"anak itu...mngetahui seseorang di balik semua ini" saat mengatakannya Gintoki mengalihkan pandangannya ke tempat lain "yang membuat Matsudaira...memperlakukanmu begini dan mengancam Shinsengumi seperti itu, karena ia terhasut" jelasnya

"dan rencana Sougo ?"

"dia akan berpura-pura menyerahkanku pada mereka di sisi lain ia akan menyelinap...membunuh orang itu" lanjutnya di akhiri helaan nafas "dan kau sudah tahu, orang itu bukan"

"...Takasugi terlibat lagi huh" Hijikata menyalakan rokoknya lalu memasukkannya ke dalam mulut "dasar orang bar-bar"

...

Hijikata duduk diatas sofa, sambil menghirup rokoknya ia memperhatikan langit-langit ruang tamunya. Wajahnya terlihat gelisah. Dari asbaknya bisa diketahui ini sudah rokok kelimanya pagi ini, meski ia berusaha menenangkan dirinya setenang mungkin tetap saja tidak bisa. Pikirannya hanya satu saat ini yaitu bagaimana keadaan Sougo ?

Ia sudah berjanji pada Sougo malam itu. Yaitu untuk menunggunya, meski ada kejanggalan dalam hatinya untuk membiarkan anak itu melakukan rencananya tapi entah kenapa di dalam hatinya yang paling dalam ia ingin percaya, percaya dan berharap pada yang akan di katakan seorang Okita Sougo padanya

Kondo juga ikut andil dalam rencana tersebut, setidaknya hatinya cukup tenang kalau setidaknya rencana tersebut di dukung oleh Shinsengumi sendiri . meski masih tidak terjamin keselamatannya, semenjak Mimawarigumi bukan satuan organisasi yang memiliki insting tumpul

"...jangan mati...bodoh" ucapnya hampir tak bersuara semenjak hanya dia sendiri yang di dalam ruangan tersebut

.

.

.

.

Ini sudah dua hari semenjak kabar pelaksanaan rencana nekat Sougo, dia hanya diam mengurung diri di apartemennya.

Meski keluarpun ia tidak akan bisa tenang, maka karna itu ia memutuskan untuk diam dan menunggu seseorang dari Shinsengumi untuk menghubunginya atau mendatanginya untuk memberi kabar.

"mau sampai kapan ia membuatku menunggu ?" keluh Hijikata menghela nafas sangat panjang, tidak bisa tahan lagi ia mulai mengambil Handphone yang sedari tadi ia letakkan di atas meja kecil di sebelah sofanya. Jaga-jaga jika pangilan yang ditunggu-tunggunya datang.

Ia menatap Hanphone yang digengamnya, mungkin masih menunggu Handphone itu bergeming. Dia menunggu untuk beberapa detik namun tak kunjung bergeming

"tsk.." sambil mendecak sudah tak sabar ia membuka lipatan Handphonenya hendak memencet tombol yang diinginkan. Namun sebelum jari-jarinya bergerak ,alat komunikasi yang di genggamnya tersebut bergetar sembari mengeluarkan nada dering

"!" matanya membulat sejenak lalu mulai menekan tombol terima

"Hijikata-san... "

Itu suara Sougo, ya ampun rasanya sudah bertahun-tahun ia tidak mendengar suara anak bernada malas tersebut

"i,iya?" entah kenapa mendengar suara tersebut membuat jantungnya berdebar dengan cepat. Ya, dia pasti khawatir tidak lebih. TIDAK! Kenapa juga dia harus khawatir pada anak sekuat itu ?. ia masih saja menampik isi hatinya

"kami berhasil... "

Sekali lagi mata biru Hijikata melebar "a,apa?" tanyanya ingin minta diulang

"kita berhasil menyingkirkan orang itu..."

Hijikata memang tidak bisa melihat wajah Sougo tapi dari nadanya Hijikata bisa menebak jika anak itu sedang tersenyum di seberang sana

"hanya menunggu Kondo-san untuk membujuk pak tua "

"...dengan kemampuan berbicara Kondo-san ?"

"tenang saja, dengan kejujuran Kondo-san...pak tua itu akan mengerti"

.

.

.

.

...

Flash back (several month ago)

*PLIK*

Saat matanya terbuka, Hijikata menemukan wajah Kondo yang cemas sekaligus berkaca-kaca karena mencemaskannya.

"Kondo-san?" panggilnya lemah sambil memegangi kepalanya yang masih berdenyut dan sakit tidak hanya itu saat ia mencoba mendudukkan dirinya perutnya juga terasa sakit

"jangan bangun dulu!" cegah Kondo namun ia menghiraukannya dan tetap duduk meski harus menahan sakit saat perutnya menekuk "aku sangat mencemaskanmu kau tahu."

Ia memegangi kepalanya yang masih setengah linglung dan memberi pertanyaan pada dirinya sendiri kenapa Kondo-san khawatir padaku ?

Ah benar juga...

Ia teringat kejadian yang membuat perutnya terbalut, wajah Sougo yang terkejut mengingatkannya tentu karena melihat wajah anak itu spontan ia bertanya "bagaimana dengan Sougo ?"

"dia tidak terluka sedikitpun...dia selamat" jawab Kondo "hanya saja, dia tidak menjengukmu selama pingsan. Dia hanya diam dan merengut sendirian sepanjang hari"

"yaah...itu caranya sendiri untuk khawatir" lanjutnya, tersenyum tipis sambil membelai rambut hitam Hijikata

Aku tidak tahu dan tidak mengharapkan hal itu pikir Hijikata sekilas

"mau kupanggilkan dia ?" tawar Kondo

"tidak" tolah Hijikata "pergi dan kembalilah bekerja" ia mulai mendorong Kondo untuk menjauh

"hei, jangan mengusirku" protes Kondo masih tidak ingin pergi meninggalkannya sendirian

"aku baik-baik saja...aku akan beristirahat dengan baik"

"baiklah" dengan berat hati Kondo menuju pintu keluar "pastikan kalau kau butuh sesuatu panggil aku" pesannya menoleh ke belakang lagi sebelum keluar dan menutup pintu geser

.

.

.

.

Hijikata mulai menutup matanya dan berbaring menenangkan dirinya. Kembali ia mengingat kejadian sebelumnya dimana ia dan Sougo terpojok di tengah para teroris radikal yang bar-bar.

Saat itu, di belakang Sougo seseorang diantara mereka hendak membunuhnya. Dan tanpa sadar Hijikata...

"aku..OUCH!" tiba-tiba saja ia bangun dari tidurnya dan duduk tentu saja ia akan merintih kesakitan. Untuk sejenak ia menghela nafas untuk menangkan dirinya aah...di depan gelap pikirnya saat melihat celah pintu gesernya yang setengah terbuka

Baru bangun tidur ia merasa haus, menengok meja kayu di sebelahnya untuk mencari segelas air ia malah menemukan gelas kosong. Dia kehabisan air mau tak mau ia berdiri dan mengambil gelas tersebut untuk pergi ke dapur

Di luar Sougo duduk sendirian menatap bulan, melihat anak itu ada di depan kamarnya mau tak mau Hijikata bertanya "apa yang kau lakukan ?"

"!" Sougo menoleh sekilas menunjukkan rasa terkejut namun kembali lagi menghadap ke depan mendongak ke bulan ah,,Hijikata-san kau sudah bangun" ia masih menatap bulan "malam ini bulannya indah jadi aku melihatnya.." jawabnya

"...kau datang ke depan kamarku hanya untuk melihat bulan?"

"aku bisa melakukan apapun yang kumau"

"kau ini" geram Hijikata masih tak mengert pikiran pemuda yang lebih muda darinya tersebut

Dia punya caranya sendiri untuk khawatir

Tiba-tiba saja ia ingat ucapan Kondo tadi siang 'tidak mungkin bukan ?' pikirnya masih menatap punggung Sougo

"Hijikata-san" panggil Sougo akhirnya membuka percakapan "tolong jangan lakukan hal yang tak perlu"

"aku tidak mau berhutang padamu" lanjutnya

"itu sangat egois"

Sougo membulatkan matanya pada respon Hijikata yang tidak sesuai bayangannya

"ini bukan masalah hutang. Aku akui kita lengah dan kau hampir saja mati...apa kau mau mati ?" lanjut Hijikata menyilangkan lengannya di depan dada sambil menyandarkan punggungnya ke pintu kamarnya

Siiiiing

"hei, katakan sesuatu!" geram Hijikata merasa risih dengan kesunyian tersebut

"karena..." Sougo mulai membuka mulutnya "ini membuatku kesal"

"eh?" Hijikata menaikkan alisnya dan mulai merasa sebal entah kenapa "oooh? Benarkah? Kenapa kau? Aku yang terluka kenapa kau yang merasa kesal ?"

"bukan padaku" balas Sougo cepat "aku kesal pada diriku sendiri..."

"aku kesal karena kau dengan tidak pentingnya terluka" lanjutnya berdiri dan mendekati Hijikata yang terlihat terkejut plus kebingungan dengan balasannya

"Sou—"

"karena jika bukan aku yang membunuhku maka akan percuma"

*drrrt*

Tanda siku-siku yang harusnya sudah hilang muncul lagi di wajah tampan Hijikata "bukannya itu menarik semua kata-katamu tadi ?" geramnya dengan suara bergetar

" apalagi meski kau tidak menolongku aku bisa menghindarinya dengan mudah" masih saja Sougo nyerocos gak karuan "kau terlalu banyak makan mayones bukannya kau berpikir kalau kau sudah menjadi malas ?"

"AKU TIDAK INGIN MENDENGARNYA DARIMU !" teriak Hijikata sekuat tenaga seperti biasanya

"Hijikata-san jika kau berteriak seperti itu lukamu akan terbuka lagi"

"KAU PIKIR SALAH SIAPA?" lagi-lagi ia berteriak. Setelah itu ia menghirup nafas panjang menahan emosinya, Sougo benar dengan keadaannya sekarang lukanya bisa terbuka lagi. "...tidak akan terjadi lagi" katanya ringan setelah tenang

"...tentu saja" Sougo mulai melangkah mengambil jalan untuk pergi "ingatlah Hijikata-san, yang membunuhmu adalah aku"

"jaga baik-baik badanmu itu" katanya sebulum pergi menuju kamarnya sendiri.

(end of flash back)

.

.

.

.

To be continue

.

.

Chapter kali ini hanya mengenang masa lalu mereka berdua saja untuk lanjutan bagian atas(yang pertama) untuk chapter ini akan di lanjutkan di chapter selanjutnya.

Terima kasih telah membaca dan saya sangat menantikan reviews para readers : )