Beberapa hari kemudian

Pagi ini Yamazaki datang untuk menjemputnya. Mulai hari ini ia kembali memakai seragam hitam Shinsenguminya dan meninggalkan apertemen tersebut

Sesampainya di markas, semuanya menghampirinya dan memeluknya. Benar-benar menyambut kedatangannya.

Meski dia adalah wakil komandan iblis yang sangat galak pada bawahannya tidak ada seorangpun disana yang membencinya maupun dendan padanya. Hanya rasa sayang dan hormat yang bisa diberikan mereka

"selamat datang" berdiri di belakang yang lainnya Sougo memberinya sambutan sambil tersenyum tipis. Tentu tidak mungkin bukan ia berlaku seperti yang lainnya, meloncat dan memeluk Hijikata

"terima kasih" balas Hijikata juga yersenyum

Hanya sekilas namun pertemuan mereka menyiratkan momen yang penting bagi keduanya. Cukup lama mereka memandang satu sama lain. Sampai derap kaki seseorang terdengar menghampiri gerombolan mereka

"Toshi!"

Tidak lama kemudian si komandan gorila berlari dan menubruk Hijikata beserta yang lainnya "selamat databg"

"terima kasih Kondo-san" balas Hijikata agak merasa canggung. Tidak disangka semuanya begitu memperhatikannya

.

.

.

.

Setelah melakukan pekerjaanya. Shinsengumi mengadakan pesta besar-besaran untuk menyambut wakil komandan yang baru saja kembali. Suasananya begitu meriah dan terlalu meriah sampai membuat Hijikata pusing dan memutuskan untuk keluar dari ruangan

Di depan Sougo duduk menatap bulan sendiran, entah kenapa mereka merasa pernah mengalami hal yang similiar dengan saat ini

"Hijikata-san...kau tamu kehormatan mereka kenapa kau malah keluar ?" tanyanya tak mengalihkan pandangan dari langit

"itu hanya alasan mereka untuk berpesta" jawab Hijikata menutup pintu di belakangnya "mereka berpesta seperti orang gila" omelnya sambil mendekati Sougo

"hahaha...itulah Shinsengumi"

"..." Hijikata diam. Entah kenapa suasana di antara mereka begitu canggung, memberanikan diri Hijikata duduk di sebelah Sougo, ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapi suasana yang canggung ini tapi ia memilih duduk dan menatap bulan bersama.

Masih terdengar teriakan-teriakan yang lain di ruangan belakang mereka tapi seolah mereka mengabaikan semua kebisingan mereka dan tetap menatap bulan dengan pikiran yang melayang masing-masing

Cukup lama sampai Hijikata memberanikan dirinya untuk membuka mulut "jadi..." ia menelan ludahnya sendiri dia benar-benar tidak tahu apakah harus dia menanyakan hal ini "apa yang ingin kau katakan padaku ?"

Ingin rasanya ia menggali tanah dan masuk ke dalamnya, ingin rasanya ia menampar dirinya sendiri karena telah terlanjur bertanya. Ia benar-benar binggung dengan perasaanya, kenapa juga ia mengharapkan jika Sougo akan mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya. Toh paling anak itu Cuma akan bilang kalau Cuma aku yang boleh membunuhmu, membully mu atau apalah itu. YA!. Pasti yang ingin dikatakan Sougo Cuma itu TITIK gak pakai koma dan embel-embel lainnnya.

Iya kejadian ini juga akan berlalu sama seperti kejadian beberapa bulan yang lalu, Sougo Cuma khawatir padanya karena kita adalah keluarga.

Kenapa juga ia harus mengharapkan kalimat itu dari Sougo ? bukannya seharusnya ia mengharapkannya dari Yorozuya ? atau mingkin ia harus mengucapkannya sendiri pada samurai perak itu, tentu bukan sekarang tapi suatu saat nanti jika dia sudah menentukan pikirannya.

Benar...kata-kata cinta itu bukan untuk kami berdua

Pikirnya sambil menghela nafas panjang. Padahal baru saja ia bertanya Hijikata malah meneggelamkan pikirannya pada dunianya sendiri tanpa mengubris jawaban dari Sougo.

"HIJIKATA-SAN! " hasilnya Sougo meneriakinya tepat di sebelah telinganya "JANGAN ABAIKANKU!"

"HUAAA!" Hijikata melonjak terkejut "a,aaap..a?" dia malah jadi gagap saking kagetnya

"apa kau mendengarkanku ?" Sougo menghela nafas sambil menaikkan poninya benar-benar terlihat sangat frustasi

"...i,iya? Eh, ti,tidak aku tidak mendengarmu" Hijikata mengelengkan kepalanya

Sougo mengembungkan pipinya bersamaan dengan bibirnya yang cemberut, kelihatannya ia benar-benar kesal karena diabaikan "aku..." mau tak mau ia membuka mulutnya lagi untuk mengulanginya tapi sebelum i melanjutkannya Hijikata menyela "tunggu" pemuda yang lebih tua itu mencegahnya "ti,tidak apa-apa...kau tidak perlu mengulangnya"

"memangnya kau ESP?" Sougo menaikkan salah satu alisnya dan menyilangkan kedua lengannya "kau tidak mendengarku sama sekali bukan ? memang kau tahu apa yang ingin kau katakan ?"

Kelihatannya si Hijikata masih takut mendengarnya, akhirnya Sougi yang tak sabaran lagi menarik Hijikata mendekat dengannya. Kedua tangannya ia letakkan di satu pundak Hijikata dan bibirnya ia dekatkan ke telinga "kalau seperti inikau tidak bisa tidak mendengarkanku bukan ?"

"he,hei..."

Sayangnya sebelum Hijikata mendorongnya anak itu sudah membisikkan apa yang dari tadi tidak ingin didengarnya

.

.

.

"kau sudah mendengarnya. Dan kau harus menjawabnya Hijikata...san?" mata Sougo membulat sejenak melihat wajah merah,super merah. Lalu akhirnya melembut dengan seringaian "mukamu merah Hijkata-san "

"aku tahu, kau pikir salah siapa ?" tidak perlu bocah itu mengatakannya sudah bisa ia merasakan wajahnya memanas "bukannya kau keterlaluan, itu bukan leluon"

"jahat sekali Hijikata-san...itu bukan lelucon" Sougo mendengus sambil menyilangkan kedua lengannya lagi "dengar ini yang terakhir kalinya"

"sudah..jangan katakan lagi"

"perasaanku padamu..." Sougo mengabaikan Hijikata dan terus melanjutkan kalimatnya "aku mencintaimu..."

"mau berapa kali kau kau mengatakan hal memalukkan begitu" memalingkan wajahnya Hijikata mengambil sebatang rokok dan pematik dengan mode gelisah ia memutar pematik tapi tak kunjung nyala karena tangannya gemetaran. Kebiasaannya setiap kali ia gelisah "a..apa lagi, kenapa juga kau menyukai laki-laki sepertiku? Bukannya kau akan lebih cocok dengan gadis seperti China ..."

"salahkan saja pada wakil komandan yang menolongku 2 bulan yang lalu"

"dua bulan lalu ?"

"saat itu...aku menyadarari jika, di saat kau terbaring lemah seperti itu aku..."

Melihat Sougo kembali ke mode anak-anak Hijikata juga kembali ke mode dewasa. Hijikata melirik Sougo yang di sebelahnya hanya dengan sebelah mata lalu menghela nafas "terima kasih kau telah mencemaskanku tapi...itu bukan rasa cinta"

"aku membencimu tapi juga mencintaimu..."

"apa-apaan itu ?" Hijikata bersweat drop "sebenarnya yang benar yang mana ?"

"sudahlah...hanya terima pengakuanku memang kenapa sih ?" Sougo kembali cemberut "atau Danna lebih bagus dari pada aku ?"

"kenapa si bodoh itu ikut-ikutan ?" Hijikata memerah kemana-mana lagi "kenapa juga aku harus—"

"Hijikata-san..." sela Sougo dengan nada agak berat "sampai kapan kau bersikap tsundere?"

"untuk masalah ini, aku benar-benar lebih dewasa dari pada kau huh" lanjutnya

"...ma,mau bagaimana lagi" Hijikata menunduk di saat bersamaan ia menghela nafas "aku tidak ber..berpengaaman ? tunggu! Memangnya kau berpengalaman ?" ia menunjuk-nunjuk wajah Sougo "di tempat pertama kenapa juga harus aku ?"

Tanda siku-siku mulai bermunculan dari wajah Sougo. Dengan cepat ia menarik lengan Hijikata dan memberikan ciuman sekilas pada pemuda yang lebih tua darinya tersebut. Kelihatannya ia benar-benar kesal dengan setiap sangkalan hati yang sudah menjadi kebiasan berpikir wakil komandan Tsundere tersebut

"baiklah jika kau susah memilih. Maka kau harus memilih ku " Sougo menyeringai sambil menunjuk dirinya sendiri "dari pada membunuhmu aku lebih ingin membunuh danna sekarang"

"...lakukan sesukamu"

.

.

.

.

To be continue

.


Yang dimaksud kejadian dua bulan yang lalu adalah cerita flash back dari chapter selanjutnya. Untuk status mereka pacaran atau gaknya akan di bahas di chapter selanjutnya. : )

Terima kasih letah membaca sampai Chapter ini dan saya menantikan reviews dari para readers...