Title : I Hate Gay!
Author : BunnyJungie
Cast : Vkook, Yoonmin, Namjin, Hopewoo and other.
Genre : Hurt, Brothership, friendship
Summary : Aku tahu ini tidak normal hyung- Jeon Jungkook … Aku sungguh sangat membencinya tapi mengapa hatiku tidak sejalan- Kim Taehyung
Bunny saranin di chap ini kalian bacanya sambil dengerin lagu BTS- hold mi tight. Biar ngefeel atau mungkin mewek kejer :D apalagi pas suara Jungkook muncul
Part 4
Author POV
Jungkook berjalan pelan menuju bangku kosong di taman sekitar tepian Sungai Han, ia hanya memandang sendu ke arah anak sungai dari kota Seoul itu. Ia menutup matanya seraya menghela napas kasar, mengacak asal rambut hitamnya begitu kasar dan prustasi.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya lirih. Jungkook benar-benar tidak mengerti apa yang harus ia katakana jika nanti kelima hyungnya bertanya tentang masalah ia dan Taehyung, belum ada satu hari saja mereka semua sudah bertanya ini itu apalagi jika berhari-hari atau bahkan seterusnya ia dan Taehyung masih bermasalah.
"Apa yang harus aku lakukan? Cepat atau lambat mereka pasti akan tahu masalah ini. Bagaimana jika mereka membenciku seperti 'dia'? " ujar Jungkook lagi dengan sedikit menekankan kata dia. Jungkook bangkit dari bangku taman dan mulai berjalan menyusuri sungai, angin malam yang berhembus kencang membuat rambut hitam dan seragam sekolah yang masih dipakainya terkibas kebelakang. Hari sudah menunjukkan pukul Sembilan malam Jungkook pun memutuskan untuk pulang ke apartemennya, saat ia baru saja melangkahkan kakinya keluar lift apartemen tiba-tiba ia melihat seseorang yang begitu ia rindukan sedang berdiri menyandar pada dinding sebelah pintu masuk apartemennya.
"Hyung?" ujar Jungkook pelan saking pelannya bahkan mungkin jika ada angin bisa saja angin itu membawa suara pelannya. Ia menunduk tidak berani menatap hazel cokelat Taehyung.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Ujar Taehyung dingin bahkan ia hanya menatap ke arah depan seakan-akan ia akan mati jika menatap atau sekedar melirik Jungkook sedikit saja. Jungkook menghela napas pelan lalu mendongkak menatap Taehyung yang menatap lurus ke arah depan.
"Baiklah." Balasnya. Jungkook berjalan di belakang Taehyung yang berjalan ke arah taman tempatnya terakhir kali bertemu Taehyung.
Keduanya hanya diam dalam keheningan, Jungkook hanya berdiri diam di samping depan Taehyung. Ia melirik ke arah Taehyung yang sedang duduk di sebuah ayunan tempat yang biasanya mereka jadikan untuk sekedar menghabiskan waktu malam, Jungkook bergerak begitu gelisah karena jujur saja ia sungguh benci suasana sunyi seperti ini.
"Mulai besok … Jungkook mengalihkan padangannya ke arah Taehyung yang juga menatapnya, ia menunggu Taehyung melanjutkan kalimatnya dengan perasaan gusar. … Tolong jangan muncul di hadapanku lagi." Lanjut Taehyung yang sukses membuat hati Jungkook begitu tertohok dan juga matanya terasa begitu panas.
"ahh yah satu lagi … jangan pernah beritahu masalah ini pada yang lainnya apalagi Suga hyung! Aku tidak ingin mereka menatap jijik padaku." ucap Taehyung lagi seraya bangkit dari ayunan lalu pergi begitu saja menghiraukan Jungkook yang mulai bergetar karena menahan tangis.
"Sebegitu bencinya kau padaku hyung? Tanya Jungkook pelan namun masih bisa terdengar oleh Taehyung hingga ia menghentikan langkahnya namun tetap membelakangi Jungkook.
"Ya, aku sangat membencimu. Bahkan rasanya aku benar-benar ingin kau menghilang dari hadapanku. Jadi … Taehyung menjeda ucapannya lalu berbalik menatap Jungkook dengan senyum meremehkan yang ia tunjukkan pada pria manis di hadapannya. … Enyahlah dari hadapanku. Amkae!" lanjut Taehyung lalu berlalu begitu saja dari sana.
Author POV end
Jungkook POV
"Sebegitu bencinya kau padaku hyung?" tanyaku pelan namun aku yakin Tae hyung masih bisa mendengarnya karena sekarang ia menghentikan langkahnya meskipun tidak berbalik ke arahku.
"Ya, aku sangat membencimu. Bahkan rasanya aku benar-benar ingin kau menghilang dari hadapanku. Jadi … Aku menatapnya saat ia mulai berbalik menatapku dengan senyum yang begitu aku benci. … Enyahlah dari hadapanku. Amkae." Lanjutnya tajam, dengan cepat sosok itu pergi berlalu meninggalkan aku sendirian dengan luka. Aku terisak kencang saat mengingat kata terakhir yang ia ucapkan padaku, aku tidak pernah menyangka ia akan menyebut amkae yang berarti jalang padaku. Tubuhku jatuh merosot ke bawah karena lututku sudah tidak sanggup lagi menopang tubuhku, aku memukul-mukul dadaku yang begitu terasa sangat menyesakkan.
"Uhhkk … se hiks sak hiks seka hiks li hiks!"
Jungkook POV end
J-Hope POV
Aku melajukan motor sport hitam milikku menuju apartemen Jungkook, malam ini aku akan menumpang tidur di sana karena orangtuaku sedang mengurus bisnisnya yang di Jerman maka dari itu lebih baik aku menginap beberapa hari di sana daripada kesepian. Aku memarkirkan motorku lalu beranjak cepat menuju apartemen kelinci manis itu, aku segera menekan bel saat sudah sampai di depan apartemen Jungkook namun sudah berulang kali aku menekan bel kenapa tidak ada yang membukanya.
"aish kenapa lama sekali sih? Kemana sih kelinci manis itu?" ucapku kesal, aku sudah pegal berdiri di depan pintu begini. Aku menoleh ke arah lift yang terbuka dan menampakkan sesosok laki-laki yang sedari tadi aku tunggu, aku mengerutkan keninngku saat menyadari penampilannya yang begitu berantakan juga seragamnya yang kotor. Aku semakin kaget ketika melihat mata merah sembabnya juga jejak-jejak air mata di pipi mulusnya, kulihat Jungkook juga membulatkan matanya saat mata hitamnya bertubrukan dengan mataku.
"Kookie-ya kau kenapa? Kenapa kau menangis begini? siapa yang berani menganggumu?" tanyaku khawatir. Aku memekik kaget ketika dengan tiba-tiba Jungkook memelukku begitu erat isak tangisnya pun semakin kencang dan penuh akan luka. Aku merasa dadaku begitu sesak saat mendengar isakkan yang begitu memilukan dari mulut sepupu kecil kesayanganku ini, aku membelai lembut punggung rapuh miliknya dan membiarkan ia menangis di dadaku.
"Hyung hiks ap hiks po hiks … jeongmal appoyo hyung." Ucap Jungkook dengan suara bergetar. Aku semakin memeluknya erat mencoba sedikit membuatnya tenang. Aku mendorongnya pelan saat Jungkook mulai menghentikan sedikit isakkannya, dengan begitu pelan aku membelai pipinya menghapus setiap lelehan air mata yang masih meluncur indah dari mata bulatnya.
"Beritahu aku di mana yang terasa sakit Jungkook-ah?" tanyaku lirih seraya menatap tepat di mata hitamnya itu. Kulihat ia hanya menunduk lalu menyentuh dadanya dengan gerakan sangat pelan.
"Di sini hyung, di sini rasanya begitu sakit." Balasnya lirih. Aku kembali merengkuhnya dalam pelukkanku, menyalurkan sedikit kekuatanku untuknya.
"Uljima Bunny-ah. Uljima ada hyung di sini" ujarku tepat di telinganya. Dengan segera aku mengajaknya masuk ke apartemen sebelum ada orang lain yang melihatnya menangis, aku menyuruhnya membersihkan diri dan pergi tidur setelahnya.
"Segera mandi dan tidurlah, hyung akan membangunkanmu jika makan malam sudah siap." Aku menatap punggu itu hingga ia benar-benar menghilang di balik pintu bercat cokelat di depan sana. Aku menghela napas lalu berjalan menuju dapur untuk membuat makam malam, sejujurnya aku masih penasaran dengan apa yang terjadi dengan Jungkook namun melihatnya seperti itu aku rasa bukan waktu yang tepat untuk bertanya.
Kim Taehyung
Tiba-tiba nama itu terlintas di kepalaku, aku yakin ini pasti ada hubungannya dengan anak meyebalkan itu. Apalagi mereka memang sedang dalam masalah kan? Aku semakin yakin bahwa anak itulah yang membuat Jungkook sehancur ini, tapi yang membuatku berpikir keras adalah inti permasalahannya apa? Bagaimana bisa mereka bertengkar sehebat ini? Sedangkan yang aku tahu Taehyung tidak akan pernah tahan bertengkar lama-lama dengan Jungkook dan begitu pun sebaliknya.
"hufft … sudahlah nanti juga mereka akan menceritakannya."
J-Hope POV end
Author POV
Setelah menyelesaikan masakannya J-hope segera pergi menuju kamar sepupu kelincinya untuk mengajaknya makan, ia membuka pelan pintu kamar Jungkook dan dapat ia lihat sepupunya itu sedang tertidur di ranjangnya. Ia berjalan semakin masuk ke dalam kamar bercorak biru laut itu, menatap wajah lelah dan penuh luka pria manis itu. Saat hoseok akan menyentuh tubuh sepupunya, tiba-tiba pergerakannya terhenti dan ia diam mematung mendengar igauan Jungkook.
"Kajima … Tae hyung jebal kajima. Saranghae hiks hyung jebal hiks saranghae." Igau Jungkook sambil terisak pelan air matanya pun kembali meluncur meski ia dalam keadaan tidur. Hoseok mengerti sekarang mengapa Jungkook dan Taehyung bisa bertengkar sehebat ini bahkan sampai Taehyung pergi dari apartemen Jungkook.
"Jadi … karena ini Jungkook-ah?" gumam Hoseok lirih seraya menatap tubuh yang sedang berbaring itu. Hoseok tahu betul kalau Taehyung benar-benar benci dengan makhluk sejenis ia maupun Jungkook, pantas saja tadi Taehyung begitu acuh dan emosi setiap di tanya tentang masalah Jungkook.
"Ini akan sulit Bunny-ah. Jaljayo." Gumam Hoseok. Ia mengecup kening Jungkook sayang lalu pergi keluar kamar mengurungkan niatnya untuk mengajak Jungkook makan malam bersamanya, lagipula ia tidak cukup tega membangunkan Jungkook yang terlihat sangat lelah.
POV end
Taehyung POV
Aku membaringkan tubuhku dengan tanganku yang kujadikan bantal seraya memandang langit malam di atap gedung apartemen Namjoon hyung sendirian, aku memejamkan mataku untuk sekedar menhilangkan rasa lelah yang begitu terasa di tubuhku. Aku igat betul kejadian beberapa jam yang lalu antara aku dengan dia, aku menyentuh pelan dadaku kenapa rasanya begitu kosong? Kenapa rasanya begitu sesak? Kenapa rasanya begitu tidak nyaman? Aku tidak mengerti kenapa begini.
"hahhh … kau sudah membuat keputusan yang benar Kim Taehyung." Gumamku pelan seraya membuka kedua mataku. Ya aku sudah membuat keputusan yang benar dengan menyuruh anak itu menjauh dariku, aku tidak mau semua orang mencapku sebagai pria menjijikkan seperti mereka yang tidak normal.
"Apa yang kau lakukan di sini tuan Kim?" aku menoleh ke samping saat suara lembut yang menyapa gendang telingaku itu Yoongi hyung. Aku menatapnya bingung mengapa bisa ia di sini malam-malam begini.
"Namjoon yang memberitahuku kau di sini." ujar Yoongi hyung tiba-tiba.
"Kau belum menjawabku, sedang apa kau di sini?" tanyanya lagi. Aku menghela napas lalu bangkit dari tidurku dan menatap beberapa bintang di langit.
"Hanya mencari udara sejuk. Lalu kau sendiri sedang apa di sini hyung?"
"Mencarimu." Aku mengerutkan keningku menatap Suga hyung yang berada di samping kananku, untuk apa dia mencariku tumben sekali atau jangan-jangan dia mau bertanya tentang aku dan dia.
"Mencariku? Untuk apa? Kau merindukanku hyung? Tanyaku sedikit mengodanya.
"Cih! Aku? Merindukanmu? Ck. Never!" balasnya dengan begitu jutek. Aku tertawa mendengar ucapannya yang begitu sarkas dasar suga hyung selalu saja galak. Aku menghentikan tawaku saat Suga hyung menatapku tajam seperti berisyarat bahwa ia serius dan tolong jangan bercanda.
"Soal Jung …"
"Jika kau hanya mau menanyakan soal aku dan dia, aku tak akan menjawabnya hyung." Aku langsung memotong ucapan Suga hyung cepat lalu berlalu pergi meninggalkan Suga hyung yang terdiam di sana sendirian. Kenapa semua orang begitu ingin tahu masalahku? Ck mereka terlalu banyak mencampuri kehidupanku. Lebih baik sekarang aku lupakan semuanya, lupakan kalau aku pernah mengenal seorang Jeon Jungkook di hidupku cukup hanya lupakan itu mulai sekarang.
Taehyung POV end
Jungkook POV
Aku membuka kelopak mataku saat sinar matahari yang masuk dari jendela mengusik tidurku, aku mengedipkan mataku beberapa kali untuk membiasakan cahaya yang masuk ke rentinaku. Aku berbalik ke arah jendela yang tidak tertutup gorden sepertinya aku lupa menutupnya semalam, aku bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Aku menatap pantulan diriku di depan cermin, mengerikan itulah kata yang pantas aku gambarkan untukku sekarang mata sembab, lingkaran hitam yang begitu tercetak jelas, dan jangan lupa dengan rambutku yang begitu berantakan. Ingatanku kembali melayang kepada kejadian semalam antara ia dan pria itu, sekarang aku sadar dengan apa yang harus aku lakukan dengan pria itu.
"Aku harus melupakan Kim Taehyung. Kau harus melupakan Kim Taehyung, Jeon Jungkook!" gumamku pelan. Aku harus bisa melupakannya harus, aku sudah memutuskan segalanya aku harus menuruti kemauannya untuk menjauh dan enyah dari hadapan pria itu. Aku yakin aku bisa melakukannya, sudah cukup untuk terus terpuruk seperti ini aku harus bisa membuktikan padanya kalau aku bisa menjadi normal. Dan membuktikan padanya kalau aku bukan makhluk menjijikan seperti yang ia katakana, aku tersenyum pada bayanganku di dalam cermin sekedar memberiku semangat juga keyakinan.
"Aku harus pergi ke sana dan mengubah semuanya, mengubah Jeon Jungkook yang menjijikan menjadi yang baru. Menghapus Kim Taehyung dan menghapus semuanya." Ujarku semangat. Dengan cepat aku membersihkan diriku lalu bersiap pergi sebuah tempat yang akan mengubahku, aku mengedarkan padanganku keseluruh penjuru apartemen mencari sosok kakak sepupuku itu.
"Kemana Hopie hyung" aku melangkah menuju sebuah pintu yang terletak di samping kamarku, membuka pintu itu pelan mencoba menemukan Hoseok hyung di sana dan benar saja dia masih bergelut dengan selimutnya disana lebih tepatnya kasur milik pria itu. Aku semakin masuk ke kamar itu dan semakin masuk pula aroma manis Tae hyung yang masih menguar di sini.
"Hopie hyung palli ireona!" ucapku dengan menguncangkan tubuhnya agar terbangun, ia mulai membuka matanya pelan lalu mengumam ke arahku.
"Waeyo Kookie-ya?" tanyanya padaku dengan mata yang masih setengah terbuka, aku tersenyum lebar padanya lalu membicarakan rencanaku padanya. Hoseok hyung hanya mengangguk mengerti saat aku menceritan semuanya kecuali tentang aku dan dia tentunya.
"Kau harus janji tidak akan memberi tahu siapapun hyung!" pintaku padanya. Aku lihat Hopie hyung tersenyum padaku lalu mengangguk yakin. Aku bersorak senang lalu memeluknya erat-erat.
"Gomawo hyung, aku menyanyangimu sangat." Ia hanya membalas pelukanku. Aku segera menyuruhnya bersiap-siap karena sebentar lagi aku akan berangkat ke tempat itu dengan diantar olehnya.
Jungkook POV end
Author POV
Pagi ini Namjoon, Seok jin, Yoongi, Hoseok, Jimin dan Taehyung sedang duduk di tengah lapang basket sekolah, mereka semua sengaja datang pagi karena seorang Min Yoongi memaksa mereka ada yang mau dibicarakan katanya. Namun sudah hampir setengah jam mereka diam di sini Yoongi masih saja diam tak berbicara dan membuat Taehyung mati bosan.
"Hyung sebenarnya apa yang mau kau bicarakan? Cepatlah!" ucap Taehyung tak sabar. Jimin langsung menyikut lengan Taehyung pelan menyuruhnya untuk diam atau kau akan mati.
"Hoseok-ah?" Yoongi mulai mengeluarkan suaranya setelah lama terdiam. Merasa terpanggil Hoseok langsung menoleh dan menatap Yoongi bahkan kini semua mata pun tertuju pada Hoseok dan Yoongi bergantian.
"Sebenarnya di mana Jung …" belum sempat Yoongi menyelesaikan pertanyaannya tiba-tiba ada suara ribut dari arah parkiran. Mereka segera menoleh dan betapa kagetnya mereka melihat seorang laki-laki keluar dari sebuah mobil Lamborghini Aventador merah menyala yang membuat seluruh siswa menatap takjub. Jangan lupakan penampilan yang membuat seluruh siswa juga siswi memekik kagum, dengan rambut yang dicat merah tua begitu pas dengan kulit putihnya, satu kuping yang dihiasi tindik merah menampah kadar ketampanannya juga kemeja dengan dua kancing teratas yang ia biarkan terbuka lalu dasi yang dipasang longgar dan jas yang tidak dikancing tergantung begitu indah di tubuh tegapnya. Kakinya ia lapisi dengan sepatu Converse High hitam yang begitu pas pada kakinya, namun tidak lama terdengar teriakan kecewa saat sosok itu berlari ke pintu sebelah pengemudi dan keluar sosok wanita cantik yang mereka ketahui adalah siswi terpopuler di sekolah yang dikenal dengan nama Seulgi. Kelima orang di tengah lapang itu kecuali Hoseok yang tersenyum, menajamkan penglihatan mereka saat melihat kedua makhluk berbeda jenis kelamin itu berjalan ke arah mereka dengan bergandengan tangan. Bahkan siswa itu tersenyum senang saat Seulgi mengecup kilat bibinya, tiba-tiba Jimin memekik keras dan memandang teman-temannya saat sadar siapa siswa itu.
"Bukankah itu … Tidak mungkin dia … "
TBC
Hi! Bunny back!
Yuhuuu akhirnya selesai juga chap ini tinggal nunggu chap selanjutnya nih. Sorry yah kalo kurang greget ceritanya. Oke ditunggu yah untuk next chapternya. Bye.
