Sudah seminggu Hijikata pergi dari markas, rasanya rindu sekali dengan tampat itu akhirnya ia memakai kimono hitamnya dan meuju markas Shinsengumi
Meski hanya menjenguk para bawahannya dan tak bisa lagi ia ikut campur dalam pekerjaan mereka. Tetap saja ia ingin sekali lagi melangkahkan kakinya ke dalam markas tersebut
...
Masih sampai di depan pintu gerbang markas, ia bisa melihat kehebohan luar biasa dari lubang gerbang yang terbuka lebar-lebar "apa yang terjadi?" pikirnya "...jangan kaatakan kalau teroris?!" keringatnya mulai keluar saat memikirkan hal negatif berikut segera ia masuk ke halaman depan
Semua orang mengabaikannya, setiap individu sibuk berkeliaran sambil menoleh kanan-kiri bahkan mengintip dalam semak-semak seolah mencari seekor kecing ada juga yang mengintip kolong lantai panggung kayu
Hijikata no idea apa yang sedang mereka cari, ia hanya menghela nafas kecewa karena diabaikana dan mulai duduk di pojokkan teras menunggu siapapun menyapanya
"oi,oi..."
Tak lama kemudian suara bodoh familiar berbisik di sebelah telinga kirinya, ia menoleh dan menemukan Gintoki yang mengintip dari balik tembok
"eh...eh?" ia tidak bisa mengatakan apapun saking kaget dan binggungnya
"kemarilah..." tangan Gintoki melambai memanggilnya "kau datang di waktu yang tepat"
.
.
.
.
Di sinilah mereka sekarang. Di ruang bawah tanah, tempat penyimpanan senjata. Hijikata masih bertanya-tanya bagaimaan bisa orang luar seperti Gintoki mengetahui tempat tersebut tapi dia memilih untuk diam dan fakus pada gelagat si kepala gulali tersebut
"na Hijikata...kau sekarang tinggal di mana?"
"...sebelum aku menjawabnya, bagaimana kalau kau melepas tanganmu dulu ?"
"eh!?" Gin menunduk melihat tangannya sendiri. Saat ini ia mengengam erat tangan putih Hijikata, betapa malu dan gugupnya dia sekarang "ma,maaf" segera ia melepaskan tangannya
Mereka berdua diam. Cukup lama dalam kecangungan sampai rasa penasaran Hijikata kembali lagi dan memecahkan keheningan dengan pertanyaan "jangan katakan kalau yang mereka cari adalah kau ?"
"hahahaha..." Gin tertawa garing sambil mengaruk pipinya dengan satu jari "begitulah...tapi tenang saja, aku tidak akan kabur"
"lalu kenapa kau membuat kehebohan ?" Hijikata memasukkan masing-masing tangannya ke lubang lengan Kimono yang besar di kanan dan kiri "sampai menyeretku segala"
Benar, apa si kepala gulali ini tidak tahu perasaan Hijikata terhadapnya ?. tidak masih belum bisa di bilang cinta!, tapi bisa dikatakan suka! Dan perasaan sukanya itu berbeda dengan orang lain, Author dan Hijikata sendiri tidak bisa mendeskripsikan perasaan tersebut namun yang pasti setiap kali ia bersama dengan samurai perak ini jantungnya berdegup dengan cepat
Tiba-tiba Gintoki menyeretnya dan menggengam tangannya, kau pikir betapa susah Hijikata untuk tidak menujukkan wajahnya yang panas dan merah
"...sebaiknya kita kembali berhentilah bermain-main" belum sempat Hijikata menaikkan salah satu untuk menaikki tangga Gin mencegahnya "tunggu!" sambil memegangi kerah belakangnya "jangan dulu"
"lalu apa?...waaah!" berkat tarikan tersebut Hijikata jatuh ke belakang namun sebelum kepalanya membentur lantai Gin menangkapnya "fiuh,,,hampir, hampir"
Kali ini mau tak mau wajah Hijikata memanas saat ia mendongak ke atas ia bisa melihat wajah Gin yang begitu dekat, segera ia memperbaiki posisi "berhenti menjadi misterius dan katakan padaku apa alasanmu!" mintanya untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya
"aaah...aku kabur dari bocah itu" jawab Gin singkat tanpa penjelasan
Tentu jawaban tak jelas tersebut membuat Hijikata bertanya lagi untuk detailnya "Sougo?, kenapa ? kudengar dia tidak memasukkanmu ke sel" mungkin maksudnya adalah Sougo tidak sejehat itu sampai kau harus lari darinya
" sebelum itu aku minta maaf...telah memakai bawahanmu dengan seenaknya" kelihatannya Gintoki mulai menjelaskan "sebenarnya..."
.
.
.
.
.
"aku mengerti, aku akan berbicara dengannya" Hijikata telah mendengar semuanya , sekarang ia tahu rencana bocah nekat tersebut. Rencana yang sangat bodoh dan akan merugikan Sougo sendiri, ingin rasanya saat ini ia berlari menghampiri dan menarik kerah anak itu. Tapi untuk masalah ini ia benar-benat harus berbicara denga serius dan dewasa "sekarang kembalilah" katanya asal main perintah "kau juga membuat Kondo-san panik"
"hei hei..." nada suara Gin memberat, dia sendiri juga tidak tahu jenapa tiba-tiba ia merasa kesal "pertama gorila lalu kenapa tiba-tiba kau perhatian pada si pengeran sadis ?" ia mendengus di akhir kalimatnya. Kelihatannya ini yang di sebut mereka cemburu. Iya, tiba-tiba saja ia merasa perasaan kesal ini si sebut dengan cemburu semenjak ia mulai bertanya kapan si pemuda seumurannya ini memperhatikannya dalam hatinya
"tentu saja dia adalah—" Hijikata berhenti, dia tidak tahu bagaimana ia harus merangkai kalimatnya "...sudahlah" ia melambaikan tangannya mengakhiri pembicaraan
.
.
.
.
...
Tiba-tiba saja Hijikata mengalami situasi yang sulit, rumit dan juga membingungkan saat ini. Belakang kepalanya sakit karena terbentur lantai kayu teras belakang kamar tapi saat ini tidak bisa ia menikmati rasa sakit di kepalanya itu, karena saat ini di , di atasnya saat ini Sougo menatapnya tajam dan intens.
"Hijikata-san..." panggilnya dengan suara sangat lembut, tangannya membelai rambut hitam Hijikata dengan penuh kasih sayang
"S...Sougo, ada apa denganmu ?"
.
.
.
(sebelumnya)
"Sougo..."
Dengan seenaknya Hijikata masuk ke kamar anak yang dari tadi di panggilnya, terpaksa ia menemui remaja itu malam hari semenjak anak itu melakukannya pekerjaan dengan serius.
Mendengar kalau si pemalas Sougo itu bekerja dengan baik, mengikuti jadwalnya membuatnya semakin bertanya-tanya apa yang sedang terjadi pada bocah itu? Pertama kenapa tiba-tiba ia ingin membantuku ? kedua kenapa tiba-tiba ia menjadi rajin ?
"ada yang ingin kubicarakan!"
Sougo duduk termenung menatap bulan purnama sempurna yang menerangi langit malam yang gelap, mulanya ia tidak menganggap Hijikata yang seenaknya masuk ruangannya tapi setelah Hijikata lebih dekat darinya ia mulai menoleh
"tadi siang Danna membuat ulah bukan ?" ia memberi senyuman tipis "aku tahu apa yang ingin kau bicarakan"
"..mengenai hal itu..." melihat senyuman tersebut membuat Hijikata tiba-tiba saja merasa gelisah, seperti ada ganjalan di dalam hatinya, entah kenapa semenjak Sougo menawarkan dirinya untuk menikahi Kagura, meski hanya bercanda. Setiap kali melihat senyuman tipis yang lembut tersebut membuatnya dadanya berdebar
"me,mengenai rencanamu itu" ia melangkah lebih dekat ;agi sampai dia berdiri di sebelah Sougo yang duduk di lantai kayu
.
.
.
Dan begitulah, situasinya. Belum sempat ia mengatakan apapun ia sudah di tarik ke bawah dan berakhir di tindih oleh laki-laki yang labih muda darinya
"jadi, bagaimana menurutmu ? tentang rencanaku"
"terlalu nekat, jika ketahuan tidak hanya kau yang harus seppuku tapi kita semua"
"kupikir kau akan protes mengenai danna yang akan kujadikan umpan"
"...tentu...seharusnya kau tidak melibatkan dia"
"tapi Cuma dia yang bisa memainkan peran tersebut"
"..."
Hijikata terdiam, ia tidak bisa berbicara lagi. Selain tidak banyak yang ia ketahui tentang rencana detail Sougo ia juga tidak tahu apa tujuannya, kenapa bocah itu ingin sekali ia kembali pada posisinya "
"na Hijikata-san" panggil Sougo seraya membelai rambut hitam Hijikata sekali lagi "biarkan aku yang melakukan hal ini untukmu...biarkan aku membunuh orang itu untukmu"
"untuk apa?" Hijikata mengalihkan pandangannya "kau sedang membahayakan dirimu sendiri, kau tahu itu?"
"aku...ingin jujur pada oerasaanku sendiri, jadi..."
"..."
"setelah ini...aku ingin mengatakan sesuatu padamu "
"..." Hijikata menatap lurus lagi, agar dia bisa melihat ke atas dimana wajah Sougo berada. Jujur saja ia tidak mengerti apa yang di maksud Sougo dengan kejujuran ? jika ingin mengatakan sesuatu kenapa tidak sekarang saja
"Kenapa, tidak sekarang saja?" ia melontarkan pikirannya
"tidak ada artinya jika aku mengatakan pada Hijikata Toushiro yang biasanya saja, karena perasaanku ini berawal dari wakil komandan Shinsengumi"
"jadi, biar kali ini aku melakukan sesuatu untukmu Hijikata-san..." lanjutnya
.
.
.
To be continue...
