Puppy Pet: Blackie

.

Story belong to DeathSugar

.

.

Chapter 3. First Kiss

.

.

.

Happy reading and review, ne?

.

.

.


"kau bukan anak bayi, Park!" itu adalah kejengkelan si mungil Byun Baekhyun yang kesekian kalinya ketika menghadapi seorang tampan arogan yang menjengkelkan yang kini masih dengan tampannya bersandar pada headbed ranjang king size miliknya. "makan dan kemudian minum obatmu sekarang juga dan kemudian aku bisa pulang!"

Bibir tipis itu terus membuka dan mengatup dengan sangat berisiknya seperti sekumpulan lebah membuat sarang mereka. Sementara si mungil masih setia dengan kejengkelan ketika menghadapi pemuda yang lebih tinggi itu, yang lebih tinggi hanya menatap malas dan meletakkan tatapan matanya pada tayangan televisi yang ada didepannya itu.

Tahukah kalian, setelah insiden Baekhyun yang (tidak sengaja) membuat tangan Park Chanyeol itu patah dan kemudian berakhir dengan Baekhyun yang mengdekam di dalam kamar apartemen milik kakak kelasnya yang menyebalkan itu.

"Hukumanmu adalah… kau harus menjadi pettan seorang Park Chanyeol"

Itu adalah kata yang keluar dari mulut seorang Park Chanyeol yang berhasil membuat si mungil Byun Baekhyun itu sampai pada kamar apartemen seorang Park Chanyeol. Baekhyun awalnya tidak tahu apa maksud pettan itu, namun ketika ia sampai di kamar mewah ini dia baru sadar, posisinya tidak lebih dari seorang pelayan. Pelayan yang harus merawat seorang brengsek seperti Park Chanyeol ini.

Sebenarnya sih, Baekhyun sendiri tidak tahu apa arti pettan itu.

Si mungil menggerutu, merutuki pemuda dihadapannya ini dengan bibir yang memberengut, mata sipitnya sesekali berkilat kesal. "cepat minum obatmu, Park! Mama pasti sudah mencariku jika aku belum pulang."

"apa perduli ku?" yang lebih tinggi membawa tatapan matanya kearah si mungil yang kini memberengut itu. "wah.. itu lebih baik, Blackie. Aku akan bilang pada Mama-mu, karena dirimu, aku jadi patah tulang seperti ini!"

"tidak boleh! Kau sudah janji kalau tidak akan mengatakan itu pada Mama-ku!"

Menyeringai, si tampan itu menyeringai ketika melihat pemuda mungil dihadapannya itu menggerutu, mencibirkan bibirnya serta mata puppy miliknya yang menatapnya kesal. Ugh—sungguh kenapa si mungil dihadapannya itu terlihat sangat menggemaskan?

"Blackie!"

"Berhenti memanggilku dengan nama Blackie itu! Namaku bukan Blackie, huh!"

"teman-temanmu biasa memanggilmu dengan Baek—ah siapa?"

"Baekie?"

"nah iya itu.. lidahku tidak terbiasa dengan nama Baek—siapalah itu—makanya aku memanggilmu dengan Blackie.. lebih mudah dengan lidahku yang terlalu lama hidup di London ini."

Bohong. Adalah sebuah kebohongan ketika yang lebih tinggi mengatakan alasan tentang ia yang tidak mengucapkan kata 'Baekie' dengan benar. Alasan sebenarnya tentang ia yang lebih suka memanggil si mungil yang masih duduk dengan bibir mencibir dan tatapan mata menyorotkan kekesalan –yang menggemaskan- kepada Chanyeol karena Chanyeol menyukai semua ekspresi si mungil yang berisik itu. Iris mata yang kelam dengan bentuk mata puppy itu terlihat menggemaskan. Dan nama Blackie adalah nama yang cocok untuknya. Sound too cute, right?

Dan apapun yang berhubungan dengan Baekhyun terlihat menggemaskan untuknya. Duh.

"Blackie, belikan aku chocochino di café depan!"

Huh?!

Berdecak, namun tetap beranjak dari sana dan membawa langkah kakinya menuju café didekat apartemen kakak kelasnya itu dengan hati yang begitu berat. Dia bukan pelayan, mengerti?


.


"selamat datang" adalah kata pertama yang menyapa indra pendengaran si mungil itu ketika ia masuk kedalam café ini. Adalah seorang yang cantik dan mungil sama seperti dirinya tersenyum menyambutnya. "ada yang bisa aku bantu?"

Baekhyun berdeham, mencoba mengabaikan kekagumannya pada sosok cantik berambut coklat gelap itu. Baekhyun terpana –tentu saja sebagai laki-laki normal- seseorang yang berdiri dihadapannya itu cantik dengan mata yang indah dan senyum yang Baekhyun akui itu terlihat menawan.

"aku mau satu chocochino dan—ah!" si mungil itu berbinar ketika ia melihat menu ice cream disana. "satu porsi ice cream strawberry!"

Kakak pelayan café itu tersenyum, "baiklah. Tunggu sebentar duduk disini dulu."

Baekhyun hanya diam memperhatikan ketika kakak pelayan café itu menyiapkan pesanannnya. Hanya memperhatikan ketika jemari lentik dan terlihat lembut itu meracik sebuah ice cream strawberry untuknya ketika sebelumnya ia memesankan sebuah chocochino pada pelayan dibelakang sana.

"kau tinggal di apartemen dekat sini juga?"

"Eh?" merasa kalau kakak pelayan café itu bertanya padanya, Baekhyun kemudian membuka suara, "tidak, Hyung. Aku hanya disuruh oleh kakak kelasku."

"pacarmu?"

Baekhyun mendelik dan disambut dengan senyuman kakak pelayan café itu. Cantik. Sekali lagi Baekhyun akui itu, bahkan ia juga bisa melihat kesan lembut dari kakak pelayan café itu melalui sorot matanya yang teduh. "Ani! Pacarku? Heol! Dia itu menyebalkan! Dan aku tidak akan pernah sudi untuk menjadi pacarnya! Lagi pula dia itu laki-laki juga, hyung. Mana mungkin aku berpacaran dengannya. Aku masih suka dengan gadis manis yang menggemaskan."

Kakak pelayan café itu tertawa, "kau itu cantik. Ah siapa namamu?"

"Baekhyun, hyung!" si mungil tersenyum.

"senang bertemu denganmu Baekhyun. Aku Luhan." Kakak pelayan café itu tersenyum sebelum akhirnya memberikan satu porsi ice cream dan satu chocochino untuk si mungil itu. "datanglah lagi kesini, ne!"

Si mungil mengangguk dan mengambil kantung plastik itu. "aku duluan Hyung! Dadah~!"


.


"kenapa ada dua kantung plastik?" adalah kalimat yang terucap dari bibir pemuda tampan yang mengambil benda yang disodorkan oleh sosok mungil itu untuknya dengan tangan kirinya (tangan kanan Chanyeol masih diperban karena patah).

"aku kan juga ingin beli ice cream. Aku beli dengan uangku sendiri, dan jangan protes!"

Menahan tawanya, Uh—Chanyeol benar-benar gemas ketika si mungil(nya) itu menjatuhkan dirinya dan kemudian dengan tingkah menggemaskan (sebenarnya sih itu biasa saja, namun di mata Chanyeol apapun yang dilakukan si mungil yang cerewet dan puppy itu selalu menggemaskan) ketika membuka ice cream strawberry itu.

"enak?" itu adalah suara Chanyeol ketika matanya menemukan Baekhyun sedang menikmati ice cream strawberry disuapan pertamanya. Dan kemudian hanya di balas dengan sebuah anggukan manis.

"enak atau tidak bukan urusanmu, Park-sunbae."

"panggil aku Chanyeol!"

Itu adalah sebuah perintah dan Baekhyun yang sadar posisinya sebagai seorang 'pettan' Park Chanyeol hanya memutar matanya malas dan mengganguk. "anak pintar!"

Hening menyelimuti ruangan tamu apartemen milik si tampan Park Chanyeol saat itu. Hanya ada suara televisi yang tidak menarik perhatian pemilik kamar apartemen itu. Yup.. karena perhatian Park Chanyeol hanya terarah pada pemuda mungil yang tengah menikmati ice creamnya dengan sangat menggemaskan.

Uh.. bibir tipis yang basah dan mengkerut lucu ketika sendok ice cream itu masuk kedalam mulutnya. Dan ketika ia menikmati sensasi dingin yang menyambutnya ketika ice cream itu masuk kedalam mulutnya dan dengan refleks si mungil memejamkan matanya. Menahan freeze-brain yang menyerangnya.

Dan Chanyeol harus dengan sangat kuat hati untuk tidak menubruk si mungil itu dan kemudian menyeretnya masuk kedalam kamar dan menghujam lubang hangat itu dengan miliknya. Pikiran kotor macam apa itu, Park?

Berdeham, membenarkan letak duduknya. Pemuda yang lebih tinggi meminum chocochino miliknya. Mencoba untuk mendinginkan hasratnya yang mulai mendidih itu. Urgh.. kenapa si mungil itu begitu ahli untuk membuatnya menjadi liar seperti ini ? bahkan ketika si mungil itu tidak melakukan apapun untuknya? Tidak.. karena dia hanya diam dan menyantap ice cream itu dengan sangat syahdunya.

"Blackie"

"Iya? Apa butuh sesuatu lagi?!" terdengar kesal.

"kau makan ice cream dengan sangat belepotan. Seperti anak TK saja.."

"Huh?! Benarkah?" meletakkan cup ice cream itu di meja dan kemudian menggunakan tangannya untuk membersihkan area sekitar mulutnya. Dan itu terlihat sangat menggemaskan untuk Chanyeol.

"apa sudah bersih?"

Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut pemuda yang lebih tinggi itu. Hanya ada sebuah gelengan kepala dengan tatapan mata yang tajam yang diberikan pada sosok mungil itu.

"dimana sih yang kotor?" mendengus sebal ketika ia menggunakan kedua tangannya untuk membersihkan area sekitar bibirnya lagi.

"disini." Ucap yang lebih tinggi dengan menggunakan tangan kirinya yang tidak diperban untuk menyentuh pipi sebelah kirinya. Dan kemudian hanya diikuti oleh si mungil dengan patuh.

Kenapa sih si mungil ini begitu menggemaskan? Bisakah ia tidak berlaku begitu menggemaskan yang membuat si Chanyeol ini begitu gemas dan ingin memakannya setiap saat. Tidak tahukan dia kalau Park Chanyeol ini tidak sebaik yang dia kira? Tidakkah dia sadar kalau Park Chanyeol ini tidak bisa menahan dirinya, mungkin si mungil ini akan tidak bisa berjalan dengan benar esok hari?

Membenarkan duduknya, pemuda yang lebih tinggi itu mendekat. Menjatuhkan dirinya didepan si mungil dengan bertumpu kedua lututnya. Bahkan dengan posisi seperti ini Chanyeol masih terlihat lebih dominan dan lebih tinggi dari Baekhyun.

"bukan disitu, Blackie." Mensejajarkan wajah mereka hingga membuatnya terlalu dekat. Dengan jarak yang hanya beberapa inci saja. Chanyeol mengarahkan tangan kirinya menyentuh kulit pipi gembil Baekhyun yang terasa begitu lembut. Jemari tangan nan kokoh itu menyentuh bibir tipis si mungil dengan pelan, seakan dengan begitu ia bisa merasakan betapa kenyalnya bibir tipis yang begitu kissable itu.

Dengan posisi yang begitu dekat itu, mata tajam Chanyeol tepat mengarah ke iris kelam milik Baekhyun. Menatapnya dan membuat pemilik iris itu hanya diam terpaku.

Sorotan mata tajam itu membawanya pada sebuah kebekuan. Kekaguman. Dan menyeretnya dalam pesona maskulin, tampan dan dominan si pemuda yang lebih tinggi darinya itu. Membuat jantungnya yang hanya satu-satunya itu harus bekerja lebih keras untuk memompa darahnya.

Hela nafas yang menyentuh tepat diwajahnya membuatnya begitu gugup. Kenapa harus sedekat ini? Membuatnya harus kehilangan akal untuk melawan bahkan ketika sesuatu yang kenyal mendarat di bibirnya.

Sementara Baekhyun yang terlihat seperti kehilangan dirinya sendiri berbeda dengan pemuda yang lebih dominan itu. dia bahkan tidak tahu kenapa ia dengan sangat berani mendaratkan bibirnya, menyatukan tautan mereka.

Chanyeol bahkan masih bisa merasakan rasa strawberry yang tertinggal di bibir pemuda mungil itu. membuatnya begitu candu. Melumatnya seakan beda kenyal itu adalah permen kenyal kesukaan sepupu kecilnya di London sana.

Melumat bibir itu dan kemudian menyesapnya dengan lembut namun memabukkan. Membuat si mungil itu melenguh dalam hisapan lihat ciuman seorang Park Chanyeol. Membuat seorang Park Chanyeol itu untuk terus memnta untuk lebih, mengarahkan tangannya yang terbebas itu menyentuh leher si mungil yang memejamkan matanya pasrah. Sentuhan itu cukup untuk membuat Park Chanyeol mendapatkan apa yang ia mau.

Si mungil membuka bibir untuknya.

Mendapatkan akses untuk mengeksplorasi ciuman itu, Chanyeol melesakkan lidahnya masuk dan kemudian menuntun si mungil untuk mengikuti permainannya. Memperdalam pagutan mereka, menyesap dalam dan membuat ruang itu penuh dengan lenguhan dan decapan mereka berdua,

"Mmhh—" adalah erangan yang kesekian kalinya Chanyeol dengar dari si mungil yang kini membawa kedua tangannya di dada Chanyeol. Mencoba untuk membuat jarak dan melepas pagutan mereka berdua.

Mereka sudah lama berbagi saliva, menyesap, menghisap dan menggigit hingga membuat si mungil yang masih payah dalam ciuman itu semakin tak berdaya. Tangannya beberapa kali memukul dada bidang pemuda yang lebih dominan itu untuk menyudahi ciuman mereka,

Menyadari bahwa si mungil itu sudah terlalu lelah dan tidak ingin membuat si mungil itu pingsan karena ciuman panas mereka, Chanyeol akhirnya mengakhiri tautan itu. membuat sebuah benang saliva yang menghubungkan keduanya.

Menghapus benang jejak itu dengan sebuah kecupan singkat dan sebuah lumatan di bibir bawah milik Baekhyun, Chanyeol kemudian mengusap bibir yang membengkak itu dengan lidahnya. Mengusap dalam kamus ciuman seorang Park Chanyeol adalah menjilat dan menyesapnya beberapa kali. Menyentuhkan dahinya dengan dahi milik Baekhyun yang masih terpejam itu, dan kemudian mengecup bibir itu lagi.

Menjauhkan dirinya dengan diri si mungil yang terengah itu dan kemudian mengusak pucuk kepala si mungil. Menyentuhkan rambut halus si mungil itu untuk membelai jemarinya sebelum ia kemudian beranjak dari sana dan masuk kedalam kamar kamarnya.

Meninggalkan si mungil yang terpatung.

Si mungil yang kehilangan dirinya sendiri untuk mencerna apa yang baru saja mereka lakukan. Jemari tangan lentiknya menyentuh bibirnya, mengigit bibir bawahnya dan masih merasakan bekas ciumannya dengan Park Chanyeol tadi.

Berkedip. Seakan dengan begitu ia bisa mengumpulkan seluruh nyawanya yang tadi sempat di tawan oleh setan bernama Park Chanyeol.

Ciuman itu.

Itu adalah ciuman pertamanya.

Bibir sucinya yang ia jaga untuk calon istrinya kelak dengan sangat mudahnya ia serahkan kepada seorang brengsek yang dengan bodohnya ia juga menikmati itu.

Oh, ayolah. Baekhyun..

Membawa tatapan matanya pada pintu yang baru saja tertutup itu, dan merasakan detak jantungnya yang berdetak dengan sangat tidak normalnya. Membuatnya sadar bahwa berada disamping seorang Park Chanyeol adalah sebuah ancaman. Sebuah bahaya.

"brengsek.. dasar kau Park Brengsek Chanyeol! Berani sekali kau merebut ciuman pertamaku! Brengsek. Dasar Mesum!"

Uh.. kenapa lama sekali ia untuk memprotes bahkan ketika pelaku utama dari perebut paksa ciuman pertamanya tengah bergelimbung diatas kasur empuknya. Menahan sesuatu yang tengah bangun dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya ia gunakan untuk menjambak rambutnya.

Merutuki kebodohannya. Kenapa si mungil itu selalu bisa membuat dirinya menjadi begitu liar dengan keinginan memiliki yang kuat?

Uh.. entahlah.


..

.

TBC

.

.


Ya ampun… 2k lebih. Aku bisa nulis sepanjang ini. X''DDD *boboan sama luhan*

Jujur aja.. aku rada susah ketika nulis chapter ini. Tulis hapus tulis hapus. :')

Aku lagi writer block. (T_T)

Gimana chapter ini? Garing kah? Maaf.. scene ciuman itu… aku tahu gagal. Maafkan aku yang masih polos ini kakak. Aku kan masih mabelas tahun. :v /nempeldijidatmascahyo *jedugh*

Btw ada yang nyadar ga kejanggalan ketika Chanyeol gelimbungan di kasur itu ? XD

eniwei.. kakak pelayan cafe itu nanti akan ada cerita dengan dedek sehun tapi setelah ff ini tamat. XD ahay~ *ga tanya*

Makasih untuk yang sudah baca, yang fav/follow dan juga review.

Makasih siders juga yang bikin aku ngekek. Views dan visitors fanfic ini banyak kenapa yang review sedikit? Fanficnya jelek kah?

Reviewnya dong. Gapapa kok.. aku terima semua jenis review. Aku ga gigit kok. ww

Dan untuk rumor mas cahyo yang dating.. jangan percaya rumors. Keep calm and be a smart fangirls. Believe your beloved bias not any rumors who shared by suck people, otte? *ketjub manja*

Happy read and review, ne? *kedip najis*


14th August 2015

With Love…

DeathSugar