Di sinilah mereka sekarang. Dihalaman belakang markas. Sougo dan Gintoki saling menatap, bocah yang lebih muda menatap yang lebih tua darinya dengan tatapan tajam dan menyelidik dari raut wajahnya kelihatannya bocah itu berpikir keras mengenai apa yang terjadi nanti setelah melapor pada markas pusat atau sejenisnya

Sedangkan Gintoki menyipitkan matanya, bola mata warna merahnya itu bergerak pelan dari atas ke bawah, memperhatikan Sougo dengan hati-hati

"jadi..." dengan penuh keberanian campur setengah bondo nekat. Gin memulai pembicaraan "apa yang membuatmu berpikir untuk membantu Oogushi-kun ?" tanyanya penuh hati-hati ,Sebenarnya arti sebenarnya pertanyaan Gin masih adalah bagaimana perasaanmu pada Hijikata? Tapi ia mengatakan dengan kelimat lain. Sekali lagi ia masih belum mati ditangan bocah yang emosinya saat ini tidak karuan

"...entahlah" jawab Sougo singkat masih tidak menunjukkan ekpresinya. Kau pikir betapa lega hati Gin saat mendengar jawaban Sougo yang masih bernada ringan "ikutlah denganku" ia memutar badannya dan mulai berjalan memimpin "untuk sementara tinggalah di sini"

"tentu aku tidak bisa memberimu kamar sel bukan, kemarilah kutunjukkan kamarmu" lanjutnya

.

.

.

...

Dengan demikian Sakata Gintoki, untuk sementara ini tidak di perbolehkan keluar markas. Tidak masalah baginya semenjak kamar yang di tawarkan oleh Shinsengumi tergolong mewah. Kamar yang ditempatinya adalah kamar dengan fasilitas yang sama dengan milik komandan dan wakilnya.

Yang membuatnya menjadi pikiran adalah sebenarnya dimana Hijikata?. Okita bilang dia tidak sepenuhnya diusir jadi seharusnya pemuda barambut hitam itu masih berada di sini bukan ?

Dan yang kedua. Dia tidak ingin membuat Shinpachi dan Kagura cemas, ingin rasanya meminjam telpon atau apapun itu untuk memberi tahukan kabarnya pada anak-anak tersebut. Tapi dia mengurungkan niatnya, dan memilih tetap diam.

"jika Hijikata-san ada mungkin dia akan mengomeliku" Sougo menghela nafas panjang sambil setengah menunduk

Anehnya bersamaan Gintoki juga melakukan hal yang sama namun tidak mengatakan apapun

Sougo menatapnya dengan sebelah mata lalu tersenyum kecil "tenang saja aku sudah meminta Yamazaki untuk memberi tahu kedua anak itu tentang kau akan disini untuk sementara waktu"

"dan untuk masalah Hijikata-san...kau bisa mendengarnya dari Yamazaki" jalasnya tak banyak sebelum memegang bingkai pintu geser ia menoleh ke belakang lagi "semenjak dia yang akan mengawasimu" tambahnya

"meski kau tidak meminta Zaki aku juga tidak akan kabur"

.

.

.

Di tempat lain Kondo sedang berada di ruang tamu sebuah apartemen yang cukup besar bersama dengan Hijikata. Kelihatannya itu adalah kediaman sementara wakil komandan yang sedang terasingkan

"Sougo?" Hijikata meletakkan rokoknya kembali, kelihatannya ia mengurungkan niatnya untuk merokok setelah mendengar nama bawahannya satu itu "dia menangkap Yorozuya?...demi aku ?"

"a...aku tahu ini gila" Kondo mengaruk belakang lehernya "menangkap seseorang yang tak bersalah." Dia tidak tahu bagaimana caranya mengatakan pendapatnya mengenai Gintoki "di mata hukum memang ia harus di tangkap tapi dia..."

"aku mengerti Kondo-san" sela Hijikata "Yorozuya bukan iblis seperti yang dikatakan masyarakat, kita sebegai Shinsengumi tahu itu..." ingin rasanya ia mengampar wajahnya sendiri karena sudah membela si kepala gulali. Tapi mau bagaimana lagi memang itulah adanya

"dan Sougo pasti tahu itu" timpal Kondo

"tapi...kau yakin dia tidak sedang bergurau atau semacamnya?" tanya Hijikata demngan nada ringan namun tersirat keseriusan di dalamnya "seingatku...dia tidak akan melakukan hal itu..." tanpa sadar ia telah memunculkan guratan kesedihan di wajah tampannya dan hal tersebut malah membuat Kondo semakin cemas dengan keadaan tangan kanannya ini

"hhh..hei, apa maksudmu ?" Kondo tersenyum seriang mungkin "dia juga salah satu keluarga kita, bagian dari kita. Tentu dia akan peduli padamu"

"tidak Kondo-san..dari kecil...mungkin dia membenciku"

.

.

.

.

...

"kenapa tidak kau memotong rambutmu?"

Tangan Hijikata yang masih sibuk dengankancing seragam barunya terhenti, menatap bocah cilik berambut coklat yang tiba-tiba mengkomentarinya tersebut

"rambutku?" ia menarik ujung rambut ekor kudanya

"dengan rambut seperti itu, kau bisa disangka perempuan"

"...benar juga, rambut pendek sedang trend di dunia modern ini huh" Hijikata muda tersenyum kecil pada bocah di depannya tersebut "rambut panjang juga tidak akan cocok dengan seregam Shinsengumi kita"

"dan kenapa juga kau yang harus menjadi wakil komandan" Sougo kecil duduk di sebelahnya namun masih menjaga jarak yang cukup jauh "aku lebih kuat darimu dan juga aku lebih lama mengenal Kondo-san" katanya cemberut "dan Aneue menyukaimu, apa bagusnya laki-laki sepertimu"

Hijikata menghela nafas dengan runtutan ocehan anak tersebut, ia hanya tersenyum menatap matahari terik siang itu "kau benar-benar tidak menyukaiku huh"

"aku membencimu"

"hahaha...aku tahu itu" Hijikata bangkit berdiri dari tempatnya dan kembali masuk ke kamar "jika kau menginginkan posisiku kenapa tidak kau membunuhku ?" katanya diakhiri bisikan

Semenjak kau membenciku...

.

.

.

"Toshi..."

Panggilan Kondo membuatnya yang tengah melamun masa lalu kembai sadar

"pastikan kau berbicara dengan Sougo mengenai Gintoki" lanjutnya "aku tahu maksud anak satu itu, dan aku juga ingin kau bisa kembali ke markas dan mengurus pekerjaanmu tapi..."

"aku tahu, sebagai polisi aku juga mengerti yang namanya hak asasi dan hati nurani" benar,tidak mungkin ia mengorbankan Gintoki tidak mengerti mengambil rokoknya yang tadi di letakkannya dan menyalakannya "kalau begitu, suruh dia kemari saat ia punya waktu luang" ia mulai mengigit rokoknya pelan menahan rasa gelisahnya "aah. Anak itu sampai kapan ia akan membuatku..."

Memperhatikannya...

.

.

.

To be continue

.

.

.

Reviews please : )