Who ever loved that loved not at first sight?
(William Shakespeare)
.
.
Lebih baik apel atau jeruk?
Hinata menimbang-nimbang,mana yang akan ia bawa untuk menjenguk Akashi. Si penjual buah melihat kebimbangannya.
"Hime,apakah kau hendak menjenguk seseorang?" tanya si bibi. Hinata mengangguk.
"Ya obaa-san"jawab Hinata"Apakah sebaiknya ku bawakan jeruk atau apel?"
"Sebaiknya jeruk saja."jawab bibi penjual buah.
"Kalau begitu,tolong bungkus kan jeruknya nya"
"Ngomong-ngomong Hime.."kata bibi penjual buah tersebut penasaran "Kau hendak menjenguk siapa?"tanyanya sambil membungkus buah jeruk
Hinata tersenyum lembut "Seorang pemuda yang sedang sakit"jawabnya.
Bibi bersanggul seperti labu itu menyipit curiga"Kekasih?"tanyanya sambil menyodorkan sebungkus menyerahkan beberapa keping tembaga lalu menerima jeruk nya.
"Bukan"ia menggeleng cepat"Hanya seorang pemuda asing"Bibi itu kembali tersenyum.
"Ya. hati-hati Hime!"pesan si bibi. Hinata mengenggam erat plastik jeruk.
Bagaimana aku bisa punya kekasih.Pikirnya pahit.Jiwanya sudah dimiliki seseorang yang bahkan tidak ia cintai sama sekali.
.
.
Naruto milik Masashi kishimoto
Kuroko no Basuke milik Tadatoshi Fujimaki
Abal/Typo/OOC
Don't like don't read
RnR
.
.
Ketika Hinata memasuki rumah sakit desa,semua perawat dan dokter menyapanya ramah. Sakura yang sedang lewat sambil mendorong troli obat segera menghampirinya dan menepuk pundak Hinata.
"Apakah kau hendak menengok Akashi-kun?" Hinata mengangguk.
" Sakura-chan mau mengantarkan ku?"tanyanya. Sakura segera memanggil seorang perawat. "Tolong antarkan obat-obatan ini pada Tsunade-sama!"Begitu troli berpindah tangan,Sakura menggandeng Hinata."Ayo!"
.
.
"Sakura-chan"panggil Hinata begitu mereka menaiki tangga ke lantai 2."Menurutmu Akashi itu bagaimana?"Sakura tampak berpikir.
"Dia tampan...dan juga kelihatan baik kok"jawab sakura"Baru empat hari dia di sini para perawat sudah menggemari nya"Hinata jadi berpikir,setampan apa Akashi. pertama kali Hinata melihatnya,wajah Akashi berlumuran darah. Mustahil melihat ketampanannya.
Mereka meneruskan langkah sampai ke ujung koridor lantai 2."Ini kamarnya"kata sakura di depan ruangan paling pojok. Ia menanggkupkan kedua tangannya.
"Maaf Hinata,aku tidak bisa menemanimu. Aku sedang sibuk"Hinata mengangguk perhatian
"Tidak apa-apa Sakura-chan ,aku bisa sendiri" Hinata berbohong tentu saja. Sebenarnya ia gugup luar biasa dan berharap Sakura mau menemaninya.
.
.
Ruangan yang baru Hinata masuki sebesar 4×4 meter, di bagi dua dengan tirai hijau dan diisi dengan 2 ranjang besi dan meja. Orang yang ia cari setengah berbaring di ranjang paling pojok sedangkan ranjang di sebelahnya kosong.
"Permisi.."si rambut merah itu menoleh,kedua Iris rubynya menatap tepat di mata Hinata .Sakura benar,Akashi sangat rupawan. Rambutnya yang merah jatuh di kening nya dan matanya begitu dalam dan indah.
"A..aku Hinata Hyuuga. Aku dengar kau ingin bertemu denganku"Mata Akashi melembut.
"Aku sudah menunggumu sejak kemarin. Silahkan duduk" Hinata duduk di kursi samping ranjang Akashi.
"Bagaimana keadaan Akashi-san?"tanya Hinata sambil menatap kepala dan tangan kanan Akashi yang diperban.
"Jauh lebih baik. Terima kasih karena kau menolongku kemarin,aku jadi diselamatkan tepat waktu."Akashi menatap Hinata dengan pandangan yang membuat telinganya memerah .Ia menepis cepat.
"S...semua orang pasti akan melakukan apa yang aku lakukan jika menemukan Akashi-san.i..itu sama sekali bukan perbuatan besar."
"Menyelamatkan nyawa orang sesuatu tindakan heroik. Yang kaukatakan atas jasa mu itu tidak merubah bahwa aku dengan sepenuh hati berterima kasih"Tanggap Akashi lalu menundukkan kepalanya "Aku berhutang nyawa padamu".Hinata menutupi rasa malunya dengan segera mengalihkan pembicaran. jeruk yang ia bawa diletakkan di atas ranjang Akashi.
"Apa Akashi-san mau jeruk?"Akashi menatap tangannya yang diperban. Mengerti maksudnya,Hinata segera berkata dengan ramah "Biar aku saja yang mengupas nya,Akashi-san"
.
.
Begitu Hinata selesai mengupas sebutir jeruk,Akashi berkata"maukah kau menyuapiku?'
Hinata tersentak,"m..menyuapi?"tanyanya memastikan telinganya tidak salah. Si mata merah dihadapannya berbisik.
"Apa itu lancang?"Hinata menatap tangan Akashi yang diperban lalu segera menggeleng."tidak" Lalu membelah -belah buah jeruk di tanganya dan menyodorkan sejuring ke depan mulut Akashi yang segera memakannya.
Di suapan ketiga,tanpa sengaja jemari Hinata menyentuh bibir atas Akashi .Dengan cepat Hinata menarik tangannya,Ia merona sedangkan yang tersentuh menatap Hinata seakan tidak terkena sentuhannya. Padahal pemuda yang ia suapi sedang berusaha menahan seringai.
.
.
Kegiatan Hinata menyuapi Akashi berhenti di jeruk ke tiga karena seorang perawat memasuki ruangan mereka.
"Waktunya ganti perban!"umum si perawat. Hinatasegera menyuapi Akashi sisa jeruk nya."Sudah selesai Akashi-san"Hinata berdiri lalu membungkuk sopan pada si perawat.
"Permisi"katanya lalu menoleh pada Akashi "Sampai jumpa Akashi-san,cepat sembuh ya!"katanya diiringi senyuman balas tersenyum "ya"
Baru saja Hinata membuka pintu, suara Akashi menghentikannya "Hinata" Jantung hinata jumpalitan karena Akashi memanggil nama kecilnya. ia menoleh "Ya Akashi-san?"
"Aku menunggumu lagi besok"
Demi tuhan,entah mengapa Hinata merindukan esok.
"Tentu,Akashi-san"
.
.
"Sakura-san."panggil Akashi saat Sakura mengantarkannya makan. Sakura menoleh"ya?"Akashi kesulitan mengucapkan sesuatu.
"Apa kau sudah lama mengenal Hinata?"tanyanya akhirnya. Sakura menghela nafas." kami berteman sejak kecil." ia meletakkan obat di atas meja Akashi.
"Walaupun begitu,banyak hal yang tidak ku ketahui tentang Hinata"Lanjutnya"Ia tidak pernah bercerita tentang kesusahan nya sama sekali..Aku saja baru tahu tentang takdir suram keluarga Hyuuga dari Tsunade-sama."
Akashi hendak bertanya tentang takdir suram keluarga Hyuuga tapi urung.
Mungkin tidak pantas orang asing bertanya hal seperti itu, tapi entah mengapa ia ingin tahu banyak tentang gadis bermata pucat yang menyuapinya jeruk tadi siang.
.
.
.
TBC
A.N:Akashi yang di sini, bukan Akashi yang punya emperor eye ya,karena Karin gak begitu suka sama Akashi pas matanya beda :p.
