Session Talkshow

Flaesy : Hai minna~ author baru nan gaje ini kembali lagi~

Karin : wa.. Flaesy balik lagi

Kazune : kenapa balik lagi sih? Sana pergi hush ..hush... *ngusir Flaesy*

Flaesy : Kazune jahat...

Karin : sudah..sudah.. lebih baik kita baca review dulu~

Flaesy : oke.. balasan pertama untuk sofia , Shiine chan . Terimakasih sudah mau mereview dan terimakasih sudah mau menunggu Fic gaje Flaesy ^^

Karin : selanjutnya untuk Guest , devi. fauziah .524 . Terimakasih sudah dibilang bagus , dan terimakasih sudah mau menunggu.

Kazune : untuk eci , Uchiha Hanaruhime . terimakasih sudah mau menunggu

Karin : chan , hana kazurin . terimakasih sudah mereview~ dan ini udah lanjut kok~

Flaesy : untuk Meirin Hinamori 16 . Terimakasih sudah memberi saran ^^ , saran itu sangat membantu Flaesy ^^ . jika ada saran lagi, mohon diberi tahu ya ^^ Flaesy sangat membutuhkan saran. dan terimakasih sudah mau mereview~

Kazune : Sazumi Misako , rezahz . Maafkan author gaje yang satu itu kalau chapter 2 kemarin terlalu pendek #nunjukFlaesy . Terimakasih sudah mau mereview dan ini udah lanjut kok

Flaesy : baiklah langsung saja, ini dia chapter 3


Disclaimer: Kamichama Karin © Koge Donbo

Story: Himitsu © Flaesy Kujyou

Rated: T

Genre: Romance; Friendship

Pairing: KazuRin

Peringatan : AU, OOC, Ancur, Gaje, dll

.

~Selamat Membaca~

.

.

~ Himitsu ~

Karin Pov

Hari ini hari minggu, tapi entah kenapa aku malas untuk keluar apalagi keluar dari hangatnya selimutku. Aku masih membenamkan wajahku dalam selimut bermotif sakura yang sangat aku sukai.

Tok! Tok! Tok! Terdengar suara ketukan pintu kamarku. Tapi itu tak cukup untuk membuatku terbangun untuk meninggalkan selimut dan kasurku. Sampai suara melengking Kira terdengar.

"KARIN!"teriak Kira dari depan kamarku.

"Apa?"tanyaku malas tanpa bergerak dari posisiku yang masih terselimuti oleh selimut kesayanganku.

"CEPAT ! BANGUN!"teriak Kira lagi. Aku hanya mendengus kesal, ini untuk pertama kalinya Kira menyuruhku bangun pada hari minggu. Biasanya juga dia akan membiarkanku sesuka hatiku.

"Karin cepat bangun Kujyou-san sudah menunggumu dibawah"jelas Kira dengan penekanan disetiap katanya seperti memberi isyarat cepat-bangun-atau-kau-akan-tidur-untuk-selamanya.

Kujyou?. Kujyou siapa? Rasanya aku tak punya teman sekelas yang bermarga Kujy- ah! Kujyou?! Ini hari minggu ya?! Ya, ampun aku lupa. "AKU LUPA!"pekikku sambil beranjak meninggalkan kasur dan selimut kesayanganku yang masih berantakan.

Aku cepat-cepat bersiap-siap. Aku tak peduli dengan pakaian yang kupilih, karena ini bukanlah hari spesial untuk berdandan cantik. Tapi, aku tetap bercermin untuk melihat penampilanku. Walau ini bukan hari spesial untuk berdandan cantik, aku tetap memperhatikan penampilanku agar tak malu saat diperhatikan orang-orang. Sudah cantik menurutku.

Aku pun berjalan menuruni tangga. Saat sudah sampai dilantai bawah, aku melihat Kira menatapku kesal. Aku hanya cuek saat diperhatikan olehnya.

Tapi saat aku akan membuka pintu untuk keluar, Kira menahanku. "Jangan pulang malam, dan bersenang-senanglah"jelasnya sambil tersenyum, ralat menyeringai.

Aku hanya mendengus kesal menanggapi Kira. Aku pun langsung keluar saat pesan Kira sudah selesai. Aku melihat seorang laki-laki berambut blonde dengan iris blue saffire tengah duduk disebuah sepeda. Laki-laki itu begitu keren, pantas dia memiliki banyak Fans di sekolah.

"Kau lama sekali" laki-laki itu menatapku dengan ekspresi yang begitu datar. Sepertinya aku sudah membuatnya marah, tapi itu kan salah Kira- eh kenapa aku menyalahkan Kira?. Ah luapakan saja.

"Bagaimana kau tahu rumahku?bukankah aku tak pernah memberitahukannya?"tanyaku saat menyadari itu atau mungkin aku sedang mengalihkan pembicaraan.

"Tak perlu menanyakan itu, ayo cepat naik"ajak kazune sambil bersiap untuk mengayuh sepeda. Aku hanya menuruti perkataannya. "kau tak pegangan?"tanyanya.

"Aku tak mau"sahutku sambil memalingkan wajah. Dia hanya mengangkat bahunya tak mau tahu.

Kazune pun mengayuh sepedanya dengan cepat dan membuat ku terkejut setengah mati. Karena tak ingin jatuh, aku pun cepat-cepat melingkarkan kedua tanganku dipinggang Kazune.

Malu. Malu sekali rasanya. Kurasa kudua pipiku sudah bersemu merah seperti tomat. Aku sedikit mendengar Kazune bergumam sambil cekikikan aneh yang membuatku kesal. Tapi, entah kenapa aku merasa hangat dan tenang saat memeluknya seperti ini.

.

.

.

Aku menganga saat melihat ke4 orang yang ada dihadapanku kini. Aku pun menatap kesal kearah Kazune yang ada disebelahku.

"Apa?"tanyanya dengan watadosnya.

"Kau benar hanazono-san? Yaampun kau cantik sekali, kau begitu berbeda"jelas seorang perempuan yang mirip dengan Kazune, dengan ekspresi tak percaya. Kalau tidak salah dia bernama Kazusa Kujyou.

"Ano.. Karin-chan?boleh aku memanggilmu begitu?"tanya seorang perempuan berambut indigo, yang kukenal bernama Himeka Kujyou.

Aku hanya tersenyum malu sambil mengangguk. Mereka berdua pun memelukku dengan erat. Mereka sedang kesurupan ya?.

"Aku tak menyangka aniki ku akan mendapatkan kekasih secantik dirimu. Aku masih belum percaya"jelas Kazusa sambil melepaskan pelukannya.

Aku tersenyum malu saat Kazusa berkata kekas- he?! Kekasih?!. "A-aku bu-bukan ke-kekasih Kazune-kun!"pekikku kemudian. Semuanya langsung tertawa setelah aku berkata seperti itu. Eh? Kenapa? Aku salah bicara ya?.

"Tak perlu menyembunyikannya, aku tahu kalian baru berpacaran makanya malu-malu kucing. Tapi sama kami tak perlu malu begitu"jelas seorang laki-laki berambut caramel dengan iris mata yang berbeda. Aku sedikit lupa dengan namanya Nishikiori Michiri? Michari? Machiru? Machari? Ah, sudahlah lupakan namanya.

"Bu-bukan i-itu tapi kami benar be-benar buk–" kalimat ku dipotong oleh Kazune. "benar sepasang kekasih". Aku pun langsung menatap kesal kearah Kazune. Yang ditatap malah menatap balik dengan ekspresi yang bisa dibalang sangat datar.

"Jadi omonganmu benar Kazune. Tapi aku masih belum percaya dengan hubungan kalian, jadi taruhan kita tetap berlanjut"jelas laki-laki bersurai gelap dengan iris seperti kucing, yang kuketahui bernama Kuga Jin.

Taruhan? Taruhan apa? jadi aku masuk dalam sebuah taruhan maksudnya? Kenapa Kazune tak bicara apapun padaku?. "Apa ma-"kalimatku lagi-lagi dipotong, tapi bukan Kazune yang memotongnya melainkan Himeka. "ayo, kita mulai triple datenya"jelas Himeka dengan suara yang begitu halus dan itu langsung mengurungkan niatku untuk melanjutkannya. Mereka ber4 pun langsung masuk ke Cafe meninggalkan aku bersama Kazune.

"Kazune-kun, kau harus menjelaskan semuanya padaku nanti"jelasku sambil berjalan menuju Cafe yang sudah dimasuki yang lainnya.

.

.

.

Kini sudah jam 5 sore, Kazusa dan Himeka memutuskan untuk mengakhiri triple datenya. Semuanya pun setuju, dan mereka ber2 pun diantar pulang oleh pasangan masing-masing.

Saat mereka ber4 sudah pergi, aku pun menatap Kazune meminta penjelasan. "jelaskan sekarang Kazune-kun"pintaku dengan penekanan disetiap katanya.

"baiklah tapi tidak disini, ayo naik"jelas Kazune. Aku pun menurutinya.

Disepanjang perjalanan hanya keheningan yang menyelimuti kami. Tapi aku tak peduli, yang penting cepat sampai dan cepat pulang.

Tak lama kami pun sampai disebuah danau yang sangat indah. "Indahnya"gumamku pelan sambil berjalan mendekati danau itu.

Setelah aku puas memandangi danau yang indah itu, aku pun mulai bertanya pada Kazune "Kazune-kun, apa kau bisa menjelaskannya sekarang?"pintaku sambil mendekati Kazune yang tengah duduk bersandar dibawah pohon sakura.

"Kau sudah selesai memandangi danaunya?"tanya Kazune berbasa-basi. Aku hanya mengangguk untuk menanggapinya. "Baiklah.. sebenarnya aku dan Jin sedang taruhan. Jika aku tak membawa kekasihku pada hari minggu saat mereka ber4 kencan, maka aku harus memberikan benda kesayanganku. Karena dia adalah sahabatku sejak kecil, dia sudah tahu benda apa yang sangat kusayangi"jelas Kazune panjang lebar. Aku sedikit mengerti dengan masalahnya. "maka dari itu aku memintamu untuk kencan bersamaku setiap hari minggu"tambahnya lagi.

"Kalian sahabat? Aku tak yakin, bukankah sahabat tak pernah taruhan?"tanyaku tak percaya.

"Itu persahabatan untuk perempuan, jika laki-laki pasti ada taruhan semacam itu"sahut Kazune santai.

"Baiklah aku akan membantumu, Kazune-kun. tapi kau harus katakan pada mereka agar tak memberitahu yang lainnya tentang aku yang sebenarnya dan jangan katakan pada mereka tentang rahasiaku yang lain"jelasku.

"Baiklah. kalau soal rahasiamu masih aman, dan kau juga harus merahasiakan rahasiaku juga"sahut Kazune.

"Jika rahasiaku aman, rahasiamu juga aman Kazune-kun. karena rahasiamu melibatkanku"sahutku santai.

"Hn." sahut Kazune sambil menganggukan kepalanya. "Oiya sejak kapan kau terbiasa memanggilku 'Kazune-kun'?"tanyanya sambil menyeringai.

Deg! Deg! Deg! Ja-jantungku kenapa? aku merasa pipiku sangat panas. Aku pun memalingkan wajahku dengan cepat. "E-entahlah... ka-kalau kau ta-tak suka, aku akan me-memanggilmu Kuj-Kujyou-san saja"jelasku terbata-bata.

"Tak apa, panggil saja Kazune-kun. Bolehkah aku memanggilmu Karin tanpa surfik apapun?"tanya Kazune. Aku pun menoleh kearahnya. Mata kami bertemu. Emerald dengan Saffire.

Deg! Deg! Deg! Aku langsung memalingkan wajahku lagi, saat merasakan pipiku sangat panas. "Te-terserahmu saja"sahutku.

Tiba-tiba sebuah tangan menempel didahiku, tangan yang kuketahui milik Kazune. "Kau hangat, apa kau sakit?"tanya Kazune dengan nada khawatir walau ekspresinya masih datar.

"A-aku tak a-apa"sahutku semakin gugup karena tangan Kazune yang ada didahiku.

"Lebih baik kau pulang sekarang, ayo"ajak Kazune sambil membantuku bangun dari tempatku duduk.

.

.

.

"Arigatou Kazune-kun"ucapku pada Kazune. Kazune hanya mengangguk dengan senyuman tipis yang terpajang diwajahnya.

"Baiklah aku pulang"kata Kazune sambil mengayuh sepedanya.

Setelah Kazune sudah tak terlihat lagi, aku pun memasuki rumah. Saat sudah masuk aku pun disambut senyuman aneh milik Kira yang biasa muncul untuk menggangguku.

"Apa?"tanyaku pada Kira karena terus diperhatikan. Kira hanya menggeleng tapi senyuman aneh itu masih tetap terpajang.

Karena sudah mulai takut dengan senyuman Kira, aku pun melesat masuk kekamar untuk melindungi diri dari senyuman aneh itu.

Aku menghempaskan tubuhku diatas kasur. Pikiranku mulai melayang kekejadian tadi. Jantungku berdegup kencang dan pipiku terasa panas, apa aku suka pada Kazune? Atau karena aku memang sedang sakit sekarang. Ah, lupakan saja.

Kini aku sangat lelah dan kedua mataku terasa berat. Aku pun mulai tertidur lelap karena aku sudah tak sanggup menahan kantukku.

.

.

.

Panas! Kenapa panas sekali!, aku pun membuka kedua mataku yang terasa sangat berat. Aku melihat Kira sedang meletakkan kain basah dikeningku.

"Ada apa nii-chan?"tanyaku lemas karena tak memiliki tenaga.

"Kau demam, aku sudah memberitahukan gurumu soal ini. Sekarang istirahatlah"jelas Kira.

Aku hanya mengangguk dan mulai menutup kedua mataku lagi. Sepertinya karena aku sedang sakit makanya wajahku terasa panas dan jantungku berdegup kencang waktu itu. Mana mungkin aku menyukai Kazune yang begitu jauh dimataku.

.

.

TBC


Flaesy : maaf kalau Fic ini amat sangat Gaje tingkat akut(?) dan jika Fic ini agak pendek. mohon maafkan Flaesy yang inspirasinya lagi loading lama. Baiklah akhir kata Flaesy katakan Mohon Review~