Suasana masih sunyi saat sebuah suara musik mengalun dari kamar Miku.
Miku segera meraih tabletnya, lalu mematikan alarm dan bangkit dari kasur. Setelah merem-melek sebentar, ia langsung berjalan menuju dapur untuk sarapan.
Biasanya, yang bangun paling pertama adalah mama, lalu papa. Mama bangun duluan, karena ia harus menyiapkan sarapan untuk papa. Sementara papa, ia memang harus bangun pagi tiap hari karena kantornya lumayan jauh dan kalau berangkat siang pasti macet.
Tapi pagi ini, Miku adalah yang bangun pertama kali. Maklum, mamanya merasa Miku sudah cukup besar untuk bikin sarapan sendiri, jadi dia masih asyik ngulet di kasurnya. Lumayan, papa lagi di luar kota, jadi gak perlu bangun pagi-pagi dan rebutan selimut - maka nikmatilah tidurmu. Sementara Mikuo, dia terbiasa ngebut di pagi hari dan sarapan sambil naik motor ke sekolah. Yah...entah bagaimana caranya,tapi Mikuo selalu sampai di sekolah dengan selamat dan sarapannya pun masuk perut semua.
Yah, dasar aneh.
Tapi, seaneh-anehnya Mikuo, masih ada yang lebih aneh lagi - yaitu Kaito. Astaga, mood Miku yang sudah bagus pagi ini rusak lagi begitu ia ingat ada makhluk berambut biru itu di rumahnya. Tepat saat dia membawa semangkuk oatmeal dari dapur, Kaito muncul dari ruang tamu. Aduhh, sebenarnya Miku malas kalau harus berkomunikasi dengannya. Apa daya, matanya sudah bertemu duluan dengan sepasang iris biru itu. Mau tak mau, Miku senyum manis sambil bergumam,"Pagi..."
Kaito hanya membalas dengan senyuman tipis. Lalu, ia berlalu ke pintu depan. Ihh,dasar! Miku kesal sendiri melihat Kaito itu. Tebar pesona banget! Sok cool! Padahal mukanya pedo! Gelii!
Miku merinding sendiri. Selama tiga minggu ke depan, dia akan serumah dengan oom-oom yang-kebetulan-masih-muda-itu?
"Mama...ampuni dosa Miku ma...", Miku menggumam sendiri sambil menyuap sesendok oatmeal dengan kacang almond.
Waktu cepat berlalu. Miku menyelesaikan sarapannya dan menaruh mangkuk kotor di bak cucian. Mama turun dari lantai dua sambil menguap. "Kamu udah sarapan,,Mik?"
"Udah,ma.", jawab Miku ngacir ke tangga. "Aku mandi dulu ya!"
"Iya!"
Mama duduk di meja makan, mengambil sebuah piring dan menaruh dua lembar roti diatasnya. "Hmm...selai apa ya...", Mama melihat-lihat stok selai di meja makan. Ada rasa stroberi, nanas, cokelat, cokelat kacang, dan lain-lain. Tapi, tak ada satupun yang menarik perhatiannya. Sepertinya, mama sedang tidak dalam mood untuk hanya sarapan roti dan selai. Jadi, sarapan apa dong? Pengennya sih nasi uduk atau bubur. Tapi,masa harus keluar beli nasi uduk atau bubur sih? Aduh, mager banget. Seandainya ada yang bisa disuruh keluar beli sarapan...
Tiba-tiba, pintu depan terbuka. Kaito muncul darisana."Eh, tante sudah bangun...pagi tante!", sapa Kaito ramah.
"Pagi,Kai! Habis darimana?", sapa mama."Habis jogging, tante. Sekalian cari sarapan. Ah iya, tante udah sarapan?"
Mama menggeleng."Belum. Maunya sih sarapan roti...tapi kok nggak nafsu ya..."
"Kebetulan,tante.", Kaito menaruh sebungkus plastik di atas meja makan."Tadi aku baru aja beli bubur sama nasi uduk!"
Mata mama langsung membulat bahagia. Keren banget! Tahu darimana dia kalau mama pengen nasi uduk atau bubur? Wahh, calon suami kedua idaman!
Kelihatan sekali kalau mama begitu bahagia. "Waduh, makasih banyak lho nak! Kamu juga belom sarapan kan? Ayo-ayo, silahkan! Kamu ambil aja apa yang kamu suka!"
"Tante aja ambil duluan. Saya suka dua-duanya, kok. Atau tante mau ambil dua-duanya?"
Wahhh, mama serasa balik remaja lagi! Serasa jatuh cinta pada pandangan pertama lagi! Gentle sekali pria muda satu ini!
"Ah, jangan dua-duanya...ntar kamu makan apa?"
"Gak apa-apa, tante. Saya bisa masak sendiri kok."
"Kalo gitu, mending tante makan masakan kamu deh! Lebih enak!"
Kaito tertawa renyah.
"Ya udah...tante ambil bubur aja. Ini bubur ayam kan?"
"Iya,tante."
"Oke deh...makasih ya nak Kaito!"
Mama segera membuka tempat plastik bundar berisi bubur itu. Buburnya polos, segala topping dan sausnya dipisah sendiri-sendiri. Waduh, hebat sekali Kaito ini. Mama kan nggak suka bubur yang sudah nyampur atau diaduk!
"Tante, tante mau makan gitu aja? Atau mau pake mangkuk? Biar aku ambilin, tante!"
"Nggak usah,Kai. Repot ntar kalo harus nyuci!"
"Ohh...biar aku aja yang nyuci. Sekalian sama mangkok sarapannya Miku tadi. Tante nggak usah nyuci lagi."
Seandainya bisa, mungkin mama sudah mengangkat Kaito jadi anaknya. Anak kesayangan yang paling disayang dibanding Mikuo Miku. Lagipula, kapan pernah mereka rela keluar pagi-pagi untuk beli sarapan begini? Kalau beli, paling buat mereka sendiri! Terus, kapan juga anaknya mau keluar rumah pagi-pagi untuk jogging? Biasanya juga bangun-bangun, cari sarapan, terus main hape di kamar.
Mama menyuap sesendok bubur. Ah, mama sayanggggg sekali sama Kaito!
Skip .Kelas XII IPA 1
Len mangap selebar-lebarnya saat melihat sosok yang familiar baginya duduk di tengah kelas.
"Mikuo!? Lo Mikuo!?",serunya histeris.
Mikuo, yang sedang mendengarkan musik, langsung melepas headsetnya."Ha? Oh, hai Len!"
Len yang semula bengong,langsung tersenyum lebar."MIKUOOOOOOO!"
Diterjangnya Mikuo, lalu dipeluknya dengan penuh kebahagiaan. Puji Tuhan ini masih pagi, jadi Len masih wangi. Jadi, Mikuo tak tersiksa banget kalau harus dibekep Len. Lagipula, dia juga enteng. Tapi, memangnya ada apa sampai Len sebahagia ini?
"Lo kenapa,Len?", tanya Mikuo penasaran.
"Mikuo, lo kenapa nanya!?"
"Lah, emang kenapa sih?"
Len menunjukkan jam tangannya."Lo tahu nggak,ini jam berapa?"
"Jam enam lewat limabelas."
"Nah,itu tahu!"
"...ya terus kenapa?"
"Nggak biasanya lo dateng pagi, Mikuo!", Len berucap bahagia. "Biasanya,lo masuk gerbang tepat sebelum bel berbunyi! Dan sekarang? Lihat ini! Seorang. Mikuo. Dateng. Pagi!"
Ohh,karena itu toh. Mikuo langsung tertawa. Tertawa sinis.
"Yaelah, lo harusnya jangan seneng gue dateng pagi begini."
Kening Len berkerut."Kok gitu?"
"Nih ya. Tau gak sih. Sepupu gue, yang gue aja gak pernah ketemu, tiba-tiba nginep di rumah gue."
Len mengangguk-angguk."Terus ?"
"Terus, ya...gue mesti mengakui kalo dia itu baik, pintar, berbakti pada orangtua, pokoknya perfect deh."
"Terus?"
"Sebenernya, gue gak masalah dia nginep di rumah gue. Tapi, dari pertama kali dia dateng, dia langsung caper secaper-capernya sama nyokap gue. Dan tadi pagi, dia beliin sarapan buat nyokap bantuin nyokap gue cuci piring. Nyokap gue seneng banget, terus waktu sarapan gue diceramahin sama nyokap."
"Diceramahin gimana?"
"Mikuo, kamu tuh ya, harusnya kayak Kaito. Lihat dia, cowok tapi mau cuci piring! Lah kamu? Mana mau disuruh cuci piring? Terus, Kaito juga bangunnya pagi. Kamu kebo atau manusia sih? Bangunnya selalu paling telat!"
Len kicep. Pertama, dia agak tak suka dengan perkataan mama Mikuo-Miku - alias Tante Hatsune. Yang kedua, Mikuo menirukan benar-benar menirukan suara Tante Hatsune. Melengking gitu. Malah jadinya absurd.
"Nnngg...oke. Jadi akhirnya, lo kesel, lo gedeg, dan lo cepet-cepet ke sekolah?"
"Yes. Bodo amat sarapan gue cuma susu segelas. Daripada diceramahin?"
"Hmm... oke oke, gue ngerti.", Len duduk di kursi depan Mikuo."Lagian, gimana ceritanya dia bisa nginep di rumah lo?"
Mikuo mengangkat bahu."Itu dia, gue juga nggak tahu. Yang jelas, gue gak suka sama dia."
Len hening."Hmm...gak biasanya lo benci orang sampe segitunya, Mik..."
"Iyalah! Kayak dia, mana gue suka!"
"Ntar jadinya cinta lho."
"Hiii! Najong!"
Setelah diceritakan oleh Mikuo soal ceramah pagi yang ia dapat, Miku langsung menghampiri mamanya setelah makan malam - Dan setelah yakin kalau Kaito tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Mama mama, Miku mau nanya deh."
"Iya, apa?"
"Kaito ngapain sih nginep disini?"
"Dia libur kuliah.", jawab mama acuh tak acuh."Sampe kapan dia nginep?"
"Tiga minggu lagi. Ayah pulang, dia balik."
Miku mengerutkan kening. Ia memang tak mengerti soal dunia kuliah, tapi rasanya ada yang janggal...
"Emang harus nginep di rumah kita ya?"
"Enggak harus sih...tapi kan rumahnya yang asli jauh. Mumpung ada sodara disini, ya disini aja!"
Hening.
"Umm...harus banget ya?"
"...hah?"
"Harus banget, t, sampe dia disini tiga minggu, gitu?"
Mama mengalihkan pandangannya ke arah Miku."Kamu kayaknya gak suka ya kalo Kaito nginep disini?"
"Hah?"
"Iya. Gak Mikuo, gak kamu, samaa aja! Dari kemaren gak ada yang manis sama tamu!"
Miku memutar bola matanya. Yak, sesi ceramah malam dimulai.
"Kamu tahu nggak, mangkuk sarapan kamu tadi, yang nyuciin itu Kaito? Terus, yang nyapu halaman depan, motongin rumput, nyapu - ngepel rumah, ngelapin kaca, itu Kaito semua?"
"Nggg...enggak..."
"Ya jelas kamu nggak tahu! Kamu mana peduli? Jarang - jarang lho ada anak muda peduli sama urusan rumah begitu. Aduh, beruntung sekali tante Shion itu, punya anak macem Kaito!"
Miku sudah baper. Baper sebaper-bapernya. Jauh lebih baper daripada melihat si doi pulang bareng cewek lain tadi siang.
"Coba lihat kamu sama Mikuo! Tau urusan sendiri doang, gak peduli kerjaan orang tua. Mending nilainya bagus, rankingnya gak ada yang pernah satu-dua-tiga!"
Miku melongo. Wow - sejak kapan mamanya suka banding-bandingin anak kayak gini? Biasanya, mereka cuma nangkring di peringkat lima saja sudah dipuji-puji...
"Lama-lama mama malu punya anak kayak kalian berdua."
Jleb! Pas saat itu juga, Miku kehabisan kata-kata. Terlalu syok untuk bicara. Terlalu syok untuk berpikir lagi.
"Besok masih UAS kan? Besok UAS nya apa?"
"Matematika sama IPS."
"Waduh. Hapalan sama hitungan. Ya udah, belajar sana. Dapet nilai yang bagus. Jangan bikin malu mama-papa depan Kaito."
Mikuo meringkuk di bawah selimut. Ya Tuhan, ingin rasanya Mikuo sujud memohon ampun kepada Yang Mahakuasa, atas kelancangannya bertingkah semena-mena tadi.
Yaitu, nekat nonton horror sehabis belajar, padahal dia paling nggak bisa lihat yang seram-seram.
Mana nontonnya Insidious lagi. Yaampun, lain kali, kalau Mikuo punya anak, Mikuo akan memastikan anak itu gak punya indera keenam. Kalau Mikuo mau beli rumah, ia juga akan memastikan rumah itu bersih dari segala terror tak terlihat. Oh iya, Mikuo juga nggak boleh lupa untuk menutup mata batinnya supaya ia juga gak usah diganggu. Kalau bisa, ditutupnya permanen - pakai lem Korea, dijahit pakai tali buat karung beras,dilakban lagi sepuluh lapis, terus digaris pake police line biar gak ada yang berani buka.
Mantab jiwa.
Sambil bersembunyi di bawah selimut, Mikuo sibuk komat-kamit merapal doa, berusaha menenangkan dirinya. Tapi, baru sebentar, terdengar suara tangisan perempuan.
...
"A...A...", Mikuo tergagap. Tenggorokkannya tercekat. Meski ia berniat untuk teriak, tak ada suara apapun yang keluar selain suara teriakan yang tertahan. Ia berusaha mengubah posisi meringkuk jadi tengkurep. Lama-lama, ia pegal juga. Ia butuh posisi nyaman untuk bersembunyi dari setan perempuan itu.
Eh, sebentar.
...
Oke, badannya tak bisa bergerak sama sekali.
"Oh sh*t! Gimana ini anj***!", padahal baru semalam ia bersumpah untuk tidak ngomong kasar, tapi sekarang dua kata kasar sudah terucap. Untung masih dalam hati. Coba kedengeran mama. Bisa-bisa hidup Mikuo berakhir di sungai belakang sebagai mayat tak teridentifikasi.
Jangan-jangan,ini yang disebut ketindihan setan? Jangan-jangan setan itu sudah menindih dia! Gak gak gak gak gak gak GAK! Gak mau!
"Oh God oh God forgive meeeeeee!", Mikuo terus berseru dalam hati. Ia memejamkan kedua matanya, pasrah saja mendengar suara tangisan perempuan yang makin menjadi. Atau lebih spesifiknya, suara tangisan Miku.
Hah, Miku?
Mikuo menyibak selimutnya, memicingkan telinganya. Ya, ia tak salah - itu suara Miku yang sedang menangis sesenggukan.
Lah, kenapa?
Mikuo berjingkat keluar kamar dan membuka kamar Miku perlahan. Terlihat adiknya itu tengkurep di tengah kasur, membekap wajahnya dengan bantal. Terdengar suara sesenggukan dari bantal tersebut.
Ngg, kalimatnya agak salah ya - bukan bantalnya yang menangis...tapi Mikunya. Cuma kan mukanya Miku lagi kebekep ke bantal ya. Jadi kesannya bantalnya yang nangis.
Bodo ah gimana. Mikuo menghampiri Miku dan mengguncang bahunya."Mik, lo kenapa? Kok nangis?"
Miku mengangkat wajahnya. Bersimbah air mata dan merah semuanya."N-Nii-chan..."
Wah,jantung Mikuo serasa loncat. Dia dipanggil nii-chan! NII-CHAN!
Mikuo segera mengeluarkan ponselnya."Ulang lagi! Mau gue rekam! Jarang-jarang lo manggail gue nii-chan!"
Oke, salah. Mikuo nggak melakukan itu kok. Ia tahu, kalau Miku sudah memanggilnya dengan nii-chan,berarti ia tak main-main lagi.
"Kenapa, Mik?"
"Sumpah. Gue gak suka Kaito disini."
Apalagi kalau Miku sudah bilang sumpah. Benar-benar serius.
"Iya, gue tahu kok-"
"Gak. Gak sekedar gak suka doang. Dia udah bikin nyokap berubah."
Miku menceritakan semuanya.
"Anjrit."
"Oke, gue berasa di sinetron. Belom apa-apa udah drama. Tapi...masa sih?"
"Iyalah. Ngapain gue bohong?", Miku mengusap air matanya.
"Ya, gak berarti gue benci sama nyokap. Tapi...ya gue sakit hati lah!"
Mikuo terdiam.
Dia benar-benar merasa dunia sudah terbalik.
author note
Harusnya, saya belajar buat UAS.
Tapi, lihat.
Saya malah main Love Live sambil twitteran sambil minum susu.
Selamat tinggal, nilai bagus /dadah dadah/
Jujur saja, saya merasa chapter ini gak jelas. Apalagi endingnya. Maksa banget.
Tapi, kalo kelamaan, juga jadi aneh.
Aku kudu piye mazz.
Ada yang punya saran lanjutannya mau gimana? Saya open kok orangnya~
Silahkan suarakan pikiranmu di kotak review ya.
Love, Aya.
