Balasan review
: ok, nih dilanjut :v / semoga kamu terhibur :v /
Summary : sonic dan genos berubah jadi anak kecil, bagaimana cara saitama merawat mereka berdua?
Warning : OOC, typo, tidak sesuai EYD dan lain-lain.
...
Saitama tengah asik memotong sayuran hingga konsentrasinya terganggu karena mendengar bunyi kecipak-kecipuk air dari kamar mandi, rasanya kedua anak itu tengah bermain air (lebih tepatnya bertarung di kamar mandi). Ia lalu segera menyelesaikan masakannya untuk menyiapkan baju bagi kedua anak tersebut. Karena tak mungkin juga kan mereka memakai baju mereka yang tadi basah kuyup akibat terkena air hujan?
Ia lalu membuka lemari untuk mengambil baju, mengingat tubuh mereka yang kecil layaknya anak umur lima tahun. Saitama mencari baju-baju lamanya yang sudah kekecilan.
"sensei/saitama" kedua bahunya di tepuk secara bersamaan oleh dua tangan mungil yang berbeda tekturnya, yha, karena yang satunya cyborg bertangan besi (dalam artian sebenarnya). Saitama segera menoleh dan ia melihat sonic dan genos sudah selesai mandi dengan handuk yang melilit tubuh kecil dan basah mereka. Terkekeh sebentar genos lalu menyodorkan dua buah baju pada mereka.
"kenakan ini, mungkin ini agak kebesaran untuk kalian. namun inilah pakaian terkecil yang kupunya" kata saitama sambil mencoba membuka handuk keduanya. tetapi keduanya menghindar.
"sensei, a-aku tidak mau merepotkan sensei. Aku bisa mengenakan pakaianku sendiri" kata genos dengan menggengam erat lilitan di handuknya. Lihat, wajah lucunya kini memerah.
"jangan berbuat kurang ajar padaku dasar botak! Om-om pedo!" sonic mencak-mencak sambil menunjuk-nunjuk saitama, wajah marahnya tampak menggemaskan.
"hei hei, aku hanya ingin memakaikan baju pada kalian. Kalian kan masih kecil, memangnya bisa memakainya sendiri?" tanya saitama dengan heran.
"TENTU BISA SENSEI/BOTAK!" sahut keduanya dengan berteriak. Oh, ingatkan saitama bahwa hanya fisik mereka yang berubah jadi anak kecil. Tidak demikian dengan pola pikir mereka hingga keduanya tentu masih ingat bagaimana cara mengenakan baju.
"hehe, baiklah jika kalian sudah mandiri" Saitama hanya tersenyum kikuk lalu memilih kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
"sensei" panggil genos ketika saitama baru saja mematikan kompor, genos dan sonic kini melongok dari pintu dapur, menatapnya.
"nah, lihat . Akhirnya kalian meminta bantuan juga kan?" saitama mengejek.
"bukan begitu, kami hanya ingin meminta sabuk, atau semacamnya yang dapat mengikat celana kebesaran ini" sanggah sonic sambil menunjukkan celana yang ia pegang erat-erat agar tidak melorot. Saitama melihat penampilan keduanya dari atas kebawah, benar juga. Kaos yang mereka pakai nampak kebesaran hingga kerahnya miring dan menampilkan bahu kecil merek, bahkan kaos itu sampai menutupi lutut. Tak lupa celana pendek yang saat ini mereka gunakan justru dapat menutupi betis dan amat longgar saat mereka kenakan. Sekecil itukah tubuh mereka?
"sensei, apakah anda punya?" tanya genos mengingatkan saitama.
"kurasa ada, sebentar" kata saitama lalu melangkah pergi dari dapur di ikuti langkah-langkah kaki kecil genos dan sonic.
...
Hujan masih mengguyur, Kini mereka bertiga duduk menghadap meja makan. Akhirnya celana sonic dan genos yang kebesaran dapat dikenakan setelah mengikatkan tali rafia. Yha, harap maklum, saitama hanya punya dua buah sabuk, satu sabuk yang ia gunakan untuk jubah pahlawannya dan satunya lagi sabuk lamanya yang biasa namun entah karena terlalu tua atau lama tak di pakai kini kondisinya rusak. dan, tak ada rotan akarpun jadi. Tak ada sabuk rafiapun ikut andil.
"ittadakimassu" seru ketiganya lalu memulai makan malam.
"sonic, bagaimana masakanku?" tanya saitama sambil mengunyah nasi.
"tidak buruk, masih bisa dimakan" sonic menjawabnya sambil menyumpit sayuran.
"dasar tidak tahu di untung, memangnya selama ini kau makan apa?" tanya genos.
"aku hanya makan apa yang ingin kumakan, aku tinggal membelinya" sahut sonic.
"jadi ini untuk yang pertama kalinya setelah sekian lama kau makan masakan rumah yha?" tanya genos menghentikan kunyahannya. Sonic mengangguk mengiyakan, genos memandang senseinya. Suasana pun kembali tenang.
Setelah makan, saitama membereskan wadah-wadah kotor. Tiba-tiba genos menarik tangan sonic, sonic ingin menghindar dengan kecepatan suara, akan tetapi karena fisiknya yang berubah ia hanya bisa berlari kecil hingga dapat di tangkap oleh genos.
"sensei, biarkan kami saja yang membereskannya" kata genos sambil menyeret sonic yang sedang cemberut.
"kalian bisa ya?" tanya saitama.
"tentu saja bisa sensei! Fisik ini tidak menghalangiku untuk melakukan tugas harian" kata genos sambil mengepalkan kedua tangannya, semangat. Dan karena itu sonic bisa lari untuk kabur. Sadar, genos pun segera mengejar sonic.
"hei kau jangan kabur!" teriak genos sambil berlari dengan susah payah mengejar sonic.
"jelas saja aku kabur! Mana mau aku bersih-bersih!" sahut sonic masih berlari mengitari ruangan untuk menghindari kejaran genos.
"tapi kamu tadi kan juga sudah ikut makan. Paling tidak hitung-hitung rasa trimakasih gitu" kata genos mencoba membujuk.
"aku kan tamu di sini, ingatlah, tamu adalah raja!" sonic membantah, ught, bikin kesal saja. Dan kejar-kejaran ala anak kecil pun menjadi pemandangan yang saat ini saitama lihat. Ia memilih membiarkan mereka bermain dan melanjutkan beres-beresnya dan mencuci piring.
Sonic dan genos masih berkejar-kejaran sambil terus mengoceh antara yang satu dengan yang lain sembari mengelilingi ruangan. Ternyata dalam keadaan siap, sonic juga mampu lari dengan cukup cepat menggunakan kaki-kaki mungilnya. Dan tentu saja itu membuat genos kesulitan walau ia sudah mengerahkan seluruh tenaganya untuk menggerakkan badan besinya tersebut.
Hingga tibalah mereka di dapur, tanpa sengaja genos menubruk saitama yang tengah mencuci gelas, gelas pun terlempar, saitama dengan cepat menangkap gelas tersebut, namun karena tangannya licin terkena sabun, gelas itu pun kembali terlepas lalu meluncur ke lantai dan pecah. Sementara itu sonic yang tengah berlari terkejut mengetahui ada pecahan gelas di depannya, tapi sudah terlambat untuk berhenti. Kini sonic jatuh tersungkur dengan kaki yang berdarah akibat luka.
"sonic!" teriak saitama dan genos menghampiri. Karena pecahan gelas dan jatuhnya tadi, celananya sampai robek hingga pecahan gelas itu pun bisa melukai kulitnya. Darah segar keluar dari luka di lutut sonic. Saitama segera mengambil kotak P3K.
Sonic meringis kesakitan, luka seperti ini sudah biasa baginya. Tapi entah kenapa sekarang rasanya jauh lebih sakit dan perih. Saitama segera membersihkan lukanya, saat ingin memberi betadine alias obat merah, genos menghentikannya.
"sensei, itu sudah kadaluarsa" kata genos menegur. Saitama lalu melihat exp yang tertera di wadah obat tersebut. Benar saja, bahkan sudah lewat dua bulan dari tanggal kadaluarsa. Mungkin karena jarang terluka saking kuatnya dirinya, keberadaan obat seperti itu kurang ia perhatikan, hingga kini sudah kadaluarsa. Tak tega juga bila memberi obat yang tak layak, saitama segera bangkit.
"aku akan pergi membeli obat secepatnya, tolong jaga dia untuk sementara" kata saitama pada genos, Genos mengangguk. Saitama berlari dengan cepat meninggalkan angin kencang di belakangnya menuju apotek terdekat malam itu.
Apakah perjalan menuju apotek akan semulus kepala botaknya?
TBC
Uah... apalah apalah :"v apakah ini terlalu OOC?
Yha, semoga ketidak jelasan dari cerita ini bisa menghibur pembaca :v /
Salam kinclong :v /
