Title : I Hate Gay!
Author :BunnyJungie (Tiara)
Cast : Vkook, Namjin, Yoonmin, Hopezi
Genre : Hurt, Friendship, Brothership
Summary : Aku tahu ini tidak normal hyung- Jeon Jungkook … Aku sungguh sangat membencinya tapi mengapa hatiku tidak sejalan- Kim Taehyung
Happy Reading
"Aku mohon maafkan aku. Aku tahu aku salah, seharusnya aku tidak bersikap kasar padamu, dan seharusnya aku sadar kalau aku mencintaimu." ucapku lirih. Dia tetap tidak merespon setiap ucapanku. Aku semakin putus asa, dengan kasar aku membalikkan tubuhnya ke hadapanku. Aku lihat ia hanya memandang kosong ke arahku, namun detik berikutnya ia menangkup kedua pipiku seperti saat di parkiran club semalam. Dia tersenyum manis padaku senyum yang begitu aku rindukan, tapi sampai akhirnya.
"Hyung … ia terus menatapku dengan senyuman yang terus tercetak di wajahnya, membuat aku sedikit berharap dia akan memaafkan aku sekarang namun … Kau sungguh sangat menjijikkan." lanjutnya. Tenggorokanku tercekat mendengar ucapannya padaku, ia melepaskan tangannya dari pipiku lalu menatapku sendu.
"Kau mengelikan! Setelah kemarin kau menyebutku jalang, berteriak di hadapanku agar aku menghilang dari hidupmu. Dan sekarang dengan gampangnya kau memohon agar aku memaafkanmu. Lalu kemana saja kau kemarin ketika aku memohon bahkan menjerit padamu? Apa kau mengasihaniku? Tidak kan? Bahkan kau melirik kepadaku saja tidak. Jadi untuk apa aku memberikan maaf padamu dengan mudah? Berhenti memohon padaku karena sampai kapan pun aku tidak akan memafaakanmu!" aku terisak pelan saat mendengar semua untaian kata dari mulut manis itu, apa aku sejahat itu sampai kau seperti ini? Aku menatap punggung laki-laki yang aku cintai itu yang terus menjauh pergi dari apartemen, aku memejamkan mataku menahan aliran kristal bening yang akan terjatuh ke pipi tirusku. Aku membuka mataku saat merasa ada langkah kaki berhenti di hapadanku, di sana ada Jungkook berdiri menatapku.
"Satu hal hyung, aku mohon tolong berhenti mengangguku, kau terlihat seperti pria murahan sekarang. Dengarkan baik-baik aku sudah tidak mencintaimu lagi." ujarnya padaku lalu berjalan pergi dari hadapanku.
POV end
Hoseok POV
Aku menatap geram pada sepupu kecilku itu, dia sudah sangat keterlaluan. Aku tahu dia kecewa dengan Taehyung karena jujur saja aku juga sempat kecewa padanya, tapi tidak bisakah dia tidak bersikap seperti ini? Aku benar-benar merasa asing dengan Jungkook yang sekarang, aku segera menghentikan langkahnya yang menjauh meninggalkan apartemen ini.
"Jeon Jungkook berhenti!" teriakku padanya. Dia menghentikan langkahnya dan aku segera berjalan cepat menuju anak itu.
BUGH!
"Kau brengsek Jeon Jungkook!" aku terus mencacinya seraya meninju pipinya dengan keras, ia tersungkur ke lantai dengan bibir yang mengeluarkan darah.
"Apa-apaan kau hyung!" jeritnya padaku. Aku menatap iris hitamnya begitu tajam. Saat aku akan kembali meninjunya tiba-tiba Namjoon dan Yoongi hyung menahan tubuhku ke belakang, kulihat Jimin dan Jin hyung membantunya untuk berdiri.
"Kau yang apa-apaan! Apa kau harus bersikap sejahat ini pada Taehyung?" tanyaku dingin. Dia hanya tersenyum yang lebih terlihat seperti seringai.
"Wow! Kim Taehyung kau benar-benar hebat! Setelah kau membuatku hancur dan sekarang kau membuat seolah-olah kaulah yang menjadi korban. Sungguh luar biasa!" aku berjengit marah mendengar kaliamatnya pada Taehyung, sedangkan Taehyung hanya menatap bocah itu sendu.
"Jungkook-ah ak …
"Apa yang kau berikan pada Hoseok hyung sampai-sampai ia lebih membelamu dibandingkan sepupunya sendiri? Tubuhmu?" aku semakin emosi mendengar tuduhan yang tidak masuk akal darinya. Aku menatap Taehyung yang berjalan menuju Jungkook berdiri dengan begitu marah dan dingin, aku semakin melebarkan mataku melihat apa yang dilakukan Taehyung pada bocah sialan itu.
PLAK
Satu tamparan Taehyung berikan pada pipi kanan Jungkook hingga membuat tanda merah di sana, ia begitu terengah dan marah pada Jungkook.
"Kau memang brengsek Jeon Jungkook! Kau boleh menyebutku jalang, pria murahan atau apapun tapi asal kau tahu aku bukan seorang pria yang mudah menyerahkan tubuhnya seperti para jalang yang selalu kau permainkan!" ucap Taehyung pada Jungkook begitu dingin tanpa ekspresi. Jungkook hanya diam terpaku menatap Taehyung, aku bisa melihat jelas guratan luka, kecewa, marah, menyesal dan sesuatu yang sulit dijelaskan semuanya menjadi satu di iris hitam kelam itu.
"Lebih baik kau pergi Jungkook-ah sebelum aku menghabisimu!" ujar Suga hyung padanya. Dia memandang kami semua dengan mata sayu yang begitu menyedihkan, mata itu berubah sendu. Dengan langkah gontai ia berbalik berjalan keluar apartemen sebelum benar-benar keluar aku dapat melihat jelas bahunya bergetar dan tangannya terkepal kuat membuat tangannya memutih, aku hapal betul dengan cirri-ciri itu dia pasti menangis sekarang aku terlalu hapal tabiat sepupu kecilku itu. Aku sangat ingin berlari memeluknya atau mungkin menenangkannya seperti biasa kalau ia sedang menangis, namun aku tidak bisa melakukannya sekarang aku takut emosiku meledak-ledak jika bersamanya sekarang emosiku masih tidak terkontrol. Aku menoleh pada Taehyung saat mendengar permintaannya pada Jimin yang sumpah demi apapun membuatku sangat berterima kasih karena ia begitu memperdulikan Jungkook.
"Jimin-ah bisa aku minta tolong?" tanyanya pada Jimin. Jimin lalu menganguk.
"Tentu, apa yang bisa kubantu?" balasnya
"Bisa kau susul Jungkook? Aku yakin dia sedang menangis sekarang, aku ingat betul gerak-geriknya sebelum ia keluar dari sini. Bahu itu, mata itu dan tangannya menandakan bahwa ia menangis sekarang. Aku mohon susul dia demi aku." mohonnya pada Jimin, Jimin menatap ragu padanya lalu menoleh ke arah Suga hyung untuk meminta persetujuannya. Kami semua mengangguk setuju meyakinkan Jimin untuk mengejar maknae itu.
"Baiklah" ujarnya lalu bergegas menyusul Jungkook.
POV end
Jimin POV
"Jimin-ah bisa aku minta tolong?" aku menatap Taehyung bingung namun segera mengangguk setuju.
"Tentu, apa yang bisa kubantu?" tanyaku padanya, ia menatapku.
""Bisa kau susul Jungkook? Aku yakin dia sedang menangis sekarang, aku ingat betul gerak-geriknya sebelum ia keluar dari sini. Bahu itu, mata itu dan tangannya menandakan bahwa ia menangis sekarang. Aku mohon susul dia demi aku." pintanya padaku, aku menatap ragu padanya bukan aku tak mau hanya saja entahlah aku bingung. Aku segera menoleh pada Suga hyug dan yang lain meminta persetujuan, mereka semua mengangguk setuju dan aku segera berlari menyusul Jungkook. Aku terus berlari keluar gedung apartemen aku harus menemukan Jungkook secepatnya, aku menengok ke kanan dan kiri mencarinya tepat saat aku menoleh ke arah taman apatemen aku dapat melihat punggung laki-laki yang aku kenal duduk sendirian di kursi panjang dengan bahu yang bergetar hebat juga isakan yang terdengar keras. Aku berjalan pelan menghampirinya memeluknya dari belakang seperti yang sering aku dan yang lain lakukan ketika ia menangis, aku merasakan ia sedikit tersentak kaget dengan perbuatanku namun sedetik berikutnya tagisnya semakin keras.
"Uljima Kookie-ah." ucapku dengan tetap memeluknya begitu erat. Aku mohon berhenti Jungkook-ah jangan menangis lagi, aku tidak bisa melihatmu menangis seperti ini aku sangat menyanyangimu. Hatiku terasa sesak melihatmu seperti ini, Jungkook sudah seperti adikku sendiri aku tidak pernah bisa melihat ia menangis jangankan menangis melihat ia bersedih saja aku tidak bisa.
"Hyu..ng …ak..aku…ja..hat…yah?' tanyanya susah payah. Aku mencium pucuk kepalanya lembut.
"Tidak, kau tidak jahat. Kau hanya terlanjur kecewa sehingga berbuat sejauh ini." ujarku menenangkannya. Aku berjalan duduk di sampingnya, ia memelukku erat dan kembali terisak.
"Tapi aku men..ye..but..nya ja…ja..lang hyung, ak..aku…aku.."
"shut.. tak apa Kookie-ya, aku yakin Taehyung tidak marah padamu. Kau tidak perlu khawatir" jelasku. Dia menatapku dengan mata merah dan sembabnya ahh begitu menggemaskan, aku tersenyum meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku menyentuh bibirnya yang terluka pelan ia meringis sakit membuat aku menggeram kesal pada Hoseok hyung karena berani melukai maknae kesayanganku ini. Aku langsung menariknya pergi untuk mengobati lukanya.
"Kajja, hyung akan mengobati lukamu." ajakku padanya namun ia menahan tanganku yang menariknya, aku memandangnya bingung namun saat aku melihat tatapan takut di matanya aku segera mengerti maksudnya.
"Tenang saja hyung akan mengobatinya di apartemenmu. Ayo." kami segera berjalan menuju apartemennya yang tidak terlalu jauh dari gedung apartemenku hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai. Kami berjalan hanya ditemani keheningan tidak ada yang membuka suara diantara kami, namun tiba-tiba suara Jungkook memecahkan keheningan dan membuat aku terperangah kaget.
"Hyung?" tanyanya. Aku menatapnya sekilas lalu kembali menatap jalan di depanku
"Ne?" jawabku tetap menatap ke depan.
"Kalian pasti membenciku sekarang." ujarnya. Aku menghentikan langkahku lalu berbalik menatapnya tajam membuat ia menundukkan kepalanya.
"Sangat, kami sangat ingin membencimu! Tapi tetap saja kami tak bisa, mau seburuk apapun kau. Kau tetap adik kami, maknae kesayangan kami, jadi berhenti berpikir kami membencimu karena kami tidak akan pernah membencimu." Terangku pada Jungkook, ia mendongkak menatapku sendu. Aku tersenyum kepadanya lalu memeluknya erat.
Sesampainya di apartemen Jungkook aku segera menyuruhnya menunggu di kamar untuk kuobati, aku segera mencari kotak obat di dapur setelah menemukannya aku menghampiri kamar Jungkook. Aku melangkah pelan padanya yang sedang duduk melamun menatap luar jendela, ini pasti membuatnya sedikit stress dan banyak pikiran. Masalah ini terlalu rumit untuknya yang bahkan tidak mengerti sama sekali tentang cinta, hingga akhirnya membuat dia melarikan diri pada hal negatif seperti sekarang. Dia menoleh ke arahku saat menyadari keberadaanku, aku duduk di sebelahnya dan membuka kotak obat untuk segera mengobati lukanya.
"Tahan sedikit, ini mungkin akan sakit." ucapku. Ia hanya mengangguk paham. Dengan cekatan aku mengobati sudut bibirnya yang terluka, ia hanya meringis sebentar lalu terdiam seterusnya. Selesai mengobati aku menyuruhnya untuk segera pergi tidur untuk istirahat, ia hanya mengangguk menuruti setiap ucapanku.
"Pergilah tidur, kau pasti lelah." titahku. Jungkook segera berbaring di tempat tidurnya, aku tetap duduk di samping ranjangnya seraya menatapnya sendu. Tidak sampai sepuluh menit aku dapat mendengar hembusan napas teratur dari Jungkook, aku bangkit untuk menyelimutinya lalu beranjak pergi meninggalkannya.
"Aku mohon berhenti menyiksa dirimu juga Taehyung Kookie-ah." gumamku lirih lalu baranjak pergi dari apartemennya.
POV end
Author POV
Seok Jin membalas tatapan lembut Namjoon yang berbaring di sebelahnya tidak kalah lembut, ia memejamkan mata saat tangan besar Namjoon membelai pipinya begitu lembut. Ia membuka matanya saat suara lirih Namjoon terdengar seksi di telinganya.
"Jinnie-ya aku merindukanmu." Ujarnya lirih. Seok Jin hanya tersenyum menanggapi ucapan Namjoon lalu beringsut masuk ke dalam pelukan laki-laki itu. Mendapat lampu hijau Namjoon segera melahap bibir tebal sang kekasih begitu rakus seakan takut jika tidak cepat ia akan kehilangan candunya itu. Sedangkan Seok Jin sedikit sulit mengimbangi permainan Namjoon yang begitu tidak sabaran, Namjoon terus saja melumat, mengigit dan melumat lagi bibir sang kekasih dengan lembut dan memabukan.
"Ahn…" desahan Seok Jin keluar begitu saja tanpa bisa ditahan, hal itu semakin membuat libido Namjoon semakin meninggkat. Ia beranjak pindah ke atas Seok Jin dengan menjadikan kedua sikunya sebagai tumpuan agar tak menindih tubuh Seok Jin, Namjoon memasukkan tangannya kebalik kaus Seok Jin meraba lembut setiap jengkal tubuh kekasihnya itu. Sedangkan Seok Jin hanya dapat mengeliat geli juga nikmat merasakan tangan itu meraba tubuhnya. Namjoon terpaksa melepas ciumannya karena merasa butuh oksigen, mereka terengah dadanya naik turun karena kurang oksigen. Disaat Jin masih terengah Namjoon tetap meneruskan kegiatannya yang kini berpindah menuju leher putih nan menggoda milik Seok Jin, ia menjilat dan sesekali mengigit kecil leher itu sehingga membuat bercak-bercak merah menghiasi leher Seok Jin. Ia terus melakukannya di berbagai tempat, membuat Seok Jin mendesah nikmat seraya meremas pelan surai blonde (Just One Day era) kekasihnya.
"AH.. Namjoon." Desah Seok Jin. Mendengar desahan Seok Jin, Namjoon semakin gencar mengerjai tubuh sang pujaan hati memelintir nipple juga membuat kissmark di leher putih itu. Merasa kaus yang dipakai Seok Jin menganggu Namjoon dengan tidak sabaran melepas dan melemparnya sembarang, ia menatap takjub pada tubuh putih mulus tanpa cacat yang dimiliki Seok Jin membuat sang empu malu setengah mati.
"Kenapa menatapku begitu?" tanyanya seraya menutup tubuh toplessnya dengan kedua lengan dan jangan lupakan semburat merah yang terpampang indah di kedua pipinya.
"Kau indah hyung, jangan ditutup." Jawabnya dengan menarik kedua lengan sang kekasih lalu bergantian mencium kening, mata kiri, mata kanan, hidung, dan terakhir di bibir. Berbeda dari sebelumnya kali ini Namjoon mencium Seok Jin dengan begitu lembut juga hati-hati seakan jika tidak hati-hati bibir itu akan terluka, Jin membalas ciuman penuh sayang itu tidak kalah lembut. Ciuman itu terkesan tanpa ada nafsu didalamnya hanya ada rasa penuh cinta juga kasih sayang yang begitu besar, Namjoon melepas ciumannya lalu tersenyum manis menatap Seok Jin yang berada di bawahnya. Mendapat senyuman manis Namjoon tak ayal membuat jantung Seok Jin terasa ingin melompat keluar dari tempatnya, ia kembali memecamkan matanya kala benda kenyal nan lembut menyapa bibirnya. Namjoon lagi-lagi mendaratkan bibirnya pada bibir Seok Jin ciuman yang awalnya lembut kini berubah panas juga menuntut, tangan Namjoon yang tadinya hanya diam menganggur sekarang mulai berpindah menuju benda yang tertutup celana meremas kecil benda itu membuat sang pemilik mendesah tertahan karena nikmat.
"eunggghhh…..ahhh…" desah Seok Jin disela-sela ciumannya, sekarang ciuman itu berpindah ke leher, bahu, dada, perut dan saat bibir Namjoon sampai di benda kesayangannya ia segera melepas celana yang melekat di kaki Seok Jin. Saat ini Seok Jin dalam keadaan full naked dan terpampang lah junior yang sudah berdiri tegak di depan mata Namjoon, saat akan menyentuh benda panjang itu tiba-tiba Seok Jin menghentikan pergerakannya Namjoon menatap bingung ke arah Seok Jin lalu mendengus sebal karena kegiatannya diganggu.
"Wae?" tanyanya sedikit sebal.
"Kau curang Namjoon, aku bahkan sudah kau buat telanjang bulat seperti ini sedangkan kau? Masih berpakaian komplit tanpa kurang sedikit pun." Balasnya seraya mengerucutkan bibir bengkaknya yang mana malah membuat Namjoon terkekeh karenannya. Namjoon lalu beringsut mendekat pada Seok Jin membisikkan sesuatu sehingga membuat wajah hyung juga kekasihnya itu memanas dan menampilkan warna kemarahan di sana.
"Baiklah kalau begitu tolong buka kan untukku hyung." pintanya berbisik dengan suara berat di telinga Seok Jin. Dengan tangan bergetar Seok Jin menuruti perintah Namjoon, ia menerjang pelan tubuh kekar sang kekasih sehingga membuat mereka jatuh berbaring di ranjang dengan Seok Jin berada di atasnya. Seok Jin mencium Namjoon begitu agresif jari-jarinya bergerak membuka kancing kemeja yang di pakai Namjoon, ia bahkan membuat beberapa kissmark di leher juga bahu Namjoon yang terekspos. Seraya asik dengan nipple Namjoon tangan Seok Jin kini tidak tinggal diam tangan itu masuk ke dalam celana Namjoon dan meremas sesuatu yang sudah mengeras di sana, Namjoon menutup matanya merasakan nikmat yang begitu hebat akibat sentuhan tangan Seok Jin di tubuhnya. Seok Jin cepat-cepat membuka celana yang dipakai oleh Namjoon sehingga membuat Namjoon kini sama persis seperti keadaannya full naked, Seok Jin melotot kaget melihat junior Namjoon yang begitu besar juga panjang mengacung indah di depan matanya. Belum sempat sadar dari keterkejutannya ia sudah ditarik oleh Namjoon, sehingga kini yang terdengar hanyalah rintihan juga desahan nama yang keluar dari bibir seksi Seok Jin tanpa perduli pada sosok namja yang gelisah di luar kamar akibat ulah mereka.
"Aku pulang!" teriak Jimin seraya menutup pintu apartemen miliknya. Ia melangkah menuju ruang tamu untuk menghampiri para hyungnya juga Taehyung, namun ia sama sekali tak menemukan siapapun kecuali namja manis yang menjabat sebagai kekasihnya.
"Hyung, kemana yang lain? Kenapa kau hanya sendirian?" tanya Jimin tanpa curiga dengan tatapan lapar dari yang di panggilnya hyung itu. Ia menaikan alisnya bingung karena sang kekasih tak menjawab dan hanya menatapnya, membuat ia khawatir setengah mati.
"Hyung kau oke?" tanyanya lagi lalu menghampiri Yoongi yang duduk di sofa sambil menatapnya lapar. Jimin duduk di sebalah Yoongi tanpa curiga dengan tingkah sang kekasih yang begitu gelisah juga menahan sesuatu.
"Jimin-ah?" panggil Yoongi seraya beringsut menepis jarak antara ia dan Jimin. Tanpa persetujuan Yoongi langsung menyambar leher putih milik Jimin sehingga membuat sang pemilik leher mendesah nikmat.
"hyu..ng~ AH!" desah Jimin. Karena saking nikmatnya Jimin tanpa sengaja menyentuh benda milik Yoongi yang sudah bangun di balik celananya, ia melotot kaget dibuatnya apalagi ia mendengar sebuah desahan yang ia yakin berasal dari kamar miliknya.
"anghh…nam..joon.. the…re~" Jimin membeku mendengar desahan dari hyung tertuanya itu. Ia semakin tersentak saat merasa tubuhnya sudah melayang tak menapak tanah, ia dalam gendongan Yoongi sekarang dan ia tahu apa yang akan terjadi setelahnya.
"Oh tidak aku dalam bahaya!" ujarnya dalam hati. Dalam keadaan sadar ia segera meronta minta lepas dari kukungan sang kekasih.
"AH! Hyung ANDWE!" teriaknya yang tak didengar sama sekali oleh Yoongi. Dan mari doakan semoga Park Jimin baik-baik saja dari serigala mesum itu.
TBC
Yuhuu~~ I'm back! Guys sorry karena Namjin momentnya kurang HOT karena juju raja aku belum ahli bikin rate m kaya gini. Semoga di part ini kalian suka yah. Jangan lupa doain Jimin supaya selamat dari Suga wkwkwk. Bye
