PARK JIMIN

.

.

.

.

.

Jimin adalah sekumpulan inspirasi yang menghimpit di waktu yang tidak tepat dan memaksa untuk dituangkan dalam tulisan serta rangkaian kata yang begitu indah. Ia perwujudan dari salah satu kesempurnaan milik Tuhan yang selalu datang memenuhi kepalaku; membuat bermacam fantasi gila tertampung dan pada akhirnya mengganggu tenangku. Ia selalu indah dan menawan, namun saat aku telah duduk dan mencoba menuliskannya, ia menghilang bagaikan sulap setelah mantra diserukan, bagaikan debu yang diterbangkan oleh angin. Dan di akhir aku tetap begini. Duduk rapih dengan pikiran hampa setelah kehilangannya. Setiap saat. Bagaikan siklus yang terus berputar tentang dirinya saja. Tentang Jimin!

Sesuatu yang tidak tergambarkan, Itu dia. Park jimin. pemuda yang memperbudakku karena cinta yang kumiliki lebih besar bahkan satu-satunya daripada yang ia miliki. Dia membuat harapan siapapun tumbuh. Seperti aku, aku hanya diam melihat diriku terluka karena harapan yang ia tebarkan kemana-mana. Aku menangis dan bersedih setiap kali harapan yang ia berikan menghilang dan kosong olehnya sendiri.

Aku memilihnya pada akhirnya karena kupikir aku tidak akan terluka saat kehilangan sesuatu yang bukan milikku. Benar, dia bukan milikku! Dan keyakinan itu selalu jadi sesuatu yang terukir tetap dalam pikirku—sampai suatu hari dia benar-benar menghilang, memutuskan harapanku yang kian besar dan aku kembali menangis meratapi segalanya. Mencari-cari kesalahan yang mungkin tanpa sengaja ku perbuat sampai pemuda ceria penghuni hati dan pikiranku itu pergi meninggalkanku

Sekali lagi, aku kembali.

Kupikir, siapapun tidak akan meratapi sesuatu yang hilang yang bukan miliknya.

Tapi kenapa aku jadi sesakit ini karena kehilangannya? Apa yang waktu lakukan? apa yang jimin lakukan padaku?

Menangis dan bersedih adalah hal terbodoh yang pernah kulakukan tapi pada kenyataannya aku mengulangnya. Bersedih dan menangis setiap saat aku merindukan dirinya yang selalu datang memaksaku menuangkan keindahannya dalam kata, memenuhi hatiku, dan senyumnya yang secerah matahari

Aku berpikir, sekali lagi aku mengingatnya dan jatuh menangis. Aku begitu bodoh percaya pada hayalanku sendiri yang selalu menampakkan sosoknya yang hangat dan menyukaiku padahal ia jauh dan bahkan tidak tahu keberadaanku. Jadi bagaimana jimin bisa menyukaiku? Bagaimana dia yang sempurna bisa menjadi milikku?

Tidak ada jawaban.

Fantasiku meliar. Pikiran sempitku terbang ke moment dimana kudapati mata sipitnya yang kecil melirik dan menggodaku dengan tatapan genitnya hingga seketika aku tersenyum. Berharap dirinya yang itu mendekatiku dan kubiarkan saja dia menyentuhku, menyimpan benihnya di dalamku kemudian kubiarkan dia pergi. Aku bisa hidup hanya dengan benih yang kemudian akan tumbuh menjadi perpaduan dirinya dan aku. Atau bahkan aku akan siap jika sewaktu-waktu ia menginginkanku lagi. ingin bermain mungkin, dan— ahh..

Waktu melakukannya dengan sempurna. Siapa yang patut di salahkan atas kegilaan wanita yang dulunya polos ini? waktu kah? Jimin kah?

Tidak ada jawaban lagi.

Aku,

Aku,

Aku,

Mungkin aku hanya— terlalu gila karena merindukannya,

Aku merindukan jimin yang tidak pernah sekalipun kutemui dalam dunia nyata, yang tidak tahu sama sekali keberadaanku bahkan tidak tahu kalau seseorang mencintainya sebesar ini.

Selamat Tahun Park Jimin, lelaki pengukir senyum dan semangatku. Yang selalu akan jadi pemilik posisi teratas diantara semua lelaki di dunia. Aku mencintaimu


Gila, bukan?

ada yang tahu rasanya?

.

.

.

.

.

FYI, ff akan dilanjut dan siap di publish kapan saja

tapi tunggu respon dulu (tetep, review. ngahaha) kalau masih banyak yang mau saya publish secepatnya

sekian dari saya.

sekali lagi

#HappyParkJiminDays #HappyParkBbongDays #HappyJiminJjangDays

i love you !