Puppy Pet: Blackie
.
Story belong to DeathSugar
.
.
Chapter 4. Whisper
.
.
.
Happy reading and review, ne?
.
.
.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
Itu adalah pertanyaan yang mampu membuat dua pemuda dalam kamar itu mematung. Membeku ketika sosok cantik dengan rambut pendek itu menatap kedua manusia itu dengan tatapan yang memicing curiga.
Bagaimanapun dan siapapun pasti akan merasa aneh dengan apa yang mereka lihat tentang dua pemuda dengan perbedaan tinggi badan itu. Si Cantik itu—menatap Baekhyun dan Chanyeol dengan tatapan yang penuh curiga. Ia menatap keduanya bergantian. Menatap tangan mungil Baekhyun yang ada pada kemeja Chanyeol yang tidak bisa di bilang rapi itu. Sementara Chanyeol sendiri hanya berdiri diam dengan tatapan mata yang biasa saja –sebelum dia melihat perempuan cantik yang berdiri di depan pintu apartemennya itu- dan itu benar-benar membuat siapapun berfikir tentang apa yang mereka lakukan.
"PARK YODA! APA YANG KAU LAKUKAN ?!" si cantik itu kemudian berjalan kearah Chanyeol dan juga pemuda mungil yang berdiri mematung itu; pucat. Mendapat tatapan mengintimidasi dari sosok cantik yang sekilas mirip dengan Chanyeol –matanya!- itu membuatnya sedikit takut.
Ini tidak seperti yang dipikirkan sungguh.
"Itu tidak seperti yang noona lihat. Sungguh!" yang lebih tinggi menatap takut ke arah perempuan cantik itu.
"lalu apa yang aku lihat ini, ha?! Dasar! Dad and Mom mengirimmu kesini untuk memperbaiki kelakuan bejat dan bebas dirimu di London dulu, Park!"
"Noona.. sungguh.. dengarkan aku dulu!"
"Penjelasan apa? Dulu kau membawa perempuan ke dalam apartemen milikmu dan sekarang kau membawa anak JHS kesini! Ya Tuhan! Apa dosa Mom ketika mengandungmu! Kau mau jadi pedofil hah?!"
"NOONA!" hening. "just listen me! This is not as Noona see. And he was not a student Junior High School. He broke my hand and instead he took care of all my needs. My hands can not be moved. Believe me, please."
"What makes me have to believe in youth nasty like you?"
"Oh Gosh! Noona, I'm not that bad. If you don't believe me, you can ask him !"
"Wait a minutes.. him?"
"Eh?" Chanyeol mengerjabkan matanya bingung ketika Noona-nya bertanya tentang gender si mungil dihadapannya yang terlihat bingung –mungkin tidak terlalu mengerti tentang apa yang mereka katakan tadi sih- "Yes. Him."
"WHAT THE FUCK! YOU'RE PRETTY !" si cantik itu mendekat, menaik Baekhyun yang berada dihadapan Chanyeol menuju kearahnya. Memperhatikan si mungil yang siap mengkerut karena takut. "kamu laki-laki?"
"I-iya.." Baekhyun menunduk takut.
"Yoda… He is beautiful. Petite. Adorable. and wait ... He's eyes like ... Gee .. puppy!"
Puppy.
Dan tawa Chanyeol meledak seketika.
"Ya.. dia memang Puppy mengingatkan pada Carmeen kan?"
Si cantik mengangguk antusias. Membawa tatapan matanya pada sosok mungil Baekhyun yang terlihat bodoh karena tidak terlalu mengerti apa yang dikatakan dua orang ini.
"Noona.. I'm sorry. Can I finish my job and I can go to school ?" aksen yang buruk. Namun terdengar menggemaskan untuk Chanyeol.
"Sure. Take care my bro, okay?" mengerlingkan matanya kearah Baekhyun dan kemudian memberikan senyuman yang terlihat menyeramkan kearah Chanyeol.
"malam ini pulang ke rumah. Dad and Mom besok akan kembali ke London! Dan juga.. he's too cute. Is he your boyfriend? Good choice."
.
"Selamat datang!" itu adalah suara kakak pelayan café cantik yang berada di dekat apartemen Chanyeol. Baekhyun tersenyum ketika matanya menemukan kakak pelayan café itu sedang membersihkan meja counter.
"apa cafenya sudah buka, Hyung?"
Kakak pelayan café itu tersenyum kearah dua pemuda dengan tinggi badan yang berbeda jauh itu. Itu adalah Chanyeol dan Baekhyun. Dengan Chanyeol yang dengan santainya masuk kedalam meja counter bagian dalam dan kemudian mengambil satu potong kue coklat didalam etalase.
"sebenarnya sih masih limabelas menit lagi. Bisa kalian keluar sekarang?"
Itu tidak sungguh-sungguh mengusir kedua pemuda itu. Hanya sebuah gurauan dengan kakak pelayan café cantik (dan manis) yang kemudian membawa langkah kakinya kearah Chanyeol dan menyentil dahi pemuda menjulang itu.
"hormati aku sebagai pemilik café, Park!"
Mengabaikan perintah kakak pelayan café itu (yang sebenarnya sih pemilik café ini)—Luhan, Baekhyun kemudian membungkuk maaf kearah Luhan.
"maafkan kelakuan dia, Hyung. Raksasa ini benar-benar tidak tahu sopan santun."
Luhan tersenyum, "Tidak Baek. Kau tidak perlu meminta maaf untuk kelakuan bocah raksasa ini. Kau mau apa?"
"aku mau Hot Chocolate, Hyung." Sahut Chanyeol. "dan untuk Blackie, berikan dia ice cream dengan waffle rasa strawberry."
"Kalian pacaran?"
"Tidak!" itu suara Baekhyun tidak terima. "mana mungkin aku dengan orang mesum dan menyebalkan seperti dia. Huh!"
"Mesum?"
Baekhyun mengangguk antusias. "dia mesum dan menyebalkan. Menyuruhku ini itu dan kemarin bahkan dia menc—"
Ops..
"bukan apa-apa. Lupakan saja Luhan-hyung."
"Ah kalian.." Luhan tersenyum menggoda Baekhyun, membuat si mungil itu memerah padam. Menundukkan wajahnya dan merutuki mulutnya yang tidak bisa menjaga rahasia. Bagaimana bisa Baekhyun mengatakan kalau kemarin Park Chanyeol Mesum Menyebalkan itu baru saja menciumnya? Ugh!
"Luhan-hyung~" nada memohon dan manja, ini suara Baekhyun.
"Tega sekali kau Park. Membawa selingkuhanmu dihadapanku. Jangan pernah kembali lagi kesini. Pergi!" Luhan memberengut lucu. Mengarahkan tinju yang tak terasa pada pemuda tinggi itu.
Sungguh itu tadi bercanda.
.
"jadi benar dia sepupumu?"
"kau tidak percaya?"
Adalah kata yang mengawali ketika dua pemuda itu masuk kedalam apartemen milik pemuda yang lebih tinggi itu. Si mungil kemudian membantu melepaskan seragam pemuda yang lebih tinggi itu dengan perlahan.
"Luhan-hyung pindah ke Seoul dua bulan lalu. Dia juga satu lantai disini. Sebelah kamar ini adalah milik Luhan-hyung." si munggil mengangguk mengerti.
Hening semakin menyelimuti kedua pemuda itu ketika Baekhyun selesai membantu Chanyeol melepas kemejanya dan kemudian menyiapkan air hangat untuk pemuda yang lebih tinggi itu untuk mandi. "sudah selesai. Boleh aku pulang?"
Hanya sebuah gumaman ketika si mungil bilang untuk pulang. Ada rasa sedikit tidak rela ketika ia harus melepaskan si puppy kesenangannya itu untuk pergi. Chanyeol ingin si mungil puppy selalu disini. Bersamanya.
Bahkan ketika si mungil mengambil tas yang ia letakkan di ranjang milik Chanyeol dan menyampirkannya di bahu mungil itu, mata tajamnya masih saja menatapnya dalam seolah benar-benar tidak ingin melepas si mungil begitu saja. Sungguh, Chanyeol ingin si mungil disampingnya; merecokinya, marah padanya, mengutuknya dengan sumpah serampah ketika ia menjahilinya dan kemudian memasag cemberut dan memarah. Chanyeol suka semua itu.
Satu hal yang Chanyeol sadar ialah… ia begitu menyukai seorang Puppy bernama Baekhyun. Mata puppynya ketika menatapnya sengit seakan memberikan sebuah alasan untuk ia menjaganya seperti hewan peliharaan yang manis dan menggemaskan. Chanyeol menyukai itu. Dan bahkan ketika tangan si mungil Baekhyun hendak memegang pintu, Chanyeol sedikit berteriak, memanggil nama si mungil dan membuatnya berhenti. Berbalik dan menatapnya kesal.
"apa lagi? Aku sudah menyiapkan air hangat untuk mandi. Dan biarkan aku pulang—hey apa yang kau lakukan?!"
Itu adalah kata-kata Baekhyun ketika ia menemukan seorang Park Chanyeol berjalan kearahnya, menatapnya dengan tatapan yang Baekhyun tidak suka, tatapan mata itu selalu membuatnya beku. Terpaku dalam sorot mata tajam yang seakan siap mengulitinya dan menelanjangi pikirannya.
Membuatnya sadar akan ketidakmampuannya untuk menolak apapun yang akan Park Chanyeol lakukan padanya.
Bahkan ketika Chanyeol mengurung dirinya dengan tangan kirinya, menyudutkan tubuhnya pada pintu yang hendak ia buka tadi, membuatnya harus menahan nafas sejenak ketika iris kelamnya terpaku pada jarak yang hanya beberapa inchi itu dengan Park Chanyeol.
Oh, ayolah Baekhyun tidak menyukai situasi seperti ini.
Hembusan nafas Chanyeol tepat menyentuh wajahnya membuatnya harus menahan gemuruh dalam dadanya. Baekhyun benci ini. Astaga..
Merasakan sebuah belaian disisi kiri wajahnya, jemai telunjuk milik Chanyeol menyusuri lekuk pipi milik Baekhyun. Membuat Baekhyun harus memejamkan matanya. Membuatnya harus menahan nafasnya lagi. Membuatnya harus menahan kakinya agar tidak meringsut kebawah karena lemas. Atau bahkan menahan dirinya untuk tidak pipis dicelana ketika ia merasakan sesuatu yang basah ditelinganya.
Chanyeol menjilat telinganya, mengulumnya layaknya itu sebuah permen marsmallow yang memabukkan. Jilatan itu kini beralih ketika Chanyeol mengendus tengkuk Baekhyun dan kemudian berakhir dengan tatapan mata yang mengarah pada Baekhyun. Menatap si mungil yang memejamkan matanya itu kemudian menyatukan tautan bibir mereka.
Tidak ada lumatan, hanya bibir yang menempel dengan sedikit hisapan pada bibir bagian bawah Baekhyun. Membuat Baekhyun harus mengeluarkan sedikit erangan yang membuatnya melemas. Merasakan sesuatu yang mengelitk perutnya. Membuat dadanya ingin membuncah. Dadanya berdebar dengan sangat tidak normal. Kenapa Park Chanyeol menciumnya lagi? Membuat Baekhyun ingin meleleh ketika hisapan pada bibirnya membuatnya begitu memabukkan. Membuatnya ingin meminta lebih.
"—mmhh.." jemari ramping milik Baekhyun kemudian berada tepat pada lengan milik Chanyeol. Mencari sebuah pegangan agar si mungil yang sudah tidak beradaya itu tidak terjatuh. Bahkan ketika ciuman yang Chanyeol berikan padanya membuatnya harus membuka bibirnya. Membiarkan Chanyeol menuntunnya. Mengajarinya bagaimana ketika lidah mereka menari didalam sana. Berbagi saliva dan menyesap rasa manis dan basah. Mengantarkan sesuatu yang menjalar dari perut ke otaknya.
"Nggh—"
Brengsek!
Chanyeol mengumpat ketika ia mendengar alarm bahaya yang Baekhyun keluarkan. Chanyeol harus menghentikan ini. Mengakhiri semua ini sebelum ia benar-benar kehilangan akalnya untuk tidak menggagahi si mungil malam ini. Membuat si mungil harus mendesahkan namanya sepanjang malam.
Chanyeol tidak mau.
Tautan saliva yang terhubung dengan wajah lushly si mungil itu adalah hal pertama yang Chanyeol temukan ketika ia melepas ciumannya. Sungguh… apa yang baru saja ia lakukan?
Mengecup ucuk kepala si mungil itu, membuatnya harus mencium wangi strawberry dari shampoo yang si mungil gunakan, membuat Chanyeol kembali menahan nafasnya. Apapun yang berada pada Baekhyun seperti zat adiktif. Membuanya candu unruk menikmatinya lagi dan lagi. Semakin ia bergantung, semakin ia butuh si mungil disampingnya.
Menyatukan dahi mereka, membuat masing-masing bisa merasakan hembusan nafas yang menerpa satu sama lain, Chanyeol membuka bibirnya, membisikkan sebuah kata-kata yang membuat Baekhyun membatu. Membuat Baekhyun melemas.
"You're mine and always gonna be mine, Blackie.."
Dan kemudian bibir mereka bertaut lagi –singkat-, sebelum akhirnya Chanyeol mengecup ucuk kepala milik Baekhyun itu lagi dan membuat Baekhyun tediam selama perjalan menuju rumahnya. Membuatnya bahkan tidak bisa tidur malam itu.
Sebuah pernyataan cinta… mungkinkah?
.
.
TBC
.
.
Yay akhirnya bisa nyelesain chapter ini. Aku ga ngerti chapter ini garing ga sih?
Uh aku rada ga pede sama diawal-awal itu. Huhuhu.. TwT
Dan aku nyelesaiin chapter ini pas denger kabar Baek sama mbak leader gelben sebelah katanya putus. Ya ampun aku ngerasa jahat banget seneng diatas putusnya hubungan seseorang.
Eh tapi kan mereka ga pacaran ya? Wkwkwk ada gitu cewek yang kuat ngelihat cowoknya haremnya lebih banyak dari dia? *jepret si Cabekhyun*
Huhuhu Chapter depan ratednya naik. WARNING WARNING ! XD
Last but no least… review please? *kedip najis*
.
.
16th September 2015
With Love…
—DeathSugar
