Title : I Hate Gay!
Author : BunnyJungie
Cast : Vkook, Yoonmin, Namjin, Hopezi and other
Genre : Hurt, Brothership, Friendship, Romance
Summary : Aku tahu ini tidak normal hyung- Jeon Jungkook … Aku sungguh membencinys tapi mengapa hatiku tidak sejalan- Kim Taehyung

Part 5

"Tidak mungkin … bukankah itu …"

"Jeon Jungkook." Lanjut Suga lirih namun masih terdengar oleh kelima namja di dekatnya. Jungkook berjalan dengan penuh percaya diri menuju tengah lapang tempat di mana para hyungnya berkumpul, ia tersenyum ke arah lapang dengan lengan kiri yang terus mengenggam lengan seorang gadis cantik bernama Seulgi itu. Sesampainya di tempat keenam hyungnya ia langsung menyapa mereka dengan ceria tanpa memerdulikan tatapan bertanya sekaligus bingung para hyungnya itu.

"Annyeong hyungdeul." Sapanya begitu ceria

"Jungkook-ah?" panggil Jin seraya menatap Jungkook penuh tanya, Jungkook yang mengerti langsung saja menjelaskan seseorang yang dibawanya.

"Ahh aku hampir lupa, hyungdeul kenalkan ini Seulgi kekasihku." Ucapnya lalu memamerkan senyum kelincinya yang begitu manis. Mereka melebarkan matanya terkejut dengan ucapan yang baru saja mereka dengar dari laki-laki manis itu, mereka jelas tahu siapa Seulgi itu gadis popular di sekolah mereka juga gadis yang selama ini selalu mengejar-ngejar Jungkook. Dan setahu mereka Jungkook itu tidak pernah sekali pun menanggapi Seulgi justrus Jungkook terkesan tidak perduli dan acuh, lalu bagaimana bisa dengan tiba-tiba ia mengakui bahwa gadis itu sebagai kekasihnya.

Suga POV

Aku menatap tajam laki-laki yang sedang mengandeng lengan seorang gadis di hadapanku ini, apa maksudnya semua ini? Setelah menghilang selama tiga hari lamanya tanpa sedikit pun kabar sekarang ia malah muncul dengan santainya seakan tidak ada apapun, lalu apa itu rambut yang dicat merah keunguan, tindik yang terpasang cantik di kuping kanannya, dan penampilan yang berantakan. Aku akui dia terlihat tampan dengan penampilannya yang sekarang namun semuanya melanggar peraturan sekolah, sejak kapan dia seperti ini melanggar peraturan dan membawa seorang gadis.

"Jeon Jungkook! Kemana saja kau tiga hari ini?" tanyaku dingin. Aku hanya menatap lurus ke arahnya yang terkejut, aku mendengus sebal saat ia tersenyum lebar.

"Aku pergi ke Busan hyung untuk menghadiri acara perjodohanku dengan Seulgi. Maaf tidak mengabarkan pada kalian." Aku semakin geram mendengar ucapannya yang begitu enteng seakan semuanya adalah hal yang tidak begitu penting.

"Wahhhh chukkae Bunny-ya, kalian cocok sekali. Seharusnya kau bersama Seulgi saja dari dulu, kalian sangat cocok sungguh." Aku melangkah pergi saat mendengar suara Hoseok yang memberi selamat pada maknae itu, aku benar-benar marah bagaimana bisa ia mau saja dijodohkan dengan Seulgi yang jelas-jelas hanya mengincar hartanya. Aku tahu betul tabiat gadis itu. Aku menutup mataku saat merasakan sebuah lengan memeluk punggungku, lalu aku berbalik ke hadapannya aku melihat Jimin menatapku dengan raut khawatir. Aku memeluknya lagi karena hanya pelukannya yang bisa mengendalikan emosiku, rasanya begitu nyaman dan hangat membuatku enggan melepaskannya .

"Hyung, kau baik-baik saja?" aku menunduk untuk membalas menatapnya lalu tersenyum.

"Hyung baik-baik saja. Waeyo?" tanyaku padanya yang kini mulai menaruh kepalanya ke dadaku.

"Kau membuatku takut tadi. Kau menyeramkan saat marah." Jawabnya pelan, aku mencium pucuk kepalanya lama aku jadi merasa bersalah karena membuatnya takut.

"Maafkan hyung ne, hyungie janji tidak akan membuatmu takut lagi." Ucapku padanya seraya mengecup keningnya lama.

POV end

Jungkook POV

Aku menatap datar ke arah Choi saem yang terus saja mengoceh panjang lebar tentang warna rambut dan juga tindik yang kupakai, aku tahu sekolah ini memang melarang muridnya untuk mewarnai rambut selain warna cokelat atau hitam. Oh ayolah aku suka warna rambutku yang sekarang dan lagi ini terlihat cocok denganku, lalu tindik ini juga keren jadi apa yang salah? Mereka semua terlalu kampungan. Setelah selesai diceramahi panjang lebar aku segera pergi menuju kelasku di lantai tiga, aku menatap malas ke arah para murid di koridor yang terus berbisik tentangku ataupun yang menatap kagum. Bukannya aku sombong atau apa hanya saja itu membuatku risih karena tatapan mereka, aku berjalan cepat menuju kursi di pojok paling belakang dekat kaca. Jam pelajar dimualai saat Park songsaenim datang ke kelasku, aku hanya menatap malas papan tulis di hadapanku itu. Lebih baik aku tidur daripada pusing melihat rumus-rumus yang tidak aku mengerti itu, semuanya yang berada di kelas menatap padaku saat aku bangkit dari kursiku yang menimbulkan bunyi itu.

"Ada masalah Tuan Jeon?" tanya Park saem padaku. Aku lihat Bambam menatap bingung ke arahku namun aku tidak menghiraukannya dan memutuskan pergi dari kelas begitu saja tanpa menjawab atau merespon Park saem yang begitu marah karena ulahku ini. Aku berjalan menuju atap untuk tidur di sana namun saat baru saja aku akan menutup mataku tiba-tiba sebuah suara yang begitu aku kenal menghentikanku.

"Jadi ada apa ini?" tanya orang itu yang ternyata Kim Taehyung.

"Apa maksudmu 'Sunbae' aku tak mengerti?" tanyaku padanya dengan menekankan kata sunbae padanya.

"Aku rasa kau mengerti Tuan Jeon!" jawabnya padaku begitu sarkas. Aku tersenyum ke arahnya lalu detik berikutnya aku menatap sinis tepat ke hazel cokelatnya.

"Apa perdulimu? Toh kau dan aku tak saling mengenalkan?" aku menatap wajahnya yang terkejut namun langsung ia tutupi dengan muka datar yang selalu ia berikan padaku selama seminggu ini. Dia berlalu begitu saja tanpa sepatah katapun namun tiba-tiba ia berhenti tepat di pintu menuju tangga keluar, ia berbalik menatapku dengan senyum sinisnya.

"Kau benar, kita memang seharusnya tak saling kenal kan. Maaf menggangumu … Jungkook-sii." Ucapnya padaku dan setelahnya ia benar-benar berlalu pergi dari atap.

POV end

Seok Jin POV

Sudah satu bulan waktu berlalu dan sudah selama itu juga Jungkook berubah. Sekarang ia selalu membolos, tak mengerjakan PR, berkelahi dan juga bermain dengan banyak wanita. Jungkook yang manis, baik, menggemaskan, dan rajin kini menghilang bak ditelan bumi. Hoseok yang memang tahu sejak awal tentang perubahan Jungkook pun kini ikut kecewa dengan sepupu kelincinya itu, ia tidak pernah berpikir Jungkook akan berubah sejauh ini. Bahkan kini Jungkook sudah tidak pernah berkumpul dengan ia dan juga yang lain, Suga, Hoseok, Namjoon, ia sendiri, dan Jimin hanya dapat menatap kecewa pada maknae itu saat kami berpapasan atau hanya sekedar mendengar gosip anak itu. Taehyung? jangan tanya anak itu ia sendiri bingung dengan sikap anak itu yang begitu acuh dan tak perduli, Seok Jin menatap sendu pada laki-laki yang duduk di kursi kantin beberapa meter di depannya. Laki-laki itu sedang duduk dengan seorang wanita yang ia tahu bernama Joy, mereka begitu asik dan romantis saling menyuapi dan tertawa lepas seakan tak ada yang memerhatikan. Jadi sekarang Joy? Jeon Jungkook kau benar-benar bejat setelah kemarin kau memutuskan Seulgi dan Yuju begitu saja setelah bermain dengan mereka, dan sekarang kau malah bermesraan dengan gadis lain lagi.

"Jangan dilihat terus jika akhirnya kau kecewa Jinnie hyung." Aku menoleh ke arah Namjoon saat suaranya terdengar di telingaku. Saat ini aku sedang makan bersama Namjoon, Hoseok, Taehyung dan pasangan Yoonmin.

"Aku hanya merindukan anak itu Namjoonie." Ucapku pelan. Kini semua mata tertuju padaku kecuali Taehyung tentunya. Aku membuang napas kasar lalu menatap Taehyung tajam.

"Taehyung-ah, Jungkook berubah setelah kalian bertengkar." Ia menatap kubingung

"Lalu? Hyung mau menuduhku kalau aku yang membuatnya berubah begitu?" tanyanya dengan nada sinis.

"Bukan begitu Tae, hyung hanya ingin tahu apa sebenarnya masalah kalian? Sampai jadi sebesar ini?" jelasku padanya.

"Terserah, aku sudah tidak perduli tentangnya lagi. Jadi jangan tanya atau membicarakan bocah itu denganku." Balasnya seraya pergi dari kantin begitu saja.

POV end

Taehyung POV

Aku menatap sendu ke arah sepasang kekasih di kursi kantin yang letaknya beberapa meter di belakangku, aku dapat melihat betapa mesranya mereka di sana. Saling menyuapi yang diselingi canda tawa. Aku merindukan saat-saat seperti itu dengannya, andai saja ia tidak bersikap kasar waktu itu ia yakin semuanya aka baik-baik saja sekarang.

"Jangan dilihat jika akhirnya kau kecewa Jinnie hyung." Aku melirik ke arah Jin hyung sekilas saat suara Namjoon hyung terdengar.

"Aku hanya merindukan anak itu Namjoonie." Balas Jin hyung. Namun tiba-tiba Jin hyung menatapku tajam yang membuatku sedikit bingung tapi saat mendengar ucapannya aku mengerti dan merasa marah.

"Taehyung-ah, Jungkook berubah setelah kalian bertengkar." Ujarnya padaku.

"Lalu, hyung mau menuduhku kalau aku yang membuat Jungkook berubah begitu?" tanyaku emosi.

"Bukan begitu Tae, hyung hanya ingin tahu apa masalahmu. Sampai jadi sebesar ini."

"Terserah, aku tak perduli pada anak itu. Jadi jangan bertanya atau membicarakan bocah itu denganku." Ucapku lalu beranjak pergi meninggalkan mereka di kantin. Saat aku berjalan melewati mejanya aku melihat ia menatapku heran namun aku hanya menatapnya dengan tatapan tajamku lalu pergi dari kantin.

SKIP

Bel sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu namun aku sangat malas untuk sekedar melangkah pergi dari sini, setelah pergi dari kantin aku memang pergi ke taman yang berada tepat di samping lapang basket sekolah. Lagi, aku manatap mereka lagi. Kenapa rasanya begitu sesak? Kenapa rasanya begitu perih? Tuhan tolong hentikan ini, aku mohon ini begitu menyesakkan. Aku melihat dia bergandengan tangan dengan gadis yang berbeda, bukan Joy si gadis kaya itu kini ia sedang bersama dengan Wendy sahabat Iren mantan kekasihnya.

"Hiks…hiks…hiks…" tanpa sadar aku terisak saat melihat laki-laki itu mencium mesra gadisnya. Aku meremas keras dadaku yang begitu terasa berdenyut perih, jadi ini yang kau rasakan saat itu? Aku minta maaf Jungkook-ah, aku menyesal bersikap kasar padamu.

"Aku mencintaimu Jungkook-ah."ujarku lirih. Ya aku mencintainya sejak lama hanya saja aku tidak pernah menyadari perasaan ini, aku sadar sejak dua minggu yang lalu kalau aku juga mencintainya. Tapi semua sudah terlambat, dia membenciku sekarang. Dia berubah karenaku. Aku tersentak kaget saat ada sepasang tangan lembut memelukku erat, aku semakin terisak kencang saat mendengar suara orang itu.

"Menangislah Taehyung-ah." Ucap Suga tetap memeluk erat Taehyung.

"Hyung aku mencintainya … aku mencintainya hyung." Rancauku. Suga hyung semakin mengeratkan pelukannya padaku seiring dengan tangisanku yang semakin keras. Setelah puas menangis akhirnya aku berhenti dan melepaskan pelukan Suga hyung dari tubuhku, aku menatap kelima hyungku yang juga ada di sana bersamaku dengan sendu.

"Mau bercerita?" tanya Namjoon hyung padaku seraya duduk manis di sebelahku yang diikuti oleh yang lain. Aku menghela napas pelan meyakinkan diriku bahwa inilah saat aku memberi tahu mereka yang sebenarnya juga tentang orientasi sexku yang tidak normal.

"Satu bulan yang lalu di taman dekat apartemen … Jungkook menyatakan perasaannya padaku. Aku begitu marah saat mendengar kenyataan itu, aku menghinanya begitu kasar. Aku juga berteriak kencang padanya bahwa aku benci pada mahkluk sepertinya, penyuka sesame jenis." Terangku pada mereka. Aku kembali menerawang pada kejadian satu bulan lalu ketika Jungkook menyatakan perasaannya padaku.

"Lalu aku memutuskan keluar dari apartemennya karena aku jijik padanya. Hyung bahkan aku menyuruhnya menjauh dan menghilang dari hadapanku. Lebih dari itu hyung, aku … aku … aku juga menyebutnya jalang saat itu. Aku masih ingat betul hyung wajah terluka juga kecewanya hyung. Aku menyesal melakukan itu padanya." Air mataku kembali turun begitu deras.

"Taehyung-ah … Aku menoleh pada Hoseok hyung saat ia menyebut namaku, ia hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kecewa… Kau tahu? Aku benar-benar marah hingga rasanya ingin membunuh siapapun orang yang membuat sepupu kecilku itu menangis sehancur itu di hadapanku saat itu." Lanjut Hoseok hyung. Aku hanya terdiam saat mendengar tiap untaian kata yang Hoseok hyung katakana padaku, aku sadar aku memang pantas ia bunuh karena melukai sepupu kesayangannya itu. Hoseok hyung menatapku sendu lalu melanjutkan ucapannya.

"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, dia menangis begitu hancur. Mata indah yang selalu bersinar itu berubah redup dan penuh luka, bahkan ketika ia tertidur pun tangisnya masih ada. Yang makin membuat aku terluka itu namamu." Aku menatap bingung pada Hoseok hyung begitu pun yang lain saat mendengar kata terakhirnya.

"Dia masih menyebut namamu dalam tidurnya. Hatiku teremas saat mendengar kalimat yang ia ucapkan, aku ingat jelas wajah itu ketika mengucapkan bahwa ia begitu mencintaimu dalam tidurnya. Kecewa, luka, rindu, lelah semuanya menjadi satu." Ujar Hoseok hyung. Aku semakin menyesal mendengar semua cerita itu dari Hoseok hyung, sejahat itu ternyata aku padanya.

"Maafkan aku Hoseok hyung." Ucapku padanya seraya menundukkan kepalaku. Aku meraskan tangannya mengusak pelan surai cokelatku.

"Taehyungie?" panggil Jin hyung. Aku mengangkat kepalaku menatap mereka semua yang tersenyum padaku.

"Ne?"

"Kau harus tahu … sebernarnya … "

TBC

Wahhh akhirnya selesai juga chap ini, ngersa nggak sih makin kesini makin ngebosenin ceritanya? Maaf yah kalo ngebosenin. Oh yah aku mau bilang makasih sama yang udah support aku buat terus lanjutin ff ini. Aku seneng biarpun cumin sedikit yang baca thanks banget yah kalian semua Muachhhh

Tunggu yah next chapternya!