Puppy Pet: Blackie

.

Story belong to DeathSugar

.

.

Chapter 5. Mimpi

.

.

.

Happy reading and review, ne?

.

.

.


"Aahh—" bibir tipis itu terbuka untuk mengeluarkan desahannya ketika bisa merasakan sesuatu yang basah tengah bergeliat menggelitiknya. Memberikan sensasi yang asing namun memabukkan baginya. Ia bisa merasakan sesuatu yang basah bergerak dari lututnya kemudian merambat menuju paha bagian dalamnya. Menyusuri setiap inci tubuh bagian bawahnya. Membuatnya begitu ngilu, membuatnya merasakan getaran dan desiran yang menuntunnya untuk mengeluarkan desahan itu lagi dan lagi. Menuntunnya untuk mengucapkan nama itu di bibirnya.

"Nggh—Yeolie.. uuh.. Chanyeol—Ahhh"

Ia mendongakkan kepalanya, membuat leher putih itu terekspos dengan indahnya. Memperlihatkan buliran keringat yang mengkilat terkena sinar lilin yang menyala disamping tempat tidur mereka. Sosok itu menggigit bibir bawahnya, menahan suara sialan itu yang terus menerus memintanya untuk dikeluarkan ketika sesuatu yang basah tadi—sesuatu yang bergeliat dari lutut menuju paha bagian dalamnya—itu sudah berada dibagian terpentingnya. Menggulumnya dan menghisapnya. Membuat Baekhyun berada diawang-awang.

"Aah—Chan. Please.." Baekhyun mengarahkan tangan kirinya untuk menggapai kepala Chanyeol yang berada dibagian bawahnya. Menyentuhkan jari-jarinya pada rambut milik Chanyeol dan meremasnya, mengantarkan rasa yang menjalar keotaknya itu pada sosok dibawah sana yang tengah memainkan lidahnya pada kejantanan milik Baekhyun. Membuatnya begitu tegang dan sesuatu didalam perutnya terasa kaku. Membuat miliknya semakin tegang. Uh.. Baekhyun akan mencapai puncaknya dan mengeluarkan cairan precum itu didalam mulut Chanyeol.

Iris kelamnya menangkap pergerakan Chanyeol yang kini menatapnya dengan mata yang menghitam karena nafsu. Deru nafas keduanya terdengar saling bersahutan.

Chanyeol bawa tangan kokoh miliknya untuk menyusuri nipple itu menuju kearah leher dan terus keatas hingga menyentuh bibir yang merah itu. Menyentuh bagian bawahnya seduktif dan kemudian mengarahkan jari telunjuk dan tengahnya masuk kedalam bibir si mungil yang tengah terbaring dibawah naungannya itu.

Baekhyun jilat, hisap dan sesekali menggigitnya pelan. Membayangkan itu adalah lollipop milik Chanyeol, memegang pergelangan tangan itu agar tidak pergi dari sana.

Sementara Chanyeol tersenyum kemenangan atas itu.

Si tinggi dominan menyentuhkan tangannya yang terbebas kearah kaki si mungil membawanya menuju pundaknya dan membuat matanya bisa melihat dengan dengan akses masuk dirinya untuk si mungil. Si dominan menyeringai menang.

Mengarahkan tangannya pada miliknya sendiri dan kemudian mengocoknya, membuat miliknya menegang dan berubah ukuran dari sebelumnya dan kemudian mengarahkan miliknya kearah hole milik Baekhyun.

"Blackie.. kau siap?"

Si mungil mengangguk dalam kesibukannya dengan jari milik Chanyeol itu, mempersiapkan dirinya. Itu adalah seks pertama dalam enambelas tahun hidupnya, dan Chanyeol adalah orang pertama yang menyentuhnya.

Merasakan sesuatu yang asing menyentuh bagian bawahnya, Baekhyun memekik . menatap Chanyeol dengan tatapan yang sulit diartikan dan hanya dibalas dengan sebuah senyuman menawan.

"Percaya padaku.."

Dan ketika Chanyeol sedikit mencodongkan tubuhnya kearah Baekhyun, membawa tatapan mata tajamnya kearah iris kelam Baekhyun, Baekhyun memejamkan matanya ketika Chanyeol mengganti tangannya yang searitadi Baekhyun mainkan dengan bibirnya. Menggulumnya, menghisapnya dan kemudian bersamaan dengan lidah Chanyeol yang melesak masuk, Baekhyun melebarkan matanya saat ia merasa sesuatu seperti merobek lubang miliknya. Membuatnya menahan nafas dan—

.

.

—dan Si mungil bangun dari tidurnya dengan nafas yang menderu cepat dengan wajah yang memerah. Menggigit bibir bawahnya dan kemudian merasakan sesuatu yang tidak nyaman dibawah sana. Menyibak selimutnya dan kemudian mengarahkan jemari lentiknya menyentuh celana tidurnya yang terasa basah.

Dia bermimpi.

Tadi itu hanya mimpi. Mimpi dengan seorang brengsek sialan dan mesum bernama Chanyeol. Si mungil berkilat kesal, memukul kepalanya sendiri dan kemudian—

"DASAR PARK MESUM SIALAAAAAAAANN ! APA YANG KAU LAKUKAN PADAKUUUUUUU!"

Baekhyun yang malang.


.


"RADIUS LIMA METER DARIKU!"

Itu adalah pernyataan konyol yang Chanyeol rasakan ketika ia menemukan si mungil yang kini tengah sibuk dengan sarapan miliknya. Mengabaikan pernyataan konyol si mungil dan menatap sarapan pagi yang Baekhyun bawa dari rumah tadi dan kemudian membawa langkah kakinya menuju kearah pria manis kesukaannya itu.

Baru dua langkah dan Chanyeol harus mendelik kaget ketika Baekhyun melemparkan sebuah apel kearahnya dan kemudian mengacungkan sendok garpu darisana. Wow.. apa-apaan ini?

"kau ingin membunuhku?" itu adalah Chanyeol.

"Ya. Aku akan membunuhmu jika kau berani mendekat kearahku, Park! Huh.. jauh-jauh dariku!" si mungil menatap Chanyeol sengit. Menyipitkan matanya dengan pipi yang dibuat menggembung, membuat bibirnya menggerucut lucu. Ah… Chanyeol ingin berteriak saking gemasnya dan kemudian berlari kedalam kamar untuk mengambil sebuah mainan tulang-tulang yang kemarin ia beli dan kemudian melemparkannya kearah Baekhyun dan kemudian ia bisa melihat Baekhyun datang kearahnya dengan tulang dimulutnya dengan mata berbinar pika-pika dengan telinga berdiri tegak dan ekor yang digoyang-goyangkan. Aaaaaaaaa—itu imut sekali !

"apa yang terjadi padamu, hah? Kau ini sedang PMS ya?"

"Aku ini laki-laki! Dan aku tidak mungkin PMS!"

"Ya ya ya… terserah padamu saja."

Chanyeol yakin ada yang tidak beres. Si mungil benar-benar menjaga jarak dengannya. Seingat Chanyeol, dia tidak membuat kesalahan yang fatal sih, ciuman semalam kah penyebabnya? Ah tapi sebelumnya dia juga mencium si mungil itu dan dia biasa saja. Lalu masalah apa kali ini?

Chanyeol menyadari itu. Bahkan ketika mereka berangkat kesekolah dalam keheningan yang membuat Chanyeol tidak suka. Chanyeol lebih suka melihat si mungil-nya itu cerewet, mengutuknya dan lain-lainnya dengan tingkahnya yang terlihat menggemaskan. Bukan dengan keheningan seperti ini. Chanyeol tidak suka.

"aku membuat kesalahan padamu ya Blackie?"

"Tidak."

"kau marah padaku?"

"tidak."

"kalau begitu jangan diamkan aku."

Baekhyun hendak saja memarah dan meledak namun wajahnya seketika melunak ketika ia menemukan wajah Chanyeol yang memelas seperti itu. Baekhyun tidak tega rasanya harus mendiamkan Chanyeol seperti ini. Namun ketika bayangan mimpinya semalam muncul membuat Baekhyun kembali memanas. Baekhyun ingat semuanya. Bagaimana Chanyeol menyentuhnya, suara Chanyeol yang husky terdengar begitu memabukkan apalagi ketika menyebut namanya. Mengingat itu semua membuat Baekhyun mendengus kesal.

"aku bilang radius lima meter dariku, Park Chanyeol."

Dan Baekhyun berlalu begitu saja. Meninggalkan Chanyeol yang membatu. Terpukul dan patah hati. Baekhyun baru saja menolaknya.


.


"jadi Baekhyun menjauhimu?" itu adalah suara Luhan dari seberang sana.

"Um.."

"kau sudah minta maaf?"

"aku tidak salah apapun Hyung. Aku harus minta maaf tentang apa?" Chanyeol mendesah ketika ia membalas pertanyaan dari Luhan kali itu. Minta maaf sepertinya bukan solusi yang tepat kali ini.

"Baekhyun tidak mungkin marah tanpa alasan, Chan."

"Hyung.." Mendesah. "Apa kau akan marah kalau seseorang menciummu?"

"Um.. tergantung siapa yang menciumku."

"Hyung, Baekhyun mungkin ma—"

"Luhan-hyung?"

Chanyeol mendengar suara itu. Dia bahkan ingat dan hafal dengan suara yang kini terdengar diseberang sana. Itu adalah suara makhluk mungil puppynya yang kini sedang mendiamkannya, marah tanpa alasan yang Chanyeol ketahui. Dan kenapa ada Baekhyun di café Luhan hyung?

"Chan, aku akan menelponmu lagi nanti."

Dan sambungan telepon itu terputus. Menyisakan Chanyeol dengan tanda Tanya besar dan juga rasa ingin tahu yang besar.

Apa yang Baekhyun lakukan sekarang ? memakan ice cream dengan sangat manisnya? Apa dia membantu membuat kue dengan cream yang menempel di hidung mungilnya? Atau dia sedang—astagaaaaaaa…. Chanyeol sungguh ingin melihat Baekhyun saat ini juga.


.


"Luhan-hyung?" Baekhyun membuka suaranya ketika ia masuk dalam café yang terletak di dekat sekolahnya dan juga apartemen milik Chanyeol itu. Langkah kakinya otomatis membawanya menuju counter kasir dan melongokkan kepalanya kedalam sana. Mata puppynya menemukan sosok Luhan sedang menelfon disana. Mungkinkah Luhan-hyung tidak mendengarnya?

"Luhan-hyung?!"

Baekhyun melambaikan tangannya dan tersenyum cerah ketika ia mendapati Luhan yang melakukan hal yang sama kepadanya sebelum kemudian kakak pemilik café ini terlihat berbicara pada seseorang lewat teleponnya dan kemudian menaruhnya disaku celana.

Berjalan kearah Baekhyun, Baekhyun kemudian duduk disalah satu kursi pembeli didekat jendela yang langsung menyuguhkan pemandangan jalan dengan lalu lintas yang cukup padat.

"Waffle dengan Ice Cream vanilla strawberry pesananmu, Baekhyun." Ucap Luhan tersenyum kemudian menjatuhkan dirinya di kursi depan Baekhyun. "ada apa kesini?"

"Hah.." Baekhyun mendesah berat. "Hyung.. aku harus bagaimaaaaa.." si mungil puppy itu meletakkan kepalanya dimeja. Menatap ice cream kesukaannya itu tanpa minat. Uh, kepala kecilnya benar-benar pusing memikirkan tentang mimpinya itu.

Setiap mengingat mimpi itu membuat Baekhyun memanas. apalagi ditambah Chanyeol yang mengikutinya ketika mereka di sekolah, membuat Baekhyun harus berkali-kali lipat menahan dirinya untuk tidak menampar ataupun memukul Chanyeol.

Kenapa hal memalukan dimimpi itu harus terjadi padanya, sih. Uh—Baekhyun kesal sekali rasanya.

"Bagaimana apanya?"

"Aku—Hyung.." Baaekhyun mengangkat kepalanya, kemudian menatap Luhan dengan tatapan berbinar penuh harap. "Berjanjilah padaku… kalau Hyung tidak akan menceritakan apapun dan pada siapapun tentang ini. Janji?"

Luhan mengerjab lucu ketika ia melihat Baekhyun mengacungkan jari klingkingnya dan berkedip-kedip sok imut yang membuat Luhan harus memutar matanya malas dan membalas tautan kelingking itu.

"Janji!"

Luhan bisa melihat ketika Baekhyun menghela nafas dan kemudian memakan ice creamnya—mungkin karena ingin menghilangkan rasa gugup—dan kemudian menatap Luhan malu-malu.

"Jadi.. aku bermimpi." Hening sejenak, "dan itu mimpi buruk sekali. Aku bermimpi—aku…."

"Aku?"

"Seseorang yang aku benci melakukan hal yang tidak baik. Mama bilang—itu tidak boleh dilakukan sebelum menikah. Aku mendengar semuanya… suaranya, nafas beratnya, dan—" Baekhyun menutup wajahnya dengan kedua tangan—itu karena malu—sebelum akhirnya, "kami melakukan 'itu'."

"Itu?" Luhan menatap bingung, sungguh ia masih tidak mengerti apa maksud Baekhyun kali ini.

"Hyung~" yang lebih muda merengek, putus asa. "kami melakukan sex" Baekhyun merendahkan suaranya pada bagian 'sex'. Sepelan mungkin sampai ia yakin hanya dia dan Luhan-hyung yang bisa mendengarnya. "itu memalukan sekali. Kenapa aku harus bermimpi seperti itu sih.. dengan Chanyeol pula."

"Jadi itu alasanmu marah dengan Chanyeol?"

Yang lebih muda menggeleng, "tidak, kok. Aku tidak marah pada Park Mesum Sialan Chanyeol itu.. aku hanya… setiap melihat wajahnya.. aku jadi ingat tentang mimpi itu."

Luhan tersenyum halus ketika ia meraih jemari lentik milik Baekhyun, "Byun Baekhyun sudah dewasa ternyata."mengeratkan genggaman tangannya pada milik Baekhyun, Luhan semakin melebarkan senyumnya. "jangan hindari Chanyeol lagi. Hadapi dia dan abaikan mimpi itu. Araseo?"

"apa itu akan baik-baik saja?"

"Ya. Itu hanya mimpi… dan satu langkah menuju kedewasaan bagimu, Baek. Jangan pernah menghindar lagi. Mengerti?"

Baekhyun tersenyum dan kemudian berdiri menuju kearah Luhan, menghambur memeluk kakak pemilik café ini erat. "terimakasih Hyung… aku menyayangimu."

"Ya.. Ya.. sebelum itu habiskan ice cream milikmu kemudian bayar dan cepat pergi dari sini."

Itu tidak serius, sungguh.


.


"Selamat pagi~"

Chanyeol membelalakkan matanya ketika ia melihat sosok mungil itu tengah membuat segelas susu coklat dengan semangkuk sereal diatas meja makan yang sudah siap tersaji. Itu adalah Baekhyun dan Baekhyun adalah kenapa Baekhyun ada disini alasan yang cukup untuk Chanyeol terkejut.

Chanyeol masih ingat tiga hari ini, si munggil puppy itu masih bersikap aneh padanya. Dia tidak mengangkat telefon dari Chanyeol, tidak membalas pesan dari si jangkung itu, mengabaikannya, menjauhinya dan kemarin dia juga masih ingat ketika Baekhyun menamparnya.

Oke, Me-nam-par-nya !

Itu terjadi ketika Chanyeol yang nekat untuk menemui si munggil puppy-nya itu. Chanyeol sudah terlalu lelah untuk sekedar didiamkan oleh putra keluarga Byun itu. Ia tidak suka itu. Dia tidak suka dan tidak mau Baekhyun menjauhinya.

Saat itu Chanyeol berniat untuk menemui Baekhyun, dan kemudian merangkulnya seperti biasa yang ia lakukan pada makhluk mungil itu. Chanyeol merangkulnya dan kemudian mengusak rambut halus itu gemas, dan juga mencubit pipi gembil itu. Chanyeol tertawa ketika ia melihat wajah Baekhyun yang kesal dan memberengut. Salah satu ekspresi kesukaannya. Si mungil itu kemudian menunduk, tangannya terkepal dan kemudian—

PLAK!

—sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Chanyeol yang cukup membuat beberapa orang mendelik terkejut.

Baekhyun baru saja menampar seorang pangeran sekolah dan itu dilakukan didepan banyak siswa.

Chanyeol hanya terdiam merasakan rasa panas di pipinya yang ia yakini sekarang telah memerah karena tamparan Baekhyun. Tapi satu hal yang ia—Chanyeol lihat dari Baekhyun ialah… wajahnya yang memerah. Entah karena marah atau karena… malu.

Chanyeol bahkan terdiam dan tidak beranjak dari sana barang semili pun. Ia hanya memandangi punggung kecil itu menjauh, semakin menjauh dan kemudian ia hilang begitu saja. Uh… Chanyeol sedih sekali.

Didiamkan dan dijauhi oleh Baekhyun adalah siksaan baginya.

Dan sekarang, pagi ini… Chanyeol melihat si mungil itu tersenyum manis kearahnya dan menyiapkan segala keperluan paginya. Salah satunya adalah sarapan pagi.

"Kenapa diam? Kau tidak berniat untuk makan?"

"Haha.." Chanyeol ketawa canggung dan itu cukup membuatnya terlihat bodoh dihadapan si mungil itu, "Kau sudah tidak marah padaku?"

Baekhyun menunduk, memainkan jemari tangannya dan kemudian membungkuk dalam, "Maafkan aku… soal kemarin aku yang menamparmu. Apa masih sakit?"

Chanyeol bisa melihat kilat penyesalan dari mata puppy itu. Baekhyun memelas seperti sekarang adalah siksaan batin tersendiri untuknya dan Baekhyun baru saja melakukan hal yang sangat salah.

"Kau masih marah? Chanyeol~" Uh.. Baekhyun menyembik lucu, bibirnya ditekuk kebawah dengan ekspresi yang memohon, iris kelamnya menatap tepat kearah Chanyeol dan itu cukup untuk Chanyeol menahan nafasnya beberapa saat. Sial, kenapa godaan dari Baekhyun selalu datang di waktu yang tidak tepat, sih?

Chanyeol berdeham—itu untuk mengendalikan dirinya sendiri—dan kemudian tersenyum licik. "ini masih sakit sekali, kau tahu. Kau mematahkan tanganku dan kemudian kau menamparku, kau mengingkari janjimu sendiri.. kau tidak mengurus kebutuhanku selama tiga hari ini." Chanyeol menatap Baekhun kesal dan itu cukup untuk membuat si mungil meringsut takut, "Kau harus dihukum untuk itu."

Baekhyun memiringkan kepalanya dan mengerjab lucu, menatap kearah Chanyeol dengan tatapan bingung—yang itu bagi Chanyeol adalah kesalahan. Astaga, di mata seorang Park Chanyeol, Byun Baekhyun terlihat tengah mengoyangkan ekornya dan siap untuk meminta mainan tulang barunya. Uh!

Berdeham lagi, Chanyeol memberi gestur untuk Baekhyun mendekat dengan tangannya dan itu langsung dituruti oleh Baekhyun. Baekhyun mendekat dan kemudian menjatuhkan dirinya di kursi didekat Chanyeol dan itu disambut gelengan oleh Chanyeol.

"Jangan duduk disitu. Duduk disini."

Baekhyun mendelik dan ketika mata puppynya melihat Chanyeol menepuk kedua pahanya—memberi perintah tak langsung untuk Baekhyun duduk diatas pangkuan seorang Park Chanyeol—dan kemudian dengan berat hati untuk berada dipangkuan Park Chanyeol.

Baekhyun memejamkan matanya ketika Chanyeol menyentuh sisi wajahnya, memberikan sensasi yang asing yang mendebarkan seperti ketika Chanyeol menyentuhnya di dalam mimpi itu.

Mimpi itu.

Baekhyun memanas ketika mengingat itu dan hanya diam ketika ia mendengar nafas Chanyeol yang menyentuh sisi wajahnya, membuat pipinya semakin memanas dan perasaan menggelitik didalam perutnya.

"Kau harus dihukum atas ini.." hanya sebuah bisikan, namun itu cukup untuk Baekhyun menahan nafasnya, "dan hukumanmu adalah…"

Baekhyun melemas ketika ia kembali merasakan sesuatu yang lembut dan basah menyentuh bibirnya. Baekhyun tahu itu bukan benda yang asing bagi bibirnya. Baekhyun tahu itu adalah bibir Chanyeol yang telah berhasil beberapa kali mencuri ciumannya dan ia tidak pernah menolak untuk itu.

Baekhyun mendesah ketika ia merasakan Chanyeol menyentuh pipinya, menekan kepalanya untuk membuat ciuman mereka semakin dalam. Si mungil hanya pasrah dan tidak melawan, hingga Chanyeol melepaskan ciuman mereka. Membuat benang saliva yang menghubungkan keduanya terbentuk.

"Jangan pernah menjauhiku lagi. Mengerti?"

Dan Baekhyun hanya mengangguk sebagai jawaban dengan Chanyeol yang kembali mencuri ciuman miliknya. Morning kiss yang manis dari Baekhyun yang manis. Mungkin Chanyeol harus sering meminta ini dari Baekhyun untuk besok dan hari-hari selnjutnya.

Itu bukan pilihan yang buruk.


.

TBC~

.


Eaaa.. Baekhyun sudah dewasa ternyata. X'D

Mimpi enaena mah biasanya sama cewek ini sama mas-mas. XDDDDDDD

Maaf untuk telat update dan chapter ini jika kurang memuaskan. TTTTTTT

Aku masih focus sama ff HunHan soalnya. Maaf ya. Tapi makasih udah mau baca dan silakan untuk kritik dan sarannya di kolom review~.

Btw, Mungkin habis ini akan telat dan lama updatenya, tapi aku usahakan untuk tetap luangin waktu sampe ff ini selesai, satu atau dua chapter lagi mungkin? :3

Happy reading and review, ne ?


24 Oktober 2015

DeathSugar