Title : I Hate Gay!
Author : BunnyJungie (Tiara)
Genre : Hurt, Brothership, Friendship
Cast : Vkook, Yoonmin, Namjin, Hopezi
Summary : Aku tahu ini tidak normal hyung- Jeon Jungkook …. Aku sungguh sangat membencinya tapi mengapa hatiku tidak sejalan- Kim Taehyung

Happy Reading

Part 9

.

.

.

Author POV

.

.

"ck.. pagi-pagi begini kau sudah melamun!" seru seseorang menyadarkan Taehyung. Taehyung menoleh pada asal suara yang ternyata teman satu bangkunya sekaligus sahabat seperjuangannya Park Jimin. Ia mendengus kesal merasa terganggu oleh makhluk menyebalkan itu.

"Kau menganggu!" ujarnya kesal seraya kembali menoleh menatap ke luar jendela di sebelahnya. Jimin hanya mengedikkan bahu tidak perduli lalu duduk di sebelah sang sahabat, ia menatap ke sekeliling kelas yang masih sepi hanya ada beberapa orang di kelas ini karena hari masih terlalu pagi.

"Taehyung-ah" Taehyung menoleh pada Jimin yang hanya menatap kosong papan tulis di depan kelas mereka, ia hanya diam ikut menatap papan tulis yang begitu terlihat menarik untuk ditatap seraya menunggu Jimin meneruskan ucapannya.

"Dia masih mencintaimu." Ucap Jimin menoleh menatap Taehyung di sampingnya yang masih asik menatap papan tulis kelas. Taehyung menghela nafas kasar mendengar ucapan Jimin ia tahu siapa yang dimaksud Jimin dia sangat jelas tahu siapa dia itu, hanya saja ia cukup lelah mengharapkan laki-laki itu bahkan kata-kata yang kemarin orang itu katakan masih sangat jelas menempel di otaknya.

Taehyung tertawa hambar dengan air mata yang meluncur di pipinya.

"Omong kosong Jimin! Kau jelas mendengar apa yang dia ucapkan kemarin siang padaku, kau dengar dia sudah tidak mencintaiku lagi. Aku mohon jangan beri aku harapan kosong seperti ini lagi." ujar Taehyung. Jimin memeluk erat Taehyung yang menangis dalam membisikkan kalimat penghibur untuknya.

"Taehyung-ah, dia hanya terlanjur kecewa denganmu tapi percayalah sampai sekarang dia masih mencintaimu. Aku bisa melihat dari matanya" bisik Jimin. Jimin melepas pelukannya menghapus air mata Taehyung lalu terkekeh pelan " Hey berhenti menangis! Hihi Tae kau terlihat seperti seorang uke sekarang. Ahh apa sekarang kau berubah haluan, melihat Jungkook sekarang terlihat lebih keren dan manly?" lanjut Jimin dengan tetap menghapus buliran kristal di pipi Taehyung. Taehyung tertawa mendengar seruan Jimin.

"Sialan kau Park!" umpat Taehyung seraya meninju pelan perut Jimin yang mana mendapat ringisan kecil sahabatnya.

"Ada apa ini?" tiba-tiba sebuah suara menghentikan kegiatan mereka. Jimin dan Taehyung menoleh ke arah pintu kelas dan mendapati para hyungnya tengah berjalan menghampiri mereka.

"Uhh… Suga hyung lihatlah lengan kekasih manismu itu, aku rasa ia sedang berselingkuh dengan Taehyung!" seru Hoseok pada Yoongi membuat yang dipanggil menatap tajam pada Jimin.

"Enak saja! Aku? Selingkuh dengan alien ini? Astaga lebih baik aku jomblo selamanya!" cibir Jimin lalu melepaskan tangannya dari pipi tirus Taehyung, tak beda jauh Taehyung pun mendelik kesal pada Hoseok membuat gelak tawa yang lain terdengar. Ketika sedang asik tertawa tiba-tiba mereka mendengar suara ribut dari luar kelas, mereka segera berlari keluar kelas untuk melihat apa yang terjadi.

"Jungkookie, aku kan hanya bertanya ada apa dengan bibirmu. Kenapa marah?" Jungkook mendesis tajam pada Krystal. Ia sedang dalam mood yang buruk dan wanita ini begitu menganggunya, Jungkook membalikkan tubuhnya menghadap Krystal menatap tajam pada gadis itu.

"Pergi brengsek! Kau lupa hubungan kita sudah berakhir? Atau mau kuingatkan lagi apa yang terjadi hah?" geram Jungkook. Ia terus melangkah mendekat pada Krystal membuat gadis itu berjalan mundur takut.

"Jungkook-ah aku bisa jelaskan, itu tidak seperti yang kau pikirkan!" jelasnya. Jungkook semakin emosi mendengarnya, tanpa rasa belas kasihan Jungkook mendorong tubuh Krystal pada tembok dan mencengram kuat kerah seragam gadis itu. Membuat Krystal meringis sakit dan teriakan murid yang melihat kejadian itu mengerang takut, tidak ada yang berani mencegah atau menolong Krystal sekarang membuat gadis itu benar-benar pasrah di tangan Jungkook.

"Tutup mulutmu Krystal Jung! Aku muak mendengar suaramu! Kau pikir aku akan mempercayai semua omong kosongmu itu? Jangan mimpi jalang! Aku tidak bodoh! Lebih baik sekarang kau pergi sebelum aku benar-benar membunuhmu!" desisnya lalu melepaskan cengkramannya pada Krystal dan berlalu begitu saja menuju atap. Semua orang membubarkan diri memberi jalan pada Jungkook sedangkan Taehyung, Jin, Jimin, Namjoon, Yoongi, dan Hoseok hanya dapat menatap datar pada Jungkook.

Jungkook mengatur nafasnya yang naik turun karena emosi, ia memejamkan matanya mengingat kembali kejadian semalam di apartemen hyungnya ditambah lagi kejadian yang baru saja terjadi itu benar-benar membuat emosinya memuncak tak terkontrol. Ia mengeram marah mengepalkan tangannya hingga memutih, ia membanting kursi-kursi untuk murid yang sudah tak terpakai hingga hancur. Ia terus menghancurkan semua benda yang ia lihat berteriak keras hingga tak terasa air matanya ikut turun.

"ARGHH!" teriaknya dengan air mata yang terus mengalir tak mau berhenti, ia menjatuhkan lututnya ke atas lantai atap yang penuh dengan serpihan kayu dari kursi yang ia hancurkan. Ia memukul dadanya keras mencoba menghilangkan rasa sesak yang menyergap dadanya

.

.

Author POV end

.

.

Jungkook POV

.

.

"ARGHH!" aku berteriak keras dengan air mata yang terus mengalir di pipiku. Aku menjatuhkan lututku ke atas lantai atap ini, aku memukul keras dadaku mencoba menghilangkan rasa sesak yang menyergap dadaku. Tangisanku semakin kecang seiring dadaku yang semakin berdenyut sakit, aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku agar dapat meredam suara isakan kerasku. Aku benar-benar bodoh kenapa aku bisa mengatakan hal menjijikan padanya jelas-jelas aku mendengar sendiri bahwa dia juga mencintaiku, dadaku semakin berdenyut nyeri kala mengingat tatapan sendu yang ia berikan padaku setelah aku menuduhnya tak berperasaan.

"Kau bajingan Jeon Jungkook! Banjingan!" makiku dengan terus memukul kepalaku sendiri.

"Geumahae Jungkook-ah." tangisku semakin pecah kala mendengar suara seseorang yang aku kenal, ia memelukku dari belakang menahan kedua lenganku agar tak lagi memukul kepalaku.

"Jangan pukul kepalamu lagi." titahnya. Aku merasa ia terus mengeratkan pelukannya padaku membuat rasa hangat menjalar diseluruh tubuhku, aku mencoba menghentikan isakanku dan bicara.

"Hyung … bagaimana ini? Aku masih mencintainya. Hyung di sini rasanya begitu sesak." gumamku lirih menyentuh dadaku pelan. Aku masih terus terisak meskipun tidak sekeras tadi.

"Hyung di..a pas..ti mem..mem..ben..ciku se..ka..rang.. aku ta..kut hyu..ng" ujarku. Aku merasakan tubuhku diputar menghadap seseorang yang memelukku itu, di dekat pintu aku bisa melihat para hyungku disana. Aku mendongkak saat sepasang tangan menangkup pipiku. Aku menatapnya dengan mata bengkakku, ia tersenyum padaku.

"Dengarkan hyung Jungie, dia juga masih mencintaimu bahkan sangat mencintaimu. Look at me, percaya padaku dia tidak pernah membencimu." ucapnya membuat hatiku begitu lega mengetahuinya. Aku menghambur ke dalam pelukannya yang begitu hangat dan menenangkan, aku memeluknya begitu erat dan dibalas oleh pelukan yang tak kalah erat. Aku menenggelamkan wajahku ke ceruk lehernya, menghirup wangi parfum yang menguar indah dari tubuhnya.

"Taehyungie hyung, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu." Bisikku tepat di telinganya. Tae hyung semakin mengeratkan pelukannya padaku lalu membalas bisikkanku yang membuat aku merona olehnya.

"Aku jauh mencintaimu sayang. Jangan tinggalkan hyung lagi" balasnya padaku. Aku hanya mengangguk paham dan semakin melesakkan wajahku ke lehernya menyembunyikan wajah meronaku darinya.

.

.

POV end

.

.

.

Taehyung POV

.

.

Aku berlari kencang menyusul Jungkook yang pergi menuju tempat favoritenya yaitu atap sekolah, aku menghiraukan panggilan para hyung juga Jimin yang meneriaki namaku seraya ikut berlari mengikutiku menuju atap. Aku bergerak tanpa suara untuk membuka pintu menuju atap, aku tersentak melihat keadaan atap yang begitu kacau juga melihat seseorang yang aku cintai sedang menangis kencang disana, banyak potongan kayu yang hancur bertebaraan dimana-mana dan aku yakini ini semua adalah ulah dari laki-laki di depanku itu. Suaraku tercekat kala mendengar umpatan yang ia tunjukkan untuk dirinya sendiri dan jangan lupakan lengan yang terus memukul keras kepalanya.

"Kau bajingan Jeon Jungkook! Bajingan!" umpatnya dengan terus memukul surai merah tuanya. Aku menoleh ke belakang member isyarat agar kelima orang di sana diam tak mengeluarkan suara apapun, setelahnya aku berjalan sangat pelan menghampiri namja itu lalu memberi sebuah pelukan hangat di punggungnya.

"Geumahae Jungkook-ah." titahku dengan suara lirih tepat di telinganya. Aku menahan kedua lengannya agar tidak lagi memukul kepalanya, tangisannya pun kini semakin kecang terdengar keseluruh penjuru atap.

Jangan pukul kepalamu lagi." titahku. Aku semakin mengeratkan pelukanku padanya memberikan rasa hangat yang mungkin bisa membuatnya sedikit tenang. Ia bergumam pelan.

"Hyung … bagaimana ini? Aku masih mencintainya. Hyung di sini rasanya begitu sesak." gumamnya menyentuh ringan menuju dadanya. Aku tetap diam membiarkan ia untuk mencurahkan semua isi hatinya.

"Hyung di..a pas..ti mem..mem..ben..ciku se..ka..rang.. aku ta..kut hyu..ng" ujarnya lagi. Sudah cukup aku sudah tidak tahan lagi mendengarnya hati begitu terasa sesak mendengar isi hatinya juga isak tangisnya itu, dengan seluruh kekuatanku aku membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arahku. Sebentar ia menatap kelima hyungnya yang berdiam diri di depan pintu masuk atap. Aku menangkup wajahnya mangangkat wajah itu agar aku dapat menatap wajahnya yang memerah karena menangis. Aku menatap mata hitam yang membengkak itu dengan lembut lalu memberikan senyum terbaik yang aku miliki padanya.

"Dengarkan hyung Jungie, dia juga masih mencintaimu bahkan sangat mencintaimu. Look at me, percaya padaku dia tidak pernah membencimu." ucapku. Aku tersentak kaget saat ia tiba-tiba menghambur ke dalam pelukanku, ia melesakkan wajahnya pada perpotongan leherku membuat aku sedikit menahan nafas karena hembusan nafasnya menerpa area leherku. Rasanya begitu hangat dan menenangkan memeluknya seperti ini, aku mengeratkan pelukkanku padanya.

"Taehyungie hyung, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu." bisiknya di telingaku. Aku semakin mengeratkan pelukanku kala mendengar bisikkan darinya.

"Aku jauh mencintaimu sayang. Jangan tinggalkan hyung lagi" balasku padanya. Ia hanya mengangguk mengerti di bahuku dan semakin menengelamkan wajahnya yang merona manis di leherku.

Aku menjauhkan wajahnya dari leherku memandang wajah manisnya begitu intens membuat wajah yang sudah memerah itu kini bertambah memerah, aku terkekeh melihat wajahnya yang bertambah menjadi seribu kali lebih menggemaskan. Ia mempout bibirnya melihat aku yang menertawakannya membuat aku ingin memakannya sekarang juga.

"Hyung~ kenapa tertawa?" rengeknya. Ya tuhan dia benar-benar sangat manis, aku mengecup gemas ujung hidungnya yang mancung itu lembut.

CHUP

"Ani, hanya saja kau begitu menggemaskan Bunny." seruku padanya. Uh.. lihat wajahnya kembali merona membuat aku benar-benar sulit bernafas karena wajah tersipunya. Aku menghapus jarak diantara kami, sebelum aku benar-benar menyentuh bibir merah marunnya aku menoleh ke belakang untuk memastikan kalau kelima sahabatnya itu sudah tidak di sana dan seperti dugaanku mereka sudah menghilang entah sejak kapan. Merasa sudah cukup aman aku kembali menatap mata hitam bening yang begitu menawan milik Jungkook, tengelam dalam tatapan polos milik kekasih manisku itu. Jungkook menutup matanya saat wajahku semakin mendekat padanya bahkan aku bisa merasakan nafasnya menerpa wajahku, aku ikut memejamkan mataku saat bibirku bertabrakan dengan bibir tipisnya. Manis! itulah hal pertama yang muncul di pikirkanku saat merasakan bibirnya, aku mulai mengerakkan bibirku di atas bibirnya untuk semakin menyesap rasa manis dari bibirnya. Aku terus menyesap bibir bawah dan atasnya bergantian.

"Ughh.." desah Jungkook saat aku mengigit pelan bibir bawahnya agar aku dapat memasukkan lidahku ke dalam goa hangatnya. Aku segera melesakkan lidahku saat ia membuka mulutnya, aku mengabsen setiap cela dalam mulutnya. Aku memiringkan kepalaku untuk membuat aku maupun Jungkook dapat lebih leluasa menyesap bibir kami, aku menarik tengkuknya untuk memperdalam ciuman kami berdua. Jungkook menepuk dadaku pelan saat ia sudah mulai kehabisan nafas, dengan berat hati aku melepasnya daripada membuat kelinci manisku ini kehabisan nafas.

.

POV end

.

.

Author POV

.

.

Jungkook menarik nafas dalam-dalam tepat ketika Taehyung melepas ciumannya, dadanya naik turun dengan mata yang terpejam berusaha menetralkan deru nafasnya. Taehyung menatap kagum pada sosok manis di depannya yang begitu terlihat indah dipandangannya, dada yang naik turun, mata yang terpejam, dan pipi yang dihiasi warna merah yang semakin terlihat begitu cantik di matanya.

"Kau cantik Jungkook-ah." puji Taehyung menatap Jungkook dengan tatapan penuh kekaguman. Mendengar pujian yang lebih tua membuat Jungkook salah tingkah juga luar biasa gugup, rasanya begitu menyenangkan seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan diperutnya.

"Kau gombal hyung." dengus Jungkook pada Taehyung menutupi kegugupannya. Taehyung terkekeh pelan mendengar dengusan Jungkook yang begitu terlihat menggemaskan, ia merengkuh pemuda itu kembali ke dalam pelukannya. Taehyung menaruh kepalanya di bahu sempit Jungkook, menghirup dalam-dalam aroma tubuh namja itu. Taehyung memejamkan matanya kembali menerawang kemasa dimana ia menyakiti namja yang berada di dalam pelukannya, Taehyung mengakaui betapa bodohnya ia bisa menyakiti malaikat seperti Jungkook. Tak terasa air matanya kembali turun karena mengingat perlakuannya itu, ia melesakkan wajahnya pada ceruk leher Jungkook dan mengigit bibirnya untuk menahan isakannya agar tak terdengar oleh Jungkook. Jungkook berjengit kaget saat merasakan lehernya terasa basah juga bahu namja yang memeluknya sedikit bergetar seperti sedang menangis, Jungkook mencoba melepaskan pelukannya untuk mengecek keadaan Taehyung namun namja itu malah semakin mengeratkan pelukkannya sehingga membuat Jungkook sulit melepaskan.

"Maaf … maaf … maafkan hyung Jungie-ya." gumam Taehyung bergetar.

"Hyung?" panggil Jungkook lirih. Taehyung melepas pelukannya lalu menatap Jungkook dengan pandangan menyesal. Jungkook memberikan senyuman hangat pada Taehyung, mengambil kedua lengan Taehyung untuk ia genggam.

"Hyung, kau tak perlu minta maaf karena aku sudah memaafkanmu. Seharusnya aku yang minta maaf karena aku sudah menuduhmu yang bukan-bukan dengan Hoseok hyung semalam" ujar Jungkook pada Taehyung bersama itu ia menundukkan kepalanya penuh sesal pada yang lebih tua.

"Tidak apa-apa Kookie, aku baik-baik saja." Tungkas Taehyung. Taehyung melepaskan pegangan Jungkook di tangannya, ia meraih pipi Chubby Jungkook lalu mengelusnya sangat lembut.

"Hyung?" panggil Jungkook. Taehyung menatap mata hitam Jungkook, menjawab panggilan Bunny-nya dengan tatapan matanya.

"Kau ... mencintaiku kan?" tanya Jungkook hati-hati, bukannya Jungkook tidak percaya dia hanya takut semua ini terlalu cepat dan diluar pemikirannya.

Taehyung menatap manik hitam milik Jungkook setelah mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir namja itu, ia bisa melihat mata itu bergerak gelisah juga sinar matanya menunjukkan akan sirat keraguan juga rasa takut yang begitu jelas terpancar. Taehyung kembali meraih kedua tangan Jungkook untuk ia genggam, ia mengecup lama tangan yang begitu terasa hangat di tangannya. Setelah puas mengecup jari-jari lentik Jungkook, Taehyung kini menatap lembut mata Jungkook yang begitu terlihat indah juga mengagumkan.

"Demi tuhan Jungkook-ah, aku mencintaimu. Aku mohon percaya padaku, kau jelas tahu kalau aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Jadi aku mohon jangan pernah meragukan perasaanku padamu lagi." Tungkas Taehyung begitu tulus juga penuh keseriusan di dalamnya. Mendengar penuturan Taehyung sontak membuat kedua pipi Jungkook bersemu merah bahkan menjalar hingga ke telingannya, melihat Jungkook yang tersipu membuat Taehyung terkekeh gemas pada kelinci manisnya itu.

"Ya tuhan, menggemaskan sekali kekasihku ini!" seru Taehyung seraya mencubit kedua pipi Jungkook gemas. Jungkook mendengus sebal mendengar penuturan Taehyung, ia memukul pelan dada Taehyung lalu mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua lengannya di dada atau yang lebih tepatnya merajuk pada Taehyung.

"Mwoya hyung? Aku bukan kekasihmu." Dengus Jungkook. Taehyung tergelak mendengar rengekkan Jungkook yang begitu menggemaskan lalu tak lama seringai jahil tercetak di bibir tebal milik Taehyung, masih dengan seringainya Taehyung mencondongkan wajahnya pada Jungkook.

"Jadi begitu? Geurae, gwenchana aku bisa memacari Bang Minah kalau kau tak mau jadi kekasihku." Ujar Taehyung dengan wajah kecewa yang dibuat-buat, Taehyung berbalik berpura-pura melangkah pergi meninggalkan Jungkook yang terdiam kaku akibat mendengar ucapan jelas sadar kalau Jungkook sangat tahu siapa itu Bang Minah, gadis cantik yang tergila-gila pada Taehyung sejak ia masuk sekolah ini. Sadar Taehyung akan pergi Jungkook dengan cepat memeluk punggung tegap milik Taehyung yang mana membuat Taehyung tersenyum senang tanpa sepengetahuan Jungkook, mengerjai Bunny manisnya ini ternyata menyenangkan sekali pikirnya.

"Andwe hyung! Maksudku bukan begitu, hanya saja ..." ucapan Jungkook terhenti saat tiba-tiba Taehyung berbalik menghadap ke arahnya, Taehyung semakin tersenyum lebar melihat Jungkook yang terlihat begitu manis karena takut ia meninggalkannya.

"hahaha... ya ampun Jeon Jungkook kau begitu manis. Aku hanya bercanda ... apa sebegitu tergila-gilanya kau padaku sampai seperti itu? Haha aku tidak mungkin meninggalkanmu hanya demi seorang Bang Minah. Kau tahu bahkan kau lebih manis dan juga menggemaskan dari semua wanita yang pernah aku lihat." Kata Taehyung membuat Jungkook menunduk malu dan jantung yang berdebar begitu cepat.

"Kau menyebalkan hyung!" desis Jungkook mencoba menutupi kegugupannya dengan berpura-pura marah pada Taehyung. Taehyung mendaratkan beberapa kecupan kecil pada pipi dan hidung Jungkook karena tak tahan melihat sikap polos dan menggemaskan dari Jungkook, setelah puas ia memeluk Jungkook begitu erat lalu melepaskannya dan menatap penuh sayang iris hitam Jungkook.

"Jungie-ah, will you would my boyfriend?" tanya Taehyung pada Jungkook. Taehyung memamerkan senyum lima jarinya pada Jungkook meskipun dalam hati ia sedikit was-was dengan jawaban Jungkook, Taehyung sangat tahu kalau Jungkook juga mencintainya tapi tetap saja ia takut. Bagaimana jika Jungkook menolaknya karena sikapnya dulu? Atau mungkin alasan lainnya. Taehyung menatap Jungkook dengan gusar karena sedari tadi Jungkook hanya dia menunduk tak menjawab pernyataannya, namun senyumnya mengembang saat Jungkook mendongkak memberikan senyum manis padanya dan yang membuatnya semakin melebarkan senyumnya adalah jawaban yang Jungkook berikan.

"Yes i will. Aku sudah menunggu ini sejak lama" balas Jungkook dengan senyum cerah yang terpatri indah di bibirnya. Taehyung segera mendekap Jungkook lalu mencium namja yang beberapa detik yang lalu terlalu telah sah menjadi kekasihnya itu, mereka berbagi ciuman hangat tanpa nafsu di atas atap sekolah yang menjadi saksi bisu seorang Kim Taehyung mendapatkan Jeon Jungkook.

"Aku mencintaimu Jeon Jungkook." Ucap Taehyung disela-sela ciumannya.

"Aku juga sangat mencintaimu hyung." Balas Jungkook.

.

.

.

Hoseok melangkah menghampiri seorang laki-laki mungil yang sedang berdiri di depan koridor sekolah yang mulai sepi, pria mungil yang mengisi relung hatinya itu berdiri seorang diri sambil mengosokkan telapak tangannya karena cuaca dingin akibat hujan lebat yang belum mereda. Hoseok tersenyum memandang adik dari sahabatnya itu lalu berjalan tanpa suara ke arahnya, tepat saat ia sampai di belakang namja itu Hoseok segera memeluknya dari belakang mencoba menyalurkan rasa hangat untuk laki-laki itu. Hoseok menaruh kepalanya di bahu namja itu dan sesekali mencium kecil perpotongan leher kekasihnya itu, membuat namja dalam pelukkannya itu menegang karena sengatan-sengatan dari kecupan kecil di lehernya.

"Hyungie~" rengek Woozi pada Hoseok. Ia mencoba melepaskan pelukkan Hoseok namun percuma karena kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan Hoseok yang begitu kuat.

"Hmm?" jawab Hoseok bergumam dengan tetap menciumi tengkuk sang kekasih. Woozi bergerak gelisah dalam pelukan Hoseok bukan karena ia tidak suka dengan perlakuan Hoseok bahkan ia sangat ingin tetap seperti ini diam dalam pelukan hangat hyung yang dicintainya itu, tapi masalahnya mereka masih di area sekolah bagaimana jika ada yang melihat kegiatan mereka dan akhirnya mereka dilaporkan kepada guru karena berbuat yang tidak-tidak di sekolah.

"Hyungie! Ini masih di sekolah, nati ada yang melihat." Ujarnya pada Hoseok namun tetap saja tidak membuat sang kekasih menghentikan kegiatannya itu.

"Wae? Sekarang sekolah sudah sepi, semua orang sudah pulang jadi untuk apa kau takut?" ucap Hoseok. Hoseok memang benar sekolah sudah sangat sepi bahkan mungkin di koridor ini hanya ada mereka berdua, semua murid pasti sudah berdiam diri di bawah selimut yang hangat daripada berdiam di sekolah dalam cuaca hujan seperti ini. Woozi menghela napas ia menyerah dan membiarkan laki-laki di belakangnya itu melakukan apapun pada tubuhnya karena jujur saja ia juga sangat menikmati setiap sentuhan yang diberikan sang kekasih pada tubuhnya, rasanya begitu memabukkan dan begitu terasa menyenangkan. Beberapa menit dalam keadaan hening kini Hoseok membalikkan tubuh Woozi menghadap padanya, ia menatap dalam iris cokelat madu milik laki-laki yang begitu ia cintai itu menyelami tatapan meneduhkan yang dimiliki oleh namja mungil itu. Hoseok mendekatkan wajahnya untuk meraih bibir merah millik kekasihya itu, saat bibirnya bertemu dengan bibir milik Woozi ia segera melumat dan sesekali mengigit bibir atas dan bawah bergantian. Hoseok mengigit pelan bibir bawah Woozi agar ia bisa memasukkan lidahnya ke dalam mulut Woozi, saat Woozi membuka mulutnya Hoseok segera melesakkan lidahnya ke dalam gua hangat milik Woozi. Ia mengeksplor seluruh celah dalam mulut kekasih manisnya. Woozi semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Hoseok ia juga meremas pelan helaian rambut milik Hoseok untuk menyalurkan rasa nikmatnya.

"Ughh.." desahan pertama meluncur indah dari bibi merah membengkak milik Woozi kala Hoseok memindahkan ciumannya pada leher putih tanpa cacat milik namjanya. Mendengar desahan kekasihnya membuat Hoseok semakin gencar mencicipi setiap inci leher putih menggoda itu, Hoseok mendorong pelan tubuh Woozi ke arah dinding yang berada di belakang kekasih manisnya itu. Woozi terus meremas acak rambut belakang hyung tercintanya ketika Hoseok semakin gencar membuat tanda merah keunguan di leher putihnya, Woozi memekik nikmat saat Hoseok mengigit kencang lehernya ditambah lidahnya yang begitu lihai memanjakan lehernya.

"Ahh.." pekik Woozi nikmat. Mereka terus larut dalam kegiatan panasnya tanpa memperdulikan jika mereka masih berada di koridor sekolah, Hoseok kembali meraup dengan rakus bibir merah kekasihnya. Ia menarik tengkuk namja manis itu untuk semakin memperdalam ciumannya, Hoseok terus melumat, mengigit dan melumat lagi bibir merah yang sudah sangat membengkak karena ulahnya. Melepaskan ciumannya namun sedetik kemudian ia menuju leher yang sudah hampir penuh dengan tanda yang dibuatnya, Hoseok membuat lagi beberapa tanda kepemilikkan di leher itu. Saat Hoseok akan membuka kancing seragam milik Woozi tiba-tiba sebuah suara teriakkan menghentikan kegiatan mereka.

"JUNG HOSEOK! KUBUNUH KAU BERANI MENODAI ADIKKU!" teriakkan itu menggema diseluruh penjuru koridor sekolah. Hoseok berbalik dan berubah panik saat melihat Min Yoongi dengan tatapan tajam yang siap membunuhnya kapan saja sedang berjalan bersama kekasihnya Park Jimin menuju tempatnya, dia melupakan satu fakta bahwa seorang Min yoongi itu begitu menyeramkan jika sudah berurusan dengan sang adik ataupun Jeon Jungkook. Dengan langkah seribuh Hoseok segera menarik lengan Woozi untuk lari menghindari amukan hyung tersadisya itu tanpa memperdulikan hujan yang masih turun deras, Hoseok tertawa bahagia di bawah hujan bersama kekasihnya itu.

"YA! Jung Hoseok kemari kau jangan lari!" teriak Yoongi pada Hoseok yang sudah berlari jauh bersama sang adik dan samar-samar ia mendengar teriakan Hoseok yang membuatnya tersenyum kecil.

"Min Woozi AKU MENCINTAIMU" teriak Hoseok begitu lantang di tengah lapang sekolahnya,ia berjalan mundur di lapang itu bersama hujan seraya melayangkan love sign pada laki-laki mungil di depannya itu.

.

.

.

.

.

END

AHHHH! Akhirnya selesai juga ff ini! Sorry untuk keterlambatan update yah? Soalnya kemarin lagi banyak kegiatan banget. Maaf juga kalau chapter ini kurang memuaskan tapi Bunny janji lain kali bakal lebih baik lagi bikin ff biar kalian tambah suka. Aku juga ada rencana bakal bikin sequel ff ini tapi aku nggak janji yah. Last, review juseyo!