Balasan review
Takashi : kawaii memang :v /plak :v /
Minekami8v2 : ahaha.. pengennya sih juga gitu, XD tapi yha bener.. susah ngurus anak, apalagi anaknya kya gitu :v ini lanjutannya
Chronnia : ahaha.. kamu mah. Ok . kalo di jotos saitama gimana? :v / bayangi deh pas genos masih kecil :v kuat kau?
Trimakasih atas reviewnya :v /
Summary : sonic dan genos berubah jadi anak kecil, bagaimana cara saitama merawat mereka berdua?
Warning : OOC, typo, tidak sesuai EYD dan lain-lain.
Selamat membaca :v /
...
Saitama terus berlari menuju pusat kota z, ia segera mengerem kakinya saat melihat apotek di seberang jalan dan menuju tempat itu.
"obat merah!" kata saitama panik, dengan santainya sang pemilik mengambilkan sebotol obat merah pada saitama. Setelah menerimanya, saitama segera tancap gas dari tempat itu sebelum sebuah tangan mencengkram bahunya.
"bayar dulu!" bentak sang pemilik apotek. Saitama segera merogoh sakunya, namun alangkah terkejutnya ia saat mengetahui kantongnya tak berisi dompet atau uang sepeserpun. Mungkin karena terlalu tergesa-gesa saat pergi tadi saitama sampai lupa untuk membawanya.
"KRAKKK!" belum sempat saitama berbicara, pintu kaca apotek tersebut sudah jebol oleh lengan monster. Sang monster tampak sudah mengamuk membabi buta, bisa di lihat dari keadaan luar apotek yang sudah porak poranda dan tangan serta tubuh sang monster itu berlumuran darah entah itu milik siapa.
"aku tak akan berhenti sebelum seluruh manusia di bumi ini ma-UUUAAAARRRRGGG!" tanpa pikir panjang saitama segera memukul monster itu dalam sekali pukulan, tentu saja sang monster langsung tumbang dengan organ-organnya yang berceceran.
"bagaimana kalau dengan ini aku membayar obat merah itu?" tanya saitama, sang pemilik toko yang masih terkejut dan gemetaran itu hanya mengangguk dan mengucapkan trimakasih sambil menangis. Sadar, ia pun segera berlari untuk kembali ke rumah.
"aku pulang" kata saitama sambil membuka pintu secara perlahan untuk masuk. ia tidak mendapati sahutan apapun, ia makin khawatir. Namun saat ia melangkah perlahan masuk, ternyata sonic dan genos telah terlelap dengan posisi duduk dan sonic menyandarkan kepalanya pada bahu keras genos, dan genos menyandarkan kepalanya pada kepala sonic yang tertutup rambut hitamnya itu.
Melihat pemandangan itu membuat saitama lega dan entah kenapa hatinya terasa hangat. Ia lalu memeriksa luka sonic dengan hati-hati, ternyata sudh mulai mengering. Saitama mengoleskan obat merah dengan hati-hati pada lukanya, sonic nampak menggeliyat tak nyaman sambil meringis. Genos pun juga merasa terusik dengan sonic yang bergerak, walhasil keduanya pun terbangun secara hampir bersamaan.
"maaf.. aku tidak bermaksud membangunkan kalian" saitama kini merasa bersalah. Tetapi genos dan sonic hanya menguek mata mereka lalu mengangguk. Sonic melihat lukanya yang sudah di rawat saitama.
"sensei sudah pulang dari tadi?" tanya genos.
"baru saja kok. Hehe"
"jika kalian mengantuk cepat gosok gigi, aku akan menyiapkan tataminya" saitama memerintah sambil membimbing tubuh-tubuh mungil yang masih lunglai itu menuju wastafel, tak lupa karena tubuh mereka pendek ia pun menyiapkan sebuah kursi untuk berjaga-jaga bila mereka tidak bisa mencapainya.
Setelah itu ia mulai membersihkan tempat lalu menggelar dua buah tatami, satu untuknya dan satu lagi untuk dua anak itu.
...
Jam beker berbunyi nyaring, saitama pun membuka matanya untuk bangun. Namun ia merasakan tangan kanannya terasa berat ketika mematikan jam beker, saat dia menoleh, ia melihat genos menggelayuti tangannya sambil tidur. Tak hanya itu, kini pipinya di tendang oleh sonic yang tingkah polahnya saat tidur bagai kincir angin. Perasaan tadi malam mereka berdua tidur dengan tenang dalam sebuah tatami, lalu kenapa mereka bisa begini?
"hhh.. baiklah.. waktunya bangun!" kata saitama sambil menguncang-nguncang tubuh ke dua anak itu agar terbangun. Merekapun terbangun dan mengucek-ngucek matanya.
"selamat pagi sensei" sapa genos.
"selamat pagi genos, sonic bagaimana luka mu?" kini saitama nampak memeriksa lutut sonic yang kelihatannya sudah membaik.
"kurasa sudah mendingan" sahut sonic singkat, mereka pun mengawali pagi dengan membereskan tatami, sonic menurut saja. ia membantu sebisanya, kapok bila kejadian semalam terulang lagi. setelahnya mereka menjalani rutinitas pagi seperti biasa, dengan tambahan anggota yaitu sonic tentunya.
"ah, bisakah kalian memeriksa kiriman koran dan surat?" tanya saitama, genos segera berdiri tegak tanda siap, ah, jangan lupa kini sonic juga berdiri memandang malas.
"ok/baik sensei" sahut mereka berbarengan lalu melesat keluar untuk memeriksanya. Sementara saitama berbaring santai sambil menonton tv, kedua bocah kecil itu melangkah riang menuju kotak surat untuk mengambil koran dan berbagai surat serta kiriman yang di antar lewat parasut.
"heh.. apa-apaan dengan parasut ini?" tanya sonic heran.
"begitulah cara petugas pos mengantarkan kiriman ke wilayah ini. Begitu saja tidak tahu" ejek genos merasa menang, sonic cemberut di buatnya.
"heh, apa para penggemarmu itu sudah katarak sampai mereka menyukai cyborgh sepertimu huh?" ejek sonic sambil mengambil surat-surat yang di tujukan untuk genos seolah pembalasannya atas ejekan genos tadi.
"aku juga tidak tahu, tapi kurasa aku tidak seburuk itu, kau menantangku yha?" genos mulai mengambil ancang-ancang, sonic juga tak tinggal diam. Namun aksi mereka berhenti saat tanpa sengaja kedua kaki mereka menyentuh sebuah kotak dengan ukuran sedang. Di sana tertulis "hadiah untuk pengumpul kupon belanja terbanyak" mereka berdua girang sekaligus penasaran, segera saja keduanya membawa koran,surat dan kiriman itu ke dalam apartemen.
"Sensei/saitama!" kata keduanya semangat sambil mendobrak masuk, saitama yang sedang bersantai menonton siaran berita itupun terkejut. "anak-anak ternyata semangat sekali yha" batin saitama. Kedua anak itu segera menyodorkan kotak berukuran sedang itu pada saitama.
"sensei mendapat hadiah sebagai pengumpul kupon belanja terbanyak!" kata genos girang, ia nampak seperti anak kecil yang kegirangan menerima permen sekardus.
"benarkah?" saitama bertanya, ia terkejut sekaligus senang mendengar kabar gembira itu. benar kata orang, banyak anak banyak rezeki. Eh, tapi genos dan sonic kan bukan anaknya.
"iyha, cepat buka hadiahnya. aku penasaran apa isinya" kini sonic berujar cepat dan jelas tampak ia tak sabar. Melihat kelakuan dua anak itu, saitama pun beringsut dari posisinya dan duduknya. Ia segera mengambil kotak tersebut dan membukanya. Semuanya nampak berdebar-debar sambil menebak kira-kira apa hadiahnya.
"eh?" dan serentak mereka heran saat melihat di dalamnya berisi dua pasang baju ukuran kecil. Genos dan sonic pun mengambil satu-satu dan menelitinya. Genos memandang sebuah hoodie kecil dengan tudung berhias sepasang telinga anjing berwarna kuning dan celana berwarna hitam. Sedangkan sonic menatap heran pada kaos hitam kecil bergambar kepala kucing yang lucu dan celana warna unggu. Hadiah macam apa ini?
"wah.. kurasa hadiah ini lebih cocok untuk kalian" kata saitama entah lega entah kecewa, ternyata jelas-jelas rezeki itu milik sang anak. Sonic dan genos langsung menatap pakaian masing-masing.
"tapi aku tak pantas mengenakan ini sensei"
"aku juga tak sudi memakai ini"
"lalu apa kalian nyaman mengenakan baju kebesaran itu?" tanya saitama, genos dan sonic bungkam.
"lebih baik kalian segera mandi dan berganti pakaian dengan itu, manfaatkan saja apa yang ada" mereka berdua pun menurut.
...
"genos, sonic, ada obral besar-besaran hari ini di supermarket pusat kota. Kalian ikut aku ke sana tidak?" saitama kini sedang bergegas siap-siap untuk melenggang ke sana.
"tentu saja ikut sensei"
"kebetulan aku juga sedang bosan"
Kini mereka bertiga pun berjalan beriringan, setelah sekian lama berjalan. Saitama merasa kasihan pada sonic yang mulai kelelahan, apalagi kakinya masih sakit. Berinisiatif, saitamapun menggendong sonic di punggungnya setelah melakukan sedikit pemaksaan yang di dukung bantuan dari genos.
Sepanjang perjalanan mereka selalu menjadi pusat perhatian. Bahkan tak sedikit orang yang memberi komentar. Entah itu komentar miring atau tegak.
"aduh, anaknya lucu-lucu yha"
"yang pakai jaket kuning itu imut, ngegemesin"
"aih, yang di gendong itu mukanya manis banget"
"eh, anak nya yang satu cyborgh berambut pirang, satunya lagi manusia normal dan rambutnya hitam, ayahnya botak berwajah datar terus ibunya kayak apa coba?"
"apa bener yang botak itu papanya?"
"ah, gak ada mirip-miripnya"
"apa jangan-jangan kedua anak itu korban penculikan ya?"
"tapi kita tak bisa melaporkan pada polisi tanpa adanya bukti"
"ku harap kedua anak manis itu baik-baik saja"
Syukurlah mereka segera sampai di supermarket yang dituju sebelum berbagai komentar nyerempet tuduhan-tuduhan orang-orang sampai ke telinga mereka. Saitama dan coretanakcoretanaknyacoret langsung berburu barang-barang yang di jual murah tersebut.
Sebagai tanda trimakasih karena sudah mau menemani dan membantu berbelanja, saitama mentraktir mereka ice cream. Namun di perjalanan pulang keduanya masih merengek meminta di belikan crepe yang dijajakan di pinggir taman. Ini hanya perasaan saitama atau memang keduanya semakin mirip anak kecil baik fisik maupun mental yha?
...
Hola :v / bagaimana chap ini?
