"When i saw you,i fell in love.

And you smiled beause you knew"

William Shakespeare.

.

.

Tepat siang hari keesokan harinya,Sakura mengantar Akashi ke kediaman Hyuuga. Mereka sudah ditunggu Neji di ruang tamu..

"Perkenalkan,saya Akashi seijurou"kata Akashi sopan,ia membungkuk.

Neji memperhatikan wajah pria di hadapannya. Susah mengakuinya,tapi Akashi benar-benar tampan. Lihat rambut nya yang jatuh dengan sempurna,Mata ruby nya yang terlihat dalam dan melankolis,Wajahnya yang mulus dan bersih,belum lagi tingkah lakunya yang seperti kalangan bangsawan. Neji yakin pasti pria ini bukan dari kasta menengah apalagi bawah.

"Saya tahu"melihat Akashi dan Sakura yang tetap berdiri,Neji berdehem"Silahkan duduk Sakura,Akashi-san."

Begitu tamunya duduk,Neji menuangkan teh ke dua cangkir kosong dan menyodorkannya ke pada Sakura dan Akashi."Terima kasih"Akashi membungkuk lagi lalu meminum teh nya.

"Saya Hyuuga Neji"kata Neji memperkenalkan diri.

Akashi mengangguk " Ya saya tahu. Adik anda,Hinata,sering bercerita tentang anda."

Neji merasa dadanya panas karena cemburu. Bagaimana bisa Hinata sering menceritakannya pada Akashi tapi tidak pernah membicarakan Akashi dengan Neji. Ketika Neji mau mengucapkan sesuatu,terdengar langkah terburu-buru dari ruang tamu dibuka cepat dan Hinata berdiri di ambang mereka,wajahnya berseri-seri.

"Selamat datang Akashi-kun"katanya ramah.."Terima kasih juga karena sudah menyambutku"jawab Akashi sambil tersenyum ,membuat Hinata tersipu.

Sakura bangkit untuk menemui Hinata"Tolong jaga Akashi ya,Hinata!"Hinata mengangguk mantap "tentu saja,iyakan Neji-nii?"

Neji menoleh pada Akashi."Mohon bantuannya"kata Akashi sopan.

.

.

Naruto milik Masashi Kishimoto

Kuroko no Basuke milik Tadatoshi Fujimaki.

Abal/Typo/Ooc

Dont like dont read

RnR

.

.

Hinata sedang mencabuti rumput liar di sekeliling taman kecilnya ketika tiba-tiba suara familiar memanggilnya. Ia terlonjak dan mendapati Akashi sedang menatapnya dari ambang pintu."Selamat sore Akashi-kun."sapa Hinata .Akashi mengangguk dan duduk di teras."Dimana kakakmu?"tanya nya.

Hinata berpikir sejenak"Kurasa sedang menemui tetua Hyuuga."

"Baguslah,kalau begitu boleh kutemani?"tanyanya lagi."Tentu saja,dan jika Akashi-kun tak keberatan,boleh aku melanjutkan mencabut rumput?"tanya Hinata balik.

"Tentu saja"kali ini Akashi menyisingkan lengan kimono nya"biar aku membantumu."

Hinata menggeleng panik"i..itu tidak perlu Akashi-kun."tapi sepertinya Akashi tidak peduli. Ia bangkit dan turut mencabuti rumput.

"Tidak baik seorang laki-laki berpangku tangan saat seorang perempuan sedang sibuk."jawab nya .Saat Hinata hendak membantah,Akashi menatapnya dalam."jangan membantah Hinata"lanjutnya dan membuat Hinata terdiam.

Begitu mereka selesai mencabuti rumput,Hinata bangkit dan mengurusi bunga matahari merahnya. Ia memetiki daun-daunnya yang telah layu."Apa lagi yang bisa ku bantu lagi?"tanya Akashi.

Hinata menoleh."Hanya tinggal menyiram bunga. Akashi-kun bisa istirahat sekarang." Lagi-lagi Akashi tidak peduli. Ia pergi ke sumur di ujung taman dan menimba air lalu memenuhi dua ember. Dengan membawa keduanya di setiap tangannya ,ia menghampiri tanaman-tanaman Hinata dan menyirami semuanya.

Hinata menatap Akashi lama"Terima kasih Akashi-kun"katanya sedikit gugup.

Akashi duduk di teras sambil mengusap peluh "Bukan masalah."jawabnya santai.

"Baiklah...tunggu di sini sebentar!Aku akan mengambilkan makanan"kata Hinata lalu berjalan cepat ke dalam

.

Hinata keluar beberapa saat kemudian sambil membawa piring berisi beberapa potong semangka .Piring itu diletakkannya di dekat Akashi."Terima kasih lagi telah membantuku"kata Hinata sopan.

"Sabagai bentuk terima kasihmu,temani aku menghabiskan semangka-semangka ini"jawab Akashi sambil menepuk tempat di sisi kirinya. Begitu gadis itu duduk, Akashi menyodorkan sepotong semangka pada nya.

"Terima kasih Akashi-kun"Hinata menerima sepotong Semangka tersebut dengan senyuman.

"Hinata!"panggil Akashi tiba-tiba."Apakah menurutmu kau tidak terlalu formal padaku?"

Hinata menatap Akashi bingung "Apa Akashi-kun terganggu?"

"Tentu saja."jawab Akashi cepat "Kau selalu berterima kasih untuk hal-hal kecil,selalu memanggilku dengan margaku,tidak pernah mengatakan 'kau'pada pembicaraan kita."Mata Akashi melembut "Padahal kita sudah sebulan berteman."

"Apakah aku harus memanggil Akashi-kun dengan nama kecil?"tanya Hinata gugup."Bukankah itu tidak sopan?"

"Jujur saja,panggilan mu itu malah membuat ku tidak nyaman."Jawab Akashi serius."Seakan-akan kau berusaha membuat jarak antara kita."

"Aku tidak membuat jarak antara kita,Aku hanya mengikuti tata krama saja" elak Hinata.

"Kau bisa memanggilku dengan nama kecilku, Seijurou."tanggap Akashi."Itu lebih membuatku nyaman."

"Seijurou-kun."Bisik Hinata pelan,mencoba membiasakan kata itu di lidahnya walaupun ia agak malu memanggil Akashi dengan nama kecilnya.

"Tidak perlu merona,itu bukan suatu hal yang besar."Kata Akashi sedikit geli.

Jujur saja,Melihat gadis bermata indah itu merona membuat Akashi tertarik .Belum pernah ia melihat gadis yang merona terus-terusan seperti Hinata.

Ketika Akashi memujinya sedikit,Ia akan merona dan gagap. Ketika mereka melakukan kontak fisik ringan,gadis itu akan merona sampai ke pangkal rambutnya,dan saat wajah mereka berdekatan,gadis itu langsung mendorongnya lalu berlari menjauh,padahal sebelumnya tidak ada gadis yang mendorongnya menjauh.

Menurut Akashi,Hinata sangat menarik.

.

Semangka di piring yang dibawa Hinata sudah habis,tapi Akashi dan Hinata belum beranjak.

"Aka..eh Seijurou-kun,apakah kau menyukai bunga-bungaku?" Tanya Hinata.

Akashi mengedarkan tatapannya di kebun milik gadis Hyuuga itu.

"Ya,aku menyukainya. kau menyukai warna merah?"tanya Akashi balik."Semua bunga di sini bewarna merah."

"Sebenarnya..."Hinata menunduk dalam "Aku menanamnya agar bisa ku berikan padamu."

Saat itu,sekuat apapun Akashi berusaha,Ia tak bisa menahan perasaan geli di tulang sumsum dan lambungnya .Ada sesuatu menggeliat-geliat di sana.

Akashi merasa sesak.

Melihat Akashi terpaku,Hinata buru-buru menambahkan gugup "Begini,aku tahu bunga baik untuk orang sakit,dan aku ingin memberikanmu beberapa kuntum dari kebunku sendiri..."

Lagi-lagi,rasa geli itu merayap di tulang-tulangnya.

"...tapi aku tidak tahu warna kesukaanmu. Jadi aku menyimpulkan saja kau suka warna merah,seperti rambut dan matamu."

Sesak dan manis.

"Apakah seijurou-kun ehm..."Hinata kesulitan mengucapkan kata yang menggantung di ujung lidahnya "...S..suka?"

Tentu saja Akashi suka.

"W...warna merah maksudku."Tambah Hinata lagi.

"Tentu saja aku suka."jawab Akashi."Aku suka warna merah."

Hinata menghembuskan nafas lega."Syukurlah."Gadis itu bangkit dan menuju ke pokok mawar merah dan memetik setangkai bunga yang paling besar.

"Kurasa bunga ini cocok dengan rambut dan matamu."kata Hinata lembut saat menyodorkan setangkai mawar kepada Akashi.

Akashi terpaku sebentar,kemudian segera menerimanya."Terima kasih Hinata."

"ehem..ehem"terdengar deheman dari ambang pintu. menoleh dan mendapati Hyuuga Neji tengah menatapnya dingin.

"Apa yang kau lakukan Hinata?Bukankah kau ada kelas medis dengan Tsunade-sama?"kata nya .Hinata tersentak kaget lalu menepuk dahinya.

"Ya ampun,aku lupa"Dia setengah berlari menuju rumah tapi kemudian dia menoleh."Sampai jumpa, Seijurou-kun. Besok biar ku temani berkeliling komplek Hyuuga ya."katanya sambil melambaikan tangan lalu kembali bergegas.

Neji kembali menatap Akashi dingin kemudian berlalu begitu saja. Pemuda berambut merah itu tak ambil pusing dengan kelakuan dingin si kepala keluarga Hyuuga.

Mata rubinya menatap lekat Mawar di genggaman tangannya.

'suka ya.'

Akashi tertawa pelan,ia rasa ia menyukai Hyuuga Hinata.

.

.

TBC

.

.

AN:Terima kasih buat semua yang ngeriview,itu sangat ngebantu karin untuk ngelanjutin fic ini. Sesuai saran ,karin udah sedikit manjangin chapter ini. Mudah-mudahan chapter depan bisa jauh lebih panjang.

Yang terakhir,selamat ulang tahun Akashi :)