Auhtor Note:

Bacalah baik-baik dan dengan seksama.

Hai, semuanya. Jumpa lagi dengan saya zhaErza, dan sekarang saya akan kembali melanjut fic ini. Hehe.

Oh ya, ada pengumuman:

1. Cherry Philein akan lanjut dan tidak hanya sekedar 3 shot, mungkin akan lebih panjang dan entah sampe chapter berapa baru tamat.

2. Rei Gaara akan saya tag chara ke dalam fic ini.

3. Waktu itu ada reader yang bilang agar saya buat ending baru. Jadi, fic ini sebelumnya saya hiatus karena hilang ending dan ide, dan sekarang saya akan melanjut fic ini dengan ending baru dan ide baru. Terimakasihlah kepada fic Green and Akashi yang bisa mencerahkan pemikiranku tentang fic ini.

4. Jangan berharap banyak keromantisan tentang SasuSaku, karena sekarang Gaara telah saya tag chara ke fic ini. Fic ini akan menjadi cerita cinta segitiga mulai sekarang, dan genre Hurt akan saya tag ke dalam fiksi ini.

5. Sebenarnya saya mau hiatus fic ini sampai ending awal yang saya rancang dapat saya ingat, tetapi ada beberapa reader yang terus memaksa saya dan terus neror saya agar buat ending baru, dan membuat saya rada sebal juga. Dan sekarang saya sudah buat ide dan ending baru, jadi selamat menikmati karena ini benar-benar berbeda dari ending awal yang saya rancang. Sekali lagi, karena Gaara sudah saya masukkan ke dalam mainchara dan mainpair.

6. Saya akan balas review dari PM untuk yang punya akun, yang tidak punya saya minta maaf banget karena masih belum punya kesempatan untuk membalasnya. Tapi, saya tetap berterimakasih kepada pembaca yang telah mereview fic Cherry Philein baik yang memiliki akun ataupun anon.


.

.

.

Sasuke memaksa Sakura untuk memakan makanannya.

"AAA!" ucap Sasuke menggeram karena Sakura tak kunjung membuka mulutnya.

"NGAAK ... emmm!" Sakura menolehkan wajahnya ke kiri dan ke kanan untuk menghindari suapan Sasuke.

"Gadis bodoh, makan! Buka mulutmu!" lagi, Sasuke menggeram ketika ingin memasukkan makanan itu ke mulut Sakura.

Kondisi mereka sudah seperti ayah yang sedang memaksa anaknya makan. Kesal, Sasuke menghentikan aksinya dan kembali duduk tenang. Sebelumnya lelaki itu sudah duduk di atas paha Sakura karena Sakura tak mau juga membuka mulutnya. Sakura menghela lega, tangannya ia gerakkan untuk membenahi posisi kacamatanya yang sempat tidak teratur, sementara Sasuke memasukkan potongan tempura ke mulutnya, lalu ia menatap Sakura yang masih sibuk membenahi rambutnya dan poninya.

Hanya sekejap saat Sakura masih membenahi rambutnya, ia menjadi linglung saat tiba-tiba benda hangat itu menyentuh bibirnya serta memaksanya untuk membuka mulut dan memasukkan sesuatu, hingga ia harus mengunyahnya dan menelannya. Sakura berdebar-debar saat melihat wajah nan tampan itu menatapnya dengan kemenangan.

.

.

.

Cherry Philein

By: Cherry Philein

Naruto milik Kishimoto Masashi, saya hanya minjam charanya.

Rei Gaara & Haruno Sakura & Uchiha Sasuke

Genre: Romance

Warning: EyD?, OOC, Typo, RnR dan lain-lain.

.

.

.

Selamat Membaca

Chapter 3

.

.

.

Ia bersumpah akan mencungkil mata sehitam malam itu sekarang, beraninya lelaki yang memiliki feromon merngerikan ini menyuapinya dengan cara dari mulut ke mulut. Gadis yang masih menarik napasnya karena sedang mendinginkan kepalanya yang siap meledak itu, kini masih mencoba membunuh Sasuke dengan tatapan matanya. Tuhan, Sakura bersumpah akan menusuk bola mata itu.

Seringai, seringai, dan tatapan menggoda.

Lelaki yang masih tersenyum menang itu kini masih saja menyoraki keberhasilannya dalam menyuapi gadis keras kepala ini. Ia sudah berbaik hati ingin membagikan bekalnya (bekal Sakura yang berhasil dicurinya dan diklaim sebagai miliknya) kepada gadis berambut lolipop, dan sekarang, setelah tempura itu berhasil masuk ke dalam perut indah gadis berkacamata ini, ia seorang Uchiha Sasuke malah dihadiahi tatapan mata ala pembunuh berdarah dingin.

Alis tajam hitam milik lelaki Uchiha itu tentu saja langsung menungkik tajam, ia tidak bisa terima karena kebaikkan hatinya harus diremehkan oleh Sakura?

"Begitukah caramu berterimakasih, Nona?"

Oke, kesabaran Sakura yang awalnya masih bisa diredamnya kini meledak sudah. Lelaki berengsek ini, apa-apaan ucapannya itu.

Sakura berdiri dan langsung berjalan cepat ke arah Sasuke yang masih duduk di lantai atap sekolah. Tentu saja, lelaki itu tadi mengajaknya ke atap karena ada sesuatu yang ingin dibicarakannya mengenai tugas mereka, sampai terjadilah kericuhan karena Sasuke yang memaksa menyuapinya dengan bekal curian lelaki itu.

Tatapan tajam mata Sakura yang kini memakai kacamata dan soft lens hitam menyimpan begitu banyak kemarahan terhadap lelaki ini, dengan sekali sentak, Sakura langsung menaiki tubuh Sasuke dan menarik kerah baju lelaki itu dengan kuat.

"Kau!" tajam dan menusuk suara yang dikeluarkan Sakura.

Sementara Sasuke yang berada di bawah tubuh Sakura, lelaki itu masih berwajah tenang dan berada di dalam topeng sempurnanya. Seolah kini sedang tidak terjadi apapun di antara mereka, padahal gadis berambut merah muda yang digulung rendah itu sedang mengancamnya dan terus menarik-narik kerah bajunya yang kelamaan membuatnya tercekik dan kesulitan bernapas.

"Jangan berwajah menyebalkan begitu, dasar pencuri!"

Tawa kecil muncul dari bibir lelaki yang masih mengatur napasnya karena tadi ia agak tercekik. Alis Sakura pun semakin menungkik tajam karena mendengar tawa meremehkan dari pemuda itu.

"Ya, aku berhasil mencuri ..." ucapannya terhenti sebentar dan tangan Sasuke yang awalnya menahan berat tubuhnya agar tidak tiduran di lantai, kini bergerak ke arah wajah Sakura. Lelaki berambuh hitam ini kini tengah mengelus bibir seindah ceri itu dengan ibu jarinya.

Mata Sakura terbelalak.

"Beraninya kau!"

Tepat saat tangan Sakura bergerak untuk menghajar wajah Sasuke, lelaki itu pun kini telah menggenggam penuh kepalan tinju tangan gadis manis itu. Bahkan, kini lelaki yang masih tersenyum menang itu mencoba mendekatakan dirinya dengan sang gadis, Sasuke sepertinya ingin memberikan sesuatu kepada Sakura.

Mereka pun kini sedang saling mempertahankan diri, Sasuke yang menarik Sakura agar semakin mendekat dengannya dan Sakura yang akhirnya menahan dada Sasuke agar dirinya tidak semakin mendekat dengan lelaki itu. Mereka hanya menggunakan satu tangan karena sebelah tangan mereka yang satunya lagi sedang saling menahan juga, Sasuke yang menahan kepalan tinju dari Sakura.

Sakura kini semakin terdesak karena dirinya yang semakin tertarik mendekat dengan Sasuke, tenanganya tentu saja tidak sebanding dengan orang macam Sasuke ini. Ia terus saja memberontak, tapi sepertinya memang sangat sulit untuk sekedar menjauh dari lelaki berhelai kelam itu.

"Sial, lepaskan aku, bereng—emmb?"

BUGH.

Wajah lelaki itu kini terkena tinju dari Sakura. Lelaki itu bahkan kini masih menatapnya dengan pandangan entah apa, dan Sakura benar-benar merasa benci kepada Sasuke sekarang. Beraninya lelaki itu melakukan hal ini kepadanya. Sakura yang kini telah berdiri dan meninggalkan Sasuke, dan lelaki itu masih saja terdiam sambil menatap Sakura yang perlahan-lahan menghilang dari tatapannya.

Napasnya perlahan ia keluarkan dengan kasar.

"Sial, aku hanya ingin bercanda. Bodoh, kenapa malah kelepasan."

Hanya gumaman itu yang terdengar dari bibir Sasuke yang sekarang agak merah karena digigit Sakura.

.

.

.

Kelas yang sekarang sudah tenang karena sebentar lagi waktu istirahat berakhir, kini semakin senyap karena kedatangan salah satu guru yang mendapatkan julukan killer. Mereka yang ada di kelas tentu saja tidak berani berulah karena sang guru selalu mengeluarkan aura suram. Semuanya selalu memerhatikan dengan seksama atas penjelasan sang guru mengenai materi pelajaran, walapun sekarang sebagian siswa dan siswi hanya matanya saja yang mengarah ke papan tulis.

Gadis musim semi itu pun begitu. Ia masih memikirkan kelakuan orang yang duduk sebangku dengannya, dan sekarang lelaki itu sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya. Apa dia sengan membolos karena pukulan Sakura yang terlalu keras? Ia tidak tahu, tapi tadi dirinya memang memukul Sasuke dengan sekuat tenaga, bagaimana kalau mulut lelaki itu berdarah karena daging pipinya terkoyak karena tergigit akibat pukulannya? Tapi, dia kan melakukan hal itu karena reflek dan sama sekali tidak pernah terpikir olehnya kalau Sasuke berani menciumnya.

Sialan, Sasuke. Memikirkannya saja sudah membuat wajahnya mencadi panas karena marah.

Selama menjadi bintang, ia hanya pernah berciuman dengan satu orang lawan mainnya saja. Yaitu Gaara. Itu pun karena lelaki itu memang pacarnya. Walaupun publik sama sekali tidak tahu mengenai hal ini dan dirinya juga Gaara sama-sama menyembunyikan hal itu.

Tapi, jika Gaara samapai tahu ia sudah pernah dicium oleh lelaki selain kekasihnya itu, pasti hal ini akan menjadi rumit. Bisa-bisa Gaara mencari tahu orang yang sudah berani mencium Sakura dan menghajar lelaki itu, mengingat kekasihnya ini sangat posesif terhadap dirinya.

.

.

.

Di sudut kota, rumah yang lumayan megah itu berdiri. Dan Sakura yang sekarang sudah masuk ke dalam rumahnya itu pun mulai berjalan dengan lesu. Ia dengan wajah yang kusut dan suasana hati yang buruk membuka pintu kamar dengan dorongan kuat, hingga menimbulkan suara yang sangat berisik.

Matanya terbelalak ketika di dalam kamarnya yang hijau lembut itu terdapat sesosok orang yang sudah lama tidak dilihatnya. Ia pun langsung mengumbar senyum karena sosok itu kini telah kembali dari pemotretan yang diadakan di luar negeri.

"Rega!" pekik Sakura senang. Ia pun langsung menghambur ke pelukan lelaki itu.

"Jangan menyingkat namaku seperti itu, Nona muda."

Sakura cekikikan karena mendengar dengusan malas dari lelaki yang sedang memeluknya sayang ini. Rei Gaara kini ada di dalam kamarnya dan ternyata lelaki itu sedang memberinya kejutan. Lihat saja, beberapa bunga lili kesukaannya sudah menyebar di penjuru dan sudut kamar, tentu saja karena lelaki yang meletakkannya di kamar Sakua.

"Rasanya aku sangat lega karena telah memelukmu, Hanami."

Kini pelukan itu terlepas dan Sakura menatap kekasihnya dengan wajah sebal.

"Jangan memanggilku begitu. Panggil Saa-chan seperti biasa saja, Gaara."

Mereka yang kini saling menatap, sekarang malah tertawa bersama. Tentu saja menertawakan berbagai ejekan dari nama mereka yang selalu disebut ketika pertama kali bertemu.

Gaara lalu mengambil sebuah kalung yang sedari tadi di simpannya di dalam sebuah kotak kado dan membukanya untuk Sakura. Lelaki itu kini memperlihatkan hadiah lain yang telah dibawanya untuk sang kekasih.

"Wooaaa ... ini cantik. Liontinnya keristal segi enam yang mirip bintang. Warna merah muda? Apa ini adalah sakura dalam bentuk keristal?" Sakura kini dipakaikan kalung indah itu oleh Gaara. Lelaki itu kini berada di belakang gadis yang badannya kecil ini.

"Belian." Ralat Gaara atas pernyataan gadis itu.

"Apa ini tidak terlalu mahal? Kau berlebihan, jangan bilang ini pesanan khusus?"

Lelaki yang ditanyai Sakura dengan mata melototnya itu hanya menyeringai, ia lalu tertawa kecil lagi dan malah kembali tiduran di ranjang Sakura. Gadis musim semi itu kini masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Ia tidak kuat dengan cuaca yang agak panas dan keringat yang menempel di tubuhnya. Setelah membersihkan diri, ia lalu melihat Gaara yang hanya menatapnya dan seperti ingin membicarakan sesuatu.

"Ada apa?"

Sakura langsung saja bertanya karena Gaara sekarang malah menyuruhnya duduk di samping dirinya.

"Kau sudah diberitahu kalau akan ada orang baru yang akan memerani tokoh antagonis dalam serial drama 'Green and Akashi dua'?"

"Maksudmu nanti akan ada tokoh antagonis lagi? Kukira itu kau, hahahah."

Gaara hanya menghela napas karena sekarang Sakura tidak menanggapi ucapannya dengan serius, padalah dalam seni peran seperti ini, Gaara selalu saja serius dan menjadikan pekerjaannya ini sebagai Sakura ke dua.

"Ah, maaf ... hehe. Memangnya siapa aktor yang akan memerankannya? Apakah Sepupumu Sasori? Atau si senyum menawan kak Itachi. Waah, akan mengasyikan kalau bisa berlaga akting dengan Kak Itachi, siapa yang tidak menyukai wajah tampan dan senyum menaw—oppss." Sakura kini menutup mulutnya dan baru sadar dengan ucapan horornya, bagaimana ia bisa berbicara dengan selancar itu mengenai aktor favoritnya di depan si rambut merah ini.

Dengan takur-takut, kini Sakura menatap Gaara yang juga tengah menatapnya dengan aura mengerikan. Sakura kini mulai tersenyum lebar dan menjauh dari lelaki yang memiliki kantung mata panda.

Mengenai Itachi, dia adalah aktor senior Sakura dan Gaara dalam dunia seni peran ini. Usianya lebih tua lima tahun dari Sakura dan tiga tahun lebih tua dari Gaara. Itachi sendiri adalah seorang aktor yang sangat sulit dikorek informasi tentang kehidupan pribadinya. Sama seperti Sakura yang bahkan marga lelaki itu pun tidak ada yang tahu.

"Aku tidak tahu juga, Kalau kak Itachi memang cocok. Dia bisa memerankan apa saja, terkadang membuatku sangat iri. Tapi, kalau masalah tokoh antagonis di dalam serial ini, mereka akan mengadakan pencarian bakat yang cocok untuk memerankan karakter King Ares."

"Jadi, bukan kak Itachi, ya?"

"Hm. Kak Itachi menolaknya. Entahlah, aku tidak tahu alasannya, tapi aku sangat bersyukur."

Gaara kini menyeringai karena Sakura langsung cemberut mendengar ucapannya.

"Sudahlah, ayo jalan-jalan."

.

.

.

Keesokan harinya, di seluruh penduduk negara Konoha seluruh fans Gaara dan Cherry bersorak karena menemukan kabar yang mengejutkan. Baik di media cetak ataupun di banyak stasiun televisi menampilkan berita yang sama.

"Rei Gaara dan Cherry Philein terpergok tengah menaiki sebuah motor sport merah di jalan Kurama. Mereka yang tengah berhenti karena lampu merah kelihatan bermesraan, dengan Cherry Philein yang memeluk erah punggung Gaara. Di balik helm yang mereka pakai diyakini adalah rambut merah dan merah muda. Walau hanya wajah mereka saja yang tampak, tapi diyakini oleh banyak pihak kalau ini adalah asli foto mereka berdua. Foto ini diambil oleh seorang fans yang kebetulan tengah berada di jalan yang sama. Hanya saja, setelah sang pemotret amatir itu mengikuti mereka, ia kehilangan jejak karena motor yang diduga dinaiki oleh Gaara dan Cherry melaju dengan sangat cepat."

Selanjutnya, host itu pun memperlihatkan gambar dari foto amatir itu. Ada sekitar empat gambar, dan di sana kelihatan kalau dua orang itu memang memiliki kemiripan dengan Gaara dan Cherry.

Sasuke mematikan televisinya dan berangkat ke sekolah dengan menaiki mobilnya. Ia sama sekali tidak bisa menyangkal kalau ia merasa kesal hanya karena foto yang belum tentu jelas itu benar-benar Gaara dan Cherry Philein di dalamnya. Tapi, ia benar-benar merasa kesal karena seluruh negara tengah heboh membicarakan masalah ini dan mereka terlalu melebih-lebihkannya.

Sasuke kemudian menghela napasnya, ia bingung kenapa malah memikirkan masalah itu? Memang ia memiliki hubungan apa dengan Cherry Philein? Kenapa ia bisa sekesal ini hanya karena berita berlebihan itu.

"Cih." Sasuke tanpa sadar berdecih dan mulai keluar dari mobilnya dan berjalan menuju sekolanya. Ia memang terbiasa turun di dekat jalan menuju ke arah sekolahnya.

Tatapan matanya kemudian mengarah ke samping ujung jalan karena ada pandangan yang sangat menarik baginya. Gadis itu, Sakura, ia turun dari motor merah yang dikendarai oleh seorang peria tinggi yang memakai topi rajutan di kepalanya. Dan yang hampir membuat Sasuke menghampiri kedua orang itu adalah karena si lelaki kemudian mengecup bibir Sakura-nya.

Hei, tunggu dulu. Sejak kapan Sakura menjadi miliknya? Ia tidak peduli, dan langsung masuk kembali ke dalam mobilnya. Ia ingin pulang dan tidur.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Salam sayang dari istrinya Itachikoi,

zhaErza