Entah bagaimana perasaaan mereka terhubung. Di dalam ruangannya ,Sougo juga sedang bernostalgia tentang hal yang sama dengan Hijikata. Ia sudah menyelesaikan tugasnya untuk hari ini jadi ia memutuskan untuk melayangkan pikirannya sambi berbaring di atas lantai tatami sebelum tidur.

"oi,oi...Okita-kun" tiba-tiba saja wajah Danna muncul "aku sudah mendengarnya dari gorila dan Zaki"

"Danna...jangan katakan kau berkeliaran di dalam markas" Sougo mendudukkan dirinya "maa..aku tidak bilang kalau kau tidak boleh keluar dari kamarmu sih"

Gin ikut duduk di sebelahnya, dia terdiam cukup lama memperhatikan gerak-gerik kecil Sougo sampai akhirnya ia mamutuskan untuk melanjutkan topiknya "mengenai Oougushi-kun, kurasa mereka tidak akan menerimaku begitu saja. Untuk impact yang lebih besar kau tetap harus menangkap Katsura atau Takasugi...mungkin menangkap si bodoh Sakamoto lebih mudah"

"kau jahat sekali...bukannnya kau saat ini ingin mereka menggantikanmu huh" Sougo menguap kecil lalu kembali berbicara "kau hanya rencana cadangan, jadi tenanglah" ia menguap lagi, kali ini lebih besar "nikmati saja liburanmu di sini..."

.

.

.

...

Tidak bisa dipungkiri jika Sougo lebih pintar dari Hijikata. Hijikata sendiri selalu mengakui keahlian anak itu dalam berpikir, selain itu sebagai seorang samurai Sougo memiliki kemampuan di luar akal sehatnya maupun Kondo dan almarhum ayah Kondo di masa lalu.

Tidak pernah satu kalipun anak itu menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya. Jika ingin menebas kepala ini, bukannya anak itu sakarang memiliki banyak waktu dan keahlian yang cukup ?

Hijikata tidak pernah takut, jika suatu saat nanti darahnya ini akan dihisap oleh sebilah pedang milik seorang Okita Sougo. Dia tidak akan menyesal, karena kematiannya tersebut akan membawa Shinsengumi ke tempat yang lebih terhormat dan hari kematiannya akan mejadi hari dimana seorang samurai hebat sekaligus pemimpin yang hebat muncul dalam dunia samurai di era modern ini

"aku menunggu keseriusanmu untuk memenggal kepala ini"

"Hijikata-san apa kau masih terbawa-bawa suasana kasus kemarin?" sambil mengaduk tehnya mata coklatnya itu tidak lepas dari Hijikata "aku bukan Shinigami"

Kelihatannya Kondo-san menyampaikan pesan Hijikata yang ini diruang tamu mereka duduk di sofa saling berhadapan

"...sebenarnya aku tidak keberatan pensiun dari jabatanku. karena ada kau, jadi masalah Yorozuya..."

"Hijikata-san..." sela Sougo menghentikan adukan tehnya "maaf, tapi aku sudah mendapat kepercayaan dari Kondo-san mengenai ini" ia tersenyum tipis menatap lurus Hijikata yang setengah kaget "tenang saja, aku tidak akan menyerahkan Danna segampang itu"

"kau...tidak perlu khawatir" lanjutnya

Dadanya terasa sesak saat melihat ekpresi lega dari Hijikata saat ia mengatakan Danna akan baik-baik saja. Sebenarnya selama ini ia sedang menebak perasan Hijikata pada si samurai perak tersebut.

Mereka begitu akrab, kecocokan mereka tidak perlu ditanyakan lagi. Dari kepribadian sampai umur dalam lubuk hatinya ia selalu cemburu pada Danna yang bisa mengambil perhatian Hijikata sampai sejauh ini.

Terakhir kali Hijikata mengirim Yamazaki untuk memata-matai Gintoki membuatnya tersadar akan perasaan posesivenya terhadap Hijikata. Ia ingin laki-laki di depannya ini terus melihatnya dan mewaspadai dirinya. Namun sekarang ia mendengar penyerahan hidup dari Hijikata pada dirinya, jujur saja membuatnya senang sekaligus kecewa.

Dia bukan Saemon yang menawarkan dirinya pada orang seperti Gintoki untuk mengakhiri hidupnya. Sebenarnya bukan itu ...kepalanya mulai merasa penat berpikir begitu banyak tanpa disadari kebiasaan buruknya kembali lagi

Setelah menghirup teh hangatnya, ia kembali berbicara "bagaimana jika Danna tinggal di sini menemanimu selama aku melakukan tugasku ?" tawarnya dengan senyum jahil khasnya

"h..h..hari-hari damaiku bisa kacau" balas Hijikata dengan nada agak bergetar, bisa dilihat muncul rona merah tipis di kedua pipi pemuda tersebut

Benar, kebiasaan suka membelakangi perasaannya sendiri itu yang membuat orang tidak bisa mengerti jalan pikirannya. Jika dia benar-benar jatuh cinta pada Hijikata kenapa tidak ia katakan bukannya malah memanas-manasi dua orang tersebut.

Semenjak reaksi manis Hijikata membuatnya kesal, ia meneguk minumannya dengan cepat sampai tandas lalu segera bangkit berdiri "mampirlah ke markas, kau bisa bertemu dengannya di sana" katanya sebelum melangkah menuju pintu keluar "tentu kau hanya bisa mampir sebagai Hijikata Toushiro bukan wakil komandan"

"... aku tahu"

.

.

.

Seandainya Gintoki dan Hijikata akhirnya bersama, apa yang akan dilakukannya?

Selama ini ia bisa membayangkannya dan selama ini ia selalu menganggap acuh pertanyaan dalam hatinya tersebut.

"tsk...aku benci dia"

Ya, seharusnya dia membenci Hijikata di tempat pertama lalu malah kenapa sekarang berbalik ?

Ingin rasanya ia melempar handphone yang tergelatak di sebelahnya. Tapi kebiasan tenangnya itu menyelamatkan alat komunikasi tersebut, ia tidak seperti Hijikata yang bertingkah memikirkan sebuah negeri dengan dia sebagai perdana mentrinya sambil menghisap rokok-rokok tersebut dan Yamazaki sebagai karung tinju pelampiasan.

Kepalanya masih belum berasap, semenjak ia selalu tenang

.

.

.

.

.

"naa...kenapa kau bersikap begitu kasar pada mayora?"

"jangan tiba-tiba nyerocos gak karuan di depanku tanpa mengatakan' hallo' china musume"

Secara tidak sengaja Sougo dan okita bertemu di sebuah taman kecil, Sougo yang sedang istirahat dari kejaran Hijikata duduk di kursi taman dan tiba-tiba Kaguramengajak bicara tanpa mencupkan sapaan

"kalau kau seperti itu terus Gin-chan bisa merebutnya lho..." tangan kecil gadis itu membelai pelan anjing raksasa di sebelahnya. Kalau Sougo tidak salah ingat bola bulu raksasa itu namanya Sadaharu

"apa maksudmu ?"

"kelihatannya Gin-chan tertarik dengan wakil komandan tsundere kalian"

"lalu apa?, aku tidak peduli"

"hmm...bukannya kau menyukainya ?"

"aku membencinya, bagian mana aku terlihat menyukai si brengsek itu? Menjijikkan"

"kau tahu...benci dan cinta itu beda tipis...jangan sampai kau salah Okita-kun" balas gadis itu dengan suara semanis mungkin, masih dengan logat anehnya. Gadis berpakaian China itu tersenyum sebelum ia dan anjing peliharaanya pergi dati hadapannya

.

.

.

.

Cinta dan benci itu beda tipis. Memang kalimat tersebut selalu populer pada pasangan anak SMA biasanya atau mungkin cinta monyet bocah-bcah SD atau SMP dimana salah satunya akan membuli orang yang di sukainya

"cih, gadis itu" ia mendecih pada langit-langit coklat kamaingin rasanya ia melupakan pembicaraan dengan Kagura

.

.

.

To be continue