Author Note:

Terimakasih banyak kuucapkan kepada seluruh pembaca yang sudah memberikan waktunya untuk fiksi abal ini. Seperti yang sudah saya informasikan di fic saya yang berjudul Green dan Akashi, bahwa saya rada sulit untuk masuk ke akun ffn baik via ponsel atau pun via laptop. Dan karena kendala ini, membuat saya tidak bisa membalas review kalian yang memiliki akun. Jadi, sebagai solusinya, saya akan membuat beberapa keterangan mengenai pertanyaan kalian semua.

BTW, untuk yang kecewa, saya sarankan agar tidak membaca fiksi ini lagi. Karena untuk apa para pembaca nanti menanamkan sebongkah batu di hati, karena ketidaksesuaian yang diharapka dan yang telah saya tulis.

1. Pairnya tetap SasuSaku dan GaaSaku sebagai selingan.

2. Masalah ide lama, maaf, saya sama sekali tidak ingat. Tapi, misalnya kalau ingat, nanti saya ceritakan di fiksi ini, mungkin sebagai side story.

3. Walau inspirasi ide dari Green dan Akashi, fic ini tetap SasuSaku. Sekali lagi GaaSaku hanya selingan. Tapi juga jangan terlalu mengharapkan romance dari SS karena saya sudah tag genre Hurt.

4. King Ares, udah ketebak kayaknya ya. Sasuke.

5. Terimakasih untuk yang sudah mengingatkan typos.

6. FYI: Yang mau baca sambungan fanfic PENGIKAT HATI, silahkan berkunjung ke akun wattpad saya: zhaErza, dan kemungkinan sekuel dari "Taklukkan Sang Iblis atau ...?" akan saya publish di akun wattpad saya juga.

.

.

.

Cherry Philein

By: Cherry Philein

Naruto milik Kishimoto Masashi, saya hanya minjam karakter saja.

(SasuSaku) GaaSaku

Warning: EyD?, OoC, Typos, RnR dan lain-lain.

.

.

.

Selamat Membaca

Chapter 4

.

.

.

Cherry Philein dan Rei Gaara begitu digilai oleh kalangan remaja dan dewasa. Orang-orang yang memiliki banyak akun pendukung untuk kedua pasangan peran itu, tidak pernah tanggung-tanggung untuk menyemangati kedua idolanya. Dari dukungan langsung, maupun tidak langsung. Banyak juga yang membuat berbagai video dan tulisan-tulisan unik di blog masing-masing.

Karin adalah salah satunya, ia membawa berita heboh di sekolah hari ini. Beberapa orang juga melakukan hal yang sama, yaitu becerita mengenai terbongkarnya kedok hubungan dari Ai-chan dan Gaara. Mereka menjerit histeris dan membuat kegaduhan di dalam kelas, tidak peduli sebentar lagi bel masuk berbunyi.

"Aku ingin pingsan! Akhrinya mereka memang memiliki hubungan khusus. Kyaaaa~" Karin berteriak antara senang dan haru, bahkan ia membuka kacamatanya dan meneteskan air mata bahagia.

Begitu juga dengan beberapa siswi yang lainnya. Mereka terus ribut dan berteriak karena berita pagi ini. Tentu saja, semenjak pemotret amatir menyebar foto itu, kedua orang yang selalu digosipkan berpacaran, kini menjadi buah bibir di berbagai stasiun televisi dan media cetak lainnya.

Sakura menghela napas, ia tidak menyangka kalau kegiatannya kemarin dengan Gaara akan berakibat sedahsyat ini. Padahal, mereka sudah biasa berjalan-jalan bersama dengan motor kekasihnya itu, tapi ternyata ada saja yang selalu bisa mengambil celah dari kegiatan mereka. Salah juga sih, karena tidak memakai masker saat menaiki motor.

Walau ia cukup khawatir tentang kejadian besar ini, tapi nyatanya Gaara santai-santai saja. Kekasihnya itu berpendapat bahwa biarkan saja orang-orang melakukan berbagai spekulasi mengenai hubungan mereka. Berbagai opini dan yang lainnya. Lama kelamaan juga gosip ini akan segera menghilang dan digantikan gosip baru. Tapi, yang membuat Gaara agak jengah entah kenapa, kebanyakan gosip dan berita beredar selalu mengenai ia dan kekasihnya ini. Apa tidak ada lagi yang menarik selain mengurusi hidup orang? Padahal, ia lebih setuju kalau yang dibahas media-media itu adalah mengenai peran mereka atau alur-alur dari drama.

Manik hitamnya melirik ke berbagai penjuru kelas. Guru Iruka masuk dan memulai palajaran. Ada satu hal yang kurang saat ini bagi Sakura, tetapi ia lupa apa hal yang kurang itu. Gadis berkacamata tebal itu kini masih memerhatikan kelas, ia terkadang memerhatikan buku pelajaran dan juga kelas. Dan setelah mengingatnya, ia terbelalak. Benar juga, ke mana perginya si pengacau itu? Uchiha Sasuke.

.

.

.

Hanya bersantai-santai malah membuatnya menjadi pegal. Ia lalu menggerakkan kedua tanggannya dan melakukan peregangan, menggerakkan punggungnya ke arah kanan dan kiri. Mata bermanik hitamnya kini hanya menatap bosan pada ponsel yang sejak tadi tak lepas dari tangannya, ia sedari tadi hanya bermain game saja. Tidak pernah ia merasakan hari sebosan ini.

Ketukan pintu kamar menyadarkan Sasuke dari lamunannya. Ia hanya melirik malas pada sosok kakak lelakinya yang masuk ke kamarnya ini tanpa izin, lelaki berperawakan keren dan murah senyum itu menatap sang adik sambil tersenyum geli. Ia tahu, masuk ke sini pasti langsung membuat adik semata wayangnya itu kesal setengah mati. Berjalan mendekari ranjang sang adik, Itachi lalu semakin melebarkan seringai saat menatap wajah judes Sasuke.

"Pergilah jika hanya ingin membuatku kesal." Mutlak dan tanpa perasaan. Benar-benar kejam dan sadis batin sang kakak.

Uchiha Itachi, kakak lelaki dari Sasuke itu kemudian melemparkan map merah kepada adiknya yang tsundere ini. ia lalu malah duduk di ranjang Sasuke.

"Mereka sedang mencari bintang baru untuk memerankan karakter King Ares. Kau sangat cocok untuk karakter berengsek sepertinya itu." Itachi berucap dengan seringai yang tak kunjung hilang dari wajahnya, mendengar hal yang dikatakan kakaknya, Sasuke hanya mengubur kepalanya dengan bantal.

"Pergilah, aku tidak tertarik." Suaranya sekarang kelihatan bermalas-malasan.

Perhatian Itachi masih tak kunjung lepas dari Sasuke, ia lalu menyingkirkan bantal yang sedari tadi menutupi wajah adiknya itu.

"Ck."

"Ini kesempatan bagus. Lagipula, apa kau tidak mau berlaga peran dengan Cherry Philein dan Rei Gaara, hm? Itu akan langsung mendongkrak popularitasmu nanti, ini batu loncatan yang bagus untukmu, Sasu. Ayah dan Ibu pasti senang karena mereka juga menginginkanmu untuk ikut serta di dunia akting."

Sasuke mengerutkan alisnya, ia masih memikirkan kesempatan ini dengan matang. Bukan masalah keinginan orangtuanya atau berakting dengan aktor dan aktris yang sedang naik daun, tapi ia benar-benar malas nantinya menghadapi banyak fans yang akan langsung menyerbunya. Bukannya Sasuke sombong, belum jadi aktor saja dia sudah banyak digilai wanita di sekolahnya. Apalagi nanti ia terkenal. Lagipula, ia terlalu malas untuk memerankan karakter Ares yang akan membuatnya beradu peran dengan Cherry Phi— tunggu, jika dia menerima penawaran ini, maka ia akan berakting bersama Cherry Philein dan ia pasti bisa membongkar kedok dari Haruno Sakura.

Tanpa sadar, Sasuke menatap kakak lelakinya. Di sana, Itachi masih setia menunggu kalimat apa yang akan keluar dari bibir adiknya. Dan ketika melihat seringai kejam Sasuke, di saat itu Itachi mengerti kalau adiknya menerima penawaranya darinya.

"Ini akan menarik." Bisik Sasuke ketika Itachi sudah pergi.

.

.

.

Seminggu lagi akan diadakan audisi. Di sini, Sasuke dan Sakura duduk bersama untuk mengerjakan tugas akhir semester mereka. Sekarang, mereka sudah mendapatkan lima puluh lima jenis tanaman dan kegunaanya. Sakura masih bersyukur karena bisa mengelak dari pertanyaan Sasuke mengenai kenapa mereka tidak mengerjakan tugas di rumah Sakura seperti yang sudah dipaksakannya waktu itu kepada dirinya. Sakura menjawab kalau ia tidak bisa melakukannya karena rumahnya sekarang sedan ada tamu dari keluarga besar, dan ia tidak akan bisa mengerjakan tugasnya hari minggu nanti. Maka dari itu, mereka mengerjakannya sekarang, hari sabtu siang sepulang sekolah.

Kalau masalah tugas, Sakura mengerjakan dengan tekun dan Sasuke juga sama, walau hanya di awanya saja dan akhirnya lelaki itu mulai bosan. Ia selama sehari tidak masuk sekolah karena melihat pemandangan menyesakkan antara Sakura dan lelaki misterius yang mengendarai motor merah. Membuarnya menjadi merajuk? Dan akhirnya pulang.

"Kau sudah dengan mereka mencari orang baru untuk mencari pemeran karakter Ares." Ini bukan pertanyaan tapi pernyataan. Sasuke hanya menyeringai ketika berucap sedemikian, dan lelaki itu terus saja memerhatikan raut wajah Sakura. Ia mempelajarinya.

Heh. Benar-benar mimik yang sempurna.

"Apa kau tidak berminat untuk mengikuti audisinya?"

Sakura menghela napas kembali, ia lalu menatap lelaki yang sudah menghentikan tugasnya dan terus saja memandangi dirinya sambil bertanya-tanya. Dengan alis dikerutknya ia pun berbicara kepada lelaki itu.

"Itu hanya untuk lelaki, dan sebaiknya kerjakan tugas kita saja."

Sasuke menyeringai kemudian.

"Aku tidak terkejut kau mengetahuinya, Sakura."

Jujur saja, gadis gulali itu agak merinding ketika Sasuke menyebut namanya dengan suaranya yang khas itu. Ia mengeluh dalam hati karena terpancing ucapan Sasuke dan sekarang lelaki itu semakin yakin kalau dia memiliki sesuatu yang tidak sekedar hanya sebagai sosok Haruno Sakura.

Sementara Sasuke, ia semakin yakin dengan apa yang dipikirkannya. Haruno Sakura, gadis ini benar-benar sesuatu. Si rambut mencuat sama sekali tidak sadar kalau dirinya sendiri sudah mulai tertarik bahkan terjerat oleh pesona misterius dari Haruno Sakura. Ia tidak sadar kalau sedari tadi tersenyum kecil karena melihat mata Sakura yang maniknya hitam.

.

.

.

Sekarang, ia tidak akan bisa memakai motor merahnya lagi. Orang-orang itu benar-benar merepotkan. Ia tidak habis pikir kenapa sebegininya mereka mengurusi kehidupan para aktor dan aktris. Terkadang, Gaara benar-benar ingin berguru dengan kak Itachi yang bisa dengan mudah menyembunyikan identias dan kesehariannya. Lelaki itu bahkan tidak pernar terdengar masalah percintaan dan lainnya, yang sering dibahas adalah peran dan pesona Itachi saat berakting di dalam sebuah drama atau pun movie. Tetapi, yang membuat Gaara juga mengidolakan Itachi adalah, lelaki itu berhasil tetap menunjukkan ekistensinya di dunia perfilman tanpa adanya berita miring ataupun skandal aneh.

Ini adalah pelajaran, lain kali ia harus lebih berhati-hati jika pergi ke luaran sana bersama kekasihnya. Karena yang mereka inginkan itu adalah pengakuan dirinya dan Sakura mengenai hubungan mereka, dan hal ini adalah hal yang tidak perlu dibahas dan digembar-gemborkan menurut dirinya dan kekasihnya juga, karena mau bagaimanapun mereka tetap memengan tegus prisnsip untuk tidak perlu mengekspos masalah kehidupan pribadi.

Gaara memang tidak seketat Sakura yang sampai-sampai tidak memberitahu nama aslinya, tapi tetap saja, siapa yang akan nyaman kalau kehidupannya selalu dipertanyakan ini dan itu dan selalu ditampilkan di acara gosip dan sebagainya? Dan Gaara bukanlah tipe seperti itu, ia sudah cukup dengan bahasan mengenai tetekbengek perfilman dan jangan ada campur tangan sampai harus melibatkan kehidupan pribadinya.

Ia lalu menatap jadwal dari managernya, ada bebapa acara talk show yang akan mengundangnya bersama dengan Cherry Philein, ini pasti ada hubungannya dengan foto-foto mereka yang tersebar dan mungkin ia lebih baik menolak keinginan mereka untuk mengundangnya.

Sebentar lagi akan ada aktor baru yang beradu peran dengan Cherry Philein. Jujur saja, sebagai kekasih ia cemburu karena Sakura yang akan melakukan kontak fisik dengan orang lain selai dirinya, tapi demi profesionalitas ia harus menggugurkan pesaraan menyesakkan itu. Mereka tentu saja sudah diberitahu mengenai alur cerita dari serial drama Green dan Akashi dua, dan Gaara sampai memijat pelipisnya karena harus ada beberapa kali adegan ciuman antara kekasihnya dan si orang baru itu.

Ia kesal.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Salam sayang dari Istri Itachikoi,

zhaErza.