru dengan santainya ia menduduki kursi tersebut.
"Cepat bangun, Pemalas. Hari sudah malam, sana tutup pintu garasi. Ingat, hari ini juga tugasmu membuatkan makan malam," perintah Kiryuu.
Kedutan besar muncul di kepala Jack, "Heh, enak sekali kau memerintahku," gerutu Jack kesal, pemuda berambut pirang itu bangun dari lantai.
"Oh, diamlah. Aku hanya bertindak mengingatkan jadwalmu, Pemalas. Semakin banyak kau menggerutu, semakin terlambat garasi ini dibuka. Kau tak mau mendapat omelan dari Barbara, 'kan?" tegur Kiryuu.
"Iya, iya ..." Jack menurut, pemuda itu berjalan menaiki tangga menuju dapur sambil mengacak-acak rambut pirang keemasannya.
Meski begitu, Jack masih saja sempat mengatai Kiryuu, "Dasar, mentang-mentang dia yang terpilih menjadi ketua, seenaknya saja. Kalau ada Yuusei, tentu aku tak perlu lagi mengerjakan tugas merepotkan in—" Langkah Jack terhenti, ia terdiam saat menyadari kalimat yang diucapkannya barusan.
"Yuusei ..." Air muka Jack berubah, kelopak matanya menutupi setengah kedua permata kembar indigo-nya. Bayang-bayang sosok gadis mungil yang memakai gaun berwarna biru langit terlintas pada ingatannya, terutama senyuman cerah gadis itu. Untuk sesaat, Jack termenung.
"Hoi! Jack! Kau tertidur lagi, ya?!"
Jack tersentak, bayangan gadis mungil itu hilang seketika. Buru-buru ia memasuki dapur sambil seraya menyahuti seruan Kiryuu. "Tidak! Bukan apa-apa!"
"Bagus sekali, Yuusei. Sekali lagi kau membuatku nyaris dikira gila oleh Kiryuu, mungkin seharusnya aku menerima tawaran Crow mengunjungi Domino City. Oh, desa Satellite maksudku ...," gumam Jack, tangan kirinya memijat keningnya dan mengambil wajan dengan tangan kanannya.
Hari sudah larut, meski masih terdengar suara riuh dari luar garasi, tanda aktivitas banyak orang masih berjalan. Pasti sumber suara itu berasal dari Lotten, mantan penguasa di kota ini, sebelum Jack dan yang lain datang menetap. Entah apalagi ulahnya kali ini. Selama hal itu tidak mengganggu, ketiga orang pemuda yang tinggal di garasi itu tak keberatan.
Suara gesekan dari alat masak dan gemerisik dari telur dan nasi yang digoreng bersamaan dalam minyak panas terdengar sangat jelas di telinga Jack, suara riuh di luar sama sekali tak mengganggu pendengarannya. Tetap fokus memasak.
Bukan makan malam yang mewah, hanya membuat nasi goreng dari nasi sisa tadi siang dengan telur. Salahkan kemampuan Jack dalam memasak, hanya itulah masakan yang dapat dimasak olehnya selain menggoreng telur. Karena itulah, biasanya Crow yang mendapat tugas memasak. Sayangnya Crow saat ini sedang pergi mengunjungi garasi lama mereka, jadilah dirinya dan Kiryuu bergantian memasak.
"Nasi goreng lagi, eh?"
Jack melirik ke arah kirinya, dilihatnya Kiryuu mengerutkan alisnya melihat isi wajan. Pasti Kiryuu akan mengeluh tentang masakannya—lagi.
"Diam. Yang menyuruhku memasak juga siapa?" cetus Jack kesal, lalu mematikan kompor. Kiryuu tak menjawab, pria itu justru berlalu kembali ke lantai bawah.
"Biar aku saja yang menutup garasi! Gantinya sediakan kopi!" Seru Kiryuu dari tangga. Jack hanya menghembuskan napas panjang, pasti Kiryuu akan bergadang lagi malam ini, makanya menyuruhnya menyediakan kopi. Entah apa yang akan dilakukannya, Jack tak mau tahu. Lebih baik tidur dalam selimut yang hangat dan ranjang yang empuk.
Setelah menghidangkan dua piring nasi goreng di meja, barulah Jack menyeduh kopi Blue-Eyes Montain favoritnya dan Kiryuu. Kopi yang mahal, memang, tetapi itulah yang selalu diminum oleh Jack dan Kiryuu. Crow? Oh, lupakan, Crow nyaris tak pernah meminumnya, ia lebih suka memakai sebagian uangnya untuk membelikan kudapan untuk anak-anak dibandingkan membeli biji kopi.
"Huft ..., tinggal menunggu Kiryuu," gumam Jack, semua hidangan sudah disiapkan. Tinggal menunggu Kiryuu kembali sehabis menutup pintu garasi. Sembari menunggu, Jack memejamkan matanya sambil duduk bersandar di kursi.
"Yuusei ..."
Nama itu kembali terucap. Jack ingat betul, gadis kecil yang sering bersama dengannya selain Crow dan Kiryuu. Sewaktu kecil, Jack seringkali menganggunya, meski tak separah Kiryuu yang sampai membuat gadis itu menangis. Crow sampai panik menenangkan Yuusei dan Jack membawa Kiryuu menjauh untuk sementara.
Kalau boleh jujur, di antara mereka, hanya Jack yang tingkat keakrabannya dengan Yuusei di bawah Crow dan Kiryuu. Crow yang pertama, setiap hari ada saja bahan pembicaraan yang mereka bicarakan bersama. Barulah Kiryuu menyusul, meski dalam hal berbeda. Keterbalikan dengan Crow, Kiryuu dan Yuusei selalu bertengkar, masing-masing keras kepala dan tak mau mengalah.
Jack tak tahu apa yang membuat mereka akrab selain dari pekerjaan mereka.
"Oi, makan dulu, baru tidur."
Jack tersentak, spontan ia membuka kedua matanya, dilihatnya Kiryuu menopang dagu sambil menatap lurus ke arahnya.
"Oh, kau sudah menutup pintu?"
Kiryuu mengangguk dan menjawabnya, "Sudah. Sejak lima menit yang lalu." Pemuda berambut perak itu meraih sendoknya, "Sebenarnya apa yang kau pikirkan daritadi?" tanya Kiryuu.
"Bukan masalah besar," jawab Jack singkat, ia mengambil sendok dan langsung melahap nasi goreng buatannya. Tak peduli pada Kiryuu yang mengangkat sebelah alisnya mendengar jawaban Jack.
Berhubung hari sudah larut, Kiryuu mengesampingkan masalah itu dan mulai menyusul Jack memakan nasi goreng bagiannya.
Tak ada yang saling berbicara, keduanya tetap diam menghabiskan makanan masing-masing. Tampaknya di antara mereka berdua tak ada yang saling berniat memulai obrolan ringan, atau memang tak ada topik yang menurut mereka menarik? Entahlah, Jack dan Kiryuu tak mempermasalahkan hal itu.
Selesai makan, Jack segera mencuci piring dan cangkir. Kiryuu sudah pergi entah ke mana, mungkin keluar garasi, atau duluan tidur di kamar. Jack tak peduli, cepat-cepat ia mengelap piring dan menyusunnya di atas lemari. Tak sabar rasanya merebahkan diri di ranjangnya yang empuk.
Tepat saat cangkir terakhir sudah kembali di tempatnya semula, Jack berlalu ke kamar. Sambil merenggangkan tubuhnya, pria jangkung itu mulai merasakan rasa kantuk menyerangnya.
"Hmp~ waktunya tidur ...," bisik Jack, nyaris tak terdengar. Ia meraih sebuah selimut, dengan cepat Jack merebahkan diri sambil menyelimuti dirinya.
"Jangan sampai nantinya kau memasuki mimpiku, Yuusei." Jack tersenyum tipis sebelum memejamkan matanya, bersiap memasuki alam mimpi.
"Selamat pagi, Kakek Tetsu," sapa Gaun Biru ramah, gadis itu menghampiri Tetsu yang sibuk menyusun beberapa buah papan kayu. Pria paruh baya yang bekerja sebagai tukang kayu itu masih saja bekerja dengan semangat.
Tetsu menoleh, beliau ikut tersenyum dan membalas sapaan Gaun Biru, "Selamat pagi juga, Gaun Biru. Kau terlihat begitu gembira hari ini."
Gaun Biru mengangguk, "Tentu. Kemarin aku bertemu Crow, ia baru saja datang dari Satisfaction City," cerita Gaun Biru.
"Oh! Crow? Kenapa tidak bilang? Seharusnya kau menyuruhnya datang ke tokoku kemarin! Aku akan senang menyambut cucuku yang bandel itu!" Tetsu tergelak mengingat keakrabannya dengan Crow saat pemuda itu masih kecil, ada saja ulah Crow menjahili Tetsu. Gaun Biru tahu itu, seringkali ia mendapati Crow yang dihukum Tetsu, harus membantu menyusun papan-papan kayu yang berat.
"Dia kemari mengunjungi garasi lama. Ah, tetapi nanti akan kucoba membujuknya mengunjungi Kakek. Aku yakin, Crow pasti sangat merindukan Kakek."
"Hahaha! Sudah pasti anak itu akan merindukan kakek tua sepertiku," Tetsu tertawa renyah. Mungkin di pikiran Gaun Biru, justru Tetsu yang lebih merindukan Crow. Apalagi jika mengingat putra Tetsu sudah lama pergi merantau, jarang memberi kabar pada Tetsu.
"Ngomong-ngomong, Kakek ..." Gaun Biru mengintip bagian dalam toko dari celah jendela, "di mana Nenek? Aku tak melihatnya, bukankah biasanya beliau sedang membuat kue saat ini?" tanya Gaun Biru.
"Oh, dia pergi ke pasar. Katanya ada bahan yang lupa dibeli olehnya, dia pergi tak lama sebelum kau datang," jawab Tetsu, Gaun Biru mengangguk paham.
"Kalau begitu, sekarang aku pamit. Nek Martha akan terlalu lama menungguku," pamit Gaun Biru sambil membungkukkan tubuhnya.
"Baiklah. Ah, jangan lupa sampaikan salam dan pesanku nanti apabila kau bertemu Crow," kata Tetsu mengingatkan, Gaun Biru membalasnya dengan anggukan kecil.
Dengan itu, Gaun Biru berlalu dari sana menuju kediaman Martha. Keranjang berisi bunga-bunga aster tak lupa dibawa, bersama sebuah bungkusan. Bunga-bunga itu masih segar, karena baru saja dipetiknya di kebun halaman rumahnya. Sedangkan bungkusan itu berisi beberapa buah kudapan buatan Gaun Biru untuk Crow. Sengaja Gaun Biru memasak berlebih, karena ia tahu, Crow akan membaginya untuk anak-anak.
Bukan Crow namanya jika ia tidak membagi makanannya pada anak-anak di sekitar.
"Ng?" Gaun Biru mengerjap, ia sudah sampai di depan toko bunga Martha. Namun, rasanya ada yang aneh. Ya, ada kereta kuda di depan toko bunga tersebut. Apakah ada tamu?
"Akiii~! Cucuku! Lama sekali kita tak berjumpa!"
Suara dari dalam toko mengagetkan Gaun Biru, itu suara Martha. Dari suara tersebut, Gaun Biru dapat mengetahui siapa tamu yang datang menggunakan kereta kuda ini. Mungkinkah benar bahwa cucu Martha telah datang? Gaun Biru pernah mendengarnya dari Martha, meski Gaun Biru tak pernah bertemu dengannya.
Rasa penasaran mulai memasuki diri Gaun Biru. Dengan mengendap-endap, ia berjalan menuju jendela. Jendela itu terbuka, namun selalu tertutupi bunga-bunga. Mungkin Gaun Biru dapat melihatnya dari sana. Tak ingin Gaun Biru merusak suasana dengan kedatangannya, pastilah Martha dengan cucunya butuh waktu berdua melepas rindu.
Gaun Biru menyibak sedikit bunga mawar putih dari sisi jendela, dengan berhati-hati, Gaun Biru mengintip ke dalam.
"Oh, lihat dirimu, Sayang. Kini kau sudah dewasa, rasanya baru kemarin Nenek menggendongmu yang memakai syal buatan Nenek."
Itu dia Martha, beliau tampak sangat bahagia memperhatikan wujud sosok seorang gadis berambut merah. Di belakang gadis itu berdiri dua orang pria dan wanita dewasa, mungkin mereka orangtua gadis itu.
"Syal itu selalu Aki gunakan, Nek."
"Wah, benarkah?" Martha terlihat senang.
Gadis itu mengangguk, lalu menunduk, "Sayangnya Aki ceroboh, tak sengaja syal itu robek tersangkut saat Aki di sekolah," sesal gadis itu, air mukanya terlihat sedih. Martha tersenyum dan menepuk bahunya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Mana syalnya? Akan Nenek perbaiki," hibur Martha. Gadis itu kembali mengangkat wajahnya, senyuman lebar tersungging di wajahnya.
"Benarkah, Nek?!"
Martha mengangguk sebagai jawaban.
"Waaah! Nenek! Terima kasih!" Gadis itu menjerit girang dan langsung memeluk Martha dengan senang. Martha dan kedua orang dewasa di belakangnya terkekeh geli.
"Baiklah, anak manis, sekarang kita masuk dulu. Kalian pasti capek melakukan perjalanan dari kemarin seharian," ajak Martha.
Pria dewasa itu tersenyum, "Tak apa, Bu."
"Nenek! Apa ada bunga mawar merah?" tanya gadis itu, sepertinya ia masih punya lebihan stamina dibandingkan menuruti neneknya untuk istirahat di dalam.
Martha tersenyum sedih dan menjawabnya, "Tidak."
Gadis itu tampak kecewa.
"Maaf, Sayang. Mawar merah terakhir sudah dibeli oleh orang lain sebelum Nenek tahu Aki akan mengunjungi Nenek. Jika saja Nenek tahu lebih dulu, pasti mawar itu tidak akan Nenek jual." Martha menepuk bahu gadis itu.
"Mnh ..., ya, sudah. Tak apa, Nek." Gadis itu kembali tersenyum.
"Bagus, tetaplah tersenyum seperti itu, anak manis. Nah, ayo masuk. Toko akan kututup hari ini, agar kita bisa menghabiskan waktu lebih ban—Oh! Astaga! Gaun Biru!"
Gadis itu tersentak kaget, begitu pula dengan Gaun Biru yang masih mengintip dari jendela. "Ada apa, Nek?" tanya gadis itu.
"Nenek lupa, ada gadis seumuranmu yang selalu menjual bunga hasil tanamannya setiap hari. Bunga-bunga darinya selalu segar dan cantik. Aneh, seharusnya sekarang dia sudah datang." Martha menoleh ke arah jam yang tergantung di dinding.
Mendengar itu, Gaun Biru buru-buru mengambil keranjangnya yang ditaruh di tanah dan menjauh dari jendela. Sambil berusaha bersikap wajar seolah tak tahu apa-apa, Gaun Biru berjalan menuju pintu masuk.
"Permisi, Martha?" Gaun Biru muncul dari balik pintu.
"Oh! Tepat sekali, Gaun Biru!" Martha langsung menghampiri Gaun Biru, diikuti gadis itu. Gaun Biru menaruh bunga aster di keranjangnya ke keranjang besar milik Nek Martha.
"Nenek?" Gaun Biru melirik ke arah gadis berambut merah itu, lalu bergantian menatap Martha. Seolah paham maksud Gaun Biru, Martha tersenyum.
"Gaun Biru, dia cucu Nenek. Namanya Aki, Aki Izayoi. Nah, Aki, dia gadis yang Nenek ceritakan tadi. Namanya Yuusei, tetapi dia selalu dipanggil 'Gaun Biru'," terang Martha pada mereka berdua, Gaun Biru dan gadis bernama Aki itu saling tersenyum.
"Salam kenal, namaku Aki." Aki menyodorkan tangannya pada Gaun Biru, Gaun Biru membalas menjabat tangannya.
"Yuusei Fudou. Kau bisa memanggilku Yuusei, atau Gaun Biru seperti orang-orang." Gaun Biru dan Aki saling melepas tangan.
"Coba kutebak ...," tutur Aki sambil menyentuh dagunya, ia terlihat berpikir sambil memperhatikan gaun yang dikenakan Gaun Biru, "kau pasti seringkali memakai gaun ini, makanya dipanggil Gaun Biru," tebak Aki.
Gaun Biru tersenyum, "Tepat sekali. Gaun ini warisan dari ibuku, selalu kupakai setiap hari di pagi hari," jelas Gaun Biru. Aki mengangguk paham.
"Gaun Biru, tumben datang lebih siang. Ke mana saja kau tadi?" tanya Martha, Gaun Biru menoleh padanya.
"Tadi aku mampir ke toko kayu Kakek Tetsu, mengobrol dengan beliau. Sekalian memberitahu bahwa Crow datang kembali," jawab Gaun Biru.
"Begitu, ya. Ah! Gaun Biru, apa hari ini kau ada waktu?" tanya Martha lagi sambil menepuk tangannya dan menatap Gaun Biru penuh harap.
Gaun Biru mengerjap, heran, "Tentu, Nek. Hari ini Cafe La Geen tutup. Memangnya kenapa?" tanya Gaun Biru balik.
"Bisa antarkan Aki berkeliling? Mungkin kalian bisa menjadi teman akrab," pinta Martha, diikuti raut wajah Aki yang tampak sumringah. Terlebih saat Gaun Biru tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
"Horeee! Nenek, terima kasih! Ayah! Ibu! Aki pergi dulu!" Seru Aki gembira, gadis berambut merah itu segera menarik tangan Gaun Biru keluar toko.
"Huwa! Aki! Pelan-pelan!" Jerit Gaun Biru. Namun, Aki tak peduli, ia terus saja menarik-narik Gaun Biru sambil berlari kecil.
Cukup lama kedua gadis itu berkeliling, terlebih saat mengunjungi toko-toko yang menjual penganan. Aki seringkali mampir dan memberi beberapa kudapan untuk cemilan di jalan, tak lupa ia membelikan Gaun Biru. Cepat sekali mereka berteman, bahkan sudah seperti teman lama yang sangat akrab.
Seringkali Aki bertanya banyak hal tentang Satellite, dengan senang hati dijawab oleh Gaun Biru. Barulah mereka bergantian, Aki menceritakan banyak hal di daerah pusat Domino, tempat tinggalnya.
Dari cerita Aki, Gaun Biru baru tahu bahwa Aki sedang liburan sekolah. Karena libur panjang dan kebetulan orangtuanya mengambil cuti kerja dari pekerjaan mereka, Aki dan orangtuanya berinisiatif mengunjungi Martha yang tinggal di desa ini.
"Hee~ jadi kau bisa menyuling bunga menjadi parfum? Hebat~" sanjung Aki.
Gaun Biru tersenyum, "Hanya sesekali, kok. Ibu asuhku, Bu Zora, yang mengajarkanku dulu. Biasanya aku hanya menyuling bunga di kebun atau bunga dari hutan, sekalian mencari kayu bakar," cerita Gaun Biru.
Aki mengangguk kagum, "Waah~ hebat. Eh, kau bisa menyuling bunga mawar?" tanya Aki mendadak.
"Eh? Mawar?" Gaun Biru mengerjap, Aki mengangguk antusias.
Gaun Biru terdiam, berpikir. "Hm ..., aku lebih sering menggunakan bunga lain, sih ... Sejujurnya aku hanya pernah menyuling mawar satu kali, karena sudah banyak minyak wangi yang beraroma mawar dijual orang-orang."
Aki terlihat kecewa, Gaun Biru melihatnya dengan jelas dari raut wajahnya. Gaun Biru tahu, pasti Aki ingin memintanya menyuling mawar. Mengingat percakapannya dengan Martha tadi, pastilah Aki sangat menyukai mawar.
"Umh ...! Tapi bukan berarti aku tidak bisa. Lagipula aku bisa bertanya pada Bu Zora jika kesulitan saat menyuling mawar nantinya," ucap Gaun Biru, mengoreksi ucapan sebelumnya. Tentu Gaun Biru tak ingin Aki kecewa.
Benar saja, Aki kembali sumringah, "Benarkah?!"
"Tentu," sahut Gaun Biru sambil mengangguk, "hanya saja, kita memerlukan beberapa mawar untuk menyulingnya, dan ... kau tahu ...?" Gaun Biru menggaruk rambutnya yang tak gatal.
"Oh, benar juga ..." Aki baru ingat bahwa mawar di toko neneknya sudah habis, dan sepanjang jalan tadi, Aki tak melihat adanya tanaman bunga mawar. Kalaupun ada, pasti bunganya masih kuncup.
"Beberapa hari yang lalu, ada putri bangsawan bernama Sherry datang ke desa. Dia membeli semua mawar di desa. Katanya bunga mawar itu akan digunakan untuk menghias rumahnya saat mengadakan perayaan untuk ulang tahun ibunya," terang Gaun Biru.
"Sayang sekali ..." Aki menunduk.
Napas Gaun Biru nyaris habis, "Ah! Tetapi mawar liar yang biasa tumbuh di hutan tidak ikut diambil. Mungkin masih ada beberapa mawar yang mekar di sana, mau coba?" tawar Gaun Biru.
Aki kembali bersemangat, "Benarkah itu?" tanya Aki, ingin memperjelas.
Gaun Biru kembali mengangguk.
"Kalau begitu, ayo!" Ajak Aki, ia begitu antusias sekali mendengar adanya mawar di hutan.
"Minta izin dulu pada Nek Martha dan orangtuamu, Aki," perintah Gaun Biru, "kau tak ingin membuat mereka khawatir, 'kan?"
Aki cemberut, "Yuusei! Ayolah, hanya sebentar saja. Tak apa-apa meski aku tak minta izin.
Oh, kini Aki memanggilnya dengan nama. Gaun Biru tetap kukuh pada pendapatnya, "Tidak boleh."
"Yuuseei~"
"Tidak."
"Ayolah, sebentar saja, tak apa!"
"Pokoknya tidak."
Aki menghela napas panjang, mengalah. "Baiklah, aku akan kembali dan minta izin dulu."
Gaun Biru tersenyum mendengarnya, "Bagus. Nah, ayo kembali," ajak Gaun Biru. Aki mengangguk dan merekapun bergegas kembali ke toko bunga Martha.
xXx
To Be Continue
xXx
A/N: Sejujurnya, saya sendiri tak menyangka akan menjadi fic yang panjang. Memang apa yang dipikirkan itu tak diketahui panjangnya jika sudah diketik, ya.
