Puppy Pet: Blackie
.
Story belong to DeathSugar
.
.
Chapter 2. Hukumanmu adalah….
.
.
.
Happy reading and review, ne?
.
.
.
Si mungil itu benar-benar mengutuk kesialan yang menimpa dirinya saat ini. Ini adalah ketiga kalinya kesialan menemaninya. Pertama, ia kesiangan bangun karena semalam ia terlalu banyak mengkonsumsi kopi dan berakibat ia insomnia. Kedua, ban mobilnya bocoh ditengah jalan yang membuatnya harus berangkat dengan bus umum yang penuh dan berdesak-desakan.
Itu adalah kali pertamanya ia naik bus untuk berangkat ke sekolah. Karena biasanya supirnya akan mengantar dan menjemputnya setiap hari. Karena pengalaman minimnya tentang bus itulah membuatnya terlambat ke sekolah dan berujung dengan kesialan ketiga untuknya.
Ia menggerutu kesal ketika Kim-saem yang merupakan guru cerewet dengan make up tebal itu menghukumnya untuk membersihkan ruang laboratorium biologi. Ugh—sungguh si munggil itu benci melakukan pekerjaan -yang menurutnya- menjijikan itu.
Adalah Byun Baekhyun. Putra dari Byun Seung Joo. Salah satu pengusaha sukses di Korea Selatan dan tentu memegang sapu, pel dan antek-anteknya adalah hal yang sangat tidak lazim baginya.
Mengutuk kesialannya kali ini sama sekali tidak akan merubah apapun. Si mungil itu tetap akan membersihkan lab dan berakhir dengan badannya yang bau keringat. Eoh.
Jemari lentiknya dengan sangat malas menyentuhkan kain itu pada patung peraga biologi itu. Debunya. Bibir tipis itu sesekali mencibir, mengerutu dan mengeluarkan sumpah serampahnya beberapa kali ketika ia terbatuk karena debu. Salah sendiri kenapa tidak memakai masker?
Itu adalah suara bel istirahat ketika si mungil selesai dengan patungnya. Baru patungnya belum dengan lantai yang harus ia sapu dan juga ia pel. Menghela nafas pelan, si mungil itu menjatuhkan dirinya di kursi salah satu didekatnya. Ia jatuhkan kepalanya ke meja dan membenamkan kepalanya dalam tekukan tangannya.
Ia lelah. Membersihkan patung-patung itu benar-benar melelahkan. Dan membuatnya benar-benar ingin menangis. si mungil tidak pernah menyentuh alat seperti itu hampir enambelas tahun hidupnya didunia. Tentu karena ayah dan ibunya memperlakukannya layaknya seorang tuan muda. Dengan para maid dan butler yang diap membantu semua kebutuhannya.
"Baekie.."
Sebuah suara mengambil perhatiannya. Mengarahkan matanya ke arah asal suara itu, si mungil menemukan teman mungil lainnya yang bermata bulat berjalan kearahnya dengan sebuah kantung planstik berisi susu strawberry dengan roti.
"kau pasti lapar. Ini untukmu.. setelah ini kita bersihkan ini bersama-sama, ne?"
"thanks, kyungie."
Mengambil kantung plastik itu dan kemudian menghabiskan roti dan susu strawberry miliknya, si mungil bermata bulat itu menatap kearah Baekhyun dan kemudian menatapnya dengan tatapan 'kau bau sekali' dan memutuskan untuk berdiri dan mengambil sapu yang berada di dekat pintu itu.
"Baek.. ayo selesaikan ini. kajja!"
.
Si mungil Byun Baekhyun menghembuskan nafasnya –lagi- ketika ia keluar dari dalam kamar mandi setelah ia selesai dengan hukumannya. Si mungil itu menggerutu ketika ia tidak menemukan teman mungilnya yang entah sekarang berada dimana. Mungkin teman mungilnya—Kyungsoo tengah bersama dengan si badung Jongin lagi.
"kenapa kau meninggalkanku, Kyung?"
Menghentakkan kakinya kesal, si mungil itu mencibir. Mengambil ponsel yang berada disaku celananya dan kemudian terlihat menekan layar touch screen itu. Menghubungi seseorang.
Bibir tipis itu semakin mengeriting bersamaan dengan lamanya sahutan dari seseorang diseberang sana. Ugh—entah kesialan apa yang menimpanya hari ini. Dan kemudian supirnya juga tidak menyahut panggilannya. Berani sekali dia, batin Baekhyun.
Berjalan dengan menunduk, terlalu fokus pada layar ponselnya membuatnya tidak sadar ketika dari arah belakang yang tengah berlari.
"Minggir!"
Terlambat.
Baekhyun mengangkat kepalanya ketika siswa itu menghantam tubuhnya dan membuatnya terhuyung kebelakang. Jatuh tepat kearah tangga. Si munggil memejamkan matanya ketika ia siap menerima hantaman dari tubuh dan tangga dibelakangnya. Mata sipit itu terpejam dan memegang kepalanya (mencoba untuk melindungi dari hantaman mungin).
Indra pendengarnya bisa mendengar sebuah hantaman.
Eh, tidak sakit.
Si mungil membuka matanya dan kemudian mengerjab lucu. Mata tipi situ kemudian melihat kearah kebelakang lebih tepatnya sesuatu yang terasa lembut dibawahnya dan kemudian ia menemukan siswa dengan badan tinggi tengah mengerang dibawahnya.
"brengsek! Minggir cepat. Kau berat!"
Mengerjabkan matanya dan perlahan beranjak dan kemudian menatap siswa yang tergeletak dilantai itu dengan tatapan khawatir. Si mungil itu menggigit bibir bawahnya. Gugup.
Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
Mendudukan dirinya disamping pemuda tampan itu, Baekhyun memberanikan diri untuk membuka bibirnya, "apa itu sakit?"
Yang tergeletak membuka matanya, kemudian mencoba untuk beranjak dari tempatnya tertidur tadi. Sebenarnya mereka hanya terjatuh dari enam anak tangga, namun tetap saja namanya jatuh dan itu pasti menyakitkan dengan seseorangnya yang jatuh tepat menindih seperti tadi.
"menurutmu?"
"maafkan aku. Aku tadi—"
"diam. Bantu aku.. kurasa kaki dan tanganku patah."
"APA?! PATAH?!"
.
"Maafkan aku.." itu adalah kata maaf yang ke delapan kalinya didengar oleh Park Chanyeol. Si tinggi tampan itu hanya menatap malas si mungil itu dengan tatapan malas dan kesal. Tangan kanannya diperban.
"kumohon maafkan aku.. aku tidak tahu—"
"berhenti berkata maaf. Aku malas mendengarnya." Yang lebih tinggi menatap si mungil itu dengan tatapan yang sama. Malas. "kata maafmu tidak akan membuat tangan kananku kembali"
Si mungil menatap pemuda yang lebih tinggi dengan tatapan mata yang mulai berkata. Bibir tipisnya menyembik. "Sunbae.." tangisnya siap meledak.
Chanyeol menahan nafasnya ketika matanya menangkap ekspresi menggemaskan dari si mungil yang kini duduk didepannya. Dengan ekspresi yang menurutnya lucu. Mata puppy itu berkaca, dengan bibir melengkung kebawah. Pipinya yang sedikit tembam itu terlihat sedikit mengembung. Uh—dan Chanyeol harus dengan kuat hati menahan dirinya untuk tidak mengambil tulang dan kemudian melemparkannya.
Bahkan ketika si mungil dihadapannya itu mulai menyembik dengan suara isakan yang mulai terdengar, Chanyeol seperti melihat seekor anjing cihuahua mungil dengan mata puppy dengan kuping yang turun kebawah dan juga ekor yang ia goyang-goyangkan.
Astaga.. hentikan pikiranmu itu Park Chanyeol. Tidakkah kau lihat kalau seseorang yang duduk didepanmu itu seorang siswa kelas satu yang siap meledakkan tangi dan juga air matanya?
Berdeham, seakan meminta perhatian dari si mungil dihadapannya itu. Chanyeol menatap si mungil itu dengan tatapan yang dibuat sebiasa mungkin, walau sebenarnya dalam hatinya ia ingin sekali mencubit bibir yang menyembik itu.
Uh.. kenapa adik kelasnya ini begitu menggemaskan. Mungil, berisik, mata puppy, gaya menyembiknya itu.. astaga..
"aku akan memaafkanmu.. siapa namamu?"
Alasan.
Sebenarnya Chanyeol sudah tahu siapa nama si mungil adik kelasnya itu. Karena empat hari yang lalu, ketika ia bertemu untuk kedua kalinya ia mencari informasi tentang si munggil puppynya itu.
Puppy-nya?
"Byun Baekhyun, sunbae."
"Byun Baek—ah namamu susah sekali. Aku tidak bisa mengucapkannya."
"Baek-hyun.." ucapnya. Ah bibirnya ketika mengucapkan kata, 'Hyun' itu.. Ugh—membuat Chanyeol ingin sekali memakannya.
Park Chanyeol dibuat gila oleh si mungil itu sepertinya. Seperti sebuah ketertarikan untuk memiliki. Seperti rasa gemas seorang majikan dengan hewan peliharaannya.
"Baek—ah itu pokoknya." Menghembuskan nafasnya, "aku minta ID LINE atau apapun untuk bisa aku hubungi.."
"Eh?"
"ini salah satu bagian untuk memaafkanmu karena telah mematahkan tanganku, eoh."
Mencibir, si mungil kemudian mengeluarkan ponselnya, "ID LINE-ku.. cabekhyun."
Yang lebih tinggi mengangguk, menyerahkan ponselnya kepada si munggil dengan tangan kirinya, si mungil itu kembali mencibir.
"sudah!"
"bagus! Kemari.." memberi isyarat dengan menepuk sisi kasur kamar rumah sakit itu, Baekhyun kemudian menjatuhkan dirinya disana. Duduk disamping si jangkung yang tampan itu dengan tatapan menyelidik—menyipitkan matanya.
"karena kau sudah membuat tangan kananku patah, kau harus menerima hukuman, Blackie"
"Hukuman? Dan siapa itu Blackie?"
"itu nama barumu.. Blackie." hening, menarik si mungil itu mendekat dengan tangan kirinya, menyisakan beberapa inci jarak diantara mereka berdua, Chanyeol mendekatkan bibirnya kearah si mungil, membuat si mungil itu menengang ketika nafas pemuda yang lebih tinggi itu menyapu wajahnya, membuat indra penciumannya mencium bau khas maskulin dari sana, "hukumanmu adalah…."
TBC
Chapter ini aku ngerasa ga ada feelnya. Aku lagi ga mood nulis. Huhuhu~ TwT aku jujuran aja lebih suka nulisnya dari sisi si Chanyeol. tapi kalau dari Chanyeol doang ga ngerti ntar apa yang dirasain cabekhyun. TwT
yang baca, kalau partnya lebih banyak dari sisi Chanyeol jangan protes yak. karena aku mau nonjolin gemesnya Chanyeol ngelihat Baekhyun gt. _
Dan aku ngebuat Chanyeol disini itu lebih ke evil bad boy; usil, ngeselin dan suka ngerjain baekhyun aja. X'DD dan ngerjain Baekhyun adalah hobby Chanyeol mulai chapter depan. Hahahahay~
Selamat membaca. Ceritanya ga bagus, makasih yang udah follow/ fav dan peluk cium untuk yang udah review juga. Aku sayang kalian. *cium cium*
Sorry for typo. And Review, ne ? (:
.
.
31 July 2015
—DeathSugar
