Story By: Razen

Disclaimer: Kazuki Takahash, Masahi Satou, & Masahiro Hikokubu.

Rate: K+

Genre: Drama, Romance.

Main Chara: Yuusei

Warning: Gender Bender, typo, some mistakes EYD, AU, Fanon.

A/N: *loyo* Mengerjakan fic di tengah-tengah masa pengobatan itu memang ciri anak maso, ya. Semoga suka untuk chapter ini.

xXx

Gaun Biru

xXx

.

.

.

xXx

Robot dan Peri kecil.

xXx

.

.

.


"Ke hutan?"

Gaun Biru mengangguk, kedua tangannya sibuk menyapu lantai yang kotor dengan debu-debu yang menempel. Dengan telaten, dibersihkannya semua debu di lantai kamar. Tak jauh darinya, Aki tengah menyusun beberapa barang di atas meja kecil.

"Jika kamu masih lelah, sebaiknya istirahat saja."

Crow menggaruk kepalanya, memang kepalanya masih agak pusing. Mengingat kemarin, usai dari warung Ushio, pemuda berambut orange itu langsung mengepak barang-barang yang akan dibawa, debu-debu yang menempel pun hanya dibersihkan seadanya. Selesai mengepak, Crow langsung tertidur pulas.

"Ung ... Memang aku masih sedikit pusing ..."

"Tuh, 'kan? Istirahatlah. Aku dan Aki akan pergi berdua saj—"

"Aku ikut kalian," potong Crow cepat-cepat.

Gaun Biru terkejut, "Apa? Ikut?"

Crow mengangguk mantap. Diraihnya sisir di dekatnya, merapikan rambutnya. Gaun Biru berhenti menyapu, ditatapnya kawan lamanya itu.

"Tidak boleh. Kamu harus istirahat," larang Gaun Biru.

Crow menggeleng, "Tidak. Pokoknya aku ikut."

"Tidak boleh."

"Boleh."

"Pokoknya tidak!"

"Kalau begitu kubuntuti diam-diam."

Aki mengangkat sebelah alisnya, menonton aksi pertengkaran ringan kedua sahabat di depannya. Mengapa kedua orang ini menjadi bertengkar karena hal sepele begitu? Apalagi tingkah mereka seperti ibu dan anak. Meski begitu, lucu juga. Pipi Gaun Biru menggembung, sedangkan wajah Crow terlihat sebal.

Selepas meminta izin pada Martha dan orangtua Aki, kedua gadis itu mengunjungi garasi di mana Crow berada atas permintaan Gaun Biru. Tak lupa mereka dibekali peralatan yang dibutuhkan untuk mencari bunga liar di hutan.

Di dalam garasi, Gaun Biru memperkenalkan Crow pada Aki. Awalnya Aki agak takut-takut karena garasi tersebut begitu kotor, apalagi melihat wajah seram Crow yang baru terbangun dari dunia mimpi. Namun, begitu bercakap-cakap dengannya, Aki lega, ternyata Crow ramah dan periang. Dengan cepat, mereka sudah akrab. Sampai Gaun Biru menyela, mau membersihkan garasi.

"Pokoknya kamu harus istirahat!"

"Tidak mau!"

"Sudah! Sudah! Berhenti bertengkar!" Aki menengahi keduanya, sama-sama keras kepala begitu.

"Huh ..." Gaun Biru bersidekap, sedangkan Crow membuang muka. Mau tak mau, Aki harus menahan geli melihatnya.

"Begini saja. Yuusei, kita biarkan Crow ikut bersama kita. Namun, selama kami bersih-bersih, Crow harus istirahat dulu. Setuju?" usul Aki, ditolehkan kepalanya pada kedua sahabat barunya.

Sejenak, kedua sahabat semasa kecil itu terdiam berpikir.

Setelah agak lama menimbang-nimbang, Gaun Biru menghela napas, lalu mengangguk. Crow memasang cengirannya, diangkatnya ibu jarinya pada Aki, menyetujui. Aki tersenyum puas. Dengan begini, kedua masalah selesai.

"Jangan banyak bergerak sampai aku selesai bersih-bersih," pesan Gaun Biru pada Crow.

"Siap, Madam~" sahut Crow.

Mau tak mau, Aki tertawa geli mendengarnya. Gaun Biru meliriknya, cepat-cepat Aki berpaling dan menyibukkan diri membersihkan sisi ruangan lain dengan pembersih debu.

Kedua gadis itu kembali sibuk bekerja. Aki membersihkan debu-debu yang menempel pada setiap barang, hingga berjatuhan ke lantai. Kemudian dibersihkan lagi dengan lap basah. Sedangkan Gaun Biru terus menyapu lantai setiap ruangan. Karena sibuk dengan pekerjaannya, Gaun Biru jarang kemari untuk sekedar bersih-bersih, tak ia sangka akan sebegini kotornya.

Tak sadar Crow diam-diam mengendap-endap keluar.

Begitu pekerjaan mereka berdua selesai, barulah Gaun Biru menyadari Crow tak ada di tempatnya semula. Untunglah di saat Gaun Biru akan keluar garasi, Crow muncul dengan membawa sebuah tas yang berisi beberapa bungkusan plastik.

"Lho? Crow? Kamu darimana saja?" tanya Gaun Biru seraya berdiri dari tempat duduknya, dihampirinya sahabat karibnya yang menyunggingkan cengiran lebar.

Crow mengangkat tas belanja yang pernah digunakan saat masih tinggal di garasi ini dulu, isinya penuh dengan bahan makanan mentah. Disodorkannya tas itu pada Gaun Biru. Gadis itu menerimanya, sepertinya ia mulai mengerti alasan mengapa Crow mendadak menghilang.

"Tolong masakin~ sekalian untuk mereka~" pinta Crow sambil tertawa kecil.

Gaun Biru tersenyum kecil. Pantas saja Crow lama sekali, rupanya selain menimba air, Crow menyempatkan diri berbelanja, dan bertemu dengan anak-anak di sekitar sini. Melihat jumlah bahan makanan yang cukup banyak, pasti Crow mengundang anak-anak itu untuk makan di garasi.

"Baiklah. Sebagai gantinya, tolong siapkan meja makan," perintah Gaun Biru sebelum berlalu ke dapur. Aki mengikutinya.

"Siap, Madam~" sahut Crow. Merenggangkan tubuhnya sejenak, lalu berlari kecil mengikuti Gaun Biru dan Aki. Ruang makan memang menyatu dengan dapur, terkadang dipakai sebagai ruang tamu. Dulu, Gaun Biru sering memasak di sana untuk teman-temannya dan anak-anak.

"Yuusei?" Aki menatap Gaun Biru, meminta penjelasan. Gaun Biru tersenyum, pasti Aki penasaran mengapa Crow mendadak berbelanja dan meminta Gaun Biru memasak.

"Sejak kecil, Crow selalu berteman dengan anak-anak. Dia selalu menjaga dan mengawasi anak-anak di sekitar sini. Tak jarang Crow menyisihkan sebagian uangnya untuk membelikan kudapan dan bahan makanan seperti sekarang untuk bagikan pada anak-anak," terang Gaun Biru. Gadis itu mengambil beberapa buah wadah. Dengan dibantu Aki, Gaun Biru mengeluarkan dan menyusun semua bahan.

Aki mengangguk paham. Sepintas, Aki mencuri pandang ke arah Crow. Tak ia sangka Crow akrab dengan anak-anak, pantas saja Crow seriang itu dan sedikit kekanakan.

Daging ayam, beras, beberapa butir telur, beberapa buah apel, dan sebungkus garam beserta beberapa bumbu lain. Gaun Biru mengangkat sebelah alisnya, gadis itu menoleh ke arah Crow yang sibuk menyusun piring.

"Crow, kamu ingin aku memasak karaage, ya?" tanya Gaun Biru.

Tangan Crow berhenti bergerak, pemuda itu melirik Yuusei dan menjawab dengan anggukan, lalu kembali menyibukkan dirinya dengan peralatan makan lainnya. Gaun Biru mengangguk paham. Berbeda dengan Aki yang kebingungan.

Gadis berambut merah itu memperhatikan Gaun Biru yang mencuci beras dengan cekatan, jemari lentiknya dengan teratur menaburkan sedikit garam sebelum menanaknya. Penasaran, sambil menyusun daging di alas, didekatinya Gaun Biru yang sekarang memecahkan beberapa butir telur.

"Kenapa kamu tahu Crow ingin karaage?" bisik Aki pada Gaun Biru.

Gaun Biru tersenyum geli, "Dari bahannya. Dari dulu, jika Crow berbelanja bahan yang sama dengan sekarang, dia selalu memintaku memasak karaage, tamagoyaki, dan onigiri." Sekali lagi, Gaun Biru menerangkan.

"Sepertinya kalian akrab sekali, ya." Aki menggembungkan pipinya. Gaun Biru tertawa geli melihatnya.

"Jadi, apa yang harus kubantu, Nona Koki?" canda Aki.

Gaun Biru berpikir sejenak, kemudian menunjuk daging ayam yang sudah disusun Aki. "Tolong potong dagingnya dengan ukuran yang sama rata, pisahkan daging dengan tulangnya."

"Baik!" Aki mengambil sebilah pisau, dipotongnya daging tersebut dengan ukuran sama rata. Sementara itu, Gaun Biru mengocok telur dengan sumpit.

"Jika sudah selesai, tolong parut beberapa buah apel," ucap Gaun Biru. Tangan lentiknya mengocok telur dengan cepat, namun juga berhati-hati. Setelah yakin sudah lumayan tercampur, Gaun Biru menambahkan sedikit susu yang diperolehnya dari kulkas. Susunya masih segar, pasti Crow baru membelinya kemarin. Dikocoknya lagi hingga tercampur semua.

Berikutnya, Gaun Biru menyalakan kompor dan memanaskan teflon. Selama menunggu, Gaun Biru beralih memotong bawang. Dengan telaten, dipotongnya bawang tersebut menjadi potongan-potongan kecil.

"Berapa banyak yang perlu kuparut?" tanya Aki. Gadis itu sudah selesai memotong daging ayam, kini ia mencuci tangannya dengan air pada ember yang disediakan Crow barusan, kemudian mengambil parutan kecil dan sebutir apel.

"Dua butir apel. Oh, parut jahe juga," balas Gaun Biru.

"Oke."

Gaun Biru menaruh potongan bawang dalam baskom kecil, nantinya akan digunakan untuk bumbu karaage. Kembali ke teflon tadi. Gaun Biru mengoleskan sedikit mentega pada permukaan teflon, hingga meleleh dan menyelimuti nyaris semua permukaannya. Lalu, dituangkannya adonan telur ke atasnya. Selama beberapa saat, ditunggunya hingga adonan tersebut mulai matang. Dengan hati-hati, digulungnya secara perlahan. Semenjak kecil ditinggal orangtua, membuat Gaun Biru begitu mahir memasak.

"Yuusei, sudah selesai." Aki menunjuk parutan apel dan jahe di dalam wadah berbeda.

Tanpa melepas pandangannya dari tamagoyaki, Gaun Biru kembali menginstruksi, "Campur daging, bawang, apel, dan jahe ke dalam satu wadah. Tambahkan garam, merica, sedikit gula, dan kecap. Aduk rata semuanya."

Aki mengangguk paham. Diambilnya baskom berukuran sedang, ditaruhnya daging yang sudah dipotong ke dalam baskom. Tak lupa Aki mencampur semua bahan yang disebut Gaun Biru dengan takaran yang pas, Gaun Biru mengawasinya ketika Aki mulai menambahkan bumbu-bumbu. Barulah semuanya diaduknya, hingga tercampur rata semuanya.

"Dibiarkan saja dulu, agar semua daging meresap semua bumbu. Setelah itu, baru ditaburi tepung." Gaun Biru menyiapkan dua piring besar, ditatanya tamagoyaki yang sudah matang di atasnya.

"Kira-kira berapa lama?" tanya Aki sembari membasuh tangannya.

"Tergantung kapan anak-anak itu datang." Gaun Biru melirik ke belakangnya, kedua mata birunya menangkap Crow duduk manis menonton kedua gadis yang sibuk memasak di depannya

"Tak lama lagi, pastinya~" celetuk Crow.

Gaun Biru menoleh ke arah Aki, "Aku akan membuat onigiri, tolong lanjutkan membuat tamagoyaki." Gaun Biru kembali menginstruksi, gadis itu menyodorkan adonan telur yang tersisa pada Aki.

"Baik!"

"Hei, apa tak ada kerjaan untukku, Nona Gaun Biru?" Crow bertopang dagu, protes. Lama-lama bosan juga hanya menonton saja.

Gaun Biru terkekeh geli, "Ah, apa Tuan Crow bosan?" goda gadis itu.

"Ya, aku bosan. Lagipula aku takut dilempar spatula panas jika iseng mengganggu," sahut Crow cemberut, tangannya menunjuk spatula yang dipegang Aki. Mendengar itu, Aki dan Gaun Biru tertawa geli.

Gaun Biru melirik air minum dalam beberapa botol, "Bagaimana kalau membeli buah strawberry dan anggur di Yamashita Winery?" usul gadis itu.

Crow berdiri dari kursinya, "Taro? Memangnya sekarang ayahnya menanam tanaman strawberry?" tanya Crow bingung.

"Lebih dari itu, coba saja lihat sendiri," sahut Gaun Biru kalem.

Crow mengangkat bahu, lebih baik menurut saja, daripada menganggur tak tahu harus berbuat apa. Disambarnya tas tempatnya menyimpan semua uangnya, lalu berjalan keluar.

"Ah, jangan lupa temui Kakek Tetsu!" Seru Gaun Biru dari dapur.

Crow menyeringai tipis.


"Enaak~"

"Haha! Makan semua! Jangan malu-malu!"

Gaun Biru tersenyum melihat Crow yang rebutan karaage dengan anak-anak laki-laki, yang perempuan makan dengan kalem. Di meja panjang, mereka duduk saling berhadapan. Di satu sisi, Gaun Biru dan Aki duduk bersama anak-anak perempuan. Di seberangnya, Crow duduk di tengah di kelilingi anak laki-laki.

"Gaun Biru, karaage-nya enak sekali!"

"Um! Gurih, dagingnya juga terasa renyah."

"Hmp, kalau Crow pasti tak bisa memasak seenak ini."

"Apa?! Ayo bilang sekali lagi!"

"Weeeek!"

Gaun Biru tertawa kecil melihat suasana makan jadi makin meriah. Tak lama kemudian, masakannya sudah habis disantap. Gadis itu berdiri, berjalan menuju pendingin yang berada tepat di belakangnya. Dibukanya pintu pendingin tersebut, lalu mengeluarkan nampan yang di atasnya sudah disusun beberapa gelas minuman.

Penasan, salah satu anak yang bernama Maemi mengikuti Gaun Biru. Dilihatnya isi gelas-gelas tersebut.

"Susu!" Seru Maemi begitu melihat begitu banyak susu yang berbagai warna, ada yang berwarna coklat, pink, dan keunguan. Gaun Biru tersenyum, disodorkan segelas susu strawberry pada Maemi.

"Ayo, coba diminum. Semoga kamu suka."

"Terima kasih, Gaun Biru," ucap Maemi, tangan kecilnya menerima susu tersebut. Gadis kecil itu langsung mencicipinya, mengecapnya sebentar, barulah meminumnya sampai habis.

"Enak sekali!"

"Kami juga mau!" Seru anak-anak lain, termasuk Crow.

"Iya, iya." Gaun Biru mengangguk, ditutupnya pintu pendingin dan kembali ke meja makan. Dengan dibantu Maemi, Gaun Biru membagi susu-susu tersebut.

"Rupanya anggur dan strawberry yang kubeli tadi untuk ini, ya." Crow mengambil segelas susu coklat dan langsung meneguknya.

"Wah, rasanya enak sekali," sanjung Takuya, dalam sekejap menghabiskan susunya hingga tinggal setengah gelas.

"Aku suka rasanya," puji Jun.

"Ini lebih enak daripada susu putih yang biasa kuminum di rumah," ungkap Micchan.

Aki menelengkan kepalanya, "Mengapa begitu?" tanya Aki.

"Ibu tak mau repot, makanya hanya memberikan susu sapi segar yang putih biasa," sahut Micchan.

"Jelas saja kami bosan. Padahal banyak susu yang beraneka rasa sekarang," gerutu Takuya.

Gaun Biru membereskan piring, "Kalau mau, seringlah berkunjung ke Cafe La Geen. Kebetulan mulai besok, pemilik cafe akan menjual susu dengan aneka rasa baru." Gadis itu menawarkan.

"Benarkah?" tanya Jun sumringah, Gaun Biru menjawabnya dengan anggukan kecil. Tak ayal membuat anak itu bersorak gembira.

"Aku jadi ingat saat kau membuat siomay dan jus strawberry untuk anak-anak ini, Yuusei." Crow nyengir sambil menggoyangkan gelasnya. "Kiryuu dan Jack sampai berebut siomay."

"Itu masa lalu, jangan disinggung-singgung." Gaun Biru tersipu, rona merah mewarnai pipinya yang berwarna peach. Semua orang tersenyum geli melihat Gaun Biru malu-malu, sudah bukan rahasia umum bahwa Jack da Kiryuu sering bersaing mencari perhatian gadis bergaun biru tersebut. Aki sendiri hanya menduga-duga dari cerita Crow.

Tak lama kemudian, anak-anak itu pulang setelah berpamitan. Gaun Biru menyempatkan diri mencuci peralatan, dibantu Aki. Sedangkan Crow sendiri menutup garasi, kecuali pintu depan. Crow juga mempersiapkan beberapa barang yang menurutnya diperlukan di hutan nanti.

"Yosh! Yuusei, siap berangkat?" Crow menaiki tangga, mendapati Gaun Biru sedang mengikat sebuah kotak berisi onigiri dan karaage yang tersisa dengan kain berwarna hijau polkadot.

"Oh, kau menyiapkan bekal?"

"Juga tiga botol susu dengan rasa berbeda." Aki yang menyahut, gadis itu mengedipkan sebelah matanya sambil mengangkat keranjang Gaun Biru yang berisi tiga buah botol dan tiga buah gelas plastik.

"Selalu penuh persiapan," sanjung Crow seraya menghampiri kedua gadis itu. Gaun Biru hanya memutar bola matanya dan menaruh kotak bekal mereka di dalam keranjangnya.

"Biar kubawakan." Tanpa meminta persetujuan, Crow langsung menyambar keranjang tersebut dan membawanya keluar.

"Eh? Cr—"

"Ayo berangkat~"

"Crow!"

Lagi-lagi Aki tertawa geli menonton tingkah lucu kedua sahabat barunya.


Dedaunan rimbun menghiasi pepohonan, warna hijau dari berbagai macam tanaman mendominasi. Hanya warna kecoklatan dari batang pohon yang berbeda. Rerumputan segar tumbuh subur. Hanya menyisakan tanah kering berupa jalan setapak dengan bebatuan kerikil kecil untuk berjalan tanpa menginjak rumput.

Crow berjalan lebih dulu. Sebuah tas berisi peralatan yang diperlukan diselempengkan di pinggangnya, tangan kirinya memegang keranjang berisi bekal, sedangkan tangan kanannya memegang kapak. Sesekali, pemuda yang memakai piercing itu mengayunkan kapaknya untuk menyingkirkan serabut yang bergantung pada pepohonan, atau memotong dahan pohon. Berkeliling sambil merawat hutan bukan hal buruk, bukan?

Gaun Biru berjalan di belakang Crow sambil mengangkat gaunnya, berhati-hati agar tidak tersangkut dahan. Kedua permata birunya mengerling ke kanan kiri, mencari-cari bunga-bunga liar atau tanaman obat yang tumbuh di sela-sela semak rimbun.

Aki paling belakang, gadis muda itu asyik memandangi sekelilingnya. Banyak sekali hal-hal baru yang tak pernah ia lihat di kota, sejujurnya ini pengalaman pertamanya ke hutan. Karena itulah Aki bersemangat.

"Apa tempat tumbuhnya mawar liar masih jauh?" Aki memiringkan kepalanya, mencoba melihat wajah Gaun Biru di depannya. Gaun Biru terdiam beberapa saat.

"Setahuku seharusnya sebentar lagi ...," tuturnya sambil mengerling.

"Di sana!" Seru Crow mendadak, tangan kanannya menunjuk ke salah satu celah pepohonan. Aki dan Gaun Biru saling melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Crow.

Senyum sumringah terpasang di wajah manis Aki begitu melihat warna merah dari mahkota bunga pada semak kecil di balik pohon cemara, beberapa mahkota berguguran di atas rerumputan. Tak perlu komando bagi Aki untuk berlari mendekati tanaman mawar tersebut.

"Aki!" Gaun Biru mengekorinya, diikuti oleh Crow.

Dengan riang, Aki berjongkok di depan tanaman tersebut. Tak sabar ingin memetik dan membawanya pulang. Mawar-mawar itu terlihat segar, warna merahnya begitu menggoda, harum semerbak namun lembut khas mawar menggelitik penciuman ketiga orang itu.

"Indahnya ..., mawar ini cantik sekali ...," ungkap Aki, mengagumi mawar tersebut.

Sebenarnya tak hanya mawar berwarna merah saja, ternyata di belakang pohon lain yang berada di samping tanaman mawar tersebut tumbuh mawar lain yang berbeda warna. Meski begitu, warna mawar-mawar tersebut tetap cantik, tak kalah dengan mawar merah. Gaun Biru yang kaget, tak pernah disangka oleh gadis itu bahwa mawar hibiscus pun tumbuh.

Crow juga melihatnya, pemuda itu mematung melihatnya.

"Yuusei ..., kalau tak salah, mawar itu mawar yang pernah diberikan Kiryuu padamu, 'kan?"

"Kiryuu? Oh!" Gaun Biru ingat, kawannya yang berambut keperakan tersebut memang terkadang sering menunjukkan benda-benda aneh padanya. Gaun Biru tak pernah tahu darimana Kiryuu mendapatkannya. Salah satunya adalah buku yang berisi gambar tanaman asing.

"Lalu, Kiryuu juga pernah bibit bunganya padamu, 'kan? Memangnya kau tanam di sini?" tanya Crow, kedua matanya melirik ke arah Gaun Biru.

Gaun Biru menggeleng. "Tidak. Aku menanamnya di halaman rumahku, tetapi tak ada yang tumbuh."

Crow mengangkat sebelah alisnya, bingung. "Kalau begitu, mengapa bisa tumbuh di sini?"

Gaun Biru terdiam, berpikir. Mengingat bibit bunga yang diterimanya dari Kiryuu. Gaun Biru yakin benar dia selalu menyimpannya dalam peti pribadi tempatnya menyimpan segala macam bibit tanaman yang diperolehnya. Kalau begitu apa yang menyebabkan bunga tersebut bisa tumbuh di si—

"Oh! Aku ingat!" Gaun Biru menepuk tangannya, sontak membuat Crow terkejut. Gaun Biru tak acuh, justru berlari kecil mendekati tumbuhan tersebut.

Crow menengok, mendapati Aki masih asyik memetik mawar. Tak masalah ditinggal sebentar, 'kan? Lagipula Crow tak enak mengganggu. Ditaruhnya keranjang milik Gaun Biru di dekat Aki, tuk digunakan untuk membawa semua tangkai mawar yang sudah dikumpulkan oleh Aki.

Sekejap Crow mengalihkan pandangannnya dari Gaun Biru, sekejap pula sahabatnya itu menghilang. Tubuh mungilnya tersembunyi di antara semak-semak dan pohon. Bergegas Crow mencarinya sambil menggerutu.

Itu dia. Berjongkok di depan tumbuhan hibiscus, di tangannya sudah terdapat setangkai mawar hibiscus. Cepat sekali. Setahu Crow, Gaun Biru harus memperhatikan baik-baik setiap bunga yang ia lihat, barulah memetiknya.

"Yuusei?" panggil Crow, berdiri di samping Gaun Biru.

Gaun Biru menoleh, gadis itu berdiri dan menunjukkan bunga di tangannya. "Lihat ini, Crow. Bunganya cantik sekali. Aku ingat, Kiryuu memberikan bibitnya di danau dekat sini. Saat pulang, aku mampir sebentar kemari untuk memetik beberapa tangkai mawar untuk dibawa pulang. Mungkin saat itu bibitnya terjatuh." Senyuman manis mengembang pada parasnya. Wow! Crow tak heran mengapa kedua rekannya di Satisfaction City begitu tergila-gila pada Gaun Biru.

"Setahuku kau mengamati semua bunganya sebelum memetik, tumben cepat," cetus Crow.

Gaun Biru tertawa. "Soalnya bunga-bunga yang lain mekar bergerombol, hanya bunga ini yang tidak bergerombol. Selain itu ukuran bunganya jauh lebih kecil dibandingkan yang lain."

Crow manggut paham.

Srak!

Gaun Biru tersentak. Crow langsung membelakanginya dan berdiri waspada, kapaknya diangkat, bersiap. Suara gemerisik itu berasal dari semak yang tak jauh dari mereka.

Srak!

Berbunyi lagi!

Hewan buaskah? Tapi setahu Gaun Biru, tak ada hewan liar yang buas di hutan ini. Kalaupun ada yang berbahaya, mungkin seperti ular berbisa atau laba-laba beracun. Selebihnya hanya hewan jinak yang seringkali bermain dengan Gaun Biru apabila berkunjung kemari.

"Yuusei? Crow? Apa yang sedang kalian lakukan?" Aki muncul, menghampiri mereka dari belakang.

"Sstt!"

"Eh?"

Belum sempat Aki bertanya, Gaun Biru sudah menarik tangannya lebih dulu. Crow berdiri di depan kedua gadis itu, menjaga keduanya. Hal apa gerangan yang membuat semak-semak itu bergemerisik?

Srak! Srak!

Aki terkejut, lalu ditarik Gaun Biru pada dekapannya. Sebagai penghuni Satellite, Gaun Biru sudah terbiasa keluar-masuk hutan, bahaya ringan seperti hewan kecil yang berbahaya sudah biasa dihadapinya. Karena itulah ia lebih waspada dan bisa menjaga diri, entah dengan Aki yang berasal dari kota.

"A-apa itu ...?" bisik Aki ketakutan, sesuai dugaan Gaun Biru.

"Sshh ..., tenanglah," hibur Gaun Biru, mencoba menenangkan sahabat barunya.

Crow melirik Gaun Biru, meminta persetujuan untuk memeriksanya. Gaun Biru melihatnya, ia mengangguk sebagai isyarat. Crow mengambil napas, kemudian melangkah perlahan mendekati semak tersebut. Sedikit berjinjit, tak mau membuat suara.

Di belakangnya, Gaun Biru menunggu sambil menenangkan Aki.

Suasana mencekam menghantui mereka. Baik Aki maupun Crow, mereka sama-sama tegang. Gaun Biru pun sama, hanya saja Gaun Biru lebih memprioritaskan menenangkan Aki lebih dulu.

Crow mengulurkan tangannya, jaraknya sudah begitu dekat dengan semak tersebut. Sedikit lagi ...

SRAK!

"Huaaa!"

"Kyaa!"

"Ruaa!"

Gaun Biru mematung. Memang ia juga terkejut, tetapi tidak sampai berteriak seperti Aki. Justru kedua permata birunya lebih tertarik menatap langsung sesuatu yang mengejutkan mereka. Ehem! Lebih tepatnya ...

Dua bocah kecil berambut hijau seafoam, paras mereka mirip satu sama lain. Yang membedakan adalah gender dan penampilan mereka. Yang perempuan, memakai terusan cantik berwarna merah jambu dengan rumbai halus berwarna putih. Rambutnya dikuncir dua. Sedangkan yang laki-laki dikuncir satu, dia memakai kemeja lengan pendek dipadu rompi coklat, celana pendek sebagai tambahan akhir. Yang membuat Gaun Biru tertarik, anak itu membawa sebuah boneka robot, sedangkan yang perempuan terlihat seperti peri kecil yang kembar?

"Kalian siapa ...?"

xXx

TBC

xXx


A/N: Aaaaaww! Sulit sekali mencari plot bagus dan tentunya MENDONGENG untuk fic ini! Langsung saja, untuk seseorang, jangan menyembelihku karena di dongeng ini muncul karakter yang mungkin entah—iya—diharapkan muncul.

Omong-omong soal mawar ..., sejujurnya saya tak punya minat dengan bunga ini. Tapi berhubung Aki identik dengan mawar, mau tak mau muncul deh bunga ... lupakan, terlalu kasar jika disebut.