The Rookies
Genre [drama, hurt/comfort, yaoi,family, friendship, romance]
Main cast :
Lee Taeyong SMRookies
Nakamoto Yuta SMRookies
Johnny Suh SMRookies
Jung Jaehyun SMRookies
Ji Hansol SMRookies
Ten SMRookies
And other character..
Rating : T
Length : Chaptered
Dislaimer : mereka milik orang tua mereka dan SMent, saya hanya pinjam nama.
Warning : cerita ini mengandung unsur boys x boys, don't like don't read, typo bertebaran. Mohon maaf. #deepbow
I'm Taeyong-Yuta Shipper
Terinspirasi dari para Rookies yang kemarin ikut SMTown di Taiwan, melihat Taeyong-Ten pasangan Tom&Jerry dan Yuta yang sepertinya tidak mengacuhkan Taeyong, mereka dengan dunianya masing-masing, juga saat Taeyong yang hanya perform satu lagu Open the door saja, dia tidak ikut starting line buat dance Supermoon yang digantikan Jaehyun dan saat dance T.O.P juga Warrior Descendant tidak ada tanda-tanda Taeyong ikut serta, mungkin Taeyong sedang cedera, tapi saya jug atidak tahu saya harap tidak.
Typo : Taeyong cedera pinggang ya, bukan punggung, saya salah menulis. maaf.
.
.
Happy Reading
Chapter 8
.
.
At Dorm
Yuta masih setia menunggu Taeyong di ruang tamu sambil memegang gelang pemberian Taeyong. sesekali airmatanya mengalir tapi ia tak menangis seperti sebelumnya. Taeyong tak bisa dihubungi jadi ia hanya menunggu bisa menunggu kepulangan Taeyong.
"Maafkan aku, kalau saja aku mau bertanya padamu mungkin semua ini tidak akan terjadi." sesal Yuta.
"Hyung, tidurlah, ini sudah hampir pagi." Saran Ten yang masih setia menunggui menggeleng. "Nanti kalau Taeyong hyung pulang, aku bangunkan."
"AKu tidak mau, aku ingin menunggunya. Kau tidur saja."
"Tapi besok kita masih ada latihan hyung."
"Tidak apa-apa, tidurlah, aku akan menunggu Taeyong pulang." Ten hanya bisa menghela nafas,
"Baiklah hyung, kalau begitu aku istirahat dulu." Akhirnya Ten memutuskan untuk tidur dan meninggalkan Yuta yang menunggu Taeyong di ruang tamu.
.
.
.
Morning at Karin's Apartement
Taeyong membuka matanya perlahan, meskipun agak berat tapi ia mencobanya. Ia melihat sekelilingnya dan ia merasa kalau itu bukan di dorm, tapi di kamar Karin setelah melihat foto Karin dengan Yoo Kang. Ia pun mencoba bangun, meskipun kepalanya masih agak nyeri namun ia berhasil berdiri dan berjalan keluar. Di luar ia melihat Karin sedang sarapan dengan Yoo Kang.
"Taeyong, kau sudah bangun?" sapa Yoo Kang yang melihatnya lebih dulu. Karin berbalik dan melihat Taeyong berjalan ke arahnya.
"Hei, kau baik-baik saja? apa masih pusing?" Taeyong hanya menggeleng. "Kemari, duduklah. Aku sudah membuat bubur untukmu." Taeyong tersenyum dan menghampiri pasangan itu. Karin pun menyodorkan bubur yang dia buat untuk Taeyong.
"Terima kasih."
"Untuk apa? Sebagai sahabat, aku tidak mungkin membiarkanmu pingsan disana, benar kan sayang?"
"Ne, semalam kau demam tinggi, jadi aku harus memangill dokter. Obatmu, jangan lupa diminum ya." Yoo Kang mengingatkan.
"Ne, terima kasih hyung."
"Kalau kau mau pulang biar kami antar nanti."
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri. Oh iya Karin, apa kau menemukan gelangku? Aku tidak melihatnya."
"Iya." Jawab Karin singkat.
"Lalu dimana sekarang?"
"Aku berikan pada yang seharusnya menerimanya."
"Apa maksudmu?"
"Yuta, aku memberikan gelang itu pada Yuta."
"Kau kemarin pergi ke dorm?"Karin mengangguk. "Lalu? apa yang kau lakukan?" Tanya Taeyong sedikit khawatir.
"Tidak ada, hanya memberikan gelang itu dan pulang?"
"Kau tidak memarahi Yuta kan? Kau tidak melakukan apa-apa padanya kan?"
Karin menghela nafas."Sebaiknya kau bicara sendiri dengannya, aku tidak mau ikut campur. Kka! Makan buburmu setelah itu minum obat. Kau tidak bisa berlama-lama disini karena aku ingin berduaan dengan suamiku." Usir Karin tapi dengan nada bercanda.
"Ne, aku akan bicara dengannya nanti. Aku juga tidak ingin berlama-lama disini, nanti aku malah jadi obat nyamuk untuk kalian." canda Taeyong di tengah sakitnya. Yoo Kang hanya tersenyum.
"Nah itu tahu." akhirnya Taeyong pun ikut mereka sarapan dan ia harus segera pulang karena hari ini ada latihan.
.
.
At Dorm
Hansol membantu Doyoung untuk menyiapkan sarapan, begitu juga dengan Ten dan Jaehyun. Sedangkan Johnny, ia mencoba menenangkan Yuta yang masih terlihat sedih, Yuta juga tidak tidur semalaman.
"Ayo kita sarapan, mereka sudah menyiapkan sarapan untuk kita." Ajak Johnny. Yuta hanya tersenyum kemudian menggeleng, "Tidak hyung, aku mau menunggu Taeyong pulang."
"Kalau kau tidak makan, kau akan sakit. Bagaimana kau bisa menunggu Taeyong kalau kau sakit. Ayolah, kau harus makan."
"Tapi hyung…"
"Tidak ada tapi-tapi'an, besok kita ada acara dan aku tidak mau kau sakit karena kau tidak makan karena menunggu Taeyong, aku yakin dia akan pulang. Hari ini jadwalnya latihan koreo dengan Super Junior sunbaenim." Johnny pun menyeret Yuta yang enggan sarapan ke meja makan dimana para Rookies sudah berkumpul.
"Hyung, kau harus makan ini. Sup ini enak sekali. Doyoung hyung yang buat sup ini." Ten menawarkan sup buatan Doyoung pada Yuta,Yuta hanya tersenyum sebentar kemudian ia kembali murung.
"Nanti Taeyong pasti akan pulang, kau tenang saja. lebih baik kau makan dulu." Timpal Hansol, "Chagiya tolong ambilkan Yuta sarapannya, sepertinya dia sedang enggan menggerakkan tangannya." Hansol meminta tolong pada Doyoung.
"Ne.." jawab Doyoung pada Hansol kemudian beralih ke Yuta, "Hyung kau mau apa?"
"Terserah kau saja."
"Baiklah." Doyoung mengambil nasi dan sup untuk diberikan pada Yuta. "Sup ini baik untuk staminamu, makanlah, hari ini latihannya berat hyung." Yuta hanya mengangguk, dengan enggan ia pun memakan sarapannya.
Saat mereka sedang menikmati sarapannya, tiba-tiba CKLEK! "Aku pulang!" sapa Taeyong saat masuk dorm. Yuta yang semula sedang memainkan sarapannya tiba-tiba langsung menoleh kearah pintu dan melihat Taeyong masuk.
Taeyong memakai celana training, jaket,topi dan masker dengan membawa paper bag, yang berisi pakaiannya tadi malam.
"Taeyong/Tae hyung/Hyung!" panggil Yuta, Ten dan Jaehyun bersamaan namun yang lebih antusias adalah Yuta, ia bangkit dan menghampiri Taeyong yang masih berkutat untuk melepas sepatunya.
"Taeyong!" panggil Yuta. Taeyong mendongak, ia melihat Yuta tersenyum kearahnya walaupun matanya terlihat bengkak dan ada lingkaran hitam disana."Hai." Balas Taeyong singkat sambil tersenyum tipis kemudian melanjutkan kegiatannya.
"Kau darimana? Kenapa baru pulang? Apa yang kau bawa?" tanya Yuta antusias, dia tahu dia salah tapi dia mencoba mencairkan suasana canggung dirinya dan Taeyong.
"Aku menginap dirumah teman."Jawabnya, kemudian ia pun masuk dan Yuta mengikutinya dari belakang."Kau baik-baik saja? kenapa kau pucat? Kau bawa obat juga?" tanya Yuta bertubi-tubi.
"AKu baik-baik saja." jawabnya singkat.
"Hyung kau baik-baik saja?" tanya Ten saat melihat Taeyong menghampiri mereka di meja makan dengan Yuta yang berada di belakangnya.
"Maaf aku tidak memberi kabar. Aku ada urusan dirumah temanku. Maaf. Aku baik-baik saja Ten." Taeyong meminta maaf pada semua dan mereka hanya tersenyum. Meskipun mereka tahu kejadian sebenarnya tapi mereka enggan membicarakanya karena itu urusan pribadi Taeyong.
"Kau sudah sarapan?" tanya Yuta lagi. "Doyoug memasak sup yang sangat enak. Be-benarkan Youngie?"
"Ne hyung, aku masak sup kesukaannmu." Tambah Doyoung.
"Aku sudah makan. Maaf ya, kalian lanjutkan saja. aku ingin bersiap-siap, hari ini kita latihan dengan Super Junior sunbaenim kan? Aku Permisi ke kamar dulu." Taeyong meninggalkan mereka semua yang sedang sarapan termasuk Yuta. "T-Taeyong.." saat dia akan menyusul Taeyong tiba-tba tangannya ditahan oleh Johnny.
"Hyung, aku ingin menyusul Taeyong."
"Biarkan dia sendiri, nanti kalau dia sudah tenang, kau bisa bicara dengannya, sekarang lebih baik kau lanjutkan sarapanmu. Ayolah, kalau kau sakit, aku sebagai leader merasa tidak becus menjagamu, menjaga kalian. Kumohon makanlah, aku tidak mau kau juga sakit.." Saran Johnny. Yuta hanya bisa menghela nafas kemudian dia menuruti kata-kata Johnny untuk melanjutkan sarapannya.
Dari balik tembok, Taeyong melihat semuanya dan dia hanya bisa terdiam, entah apa yang dia pikirkan.
.
.
.
At Choreography Room
Para Rookies berlatih bersama sunbaenim mereka, yaitu Super Junior. Mereka berlatih koreo , Opera dan berlatih dance Opera, Taeyong kelihatan sangat pucat, keringat dingin mengucur keluar dari dahinya. Ketika lagu berakhir Taeyong langsung terjatuh namun tidak pingsan, hanya saja nafasnya terlihat terengah-engah.
"Hyung,kau baik-baik saja? wajahmu pucat hyung." Tanya Ten khawatir karena dia berada di dekat Taeyong.
"Aku baik-baik saja Ten." Jawabnya bohong.
"Baik darimana? Lihat dirimu, kau berkeringat banyak sekali, wajahmu pucat, nafasmu terengah-engah begitu. Istirahat di dorm saja hyung, aku antar pulang."
"Tidak usah, aku baik-baik saja Ten, kau tidak usah khawatir."
"Satu lagu lagi dan kau akan pingsan hyung. Kau harus istirahat. Aku tidak mau kau pingsan. Nanti urusannya semakin panjang." Ten pun berdiri dan menghampiri Donghae.
"Ten aku..-" belum sempat dia bicara Ten sudah meminta izin pada Donghae untuk mengantar Taeyong pulang dan Donghae pun mengizinkan. Ten kembali ke tempat Taeyong dan membantunya berdiri.
"Ayo pulang, aku hanya mengantarmu hyung, nanti aku kembali lagi."
"Ten…" Taeyong mencoba memprotes tapi suaranya lemah, kepalanya berdenyut sakit.
"Sudah jangan protes, ayo berdiri. Kita pulang dan kau harus istirahat." Ten menyeret Taeyong.
"Kalian mau kemana?" tanya Hansol.
"Aku pulang dulu hyung, aku mau mengantar Taeyong hyung, dia sakit." Jawab Ten sambil memegang lengan Taeyong agar tidak jatuh.
"Sampai dorm, istirahat dan minum obatmu Taeyong." saran Hansol.
"Ne hyung." Kemudian mereka keluar dari ruang latihan.
Di tengah perjalanan menuju pintu keluar, mereka bertemu dengan Yuta dan Johnny yang baru saja keluar dari ruang music."Ten-Taeyong…" panggil Yuta, kemudian ia berlari menghampiri mereka berdua dan meninggalkan Johnny. "Ada apa? Apa yang terjadi dengan Taeyong?" tanya Yuta panic.
"Tae hyung sakit, aku akan mengantarnya pulang setelah itu kembali lagi."
"Biar aku saja yang mengantar Taeyong pulang, kau kembalilah."
"Ah…ka-kalau Taeyong hyung tidak keberatan."
"Biar Ten saja, kau harus segera ke ruang koreo, mereka semua menunggumu dan Johnny hyung." Tolak Taeyong secara halus.
"Taeyong…" desah Yuta kecewa.
"Ada apa ini?" tanya Johnny ikut menghampiri mereka. "Apa yang terjadi dengan Taeyong, Ten?"
"Tae hyung sakit, aku harus segera mengantarnya pulang agar dia bisa istirahat."
"Ya sudah cepat bawa Taeyong pulang, kenapa masih disini?"
"Biar aku saja yang antar. Hyung tolong mintakan izin pada Super Junior sunbaenim kalau aku tidak bisa latihan."
"Tapi Yuta…" Johnny mencoba mencegah tapi Yuta keburu merebut Taeyong dari Ten."Eh.." Ten tak bisa berbuat apa-apa, "Maaf hyung tapi Taeyong harus segera istirahat." Taeyong tak bisa melawan lagi sepertinya, dia terlalu lemah untuk membantah, kepalanya semakin berdenyut.
"Baiklah…" ucap Johnny, "Tolong jaga Taeyong. aku akan menelpon Noona untuk menyiapkan mobil mengantar kalian pulang, tunggu lah di basement."
"Ne hyung, terima kasih." Yuta pun memapah Taeyong menuju basement.
.
"Mungkin itu cara Yuta hyung meminta maaf pada Taeyong hyung setelah kejadian semalam." Ucap Ten saat melihat Yuta sudah jauh darinya.
"Ya mungkin saja."
"Kau baik-baik saja hyung?"
"Maksudmu apa? Aku baik-baik saja."
"Kau kelihatan tidak baik menurutku. Badanmu memang baik tapi hatimu sakit. Memang sakit melihat orang yang kita sayang memilih orang lain daripada kita, tapi lebih sakit lagi kalau melihatnya menangis." Ujar Ten kemudian berbalik. "Kau tidak ikut hyung, mereka sudah menunggu." Ajak Ten. Johnny hanya menghela nafas kemudian mengikuti Ten tanpa berkata apapun.
.
.
At Dorm
Yuta membawa Taeyong ke kamarnya. Ia merebahkan Taeyong ke bed dan mengganti bajunya dan meminumkan obat sebelum menyelimutinya. Taeyong menggigil dan mulai tak sadarkan diri. Kemudian Yuta mengambil kompresan untuk mengompres Taeyong.
"Maafkan aku, kalau aku mendengarkanmu, semua tidak akan terjadi." sesal Yuta sambil mengelap keringat Taeyong yang terus keluar dari tubuh Taeyong.
Beberapa saat kemudian Taeyong tidak menggigil lagi, Yuta bersyukur karena keadaan Taeyong mulai membaik. Ia meninggalkan Taeyong sebentar untuk memasak bubur dan kembali ke kamar Taeyong 15 menit kemudian.
"Cepat sembuh Yong~ie, aku ingin minta maaf padamu." Ucap Yuta sambil mengusap kepala Taeyong.
Sambil menunggu Taeyong, ia mengambl ponsel Taeyong dan membaca beberapa pesan milik Taeyong.
-Karin 16.30-kst
'Taeyong apa kau tahu? Yoo kang akan pulang kemari dan menjemputku.'
-Taeyong 16.32-kst
'Kapan?'
-Karin 16.35-kst
'Mungkin beberapa hari lagi. Aku akan mengenalkannya padamu.'
-Taeyong 16.40-kst
'AKu tunggu, Kang hyung pasti tampan sekali.'
-Karin 16.45-kst
'Tentu saja dia tampan, suami siapa dulu.'
-Taeyong 16.55-kst
'Narsis-mu kambuh lagi.'
-Karin 17.00-kst
' :-p'
'Semua sudah siap. Kau sudah mengundang Yuta?'
-Taeyong 17.05-kst
'Sudah, jangan khawatir. Jam-7 tepat aku akan berada disana.'
'Aku akan bersiap-siap dulu.'
-Karin 17.15-kst
'Fighting! .'
-Taeyong 18.30-kst
'AKu dalam perjalanan ke hotel. Nanti aku harus bagaimana?'
-Karin 18.50-kst
'Kalau kau sudah sampai hotel, bilang saja pada resepsionis-nya, reservasi atas nama nona Park Hye Sung, nanti dia sudah tahu.'
-Taeyong 18.52-kst
Okayy..
-Taeyong 19.05-kst
Kau menyiapkan semua ini? Ini terlalu berlebihan Karin.
-Karin 19.07-kst
Sudahlah, anggap saja itu hadiah dariku karena kau telah membantuku selama di Korea.
'Semangat!'
-Taeyong 19.10-kst
Terima kasih Karin..'
-Karin 19.30kst
'Apa Yuta sudah datang?'
-Taeyong 19.32-kst
'Belum, mungkin dia ada latihan tambahan. Aku akan tunggu sampai dia datang.'
-Karin 20.00-kst
'Sudah datang?'
-Taeyong 20.05-kst
'Masih belum.'
-Karin 20.10-kst
'Kau tidak menghubunginya? Coba telepon dia.'
-Taeyong 20.12-kst
'Sudahlah tidak usah. Ini kan surprise untuknya. Aku tidak mau terburu-buru. Aku akan menunggunya.'
-Karin 20.45-kst
'Belum datang juga?'
-Taeyong 20.46-kst
'Belum..'
-Karin 21.30-kst
'Masih belum datang?'
-Taeyong 21.32-kst
'Nope. Tidak apa-apa. Aku akan menunggu-nya. Tenang saja.'
-Karin 22.05-kst
'Masih belum datang kan? Apa aku harus menghubunginya dan menanyakan dimana dia dan kenapa sampai sekarang belum datang?'
-Taeyong 22.08-kst
'Jangan, tidak usah. Kau tahu kan trainee bisa latihan sampai tengah malam.'
-Karin 23.00-kst
'Taeyong ini sudah jam 11, jangan bilang dia belum datang?'
-Karin 23.02-kst
'Taeyong, balas!'
'Taeyong!'
'Taeyong-ie!'
-Taeyong 23.30-kst
'Dia terlambat, tak apa-apa. aku yakin dia pasti datang'
-Karin 23.35-kst
'Taeyong hujan..!'
.
Setelah itu tidak ada pesan lagi. Yuta menangis membaca sms dari Karin dan Taeyong. kalau dari awal dia bertanya tentang siapa Karin mungkin saat ini dia sudah kembali dengan Taeyong.
.
Beberapa jam kemudian, Taeyong tersadar. Ia membuka matanya perlahan karena kepalanya masih sedikit sakit tapi tidak sesakit tadi, ia merasa ada sesuatu menimpa perutnya dan kemudian ia melihatnya, ternyata itu adalah tangan Yuta. Yuta tertidur di samping ranjang Taeyong. "Y-Yuta.." panggil Taeyong lemah. Yuta yang merasa terusik segera bangun dan ia melihat Taeyong memanggilnya.
"K-kau sudah bangun?" Tanya Yuta senang karena Taeyong sudah sadar.
"Mi-minum."
"Minum? Kau ingin minum?'' Taeyong hanya mengangguk. Yuta segera mengambil air minum yang sudah dia siapkan dan membantu Taeyong untuk minum. "Apa masih pusing? Apa kau lapar?" Taeyong hanya menggeleng. Yuta memeriksa suhu tubuh Taeyong, "Panasmu sudah turun, kau harus minum obat lagi agar cepat sembuh."
"Ne, terima kasih."
"Aku ambilkan obatmu dulu setelah itu kau minum ya? Aku..-" / "Yuta, kau seharusnya kembali untuk latihan." Potong Taeyong
"Bagaimana aku bisa latihan kalau kau sakit?"
"Noona Kim akan merawatku."
"Aku tidak akan pergi, aku akan disini menemanimu sampai kau sembuh. Kau sakit karena aku. Kalau bukan karena menungguku, mungkin kau masih latihan bersama Super Junior sunbaenim."
"Aku baik-baik saja. terima kasih kau sudah menjagaku. sekarang kau bisa kembali ke SM dan latihan bersama mereka."
"Aku tidak mau." Tolak Yuta mentah-mentah. "Apa kau ingin menjauhiku sekarang?Apa kau membenciku? Apa kau…" Yuta menghentikan kata-katanya. Ia teringat bahwa saat ini dia yang bersalah kenapa dia yang memarahi Taeyong, hal itu akan membuat Taeyong semakin menjauhinya. "M-maafkan aku. Aku tidak bermaksud berkata seperti itu. A-aku akan keluar. Kalau butuh apa-apa panggil aku saja. tapi sebelum aku pergi tolong minum obat dulu. Aku akan membantumu." Taeyong mengangguk. Yuta mengambil obat di meja dan membantu Taeyong meminum obatnya.
"Terima kasih. Tolong biarkan aku sendiri" Ucap Taeyong lemah.
"Ne…" kemudian ia merebahkan kembali Taeyong ke bed. "Istirahatlah." Taeyong hanya tersenyum, "Aku akan keluar…" ucap Yuta kemudian berdiri dan berbalik.
"Yuta.."panggil Taeyong. Yuta pun berbalik. "Ne?"
"Lepaskan gelang itu."
"Mwo?" tanya Yuta tak percaya.
"Tidak ada alasan lagi kau menggunakan gelang itu."
"Tapi.."
"Hubungan kita benar-benar berakhir sekarang." kemudian dia memejamkan matanya kembali karena kepalanya masih sakit.
"Taeyong…" panggil Yuta namun tidak ditanggapi Taeyong, akhirnya Yuta menyerah dan ia pun keluar dengan hati yang sedih.
Yuta menghela nafas panjang setelah ia keluar dari kamar Taeyong, hatinya sakit dan ia tidak boleh marah pada Taeyong karena Taeyong mengusirnya, itu adalah kesalahannya dan ia ingin menebusnya, bagaimana-pun caranya.
Yuta melihat jam dinding dan beberapa jam lagi teman-temannya akan pulang jadi dia memutuskan untuk menyiapkan makan malam.
.
.
At Night
Para Rookies sudah pulang dari latihan. Makan malam pun sudah siap karena Yuta telah menyiapkannya sebelum mereka membersihkan dirinya, Ten bergegas ke kamar Taeyong, ia ingin melihat hyung kesayangannya tersebut."Hyung.." panggil Ten saat ia membuka pintu dan melihat Taeyong sedang minum.
"Ten, kau sudah pulang?" sapa Taeyong
"Dari tadi, apa kau tidak dengar?" tanya Ten menghampiri Taeyong.
"Aku baru bangun." Jawabnya kemudian menyandarkan dirinya di headboard-bed-nya.
"Bagaimana keadaanmu? Apa masih pusing?" tanya Ten yang duduk di sebelah Taeyong.
"Sudah lebih baik. Meskipun masih agak pusing." Ten memeriksa suhu badan Taeyong.
"Demam-mu sudah turun hyung. Kalau kau tidak pulang tadi, mungkin sekarang kau sudah ada di rumah sakit."
"Terima kasih sudah memaksaku pulang."
"Kau lapar? Mau ikut makan malam diluar atau aku bawakan ke kamarmu?"
"Aku makan diluar saja, tapi bantu aku kesana."
"Kalau masih sakit, makan di sini saja hyung, aku ambilkan makan malamnya."
"Tidak apa-apa Ten, aku makan diluar saja. aku tidak mau merepotkan kalian."
"Baiklah." Ten menyibak selimut Taeyong dan membantu Taeyong berdiri kemudian mereka berjalan ke ruang makan.
.
Rookies yang lain sudah mulai makan malam, Doyoung masih berkutat dengankesibukannya yaitu menyiapkan beberapa lauk yang masih tertinggal di dapur.
Yuta melihat ada noda saus di bibir Johnny, kemudian ia mengambil tissue dan membersihkannya, saat sedang mengusap bibir Johnny tiba-tiba Doyoung menyapa Taeyong yang berjalan kearahnya bersama Ten.
"Hyung kau makan disini? apa kau sudah sembuh?" tanya Doyoung, Yuta pun menghentikan kegiatannya bersamaan dengan tangan Johnny yang memegang tangan Yuta untuk mengambil tissue yang Yuta gunakan. Yuta melihat Taeyong dengan tatapan sulit diartikan, ia takut Taeyong akan salah paham begitu juga dengan Johnny, namun dengan cepat Yuta melepaskan dirinya dari Johnny namun Taeyong hanya tersenyum.
"Taeyong hyung memaksaku untuk membawanya kemari, katanya dia ingin ikut makan malam bersama kita." Jawab Ten.
"Baiklah kalau begitu, duduklah, aku akan ambil piring lagi." Ucap Doyoung.
"Terima kasih hyung." Balas Ten, "Ayo duduk hyung." Ajak hanya tersenyum kemudian mereka duduk berhadapan dengan Yuta dan Johnny.
"Apa kepalamu masih pusing Tae?" tanya Johnny.
"Sedikit hyung, istirahat sekali lagi pasti dah sembuh. Aku mau berTerima kasih pada Yuta yang sudah menjagaku tadi."
"N-ne.. i-itu sudah kewajibanku.." jawab Yuta gugup.
Ten menyiapkan makanan untuk Taeyong. "Terima kasih Ten."
"Oh iya hyung tadi Super Junior Sunbaenim titip salam untukmu, semoga cepat sembuh." Ujar Jaehyun.
"Mereka baik sekali, sayang aku tidak bisa latihan dengan mereka tadi."
"Lain kali juga bisa. Yang penting kau sembuh dulu." Tambah Hansol.
"Ne.." jawabnya lemah. CKLEK! Pintu terbuka, mereka menoleh kearah pintu dan melihat seorang yang datang, ternyata orang itu adalah hyung tertua mereka, Taeil.
"HAi semua. Sedang makan malam rupanya." Sapa Taeil menghampiri mereka.
"Hyung masih ingat dorm setelah beberapa bulan menghilang." Sindir Jaehyun.
"Ada urusan Jae. Tapi aku terus mengawasi kalian.."Balas Taeil,"Kudengar Taeyong sakit, benarkah itu?" Taeil melihat dongsaeng yang namanya hampir sama dengannya. "Kau pucat, sakit apa? Demam?" tanyanya sambil memegang dahi Taeyong.
"Hyung…" ucap Taeyong lemah.
"Iya kau apa yang kau lakukan? Hujan-hujanan?" DEG! Hati Yuta berdetak kencang. Yang lain hanya terdiam, mereka tidak akan membahasnya kecuali Taeyong sendiri yang bilang, Taeil jelas tidak tahu karena dia pergi beberapa bulan ini.
"Aku baik-baik saja hyung."
"Memangnya kau kemana sampai hujan-hujanan begitu? Apa tidak bisa berteduh?"
"Hyung, kau itu baru pulang tapi sudah menginterograsi Taeyong hyung seperti itu. Duduk dulu dan makanlah bersama kami. Biar ku ambilkan piring." Sela Doyoung.
"Tidak usah, aku sudah makan. Aku mau mandi dulu." Ucapnya sambil mencomot roti panggang di meja, "Dan nanti, kau- Taeyong jelaskan padaku apa yang terjadi." lanjutnya kemudian meninggalkan meja makan.
"Apa Taeil hyung sedang kerasukan tiba-tiba mendadak perhatian pada kita?" tanya Jaehyun.
"Memang Taeil hyung pergi kemana beberapa bulan ini? Kita hanya bertemu beberapa kali di Agensi. " tanya Ten.
"Molla.." jawab Hansol sambil menggeleng. KLING! Sendok Taeyong terjatuh, mereka langsung memusatkan perhatiannya pada Taeyong.
"Hyung kau kenapa?" tanya Ten yang kebetulan berada di dekat Taeyong. Ten melihat Tangan Taeyong bergetar. "Kau masih sakit hyung, sini aku suapi." Ten mengambil sendok yang baru mengambil alih piring Taeyong.
Yuta hanya bisa melihat dengan sedih, harusnya dia yang menyuapi Taeyong. Johnny hanya bisa menghela nafas pelan. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Apa dia bahagia bahwa Yuta tidak akan kembali dengan Taeyong dan itu berarti ada kesempatan untuknya bersama Yuta atau sebaliknya dia sedih karena sekarang Yuta menangis karena kehilangan cintanya?
.
.
At Johnny-Taeyong Room
Setelah makan malam, mereka pun memutuskan untuk istirahat. Johnny membantu Taeyong kembali ke kamar karena mereka memang room-mate. Johnny juga membantu Taeyong untuk minum obat.
"Terima kasih hyung." ucap Taeyong.
"Kau harus cepat sembuh dan aku akan mengajakmu makan Spagetti di restaurant favorit kita."
"Tentu saja hyung."
"Kka! tidurlah, aku ingin menyelesaikan sesuatu dulu." Ujar Johnny, saat dia akan berdiri tiba-tiba Taeyong memegang tangannya. "Hyung.." panggil Taeyong.
"Ada apa? kau butuh sesuatu?"
"Bahagiakan dia hyung."
"Apa maksudmu?" tanya Johnny bingung.
"Yuta, buat dia tersenyum lagi. Hanya kau yang bisa melakukan itu." pinta Taeyong.
"Taeyong.." Johnny terkejut mendengar kata-kata Taeyong.
"AKu tidak mau kehilangan sahabat sebaik dirimu hyung, kau sudah kuanggap hyung-ku sendiri disini, aku tidak mau karena masalah seperti ini, aku kehilangan saudara sebaik dirimu hyung. Aku tidak mau hyung, aku minta maaf."
"Tapi Yong-ie.."
"AKu tahu kau menyukainya lebh dulu, andai saja aku tahu, aku akan mendukungmu sejak awal dan membantumu mendapatkan dia. Maafkan aku. aku tidak mau kau menjauhiku hyung. aku tidak mau."
"Taeyong kau sedang sakit, jangan bahas masalah ini sekarang. Yang paling penting sekarang kau sembuh dulu."
"Hubungan kami benar-benar sudah berakhir hyung. Tidak ada jalan lagi untuk kami bersama. kami memang tidak bisa bersama tapi kau bisa hyung. Kumohon hyung. hanya kau yang bisa membahagiakan dia." Ucap Taeyong sambil berurai airmata. Ia menangis, Johnny yang tak tega melihat dongsaeng yang sudah menjadi room-mate-nya menangis, ia pun memeluknya.
"Maafkan aku, aku gagal menjadi hyung untukmu, maafkan janji,aku tidak akan pergi, aku akan menjagamu menyayangimu, kau adik yang paling aku sayang. maafkan aku karena telah menyakitimu." Taeyong menggeleng, ia mengeratkan pelukannya pada Johnny. Johnny pun juga meneteskan airmata, ia merasa gagal menjadi hyung untuk Taeyong. "Aku tidak akan pergi, aku tidak akan meninggalkanmu." ucap Johnny berjanji pada Taeyong
.
Setelah Taeyong tertidur, Johnny memutuskan untuk keluar. Ia ingin mengambil air minum. CKLEK! Saat ia keluar, Johnny sedikit terkejut karena seseorang sudah menunggunya dengan tangan terlipat di depan dada.
"Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi disini? apa yang terjadi dengan kalian bertiga, kau, Taeyong dan Yuta?" tanya Taeil tanpa basa-basi. Johnny menghembuskan nafas panjang dan mengangguk.
"Baiklah, akan aku jelaskan tapi jangan disini." Taeil mengangguk dan mereka pun bersama pergi ke ruang makan, tempat yang agak jauh dari kamar para rookies.
.
.
TBC
HEI I'M BACK!
Maaf ceritanya semakin gaje, muter2, membingungkan dan semakin tidak masuk akal, ya namanya juga ff, jika berkenan silahkan baca kalau tidak silahkan di X. beberapa minggu ini blank ide, gak ada mood n apalah sulit dijelaskan. penyakit malasnya kumat saudara-saudara,maaf kalau sangat jelek. Author sudah berusaha sekeras mungkin. #deepbow. maaf typo bertebaran. terima kasih mau membaca ff-ku. tolong jangan bash saya. terima kasih
